Disclaimer : Takeshi Obata-Tsugumi Ooba

A/N : wah lupa ya belum apdet yang ini. Gaya bahasa lama saya dulu kayak gini. Ancur banget *jadi nostalgia*

Ada perubahan judul disini :p

moga bisa terima ama endingnya XD

Peace v.v

Mello's Boyfriend

~final chapter~

Hari ini sudah genap seminggu si Matt kagak masuk sekolah. Si Maknya udah mau bawa Matt ke dukun beranak biar cepet sembuh.

"Nape kagak dukun sunat sekalian aja mak?" seru si Matt. Mukanya langsung cemberut.

"Dukun sunat mahal nak. Murahan juga dukun beranak." Bales maknya. Matt langsung ja kejang-kejang dengernya.

Daripada dia di bawa ke dukun beranak beneran, akhirnya Matt maksain dirinya masuk sekolah hari ini. Walau aslinya badannya masih lemes banget. Di perjalanan menuju sekolah aja dia sampe pingsan 3 kali and nyaris di cipok truk sampah.

"Ne, Matto-kun!!!" seru Ryuzaki waktu liat makhluk kagak jelas masuk kelas.

"Eh? Matt?" si Raito langsung nyamperin makhluk kagak jelas bermerk "Matt" itu.

"Lu udah sembuh toh?" Tanya Raito yang langsung memapah Matt jalan ke kursinya. *maklum Matt tadi masuk kelas sambil ngesot*

"Gua ga mau jadi korban malprakteknya dukun beranak." Kata Matt. Yang laen Cuma garuk2 kepala ga paham.

"Wew lu kurusan Matt." Ujar c Raito.

"Berat gue turun 15 kilo. Hiks…" ratap Matt sambil nangis darah.

"Buset dah!!! Bagemane carane? Gue dari dulu diet kagak berhasil mulu. Yang ada malah tambah ndut ni gue!" seru c Raito sambil mamerin perutnya yang buncit.

"Najis lo!" seru Matt sambil nendang perut Raito.

"kyaaaaaaaa!!!!" Ryuzaki langsung histeris aja liat yayanknya yang tepar dengan mulut berlumuran darah gara-gara kena tendangan maut si Matt.

"Apaan seh pagi-pagi dah cipok-cipokan di kelas." Gerutu Mello yang baru masuk ke kelas.

"Cipok-cipokan dari jepang hah?!" sero Raito yang mulutnya lagi di bersihin ma Ryuzaki pake lidahnya *masaOlloh o.O*

"Trus ngapaen Ryuzaki kayak gitu?" Tanya Mello rada jijay.

Mello langsung menuju ke kursinya. Mules perutnya ngeliat ke dua temennya yang rada sarap itu.

"Lo punya mata ga seh? Yayank gue lagi bersihin darah di mulut gue gara-gara kebiadaban Matt tuh!!" protes c Raito.

"Matt??" Mello nampaknya baru ja sadar kalau di situ juga ada Matt.

"Udah bersih nuih yank." Kata Ryuzaki manja.

"Oh makasih ya ." Raito ma Ryuzaki langsung ja saling berkisu-kisu ria.

Baiklah kita tinggalkan kedua pasangan sarap ini dulu.

"Udah sembuh Matt?" Tanya c Mello. Dia nyamperin Matt di bangkunya.

Matt ngangguk kecil.

"Hmm bagus dah kalo dah sembuh." Mello garuk-garuk palanya. Bingung mo bersikap kayak gimana ke Matt.

"Mell."

"Ya?"

"Gimana sama Mikami?"

"Baik."

"Oh"

"Kenapa? Cemburu ya?hehe.."

"Iya."

Blush! Muka Mello langsung merah. Dia panik denger jawaban Matt. Bisa-bisanya Matt terang-terangan bilang kayak gitu. Masalahnya ini 'Matt' gitu loh. Ga biasanya dia nampakin perasaannya yang sebenarnya.

"Apa orang yang habis sakit kepribadiannya bisa berubah ya?" pikir Mello.

TING TONG

Bel tanda masuk berbunyi. Seketika itu juga kelas jadi hening seketika.

"Istirahat nanti gua mau ngomong Matt." Bisik Mello sebelum kembali ke bangkunya.

***

Matt and Mello lagi ada di atap sekolah sekarang. Sengaja nyepi berdua biar ga di ganggu ma pasangan lebai bin mesum Raito and Ryuzaki. Matt jongkok sambil nyandarin punggungnya ke tembok *maklum dia ga kuat berdiri lama-lama*. Sedang c Mello berdiri di pinggir pager pembatas sambil liat-liat pemandangan di bawah. Tapi lama-lama dia jadi merinding sendiri liat bawah. Takut ngebayangin dirinya jatoh nyungsep dari atap. Akhirnya tu anak ikutan jongkok di sebelah Matt. Sekalian berteduh biar kulitnya ga gosong.

