Author: Wah, telat update, maklum saia terancam HIATUS! Libur kemarin harus pulang kampung tanpa ada warnet di sekitarnya dan begitu masuk sekolah…bruukk!! Tugas-tugas menumpuk. Sekali lagi maaf, ya! Oke kita langsung saja!
Disclaimer: bang Tite Kubo, saia mau ngelamar jadi asistennya! *ngimpi*. Buat nama artis yang saia sebutkan di fic, minta izin mencantumkan nama anda, ya.
WARNING: OOC, AU, ANEH!
DATING WITHOUT PLAN!
Lacossu no Ame
"Hei, kau. Pendek! Rukia Kuchiki!"
Rukia yang merasa dirinya dipanggil berhenti berjalan dan menoleh. Dilihatnya Ichigo menghampirinya dengan berapi-api. Renji dan Chad yang ada di sampingnya maju selangkah, melindungi Rukia kalau-kalau Ichigo melakukan sesuatu.
"Kau…beraninya memanggil Rukia dengan sebutan pendek," ujar Renji dingin sambil memberikan tatapan sinisnya.
"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi gadis itu!" Ichigo menunjuk tubuh mungil Rukia yang hampir tertutup kedua tubuh bodyguardnya yang kekar.
"Tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Paling-paling kau hanya ingin mendekati Rukia."
"SUDAH KUBILANG KAU TIDAK USAH IKUT CAMPUR RAMBUT NANAS!"
"NA-NANAS?! KAU SENDIRI RAMBUT JERUK! BERANINYA KAU…" Renji bersiap memberikan tinjunya pada Ichigo, tapi Rukia melarangnya.
"Renji, biarkan dia berbicara. Setelah itu semua selesai, jangan sampai berkelahi karena hal tak penting!" Tubuh mungil Rukia lalu muncul dari balik tubuh Renji dan Chad. Kini ia sudah berdiri di depan para bodyguardnya itu.
"Tapi, Rukia-"
"Kau! Kenapa kemarin kau pergi diam-diam, sih?! Aku kan mau bicara sama kamu!"
"Salah kau sendiri! Sudah kubilang aku terburu-buru dan menyuruhmu supaya cepat mengatakannya, tapi kau tak melakukannya. Ya sudah aku pergi saja. Apalagi kau berdiri membelakangiku," Rukia menjelaskannya dengan enteng membuat Ichigo merasa geram.
"TAPI GARA-GARA HAL ITU AKU JADI KENA MASALAH, TAHU!!"
"Masalahmu bukan urusanku. Kalau begitu cepat katakan sekarang! Dengan begitu semua beres!"
"Mengatakan..apa?" Ichigo masih belum mengerti.
"Tentu saja yang waktu itu mau kau sampaikan!"
Eh, i-itu…" Ichigo melirik Renji dan Chad yang masih berdiri di dekat Rukia. Bukan saatnya menembak sekarang! Bisa-bisa bogem mentah yang dirasakannya. Tidak, ini terlalu berisiko! Cari kesempatan lain!
"Huh, tidak jadi! Lupakan saja! Lagipula sepertinya tidak ada hal yang bisa kita obrolkan selain bertengkar!" Ichigo malah membalikkan badan dan melenggang pergi dengan cuek, membuat ketiga orang itu mengerutkan kening.
"He-hei! Sebenarnya apa tujuanmu?" teriak Rukia.
"Hanya ingin mengobrol denganmu, tapi sepertinya yang kita bisa lakukan hanya bertengkar. Tidak asyik!" jawab Ichigo malas.
Rukia menggigit bibir bawahnya. Tidak asyik? Dia? Rukia merasa tersinggung mendengarnya.
"Rukia, apa cowok itu tidak dibereskan saja?" tanya Renji geram. Rukia membalikkan badan, kembali berjalan seraya menundukkan kepala, hingga wajahnya tak terlihat karena tertutup helai-helai rambutnya.
"Biarkan saja dia! Jeruk busuk tidak penting!"
"Kurosaki-kuuunn!!" samar-samar Rukia mendengar seorang gadis memanggil Ichigo dengan manjanya.
"Kita ke kantin, yuk!" masih terdengar suara gadis itu ditelinganya, namun ia tetap berjalan, tidak peduli dengan rupa gadis itu.
-
-
Berita hubungan Ichigo dan Orihime dengan cepat menyebar di sekolah Karakura. Ada yang memberi selamat, namun juga ada yang menangis tersedu-sedu karena patah hati. Tapi ada satu masalah lagi yang dialami Ichigo. Gara-gara salah paham ini, ia bertengkar dengan Ishida. Ishida benar-benar marah! Ia tidak pernah menyapa Ichigo dan pindah tempat duduk yang letaknya jauh dari tempat Ichigo. Setiap Ichigo menghampirinya, Ishida selalu menghindar.
'Bodohnya aku yang tidak menjelaskannya waktu itu. Sekarang apa yang harus aku lakukan?' pikir Ichigo gelisah. Berkali-kali ia menghela napas untuk menenangkan diri, namun sia-sia.
"Hei, Kurosaki-kun. Ada apa? Kau melamun?" suara lembut Orihime menyadarkannya. Orihime mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Ichigo dengan cemas.
"Em, ti-tidak, tidak apa-apa. Aku hanya…melamun tak penting," Ichigo berusaha tersenyum di depan gadis berambut coklat-orange itu.
"Oh, begitu. Syukurlah, aku kira kau merasa tidak enak badan," Orihime memberikan senyum manisnya seraya menghela napas lega.
"Hime!" tak jauh dari tempat mereka berada, seorang gadis tomboy berambut hitam pendek melambaikan tangan, menyapa Orihime. Tak berapa lama, akhirnya ia menghampiri Orihime dan Ichigo.
"Tatsuki-chan, ada ap-" sebelum Orihime menyelesaikan kalimatnya, buru-buru Tatsuki menarik tangan Orihime dan membawanya sedikit menjauh dari tempat Ichigo.
"Jadi benar rumor itu? Kau berpacaran dengan Ichigo?" bisik Tatsuki supaya tak terdengar Ichigo. Orihime menjawab dengan senyum bahagianya.
"Kyaaa…kalau begitu selamat, ya! Akhirnya impianmu terwujud juga!" jeritnya girang sampai beberapa siswa yang ada disitu memandang mereka heran.
"Iya, terima kasih, Tatsuki-chan!"
Rukia yang baru datang tanpa sengaja melihat Ichigo yang duduk sendirian.
