Verse 3, Blurry Skies
Sheizan, mengikuti jalan yang diberitahu Mina sebelumnya, akhirnya sampai di dataran Spire, benar saja, tempat itu ramai seperti yang seharusnya. Disana juga terdapat sebuah arena pertarungan antar Guild. Sheizan melihat ke kanan, dan melihat sebuah tempat seperti terminal, dengan makhluk-makhluk berbentuk bulat dan berwarna putih. Sebuah pesawat besar baru saja mendarat, dan beberapa orang prajurit Cora turun dari pesawat itu. Sheizan hanya diam saja melihatnya, kebingungan.
"Oh, itu terminal Chooty, yang menghubungkan tempat ini, dengan Ether In The Sky, atau Ether Of The Heavens." Suara Mina terdengar dari belakang Sheizan, yang menoleh kebelakang dan melihat Seiren serta Mina berlari mengejarnya. Mina, masih sedikit terengah-engah namun tetap dengan senyum di wajahnya, melihat ke arah terminal, dan sangat terkejut.
"Hah! I... itu..." Dari dalam pesawat, turun seseorang berbaju hitam. Baju hitam resmi yang dihiasi ornamen ornamen perak di seluruh bahu, sepanjang kancing hingga bagian bawah, berlengan panjang, dan memiliki saku di dada bagian kiri dengan baju dalam berkerah tinggi berwarna putih, dengan celana hitam yang panjang yang menutupi hingga kaki. Ditambah dengan sepatu pantopel berwarna coklat sangat gelap, membuat laki-laki yang baru saja turun dari pesawat itu tampak sangat elit.
"I...itu... Itu Archon kita!" seru Mina sambil menggenggam dan meremas bahu Sheizan, nampak sekali apabila ia teramat kagum.
Adalah Archon Valkan 'Zeus' Zenefar Falken, seorang Templar, Archon dari Holy Alliance Cora yang memimpin seluruh pasukan Cora di Novus, yang kekuatan dan kemampuannya dalam bertempur hanya bisa disandingkan dengan Archon Asuka 'Izanagi' Morgan, Berserker terbaik Bellato, juga Archon X-49 'Odin', Assaulter terkuat Accretia.
"Mereka pasti baru tiba dari Ether... mungkin ada sesuatu yang sangat darurat disana..." Mina bergumam pelan. Dari yang tampak, mereka tengah mengeluarkan seseorang wanita dari dalam pesawat menggunakan tandu, dan Seiren tampaknya mengenali wanita itu, karena ia menjerit histeris dengan suara yang melengking tinggi.
"KAKAK!" Seiren berlari menuju tandu yang diatasnya terbaring wanita itu, sementara Sheizan dan Mina hanya bisa terdiam saja saat hal tersebut terjadi didepan mata mereka. Mina juga tampaknya mengenali wanita itu, melihat dia yang matanya tampak terpaku pada wanita itu.
"Itu... Wakil Archon Carina 'Fair Lady' Artemis... Grazier paling kuat di Novus..." ia terpekik pelan. Orang-orang disekitar pesawat itu berkerumun dalam lingkaran, melihat Seiren yang tengah menggenggam tangan kakaknya. Sangat terlihat kalau suasana disana adalah suasana berkabung, suasana duka. Mina dan Sheizan, juga semua Cora yang awalnya tengah berburu disana, semuanya terperangkap dalam keheningan. Tak ada satupun yang berbicara, ataupun melanjutkan berburu, semuanya melihat ke arah tandu yang membawa Carina. Saat itu, Archon Valkan tampaknya mengatakan sesuatu pada Seiren, yang membuatnya menghapus air matanya, dan mengangguk. Setelah beberapa menit, orang-orang dari tim penyelamat akhirnya tiba dari dalam HQ, dan dengan segera mengangkat tandu itu menuju unit perawatan gawat darurat. Archon Valkan dan anggota timnya lalu berjalan pelan melewati Sheizan dan Mina, masuk kedalam Headquarters. Seiren, masih diam seribu bahasa, kini sudah berada didekat Mina dan Sheizan, sedikit air mata masih mengalir dari mata berwarna biru muda itu. Mina dan Sheizan tak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya, namun Seiren akhirnya membuka mulutnya.
"Kata mereka... kakak tidak meninggal... tapi dalam keadaan sangat kritis..." isaknya singkat. Mina memperhatikannya, dan Seiren tengah gemetar hebat, yang membuat Mina mendekatinya dan memegang pundaknya.
"Seiren... Tak apa... *blek* Seiren..." Seiren menjatuhkan diri kedalam pelukan Mina, dan Mina menepuk-nepuk punggungnya pelan, mencoba menenangkannya, namun suaranya agak tenggelam dalam tangisan Seiren. Sheizan hanya bisa diam dan melihat, begitu juga dengan para Cora lain yang tengah berburu disana. Beberapa dari mereka akhirnya melanjutkan perburuannya, sementara beberapa yang lain memilih kembali ke HQ untuk mencari tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi di Ether.
