Dani: Ahahaha… update chapter terakhir!!!!!
Yuki: Kemarin Dani nggak ngasih tahu saya (sekarang juga). Yah… pokoknya Anda baca saja lah.
Dani: Banyak yang nebak2 siapa orang yang bawa2 kapak itu. Kita lihat saja lah…
Yuki: Selamat membaca. XD
=_=_=_=_=_=_=
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Haunt The Haunting in The Haunted Dorm © Dani en Yuki.
Warning: OOC, AU, dan semua warning yang khas pada fic ciptaan kami XD
=_=_=_=_=_=_=
"Mungkin hantu itu ada di sana," kata Ivan sembari menuju ke sebuah kamar yang berdaun pintu dua dan terlihat sangat beda dari yang lain, "Lebih baik kita periksa di dalam saja," dan tanpa menunggu jawaban Ludwig, Ivan segera mengangkat magical stick nya dan hendak ia hantamkan ke daun pintu itu sebelum Ludwig melangkah maju dan membuka daun pintu itu dengan memutar kenopnya. Simpel sekali.
"Masuk," ujar Ludwig sembari membuka pintu lebih lebar dan melangkah ke dalam.
"Wah, hebat. Ahahaha…" kata Ivan, "Ludwig mampu membuka pintu bahkan tanpa mempunyai kuncinya," kata Ivan yang kemudian mematahkan sebelah kenop pintu dengan hantaman magical sticknya.
"Wah… di sini nyaman, ya?" kata Ivan sembari langsung duduk di sofa besar yang ada di tengah ruangan di mana sebuah LCD terpampang dengan mewahnya di depan sana. Sekejap setelah dia menyamankan diri di sofa itu, bola lampu disko berwarna-warni yang ada di langit-langit tepat di atas kepalanya pun menyala dan memancarkan segala warna ke seluruh penjuru ruangan.
"Mewah sekali," kata Ivan meskipun Ludwig tak menanggapi ucapannya dari tadi. Lelaki berpakaian seragam tentara itu sekarang malah sibuk memainkan sebuah laptop dan menemukan game 17+ yang berjibun baik di flash disk maupun di hard disk.
"Lebih baik kita di sini saja, da?" tanya Ivan, "Mungkin sebentar lagi hantunya akan datang, da? Hantunya pasti tahu bahwa ada tempat yang menyenangkan seperti ini di asrama."
Ludwig masih terdiam. Ia sekarang malah sibuk melihat foto seseorang dari masa kecil hingga masa dewasa.
"Sungguh, kamar ini nyaman dan mewah sekali. Pasti kamar KetOs tidak ada apa-apanya dibandingkan kamar ini," kata Ivan sembari menyambar sebotol vodka yang berada di jejeran botol minuman keras yang terletak di rak di sampingnya.
=_=_=_=
Alfred dan Arthur pun tengah berlari melewati lorong dan ruangan. Suara 'BRAK' tadi cukup mengerikan bagi mereka dan membuat mereka lari pontang panting bahkan sebelum mereka melihat sosok hantu itu.
"Aku duluan!" bentak Alfred sembari menarik kerah jaket Arthur dan menyeret cowok itu ke belakang dari dirinya.
"Yang tua duluan karena harus melindungi yang muda!" kata Arthur sembari mendorong ke samping tubuh Alfred dan berlari makin cepat.
"Yang tua gak boleh maksain diri deh! Entar mati kecapean lagi!" Alfred mendorong lagi Arthur ke belakang.
"Yang alis tebal duluan!" Arthur mendahului Alfred.
"Yang makanannya gak enak duluan!" kata Alfred sembari membalas mendahului Arthur.
"Berarti aku yang duluan!" Arthur kembali berada di posisi pertama.
"Tapi lebih gak enakan makananku, tauk! Semua juga tahu itu!" Ya, dan Alfred kembali meraih posisinya.
"Syukur deh situ nyadar!"
