DISCLAMER : D. Gray-man by Hoshino Katsura

Yaph! Saya kembali mengumbar janji palsu untuk update fic ini -halah-. Maka, dengan tak banyak cakap saya lanjutkan saja… Gomen super duper extra lama..


Nanakizawa l'Noche aka Ankoku Naito

proudly present

DARI HEADQUARTERS KE AFRIKA, JALAN LAIN KE ALASKA!

Chapter 4 : My Lovely Lavi?

Aura panas menyelimuti sekitar Lavi dan Kanda. Lenalee, Allen, Miranda, dan Aleister mengamati kedua makhluk itu dengan jantung berdegup 600 rpm. Dan akhirnya setelah 5 menit berlalu penuh semangat -?-, Kanda pun menggerakkan tangannya…

"BANGUN LAVI!" Kanda teriak sekeras mungkin. Tangannya membekap mulut dan hidung Lavi, berharap cowok berambut merah itu bangun karena kehabisan napas.

Keempat exorcist lainnya yang kaget karena Kanda melakukan hal ini langsung menarik coat Kanda.

"Bukan yang ini, Kanda!" teriak Allen nangis darah. Dia memeluk pinggang Kanda, berusaha melepas pemuda itu dari Lavi. Di belakangnya Lenalee ikut menarik Allen, Miranda dan Aleister pun melakukan hal yang sama. Hasilnya malah jadi seperti tarik tambang.

-Alam bawah sadar Lavi-

"Uh… apa yang terjadi? Apa aku sudah mati?" Lavi mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia berusaha duduk. Pandangannya kabur dan kepalanya terasa begitu pening. Dia menatap bingung daerah sekitarnya. Yang ada hanyalah berumpun-rumpun bambu muda dan seekor…

"Panda!" Lavi mengernyit kaget saat dilihatnya ada Panda yang duduk membelakanginya, sepertinya sedang sibuk makan.

"Permisi," kata Lavi memberanikan diri.

"Nyam… nyam… nyam…" Panda itu tidak mendengarnya.

"Permisi," kali ini Lavi menyenggol bahu Panda itu. Panda itu menoleh perlahan dan membuatnya kaget saat melihat wajahnya.

"BOOKMAN!" Lavi jatuh terjengkang.

Panda (alias Bookman) hanya mengerling kemudian berbalik melanjutkan makannya.

"Kau hanya pingsan," kata Panda itu. Lavi agak tenang setelah mendengarnya.

"Kembalilah ke duniamu, Nak. Di sini bukan tempatmu," Lavi cengo mendengar kata-kata si Panda. 'Emangnya ini di planet mana?' tanya Lavi dalam hati.

"Cepatlah kembali atau bocah berambut panjang itu akan menghabisimu!" perintah Panda itu.

Lavi mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Yuu-chan?" tanyanya.

Panda menganggukkan kepala, "Kau akan tinggal di sini selamanya kalau kau tidak bangun," katanya kemudian menyeruput teh hijaunya.

"Bagaimana caranya?" tanya Lavi bingung plus ketakutan membayangkan Kanda membawa mugen dan siap menebasnya.

Panda meletakkan tehnya kemudian membisikkan sesuatu pada Lavi. Lavi mengangguk mengerti. "Baiklah!"

Beberapa menit kemudian Lavi sudah dibanjiri keringat dan hampir saja pingsan. Ya, dia telah melakukan perintah Panda; lari di tempat, push up, sit up, back up, squad jump, dan berbagai tindakan melelahkan lainnya. Tujuannya hanya supaya Lavi terbangun karena kelelahan. Tapi nyatanya cara itu gagal total.

"Bagaimana ini?" Lavi ngos-ngosan. Di kepalanya masih ada Kanda bersama mugen.

Panda mengelus janggutnya. "Hm…" dia mendesah. "Kalau begitu pakai ini saja!" serunya bersemangat sambil menunjukkan bambu runcing yang digenggamnya kemudian berjalan menuju Lavi.

"Ap-apa maksudmu, Panda?" tanya Lavi gemetaran sambil berjalan mundur. Dia mengendus niat buruk dalam wajah Panda. Dan benar saja…

"HIATT!" Panda melompat dengan bambu runcing terarah tepat ke Lavi.

"TIDAK!"

-end—

"JANGAN!"

"DUAKK!"

"Uhuk!" Kanda mendarat headstand di tumpukan salju tiga meter dari tempatnya semula. Lavi tiba-tiba sadar dan berteriak plus menendang perut Kanda hingga cowok berambut panjang itu mual-mual dan muntah-muntah.