Lima menit... tidak... mungkin lebih... lebih dari lima menit, suara teriakan Flem dan Young Flem yang tumbang, Wing yang meledak, panah yang menancap, Force yang menghantam, dan senjata jarak dekat yang mengenai musuh para prajurit pemula, hilang, dan hanya tangisan Seiren saja yang memenuhi tempat itu selama lima menit. Suasana duka yang amat dalam terasa di Dataran Spire.
Seiren akhirnya melepaskan diri dari pelukan Mina, dan menghapus air matanya serta mengangkat kepalanya. Ia menghela nafasnya sebelum mulai berbicara.
"Mereka... diserang... mendapat serangan mendadak." Seiren memulai ceritanya.
Ia lantas melanjutkan ceritanya. Archon Valkan memberitahu Seiren detail-detail apa yang terjadi. Satu tim Cora, berangkat dari Ether dua hari sebelum hari ini, dinyatakan hilang setelah tidak ada satupun dari mereka yang memberikan kontak saat mereka berada didekat area Tanah Jack dan Ether Platform. Archon Valkan dan Wakil Archon Carina lalu memutuskan untuk menyusul mereka. Setelah sampai, Archon Valkan memerintahkan untuk berpencar, dan tidak lama, terdengar panggilan darurat dari Wakil Archon Carina. Semua anggota tim bergegas ke tempat itu dan menemukan Wakil Archon Carina yang memakai Paimonnya, bersama dengan Wakil Archon Bellato, Kasumi 'Amaterasu' Subaru, seorang Shield Miller, tengah dibombardir dengan puluhan anggota BlackSign Canoneer. Dari belakang mereka, seorang dewan lain lagi, RX-7 'Heimdall', seorang Striker Accretia, tengah membombardir para Canoneer. Namun tiba-tiba, datang sesuatu yang tak terduga. Seekor monster berukuran raksasa, mungkin dua atau tiga kali lebih besar dari seekor Assassin Builder, muncul dibelakang para BlackSign, dan menghabisi mereka semua dengan satu terjangan dan satu sapuan ekor. Setelah itu datang pula para Bellato, dipimpin Archon Asuka, dan Accretia, dipimpin Archon X-49. Satu monster besar berwarna biru dan kuning, berbentuk seperti naga, dan berjalan dengan keempat kakinya, dua diantaranya sayap yang memiliki cakar untuk berjalan, membuat tiga tim itu kewalahan. Orang-orang yang berada paling dekat dengan monster raksasa itu, adalah yang pertama kali diserang. Carina dan Kasumi yang terlalu dekat, terkena terjangan rahang monster itu, dan terpental jauh, membuat mereka terluka parah. Sementara, RX-7 yang berada dibelakang mereka, juga terkena terjangan rahang monster itu dan terpental. Pada akhirnya, monster itu tidak kuasa menahan berbagai serangan yang dilancarkan oleh ketiga bangsa dan tumbang, lalu secara aneh, perlahan-lahan tubuh monster raksasa itu menghilang. Ketiga Archon saling pandang satu sama lain, dan mengadakan perjanjian untuk 'mengutamakan keselamatan rekan sebelum kejayaan'. Akhirnya, mereka membawa rekan-rekan mereka masing-masing dari medan perang dan kembali ke terminal mereka masing-masing.
"Hari ini akan diadakan pembicaraan khusus antara ketiga Archon di tempat netral... di Sette, tepatnya di reruntuhan Sette, mengenai insiden itu..." Seiren mengakhiri ceritanya, dan 10 menit penuh ketegangan bagi Sheizan dan Mina itu berakhir.
Kesunyian kembali merajai mereka bertiga, dimana tidak ada yang mulai bicara setelah Seiren menyelesaikan ceritanya. Para prajurit baru lainnya banyak yang berlatih, menyelesaikan tugas, dan lain-lain, namun ketiga orang ini yang tengah berada di jembatan yang menghubungkan Cora HQ dan Daratan Spire ini, terdiam seribu bahasa.
*tap tap tap tap tap* Suara langkah kaki lain terdengar mendekati mereka bertiga, ketiganya berpikir hal yang sama, mungkin hanya suara langkah kaki orang yang lewat, namun suara itu terhenti didekat mereka bertiga, yang menoleh untuk melihat siapa yang datang. Wanita itu seorang Grazier, dari penampilan dan Inanna yang dibawanya, ia sedikit terengah-engah. Ia lalu membisikkan sesuatu pada Seiren, yang membuatnya terbelalak dan berteriak histeris.
"KAKAK!" Seiren berlari masuk kedalam Headquarters, dan disaat itu, Sheizan dan Mina memikirkan hal yang sama tentang apa yang terjadi.
"Jangan-jangan..." Suara Mina amat lirih pada saat itu, hampir tidak terdengar.
"Tidak apa... kami memang terlambat... seharusnya ia dirawat lebih cepat... kalau saja kami merawatnya lebih cepat, pasti ia... tidak jatuh dalam koma..." isak tangis terdengar dari wanita Cora itu, diikuti dengan Mina yang mulai meneteskan air mata. Kembali Sheizan tak tahu apa yang harus ia lakukan, kecuali mencoba menghibur orang yang paling dekat dengannya, ia merangkul Mina, membelai rambutnya.
