Verse 4, The Drift of Air
*JLEB!* *KWAARK!* Jeritan melengking Ratmoth terdengar dari kejauhan, begitu juga dengan suara anak panah yang diluncurkan dari busur dan mendarat di tubuh Ratmoth yang berwarna kemerahan itu.
"Shei! Berapa lagi?" teriak seorang gadis.
"Em... enam? Memangnya sisamu berapa, Mina?" jawab Sheizan seraya menghitung dengan jarinya.
"Hahaaa! Lambat! Aku sudah dapat delapan belas!" teriak Mina senang, yang lalu mencari target Ratmoth lainnya. Sheizan sendiri kini berhadapan dengan dua ekor Ratmoth, monster elemen angin agresif tipe normal yang memiliki area di dekat Pos Cora yang juga memiliki dua jalan keluar, barat dan timur, dan salah satunya menuju sebuah jalan yang ujungnya belum diketahui Sheizan, jalan yang tampak seakan masuk kedalam sebuah gua.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka berdua akhirnya berhasil menyelesaikan tugas mereka, dengan Mina selesai lima menit lebih dulu daripada Sheizan, dan kini tengah beristirahat di pintu Pos Cora yang mengarah ke jalan mirip gua tadi. Sheizan memperhatikan jalan itu untuk cukup lama, dan ada beberapa orang yang menggunakan jalan itu, namun rata-rata mereka tingkat 40 keatas, dari seragam yang mereka kenakan.
"Hei, kenapa...?" tanya Mina.
"Aku hanya berpikir... jalan itu... kau tahu kemana...?" Sheizan menunjuk jalan kecil itu dengan busurnya, dan Mina menggeleng pelan.
"Itu jalan menuju Haram Stockade." Sebuah suara gadis muda terdengar dari belakang mereka berdua, membuat keduanya menoleh.
"Ah! Seiren!" sapa Mina, tampaknya senang bertemu Seiren yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat.
"Kau... tak apa...?" tanya Mina lagi. Ia masih khawatir dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
"Kakak belum bangun... tapi aku tidak apa-apa... hehe..." ia tersenyum lemah, senyuman yang diusahakan sekuat mungkin oleh Seiren untuk membuat kami tidak khawatir akan keadaannya.
"Seiren..." gumam Mina pelan. Sheizan lalu menyadari kalau Seiren membawa sebuah Harpoon hari ini.
"Harpoon...?" tanya Sheizan pelan, yang lalu dijawab dengan anggukan oleh Seiren.
"Aku menemukannya jatuh dari salah seekor Lunker, jadi aku memakainya. Ini Harpoon Tipe A... kalau tidak salah... Injurer." Katanya pelan, masih dengan senyuman lemah yang tadi, namun kini senyuman itu lebih alami dan terasa lebih lembut.
"Kalian baru saja selesai berburu Ratmoth dan sudah tingkat 6 kan, sekarang? Kalau begitu sekarang saatnya berburu Splinter, kan?" tanya Seiren pada keduanya.
"Begitulah... kami berdua hanya sedang beristirahat saja, ahaha... " Mina menjawabnya dengan santai, mereka bertiga lalu duduk dan berbincang-bincang tentang isu-isu yang ada akhir-akhir ini, terutama mengenai serangan-serangan aneh dari monster yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Saat mereka tengah berbincang-bincang ringan di tempat, datang sekumpulan orang dari portal yang menghubungkan Pos Cora dengan Cora Headquarters dan Crag Mine. Kelompok orang tersebut tampaknya memiliki tingkat kekuatan diatas 50. Orang-orang di kelompok itu memakai sebuah emblem berwarna biru-coklat.
"Eh... itu... Ground Zero... kan...?" gumam Sheizan, sementara Mina juga Seiren menoleh untuk melihatnya.
"Ah... mereka... salah satu Guild Kehormatan Holy Alliance... disegani karena selalu berjasa besar dalam setiap Chip War..." jelas Sheizan, sementara Seiren hanya mengangguk.
"Tapi... untuk apa mereka kemari...? dan... satu rombongan seperti itu...? Hei, menurut kalian kenapa?"
Baik Sheizan dan Seiren tak bisa menjawab pertanyaan Mina. Guild Ground Zero dengan cepat bergerak menuju jalan yang menghubungkan daerah Headquarters Cora dengan Haram Stockade, dan menghilang dalam kegelapan jalan itu.
