Disclaimer: Tite Kubo

Genre: Romance, friendship, Humor

Pairing: Ichigo X Rukia

Chapter 2

KARMA IS BEGAN!

Lacossu No Ame

Ichigo's pov

Aneh! Kenapa akhir-akhir ini aku mengalami kejadian aneh yang terjadi secara terus-terusan? 3 hari semenjak pertemuanku dengan si 'gadis terintimidasi' aku tidak bisa melupakannya. Setiap detik aku selalu memikirkannya. Pertemuan kami waktu itu, pertengkaran kecil kami dan…raut wajahnya waktu itu. Walaupun sekilas aku dapat melihat raut wajahnya yang terkejut begitu melihat aku. Apa dia takut padaku? Atau dia kaget karena ada orang lain di kebun itu? Entahlah, aku tidak terlalu bisa menangkap arti dari raut wajah anehnya! Ah, apa yang aku lakukan? Kenapa aku selalu memikirkannya? Dia selalu datang dalam kehidupanku baik kehidupan nyata atau pun mimpi. 3 hari berturut-turut aku memimpikannya. Dalam mimpiku, ia memasang wajah judes yang menolakku mentah-mentah karena aku mengungkapkan perasaan sukaku padanya. Apa? Aku menembak si pendek itu? Yang benar saja! Tapi untunglah itu hanya dalam mimpi, karena sesungguhnya aku tak menyukainya DAN TAK AKAN MUNGKIN JATUH CINTA PADANYA!!!

Saat aku menceritakan hal ini pada Ishida, eh, dia malah menasihatiku seperti kakek-kakek kurang kerjaan!

"Sepertinya hukum karma sudah mulai menyerangmu!" ujarnya santai sambil mencatat pelajaran matematika yang baru saja diterangkan oleh ikkaku-sensei.

Aku yang semula melihat pemandangan luar dari balik jendela kelas, memandangnya heran, "Karma?"

"Jangan berlagak bodoh. Kau masih ingat ucapanmu tiga hari yang lalu, kan? Sudah kubilang jangan main-main."

"Oh, itu. Maksudmu karma itu benar-benar terjadi? Heh, jangan membuatku tertawa," aku tertawa sinis mendengar ucapannya.

"Maksudmu hal itu hanya kebetulan? Oke, kita lihat sampai kapan 'kejadian kebetulanmu' akan terjadi," ia menaikkan kacamatanya yang sedikit merosot lalu tersenyum dingin padaku. Entah kenapa aku merasakan aura mengerikan yang terpancar dari tubuhnya. MENAKUTKAN!

Ishida lalu berdiri dari bangkunya yang terletak disebelah bangkuku.

"Mau kemana?" tanyaku sambil menyusulnya.

"Ruang kepala sekolah. Ikut?"

"Nggak. Aku mau ke kebun belakang saja," jawabku malas.

Saat kami melewati koridor sekolah, kami berpapasan dengan 'gadis terintimidasi' itu. Sekilas, kami berdua bertemu pandang, namun tak lama karena dia membuang muka duluan. Aku juga turut membuang muka, entah kenapa ketika mengingat mimpi yang selama ini menghantui diriku membuatku muak padanya!

Selain itu, aku juga memperhatikan dua cowok berbadan kekar yang berjalan di sisi kanan dan sisi kiri gadis itu. Cowok yang berdiri di sisi kanan namanya Renji Abarai, cowok berambut merah dengan hiasan tato di alisnya yang berjalan dengan sombongnya. Aku tidak terlalu suka dengannya. Beberapa hari yang lalu kami beradu mulut hanya karena setandan pisang yang sedang dijual dengan harga miring. Kami berdua berebutan untuk mendapatkan pisang terakhir itu. Tapi sialnya, saat kami saling menarik pisang tersebut, pisang itu lalu terpental dan tergilas sepeda seseorang. Payahnya, setelah itu ia mengalah seraya berkata, "Buat kamu saja, deh! Aku beli di tempat lain," ujarnya sambil melenggang pergi. Siapa juga yang mau beli pisang hancur begitu? Tapi akhirnya aku juga yang bayar. Keterlaluan!

Oke, lupakan saja dia dan beralihlah pada cowok meksiko yang berdiri di sisi kiri 'gadis terintimidasi itu'. Namanya Yasutora Sado tapi biasa dipanggil Chad. Ia punya badan jangkung dengan wajah yang sedikit-, ah lumayan mengerikan. Cocok sekali ia menjadi bodyguard 'gadis terintimidasi' itu.