"Eh, jeruk aneh itu? Ih, kenapa dia harus ada disini, sih?!" tapi Rukia tetap saja memasuki kantin dan berjalan dengan cueknya ketika di dekat Ichigo. Ichigo yang melihatnya juga pura-pura cuek. Mereka saling membuang muka.
"Jangan lupa bawa besok, ya!" kata Tatsuki sebelum pergi.
"Jangan khawatir!" Orihime mengedipkan sebelah matanya seraya mengacungkan jempol.
"Kurosaki-kun, maaf, ya lama menunggu!"
"Tidak apa-apa. Em, kalau boleh tahu…apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Hehe…bukan hal penting, kok! Tatsuki-chan menyuruhku membawa majalah gossip terbaru tentang Krisdayanti itu, lho! Biasa, cewek 'kan memang hidup dengan bergossip!" Orihime menjelaskan dengan cerianya. Ichigo yang mendengarnya mengangguk mengerti. Tapi setelah itu ia mencondongkan sedikit badannya, mendekati tubuh Orihime yang duduk disampingnya.
"Ada yang mau kutanyakan." bisik Ichigo supaya tak terdengar orang lain.
"Eh, a-apa?"tanya Orihime dengan wajah memerah. Kini ia bisa merasakan hembusan napas yang dikeluarkan Ichigo, membuat tubuhnya merinding! Orihime sudah berpikir tidak-tidak. Apakah Ichigo akan mencium pipinya? Atau bibirnya? Yang jelas hal itu membuat jantungnya berdegup kencang!
"Memang benar, ya, kalau Krisdayanti selingkuh sama pengusaha dari Papua itu??"
Gubraakkk!! Orihime langsung bergubrak-ria begitu mendengar ucapan tak terduga Ichigo.
"Eh, ah, i-iya, sepertinya begitu. Kurosaki-kun juga suka bergossip, ya?" tanya Orihime yang masih syok.
"Me-memangnya sa-salah, ya?" Ichigo yang menyadari ketololannya tersipu malu. Ia baru sadar kalau apa yang dilakukannya sangat konyol.
"Ah, ti-tidak, kok! Tidak salah! Justru aku merasa senang mendengarnya. Jadi kita punya hobi yang sama! Besok aku bawa majalahnya!" seru Orihime senang.
"Benarkah?" senyum Ichigo langsung merekah.
Rukia yang dapat mendengar pembicaraan itu hanya menghela napas.
"Jeruk bodoh! Padahal aku juga mengikuti perkembangan gossip itu. Kita juga punya hobi sama dan bisa menjadi bahan obrolan kita nanti. Bahkan aku mengetahuinya labih lengkap kalau Krisdayanti dan pengusaha itu berlibur bersama ke Bali. Ichigo, kau bilang kita berdua hanya bisa bertengkar. Kau salah! Kau belum mengenalku," keluh Rukia kecewa.
"Rukiaaa, kau kemana saja! Sudah kubilang kalau pergi-pergi harus dalam pengawasanku dan Chad!" Renji tiba-tiba muncul dan menghampiri Rukia dengan khawatir.
"Aku hanya membeli roti di kantin. Lagipula tidak harus setiap detik aku bersama kalian, 'kan?" jawab Rukia cuek seraya berjalan meninggalkan kantin.
"Tapi, 'kan setidaknya beritahu aku, supaya aku tidak khawatir," kata Renji lagi.
"Kau yang terlalu melebih-lebihkan," balas Rukia lagi. Renji menghela napas. Percuma menasehati Rukia seperti apapun! Dia pasti tetap kabur.
"Hei, Renji."
"Hm?"
"Apa kau tahu bagaimana perkembangan Krisdayanti?"
"Eh, Krisdayanti? Siapa itu? Kalau Kristin aku tahu. Dia penjual pisang di dekat stasiun. Pisangnya enak-enak, lho!" Renji ngiler membayangkan pisang di kios Kristin yang segar-segar.
'Haaahhh…benar, 'kan. Otak Renji tentang infotaintment nol besar! Pikirannya cuma pisang!' gumam Rukia dalam hati.
"Tidak usah dipikirkan, Renji. Lupakan saja!"
Kita kembali lagi pada Ichigo dan Orihime…
"Kurosaki-kun, aku bawa bekal, nih!"
Wajah Ichigo langsung berseri-seri. Sebenarnya ia sudah lapar dari tadi. Pantas saja Orihime tidak memesan makanan di kantin. Mereka hanya memesan minuman.
"Wah, terima kasih!" ucap Ichigo. Begitu melihat isi bekalnya, Ichigo tambah ngiler. 3 buah bakpao berukuran lumayan besar terhidang manis di dalam kotak bekal hijau milik Orihime.
"Bakpao buatanku! Kau pasti menyukainya. Namanya bakpao isi rempah-rempah. Bawang putih, bawang merah, bawang bombay, merica, cabe, kunyit dan jahe aku blender sampai halus, setelah itu dicampurkan ke dalam bakpao. Rasanya unik, deh! Oh, ya aku juga bawa saus tomat untuk penambah rasa."
'Hueeekks!' hanya itu yang ada dalam pikiran Ichigo. Ia langsung merasa mual ketika membayangkan rasa bakpao itu. Rasa laparnya kini lenyap entah kemana.
"Ayo dimakan sekarang."
"Tidak!" jawab Ichigo tanpa sadar.
"Kenapa? Kurosaki-kun tidak suka masakanku, ya?" tanya Orihime sedih. Buru-buru Ichigo menjelaskannya.
"Bukan begitu maksudku. A-aku hanya mau memakannya saat aku lapar, 'kan sayang kalau aku makan saat aku masih merasa kenyang. Kurang nikmat."
"Oh, aku mengerti. Kalau begitu Kurosaki-kun saja yang membawanya, ya!"
"Tidak, jangan! Ah, maksudku, kau saja yang bawa, takutnya aku makan saat kau tidak ada. Kau 'kan ingin aku mengomentari masakanmu."
"Baiklah," Orihime mengangguk mengerti. Ichigo menghela napas lega. Selamat! Untuk sementara, sih!
Ichigo melihat Ishida yang baru saja memasuki kantin. Ichigo bergegas menyapanya, namun Ishida tetap cuek.
"WOII, ISHIDA!!" panggil Ichigo lebih keras namun tetap tak ditanggapi. Padahal Ichigo yakin, dengan jarak yang tak terlalu jauh Ishida dapat mendengar suaranya. Ishida pasti pura-pura tidak dengar!
