DISCLAMER : D. Gray-man by Hoshino Katsura
Sudah berapa lama saia hiatus? Lupa… -digampar-. Maafkan author nistah ini!!! -bungkuk sampe kebentur tanah-. Sepertinya saya ingin cepat-cepat mengakhiri perjuangan untuk fict ini. Ya sudahlah, here it is…
Nanakizawa l'Noche
proudly present
DARI HEADQUARTERS KE AFRIKA, JALAN LAIN KE ALASKA!?
Chapter 3 : Finally We Found You!
***
**
Keesokan harinya,
Pagi berjalan begitu lambat. Matahari belum bersinar begitu terik. Hewan-hewan juga baru saja terbangun dari tidur panjang mereka. Tak berbeda dengan sekumpulan orang berseragam hitam yang tengah duduk di dekat sungai. Seorang yang rambutnya paling panjang duduk menyendiri sambil mengelap pedangnya. Wajahnya tampak merah padam. Bajunya juga robek di beberapa bagian –entah apa yang dilakukannya semalam–.
"Psst... Aleister!" panggil Allen lirih. Aleister langsung menoleh dengan wajah lebam.
"Giginya masih sakit?" tanya Allen tak berperasaan. Aleister langsung nangis darah begitu mendengar pertanyaan Allen. Gimana nggak nangis coba? Giginya yang ompong masih ditanyain sama Allen bego.
Miranda buru-buru menenangkan Aleister. Allen sujud-sujud di depan vampir itu dengan wajah hopeless. Lenalee malah mamandangi Kanda yang sedang mengelap Mugen. Wajah Lenalee terlihat amat ketakutan.
Kanda ternyata bisa segitu menakutkannya, pikirnya dalam hati.
Kalau tadi malam Allen tidak menghentikannya mungkin Aleister sudah mati, batinnya lagi.
"Sing!" lirikan Kanda tepat menusuk mata Lenalee. Deathglare super langsung tercipta.
"Hya!" Lenalee kaget. Dia langsung berbalik membelakangi Kanda. Keringat dingin menetes di dahinya. Selain Mugen dan wajah dingin, ternyata punya lirikan maut, Lenalee ambil kesimpulan.
-
--FLASHBACK mode : ON--
"Kalian... beraninya menistaiku," Kanda berubah jadi menakutkan. Tiga exorcist lainnya langsung membeku. Seperti ada sesuatu yang menghentikan mereka.
"Mugen! Kaichu Ichigen!" hell insect tiba-tiba muncul dan menyerbu Lenalee, Allen, Miranda, dan Aleister. Mereka tak dapat berlari kemana-mana. Serangga-serangga menjijikan itu mengepung mereka.
"Innocence Activate!" Allen ikut mengaktifkan Innocence-nya. Dengan semangat membara dia menepuk serangga itu satu per satu hingga gepeng. Aleister, Miranda, dan Lenalee bernapas lega. Lagi-lagi mereka melakukan perbuatan hina! Bukannya membantu Allen mereka bertiga malah membuat forum sendiri lalu bergosip ria membicarakan macam-macam kejadian aneh mulai dari kasus kawin-cerai para seleb sampai tsunami yang melanda berbagai benua.
"Waks! Kita melupakan Allen!" Miranda tiba-tiba sadar diri. Aleister yang masih memegangi ikan bakar tiba-tiba berjongkok di dekat sungai. Dia duduk bersila dan memejamkan mata. Mulutnya komat kamit seperti mbah dukun baca mantra.
Tiba-tiba dia membuka matanya. "Summon Frogy-frogy!" dia memanggil sesuatu dari dalam sungai.
"KWOK!!!" seekor katak raksasa muncul dan mendarat tepat di dekat Allen. Moyashi yang sedang sibuk nimpuk nyamuk ini langsung terlonjak kaget dan teriak-teriak gaje. Kanda merasa posisinya terancam. Apa? Terancam? Seorang Kanda?
Pantes aja terancam! Kodok itu langsung melahap hell insect punya Kanda dengan sadis dan tanpa ampun.