"Mereka kesana untuk tugas." Suara lain terdengar dari belakang mereka bertiga, yang dikenali mereka bertiga sebagai suara Fairine.
"Kak Fairine!" Seiren dengan cepat berdiri dan memeluknya.
"Tugas... tugas apa...?" tanya Mina.
"Mereka mengatakan... ada kemunculan monster lagi... di area Pantai Crimson Haram... monster itu katanya berwarna merah dan mampu menembakkan bola api... dan ukurannya beberapa kali lebih besar dari manusia... monster itu mirip dengan Draco, namun jauh lebih besar... dari laporan juga, ekornya sangat kuat dan berisi racun. Monster itu juga sering terbang tinggi, lalu menukik dan menyerang dengan kedua buah kakinya yang kuat. Beberapa prajurit yang tengah berlatih dan berburu disana sudah menjadi korban." Jelas Fairine pada ketiga pemuda itu.
"Aku harap mereka akan baik-baik saja... Mereka melakukan ini untuk kakakmu, Seiren..." kata Fairine lemah.
"A...apa...? Ah! Ya! Tadi itu kak Ethan, benar...?" Fairine mengangguk menjawab pertanyaan Seiren.
"Ethan 'Hades' Foxtrot Carerra. Black Knight terkuat Cora, dan ketua guild Ground Zero. Kekasih Carina." Jelas Fairine pada Sheizan dan Mina. Seiren memeluk Fairine lebih kuat.
"Semoga mereka tak apa..." ujar Seiren lirih.
"Kalian juga lebih baik melakukan apa yang bisa kalian lakukan untuk membantu Holy Alliance, oke?" Fairine melihat ketiga anak muda itu, dan tersenyum.
"Kalian adalah masa depan Holy Alliance Cora... kalian harus memegang teguh prinsip-prinsip Cora. Aku akan memberikan kalian bantuan... Increase Speed! Sekarang... apa yang mau kalian lakukan, itu adalah pilihan kalian, aku punya urusan lain untuk dilakukan, permisi..." Fairine, setelah memberikan Force Gelap Increase Speed pada Sheizan dan yang lain, memberi salam dengan anggun, lalu meninggalkan ketiga anak muda itu disana.
"Saatnya berburu Splinter." Kata Sheizan singkat, ia mengangkat busurnya.
"Hadiahnya kalau tidak salah ada senjata intense tingkat 7 sesuai class, kan?" Seiren memastikan.
"Ya... ayo!" seru Mina sembari berlari didepan yang lainnya, kini memimpin grup mereka yang terdiri dari tiga orang.
Area tempat adanya Splinter tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang, namun juga tidak sedekat area Ratmoth dan Warbeast. Area itu berupa lapangan yang tampak seperti puncak sebuah bukit, yang paling dekat diakses dari Pos Cora dengan cara keluar dari pintu barat pos Cora dan belok ke kanan. Area itu dipenuhi oleh Splinter; monster mirip singa gunung bertanduk dengan kulit berwarna abu-abu mengkilap dengan sedikit garis merah yang menghiasi tubuhnya ditambah dengan sesuatu seperti sirip yang mencuat diatas punggungnya, serta Boklan; monster kadal berjumbai antromorphic (berdiri diatas dua kaki) berwarna abu-abu dan berhiaskan garis kuning di tangan dan kaki biru mereka, yang tampaknya adalah cabang evolusi lain dari Deser Klan yang sempat dilawan Mina dan Sheizan saat mereka berlatih untuk mencapai tingkat 4.
"Kita sudah sampai... Daratan Terang area Splinter dan Boklan..." Mina menarik nafas dalam-dalam, menikmati angin yang berhembus di tempat mirip bukit ini, dibawah bukit ini sendiri terlihat banyak Lunker. Lapangan luas yang sebagian besar ditutupi rumput ini dibatasi beberapa pepohonan di satu sisi, dan dibalik pepohonan itu adalah jalan menuju Goa Pemburu yang menjadi pusat dari area Headquarter Cora ini.
"Baik, ayo, mulai!" seru Sheizan. Masing-masing dari mereka mengambil posisi didepan Splinter yang menjadi target mereka masing-masing.
"Ah, iya, aku lupa mengatakan, karena kita membentuk kelompok, apabila ada salah seorang dari kita yang menghabisi target, seluruh anggota kelompok kita akan dihitung mengalahkan satu target, jadi, kita bisa menyelesaikan tugas ini lebih cepat!" jelas Seiren pada yang lainnya.