"Kok tumben lu ga maen PSP Matt?" Tanya Mello basa-basi.

"Lu juga kagak makan coklat kesayangan lu Mell?" balas Matt.

"Ga nafsu gue Matt." Kata Mello.

"Kenapa?" Tanya Matt penasaran. Tumben banget c Mello bilang ga nafsu ma coklat, pikir Matt.

"Ada deh…" goda Mello. Matt tersenyum kecil

Akhirnya ni anak berdua cuma saling senyam-senyum doank. *ingat durasi oi!*

Tiba2 Matt ngeliat item-item jalan kearah mereka. "eh, tikus." Seru Matt. Si Mello langsung ja histeris. Ni cowok paling takut ama tikus. Gara-gara waktu kecil si doi pernah di cipok ama tikus.

Mello refleks meluk si Matt, bikin si Matt kehilangan keseimbangan yang akhirnya ngebuat mereka berdua jatuh dengan posisi… 69? Bukan-bukan, dengan posisi Matt di bawah dan Mello di atas tentunya.

Si Mello teriak-teriak kagak jelas mirip orang kesetanan. Matt langsung ja berusaha nenangin temennya ini. Dia ngelempar tu tikus pake sepatunya yang dua tahun kagak pernah di cuci. Alhasil tu tikus mati seketika.

"Udah pergi kok Mell tikusnya." Ujar Matt. Akhirnya si Mello bisa tenang juga.

"Eh, so, sory Matt." Kata Mello waktu dia sadar udah menindih badan Matt dengan ganasnya.

"Ngga papa kok Mells." Kata Matt. 'Jangankan Cuma di tindih Mells, mati di tanganmu pun gue rela Mel…' batin Matt di dalem hatinya. Kumat ni anak lebbainya.

"Gue boleh Tanya ga Matt?" kata Mello setelah dia dan Matt udah kembalike posisi masing-masing.

"Tanya apa?" balas Matt.

"Tapi jawab jujur ya."

"Emanknya apaan?"

"Lu suka ma gue?"

Deg! Jantung Matt berdetak kencang. "Iya." Jawab Matt pelan. Mukanya merah padam kayak tomat busuk sekarang.

"Apa yang lo suka dari gue?"

"Semuanya."

Mello takjub denger ucapan Matt.

"Semuanya?"

Matt ngangguk kecil.

"Termasuk gue yang suka marah-marah?"

Matt ngangguk lagi.

"Yang suka bentak-bentak lu?"

Matt ngangguk juga.

"Yang suka nyuruh-nyuruh lu, suka manfaatin lu, suka bohongin lu tapi lunya ngga nyadar, suka ngefitnah lu, suka nyolong pe-er lu jadinya lu yang di hukum ma guru, suka ngepet uang saku lu, suka gosipin lu ada main ma pak jenggot, suka ngerekam lu waktu boker trus gua masukin youtube, suka…."

"Stop Mell!" Matt nutup mulut Mello pake tangannya. "Ngga usah dilanjutin Mell." Pinta Matt sambil nangis darah.

"Sekarang lu masih suka ma gue?" Tanya Mello serius.

Matt nundukin mukanya.

"Yes I am." Kata Matt.

"Gue dah jahat ke lu selama ini Matt."

"I don't care…" tiba-tiba ja mata Matt pedes banget. Padahal dia lagi ga makan cabe.

"Walau gue dah punya cowok?"

Matt ngangguk. Dia dah ga bisa nahan air matanya lagi. Mukanya langsung ja banjir air mata. Hujan badai ja kalah deres ma air mata dia.

"Maafin gue ya Matt…."

Tangisan Matt langsung ja makin keras. Dia gelengin kepalanya. Dadanya rasanya sakit banget. Bener-bener sakit. Rasanya nyesek banget. Mello menggenggam tangan Matt. Dan tangis Matt makin menjadi-jadi.

Mello menatap Matt dengan pandangan mata yang amat sedih. Dan mau ga mau dia jadi kepingin nangis juga. Mello langsung menghapus air mata pertamanya. Tapi akhirnya dia ga kuat juga dan menbiarkan saja tetesan-tetesan air keluar dari matanya. Mello menangis tanpa suara di sebelah Matt yang udah menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Mello telah menolak Matt. Dia telah menyakiti perasaan sahabatnya itu. Namun bagi Mello itulah yang terbaik bagi Matt. Saat ini Mello telah memiliki Teru. Dia ngga mau memberi Matt harapan kosong.