Gawat! Oo-em-ji~ Oo-em-ji~~ What I supposed to do?, Kanda berteriak bagaikan situasi extra terrible –dalam hati tentunya, untuk menjaga reputasi-
Setelah berpikir sejenak akhirnya dia mendapat secercah cahaya pencerahan. Dia duduk bersila dan melakukan apa yang dilakukan Aleister. "Summon Snakey-snakey!" seekor ular raksasa muncul dari dalam sungai dan melilit katak itu kemudian menelannya bulat-bulat. Miranda dan Lenalee menelan ludah dengan jijik.
Setelah berhasil melahap sang kodok, ular itu melilit Lenalee, Miranda, dan Allen. Aleister yang masih berada di pinggir sungai hampir menangis gara-gara ditinggal sendirian.
"Eliade," yah, itulah nama yang diingatnya pada saat terdesak.
Kanda memandang Aleister dengan hawa membunuh tinggi. Aleister terpaksa mengaktifkan Innocence-nya. Mereka berdua terlibat pertarungan sengit selama setengah jam.
"Hmph... melelahkan," keluh Miranda.
"Haa!? Yang kelahi kan mereka!" seru Allen cengo.
"Iya, tapi kan dari tadi mereka kelahinya muter-muter. Pusing liatnya," tandas Lenalee.
"Sring!" Kanda melayangkan Mugen dan menyerang Aleister. Vampir itu mengelak dengan gesit. Lompat sana lompat sini kaya kodok.
"Grrtt..." Aleister emang hebat! Mugen digigitnya sampai tak bisa lepas!
Tak bisa lepas? No no...
"Klak!" terdengar sesuatu yang patah. Dan tentu saja bukan Mugen.
"Urgh! Fuah! Uhuuuhuu...," ternyata gigi Aleister yang patah!
"Khu khu khu... khu khu khu...," Kanda ngikik senang melihat penderitaan Aleister. Tak disangka-sangka memang, ternyata kadar evil dalam diri Kanda besar juga.
--FLASHBACK mode : OFF--
-
Lenalee berusaha menenangkan dirinya yang trauma dengan perilaku Kanda semalam.
"Perhatian! Perhatian! Gate menuju Jepang akan segera diluncurkan. Bagi penumpang mohon mempersiapkan diri di dekat Gate...."
Terdengar suara aneh yang mirip dengan suara mbak-mbak di bagian informasi. Di tengah belantara Afrika sepertinya itu hal mustahal bin mustahil.
"Oi! Mina!!!" Allen ternyata sudah berada di semak belukar. Teman-teman sejawatnya -???- langsung meluncur menuju tempatnya berada. Ternyata ada banyak orang di balik semak sekitar 50 meter di belakang mereka. Kanda sampai di sana paling belakang dikarenakan rambut panjang nan indahnya nyangkut di alang-alang. Dia langsung cengo begitu sampai.
Semua orang berjajar rapi di sebuah pintu berbentuk lingkaran dengan tangga di bawahnya. Di atas pintu tertulis 'to JAPAN'. Tampaknya itu sesuatu yang mirip pintu ark milik Noah. Di sebelahnya ada seorang mbak-mbak yang berdiri sambil memberikan instruksi.
"Adik-adik mau kemana?" mereka semua dikagetkan seorang cewek yang wajahnya mirip Chomesuke -entah mengapa author suka orang ini-. Mereka ber-cengo ria.
"Ng-nggak kok... liat doang," ujar Allen kelabakan.
"Itu apaan?" Miranda menunjuk-nunjuk pintu aneh yang sedang dimasuki orang-orang.
"Oh, itu pintu dimensi. Kalian bisa kemanapun dalam waktu singkat dan biaya terjangkau," jelasnya sambil tersenyum manis.
Keempat Exorcist itu –minus Kanda- langsung memasang tampang seneng. "Alaska?"
"Iya, bisa kok! Langsung ke loket aja terus kasih tau tujuannya," ujarnya sambil menunjuk cewek di balik meja tinggi. Mereka semua menuju loket dan melakukan sedikit transaksi menggunakan uang peninggalan Bookman.
