Verse 2, First Contact

*srek...sruk...trek... srak!*

Suara gesekan baju terdengar dari sebuah kamar di salah satu bangunan di Cora Headquarters.

"Panah siap... amunisi siap..." gumam Sheizan didalam kamar itu, kamar yang lebih mirip sebuah kabin kecil dalam sebuah kapal, atau sebuah kamar barak yang mampu mencukupi kebutuhan hidup satu orang prajurit.

"Shei!" terdengar suara memanggil Sheizan dari luar, ia lantas berjalan menuju pintu kamarnya untuk menengok... *DUAK!* namun sayangnya, kepalanya terbentur sesuatu.

"Ugh... uungh..." terdengar suara seorang gadis tengah merintih diluar kamar Sheizan, yang mengusap-usap dahinya yang baru saja terbentur sesuatu dan kini berdiri untuk melihat gadis itu.

"Mina...? Duh... kalau jalan pelan-pelan, dong!" seru Sheizan agak kesal, tabrakan tadi benar-benar sakit, kepala gadis ini sekeras apa sih? Pikir Sheizan.

"Iya deh :P iya... hehe..." Mina cekikikan lalu tersenyum manis.

"Haah... sekarang tugas pertama ya...?" tanya Sheizan sambil mengepak botol-botol potion yang berisi cairan berwarna merah, biru, dan kuning.

"Iya... hehe, tugas pertama, lihat, aku sudah selesai siap-siap." Mina menunjukkan backpack putihnya yang isinya tampak penuh berjejal. Sheizan memperhatikannya dan melihat beberapa botol potion tampak seakan sudah diujung tumpuannya, dan, merasa seram sendiri, mengeluarkan beberapa botol potion dari tasnya.

"Ayo ayo, cepat bersiap-siap!" ujar Mina ceria, yang sepertinya tidak sadar kalau tasnya amat-sangat penuh.

"Er... tasmu..." ujar Sheizan, ngeri melihat potion-potion yang hampir jatuh.

"Eh, apa, ada apa, kenapa??" tanya Mina, sedikit keheranan, lalu memasang wajah tanpa dosa, dia sudah tahu kalau tasnya kepenuhan, namun dalam hatinya, ia ingin mengganggu teman barunya yang satu ini.

"Ah... tidak..." selama mengepak barang, pikiran Sheizan dipenuhi bayangan mengerikan akan potion-potion kuning yang pecah; Potion kuning memang tidak terlalu berguna bagi ranger yang memiliki stamina tinggi, namun berguna bagi Sheizan untuk menghilangkan dahaga.

Dan dalam beberapa saat, ia menyelesaikan pengepakan perlengkapannya terutama panah.

"Aku berangkat duluan!" seru Mina dari luar.

"Hei, tunggu! Bah..." Sheizan dengan cepat menyusulnya keluar dari asrama prajurit itu.

Diluar, ia kehilangan jejak Mina, tapi dengan cepat mengikuti apa yang telah dihafalkannya kemarin saat sampai di tempat ini, yaitu rute menuju gerbang keluar HQ.

Ia berjalan, naik dan turun di Headquarters Cora, sebisa mungkin mengingat jalan yang telah dilaluinya. Tanjakan dan turunan berwarna ungu dan biru terkadang membuatnya pusing dan tak fokus. Di kejauhan, ia bisa melihat pepohonan yang berada didepan ruangan Quiane Khan, dan segera mengambil keputusan untuk mengambil tanjakan kiri. Setelah naik, ternyata dari tanjakan itu masih ada dua buah cabang jalan lagi. Satu turunan, dan satu masuk ke sebuah gedung lain. Ia melihat ke sekelilingnya, yang kearah kiri, arahnya sama dengan apabila tadi ia mengambil tanjakan kanan, jadi ia memilih untuk mengambil jalan ke kiri. Saat itu, ia masuk lagi kedalam sebuah bangunan kosong yang dihiasi ornamen-ornamen yang dibuat oleh para Artist Cora yang pertama kali datang di planet ini dan membuat koloni. Sejenak Sheizan diam di tempat itu dan memperhatikan berbagai ukiran yang ada di ruangan itu. Ruangan itu juga memiliki dua cabang jalan. Satu ke kiri, dan satu ke kanan. Jalan ke kanan adalah sebuah turunan yang Sheizan yakini akan sama arahnya dengan dua turunan kanan sebelumnya, sementara jalan ke kiri adalah jalan menuju tempat yang tak terlindungi oleh bangunan, namun berupa jalan setapak sepi yang dinaungi pepohonan di kedua sisinya.

