Dani: Ahahaha… akhirnya saya update fic ini. Tapi Yuki gak tahu sih… so what.
Yuki: *ngepruk Dani pake magical stick* Makasih buat yang sudah review. Di chapter ini terjawab beberapa pertanyaan atas misteri-misteri yang terjadi di chapter pertama.
Dani: Kecuali pertanyaan mengapa hamburger Alfred yang terbuang ke tong sampah.
Yuki: Sudah ketahuan kalau itu adalah azab illahi! *?*
Dani: Ya sudah… selamat membaca…
=_=_=_=_=_=_=
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Haunt The Haunting in The Haunted Dorm © Dani en Yuki.
Warning: OOC, AU, dan semua warning yang khas pada fic ciptaan kami XD
=_=_=_=_=_=_=
Ivan, Gilbert, dan Alfred kini sedang mencoba untuk mendobrak pintu kamar Arthur tanpa peduli untuk mengetuk pintu ataupun mengucapkan permisi. Ya, mereka sepakat bahwa kamar Arthur lah yang dijadikan tempat untuk berkumpul. Namun sebelum kaki Gilbert dan Alfred menyentuh daun pintu itu, dan sebelum magical stick Ivan menghancurkan pintu itu, pintu itu sudah terbuka lebar dan sebagai gantinya, orang yang membuka itu terkena tendangan di kedua lutut dan satu pukulan di kepalanya oleh benda tajam itu.
"Kalian…" geram Arthur yang tangan kanannya memegang kepalanya dan tangan kirinya yang memegangi lutut kanannya.
"Yah… salah kamu sendiri. Kenapa ngebuka pintunya!" ujar Gilbert, "Dasar orang gak awesome!"
"Brengsek!" Arthur pun memilih diam dan membuka pintu lebih lebar, pertanda bahwa ia mempersilahkan masuk para tamu yang lebih pantas disebut penganiayanya itu.
"Wah… jadi ini kamarmu, Arthur?" tanya Gilbert sambil memandang sekeliling, "Penghuninya gak se-awesome kamarnya. Gak matching!"
"Korup banget kau, Arthur," ujar Alfred, "Kamarmu lebar banget."
"Dijaga dong mulutmu kalo ngomong," kata Arthur tersinggung, "Nih kamar merangkap kantor KetOs, jadi tentu saja lebih luas!"
"Tapi tetep saja, ruang KetOs-mu yang notabene 4 kali lipat kamar asrama anak lain kan cuma seperenam dari ruangan ini. Itu namanya korup!" kata Gilbert, "Cih. Kau aja tidur sendiri kamarnya seluas ini. Sedangkan aku setiap hari harus berbagi ranjang (?) dengan burung di atas kepalaku ini. Dasar gak adil."
"Wah… kamarnya hangat, da?" tanya Ivan sembari duduk di atas ranjang Arthur, "Gak seperti kamarku yang dingin."
"Siapa suruh pasang 5 AC sekaligus," batin semuanya.
"Betewe, jadi gak nih? Masak Cuma 4 orang dan satu burung ini aja yang akan melakukan misi ini?" tanya Gilbert.
"Paling yang lain bentar lagi bakal datang," kata Arthur.
"Halo semuanya," kata seseorang.
Semua menoleh dan mendapati Tino yang datang dengan seorang siswa lain. Seorang siswa yang berbau buah nangka. Atau ini bau pohonnya?
"Selamat malam," sapa semuanya.
"Lho? Berwald ikut juga tho?" tanya Arthur terkejut.
"Iya," jawab Tino sembari tersenyum.
"K'tOs," kata Berwald pada Arthur.
"Apa?" tanya Arthur.
"Karena semuanya udah kumpul, ayo kita mulai aja."
"Siapa sih? Datang-datang langsung merintah-merintah," batin Gilbert tak senang, "Awesome aja kagak!"
"Ah… aku ingin di sini saja. Kalian saja yang cari hantunya," Ivan malah terlentang di atas ranjang Arthur.
"Kagak bisa! Ini kan gara-gara kamu!" Arthur menarik paksa Ivan untuk bangun.
"Gara-gara kamu yang ngebuat Ivan nyuruh kita, tauk!" gumam Alfred.
Dan mereka pun keluar dari kamar Arthur.
"I'm gonna miss your room," kata Ivan, "Mau tukar kamar, da?" tanya Ivan pada Arthur dengan aura kejamnya.
"Errr… hey! Ayo kita jemput Ludwig. Dia pasti ingin menghindar dari rencana ini. Dasar Bapak yang gak bertanggung jawab!" kata Arthur yang ngeles dari pertanyaan Ivan.