"Kenapa jadi begini... kenapa...?" Mina terisak lemah.
"Nak... ini adalah resiko kita... sebagai pejuang garis depan... setidaknya ia masih punya harapan, walau sangat tipis..." wanita itu telah menghapus air matanya, dan tersenyum kecut. Mina mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu.
"Ah... aku belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Fairine Remora Storm. Bisa kalian panggil Fai... kalian teman Seiren, kan? Aku teman dekat kakaknya..." Fairine lalu membungkuk hormat dengan anggun, yang dibalas oleh Sheizan dan Mina.
"Aku Mina Reisha Arkbird, biasa dipanggil Mina. Ini Sheizan Skyline Chandelier." Mina menjawabnya dengan sopan. Fairine lalu mengangguk dan mohon pamit, kembali ke HQ.
Mina dan Sheizan masih diam dan saling pandang untuk beberapa saat, mereka lalu terduduk di samping jembatan itu. Sheizan melihat ke permukaan danau yang menjadi tempat Headquarters Cora berdiri, kilaunya sinar matahari terpantul oleh beningnya air danau itu, dan menyilaukan matanya, memaksanya untuk sedikit menutupi matanya dengan tangan kanannya. Sementara itu Mina memperhatikan bangunan Headquarters, pikirannya kalut, memikirkan tentang Seiren. Ia mendekap mukanya dengan kedua belah tangannya, tidak menangis, tidak bersuara, dan tidak bergerak.
Kembali lima menit penuh duka dan keheningan mengisi tempat mereka duduk, Sheizan masih merangkul Mina, merasa kalau dia harus menangkan gadis itu. Gadis itu hanya menggeleng-geleng, tangannya masih menutupi kedua mukanya.
Tiba-tiba, ia berdiri, hal yang membuat Sheizan terjengkang karena tangan kanannya yang dipakai untuk merangkul Mina terlempar.
"Whoops... maaf..." ujar Mina pelan. Sheizan dengan segera berdiri dan membersihkan pakaiannya.
"Kita... harus segera berlatih..." ujar Mina, raut mukanya menyiratkan kalau ia tidak salah bicara, begitu juga dengan tatapan matanya yang tajam bagaikan elang. Sheizan mengangkat kedua alisnya, keheranan.
"Kalau kita hanya bersedih dan berdiam disini... hal seperti ini akan terjadi pada orang lain... sementara kita hanya bisa menangis... Kalau saja aku sudah jadi seorang Dark Priest... aku pasti bisa membawa Wakil Archon Carina ke markas lebih cepat dari pesawat... Jadi... aku tidak akan menangis lagi. Sheizan! Ayo! Kita harus cepat menjadi kuat! Agar kita bisa berguna untuk Holy Alliance, pada DECEM!" Sheizan merenungkan itu dalam beberapa detik, menutup matanya, lalu mengangguk.
"Ya... kau benar... Ayo, Mina!" Sheizan dan Mina lalu berlari, melewati para prajurit pemula lain di Daratan Spire. Keduanya bertekad, untuk menjadi yang terkuat, untuk melindungi semuanya, dan memastikan hal seperti ini tak akan pernah terjadi lagi, atau setidaknya, itulah yang mereka impikan, yang memberi mereka kekuatan untuk tumbuh, berkembang, lalu kemudian menjadi sempurna dan berada dalam puncak kejayaan.
Beberapa saat kemudian, dilakukan pertemuan antar Archon mengenai insiden tadi. Pertemuan yang dilakukan di reruntuhan Sette itu cukup membuat tegang semua orang baik yang berada disana dan tidak, karena pertemuan ini disiarkan ke seluruh area pendudukan Novus oleh ketiga bangsa. Dari kesimpulan yang diambil, monster besar itu adalah monster yang muncul dari Bio Lab akibat alterasi genetis dari monster yang pernah muncul di Novus. Bagaimanapun, orang yang melakukan alterasi genetis ini tidak diketahui, dan diasumsikan bahwa ini adalah pekerjaan komputer utama Bio Lab yang secara otomatis berusaha menciptakan spesimen-spesimen baru. Pembicaraan terakhir yang dilakukan adalah pembicaraan Chip War, yang berakhir dengan keputusan penghentian sementara untuk ketiga bangsa melakukan perang di Crag Mine hingga penyelidikan benar-benar tuntas.
Selain itu, Sheizan dan Mina juga mendapat berita kalau Wakil Archon Kasumi dari Bellato dan Wakil Archon RX-7 dari Accretia, keduanya juga dalam keadaan koma dan tidak dapat bangun. Wakil Archon Carina mungkin adalah Wakil Archon dengan pertahanan terendah disana, karena dia adalah seorang Spiritualist, namun serangan dari monster ganas itu ternyata sempat ditahan oleh Paimon, membuat luka Wakil Archon Carina tidak terlalu fatal bagi nyawanya.
End of Verse 3.