"Hebat." Gumam Sheizan, yang masih menikmati ornamen-ornamen dalam bangunan kecil yang lebih mirip sebuah jalan tembus itu. Alangkah hebatnya para Artist Cora, mampu menciptakan tempat seperti ini yang berbeda dari tempat-tempat lain di planet Cora sendiri.

Setelah menikmati pemandangan itu, ia lalu dengan berat hati beranjak dari tempat itu menuju jalan setapak yang ada di kiri, jalan setapak yang tidak ia ketahui apa yang ada diujungnya, jalan setapak yang tidak ia kenali, yang baru ia datangi, dan baru ia rasakan.

Sheizan merasakan hawa yang aneh namun menyenangkan sekaligus menyegarkan di jalan setapak itu. Ia berjalan pelan dan melihat ke pepohonan yang ada disekitarnya, dan tahu kalau mereka jauh sekali dari pepohonan yang biasa ia temui di planet Cora.

"Jadi ini... tetumbuhan planet Novus... ah... benar-benar menarik...!" ujarnya pada dirinya sendiri. Hatinya berdecak kagum melihat kehidupan liar yang belum terjamah ini. Namun, matanya selalu awas, tangannya selalu siap memegang busur dan panahnya, apabila ada sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.

Entah kenapa perjalanan tadi seakan lama sekali, mungkin itu karena Sheizan hanya berjalan saja tanpa berlari. Namun yang pasti, ia kini sudah sampai di tempat yang menurut dia dimaksud dalam tugasnya, tempat penuh monster kecil yang ia yakini adalah Young Flem, monster sama berukuran sedikit besar bernama Flem, dan monster terbang yang ia belum ketahui namanya.

Tiap prajurit, baik Cora, Bellato, maupun Accretia, diberikan sebuah perlengkapan yang bernama Sensor, yang bisa menginformasikan tentang nama, tipe, ras, dan elemen monster yang dihadapinya. Sheizan, mengarahkan Sensor ini ke monster yang terbang itu, dan menemukan informasi tentangnya.

Monster itu adalah Wing, tipe mekanik, elemen netral, kelas normal. Begitulah yang diinformasikan oleh Sensor, dan karena tidak ada dalam daftar tugas, Sheizan memutuskan untuk membiarkan monster yang tampaknya pasif itu.

Satu hal yang membuat Sheizan heran, tempat itu sepertinya sepi sekali, padahal menurut informasi, seharusnya tempat itu cukup ramai, mengingat jumlah orang yang mendapatkan tugas yang sama juga lumayan banyak. Lalu selain itu, tempat itu seharusnya juga memiliki area yang ditentukan sebagai area Guild versus Guild, dan Sheizan tidak dapat melihat tempat seperti itu dimanapun di area seperti hutan ini. Ia juga tidak melihat Mina, dan ia lalu mencoba untuk mengatur nafasnya agar tenang. Setelah berdoa pada DECEM semoga tak apa-apa walau mungkin ia salah tempat, ia mulai mengeluarkan panahnya dan memasangnya pada busurnya, sebuah Short Bow yang diberikan padanya sebagai senjata pertamanya.

Ia mulai membidik salah satu Young Flem disana. *srak!* Panah pertama ditembakkan! *jleb!* Panah itu mengenai Young Flem targetnya dan membuat Young Flem itu kebingungan dan sedikit tersandung, namun dengan cepat Young Flem itu berlari untuk menyerang Sheizan. Namun, sebelum sampai ke tempat Sheizan, ia telah terkapar tak berdaya setelah terkena Fast Shot yang dilancarkan Sheizan.