"Nasibmu malang sekali, kalau karma memilih Kuchiki sebagai seorang gadis yang akan menyakiti hatimu," celetuk Ishida tiba-tiba setelah Rukia dan para bodyguardnya yang sudah menjauh.

"Heh, jangan bicara ngelantur. Karma omong kosong! Jangan disangkutpautkan dengan mimpi anehku, deh!" seruku dengan wajah cemberut.

"Dasar! Kau ini memang keras kepala," Ishida menghela napas.

"Ngomong-ngomong, kenapa gadis bernama Rukia Kuchiki itu dijuluki 'gadis terintimidasi'? Apa dia korban kekerasan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Bagaimana pun juga aku masih memikirkan asal usul julukan tersebut. Terlalu aneh!

"Kurang lebih seperti itu. Setahun yang lalu sebelum kau pindah ke sekolah ini, Rukia mempunyai seorang kekasih bernama Kaien. Rukia sangat menyayangi dan mencintai cowok itu. Tapi, Kaien mempunyai kepribadian ganda. Kadang ia bersikap sangat baik dan manis, tapi saat itu juga ia bersikap kasar bahkan Rukia sering dipukulinya. Apalagi kejadian itu juga terjadi di sekolah hingga semua mengetahuinya. Tapi namanya saja cinta, walaupun tubuhnya sudah babak belur tapi Rukia masih membela dan bersamanya. Akhirnya 3 bulan lalu, Kaien keluar dari sekolah dan sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana ia berada."

"Lalu bagaimana dengan Rukia?"

"Dia terlihat syok ketika mengetahui Kaien menghilang tanpa pamit. Ia sempat sakit beberapa hari. Sampai suatu ketika ia masuk didampingi dua bodyguardnya itu. Ternyata itu semua karena perintah Byakuya Kuchiki, kakak iparnya. Dia tidak mau adiknya terluka lagi dan akhirnya mengutus Sado dan Abarai. Tapi, kemana pun dan dimana pun Kuchiki berada, selalu saja ada mereka."

"Termasuk ke kamar mandi?" potongku sambil tertawa.

"Mana kutahu! Tapi sepertinya tidak!" jawab Ishida dengan wajah memerah. Kemudian ia kembali melanjutkan kalimatnya dengan serius.

"Tapi aku kasihan dengan gadis itu. Dia pasti tertekan dan tidak merasa bebas. Setiap hari diawasi dan tak ada yang mau mendekatinya. Entah kenapa, julukan itu sudah melekat padanya. Sejak ia masih bersama Kaien sampai sekarang. Huh, julukan yang memprihatinkan!" Ishida tertawa miris.

Aku terdiam memikirkan Rukia. Ternyata masa lalunya begitu kelam, tidak sepadan dengan wajah manis yang dimilikinya. Eh, apa hubungannya?

"Ternyata kau mulai merasa tertarik padanya, ya!" kata Ishida.

"Eh? Ti-tidak, kok! Aku hanya merasa…penasaran! Tidak lebih!"

"Oh," respon Ishida pendek tapi aku yakin kalau ia tidak percaya. Lagipula kenapa aku memikirkannya?

Ichigo's POV end

-

-

Tiga hari kemudian…

"ISHIDAAAAAA!!! GAWAT! EMERGENCY!! SIAGA SATU! SIAGA SATUUUU!!!" teriak Ichigo histeris. Ia masuk ke kelasnya dengan menggebu-gebu.

"Ada apa, Ichigo? Pagi-pagi sudah membuat kericuhan," sahut Ishida dengan tenang, padahal dalam hatinya kaget banget, tuh!

"ISHIDAAA!!! PLEEEAAASSEEE, BAWA AKU KE PSIKOLOG, PSIKIATER, DUKUN ATAU APALAH!! AKU STRESS BERAT!!" jerit Ichigo sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ishida sampai-sampai kacamata yang dipakai Ishida merosot.

"I-i-i-i-ya, ta-ta-pi-pi ke-na-na-p-pa?" Tanya Ishida dengan suara bergetar karena Ichigo mengguncang tubuhnya dengan hebat.

"Kamu benar! Mimpi itu! SAMPAI SEKARANG AKU MASIH MEMIMPIKAN GADIS ITUUUU!!! Gawatnya lagi kemarin…kemarin AKU MELIHAT SEMUA ORANG DENGAN WAJAHNYA!! Yuzu yang membawa sarapan terlihat seperti dirinya, ayah yang menendang pintu dengan brutal juga berwajah gadis itu, bahkan orang gila yang kutemui juga mempunyai wajah yang sama seperti dia. AKU SUDAH TIDAK TAHAN!! ISHIDAAAA, SEMBUHKAN AKUUUU!!!" Mohon Ichigo.

