DISCLAMER : D. Gray-man by Hoshino Katsura
Uwaaah... Chapie Two, bener-bener lama mikirnya, tapi akhirnya jadi juga...
Nanakizawa l'Noche
proudly present
DARI HEADQUARTERS KE AFRIKA, JALAN LAIN KE ALASKA!?
Chapter 2 : Lost In Afrika
***
**
"APAH???" Allen mengulangi teriakkannya.
"WHAT???" Lenalee ikut-ikutan.
"Biasa aja kali! Gak buruk-buruk amat kan?," Kanda melenggang pergi meninggalkan Lenalee dan Allen yang nangis sambil sujud-sujud di bawah papan itu.
Wah, lumayan nih, ga perlu ke kebun binatang, batin Kanda girang. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah kamera digital 50 mega pixel merk Earl Akuma –Kanda mengkhianati Black Order dengan membeli produk musuh-.
"JPRET! JEPRET! JEPRET!" Kanda sibuk nge-jpret satwa liar di sana. Bukan jepret pake karet gelang lowh! Pake kamera. Dari dulu dia belum pernah pergi ke bonbin dan lihat satwa-satwa. Kemana-mana pun liatnya cuma golem, akuma, exorcist, dan Lavi...
Tiba-tiba Kanda terdiam. Lavi..., ujarnya dalam hati. Kembali teringat dalam benak Kanda, masa-masa indah yang dilaluinya bersama Lavi. Makan bareng, pergi bareng, tidur bareng -???-. Kanda jadi inget saat perayaan sweet seventeen-nya tahun lalu. Waktu itu Lavi pesen ke Jerry untuk nyediain roti ultah super gede. Kanda yang waktu itu lagi tidur langsung dibangunin ama Lavi. Mereka berdua menuju dapur. Bukan untuk ngerayain ultah, tapi buat ngelemparin Kanda pake tu roti tart. Alhasil monster-nya Kanda keluar n menghancurkan seluruh dapur dengan Mugen-nya.
Aura Kanda berubah jadi item begitu inget peristiwa itu.
"LAVI!!!! AKU AKAN MENYUSULMU!!!" Kanda ngeluarin deathglare super-nya tanpa sadar. Gajah-gajah langsung pada lari ketakutan. Jerapah-jerapah kepalanya pada nyangkut di pohon. Macan tutul dimakan rusa –hloh!? Kebalik-.
"Pssst...Lenalee, what happen with BaKanda?" Allen bisik-bisik ama Lenalee di belakang Kanda.
"Ah, Allen anak baru sih, gatau gimana hubungan Lavi ma Kanda," balas Lenale juga berbisik.
"Hubungan gimana?" Allen bingung.
"Mereka kan pasangan paling H-O-T di Black Order," jawab Lenalee membuat Allen mendelik.
"Hot gimana? Suka makan sambel gituh?" Allen penasaran.
"Bukan hot yang itu!" Leenale menggelengkan kepalanya. "Tapi, hot yang 'itu'," sambungnya sambil mengedipkan mata.
Aura Kanda sudah berubah menjadi api yang siap membakar segalanya ketika mendengar hal itu.
"Ta-tapi apa maksudnya 'itu'?" tanya Allen membuat Lenalee bergidik jengkel.
Dasar anak kecil!, seru Lenalee dalam hati.
Kanda memasang kuping benar-benar. Berusaha menguping.
Lenalee mendekatkan bibirnya ke telinga Allen. "Kata Jerry, Kanda ama Lavi sukanya..."
Kanda mulai menghunus Mugen-nya. Siap-siap menebas Allen dan Lenalee jika mereka mengatakan sesuatu yang mengerikan.
"...masak soba di dapur pake tungku yang suhunya 400 derajat!"
"GUBRAKK!!!" Kanda kejatuhan sweat drop super gede sampai dirinya nyusruk di lumpur yang abis diinjek-injek gajah –iih, Kanda jorok-. Allen malah manggut-manggut ngerti. "Pantesan aja hot!" komentarnya.
***
Matahari beranjak menuju peraduan senja itu. Langit hanya memancarkan secercah cahaya mentari kemerahan. Tanda bahwa malam segara menjelang. Para hewan kembali ke sarang mereka masing-masing digantikan oleh hewan malam. Tidak berbeda dengan Kanda, Allen, dan Lenalee yang berjalan menyusuri pinggiran sungai untuk menemukan desa terdekat agar mereka bisa beristirahat.