Ia baru ingat kalau ia lupa akan sesuatu, ia lupa memakai teknik yang diajarkan padanya, Precision, dan Quick Reload, dan mulai berkonsentrasi. Ia memfokuskan kekuatan Force pada tubuhnya, memberi tangannya kestabilan yang lebih tinggi dan refleks yang lebih cepat, walau tidak seberapa karena ia belum ahli dalam memakai kedua teknik tersebut. Sheizan lalu mulai menembaki Young Flem lain yang ada di area itu, dan berhenti setelah lima Young Flem telah ia habisi. Ia kembali memperhatikan tempat yang ada di hadapannya, sebuah lapangan kecil yang dihiasi rerumputan dan bebatuan, dan menyadari kalau jumlah Young Flem disana masih sama seperti saat ia datang tadi.

Ia ingat perkataan Quiane Khan yang memberinya tugas; Habisi sebanyak yang diperlukan, karena jumlah mereka tidak akan terlihat berkurang. Ini membuatnya tenang dan lega, tidak perlu sulit-sulit menghabisi lebih banyak lagi. Ia mengalihkan perhatiannya menuju Flem, target selanjutnya dalam tugas ini. Sheizan mulai menembaki Flem, yang berukuran sedikit lebih besar dari Young Flem, dan dengan segera menyadari kalau monster kecil ini lebih tangguh. Dimana Young Flem tidak sempat mencapainya saat ia menembak, Flem mampu mencapai Sheizan dan menyerangnya sebelum tumbang.

"Ugh..." Itu, adalah, serangan pertama, yang Sheizan rasakan setelah tiba di Novus. Dalam pelatihan, kadang ia merasakan serangan, namun tidak senyata ini, tidak langsung dari seekor monster yang menjadi targetnya dalam bertugas, melainkan dari mesin-mesin latihan yang pola serangan dan target serangannya telah diprogram untuk membantu para kadet patriot baru berlatih.

Serangannya tidak terlalu kuat, sebenarnya, namun karena ia masih sebagai prajurit awal yang belum diberikan perlengkapan, lukanya cukup dalam juga. Bagaimanapun, dalam beberapa detik, karena kemampuan penyembuhan Cora yang tinggi sebagai manusia yang telah dialterasi secara genetis, luka itu sembuh dengan cepat.

"Fiuh, untungnya tidak terlalu lama." Gumamnya pada diri sendiri. Ia dengan cepat mengambil posisi dan mulai menghabisi satu persatu Flem yang ada disana, dengan cepat menghabisi 10 Flem yang ia temui.

Bagi para patriot juga, ada sebuah bagian dalam Sensor mereka, yang dengan otomatis mengidentifikasi monster yang telah mereka kalahkan, dan menaikkan pangkat, juga mengukur tingkat atau level kekuatan mereka. Untuk Sheizan, sekarang ia sudah berada pada tingkat 3. Bila ditambah dengan jumlah 5 Young Flem dan 10 Flem yang ia habisi, ini menandakan tugas pertamanya di Novus telah selesai...

"YES! Tugas pertamaku berjalan lancar!!" teriaknya menggema di tengah pepohonan itu. Ia lalu tanpa sadar menari-nari kegirangan. Jurnal miliknya lalu berbunyi, menunjukkan sebuah pesan baru yang berisi ucapan selamat, pilihan senjata tipe B untuk ia pakai, dan juga sebuah tas ekstra untuk menyimpan barang-barang milik Sheizan.

"Shei...?" Sebuah suara yang tidak terdengar asing di telinga Sheizan membuatnya menoleh, Mina sedang berdiri bersama seorang gadis Cora lainnya, mereka berdua tampak kebingungan melihat Sheizan yang menari-nari seperti orang yang tak dapat dideskripsikan mentalnya.