Moga-moga aja nggak nyasar lagi, Allen berdoa.
Kuharap kali ini nggak sia-sia, harap Lenalee.
Lavi, wait for me!, seru Kanda dalam hati. Entah apa maksudnya, pemuda berambut panjang itu tampaknya ingin sekali bertemu Lavi. Lenalee yang melihat ekspresi Kanda langsung ber-suuzon ria. Jangan-jangan memang benar gosip itu, Lenalee mengernyitkan dahinya.
"Lenalee!" panggil Miranda. Gadis itu cepat-cepat memasang ekspresi aslinya kemudian menghampiri Miranda yang sedang membantu Allen negoisasi tiket mereka.
"Nee-san baik deh... Cantik juga...," rayu Allen dengan tampang memelas. Noni-noni penjaga loket itu diam nggak berkutik dengan tampang kulkas -dingin-. Allen memonyongkan bibirnya jadi 5cm. Coba Timcanpy ada di sini, kan bisa digadaiin dulu, kasian Lavi..., celetuknya dalam hati.
"Nggak bisa kurang lagi?" tanya Miranda sedih bagaikan nawar jengkol di pasar kagak dapet-dapet. Mbak itu menggeleng kaku -baca: tengok kanan sekali, tengok kiri sekali-. "Mau kurang seberapa lagi? Tiketnya 1 orang 40000 ditawar 2500, bangkrut mbak!!!" seru mbak itu sambil nangis gajhe. Alhasil suasana tambah berantakan. Miranda, Lenalee, dan Chome kewalahan menenangkan mbak penjaga loket yang baru mau diem kalo dikasih balon berbentuk Millenium Earl. Beli dimana coba??
Allen pun berjuang keras menenangkan penjaga loket tersebut dengan jurus ajaran Mana Walker, Crown Clown! Bukan... just CLOWN. Benar sodara-sodara! Allen berubah jadi badut yang sukses buat dirinya sendiri dilemparin telur busuk burung Kasuari yang pasti bikin kepala retak-retak. Kanda pun menyerah melihat kelakuan busuk -???- Allen.
"Ehem..." Kanda mendekati noni itu. Noni itu balik menatapnya dengan mata sembab. Dan...
"Ting!"
"KYAAAA!!!!!" paduan suara si noni + Chome -nosebleed-. Kanda ngedipin mata!
***
Beberapa menit kemudian,
"Sankyu gozaimasu!" seru kelima Exorcist itu sembari membungkukkan badan. Chome melambaikan tangan sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan super basahnya. "TiTi DiJe..."
Kanda, Allen, Aleister, Lenalee, dan Miranda melangkahkan kaki memasuki pintu dimensi. Berharap tiba di sisi lain dunia yang bernama Alaska.
"Hikz..." Chome menangisi kepergian kelima anak muda itu. Pasti bos bakal marah-marah! Coba kalo bocah named Kanda tadi gak ngancam Shaura pake pedang, gak bakal rugi deh hari ini. Mana belom dapet setoran cukup pula!, tangis Chome makin menjadi.
***
"Pemberhentian terakhir, Alaska, telah mencapai tujuan," pintu dimensi kembali terbuka seiring dengan berakhirnya suara instruksi.
"Hoek!! Uhuk... uhuk..." Lenalee langsung muntah-muntah begitu keluar dari pintu itu. Perjalanan tadi benar-benar menjungkir-balikkan isi perutnya. Tampang Allen pucat pasi
Lenalee melangkahkan kakinya. Matanya terbelalak senang. Kemana pun mata memandang hanya hamparan putih yang terlihat. Salju! Kali ini benar-benar Alaska! Tanpa basa-basi mereka langsung berkeliling mencari Lavi yang katanya ada di sekitar koordinat itu.
Tak sia-sia mereka mencari selama berjam-jam...
"HELP ME!!!"