"Begitu? Baiklah, ayo!" seru Sheizan, yang kini berhadapan satu lawan satu dengan Splinter yang ada dihadapannya. Splinter itu menunjukkan taring dan cakarnya yang tajam, dan Sheizan mulai menyerangnya dengan Fast Shot. Dua buah tembakan cepat meluncur ke arah Splinter itu, yang dengan segera bereaksi menghindari kedua tembakan itu, lalu mendekati Sheizan dan menyerangnya. Sheizan, sambil sedikit mundur, kembali menembakkan sebuah anak panah yang *JLEB!* mendarat tepat di sekitar kaki depan Splinter tersebut, membuatnya kehilangan keseimbangan, namun tidak menggoyahkan serangannya. Splinter itu mendekati Sheizan dan segera menyerang dengan cakar kirinya, yang mengenai paha kanan Sheizan. Melihat hal itu, ia segera meloncat mundur dan mengambil sedikit jarak untuk kemudian menembakkan Fast Shot sekali lagi. *jleb JLEB!* Kali ini salah satu dari kedua panah yang ia tembakkan mendarat di daerah kepala Splinter itu, membuatnya kebingungan dan berhenti untuk sementara, sebelum Splinter itu kembali bergerak untuk menyerang Sheizan, yang kembali mengambil jarak aman untuk menembak Splinter itu. Ia baru menyadari satu hal; tubuhnya lebih ringan dari biasanya, dan juga baru menyadari kalau itu adalah efek dari Increase Speed yang dipergunakan Fairine padanya dan teman-teman satu kelompoknya.
Di sisi Mina, ia cukup cepat menghabisi seekor Splinter, namun tetap mendapatkan kesulitan dari monster berelemen tanah tersebut. Prism Beam dan Terra Force ia lancarkan, namun belum mampu membuat Splinter itu tumbang, hingga ia menembakkan Prism Beam dan Terra Force kedua, barulah Splinter itu tumbang, meninggalkan sedikit luka pada tubuh Mina.
Sementara Seiren mendapatkan pertarungan jarak dekat yang brutal bagaikan pertempuran gladiator. Seiren melawan Splinter yang ada didepannya dengan Harpoon, tanpa mundur satu senti pun. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Seiren, terutama serangan ciri khas tombak, Thrust, tiga serangan beruntun yang berupa tusukan, tebasan, dan tusukan lagi.
Satu persatu monster berhasil mereka kalahkan, mengurangi jumlah monster yang harus mereka habisi dalam tugas ini. Bukan tanpa hambatan, tentu.
"Uwaah!" jeritan Sheizan membuat perhatian Mina dan Seiren terbagi antara lawan mereka dan Sheizan.
"Ada apa!" tanya Mina yang juga tengah berusaha menahan musuhnya dengan Prism Beam.
"Aku kehabisan anak panah! Sebentar, aku beli dulu!" Sheizan lalu dengan cepat pergi menuju pos Cora, meninggalkan Splinter lawannya untuk mengejarnya, dan membuat kedua gadis tadi melongo.
"YA AMPUN... masa dia tidak mengecek persediaan panahnya dulu sih...? Terra Force!" Satu lagi Splinter tumbang di hadapan Mina.
"Seingatku... kalau salah satu anggota kelompok tidak ada di area ini... anggota kelompok itu tidak akan mendapatkan hitungan monster yang telah dikalahkan anggota kelompok lain..." kata Seiren datar.
"Berarti... kalau kita selesai saat dia kembali... dia masih harus berburu empat lagi...?"
"Kurasa begitu... Shining Cut!" teriak Seiren lagi, dan satu Splinter tumbang di hadapannya.
Begitu Sheizan kembali dari membeli panah, benar saja, kedua gadis tadi sudah menyelesaikan tugas.
"Hhh... aku terlambat ya...? *tuk* Hei!" hardik Sheizan yang kesal saat Mina mengetukkan tongkatnya di kepala Sheizan.
"Hihi, cuma bercanda... Sisanya empat lagi... kau bisa, kan? Akan kami tunggu di pintu pos Cora yang di sebelah sana..." Mina lalu pergi bersama Seiren setelah mengatakan hal tadi, meninggalkan Sheizan untuk melawan Splinter.
"Aah... berarti aku harus menghabisi yang empat ini sendirian... baiklah... mulai dari kau, Fast Shot!"
