Ghost Hunt © Fuyumi Ono & Shiho Inada

Warning: Ide pasaran.


Teaholic

.

Pagi

"Mai, teh."

"Iyaaa!"

.

Siang

"Mai, teh."

"Baik baik."

.

Sore

"Mai, teh."

"Ng..."

.

Malam

"Mai, teh."

Krik. Krik. Krik.

"...Mai?"

"Taniyama sudah pulang, Naru."

ooo

"Aneh...," ujar Mai seraya terduduk lemas di sofa ruang tamu kantor SPR setelah mengantarkan secangkir teh ke Naru yang sedang mendekam di ruangan bos. Siang itu, kebetulan Biarawan, Ayako, dan John datang berkunjung.

"Apanya?" tanya Biarawan sambil meneguk es kopi.

"Naru itu aneh." Mai menaruh nampan yang sedari tadi dipegangnya, lalu melirih lagi, "Ada yang tidak beres dengannya..."

"Apanya yang tidak beres maksudmu? Otaknya? Memang enggan mengakuinya.. tapi memang dia sedikit lebih cerdas dari kita, kan?" kata Ayako.

"Bukan itu..." Mai menggelengkan kepala perlahan.

"Lalu apa, Mai?" kali ini giliran John yang bertanya.

"Teh..."

"Ha?" Biarawan mempertajam pendengarannya.

"Dalam sehari, Naru bisa minum teh hingga 5 cangkir, loh. Apa itu tidak aneh namanya?" Mai menaikkan nada suaranya. Tapi masih dalam frekuensi kecil, agar tak terdengar oleh si bos.

Ayako mengeluarkan kaca dari dalam tasnya, dan mulai membetulkan make up. "Tidak juga. Teh hijau, kan? Wajar saja mengingat dia juga orang jepang."

"Bukaaan! Teh hitam!" Mai menyanggah komentar teman-temannya, "Teh barat yang banyak dijual di toko itu, loooh."

"Mungkin selera Shibuya lebih cocok dengan teh hitam?" John menyeruput kopi panasnya.

"Awalnya kupikir juga begitu. Tapi setelah lama-lama sadar, ada berbagai jenis teh di dapur! Ada yang jenis darjeeling, assam, ceylon, dan masih banyak lagi yang lainnya yang aku tidak tahu!"

Ayako tertegun, "Kau yang membelinya?"

"Bukan. Semuanya sudah distok Naru sejak awal. Lagipula kelihatannya semua teh impor..." Mai menggeleng lagi.

"Ckckck..." Biarawan berekspresi serius. "Tak kusangka Nak Naru tipe orang yang maniak teh."

"Hahaha jika dibayangkan dengan karakter orangnya, agak aneh juga, ya," John bergurau ringan.

Mai, Biarawan, Ayako, dan John terdiam sebentar. Mengaktifkan kemampuan imajinasi.

"...pfft!"

"...Jangan membuatku tertawa!" ujar Biarawan menahan sakit perut.

"Jangan-jangan diam-diam Naru juga suka tenggelam di dalam kotatsu sambil mengunyah senbei?" kata Ayako curiga sambil tersenyum usil.

"Atau berendam lama-lama di ofuro sambil mencoba serbuk mandi berbagai aroma dari seluruh onsen di Jepang?" Mai juga tidak kalah terbahak-bahak, dia mati-matian menahan tawa.

Benar-benar kemampuan imajinasi yang mengerikan. Sebegitu lucunya, kah, membayangkan profesor muda itu melakukan hal-hal di luar logika mengingat kepribadian anehnya?

"Tentu saja! Ahahahaha!" gelak tawa Mai, Biarawan, dan Ayako akhirnya lepas juga. Tidak ingat bahwa yang sedang dibicarakan berada tak sampai 10 meter dari mereka, hanya tersekat tembok tebal. Hanya John yang tersenyum renyah seakan mengejek juga si narsis itu, meski dalam hati.

"Mai, berisik!"

Terdengar teriakan dari dalam ruang bos.

"Teh-nya habis... Mai, buatkan lagi!"

Mai dan ketiga cenayang lainnya saling berpandangan, butuh waktu tiga detik bagi mereka untuk menyamakan pikiran, "Tuh, kan?"

Dasar maniak teh.

-Fin-


Makasih udah baca. Review?