"Lenalee, kamu nggak bawa cadangan makanan yah?" tanya Allen sembari memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
"Eh, kan udah kita makan pas nungguin Kanda tadi siang," Lenalee mengingatkan.
"Iya ya..." Allen teringat. Kemudian dia menoleh ke arah Kanda yang berjalan paling depan. "Kanda nggak laper?" tanyanya. Kanda hanya menggeleng, meskipun perutnya bicara bahwa dia sangat kelaparan. Biasa, Kanda kan sukanya menyembunyikan perasaan.
Tak terasa satu jam sudah mereka berjalan tanpa menemukan seorang pun atau satu pemukiman pun. Mereka sudah mulai putus asa dengan yang keadaan itu. Jangan-jangan mereka ada di belantara yang belum terjamah manusia sama sekali! Oh, no...
"KROSAK!!!"
Terdengar sesuatu di semak-semak. Kanda menghunus Mugen-nya. Matanya memicing. Allen dan Lenalee saling merapat. Mereka siap sedia jika tiba-tiba terjadi serangan. Setelah menunggu sekitar lima menit sama sekali tak ada respon. Tempat itu kembali sunyi. Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tapi, baru beberapa langkah....
"SSSHHHAAAA..." seekor ular muncul dari semak-semak tepat di sebelah Kanda. Ular berwarna hitam dan panjang yang terkenal dengan nama Mamba Hitam. Ular itu mendesis dan siap dalam posisi bertarung. Allen dan Lenalee diam di tempat. Tak berani berkutik. Kanda yang menghadapi ular itu perlahan-lahan menghunus Mugen. Tapi...
"CRATT!!!" gerakan Kanda terbaca si ular. Kini taring si ular sudah menancap dalam-dalam di tangan Kanda. Lenalee menjerit keras-keras. Allen cepat-cepat membunuh ular itu dengan batu besar di dekatnya. Detik berikutnya Kanda jatuh tak sadarkan diri.
"Kanda!" Allen dan Lenalee menjerit histeris.
***
Dua jam kemudian,
"Nnggg..." Kanda mengeluh dalam keadaan setengah sadar.
Apa aku sudah mati?, tanyanya dalam hati. Pandangan Kanda tidak jelas. Samar-samar dia melihat api menyala sekitar tiga meter darinya yang mirip dengan api unggun. Terlihat juga ada beberapa orang yang mengelilinginya sambil berceloteh.
"Kau sudah bangun?" seseorang berambut putih mendekati Kanda. Suaranya mirip sekali dengan Allen.
Apa aku juga harus bertemu dengan Allen di surga ini?, desahnya dalam hati.
"Hoi! BaKanda!" seru Allen cemas.
"Biar kubangunkan dia," kali ini suara Aleister yang muncul. Tiba-tiba, "BYURR!!!" orang itu menyiramkan air ke kepala Kanda.
"BAKAYARO! APA MAKSUDMU MENGGUYURKU, HAH!?" Kanda berteriak marah. Dirinya sudah kembali seperti sedia kala.
"Kau sudah sembuh, Kanda?" dilihatnya Miranda duduk menghadap api unggun. Di sebelahnya ada Lenalee. Dan dua orang yang mengacaukannya menmang Allen dan Aleister.
Ternyata aku masih hidup, batinnya lega.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya pada Lenalee. Dia sudah bergabung dengan teman-temannya di sekitar api unggun, menikmati ikan bakar dari hasil tangkapan Aleister di sungai.
"Um... jadi begini..."
-
--FLASHBACK mode : ON--
"Miranda, apa kau yakin kita tidak salah jalan?" Aleister bertanya pada Miranda sembari menyibak alang-alang yang tingginya setara tubuhnya. Mereka sedang berjalan setelah menyelesaikan misi di salah satu desa terpencil Afrika itu.
"Ti-tidak, sepertinya..." sahut Miranda yang sedari tadi sibuk membolak balik peta daerah itu dengan gugup.
"Hmph... apa boleh buat. Kita harus mencoba jalan itu satu per satu," desah Aleister yang sudah tampak lelah.
"Kita harus belok sedikit ke..."
"AAAAA!!!!" suara jeritan seorang wanita memotong perkataan Miranda. Dia dan Aleister langsung berpandangan.
"Kita ke sana!" seru Aleister kemudian berlari ke arah sumber suara. Miranda mengikutinya.