Dengan cepat Alfred pun mampu mencapai garis finish di mana rivalnya masih beberapa langkah di belakangnya. Alfred segera memasuki ruangan itu di mana pintunya bertuliskan 'Selain KetOs dilarang masuk' dan pemuda berkacamata itu segera menutup pintunya dan hendak menguncinya. Namun niatnya itu gagal saat ia menyadari bahwa sebelah kenop pintu itu yang sepertinya telah patah oleh benda tajam. Dan Alfred pun menutup pintunya dengan menahan pintu itu dengan menekankan berat tubuhnya ke pintu itu. Sedangkan orang malang di luar sana menggedor-gedor pintu itu dengan tubuhnya pula.
"IJININ AKU MASUK, OIIII!!!" teriak orang malang itu.
"K-KAMU SIAPA?!" jawab Alfred dengan sebuah pertanyaan. Saking grogi dan takutnya, ia sampai lupa pada satu-satunya makhluk yang tadi lomba lari dengannya.
"AKU KETOS DAN KAU MEMASUKI RUANGAN KETOS!!!"
"KALAU INI RUANGANMU, YA UDAH MASUK AJA KENAPA MINTA IJIN KE AKU?!" balas Alfred yang masih gugup dan nge-blank.
"BACOT! BUKA GAK?!"
"KALO GITU KAU BUKAN KETOS DAN AKU GAK AKAN NGIJININ KAMU MASUK!"
"Lho? Alfred?" kata sebuah suara dari belakang Alfred.
Saat Alfred bengong dan berdebat dengan pikirannya sendiri akan suara siapa itu, pintu tertutup yang tengah ditahannya itu terhempas terbuka dengan keras dan Alfred pun terdorong oleh salah satu daun pintu dan tergencet di antara tembok dan daun pintu yang mendorongnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" Ivan berdiri dari duduknya dengan membawa botol vodka di tangan kanannya, "Kau memasuki ruangan orang lain tanpa izin dan dengan cara yang tak sopan."
"Errrrr…" Arthur melihat sekeliling, memastikan bahwa ini benar-benar ruangan resmi dan pribadinya. Dan ternyata benar. Buktinya di sana masih ada bawang putih busuk di sudut kamar.
Sedangkan Ludwig pun tak ambil pusing dengan semua itu dan kembali mengedit beberapa foto di laptop itu. Ia kini tengah sibuk menambahkan alis tambahan di atas alis tebal seorang bocah lima tahunan berambut pirang di foto itu.
Ivan pun melangkah maju menuju ke arah pintu, dia pun tertegun, "KAU BAHKAN MERUSAK KENOPNYA!" Ivan menunjuk kenop pintu yang telah patah, sekali lagi oleh benda tajam.
"Tapi Ivan, ini adalah ruangan sekaligus kamarku," jelas Arthur yang seketika melupakan Alfred yang masih kejepit di balik pintu sana.
"Ahahaha… Kau pasti berkata begitu karena kau merasa sudah tak nyaman lagi dengan kamar KetOs mu dan memilih yang lebih mewah seperti ini, kan? Ada yang lebih bagus dari kamarmu dan sekarang kau mengakuinya sebagai ruanganmu?"
"Ini memang ruanganku," kata Arthur mencoba sabar.
"Bohong! Mana ada minuman keras di ruangan KetOs!" ujar Ivan yang membuat Arthur bungkam, "KetOs kan gak boleh mengkoleksi minuman keras seperti yang ada di sana itu," tunjuk Ivan pada rak minuman.
"Errr… Itu milik guru, kok," Arthur ngeles.
"Sudahlah, yang jelas ruangan ini sudah menjadi milikku mulai malam ini karena akulah penemu pertamanya," Ivan meminum vodkanya yang pada botolnya tertempel secarik kertas yang bertuliskan 'KetOs's aset'.
"Kau tadi kan sudah kesini, bagaimana kau bisa lupa bahwa ini kamarku?" tanya Arthur.
"Tidak mungkin. Kamarmu kenop pintunya kan gak rusak."