"ISHIDA-KUUNN!!!" panggil Orihime. Anehnya, begitu Orihime memanggil, Ishida menoleh lalu menghampiri mereka.
'Dasar! Kalau sama Orihime saja, dia mau menoleh," pikir Ichigo.
"Ada apa?" tanya Ishida dengan wajah dan nada dinginnya. Ichigo berpikir, kalau di depan Orihime, Ishida sok keren!
"Kurosaki-kun yang mau bicara denganmu," jawab Orihime sambil tersenyum. Ichigo langsung gugup. Dengan agak takut ia memandang mata tajam Ishida. Death glare keluar dari dalam tubuh Ishida, membuat bulu kuduk Ichigo berdiri. Sepertinya hanya ia yang merasakannya, karena Orihime hanya senyam-senyum tanpa beban disampingnya.
"Ng…itu…anu…Inoue mau ke perpustakaan tapi aku mau ke kamar mandi. Kau temani dia, ya! Sepertinya aku di kamar mandi sampai pulang sekolah!" Ichigo langsung kabur meninggalkan Ishida dan Orihime yang masih kebingungan.
'Yang penting, aku bisa terlepas dari gadis itu!'
-
-
Ichigo memilih bersembunyi di kebun belakang sekolah. Ichigo merasa lelah, lelah dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Apa benar ini pengaruh dari karma? Karena terlalu asyik memikirkan hal itu, hampir saja ia menginjak seekor burung nuri berbulu kuning yang tergolek lemah didepannya. Untung Ichigo melihatnya.
"Wah, sepertinya dia habis diserang seekor anjing," duga Ichigo sok 'kedetektifan' ketika melihat luka robek di sayap kiri burung tersebut. Tapi Ichigo bingung, mau diobati pakai apa? Oh ya, di saku celananya, sih ada plester luka. Tapi masa diobati pakai itu?
"Ah, tidak apa-apa, deh! Supaya darahnya tidak mengucur terus," begitu mendapatkan jalan keluar terbaik, ia membuka plester lalu merekatkannya ke sayap burung tersebut.
"Hei, jangan diobati dengan itu!!!"
"Eh?" refleks Ichigo menoleh ke belakang. Ternyata Chad.
"Kalau mau obati burung, harus pakai alkohol dan diolesi pelan-pelan menggunakan kapas, setelah itu baru diperban sampai rapat," Chad menjelaskan layaknya guru pada muridnya yang masih belum mengerti apa-apa. Ichigo hanya diam namun menyimak juga. Yang membuat Ichigo terkejut, semua obat-obatan yang disebutkan Chad ternyata sudah dipersiapkan. Chad menggeluarkan dari dalam sakunya dan bergegas mengobati luka burung itu dengan telaten. Ichigo hanya memandangnya heran.
"Kau sudah mempersiapkannya, ya?" tanya Ichigo penasaran.
"Eh? Oh, ya begitulah." Chad yang duduk di sebelah Ichigo melihat sekilas kemudian kembali mengobati burung nuri itu.
"Sebenarnya ini burung nuri peliharaanku, namanya Pitty. Karena dari tadi pagi ia tidak muncul juga, maka aku jadi khawatir. Aku takut kalau terjadi apa-apa padanya. Aku mempersiapkan obat-obatan untuk berjaga-jaga. Ternyata dugaanku benar kalau ia sedang terluka."
"Kau tidak berpikir kalau ia kabur darimu? Bisa saja ia tidak kembali karena keasyikan di alam bebas."
"Yah, semua burung mungkin seperti itu, tapi tidak dengan Pitty. Aku sering melepasnya dan anehnya ia kembali lagi padaku. Mungkin ia tahu siapa orangtuanya yang sebenarnya." jawab Chad seraya tersenyum tipis.
'Orang tua? Cih, senang sekali kau menyebut dirimu sebagai orang tua sang burung,' ejek Ichigo dalam hati. Baginya Chad adalah cowok yang agak aneh!
"Ini pertama kalinya aku membawanya ke sekolah. Awalnya aku takut membawanya kemari, karena ia masih belum tahu situasi di sekitar sekolah ini. Tapi karena ia sendirian di rumah, akhirnya aku membawanya, namun ternyata malah terjadi hal seperti ini."
Ichigo hanya mengangguk-anggukan kepala malas. Tepatnya, ia merasa bosan membicarakan tentang burung nuri.
"Sama seperti burung ini, aku juga khawatir dengan keadaan Rukia-sama."
"Eh?" mata Ichigo langsung terbuka lebar begitu Chad mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau…mengenal Rukia-sama?" kali ini Chad sudah selesai memperban burung nuri kesayangannya. Burung nuri itu kini tertidur lemah di telapak tangan kiri Chad yang kasar dan hitam.
"E, se-sebenarnya belum mengenal dekat, sih!" jawab Ichigo seperlunya. Chad hanya mengangguk.
"Aku kasihan dengan keadaan Rukia-sama. Semenjak hubungannya dengan Kaien, Byakuya-sama menyuruhku dan Abarai menemani dan mengawasi Rukia setiap saat. Hidupnya benar-benar terkekang! Makanya, kadang-kadang aku membiarkannya kabur agar ia merasa sedikit senang dan bebas. Entah kapan aku melihat Rukia-sama tersenyum. Rasanya sudah lama sekali."
Ichigo hanya terdiam mendengar cerita Chad. Apa benar kehidupan Rukia sebegitu kelamnya?
"Tapi, saat tadi kau berbicara dengannya, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada Rukia-sama. Entahlah, Rukia-sama terlihat berbeda. Karena itulah," Chad menyentuh pundak kiri Ichigo.
"Teruslah berada di dekat Rukia-sama. Aku tahu kau dapat merubahnya menjadi Rukia yang dulu, terbuka dan bahagia. Jangan takut dengan masalah yang akan dihadapi kalian."
Ichigo menaikkan sebelah alisnya dan memiringkan sedikit kepalanya heran.
"Hei, hei, kau pasti salah paham. Biar kujelaskan kalau aku dan majikanmu tidak ada hubungan apa-apa. Justru aku merasa kesal padanya yang sok bersikap dingin. Tidak mungkin aku dan dia menjalin hubungan seperti yang kau pikirkan!" sanggah Ichigo cepat sebelum Chad berpikir tidak-tidak. Mendengar hal itu Chad terperangah, namun kemudian ia hanya tersenyum tipis. Ia lalu bangkit dan membersihkan beberapa anak rumput yang menempel pada celana kain hitamnya.