"Lavi!" Allen langsung memeluk Lavi begitu dia berhasil duduk.

"Wah, Lavi masih idup!" Miranda tepuk tangan dengan begonya.

"Syukurlah," Aleister mengharu-biru (?).

Lenalee Cuma senyum-senyum gaje.

"Lavi..." Kanda yang sudah kembali berdiri tegak mengeluarkan suara mengerikannya. Wajahnya merah padam, taringnya mencuat keluar, sepertinya dia siap menerkam siapa saja di sana.

"Yuu-chan..." Lavi merinding disko. Keringat dingin kembali membanjirinya. Dia teringat bayangannya di alam bawah sadar tadi.

"Lavi..." suara Kanda bergetar marah. Dia berjalan ke arah pemuda itu dengan mugen terhunus.

"Glek!" Lavi menelan ludah. Ia ikut berdiri dan menyiapkan hammernya.

"Y-Yuu-chan... aku tidak bermaksud melukainya. Dia yang menyerangku duluan," Lavi berusaha menjelaskan, tapi tampaknya pemuda berambut panjang mirip iklan shampoo itu tak mendengarnya.

"Hei, Lenalee, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?" bisik Miranda sambil melangkah mundur.

Lenalee ikut menjauhi kedua pemuda itu, "Sepertinya tentang gosip 'itu'!"

"Mereka akan bertarung?" tanya Aleister siaga. Allen hanya membalas dengan anggukan.

"KEMBALIKAN LAVI-KU!" tiba-tiba Kanda berteriak lalu menerjang Lavi yang mengoceh tak karuan gara-gara kaget.

Pertarungan pun tak terhindarkan lagi. Lavi dan Kanda saling memukul, lompat ke sana-kemari.

"Aw! Aw! Aw!" Lavi mengerang-erang saat bagian belakang pedang Kanda mengenai kepalanya hingga tercipta benjol-benjol mengerikan. Sepertinya Kanda tidak serius ingin membunuh Lavi.

Tiba-tiba...

"GRAAOORR!" terdengar suara geraman keras tak jauh dari sana.

"Hee?" Lavi dan Kanda berhenti bertarung.

"GRAAOORR!" lagi-lagi suara itu terdengar. Sepertinya auman hewan buas.

"LAVIIII!" Kanda langsung ngacir menuju arah suara ketika geraman kedua terdengar.

Miranda, Allen, dan Aleister saling bertatapan, "La-lavi?"

Akhirnya mereka bertiga plus Lenalee dan Lavi mengikuti kepergian (?) Kanda.

Setibanya di tempat Kanda,

"Itu Lavi?" Aleister menunjuk-nunjuk makhluk besar berbulu putih dalam pelukan Kanda dengan tatapan tak percaya. Allen dan Miranda ikut ber-cengo ria.

"Ja-jadi gosip itu benar?" Lenalee mengernyit sambil mengelus dagu. Allen, Miranda, dan Aleister yang telah sadar dari cengo mereka langsung menoleh dengan tatapan bingung.

"Ya, gosip itu benar," ujar Lavi sambil masih mengelus-elus kepalanya yang sakit karena dipukuli habis-habisan oleh Kanda.

"Kalian ngomong apa sih?" tanya Allen bingung.

Lavi menunjuk Kanda yang sedang memeluk beruang kutub bernama 'Lavi' itu, "Gosip kalau Kanda itu memelihara beruang kutub. Dan aku disuruh mengawasinya selama misi di Alaska. Benar-benar menyebalkan!" Lavi mengakhiri penjelasannya sambil memukul-mukul salju di tanah. Miranda bergegas menenangkan pemuda berambut orange itu.

"Jadi, ternyata Lavi yang dicintai Kanda adalah Lavi 'itu'?" Allen menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak prihatin dengan keadaan Lavi.


END


Aye! Aye! Tamat nyu~~

Lama sangat saya apdetnya! Setengah taun kali yak? Sebenarnya udah nggak mau saya lanjutin. Tapi tulisan in-progress itu membuat saya geli (?). Ya sudah saya lanjutkan sesuai kemampuan saya *dibakar massa*. Nah, jawaban Lavi diapain sama Kanda sudah jelas di sini! Jadi, maaf kalau ada yang bilang mereka ciuman~ (Sebenarnya saya nggak reila kalo Lavi harus dicium orang selain saya *plakplokplak*)

Akhir kata, sankyuu untuk reader-san dan reviewer-san! XDD