"Kau yang merusaknya."
"Aku kan pemiliknya, mana mungkin aku merusaknya. Ahahaha…" jelas Ivan, "Lagipula sudah jelas kamar ini ditakdirkan menjadi milikku, kan? Buktinya aku datang aja udah tersuguh vodka yang jelas merupakan minuman kesukaanku."
"TAPI AKU JUGA SUKA VODKA!!" Arthur pun berjalan dengan geram menuju ke arah di mana Alfred terjepit di antara pintu dan tembok. Arthur pun membuka pintunya. Bukannya menolong Alfred yang langsung jatuh ke lantai, Arthur pun malah berdiri dan menunjuk sebuah foto dari dirinya saat pelantikan OSIS dahulu, yang tergantung di tembok di mana Alfred terjepit tadi.
"Tuh, itu fotoku dan berarti ini ruanganku!"
"Pasti itu cuma kebetulan. Kau kan KetOs, jadi wajar saja jika fotomu di pajang di kamar para siswa," sanggah Ivan tanpa menyadari bahwa foto Arthur di asrama ini hanya ada dua. Pertama di kamarnya, kedua di kalender sekolah.
"AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!!" teriak Arthur frustasi sambil menjambaki rambutnya. Ingin sekali ia mencabuti alisnya sendiri.
"An AWESOME guy needs an AWESOME help from an AWESOME savior!!!"
Terdengar suara dari kejauhan.
"Kayak suara Kakak," kata Ludwig sembari menyimpan foto-foto hasil edit-annya dan membuang foto-foto asli baik dari hard disk maupun recycle bin. Ia pun keluar dari kamar itu dengan membopong bazooka-nya.
"Kalau kau di sini, boleh saja. Asal jangan berantakin saja, da?" pinta Ivan sembari ikut keluar dan tak lupa menyambar magical stick miliknya yang tergeletak di atas meja, tepat di samping papan nama yang bertuliskan 'Ketua OSIS: Arthur Kirkland' lengkap dengan fotonya.
"Pingin mati aku," ucap Arthur sambil berjalan ke arah mejanya dan membuka laci meja untuk mengambil pita berwarna kuning. Sebelumnya, dia bersusah payah dulu menyeret tubuh pingsan Alfred keluar dari kamarnya. Setelah itu dia langsung menutup pintu kamarnya yang tidak dapat tertutup dengan sempurna, dan dia pun mengulur pita bertuliskan 'DO NOT CROSS' itu untuk dipasang di depan pintu kamarnya.
Setelah itu, mereka pun mengikuti arah kemana perginya Ivan dan Ludwig tadi. Tentu saja dengan cara Arthur menyeret tubuh Alfred yang separuh sadar.
=_=_=_=
"Gilbert? Beilschmidt? Prussia? Preuβen? Puroizen?" tanya 'bayangan hitam' itu yang ternyata adalah Denmark, "Menjauhlah dari kapakku, brengsek!!!"
"Denmark?" kata Gilbert tak percaya dan langsung agak menyingkir dari tempatnya semula, "Ternyata kau? Dasar orang gak awesome!"
"Kenapa tiba-tiba kau menghinaku?" tanya Denmark sembari mencabut kapaknya dari tembok, "Memangnya aku salah apa?" tanyanya sok inosen.
"Kau… kau membunuh Gilbird yang awesome ini!" Gilbert menempelkan tangan kanannya pada kepalanya dan mengelus-elus burung yang pingsan itu.
"Oh? Aku melemparnya karena aku mendengar kata 'AWESOME' berulang kali. Karena aku-lah orang yang seharusnya pantas disebut awesome," jelas Denmark enteng, "Lagian salah sendiri gak menghindar. Kapakku kan gak punya mata."
"Ada apa ini?" tanya Ludwig yang baru sampai di sana, "Kakak tidak apa-apa?"