"O-oke, oke, tapi menjauh dariku," begitu Ichigo menjauh, ia segera membetulkan kerah baju dan kacamatanya yang merosot. Ia lalu memandang Ichigo dari atas sampai bawah. Rambut acak-acakan, kantung mata yang besar karena kurang tidur, wajah kusut bahkan pakaian seragam yang ia kenakan sangat tidak rapi. Kancing salah dimasukkan pada lubang yang seharusnya, apalagi baju seragamnya kusut.

"Jadi, benar apa kataku? Hukum karma sudah terjadi?" Tanya Ishida.

"Sekarang ini bukan waktunya bicara hal omong kosong seperti itu! Pokoknya bawa aku ke suatu tempat!"

"Aku tidak akan mengantarmu sebelum kau mengakui bahwa hukum karma benar-benar ada! Dan kau mengalaminya," Ishida melipat kedua tangannya. Kedua bola matanya memandang ichigo tajam. Ichigo menelan ludah, merasa berat untuk mengakui hal itu. Bagaimana pun ini masalah harga dirinya. Tapi…

"Oke! Karma benar-benar ada dan aku mengalaminya! Sekarang cepat bawa aku ke tempat pengobatan!" kata Ichigo lantang. Ishida tersenyum mendengarnya.

"Ya, tapi nanti saja, setelah pulang sekolah,"

"Aku maunya sekarang! Ayo kita pergi!" Ichigo menarik tangan Ishida dan menyeretnya keluar kelas. Ishida yang semula menolak, akhirnya pasrah juga. Ini pertama kalinya ia bolos sekolah, tapi demi teman bodohnya ini…tak apalah.

-

-

"Benar ini tempatnya?" Tanya Ichigo ragu sambil mendongakkan kepalanya, melihat kuil si pendeta yang harus menaiki beberapa tangga dulu untuk mencapai halaman kuilnya. Terlihat pintu masuk kuil atau biasa disebut Torii berwarna hijau lumut yang berdiri tegak di tangga paling atas.

"Tentu saja! Dia pendeta yang hebat, kok! Tapi panggil dia sensei, soalnya dia tidak terlalu suka kalau dipanggil pendeta. Ayo!" Ishida lalu menaiki tangga kemudian Ichigo menyusul dari belakang.

Ketika sampai di depan torii, Ichigo melanjutkan langkahnya dengan terengah-engah setelah menaiki tangga kuil yang entah ada berapa banyak. Ichigo melihat Ishida yang masih sehat walafiat tanpa lelah.

Mereka lalu melewati Sando (1) dan akhirnya sampai di ruangan milik sang pendeta. Ishida lalu melepas sepatunya dan melangkah menuju pintu sementara Ichigo beristirahat di tepi kuil seraya memperhatikan kolam ikan berisi air jernih yang ada didepannya. Saat kaki Ishida menyentuh lantai kuil, terdengar suara berderik pertanda sudah tuanya kuil ini dibangun. Ishida mengetuk pintu dengan pelan.

"Sensei, ada di dalam? Saya Ishida Uryuu,"

Tak lama kemudian pintu bergeser dan muncullah seorang cowok berambut putih keperakkan dengan bola mata emerald dan tubuh pendeknya.

"Oh, rupanya kau," balasnya singkat. "Ada apa?"

"Begini, teman saya mau meminta pengobatan Hitsugaya-sensei," pendeta pendek bernama Hitsugaya itu melihat Ichigo dengan tatapan tak ramah kemudian menyuruh mereka masuk ke dalam ruangannya.

"Jadi, apa masalah kalian?" tanya Hitsugaya sambil menghidangkan teh hijau pada Ichigo dan Ishida.

"Sudah capek-capek naik tangga harusnya disuguhi es serut atau minuman segar lainnya, eh malah disuguhi teh panas," gumam Ichigo pelan namun telinga Hitsugaya dapat menangkapnya.