Mendengar nama Ludwig, entah mengapa Berwald makin mendekatkan dirinya untuk berjalan di dekat Tino.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar Ludwig. Gilbert dan Alfred pun sudah siap dengan cara 'sopan' memasuki kamar orang lain dengan tendangan kaki mereka. Ivan pun telah siap dengan tongkat ajaibnya. Dan Arthur pun sudah hendak mengetukkan tangannya ke pintu itu. Berwald pun sudah menyembunyikan Tino di balik punggungnya saat menyadari bahwa mereka kini telah sampai di depan pintu kamar 'saingan' berat Berwald.
Namun, saat Alfred dan Gilbert hendak menendang pintu itu, saat Ivan hendak menghantam pintu itu dengan tongkat ajaibnya, dan saat kepalan tangan Arthur tinggal 1 inchi jaraknya dengan permukaan pintu, ketika pintu itu terbuka dari dalam dan menampakkan Ludwig yang berpakaian tentara dan menodongkan senjata bazooka ciptaannya tepat di depan muka Arthur.
"WOAH! AMPUN!" teriak Alfred dan Arthur berbarengan.
"Kamu gak bakal niat memusnahkan satu-satunya manusia awesome di bumi ini, kan?" kata Gilbert.
DRAK!
Dan Ivan tetap saja menghantamkan magical sticknya ke pintu yang sudah terbuka itu.
"Santai, man," kata Arthur gugup, "Sori kalo kamu gak suka aku mengetuk pintu kamarmu. Mungkin kamu suka cara tendangan atau hantaman? Ehehe…" dia tertawa gugup, "Kalo kamu gak mau ikut, ya gak papa, sih."
Ludwig pun menurunkan bazookanya.
"Ikut," jawab Ludwig.
"Tentu saja dia ikut karena Tino ikut," kata Berwald sensi yang langsung dapat tatapan heran dari yang lain.
"Bukannya yang kayak gitu kamu, ya?" tanya Tino sweat dropped.
"Tapi, apa tidak apa-apa jika memakai senjata seperti itu di dalam asrama ini?" tanya Ivan menatap senjata yang dipikul Ludwig saking gedenya.
"Tentu saja apa-apa," jelas Arthur, "Tapi pasti lebih apa-apa lagi jika kita kena apa-apa."
"Ribet banget omonganmu," kata Alfred, "Omong-omong, cuma segini saja yang ikut?"
"Pasti lebih dari cukup lah! Orang hantunya cuma satu. Satu lawan tujuh kan udah banyak," kata Arthur.
"Betul, apalagi dengan adanya orang yang sangat awesome sepertiku ini. Sungguh, kalian seperti mendapatkan seorang dewa dalam pasukan kalian," kata Gilbert PD.
"Mana ada dewa yang palanya diduduki burung dan gak pernah nyadar?" kata Alfred.
"Sebentar, aku baru sadar, bukankah lebih baik jika kita berjalan dengan membentuk kelompok dan berpencar?" usul Berwald, "Sudah diputuskan, aku dan Tino akan bekerja sebagai satu tim, sisanya terserah kalian," katanya sambil menggandeng tangan Tino dan mengajaknya menjauh dari lima orang lain yang masih blank atas ucapan Berwald barusan.
"Ngomong apa sih dia? Udah gak jelas, main ninggalin pula," kata Arthur, "Kayak Alfred yang lagi ngomong sambil makan hamburger aja," pikirnya.
"Oh ya, bagaimana kalau kita membentuk tim, da?" ucap Ivan yang mengatakan apa yang barusan dikatakan Berwald.
"Ah, ya, ide bagus itu," kata Gilbert, "Kalo gitu Arthur dan Alfred satu tim, Ivan dan West satu tim, sedangkan aku akan berjalan sendirian."
"Kenapa kau sendirian?" tanya Arthur heran.
"Karena aku terlalu awesome untuk dijajarkan dengan kalian selama beberapa jam ke depan," kata Gilbert.
"Gak papa, lah. Orang awesome sepertimu juga pantesnya mati sendirian, ngangkat peti matimu sendirian, ngubur dirimu sendirian, ngelayat dirimu sendirian," kata Alfred.
"Tapi, rencanamu kurang awesome," sela Arthur, "Masak Ivan dan Ludwig satu tim, oi? Mereka kalo ketemu hantu, hantunya langsung mati kena bazooka atau magical stick. Sedangkan yang lain?"
"Ah! Hantu apapun itu pasti akan bertekuk lutut jika bertemu manusia awesome sepertiku ini," ujar Gilbert narsis, "Rapat selesai. Kita berpencar."
Dan Gilbert-pun pergi melangkah menjauh dari empat orang yang lain. Seketika saat dia membalikkan badan dan melangkah menjauh, air mata mengucur dengan deras dari matanya.