Dan Sheizan kembali berburu Splinter
Sementara itu, Mina dan Seiren beristirahat di Pos Cora, keduanya duduk dengan memeluk lutut mereka.
"Huaaah... melelahkan juga..." Mina memulai basa-basi.
"Iya... Ah iya, aku dapat Fire Ardor Earring!" seru Seiren sambil menunjukkan anting yang dijatuhkan salah satu Splinter yang dihabisinya tadi.
"Wah, mana? Lihat, lihat!" Seiren dan Mina menatap lekat-lekat Fire Ardor Earring itu, yang tampak berkilau kemerahan disinari cahaya matahari.
"Indah ya...? Bagaimana menurutmu, Mina?"
"Iya, indah sekali... coba kau pakai!" Mina lalu mengambil Earring itu dari tangan Seiren dan memasangkannya di telinga kanan Seiren.
"Hee...heh? Rasanya... jadi lebih sejuk... seperti ada sekelumit hawa dingin yang mengalir dari kalung ini... yang mengalir ke seluruh tubuhku..."
"Oh ya...? Waah... aku jadi penasaran..."
"Itu karena yang kaupakai adalah Fire Ardor Earring." Seiren dan Mina menoleh untuk melihat Sheizan yang ternyata sudah menyelesaikan tugasnya.
"Fire Ardor Earring memberikan pertahanan terhadap elemen Api, mungkin karena Api itu panas, Earring ini bereaksi dengan memberikan hawa dingin. Mungkin Aqua Ardor Earring, kebalikannya, memberikan pertahanan terhadap elemen air dengan memberi hawa hangat." Jelas Sheizan.
"Setidaknya itulah yang disebutkan di Sensor ku..." lanjut Sheizan lagi, kali ini mengakhiri penjelasannya.
"Bah... ternyata menemukan di Sensor... kalau Wind atau Terra Ardor Earring bagaimana...? Masa memberi angin...?" tanya Mina.
"Kalau Terra Ardor Earring, mungkin dia memberikan pertahanan berupa... sebuah pelindung? Mungkin juga sih yang lainnya bekerja seperti itu, menciptakan pelindung anti-elemen tipis yang kasat mata." jawab Sheizan sambil lalu.
Mereka kembali berbincang-bincang, terutama mengenai Asesoris dan kegunaan mereka, mulai dari tipe Ardor yang biasa ditemukan sampai Elemental yang legendaris.
Ditengah perbincangan mereka, dari pintu barat Pos Cora muncul sekelompok Cora. Guild Ground Zero ternyata telah menyelesaikan tugas mereka. Terlihat di bagian tubuh mereka luka-luka yang cukup dalam, terutama pada Ranger yang berada dalam kelompok itu. Mereka semua tampak lusuh, padahal sebelumnya, armor mereka membuat mereka tampak gagah. Beberapa orang bahkan dipapah oleh rekan-rekan seperjuangannya. Seiren segera berdiri untuk menemui Ethan yang memimpin barisan Cora tadi.
Sheizan dan Mina tetap di tempat, mereka tidak terlalu kenal siapa Ethan, jadi mereka merasa tidak perlu untuk mendekatinya sekarang.
"Seiren... punya banyak kenalan dari kalangan atas, ya...?" ujar Mina pelan, mencari persetujuan Sheizan.
"Yah... kakaknya seorang dewan... jadi ya... sudah pasti..."
"Tapi... dia dapat kekuatan dari mana, ya...? Sementara kakaknya masih tak bisa sadarkan diri...?" Sheizan dan Mina saling pandang.
"Dari kakakku."
"*!*" Mina dan Sheizan tersentak, Seiren sudah berdiri lagi di sebelah mereka berdua. Tengah duduk dan memperbaiki penampilannya.
"Kakak muncul dalam mimpiku... dan memberitahuku untuk tidak khawatir..." seraya mengatakan hal itu, Seiren tersenyum manis dan melihat ke langit.
"Saat aku terbangun dari tidurku... aku sempat menangis, tapi kemudian, aku mendapat ide cemerlang!" lanjut Seiren bersemangat.
"Apa itu...?" tanya Mina dan Sheizan bersamaan, yang membuat mereka saling pandang keheranan.
"Aku... ingin memberi kejutan manis bagi kakakku... saat dia bangun nanti... aku akan sudah menjadi seorang Templar saat kakak nanti sadar... dan membuat kakak bangga saat melihatku di medan perang, membela kejayaan Holy Alliance..."