"Maaf, tapi saat ini hanya ada teh panas karena miko saya sedang cuti. Kalau tidak mau minum tidak apa-apa," sahut Hitsugaya dengan tenang, padahal dalam hatinya dipenuhi rasa kesal. Tapi demi imagenya yang dikenal tenang dan bijaksana, ia akhirnya menahan perasaan itu dan selama ini belum ada pasien yang membuatnya hilang kesabaran. Ichigo hanya tersenyum. Senyum palsu. Ishida lalu menyikut Ichigo, memberinya isyarat untuk menceritakan masalahnya.

"Baiklah, saya akan menceritakannya. Tolong saya, ya mbaaah," pinta Ichigo. Hitsugaya yang mendengar dirinya di panggil 'mbah' langsung sweatdrop.

"Bodoh! Jangan panggil mbah tapi sensei," bentak Ishida dengan suara kecil.

"Tapi rambutnya, kan putih semua. Dia sudah kakek-kakek, kan?" jawab Ichigo yakin dengan suara kecil juga.

"Bodoh! Dari lahir rambutnya memang putih seperti itu! Sama seperti rambutmu yang warna oranye," Ishida menjitak kepala Ichigo.

"Ehm," Hitsugaya berdehem, memberikan isyarat supaya mereka berdua menghentikan pembicaraan. Akhirnya Ishida yang angkat bicara.

"Maaf, Begini mba-, eh maksud saya, sensei. Sensei masih ingat buku sejarah kuno pemberian sensei yang berisi macam-macam mantra? Nah, teman saya yang bodoh ini sok-sokan menantang karma, dan saya membaca mantra pemanggil karma yang ada di buku itu. Rupanya ampuh, sensei!"

"Lalu?" Tanya Hitsugaya dengan mimik wajah tetap tenang dan datar.

"Yah, masalahnya sekarang teman saya tidak tahan sama hukum karma yang menimpanya. Dia ingin segera disembuhkan,"

"Memangnya karma apa yang menimpanya?"

"Dia pernah bilang bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis yang tidak ia cintai tapi gadis itu cinta mati padanya. Dan karma yang menimpanya sekarang, dia jatuh cinta pada seorang gadis yang-, yah, agak susah untuk mendapatkan hatinya,"

Ichigo yang menjadi bahan pembicaraan hanya menunduk sambil terdiam seribu kata, tepatnya ia merasa bosan tentang pembicaraan ini. Daripada bicara omong kasong lebih baik cepat-cepat diobati!

Hitsugaya memandang Ichigo dengan seksama seraya berkonsentrasi penuh. Kira-kira pengobatan yang cocok untuknya…

"Hmm, Apa harus dirukiyah, ya?" kata Hitsugaya sambil mencubit-cubit dagunya.

"HAAAH?? RUKIAAA?? MANA? MANA?" teriak Ichigo histeris sambil menoleh kanan dan kiri.

"RUKIYAAAH BUDEEEKK BUKAN RUKIAAA!!" bentak Hitsugaya yang sudah melewati batas kesabaran. Ishida yang melihatnya kontan terkejut. Baru kali ini ia melihat Hitsugaya naik darah seperti itu.

Hitsugaya yang sadar dengan sikapnya langsung berkata, "Ehm, maaf, mari kita lanjutkan," Hitsugaya kembali berperawakan tenang namun tetap tidak membuat Ichigo dan Ishida setenang tadi. Ichigo saja sampai memegang dadanya karena syok setelah dibentak Hitsugaya. Hitsugaya sendiri juga bingung karena tak dapat mengendalikan amarahnya. Baru kali ini ia lepas kendali.

"Tidak, setelah dipikir-pikir ada satu cara lagi,"

"Apa itu?" Tanya Ichigo dan Ishida bersamaan.

"Hei, anak jeruk! Kau harus segera menyatakan perasaanmu padanya. Tepatnya menembaknya!"

"H-ha? Te-tembak? Maksudmu aku harus membunuhnya?" tanya Ichigo tak percaya. Tak lama kemudian muncul sebuah benjolan di kepala Ichigo karena dipukul Ishida sementara Hitsugaya berkali-kali mengucapkan sesuatu dalam hatinya, 'Amit-amiiitt!! Kalau aku punya anak jangan sampai seperti dia. Dasar IQ jongkok!'

"Maksudnya mengungkapkan perasaan cinta, Ichigo!" kata Ishida menjelaskan. Ichigo hanya ber 'oh' ria namun sedetik kemudian ia berteriak.

"AKU HARUS MENEMBAK GADIS ITU?!!"

"Kau tidak budek, kan? Jadi aku tak perlu mengulang ucapanku lagi."