"Salah paham? Jadi begitu, ya? Maaf kalau begitu. Baiklah, terima kasih kau sudah menemukan Pitty-ku. Aku pergi dulu."
Ichigo hanya memandang punggung Chad yang berjalan meninggalkannya. Tapi belum jauh ia berjalan, Chad membalikkan setengah badannya, memandang Ichigo.
"Tapi sepertinya tidak sepenuhnya salah paham," Chad mengucapkan seraya tersenyum misterius kemudian kembali berjalan. Ichigo hanya melongo mendengarnya.
"Ha? Apa maksudnya?" gumam Ichigo, namun toh ia tidak terlalu memikirkannya. Ichigo memilih tidur, mengistirahatkan dirinya.
"HAH?! KAU LAGI?!"
Ichigo membuka matanya. Ia langsung terkejut begitu melihat Rukia sudah berdiri di depannya.
"Hei, bukannya aku yang harus bicara begitu? Apa yang kau lakukan disini?" Ichigo hanya menatap Rukia dingin. Yang ditatap hanya mendengus kemudian duduk dihadapannya.
"Bukan urusanmu! Memangnya kau yang punya kebun ini?" tanya Rukia dengan nada sarkastik.
"Bukan, tapi melihatmu membuatku muak. Jadi sebaiknya menjauh dari hadapanku!" Rukia cuma terdiam.
"Tolong jangan ganggu aku! Aku mau menyendiri. Kalau kau tidak menggangguku, aku tak akan mengganggumu," ujarnya serius. Ia membalikkan tubuhnya hingga Ichigo hanya dapat melihat punggungnya. Rukia memeluk kedua lutuutnya sambil menjatuhkan kepala diantara kedua lututnya. Anehnya, Ichigo tak dapat membalasnya. Akhirnya ia memilih mencuekkan Rukia, dan ia kembali memejamkan mata.
Tak berapa lama Ichigo mendengar sesenggukan tangis Rukia. Ichigo menoleh, bingung. Ia menghampiri Rukia, tapi ia tak dapat melihat wajah Rukia karena terhalang rambut hitam Rukia.
"Tidak usah pedulikan aku," jawabnya pendek.
Ichigo semakin bingung. Apa yang harus dilakukan seorang pria ketika seorang gadis menangis di hadapannya?
"Cih, tidak usah peduli bagaimana? Ayo ikut aku!" dengan cepat Ichigo menarik tangan Rukia dan membawanya pergi dari kebun belakang sekolah.
"Eh, apa yang kau lakukan? Mau kemana kita? Lepaskan aku!" Rukia berusaha melepas cengkaraman Ichigo, namun sia-sia. Tenaga Ichigo lebih kuat. Akhirnya, Rukia hanya pasrah. Akhirnya setelah mereka berjalan agak jauh dari sekoah, Ichigo melepaskan cengkeramannya.
"Sebenarnya apa rencanamu?" tanya Rukia dingin dengan tatapan waspada. Ichigo hanya berjalan malas sambil menyilangkan kedua tangan dibelakang lehernya.
"Membawamu jalan-jalan. Sepertinya kau butuh hal itu," Ichigo menjawab seperlunya. Rukia terperangah, tidak menyangka kalau Ichigo seperhatian begini.
"Aku kesal mendengar suara tangismu. Berisik, tahu! Kalau jalan-jalan begini, 'kan aku tak perlu mendengar tangis sumbangmu itu!"
Rukia merengut. Ternyata itu alasan sebenarnya.
"Eh, ayo kesana!" ajak Ichigo kemudian. Rukia menyusulnya. Ternyata Ichigo menghampiri sebuah mesin pencapit boneka berwarna merah, yang di pajang di dekat toko musik.
"Coba, kau pilih mau boneka yang mana?" tanya Ichigo sambil menggosok-gosokkan kedua tangan. Rukia menatapnya sekilas kemudian menunjuk sebuah boneka yang menarik hatinya.
"Umm..boneka kelinci di sebelah sana. Tapi apa kau bisa mengambilnya?" Rukia memandang Ichigo tak percaya karena boneka kelinci yang ditunjuknya berada di antara dua boneka lain yang menutupi tubuhnya. Terlihat mustahil untuk mendapatkannya. Ichigo hanya memberikan seringai percaya diri. Ia memasukkan sebuah koin dan segera mengambil boneka yang dimaksud Rukia. Gagal.
Ichigo mencoba untuk yang kedua kalinya, namun hasilnya sama saja. Gagal. Ketiga, gagal dan keempat setali tiga uang. Ichigo terlihat emosi saat memasukkan koin kelima, tapi keburu dicegah Rukia.
"Sudahlah, jeruk. Kalau kau memang tidak bisa, jangan dipaksakan. Hadapi kenyataan," ejek Rukia dengan senyum jahilnya. Hal itu membuat Ichigo tambah emosi. Dengan agak brutal, ia menekan tombol, namun…GAGAL!!
"Tuh, 'kan sudah kubilang. Kau ngotot, sih!" Rukia melipat kedua tangannya sambil tetap dengan tawa mengejeknya.
PRANG!!
Rukia langsung melongo begitu melihat tindakan Ichigo yang tak diduga. Ichigo memecahkan kaca mesin pencapit boneka!
"Ayo, kabur!" setelah mengambil boneka kelinci yang diinginkan Rukia, Ichigo bergegas menggandeng tangan Rukia dan kabur dari TKP. Dua orang satpam yang kebetulan ada disana mengejar Ichigo dan Rukia. Selama beberapa menit mereka terus berlari hingga akhirnya mereka berhasil lolos.
"Hah…hah…kau ini…memang keterlaluan!" gerutu Rukia yang masih terengah-engah.
"Hehe…tapi menyenangkan juga, kan? Hah..hah.." Rukia tak menampik hal itu. Walaupun menegangkan, tapi cukup menyenangkan juga. Jarang-jarang ia melakukan hal bodoh seperti ini.
"Oh, ya, ini bonekanya," Ichigo melempar boneka itu dan segera ditangkap Rukia sebelum mencapai tanah. Rukia memasukkan boneka sebesar anak kucing itu ke dalam saku seragamnya. Mereka kembali berjalan tanpa tujuan. Sesekali Rukia mencuci matanya, memandang kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya. Ia juga melihat kerumunan orang-orang yang menginjak trotoar yang sama dengannya.