"Kenapa tidak ada yang mencegahku? Harusnya mereka memohon-mohon untuk bisa satu tim denganku. Dan aku akan menolak dan mengatakan mereka tak pantas untuk berada di dekatku. Dan mereka akan mengemis di depanku, memuja ke-awesome-anku dan bersedia mati untukku jika nanti aku diserang hantu," batin Gilbert pilu, "Ah, mungkin beberapa saat lagi mereka akan menyusulku. Mungkin juga sekarang mereka masih ada di belakangku dan menatap kepergianku dengan pilu dan mengarahkan tangan mereka ke depan seolah ingin meraihku."
Dan saat Gilbert menoleh….
-SIIIINNNGGGG-
Dan mata indah itu makin mengucurkan air mata yang menuruni sebentuk wajah yang sangat awesome saat dia melihat bahwa sudah tak ada siapapun di belakang sana.
=_=_=_=_=
"Pertama-tama lebih baik kita cari hantu itu di tempat di mana hantu-hantu biasanya suka ngumpul," kata Arthur.
"Kalo gitu kita balik aja ke kamarmu," ujar Alfred.
"Cih, sori, ya. Kamarku tuh udah dipasang patahan bambu kuning di atas pintu, udah aku kasih kalung bawang putih, dan aku udah nyebarin bawang merah sama garam di seluruh sudut kamar," kata Arthur.
"Pantesan tadi bau bawang dan suasananya serasa di dapur banget," gumam Alfred.
Tiba-tiba sekelebat bayangan tertangkap oleh mata mereka. Dan hal itu membuat Alfred dan Arthur berjingkat.
"A-apa itu?" tanya Alfred.
"Eng… Hantu! Itu pasti hantunya!" pekik Arthur yang refleks menarik tangan Alfred dan langsung berlari untuk mengejar sesuatu yang dianggap hantu itu.
"Hey, Arthur! Lihat itu! Kau lihat itu? Bisakah kau lihat itu? Apakah kau bisa melihat itu?" teriak Alfred sambil menunjuk ke arah lantai.
"Apa?" tanya Arthur sambil mengalihkan pandangannya ke arah lantai dan melihat kelopak bunga mawar merah yang tercecer berderet dan menghilang di balik tikungan koridor itu.
"Gak heran dari tadi bau wewangian gini," kata Alfred.
"Kayaknya aku ngerasa familiar banget deh sama hal beginian…" gumam Arthur, "Ayo kita ikuti, tapi kamu duluan!" kata Arthur sambil mendorong Alfred ke depannya.
"What? Kamu kan yang lebih tua, harusnya kamu melindungi yang muda!" kata Alfred, "Meskipun aku tidak perlu dilindungi, tetapi tetap saja kau harus melaksanakan tugasmu sebagai orang yang lebih tua!"
"Justru itu, karena aku lebih tua aku harus mengalah dan harus berjalan di belakang!" paksa Arthur, "Apa kau tidak kasihan pada orang tua sepertiku?" ucap Arthur yang tanpa sadar mengakui bahwa dirinya sudah tua.
"Tidak! Kau aja gak kasihan ama yang muda!" sanggah Alfred, "Udah deh! Yang alisnya tebel jalan duluan!"
"Yang makanannya gak enak aja yang jalan duluan!"
"Kalo gitu kamu yang jalan duluan!"
"Yang gak percaya ama hal gaib harusnya lebih berani dan jalan duluan!"
"Justru yang percaya banget ama hal gaib yang jalan duluan!"
BRAK! Terdengar sebuah suara keras.
"KYAAAAA!!!" teriak mereka berdua sambil berpelukan.
=_=_=_=
Terlihat dua orang lelaki yang berjalan berdampingan di lorong dengan jalan yang santai. Padahal dari jarak tak seberapa jauh dari sana terdengar suara derap langkah kaki khas orang ketakutan dengan teriakan 'Kamu duluan!' yang saling bersahut-sahutan.
"Hm… malam ini indah ya?" kata Berwald yang mulai ngegombal. Padahal beberapa temannya yang lain tengah mempertaruhkan nyawa di belakang sana.
"Ta-tapi, hantu itu di mana, ya?" tanya Tino sembari menoleh kesana dan kemari.
"Sudahlah, hantu itu tak ada, kok," kata Berwald.
"Tapi kata Ivan…" ujar Tino.
"Lebih baik tidak usah pikirkan hantu itu," kata Berwald, "Omong-omong, kau tahu gak bahwa udara malam itu segar sekali?"
"Hm?"
"Ayo kita nyantai di bawah pohon nangka," kata Berwald yang memberi pandangan memerintah.
"Tapi bagaimana dengan yang lain?"