"Oh, West," Gilbert menghampiri adiknya, "Apakah aku masih awesome seperti biasanya? Karena orang yang tidak awesome itu hampir membunuhku," Gilbert menunjuk Denmark.
"Errrr… Sepertinya iya," jawab Ludwig.
"Wah… Gilbert ya, ternyata?" kata Ivan yang baru sampai, "Tadi kenapa teriak? Ada hantu?"
"Aku hampir dibunuh," jawab Gilbert.
"Trus kenapa gak jadi?" tanya Ivan, "Oh ya, omong-omong nanti kalian nginep aja di kamar baruku, da? Mewah dan nyaman, lho. Hangat pula. Tapi sayang, kenop pintunya dirusak oleh Arthur dan Alfred."
"Jadi selama ini kau hantunya, Denmark?" tanya Gilbert menuding Denmark, "Cari tenar doang ya? Maklum orang gak awesome, sih."
"Nyesel aku kenapa kapakku gak ngenai wajahmu yang awesome itu," sindir Denmark, "Hantu apaan? Tampang keren gini dibilang hantu."
"Trus kenapa kamu bawa-bawa kapak itu malam-malam begini?" tanya Arthur yang baru sampai dengan Alfred yang kini mampu berdiri sendiri.
"Ah? Ini? Oh, aku disuruh Feliks untuk menebang pohon nangka di halaman depan buat bikin api unggun. Itu saja, kok," jelas Denmark.
"Itu benar, Denmark bukan hantunya," kata Feliks yang tahu-tahu ikutan nimbrung.
"Jadi kamu hantunya? Cari tenar doang ya? Maklum orang gak awesome, sih," kata Gilbert mengulangi ucapannya tadi.
"Apa yang membuatmu menuduhku begitu?" tanya Feliks tidak terima.
"Ya karena kau gak awesome makanya cari tenar supaya jadi awesome," kata Gilbert mengulangi ucapannya dengan sususan kalimat yang berbeda.
"Aku hanya ingin mendapatkan kayu untuk perapian di kamarku. Udaranya dingin sekali dan aku membutuhkan perapian untuk menghangatkan ruanganku," jelas Feliks, "Kalian mau membantuku dan Denmark menebang pohon? Semakin banyak yang membantu, semakin mudah tertebang."
"Bukannya satu atau dua orang saja cukup?" tanya Ivan, "Lagian aku yakin Denmark itu kuat, da?"
"Tentu saja tidak cukup," bantah Feliks, "Dalam menebang pohon, minimal dibutuhkan dua orang. Seorang bertugas memegangi dan menahan kapak agar tertancap di batang pohon, dan seorang lagi bertugas memukul-mukulkan telapak tangannya pada gagang kapak itu agar mata kapak itu semakin tertancap dalam dan tara! Pohon pun tertebang deh!"
Semua langsung sweat dropped.
"Jadi, jika kalian membantu, nanti ada yang bertugas sebagai penahan kapak, yaitu Denmark, dan ada yang bertugas sebagai pemukul agar kapak makin dalam tertancap, yaitu aku. Kalau bisa sih kalian nanti yang ngejeduk-jedukin pohonnya berlawanan arah dengan kapak supaya gampang tertebang," jelas Feliks lebih jauh lagi, "Hebat kan?"
"Errrr…. Iya, tetapi bukannya jauh lebih mudah penebangannya dilakukan dengan cara hanya dengan mengayunkan mata kapak ke batang pohon berkali-kali? Cukup dilakukan satu orang saja pula," jelas Ludwig.
"Ngg… anu… bukannya di setiap kamar siswa ada AC, ya?" tanya Arthur.
"Tentu saja ada!" kata Feliks, "Kan tadi kubilang ruanganku dingin, itu karena AC, tauk!"
"Ya tinggal naikin aja suhunya kan beres?!!" teriak Arthur sensi karena dari tadi dapat sial, "Ngapain repot-repot nebang pohon?!"
Feliks pun terlihat terkejut dan seolah baru menyadari sesuatu yang sudah sejak dulu disadari oleh semua orang.