"Ta-tapi kenapa harus menembaknya? Tidak ada cara lain?" tanya Ichigo yang masih belum bisa menerima. Muncul kembali mimpi buruknya yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Rukia.

"Mungkin saja karma akan terhapus jika kau sudah menyatakan cintamu pada gadis itu. Lakukan atau tidak!! Sekarang cepat pergi. Aku masih banyak urusan," ujar Hitsugaya dengan wajah dan nada dingin.

"Baik, terima kasih atas bantuannya," Ishida membungkukkan badannya sampai keningnya menyentuh lantai. Ichigo juga membungkuk karena dipaksa -atau lebih tepatnya didorong hingga keningnya terbentur lantai.

-

-

Senja itu, Rukia masih saja berdiam diri di kelasnya. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang dijadikan bantalan, Entah sudah berapa kali ia menangis hari ini. Sekolah ini, Smu Karakura adalah sekolah yang memberikannya kenangan menyenangkan hati dan juga menyakitkan hati…

FLASHBACK

Pagi ini, kelas Rukia masih seramai biasanya. Suara cekikian siswa cewek yang asyik bergossip, beberapa siswa yang berebut buku PR dan aktivitas lainnya. Tak lama kemudian, muncullah seorang gadis mungil bermata violet dengan wajah manisnya.

"Pagi, semuanya!" teriaknya penuh semangat.

"Pagi, Rukia!" sapa teman-teman sekelasnya. Gadis bernama Rukia itu tersenyum sesaat kemudian menghampiri seorang cowok yang sedang asyik dengan mp3-nya.

"PAGI KAIEN-KUUUNN!!" teriak Rukia pakai toa sambil melepas salah satu headset yang dipakai Kaien. Otomatis Kaien kaget bukan main.

"Rukia, apa yang kau lakukan, sih?" Tanya Kaien dengan suara lembutnya, tidak terlihat ekspresi kemarahan dari wajahnya. Rukia yang merasa gemas dengan paras kekasihnya itu mencubit pipinya lalu melingkarkan kedua tangannya di leher cowok berambut hitam itu.

"Menyapamu, Kaien-kun," jawabnya sambil tersenyum nakal. Kemudian ia mengendus aroma strawberry di sekitar tubuh Kaien.

"Kaien-kun, kau pakai parfum strawberry, ya? Sejak kapan?"

"Iya, baru kali ini, kok! Kemarin aku dapat gratisan di toko baru. Sayang, kan kalau tidak dipakai?" jawabnya sambil tersenyum manis.

"Tapi, kau tahu kan aku sangat benci hal yang berbau strawberry! Kau mau aku menjauhimu hanya karena parfum ini?"

"Buktinya kau masih mendekatiku. Aku tahu kalau kau benci strawberry, tapi sayang kalau dibuang. Kau masih mau menjauhiku?"

"Tentu saja tidak! Oke hari ini ada toleransi. Tapi jangan lagi, ya!"

"Oke," Saat bibir Kaien menyentuh kening Rukia, semua siswa yang ada di kelas itu bertepuk tangan sambil bersuit-suit. Ada yang merasa iri, namun juga ada yang merasa biasa-biasa saja.

"Lalu, kau bawa uang yang mau aku pinjam?" Tanya Kaien. Rukia mengangguk.

"Ya, tapi tidak sebanyak yang kau minta. Aku hanya punya 5.000 yen, jadi aku…" belum sempat Rukia menyelesaikan kalimatnya, Kaien lalu mencengkeram kerah lehernya.

"AKU BUTUH 10.000 YEN, BODOH! KENAPA HANYA BAWA SETENGAHNYA?! KAU MAU AKU HAJAR, YA?" tatapan lembut dan senyumnya kini berganti dengan mata melotot dengan hentakkannya.

"Ma-maaf, aku tahu, tapi…"

"KALAU KAU TAHU KENAPA TIDAK MEMBAWA SEMUANYA?! BRENGSEK!" tanpa diduga Kaien menamparnya hingga tubuh Rukia jatuh terjerembab. Teman-temannya yang semula bersuit-suit ria kini hanya bisa melongo dengan wajah ketakutan.

"He-hei, Kaien, jangan seperti itu sama kekasihmu," beberapa temannya berusaha melerai, namun naasnya mereka juga disemprot Kaien.

"JANGAN IKUT CAMPUR ATAU AKU BUNUH KALIAN SEMUA!" bentaknya. Ia lalu menggamit lengan Rukia dengan kasar lalu membawanya keluar dari kelas.