Kata-kata singkat dari Seiren, sejenak dicerna oleh pikiran Sheizan dan Mina, yang dalam beberapa menit menyadari kalau kata-kata itu begitu menyenangkan, dan begitu benar.
"Seiren... kakakmu pasti amat bangga padamu nanti..." kata Mina pelan.
"Selama ini... aku selalu berada dibawah bayang-bayang kakakku..." *!* Sheizan dan Mina kembali tersentak. Seiren baru mengatakannya pada mereka berdua.
"H...haah...?" baik Mina dan Sheizan bertanya-tanya, apa yang membuat .
"Ahaha... karena kalian cukup baru disini, kalian tidak tahu ya...? Yah... selama ini... aku dikenal sebagai 'adik Carina', bukan sebagai Seiren. Kakakku adalah seseorang yang dikenal sebagai seorang jenius dalam keluarga kami dan bahkan dalam seluruh komunitas Cora. Ia orang yang mampu mencapai tingkat 55 pada umur yang begitu muda, 19 tahun... Aku... selama ini hidup dalam bayang-bayangnya."
Baik Sheizan maupun Mina terdiam. Perihal Carina sebagai seorang jenius sudah mereka ketahui, namun perihal perasaan adik dari sang Wakil Archon, baru mereka ketahui sekarang.
"Jadi, aku bertekad, untuk naik dengan kekuatanku sendiri, tanpa mengandalkan nama Wakil Archon jenius 'Fair Lady'. Aku akan mendapatkan kejayaanku sendiri, dan berhenti menjadi bayang-bayang kakakku!" seru Seiren penuh semangat, membuat Mina dan Sheizan terpana untuk sementara. Mereka berdua merasa tubuh mereka semakin ringan, layaknya burung yang diangkat oleh aliran udara disaat terbang. Mereka berdua kembali mendapatkan semangat yang amat mereka butuhkan setelah lelah berburu dan menyelesaikan tugas.
"Seiren... hebat... itu tekad yang sangat hebat! Kau pasti bisa mewujudkan itu, Seiren!" seru Mina penuh semangat.
"Bukan cuma aku... kalian juga pasti bisa mencapai impian kalian... Mina menjadi Dark Priest terhebat di seantero Novus, dan Sheizan menjadi Adventurer terkuat dalam sejarah Novus!" seru Seiren lagi. Sheizan tersenyum dan merangkul mereka berdua.
"Jadi, gimana nih? Mau mendekati impian itu lebih cepat, atau mau mengobrol terus?" Sheizan melayangkan pandang pada mereka berdua, yang tersenyum.
"Yang pertama, kan? Kalau begitu, ayo! Kita sudah tingkat 7, tugas kita selanjutnya adalah Boklan, kan?"
Mina dan Seiren merespon pertanyaan Sheizan dengan anggukan. Tanpa bicara, mereka berangkat ke area tempat monster yang bernama Boklan, tentunya setelah memeriksa perlengkapan berupa potion, dan khusus Sheizan, anak panah.
"Jangan sampai lupa anak panah lagi, Shei!" seru Mina di pintu masuk saat ia dan Seiren menunggu Sheizan yang tengah membeli perlengkapan.
Cukup lama Sheizan mengurusi anak panahnya, membuat Mina dan Seiren agak kehabisan kesabaran.
"Lama sekali sih!" seru Mina ketus, yang sepertinya sudah tak sabar untuk menyelesaikan tugas.
"Iya, iya... maaf deh maaf... ayo, berangkat!" Sheizan lalu berlari mendahului mereka.
"Shei! Tunggu!" seru Mina lagi, kini giliran Sheizan yang kesal karena disuruh berhenti setelah tadi disuruh untuk cepat-cepat.
"Apa lagi sih...?" tanyanya dengan nada kesal. Ia berbalik dan berjalan mundur pelan, sambil melihat kedua gadis didepannya.
"Pelan-pelan saja ya... tempat Boklan sama dengan tempat para Splinter tadi kan...? Jadi tidak usah buru-buru..." pinta Mina pada Sheizan, yang disetujui Seiren tanpa suara memakai anggukannya. Pada akhirnya Sheizan mengikuti kemauan mereka.
"Ah... iya deh iya... terserah kalian deh..."
Dan merekapun berjalan menuju area tempat tinggal para Boklan.
End of Verse 4