"Gue suka ma lu Mell…" ujar Matt di sela-sela tangisnya. "Gue suka banget ma lu.. suka…"

"Maafin gue Matt." Mello udah ngga kuat lagi. Dia segera berdiri dan lari sana. Ninggalin Matt yang manggil-manggil namanya sendirian di atap. Mello berlari masuk ke kelasnya. Dia langsung ja naruh kepalanya di mejanya sambil nangis dengan muka yang disembunyiin ma tangannya.

Otomatis Raito ma Ryuzaki yang lagi bercumbu di pojok kelas langsung nyamperin dia.

"Kenapa lu Mell!!!" Tanya Raito.

"Mello-chan ada apa? Kenapa nangis?" tambah Ryuzaki.

Mello diam. Dia masih aja nangis.

"Mana Matt?" Tanya Raito yang sadar kalau Matt ga bersama Mello. Tangis Mello malah makin keras.

Raito kalap. Dia paham sekarang yang terjadi.

"Lu nolak Matt??!!!!!" bentak Raito. Tangis Mello makin keras.

"Lu tega Mell??!!!" Raito ngangkat pundak Mello and narik kerah bajunya.

"Raito-kun jangan kasar sama Mello-chan!" protes Ryuzaki. Dia nyingkirin tangan Raito dari Mello dan langsung meluk Mello. Mello nangis di pelukan Ryuzaki.

Raito memejamkan matanya. Mencoba nenangin dirinya sendiri.

"Mana Matt sekarang?" Tanya Raito kemudian.


Di atap Matt masih sedikit sesenggukan. Dia memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan mukanya di antara kedua lututnya. Matt denger seseorang naik keatap. Berharap dalam hati kecilnya kalau itu Mello. Tapi harapannya sirna saat orang itu bicara.

"Matt." Panggil Raito pelan.

Matt mendongakkan mukanya menatap Raito, sahabatnya karibnya sejak kecil itu.

"Gue di tolak..." Kata Matt lirih.

Raito duduk disebelah Matt tanpa komentar apa-apa. Menemani temannya yang nglanjutin nangisnya itu.

Raito mengelus-ngelus rambut Matt dengan penuh kasih sayang. "Relain ya…" kata Raito. "Cinta ga harus memiliki Matt…"

Matt nyingkirin tangan Raito dari kepalanya. Matt menghapus air mata dari wajahnya.

"Liat muka lo air mati gue jadi ilpil and ga mau turun lagi." Kata Matt.

"Sialan lo!" Raito tertawa kecil sambil menatap Matt. "Mata lo bengkak banget tuh. Ha ha…"

Matt tersenyum. dia menatap langit di depannya. Langit yang begitu cerah dan biru.

"Apapun yang terjadi ma gue, langit akan tetap seperti itu. Begitu cerah. Seakan tak peduli akan perasaan gue. Entah sedih, kecewa, bahkan andai gue matipun, langit akan tetap menunjukan kecerahannya seakan tak terjadi apa-apa." Ujar Matt sambil tersenyum nanar, meratapi nasibnya sendiri.

Raito menggelangkan kepalanya. "Hum bukan begitu…." Bantah Raito. "Langit akan tetap cerah. Seperti apapun perasaan lu. Karena.. langit ingin menghibur hati loe… seberapa sakit yang loe rasain, seberapa perih sakitmu, langit akan terus cerah untuk terus menyemangatimu. Dari atas, langit selalu memperhatikan loe Matt. Seperti gue yang akan selalu ada buat loe."

Matt menatap wajah Raito yang sedang memandangi langit. Dia tersenyum. dalam hati dia mengiyakan ucapan Raito.

"Raito." Ujar Matt.

"Ya?"

"Hari ini temani gue bolos ya."

"Siip!" Raito mengacungkan jempolnya kearah Matt. Matt tertawa. Dan Raito juga.

Cinta ga harus memiliki. Itulah pelajaran yang Matt dapat hari ini.

Life must go on. Without or with love…..

"Mau kemana ni?" Tanya c Raito. "maen game di rumah lo?"

"Wah jangan!! Lu kayak ga tau mak gue aja! Gue bisa di panggang idup-idup klo ketahuan bolos!" seru Matt.

"Trus mao bolos kemana neh? Ah gue jadi kangen ma yayank gue."

"Huh! Jangan ngomongin pacar di depan guee!!!!" Seru Matt sambil ngeplak kepala Raito dengan penuh napsu.

"Kampret!!" umpat c Raito sambil ngelus-ngelus kepalanya. "ya sory bro."

Matt ketawa. "Thanks ya Raito." Ujar Matt kemudian.

"Huh, apaan sih." Ujar Raito sambil merangkul bahu Matt.

Dalam hati Matt begitu bersyukur memiliki sahabat seperti Raito.

Untuk satu hari ini Matt hanya mau bersenang-senang, bersenang-senang, dan bersenang-senang….

..::FIN::..

A/N : Gomen para Matty and Mells lovas =.=v *kabur*