"Kau tidak takut ditangkap polisi?" tanya Rukia membuka perbincangan yang tadi sempat terputus. Ichigo yang berjalan dengan santainya menoleh malas.
"Hn? Oh, maksudmu itu. Tenang saja, yang punya mesin itu perusahaan teman ayahku. Jika dia tahu kalau aku yang merusaknya, dia tidak akan minta ganti rugi. Santai!" jawab Ichigo dengan tenangnya. Rukia hanya mengangguk.
"Wah, indahnya!" seru Rukia takjub begitu mereka melewati jalan kecil yang di tepinya berjejer pohon Sakura yang berbunga dengan lebatnya. Di pinggir mereka kini tidak ada jalan raya lagi, melainkan sebuah sungai kecil berisi air jernih.
"Biasa saja. Kau ini seperti tak pernah melihat bunga Sakura saja!" ejek Ichigo dengan tawa menyebalkannya. Rukia diam saja, tidak membalas ejekan Ichigo. Ia membiarkan sebuah kelopak bunga Sakura mendarat mulus di antara kedua telapak tangan yang dikatupkannya. Rukia memandang dengan lembut.
"Cantik," desahnya pelan. Bunga Sakura mengingatkannya pada kejadian masa lalu. Masa lalu bersama orang yang disayanginya. Hisana dan Kaien. Dua orang yang sangat menyukai indahnya Sakura.
"Melihat Sakura membuat jiwaku merasa tenang. Apa kau bisa mendengarkan alunan lagu yang dilantunkan angin bersama bunga Sakura?"
Rukia masih teringat ucapan Hisana waktu itu. Hisana, gadis berambut hitam dengan rupa tak jauh beda dari dirinya mendongakkan kepalanya, memandang bunga Sakura yang masih berkumpul bersama dalam satu pohon. Dibiarkannya kelopak-kelopak bunga Sakura menyentuh wajahnya yang lembut. Sentuhan itu, mungkin membuatnya merasa tenang.
"Aku tidak tahu kenapa menyukai bunga sakura. Apa karena warnanya yang merah muda, ya?"
Rukia juga mengingat ucapan Kaien saat mereka berdua melihat festival bunga Sakura. Rukia terkekeh mendengar ucapan pemuda itu. Dipikirnya, alasan yang terlalu simpel dan tak terlalu masuk akal untuk dikatakan seorang pria.
"Kau menyukai bunga Sakura?" pertanyaan Ichigo membuat Rukia tersentak, tersadar dari lamunannya. Rukia mengangguk lemah.
"Bunga Sakura, mengingatkanku pada orang yang aku sayangi. Bunga Sakura, sebagai pengganti jika aku tak bersama orang yang kusayangi lagi," ucapnya lirih seraya menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian, ia melanjutkan kalimatnya.
"Tapi aku suka bunga Sakura. Sangat suka." Rukia mengangkat kepalanya lalu kembali melihat bunga-bunga Sakura yang masih berdiam di atas pohon.
"Aku juga…menyukai bunga Sakura. Entahlah, mungkin karena warnanya yang merah muda?"
Kedua bola mata violet itu melebar. Rukia memandang Ichigo, tidak percaya dengan yang baru diucapkan laki-laki itu.
"Kenapa? Alasan konyol, yah?" Ichigo membalas pandangan Rukia sambil terkekeh, namun kemudian kembali memandang bunga Sakura.
Rukia yang mulanya terperangah, perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyum dan membalas ucapan Ichigo, "Tidak. Sama sekali tidak konyol."
"Nah, acara lihat sakura sudah selesai! Waktunya pergi!" Ichigo menepuk tangannya, kemudian berjalan mendahului Rukia.
"He-hei, kenapa cepat sekali? Aku masih belum puas," Rukia berlari-lari kecil menghampiri Ichigo. Begitu sampai di samping Ichigo, ia kembali berjalan seperti biasa.
"Yah, kalau begitu silahkan menonton sampai malam. Aku pulang saja dan kau bisa pulang sendiri," jawab Ichigo cuek. Rukia melipat kedua tangannya sambil memonyongkan sedikit bibirnya.
"Oke. Lagipula aku tak perlu diantar pulang olehmu!" Rukia membalikkan badannya dan kembali ke tempat tadi. Ichigo cuek-cuek saja. Dia berani bertaruh beberapa detik lagi Rukia akan merubah keputusannya.
"KYAAA!!!" Gedubrak!! Ichigo menoleh ke belakang, melihat apa yang terjadi. Ternyata Rukia jatuh terpeleset! Tepatnya ia jatuh karena terpeleset sebuah kulit pisang yang tergeletak sembarangan di tengah jalan.
"Wah, wah, makanya sudah kubilang, kan?" Ichigo menghampiri Rukia sambil tertawa mengejek. Rukia melihat wajah Ichigo yang tertawa dengan background hujan bunga Sakura.
'Tampan,' bisik Rukia dalam hati. Dirasakan darahnya berdesir dan pompaan jantungnya sedikit lebih kencang.
"Hei? Wajahmu merah? Kenapa? Kau demam? Aku baru tahu terpeleset membuatmu sakit demam," kata Ichigo dengan polosnya. Rukia yang sudah sadar menundukkan kepala sambil memegang mata kaki kanannya.
"Sakiiiiiittt!!!" begitu Rukia mengangkat kepalanya, air mata suudah mengucur deras di kedua pelupuk matanya. Ichigo yang melihatnya langsung panik.
"Eh, ka-kau tidak apa-apa, kan? Apanya yang sakit?"
Rukia menunjuk mata kaki kanannya sambil tetap terisak. Saat Ichigo menyentuh bagian itu, Rukia kembali menangis histeris membuat Ichigo tambah panik.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke klinik terdekat. Kau bisa jalan, kan?" tanya Ichigo. Rukia menggeleng.
"Masih sakit. Aku tidak bisa berdiri bahkan berjalan."
Ichigo menggaruk kepalanya bingung.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Rukia mengangkat kedua tangannya lalu di arahkan pada Ichigo yang berdiri di hadapannya. "Gendong aku."
"E-eh? Menggendongmu? Tidak, tidak. Aku tidak mau berjalan sambil membawa beban berat!" tolak Ichigo sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Ya sudah, kalau begitu tinggalkan saja aku disini. Sana, kau pergi saja!" Rukia membuang muka kesal. Ichigo bingung. Ia menggaruk kepalanya, menggerutu sendiri hingga akhirnya ia menghela napas.