FLASHBACK END

Rukia ingat kejadian setelah itu. Kaien membawanya ke loteng sekolah lalu berbuat kejam padanya. Rukia ingin melupakan semua itu, tapi pukulan, tendangan dan bentakan itu masih terekam jelas di benaknya. Terlalu susah menghilangkan masa kelam itu. Bodohnya, kenapa ia masih memaafkan Kaien yang berbuat kasar padanya? Tidak hanya sekali, namun berkali-kali Kaien melakukannya dimana saja, tidak peduli dengan banyaknya orang di sekitar mereka. Rukia dilarang berdekatan dengan teman cowoknya, pergi sendirian ke suatu tempat dan hal tidak masuk akal lainnya. Kalau ia sampai melanggarnya maka ia akan merasakan ringan tangan dari Kaien. Saat itu, Rukia berpikir dia bukan Kaien! Namun ia akhirnya tahu kalau Kaien mengalami gangguan jiwa dan memiliki kepribadian ganda. Tapi hal itu tidak membuat cintanya luntur, malah rasa cintanya semakin besar dan berniat untuk menyembuhkan kekasihnya itu. Rukia juga menyadari, Kaien melakukan hal itu karena sayang padanya. Kaien ingin Rukia selalu disisinya, apakah itu salah?

Rukia masih ingat, setelah Kaien melakukan kekerasan, ia berubah menjadi Kaien yang lembut. Ia memeluk Rukia erat sambil berkali-kali mengucapkan maaf dan tidak sengaja. Satu hal yang membuat Rukia memaafkannya.

"Maaf…"

"Ukh!" Rukia memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Terlalu menyakitkan untuk mengingat hal itu. Akhirnya ia memilih meninggalkan kelasnya. Lagipula Chad sudah menunggunya di gerbang sekolah. Chad memang baik, ia masih mengizinkan Rukia menyendiri dan kadang-kadang membantunya kabur dari pengawasan Renji. Berbeda dengan Renji, ia selalu menempel di sisi Rukia dan tak mengizinkannya pergi sendiri. Untung tadi Renji ada urusan jadi hanya Chad yang mengawasi Rukia, tapi Renji akan segera kembali. Hmm…apa mungkin Renji sudah tiba?

Saat ia mengambil tas selempangan ungu mudanya, Rukia baru sadar kalau boneka chappynya sudah tidak tegantung pada tasnya. Rukia langsung panik. Ia segera mencarinya di sekitar bangku namun hasilnya nihil. Ia juga mencari di sepanjang koridor namun tetap tak bisa menemukannya. Bagaimana pun itu adalah hadiah terakhir yang diberikan Kaien padanya dan ia tidak mau kehilangan benda itu.

"Haaahh…tidak ada. Dimana, ya?" keluhnya putus asa.

"Mencari ini?" tiba-tiba ia mendengar suara berat seseorang. Ia segera memutar badannya.

"Kau?" tanpa sadar Rukia menunjuk cowok berambut oranye itu. Cowok yang ditunjuk hanya memandangnya dengan malas.

"Jangan berekspresi seperti itu. Kalau mulutmu tidak segera ditutup akan ada nyamuk yang masuk ke dalam," Rukia yang tersadar segera menutup mulutnya yang tadi menganga lebar. Begitu melihat boneka Chappynya, ia langsung menyambarnya dengan kasar.

"Hei, kasar sekali," cibir Ichigo.

"Huh, aku tidak peduli siapa yang menemukan. Kau ingin aku berterima kasih? Oke, makasih!" kata Rukia dengan galaknya. Melihat sikap Rukia membuat amarah Ichigo muncul.

"Dasar tidak tahu terima kasih! Kalau aku tahu ini punyamu aku akan membuangnya!" teriak Ichigo.

"Oh, kalau begitu kenapa tidak kau lakukan? Tapi maaf saja, aku tidak akan membiarkan boneka chappyku ternoda karena dipegang tangan kotormu! Dasar rambut oranye norak!"

"Hei, aku punya nama. Namaku Ichigo Kurosaki, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu! Dasar pendek!"

"Ichigo? Huh, aku baru tahu kalau ada cowok namanya strawberry. Aku benci strawberry! Aku juga benci wajahmu! Lagipula aku juga punya nama! Rukia Kuchiki, ingat itu!" tanpa sadar mereka berdua saling memperkenalkan diri walaupun bukan dengan cara biasa.