"Ah…… Aku sudah tahu itu! Sungguh aku tahu. Beneran. Kau pikir aku tidak tahu? Jangan-jangan kau yang tidak tahu bahwa aku tahu kau tidak tahu?" ucap Feliks ngeles.
"Aku tahu bahwa kau tidak tahu tetapi pura-pura tahu bahwa kau tahu apa yang aku tahu," sambung Arthur.
"Terserahlah. Aku mau ke kamar dan menaikkan suhu AC kamarku," ujar Feliks yang langsung pergi.
"Kau ngapain masih di sini, heh?! Dasar orang gak awesome! Maunya eksis dengan ngumpul dekat-dekat aku!" kata Gilbert pada Denmark.
"Cih! Fuck you!"
Dan Denmark pun pergi.
"Jadi hasil pencarian ini bagaimana? Mana hantunya?" tanya Alfred yang baru bicara.
"Ah, kalian nanti jadi kan, tidur di kamarku?" tanya Ivan tanpa menyadari aura frustasi Arthur.
"Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawamu. Kau mikir tidur mulu dari tadi," pikir Ludwig.
=_=_=_=
Terlihat tebaran kelopak mawar di sepanjang lorong dan berkali-kali bunyi 'Brak' terdengar saat pintu dari nyaris semua kamar terbuka dan tertutup secara bergantian.
Sosok itu berhenti melangkah di tikungan lorong saat ia melihat dua siswa laki-laki yang berjalan berdampingan di lorong sana.
"Tino? Berwald?" gumam sosok itu sembari mengikuti mereka.
Dan kemudian sosok itu pun bersembunyi secara sembunyi-sembunyi melalui jalur memutar di balik pohon nangka dimana Tino dan Berwald berhenti dan duduk berduaan di sana.
"Su-san, apa bukan sebaiknya kita membantu Ivan mencari hantu yang kata Arthur akan membunuhnya itu?" tanya Tino sedikit cemas.
"Sudah kubilang tidak ada yang namanya hantu," kata Berwald, "Omong-omong, kau suka pohon nangka, gak?"
"Errr…"
"Buah nangka itu, kulitnya aja yang tajem, tapi buahnya manis. Sama kayak orang. Jangan menilai orang dari luarnya saja, tapi hatinya juga," kata Berwald. Dan Tino hanya melongo karena tidak mengerti arah pembicaraan pemuda yang satu ini.
"Nnnn… Su-san, kau mencium bau mawar tidak?" tanya Tino.
"Aku mencium bau nangka saja," jawab Berwald.
"Tapi ada bau mawar, kok. Beneran," Tino pun menoleh ke sekeliling. Tidak ada tanaman mawar, hanya ada pepohonan nangka. Tapi kenapa ada bau mawar? "Jangan-jangan ini bau hantu?"
"Hm, mungkin hantu yang dimaksud oleh Ivan adalah Francis yang berkeliaran tiap tengah malam," jawab Berwald, "Mana mungkin ada hantu yang bisa dipukul dengan magical stick dan meninggalkan serpihan kaca?"
"HAH! JADI IVAN YANG MEMUKUL MATTHEW?!" Francis pun muncul dari tempat persembunyiannya dalam keadaan naked dan Berwald pun menutupi mata Tino dengan telapak tangannya.
"Kau? Jadi kau hantu mawar yang dimaksud Ivan?" tanya Berwald yang salah informasi.
=_=_=_=
"Sudahlah, tak ditemukan juga tak apa," kata Ivan saat berjalan bersama Arthur, Alfred, Ludwig dan Gilbert menuju kamar masing-masing.
"Trus? Kata Arthur kau akan mati jika kau tidak bisa menyegel roh hantu (?) itu dengan melakukan ritual," kata Alfred.
"Ahahaha…"
"Kami mengkhawatirkanmu, serius dikit, dong," gemas Alfred.