"Lavi!!!" mereka bergegas menuju ke sumber suara. Dan tampaklah Lavi di sana. Tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri sambil masih menggenggam rantai besar yang terputus. Sepertinya bekas merantai seekor hewan buas.
Jangan-jangan..., pikiran Kanda langsung jatuh ke neraka tingkat tujuh begitu melihat rantai di genggaman Lavi. Lenalee yang masih mual-mual memulai mode suuzon-nya lagi.
"Lavi, bangun dong... Jangan mati di sini..." tangis Allen sambil memukul dada Lavi berkali-kali. Berharap si Bookman Junior itu memuntahkan seluruh air diperutnya -emang tenggelem??-. Berkali-kali mereka memanggil nama Lavi tetap saja tak ada respon. Mereka takut terjadi apa-apa pada Lavi.
"Ka-Kanda," panggil Allen bersimbah air mata. Kanda mengerling tajam. "Ano... ente kasih 'itu' ke Lavi dong! Biar dia bisa bangun. Kan kalo mati di sini susah bawanya," pinta Allen dengan puppy eyes super. Kanda yang ngeliat aja langsung nelen ludah -???-.
"I-itu apa?" Kanda mulai gemetar plus keringat dingin.
"'Itu' yang 'itu'!" seru Allen, Lenalee, Miranda, dan Aleister bersamaan. Saat ini Kanda benar-benar ingin menggantikan Lavi pingsan. "Ta...," Kanda mengurungkan niatnya untuk protes begitu melihat keempat temannya itu bersiap mengaktifkan Innocence. Kanda langsung berbalik menghadap Lavi dengan hati dag-dig-dug. Gomen ne, Lavi...
San! Ni! Ichi!...
"PLAKK!!!" satu tamparan pipi kanan. -Not Responding-
"PLAKK!!!" satu gamparan pipi kiri. -Connection Error-
Kanda menghela napas. -Trying to Reconnect-
"DUAKK!!!" satu pukulan telak di perut. -Error 404: GONE-
"Bakayaro!!! Bukan 'itu' yang ini, BaKanda!!!" seru Allen sambil nungsepin kepala Kanda ke salju.
"Ohh... yang 'itu'?" tanya kanda belagak bego.
Kali ini wajah Kanda tampak serius. Dia menghela napas sejenak kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Lavi.
Inilah yang kutunggu-tunggu Lavi…, batin Kanda senang. Kini wajah mereka hanya berjarak tiga centi. Inner Kanda senyum-senyum plus evil laugh.
Enjoy this…
TBC –lagi?-
Kya!!! Apa yang dilakukan Kanda pada Lavi hingga 'segitunya'???
Shouta: -bekep Nana- "Gomen minna, dia kena virus aneh!"
Nana: "KaKanda ngapain noh!?" –nunjuk monitor kompie-
Shouta: "Lah? Kan ente yang buat?"
Nana: "Kan belum mikir kelanjutannya…"
Shouta: -ngedumel- "Author bejat!"
Nana: -lempar kompor ke Shouta-"Kerajakan tugas kau!"
--Shouta--
Okeh... inilah balesan repiu buat minna yang udah ngerepiu:
Onna Ran -- ah~~ Ran mau dicup ma Krory juga? -gampared- Semugo masih ngakak di chapy ini.
Ruicchi Arisawa -- udah apdet nih,.. gomen lama! Silakan bunuh Aleister... -dcekek ganti-
Akatsusumi Ai -- Saia rasa mereka berdua sama nistanya -dihajar-
Reiya Sumeragi -- 'nge *' apa? -belagak bego- Dia akan dihancurkan Nana di chap depan. Pairya RK.
Piru Cululu -- Krory sungguh pinter ambil kesempatan.. huhuhu... -ngikik?-
Mayonakano Shadow Girl -- Anata baru berdosa kalo ikut menistai Kanda -dibom-. Baru sempat apdet, jasa kilat-nya macet.
Ni-chan d' -- Jadi Nee juga ngefans jin aladin? wah~~ dia lagi dinas ma Bookman...
Nah, minna sekian dari hamba… need review for this… Matur Sankyu and see you later.
