Metafora
Author: SheilaLuv, yang kali ini ingin mengeksplorasi Matt setelah sekian lama mengabaikannya.
Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi. Hanya isi cerita dan plot yang menjadi properti pribadi saya.
Warning: Spoiler alert bagi yang belum membaca Death Note Special Oneshot: Page 109.
Terima kasih banyak untuk Claire Lawliet, Yuuaja, Orange Burst, Summer Memory, heylalaa, MichaelChocolate, 963Q-karin, teacupz' dan Etruscan. Saya senang menanggapi bermacam-macam respon dari kalian semua via review reply. Maaf ya update-nya lama, saya sedang tenggelam dalam fandom Hikaru no Go. Adakah di antara kalian yang juga menyukai anime/manga yang unik ini? Tapi, bukan berarti saya melupakan Death Note, kok. Selama masih menikmati nulis di fandom ini, saya gak akan berhenti.
Akhirnya kita sampai juga di tanggal 26 Januari 2010. Mihael Keehl dan Mail Jeevas, semoga kalian menemukan kedamaian di dunia kedua. Di hati kami, kalian tidak pernah mati.
Enjoy!
Those endless joys were ill exchanged for these
Then clear this doubt, and set my mind at ease
-Alexander Pope-
Page 2: Disposition
Menjadi dewasa jauh lebih rumit daripada kedengarannya.
Dahulu, segalanya lebih mudah.
Dahulu, saat usia belum meninggi, kepolosan masih merupakan suatu kewajaran yang diterima. Ketika itu aku dan anak-anak lain masih bebas menafsirkan seperti apa kiranya rupa masa depan. Dengan keyakinan kokoh, kami bertekad akan menaklukkan dunia di bawah kuasa intelejensi. Kami seumpama permata rentan yang terlindung di dalam peti kaca. Terkurung rapat, tapi tidak serta-merta buta terhadap dunia luar. Variasi bentuk kehidupan berlalu-lalang, datang silih berganti, menampilkan siklus abadi dari semesta.
Sesungguhnya, kami pun menantikan hari saat kami sendiri akan terjun langsung untuk merasakan dan bergelut dengan segala rintangan maupun tantangan yang mungkin menghampiri. Bukankah kehidupan adalah permainan cuma-cuma namun berefek masif terhadap yang menjalaninya? Berbagai jalan baru terbentang menunggu di depan, hanya tinggal memilih jalan mana yang akan dilalui. Dalam banyak hal, hidup maupun permainan menyimpan rantai misteri yang berkesinambungan.
Dan kukatakan saja, aku termasuk salah satu pemain sekaligus pelakon yang ahli, terlebih jika aku benar-benar mencurahkan tenagaku.
Kami belajar dan bersaing untuk menjadi nomor satu. Semuanya demi menggapai eksistensi yang kami anggap sebagai puncak kejayaan. Demi menjadi penerus dari detektif terhebat di dunia, memperebutkan titel L. Lelaki brilian penuh daya. Dia terkenal sangat selektif memilih calon penerus, dan tak diragukan lagi pasti telah melahap laporan perkembangan akademis maupun psikologis kami langsung dari para pengajar.
Layaknya kompetitor lain, aku pun pernah mengalami masa-masa di mana aku mengidolakannya sedemikian rupa. Namun, seiring memudarnya masa kecil, aku sampai pada persimpangan jalan: haruskah memercayai L lebih jauh lagi dan mendedikasikan hidupku agar pantas memanggul namanya, ataukah sebaiknya mengambil jarak yang aman di mana aku tidak harus melukai diri sendiri ketika predikat itu ternyata tak seidealis yang kubayangkan?
Dia memberiku jawaban. Meskipun tanpa bertemu mata, hanya disampaikan secara lugas melalui suara.
Beberapa waktu sebelum kasus Kira menjadi alasan massa untuk tenggelam dalam histeria yang mendunia, Roger datang membawa kabar berita tatkala kami sedang bercengkrama di ruang rekreasi. Informasi dadakan itu membuat semua kepala berpaling padanya. Bahkan aku, yang sedang berusaha memutilasi segerombolan monster virtual sebelum makhluk-makhluk itu menggagalkan misi di level terakhir, segera menekan tombol secara acak agar game ini otomatis tertunda. Mello mengalihkan pandangannya dari The Old Man and the Sea, novel Hemingway favoritnya, gesturnya menuntut penjelasan. Anak-anak lain diam menanti, termasuk Near yang berhenti menyusun legonya. Keheningan dipecahkan oleh Mello yang lalu berkata tajam, mengintrogasi,"Kami diberi kesempatan berbicara dengan L?"