"Jangan pikirkan yang lain jika kau bersamaku," ujar Berwald ketus sembari menggandeng tangan Tino untuk melangkah dari sana.
Tanpa mereka tahu, sesosok siluet hitam mengamati mereka dari balik tikungan lorong sana.
=_=_=_=_=
Terdengar siulan yang lirih di lorong lantai dasar. Dengan santainya pria itu berjalan. Sesekali air matanya mengalir dengan bibirnya yang masih bersiul.
"Aku benci mereka," ujarnya yang masih kesal, "Masak aku yang awesome gini dibiarin sendiri? Tapi aku tak boleh berprasangka buruk. Pasti mereka meninggalkanku karena mereka sadar diri bahwa aku memang terlalu awesome untuk pantas satu tim dengan mereka."
Dia pun terus melangkahkan kakinya hingga pandangan matanya tertumbuk pada arah di mana toilet berada.
"Ah, sebelum bertemu hantu, lebih baik aku bercermin dan melihat seberapa awesome-nya diriku sekarang," ujar Gilbert sambil memasuki toilet.
Dan saat ia bercermin, ia baru sadar akan keberadaan seekor burung di atas kepalanya yang saat itu juga tengah menatap bayangan dirinya sendiri di kaca. Gak majikan gak piaraan, sama narsisnya.
"Ah, ya, aku gak sendirian, ternyata," kata Gilbert senang, "Masih ada kau, Gilbird. Dan dengan kerja sama kita, hantu apapun itu pasti akan kalah oleh ke-awesome-an kita ini! Hahahaha….ha?"
Tawa Gilbert pun berhenti dan digantikan oleh gumaman herannya saat ia mendengar suara langkah kaki yang terdengar cukup jelas di koridor yang sepi itu.
"Jangan-jangan itu hantunya, Gilbird?" kata Gilbert.
"Cip-cip," kata Gilbird.
"Bukan? Lalu siapa?"
"Cip-cip-cip."
"Oh, cuma orang lewat."
Dan Gilbert pun ingin keluar dari toilet itu. Namun ia menghentikan niatnya saat sebuah bayangan hitam terlukis di tembok di depan pintu toilet yang terbuka itu. Bayangan itu membentuk sosok tubuh manusia.
"Fiuh… benar katamu, hanya manusia biasa," kata Gilbert.
"Cip-cip-cip."
"Ya, aku memang awesome dan jenius."
TUK! Kepala Gilbert pun dipatuk oleh Gilbird.
"Lebih baik kita keluar sekarang dan melanjutkan pencarian ini," kata Gilbert.
Baru dua langkah ia berjalan, cowok yang katanya awesome itu pun berhenti saat tangan dari bayangan di tembok itu bergerak dan menampakkan bayangan lain yang mirip sebuah kapak berukuran lumayan besar.
"WOAH!! Hantuuu!!!" teriak Gilbert.
"CIIIIIIIIIIIIPPPP!!!"
"HEBAT! AKU BISA MENEMUKAN HANTUNYA! AKU MEMANG AWESOME BANGEEEEEEETTTTT!!!" teriak Gilbert dengan air mata yang mengucur deras dari matanya dan tubuhnya yang bergetar hebat, "OHHHH!! HANTUNYA BAWA KAPAK TUUUUUUHHH!!! AKU SEKARANG ADA DI TOILET! TOLOOOOOOOOOOONGGGG!!! An AWESOME guy needs an AWESOME help from an AWESOME savior!!!" teriaknya jauh lebih keras.
JLEB!!
Sebuah kapak terlempar oleh sosok itu dan menancap di tembok tepat di atas kepala Gilbird.
"PLEASE! DON'T KILL ME COZ I'M FUCKING AWESOME AND YOU'RE GONNA REGRET IT FOR SURE! I'M SUPPOSED TO DIE IN AN AWESOME WAY!" teriak Gilbert padahal kapak itu sudah menancap di tembok, "KILL IT INSTEAD COZ IT'S NOT AWESOME!" tunjuk Gilbert pada Gilbird yang udah tepar di atas kepalanya karena syok.
=_=_=_=
Dani: To be continued.
Yuki: Apakah ada hantu lain? Hantu macam apa yang menghampiri Gilbert? Bagaimana nasib Ludwig dan Ivan? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Dani: Kecemburuan Berwald sepihak…
Yuki: Bagaimana pula nasib Arthur dan Alfred? Dan mengapa kamar Arthur sangat luas? Apa yang akan Berwald dan Tino alami?
Dani: Auf wiedersehen…
Yuki: Siapakah sosok siluet hitam yang berkeliaran dan membuat suara gaduh di lorong kamar asrama itu? Kenapa Gilbert…
Dani: *ndepak Yuki* Ha det… Review ya!