"Oke, oke, naiklah," Ichigo lalu jongkok di hadapan Rukia, menyuruh Rukia menghampiri punggungnya. Rukia yang melihatnya tersenyum licik.
"Uh, beratnya!" keluh Ichigo saat menggendong tubuh Rukia.
"Jangan berlebihan, beratku hanya 43!" jawab Rukia galak. Kedua tangannya melingkari leher Ichigo. Ichigo juga dapat menyentuh betis putih Rukia yang telanjang karena Rukia memakai rok sekolah yang panjangnya di atas lutut.
Tak lama mereka berjalan, kedua lubang hidung Ichigo menangkap aroma bunga lavender yang berasal dari dalam tubuh gadis yang digendongnya.
"Harum," gumamnya tanpa sadar.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Rukia karena Ichigo mengucapkan dengan pelan. Buru-buru Ichigo menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Huh, kau ini memang aneh!" gerutu Rukia.
"Kau juga aneh!" balas Ichigo sengit.
"Kau yang aneh!" Rukia tak mau kalah.
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Ka-"
Kruukk…kedua perut mereka berdendang bersamaan. Seketika, wajah mereka memerah. Ichigo baru sadar kalau ia belum makan siang, begitu pun Rukia yang hanya memakan sebungkus roti.
"Kita makan siang, yuk!" ajak Rukia.
"Tapi bayar sendiri-sendiri, yah!" ujar Ichigo perhitungan. Rukia membalasnya dengan bentakan.
"Kau kan yang mengajakku tadi! Aku tidak bawa uang."
Ichigo menghela napas, "Okeeee. Memang ini kan tujuanmu. Ditraktir."
Lagi-lagi senyum licik terlukis di wajah manis Rukia. Mereka lalu memasuki sebuah café kecil yang dalamnya dihiasi ornamen-ornamen jepang. Pohon Bonsai yang di taruh di setiap meja, wallpaper dinding dengan motif bunga Sakura dan Background berwarna coklat tua, serta jendela berukuran tubuh manusia normal yang rajin dibersihkan hingga para pengunjung dapat melihat suasana diluar café. Ichigo dan Rukia memilih duduk di samping jendela. Kursi coklat yang terbuat dari kayu jati langsung diduduki mereka.
"Selamat siang, mau pesan apa?" tanya si gadis waitress ramah. Sebuah pena putih dan notes kecil dipegangnya. Ichigo dan Rukia sibuk mencari menu yang diinginkan. Sambil menunggu, si gadis waitress memandang Ichigo dan Rukia secara bergantian. Saat ia melihat Ichigo yang masuk ke dalam café sambil menggendong Rukia, membuatnya menerka-nerka apakah mereka berdua adalah sepasang kekasih?
"Aku pesan sushi porsi jumbo dan orange jus," kata Rukia. Si gadis waitrees segera mencatat pesanan Rukia pada notes yang dari tadi dibawanya.
"Dan anda, tuan?" si gadis waitress mengalihkan pandangannya pada Ichigo.
"Air putih satu botol," jawab Ichigo akhirnya. Si gadis waitress dan Rukia mengerutkan kening.
"Makanannya?" si gadis waitress mengingatkan. Siapa tahu Ichigo lupa. Tapi Ichigo menggelengkan kepalanya yakin.
"Tidak ada."
"Baiklah," setelah itu si gadis waitress meninggalkan mereka berdua. Rambut lurus coklatnya yang diikat ke belakang bergoyang mengikuti irama berjalannya.
"Hei, kenapa tidak memesan makanan? Kau tidak lapar?" tanya Rukia penasaran.
"Aku lagi malas makan, hanya merasa haus," jawab Ichigo.
"Huh, Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu!" gerutu Rukia kesal.
'Bagaimana mungkin aku bilang kalau uangku hanya mampu membayar sushi dan orange jus yang kau pesan? Uangku hanya 1000 yen, tahu!' keluh Ichigo dalam hati. Saat melihat menu, Ichigo tahu kalau harga Sushi 500 yen dan harga orange jus 250 yen. Sisanya tentu saja hanya mampu membeli sebotol air putih dan ongkos pulang.
Beberapa menit berlalu dan datanglah pesanan mereka berdua. Yang mengantar masih tetap waitress tadi.
"Silahkan dinikmati," kata si gadis waitress sambil tersenyum. Setelah mereka berdua mengucapkan terima kasih, si gadis waitress meninggalkan mereka. Rukia memakan sushinya dengan lahap sementara Ichigo hanya dapat menikmati hambarnya air putih. Tanpa sadar Ichigo menganga saat melihat Rukia memasukkan sebuah sushi dengan kedua sumpit.
"Kau mau?" tawar Rukia sweatdrop begitu melihat ekspresi yang dikeluarkan Ichigo; kedua mata yang melebar berbinar dan air liur yang sedikit menetes. Anak kecil pun tahu apa arti dari ekspresi itu. Sadar dengan ucapan Rukia, Ichigo menjawab dengan wajah yang kembali normal.
"Tidak usah! Aku tidak lapar!" kata Ichigo jual mahal seraya mengalihkan pandangan keluar jendela.
"Jangan jual mahal begitu, jujur saja!"
"Sudah jangan cerewet! Makan saja makana-" Hap! Dengan cepat Rukia memasukkan sebuah sushi ke dalam mulut Ichigo.
"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Rukia sambil tersenyum. Ia masih mencondongkan badannya sehingga sebagaian tubuhnya dekat dengan Ichigo.
"Tidak enak!" jawabnya pendek. Wajahnya masih memandang keluar jendela. Padahal dalam hatinya ia berteriak histeris kalau rasa sushi itu sangat enak!!!
"Tapi kau masih tetap mengunyahnya?" Rukia melihat Ichigo masih mengunyah sushi yang tadi diberikannya. Malah sepertinya, Ichigo sengaja mengunyahnya lama-lama.
"Sudah, sudah, ayo makan!" Rukia memanggil seorang waitress, meminta sepasang sumpit untuk Ichigo.
"Ini," Rukia menyerahkan sumpit itu pada Ichigo, namun Ichigo hanya memandang ragu.
"Sudah, tidak usah ragu!" Rukia menaruh sumpit itu di telapak tangan Ichigo kemudian menyodorkan sushi hingga berada di tengah-tengah mereka. Rukia memakan sebuah sushi lagi lalu memberikan isyarat pada Ichigo untuk memakannya juga. Akhirnya runtuh juga pertahanannya itu. Ichigo makan dengan sangat lahap, bahkan bagian Rukia juga dimakannya!