Roger mengangguk, meletakkan laptop yang dibawanya di atas meja di tengah ruangan, kemudian mulai mengatur koneksi. Tanpa harus disuruh sama sekali, kami berkumpul di sekelilingnya, sangat antusias akan prospek yang langka ini. Hanya dua orang yang tidak bergeming, tak sedikitpun mengikuti. Mello bangkit, meletakkan buku yang kini tertutup di atas kursi, sebelum bersandar tenang di dinding sembari mengunyah cokelat. Near berada di posisi konstan, berkutat dengan puzzle dan Rubik's Cube di lantai. Acuh tak acuh seperti biasa. Baiklah, itu terserah mereka.
Aku melesat ke depan, mengambil posisi di sisi kanan monitor, sementara Linda dan yang lain memilih duduk atau menyebar di lantai. Terdengar bunyi desis pelan dari speaker hingga akhirnya rentetan kata berkumandang di hadapan para calon penerus yang mulai gelisah menunggu.
"Selamat malam."
Alfabet tunggal 'L' muncul di layar. Hitam, berhiaskan lika-liku berujung tajam, bagai manifestasi sapuan kuas bercat kelam. Keberadaan yang kokoh berdiri, soliter di atas sapuan warna putih yang membentang hingga ke tepi.
Kami membalas, penuh semangat, serentak, "Selamat malam, L."
Arena resmi dibuka. Nalar bertemu nalar untuk saling menyelami, menguak misteri, memuaskan rasa dahaga akan hal-hal yang sukar untuk diketahui.
Jika ada satu hal yang sama-sama kami miliki selain sifat kompetitif yang telah mendarah daging, itu adalah inisiatif untuk memegang kontrol atas situasi tanpa perlu dikomandoi. Maka, kami mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengacungkan tangan, memohon perhatian.
L menyambut, meminta kami menunggu giliran, berjanji bahwa dia akan membalas secara tuntas. Besar kemungkinan animo audiens turut menyemangatinya, karena semakin jauh daya jangkau kami, semakin lugas pula L mengutarakan jawaban. Jantungku berdebar tak tentu. Sebentar lagi giliranku, karena itulah aku sengaja mengumpulkan keberanian sampai atensi L berfokus padaku.
Empat puluh lima menit berlalu dengan celotehan riang dan bisik-bisik sarat kekaguman. Suara bariton magis bertindak sebagai pemicunya. Aku pun sudah tidak sabar. Antusiasmeku membuncah. Segera kulesatkan serangan lewat perantara keingintahuan.
Tadinya aku hanya berniat melempar stimulus dadakan untuk merubah suasana, namun L membalas dengan dentuman yang lebih dahsyat. Singkat kata, dia sungguh tak main-main menghadapiku. Entah aku harus tersanjung atau malah tertohok, karena lelaki ini menjawabnya penuh kejujuran, tanpa manipulasi, meskipun jawaban yang diucapkannya serta-merta meluluhlantakkan ekspektasiku.
"Bukan rasa keadilan yang menjadi motivasi utama saya dalam memecahkan kasus," tuturnya. Lugas, lantang, tanpa selubung. "Memecahkan kasus semata-mata merupakan hobi bagi saya. Jika kalian mengukur perbuatan baik dan jahat berdasarkan hukum, saya seharusnya bertanggung jawab atas banyaknya kriminalitas. Sama seperti kalian yang berhasrat memecahkan misteri dan teka-teki, saya juga menikmatinya sebagai sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Karena itulah saya hanya mau menyelidiki kasus yang menarik perhatian saya. Itu bukanlah keadilan, sama sekali. Saya bisa bermain curang kalau itu artinya kasus dapat dipecahkan. Saya seorang pendusta, penipu yang tidak suka kalah."
Keheningan menggantung di udara. Pekat, berat, membuat sirkulasi udara seolah mampat.
Aku terhenyak. Aku menyukai kejutan, namun respon seperti ini sungguh… di luar perkiraan. Jadi, salahkah asumsiku selama ini? Rupanya moralitas cuma sekedar bumbu tambahan?
Tampaknya yang berpikir demikian bukan aku saja. Beberapa anak lain malah terang-terangan ternganga. Pupil mata mereka pun melebar karena kaget.
"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" desaknya, kembali melempar umpan kepada kerumunan.
Tak ada yang berani membuka mulut lagi. Kemungkinan besar kehilangan nyali.
Aku menolehkan kepala, memandang Mello dan Near yang sedari awal bungkam. Mereka tetap kukuh dalam diam, dua pasang mata menatap monitor dengan intensitas yang tak terjabarkan. Aku sungguh tak mengerti. Permainan macam apa ini? Apakah keduanya sudah bisa melihat arah garis finis, sedangkan kami masih buta, meraba-raba, kalap menduga-duga situasi?