"Ah... Mina... dan... itu siapa...?" tanya Sheizan yang segera menghentikan tariannya dan terpaku di tempatnya, wajahnya merah membara karena malu. Ia lalu menyimpan busurnya dibelakang dan terdiam.

"Ini temanku, Seiren. Kami bertemu di Dataran Spire... kau sedang apa? Area ini namanya Hutan Spire, dan lebih jauh dari ini sangat berbahaya." Ujar Mina, menunjukkan kekhawatirannya pada Sheizan. Dibelakang Mina, Seiren bersembunyi, entah takut atau malu bertemu Cora lainnya.

"Seiren, tak apa, dia juga temanku kok... oh, iya, dia Sheizan Skyline Chandelier... Shei... namanya Seiren Aria Hresvelgr..." kata Mina ringan, mengenalkan mereka berdua. Seiren diam saja, sementara Sheizan membuka mulutnya.

"Hresvelgr... nama unik lagi..." kata Sheizan pelan.

"Begitulah... kami berdua bertemu dan saling tertarik karena nama kami yang tidak biasa... haha!" Mina tertawa kecil di akhir kalimatnya, Seiren masih menunduk dan menatap tanah.

"Ah, nanti kita pasti bisa lebih dekat, ayo, Shei, kita ke Daratan Spire, Hutan Spire sebenarnya adalah tempat untuk tingkat 17 keatas, lho!" ujar Mina, yang membuat Sheizan terkejut dan memunculkan raut wajah seperti seseorang yang baru saja disetrum. Mereka lalu berjalan pelan menjauhi area Flem itu, kembali ke HQ.

"Hei, biasa saja! Daerah kesana memang untuk tingkat 17 keatas, tapi daerah lapangan kecil tadi adalah daerah sepi dimana tingkat 1 sampai 5 dapat berlatih dengan aman melawan Flem dan Wing yang ada disana..." Mina berbalik dan melihat seekor Wing sedang terbang dengan kecepatan tinggi kearah mereka bertiga.

"Eh!?" Tanpa persiapan, Sheizan, Mina, dan Seiren dibuat terkejut dengan serangan mendadak seekor Wing yang biasanya adalah monster pasif. Refleks yang bisa dibuat Sheizan dan Mina hanyalah untuk melindungi tubuh mereka menggunakan tangan, dalam jarak sedekat itu, percuma menggunakan senjata jarak jauh ataupun Force.

"Shining Cut!" terdengar teriakan dari arah depan. *BLAM!* Mina dan Sheizan yang menutup mata mereka tidak sempat melihat apa-apa, namun saat mereka membuka mata, Wing itu sudah meledak, dan didepan mereka berdiri Seiren yang membawa sebuah Hand Axe dan terengah-engah, mungkin karena tiba-tiba menggunakan Shining Cut. Mina terperanjat dan tersenyum senang, sementara Sheizan terbelalak.

"Seiren, hebat! Hebat sekali! Waaah... disaat kami tidak bisa melakukan apa-apa, kau malah menyerang Wing itu, hebat!" tanpa jeda, Mina memuji-muji Seiren, dan Sheizan hanya bisa terpana melihat rambut Seiren yang diterangi oleh Lumen, matahari Novus, raut mukanya yang dihiasi senyum bahagia bisa melindungi Mina dan Sheizan, dan angin mengembangkan rambutnya yang tengah bercahaya.

"Shei...? Shei?" Mina melihat Sheizan yang terpana, dan menyadari kalau pemuda itu tengah mengagumi Seiren, terlintas dalam pikirannya untuk menjahili mereka berdua.

"Shei, kau suka sama Seiren ya...?"

Satu pertanyaan pendek itu, yang ditujukan pada Sheizan dan membuatnya sadar, bukan hanya membuat muka Sheizan saja yang memerah, namun juga Seiren, yang mukanya kini merah padam dan mencoba menutupinya dengan Hand Axe yang dibawanya.