"Lenalee?" Miranda terbelalak kaget saat melihat siapa yang menjerit.
"Ada apa ini?" tanya Aleister ketika melihat Allen berjongkok di dekat Kanda yang tak sadarkan diri. "Digigit ular," ujar pemuda berambut putih itu. Dia dan Aleister mengangkat Kanda ke tanah yang lebih bersih untuk memberinya pertolongan pertama. Miranda berusaha menenangkan Lenalee yang shock berat.
Allen termenung menatap wajah Kanda yang memucat. Dia berpikir keras bagaimana caranya bisa menolong pemuda itu.
"Aleister," ujar Allen dengan wajah serius.
"Apa?" Aleister mengernyitkan dahinya.
"Tolong dia," Allen setengah memohon. Lenalee dan Miranda mengangguk pasti. Aleiseter jadi bingung ingin mengatakan apa. Dilihatnya ular yang dibunuh Allen adalah Mamba Hitam, racunnya pasti cepat menyebar. Aleister jadi dilema level 7. Antara temen ama bunuh diri.
"Gimana?" tanya Allen memasang wajah hopeless.
"Ng...nggak mau ah, nanti aku yang mati," Aleister menolak.
"A-LE-IS-TER..." Miranda dan Lenalee menggeram dan sudah menyiapkan pisau daging -entah dapat dari mana- kalau Aleister benar-benar menolak. Nyali Aleister menciut. Dia buru-buru menggagalkan penolakkannya dan segera mempersiapkan diri untuk menolong Kanda.
Tuhan, selamatkanlah makhlukmu ini, tangisnya dalam hati.
"SLURPP..." Aleister menghisap darah Kanda lewat leher, saudara-saudara! Hebat!
Author : "Kalo Kanda sadar pasti udah dibunuh dah!"
--FLASHBACK mode : OFF--
-
"Gituh ceritanya," ujar Lenalee mengakhiri kisahnya. Dia melanjutkan melahap ikannya yang agak gosong. Aleister, Miranda, dan Allen mengangguk membenarkan keaslian cerita itu. Bagaimana dengan Kanda?
Ketiga exorcist yang sedang bersantap itu tak tahu apa yang terjadi di dalam diri Kanda. Kanda meraba lehernya. Dan benar saja, ada dua luka bekas gigitan. Matanya langsung berubah ganas. Kekuatan rohnya meningkat menjadi dua kali lipat. Dia meraih Mugen. Tanah di sekitarnya bergetar. Sungai bergejolak. Bulan tertutup awan. Ikan-ikan berhenti berenang. Serigala berhenti mengaum. Orang mati berhenti bernapas -emang kale!!!-.
"Kalian... beraninya menistaiku," Kanda berubah jadi menakutkan. Tiga exorcist lainnya langsung membeku. Seperti ada sesuatu yang menghentikan mereka.
Beberapa saat berikutnya...
"KYAAA!!! TASUKETE KUDASAI!!!!!" Kanda hilang kendali dan menghancurkan semuanya.
T - B - C
Huft...kulewati sudah masa-masa kritis fanfic ini. Still confused...
Oke! Waktunya balas review! Mulai saat ini review akan dibalas oleh asistenku, Seikimatsu Shouta! Silakan...
SHOUTA's part,,
Sankyu! Langsung saja ke review!
Onna Ran - Benar sekali! Nana udah lama pengen buat fict RK, cuma Lavi bakal ditampilin terakhir.
Reiya Sumeragi - Nana emang suka meng-OOC-kan chara cool kaya Kanda. Eh, jangan nagis sambil ngakak! Itu berbahaya...
Ruicchi Arisawa - Misstypo? Semoga nggak terdapat di chapie ini. Ini udah apdet!
Akatsutsumi Ai - Wah, sankyu sudah bilang gada kesalahan. Padahal tampang Nana aja udah salah -ditabok-. Btw, ngakaknya kaya Sasori ye? keren...
Raeru Nikaido - Yah, memang mengingatkanku pada masa-masa Nana kesasar bareng kamu di mall, di kebon, dan di rumah sendiri -???- tapi itu adalah pelengkap hidup. Gada orang yang ga pernah kesasar dalam hidupnya, kecuali yang udah baca petanya, heheh...
Owari dane! Terima kasih sudah menyambut Nana di fandom ini!
Shouta : Na, penutupan nih!
Nana : Berisik! Ni hampir tamat ngegame-nya...
Shouta : Ya udah, akhir kata, Ja mata....