Lagi-lagi, kehendak L jugalah yang menandai awal dan akhir peristiwa.
"Baiklah, jika memang cukup sampai disini…," nadanya rendah, samar terdengar, "… akan saya sudahi."
"Terima kasih atas waktumu, L," kata Roger yang sekarang mengambil alih keadaan. Pasti pria tua itu sudah sadar betapa canggungnya kami. Benar-benar memalukan. Kalau saja aku bisa menemukan respon yang cerdas untuk memugar kerusakan emosional semacam ini.
"Sama-sama, Roger. Pastikan mereka tetap dalam pengawasan," balasnya. Impresi kedigdayaan membalut kata-kata itu, sesuatu yang membuat siapapun yang mendengar mustahil membantah. "Pertahankan prestasi yang telah kalian capai," dia menambahkan kepada kami. "Jaga diri kalian baik-baik. Selamat malam."
Monitor seketika kosong melompong tanpa abjad pengisi.
Kami pergi tidur tak lama sesudahnya, membawa beribu pertanyaan baru yang muncul silih berganti di benak yang sedang terguncang.
Sekarang waktunya malam berkuasa, awan berarak menggerayangi angkasa, memblokir cahaya bulan purnama.
Aku membalikkan badan dengan gelisah di tempat tidur, berkali-kali. Kedua mata masih juga terbuka, nyalang menatap langit-langit kamar. Bayanganku yang sempurna tentang L runtuh, dihempaskan tanpa ampun. Terpaksa kuakui kenyataan pahit, bahwa dia menang telak atasku. Tidak menahan diri, tidak pula berlari berputar-putar, melainkan melontarkan serangan balasan tanpa segan-segan. Jenis pemain dengan keahlian strategi tingkat tinggi. Pantang pandang bulu terhadap lawan, haram menaruh belas kasihan.
Kemampuan L memecahkan segala macam kasus memang sudah kondang. Kejeniusannya melumpuhkan gerak para penantang. Kreativitasnya mendobrak keterbatasan. Keberaniannya menerobos cara-cara konvensional. Singkat kata, dia seorang pemikir revolusioner. Dia mampu menyelesaikan satu problema dengan seribu solusi berbeda. Hanya saja, hal itu melibatkan perpaduan metode dari mulai hitam sampai putih, moralitas yang ambigu, disertai sejumlah injeksi kesenangan. Rumus yang ampuh untuk melenyapkan kejenuhan, namun cenderung memancing prasangka.
L jelaslah memiliki jiwa bebas yang tak terbelenggu prinsip-prinsip hukum ortodoks. Untuk sisi eksentrik yang menawan itu, aku tetap menghargainya sebagai sesosok manusia, meskipun konsep idola itu tak lagi sempurna seutuhnya.
Tanpa bisa kucegah, keraguan perlahan merangkak naik, mengendap di ulu hati. Bukti terkuat dari kepercayaan yang terlanjur tercabik-cabik.
Ironisnya, hal itu dikarenakan perangai sesosok lelaki yang seharusnya menjadi panutan, maestro yang kuanggap mampu merekat mozaik-mozaik mimpi. Realita yang disuguhkannya padaku ternyata hanyalah manifestasi dari watak egosentris pencari kepuasan diri.
Sejak malam itu, kestabilan duniaku telah mutlak terdistorsi.
Author's Note: Disposition jauh lebih sulit daripada Memory. Selain harus beradaptasi lagi dengan karakter L (yang sama sekali bukan hal mudah), saya harus mengadopsi pola pikir Matt (dan anak-anak Wammy's House) yang terkejut bukan main karena kejujuran L yang begitu menohok hati. Pembaca yang sudah membaca page 109 pasti mengerti. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa orang yang kita kagumi ternyata menganut paham yang terkesan menyimpang, apalagi karena kita terbiasa memandang tinggi orang tersebut. Dilema itulah yang kini melanda Matt. Namun, proses pencarian jati diri adalah bagian dari hidup itu sendiri. Saya ingin Matt menjalaninya secara manusiawi. Satu lagi, sama sekali tidak ada bashing untuk karakter L di sini. Sejenius apapun dia, L tetaplah manusia yang tidak sempurna.
Komentar, saran, maupun kritik yang konstruktif diterima dengan senang hati via review. Bagi anonymous reviewer, kalau gak keberatan, tinggalkan email saat me-review ya? Supaya saya bisa merespon secara pribadi.
Terima kasih atas kesediaannya membaca, dan sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya!