"Ti...tidak! Bu...bukan begitu... aku... aku..." Sheizan tampaknya kehilangan kata-kata, mukanya juga kini merah padam, dan Mina sendiri tertawa terkekeh-kekeh. Seiren masih menyembunyikan wajahnya dibelakang Hand Axe nya, tidak mau berbicara.

"Kau... seorang Warrior... ya...?" tanya Sheizan pelan, masih dengan muka yang merah padam. Seiren lalu dapat terlihat mengangguk, walau hanya dari gerakkan Hand Axe yang menutupi mukanya, yang naik turun.

"Kau... hebat..." kata Sheizan pelan sambil melihat kearah lain, sementara Seiren juga masih menyembunyikan mukanya. Dalam hatinya, Seiren diam-diam senang, ada yang mengakui kemampuannya, dan Sheizan, dalam hatinya, tertarik pada gadis itu.

"Naah, sekarang, ayo kembali! Kita istirahat dulu di markas, oke semua? Ayo!" ujar Mina ringan sambil menyeret Sheizan dan Seiren kedalam Cora HQ.

Didalam Cora HQ, keheningan masih berlangsung diantara Seiren dan Sheizan, muka keduanya sudah tak semerah tadi, namun tetap saja masih merah. Mina meninggalkan mereka berduaan untuk mengambil minuman bagi mereka bertiga. Mereka berdua duduk bersebelahan, dimana awalnya Mina berada diantara mereka berdua.

Keheningan itu tetap bertahan di atmosfir antara mereka berdua selama Mina pergi, kadang Sheizan melihat, kadang Seiren yang melihat, namun mereka berdua tidak pernah bertemu pandang. Udara semakin terasa panas bagi mereka berdua, entah karena mereka hanya berdua saja atau memang hari itu matahari bersinar amat terik. Waktu terasa berjalan amat pelan bagi mereka berdua, *tik tok tik tok*, bunyi sebuah jam analog kuno yang merupakan sebuah karya seorang Artist Cora yang terletak didekat situ.

Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang memulai bicara, tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mengajak mengobrol, keduanya masih berada dalam diam, tidak mampu mengeluarkan sepatah dua patah kata. Malu? Mungkin ya, tapi kenapa saat mereka berdua bertemu Mina rasanya tidak sehening ini? Pikir mereka berdua.

"Haaai! Aku kembali!! Eh?" Mina memperhatikan mereka berdua yang masih diam dan memandang ke arah lain, lalu tersenyum dan memberikan minuman ringan dingin bagi keduanya.

"Ini! Minumlah sepuasnya, oh iya, aku juga dapat berita, kita akan dapat tugas baru setelah kita tingkat empat nanti, dan tugasnya mulai di daerah Pos Cora, jadi, setelah ini, kita latihan, oke?" tanya Mina, yang dijawab dengan anggukan tanpa suara dari Seiren dan Sheizan. Mina menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hei! Kalian kenapa? Ayo! Semangat! Kita harus bisa menjadi patriot terhebat bagi Cora! Semangat!" ujar Mina bersemangat, dan hal itu membuat Sheizan menyadari impiannya, menjadi Adventurer terhebat, yang dihormati teman dan ditakuti lawan. Sheizan langsung berdiri dan menatap Mina.

"Ya! Ayo! Kita juga harus berjuang! Demi Holy Alliance Cora, demi DECEM!" seru Sheizan, dan Seiren pun akhirnya ikut berdiri.

"Ini... untuk semuanya..." Seiren, yang juga ingat akan tujuannya datang ke Novus, mengangkat minumannya tinggi-tinggi.

"Untuk awal yang baru, bersulang!" seru Mina, *klang!* dan mereka bertiga bersulang. Seiren bernafas lega, tampaknya ia senang.

"Ayo, semuanya, kita berburu!" ujar Sheizan, yang menghabiskan minumannya dan berlari keluar. Dia diikuti oleh Seiren dan Mina yang berlari sambil berteriak.

"Ya!"

End of Verse 2