"Tidak apa-apa. Sekarang yang kuinginkan adalah tidur di kamar baruku yang mewah. Hah… kalaupun aku harus mati, setidaknya aku mati di saat aku sedang minum vodka di kamar yang nyaman milikku itu," ujar Ivan dengan mata berbinar.
Dan tentu saja, ucapan Ivan itu membuat Arthur menjadi kembali tersulut lagi rasa sensinya.
"Biar saja, percuma berdebat dengan dia. Untuk malam ini saja, aku akan tidur di kamar Alfred dan Alfred akan tidur di kamar Ivan. Khekhekhe…" pikir Arthur licik.
"Maaf, aku pergi duluan ya," kata Arthur mempercepat langkah, bahkan berlari, menuju ke kamar Alfred. Sesampainya di sana, Arthur segera menempelkan secarik kertas di depan pintu, yang bertuliskan 'KAU TIDUR DI KAMAR IVAN, YOU GIT!'
"Bukannya kamar dia ada di sana?" tanya Alfred heran sembari menunjuk kamar KetOs.
"Bukan, itu kamarku baruku," ujar Ivan.
"Hah?" Alfred bingung, diikuti Gilbert yang juga tak mengerti.
"Kamarku nyaman banget loh. Besok aku akan menambahkan 3 AC di kamar baruku itu," ujar Ivan.
"Trus apa bedanya ama kamar lamamu?" tanya Gilbert.
=_=_=_=
Omake
"Arthur sial, seenaknya saja dia mengambil kamarku secara sepihak dan menyuruhku tidur di kamar Ivan," Alfred membelalak seperti menyadari sesuatu, "Hah, berarti aku harus tidur ama Ivan, dong? Err… tapi katanya tadi dia mau tidur di kamar Arthur, kan?"
Alfred pun membuka pintu kamar Ivan dan langsung disambut oleh hawa dingin dan saat ia melihat sekeliling, terdapat 5 buah AC dengan merk berbeda-beda dan 1 kipas angin gantung di kamar itu.
"Heran, gimana Ivan bisa betah tidur di kamar kayak lemari es begini?" pikirnya. Alfred pun mengambil remote AC yang terjejer rapi di atas sebuah meja di mana sebuah kipas angin mini berada.
"Ugh, 5 derajat Celcius semua?" gumam Alfred syok saat melihat angka suhu di kelima remote itu, "Lebih baik kunaikkan suhunya saja biar hangat," ujar Alfred, "Aku jadi heran, apa jangan-jangan semua suhu AC ini adalah suhu yang ter-set di toko dan Ivan tak pernah menggantinya?"
Ruangan pun mulai menghangat saat Alfred telah menambah suhu dari tiap AC. Namun tiba-tiba kipas angin gantung di atap atas ranjang berputar dan memancarkan hawa dingin. Alfred yang semula heran, segera mematikan kipas itu dengan tombolnya di tembok. Kipas gantung itu memang berhenti berputar, tetapi suhu kelima AC di kamar itu kembali menjadi 5 derajat celcius semua.
"The fuck?! Apa yang terjadi? Mampus! Aku merusakkan fasilitas milik Ivan!" ujar Alfred panik.
Dia tidak tahu saja bahwa semua itu memang dipasang oleh Ivan demikian rupa. Jika AC bersuhu hangat, maka kipas angin akan otomatis menyala. Dan jika kipas angin mati, maka AC akan otomatis ke suhu standar toko 5 derajat celcius.
THE END
Dani: Gaje sekali…
Yuki: Haha, maaf ya, nggak ketemu hantunya. Tapi seenggaknya yang baca udah tahu…
Dani: Dan seenggaknya Ivan mati sambil minum Vodka di kamar barunya.
Yuki: Iy—whot??
Dani: Review please. XD
Yuki: Oh ya, dan kita dapat surat dari Alfred, katanya dia mau didoain biar bisa bertahan hidup di kamar Ivan selama semalam.
Dani: Ciao~
Yuki: Auf wiedersehen!