"Terserah namaku siapa saja. Yang memberi nama itu ibuku, bukan kamu! Aku juga tidak peduli kau yang membenci wajahku. Kau tahu? Kau adalah orang pertama yang bilang begitu! Semua orang menyukai wajahku yang tampan!" kata Ichigo tak mau kalah. "Lagipula kau ini hanya seorang gadis galak yang cengeng. Kau habis menangis, kan?"

Kedua mata Rukia melebar. Kenapa dia bisa tahu? Ah, pasti karena kedua matanya yang terlihat sembab dan sisa air mata yang menempel di pipinya.

"A-aku tidak menangis dan ini bukan urusanmu!" Rukia memalingkan wajahnya dengan gugup. Tanpa sengaja melalui jendela koridor, Rukia melihat Renji dan Chad di halaman sekolah. Rukia tersadar ini sudah waktunya pulang. Chad dan Renji pasti mencarinya. Tapi saat ia melangkah pergi, tangan kekar Ichigo menahannya.

"Apa, sih?! Kau masih mau berdebat?" Tanya Rukia sambil menepis tangan Ichigo.

"A-aku mau bicara sesuatu," kata Ichigo yang ingat tujuannya datang ke sekolah.

"Kalau tidak penting aku…"

"INI PENTING! SANGAT PENTING!" Ichigo meninggikan suaranya hingga membuat Rukia terdiam. Ia menghela napas sejenak kemudian memandangnya tajam.

"Oke, katakan sekarang."

"Umm…itu…" Ichigo memalingkan wajahnya. Karena merasa gugup ketika meliihat wajah manis Rukia, ia memutar badannya, membelakangi Rukia.

"Cepat katakan," paksa Rukia gelisah sambil tengok kanan-kiri. Ia takut kalau Renji dan Chad menemukannya dengan seorang cowok disini. Sesuai kata Byakuya, kakak ipar Rukia, 'Jangan sampai Rukia berdekatan dengan laki-laki!'

"Aku juga mau mengatakannya!" tukas Ichigo. Ia sendiri bingung kenapa susah sekali mengatakan 'I love you'? Kenapa ia merasa gugup dan malu? Dia kan tidak punya perasaan apa-apa padanya. Apa ini pengaruh dari karma?

"Hei!" suara protes Rukia kembali terdengar. Ichigo menghirup napas kemudian menghembuskannya dengan perlahan agar perasaannya lebih tenang. Akhirnya setelah keberaniannya sudah dirasa cukup, ia mulai menyatakannya.

"Umm…mu-mungkin ini terdengar konyol, tapi aku sengaja datang kemari hanya untuk bertemu denganmu. Untunglah disini hanya ada kita berdua sehingga aku merasa tidak terlalu gugup. Dan, yah, a-aku hanya ingin bilang…aku menyukaimu. Aku tahu ini terlalu tiba-tiba. Sekali lagi aku katakan, aku cinta kamu!"

Hening, suara Rukia tidak terdengar. Ichigo yang merasakan wajahnya memanas menghela napas lega. Akhirnya ia bisa mengatakannya. Tidak peduli Rukia merespon dengan teriakan, ejekan atau pukulan yang penting ia sudah melakukan seperti yang diperintahkan Hitsugaya. Dengan begini masalah selesai dan karma akan menghilang, kan?

"Ka-kau yakin?"

"Ya, tapi kalau kau menolak juga tidak apa-a…eh?" Ichigo sadar kalau suara gadis yang membalasnya bukan suara Rukia. Duh, perasaan Ichigo tiba-tiba tidak enak. Ia segera membalikkan badannya. Jangan-jangan…

"Terima kasih, Kurosaki-kun. Aku senang ternyata selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku…aku merasa terharu," tubuh mungil dengan rambut hitam dan mata violet kini berganti dengan sosok seorang gadis tinggi langsing dengan rambut oranye-cokelatnya yang panjang dan lurus. Gadis itu memandang Ichigo sambil menangis bahagia. Ichigo yang melihatnya langsung terlonjak. Kenapa malah Orihime Inoue?!!

"Dan aku juga mencintaimu. Aku mau jadi kekasihmu," lanjut Orihime sambil tersenyum manis.

Oh, oh, kenapa jadi salah tembak begini, sih?!

TBC

Sando: Jalan masuk menuju kuil

-

-

Maaa…terimakasih yang sudah mereview fic saya!! Saya sangat terharu! Aishiteru, minna!!

Sekarang waktunya balas review:

BinBin Mayen Kuchiki

*nangkep bunga sakura* waah saia suka bunga sakura, makasih! Betul, rasakan kau Ichigo!