-
-
"Kenyang sih kenyang. Tapi, kenapa aku masih menggendongmu?" Ichigo bersungut-sungut.
"Kau tahu, kan kakiku masih terasa sakit! Jangan mengeluh terus, ah!" gerutu Rukia.
"Sekarang mau kemana?" tanya Ichigo.
"Terserah, aku tidak tahu daerah sini," jawab Rukia. Tanpa sadar ia mengeratkan kedua tangannya yang melingkari leher Ichigo. Rukia lalu mencium aroma strawberry pada rambut Ichigo.
"Heh, jeruk busuk! Kau pakai shampoo strawberry, ya? Uh, baunya memuakkan!" Rukia memalingkan kepalanya, menjauhi hidungnya dari bau semerbak yang dikeluarkan rambut Ichigo.
"Enak saja! Ini semua ulah kedua adik kembarku! Mereka berdua memang usil!" Ichigo menjawabnya dengan emosi.
"Adik kembar? Jadi kau punya dua adik, ya?"
"Yah, mereka berdua perempuan. Yang satu namanya Yuzu, dia jadi ibu rumah tangga setelah ibu kami meninggal. Yuzu juga seorang gadis yang lembut dan baik, berbeda dengan Karin, dia gadis tomboy dan cuek. Hobinya cuma main bola," Ichigo menjelaskan panjang lebar. Rukia menyimak baik-baik. Rukia berpikir, padahal punya adik perempuan tapi kenapa tak bisa berbuat baik pada perempuan?
"Eh, eh, Ichigo. Lihat! Ada dompet jatuh!" seru Rukia.
"Mana? Mana?" Ichigo mencari dompet yang dimaksud Rukia, tapi mungkin karena matanya sedikit rabun *dihajar Author FC*, ia tak dapat menemukannya.
"Dasar rabun! Kalau begitu turunkan aku."
"Eh? Memang kakimu sudah tidak sakit lagi?" tanya Ichigo heran namun tetap menurunkan Rukia.
"Tidak. Lebih tepatnya tidak pernah sakit! Aku cuma mengelabuimu," jawab Rukia tanpa rasa bersalah, tak merasakan death glare yang dipancarkan Ichigo. Rukia lalu mengambil dompet kulit berwarna hitam yang tergeletak di depan taman Karakura.
"Dia…" kedua bola mata Rukia membulat sempurna begitu melihat foto pemilik dompet tersebut. Sementara itu Ichigo masih kesal, merasa dirinya sebodoh keledai karena berhasil dikelabui seorang gadis.
"HEH, PENDEK! BERANINYA KAU MENIPUKU! KAU INI-"
"Jadi kau menemukan dompetku?"
Serentak Ichigo dan Rukia menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki tinggi berambut hitam menghampiri mereka sambil tersenyum manis kemudian mengambil dompetnya yang dipegang Rukia.
"Terima kasih!"
Rukia tak membalasnya, malah ia mundur beberapa langkah menjauhi laki-laki itu. Ichigo yang melihatnya heran. Heran karena melihat sikap aneh Rukia dan heran karena melihat wajah yang sangat mirip dengannya!!!
"A…I,iya. Kalau begitu sampai jumpa!" buru-buru Rukia membalikkan badan, namun tangan kekar laki-laki itu menahan tangannya.
"Kau masih ingat aku…Rukia?"
Rukia tak menjawab, ia masih tak sanggup menatap wajah itu. Ichigo yang melihat hal itu akhirnya angkat bicara. Ia memegang tangan laki-laki itu yang juga memegang tangan Rukia.
"Hei, aku tidak tahu masalah kalian, tapi sebaiknya kau lepas cengkeramanmu. Sepertinya gadis ini tak menyukainya," jawab Ichigo dingin. Ia menatap wajah laki-laki itu tajam.
"Hoo...jadi kau melindunginya? Memang kau siapanya? Kekasihnya?" balas laki-laki itu tak kalah dingin. Ia membalas tatapan tajam Ichigo.
"Sudah, hentikan, Kaien," Rukia menepis tangannya yang tadi digenggam laki-laki bernama Kaien itu. Ichigo yang mendengarnya terkejut. Kaien? Mantan kekasih Rukia? Err…atau masih kekasihnya?
"Jeruk, kau tetaplah disini. Aku dan Kaien mau bicara empat mata," kata Rukia. Belum sempat Ichigo menjawab, mereka berdua pergi menjauh dan akhirnya duduk di kursi taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya, namun setidaknya Ichigo tak dapat menguping apa yang sedang mereka bicarakan.
Ichigo melihat mereka berdua dengan tatapan emosi. Ia merasa tak terima Rukia mendekati laki-laki yang sudah menyakiti perasaannya. Kenapa Rukia masih bersikap baik pada laki-laki itu? Kenapa tidak langsung ditendang saja? Atau dibunuh? Ichigo terus mengawasi mereka dengan serius, hingga akhirnya…
'Ke-kenapa Rukia memegang tangan laki-laki itu? Whuaa…sekarang dia malah memeluknya! Kenapa…kenapa Rukia melakukan hal itu?! Gyaaa…sekarang malah laki-laki itu yang mengelus pipi Rukia. Brengsek! Dasar brengsek!' dalam hati Ichigo terus menggerutu dengan hebohnya ketika melihat yang dilakukan Rukia dan Kaien. Yang jelas Ichigo merasa kesal! Sangat kesal! Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa menunggu sampai pembicaraan mereka selesai. Dan, yak! Akhirnya selesai juga!
Ichigo bangkit dari balkon taman. Ia lalu memandang Rukia dan Kaien, menunggu mereka mengatakan sesuatu.
"Kami sudah selesai," kata Rukia lirih seraya menundukkan kepalanya. Ichigo memandang Rukia sebentar kemudian memandang Kaien.
"Tolong jaga Rukia, ya!" ujar Kaien pada Ichigo.
"Apa maksudmu?"
"Karena aku sudah tak pantas untuk mendampinginya. Jadi-"
BUUUKK!!! Sebuah tinju melayang di pipi kiri Kaien hingga ia tersungkur mencium tanah.
"JADI, SETELAH KAU MELUKAI RUKIA, KAU MAU MENINGGALKANNYA LAGI?! KAU MEMANG TIDAK PUNYA OTAK! BODOH!" Ichigo mencengkeram kerah baju Kaien kemudian kembali meninjunya.
"Jeruk, hentikan!" cegah Rukia sambil berdiri di depan Kaien, melindungi Kaien dari serangan Ichigo. "Tak perlu lakukan hal bodoh!" lanjutnya lagi.
"Apa maksudmu, Rukia? Justru dia pantas dihajar! Dia sudah mencampakkanmu, meninggalkanmu! Kau selalu menunggunya kembali, setiap detik, setiap menit. Tapi apa yang dia lakukan? Dia malah berniat meninggalkanmu la-"
PLAAKK!! Sebuah tamparan kini melayang ke pipi Ichigo, berhasil membuat Ichigo menghentikan kalimatnya. Suasana hening beberapa saat.
"Dia tidak salah," ucap Rukia lagi. Wajahnya kini dipenuhi oleh air mata yang dikeluarkannya. Ichigo terperangah sebentar kemudian menghela napas.
"Kau sudah dibutakan oleh cinta, pendek. Makanya aku benci jatuh cinta," jawab Ichigo dengan suara beratnya. Ia lalu pergi meninggalkan Rukia dan Kaien.
"Kau mau kemana?" tanya Rukia.
"Saat ini aku yang salah, bukan? Karena itu aku akan pergi, supaya tidak terjadi salah paham lagi," katanya lirih sambil tetap berjalan. Rukia menggelengkan kepalanya.
"KAU TIDAK SALAH, JERUK! AKU YANG SALAH!" teriaknya. Namun Ichigo tetap berjalan. Tak peduli dengan teriakan Rukia, tidak peduli dengan tangis Rukia. Yang ia rasakan hanya sakit hati. Sakit hati karena merasa disalahkan!
TBC
Author: Wah, lebih panjang dari chapter sebelumnya! Apakah terlalu panjang? Yak, sekarang waktunya balas review. Banyak terima kasih, ya!
Ruki-ya
Bener, untung ada Chad yang baik. Jangan lupa ada Ichigo juga! Singkirkan Kaien!
Aika Umezawa
Gak tahu, takdir kali Orihime ada disitu. Tapi emang dasar Orihime GR! Lupakan Ichigo dan beralihlah pada Ishida, Hime! Whahaha…
Kuchiki Rukia_taichou
Bukan Rukia jadi Inoue, tapi waktu Rukia kabur diem-diem and Ichigo nyatain cinta, pucuk dicinta ulam pun tak tiba malah Orihime yang denger! Ichigo sih, nyatain cinta tapi membelakangi Rukia, jadi gak tahu kan siapa yang ditembak? Ichihime cuma dikit kok, cuz saia juga bukan pecinta Ichihime tapi ICHIRUKI! Tenang aja, IchiHime gak bertahan lama kok.
Ichikawa Ami
Hehe…sayangnya Ichigo jadian sama Inoue. Ludah di lantai? Biarkan saja Inoue yang ngelap, hehe..Tapi tenang aja, hubungan mereka cuma beberapa paragraph kok! Selebihnya ICHIRUKI! Ceritanya Hitsu lebih muda setahun dari Ichigo (15 tahun), tapi karena rambutnya putih, Ichigo kira dia udah mbah-mbah. Yupz! Mikonya tentu Momo-chan gak mungkin Rangiku, ntar kuilnya malah berubah fungsi, deh! hohoho..
Edogawa Luffy
Wah, hafal mantranya? Wahahaha…bagus dong! *?* baca saja ketika sedang menghadapi ujian, pasti hasilnya sama aja! Hehehe…Hitsugaya emang cocok jadi pendeta.
YohNa-nyu-
Woi…kenapa saia dilemparin batu? *ngambil senjata Ichigo terus di tebas ketubuh Na-chan, lho gak mempan? Si author tepuk tangan gaje*
Ichigo emang harus kebayang-bayang Rukia. Kalo Na-chan? Ichigo gak tahu wujud Na-chan *author juga gak tahu*, mungkin minta mantra Ishida dulu, ya, baru Ichigo bisa ngebayangin wajah Na-chan, hehe..
Meong
Ichi emang salah tembak, saia juga kesel! *lha, padahal dia yang ngarang*. Tapi Orihime cuma bumbu aja, kok! Ichigo jodohnya sama Rukia.
Himeka Walker
Hitsugaya emang cocok jadi mbah-mbah *dihajar Hitsugaya FC*, mbah-mbah imut, kok! IchiHime Cuma satu chapter gak penuh jadi kalo dikatakan IchiHime sepertinya hanya slight tapi OTP pairing hanya ICHIRUKI!
Jess kuchiki
Kaien nasib buruk, tapi setelah kemunculan Ichigo nasibnya tambah buruk! *ditendang Ichigo*, iya, kemunculan Ichigo penyelamat bagi Rukia. Ichigo emang agak baka! Tapi dia tetep keren!!
Namie Amalia
Namanya juga karma. Banyak ujian yang akan dialami Ichigo untuk mendapatkan Rukia, ya salah satu kejadian salah tembak itu. Tapi Ichigo gak gila, kok tapi emang dasarnya Rukia pergi tanpa pamit dan kebetulan Inoue muncul. Disangkanya Ichigo nembak dia! Wahahaha…begitulah Orihime yang polos sampai-sampai Ichigo gak tega buat terus terang!
Rukiahinata
Bahasa Jawa? Wah, maaf kalau begitu saia gak sengaja. Mungkin karena saia tinggal di pulau jawa makanya tanpa sadar saia menggunakan bahasa jawa (kecuali mantra Ishida). Makasih koreksinya, ya! Jika berkenan maukah mengoreksi fic saia lagi? Hehehe…
Sorayuki Nichan
Gyaaa…Rukia bukan untuk dipukuli tapi dilindungi! Tapi Rukia emang terlalu sayang, makanya Ichigo bilang ," Rukia dibutakan oleh cinta."
Agehanami-chan
Gak apa-apa, walaupun telat saia senang karena reviewnya tambah *Author PD!* ampuh, lho! Haha...Ishida emang sakti. Siapa dulu gurunya, Hitsugaya! Saia juga terancam HIATUS gara-gara tugas sekolah. Huwaa…menyebalkan! Ichigo emang harus nembak Rukia! Tapi masih terhalang ujian karma!
Mayonakano Shadow Girl
Gak apa-apa telat, saia gak bakal ambil pisau kok! *buat motong sayur maksudnya, hehe..* Yupz! Karma sudah mulai berlaku, siap-siap saja kau Ichigo! Huwahahaha…
Makasih sekali lagi buat yang review, review juga chap ini, ya! Last, Arigatou Gozhaimas…