Kuchiki Rukia-taichou

Diintimidasi sama Kaien! Kasihan Rukia. Ichiruki? Pasti ada donk!

Mss Dhyta

Iya, mantranya Ishida aneh, tuh pengaruh dari senseinya *lirik Hitsugaya*. Dukun? Hahaha…bisa saja, profesi pelarian setelah ditolak Orihime. Makasih udah dikasih tahu cara edit fic!

Meong

Oke, Ini sudah dilanjutin. Makasih reviewnya, yah!

Ni-chan d'

Hehe…terimakasih atas pujian dan ucapan selamat datangnya! Terngiang-ngiang? Hoho…baguslah! *lho?*

Ruki-ya

Iya, tapi bukan full tentang penindasan. Hanya masa lalu Rukia, tapi…nanti ada juga, sih orang yang menindas Rukia. *Ha? Siapa?* RAHASIA!!! Fufufu…

Namie Amalia

Iya, Rukia jadi korban KDRT Kaien. Kaien jahat!

Himeka-Hikari Kamisa

Ichigo sama Ishida hanya murid biasa yang bersekolah di SMU Karakura yang biasa. Yang ngajari mantra, tuh Hitsugaya. Pendeta yang tidak biasa!

Himeka Walker

*menangkap confetti* terima kasih! Ada, soalnya kan yang punya buku itu Hitsugaya, pendeta aneh yang punya barang-barang aneh! *digetok Hitsugaya* Makasih udah dikasih tahu cara edit fic!

Vi ChaN91312

Chad sama Renji ternyata bodyguard alias pengawal Rukia yang diutus Byakuya. Sudah gak penasaran, kan?

The Great Kon-sama

Iya, terima kasih! Sudah tahu, kan siapa yang mengintimidasi Rukia? Haha…gak usah ngambil keris warisan, tenang aja ada Ichigo yang ngelindungi Rukia, kok! Disimpen baik-baik aja, ya! Betul, Ichigo gak usah dikasihani, biar dia gak sok lagi!

Mayonakano Shadow Girl

*nangkap confetti* terima kasih, wah dapat confetti lagi. Iya, Ichigo kena karma habis sombong banget, sih?! Tapi saia tetap cinta dia! Makasih udah dikasih tahu cara edit fic!

Sunako-chan

Hehehe…terimakasih atas pujiannya dan ucapan selamat datangnya . Okeeee!!! Pasti akan saia banyakin Ichirukinya!!! Tapi chap ini belum banyak, mereka baru kenal, sih!

Ichikawa Ami

Hahaha…bukan Ki Joko Bodo, tapi konsultasi sama Hitsugaya bodoh *diserang rame-rame Hitsugaya FC* Ichigo pasti kena karma!!! Tapi kalo ceweknya Rukia, saia malah senang!

Aika Umezawa

Salam kenal, nama lainnya Marie Antoinette, ya? *dicatat dalam diary (?)* Ishida dapet buku dari Hitsugaya.

Jess Kuchiki

Ishida percaya mantra gara-gara pengaruh Hitsugaya, tuh! Iya, Ichigo bodoh! Kenapa pake suara bebek bukan kodok? Alasan Chad dan Renji kejar-kejar Rukia udah tahu, kan?

YohNa-nyu-

Me-mengerikan?! Saia? Iya, makasih ucapan selamat datangnya. Salam kenal dan BANZAI!!! Hidup IchiRuki! Bukan dijahit tapi ditusuk, tapi itu juga merupakan salah satu metode latihan Ichigo supaya kebal saat ngelawan musuh-musuhnya yang membawa benda tajam *ngarang:MODE ON* Ngacungin pisau? Kenapa gak ngacungin uang aja? Hehehe…Yosh! Udah diupdate, nih! Makasih udah dikasih tahu cara edit fic!

Edogawa Luffy

Waa…sesama fans Ichiruku *toss*, hehe…makasih! Gpp telat, kok! Yup, Ichigo bakalan cinta mati sama Rukia! Rasain!

OrangePink

Iniiiii, chapter 2 udah update! Baca and review yah!

Sekali lagi, makasih udah review fic saia dan tetap Review fic-fic saia di chapter-chapter salanjutnya, ya! Sekedar informasi, normalnya saia publish fic ini 5-8 hari setiap fic, kalau sampai lebih berarti saia emang lagi gak ada waktu ngenet, hehe. Yosh! Domo arigatou minna…