The Courtesy. 9.30 a.m

Malam itu, aku hampir ribut dengan Tachibana karena begitu kuat keinginanku untuk tetap menghadiri persidangan pagi ini. Masalahnya aku sudah terlanjur berjanji kepada bosku untuk menyanggupi mewakilinya. Aku tidak akan bilang kepada semua orang termasuk Kanzaki-sachou kalau aku sakit.

Demi menuruti keinginanku, malam itu juga Tachibana membawaku ke klinik 24 jam terdekat. Setelah jatuh di kamar mandi, aku merasakan nyeri di perut bagian bawah. Awalnya aku mengira akan ada bercak darah, tapi ternyata tidak. Dokter yang memeriksaku malam itu juga bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Rasa nyeri itu datang akibat aku terlalu syok setelah jatuh. Dia hanya memberiku obat pereda rasa sakit. Sehabis minum itu tadi malam, aku langsung merasa lebih baik dan siap bertugas.

Pagi ini, aku sedang mempersiapkan diriku menghadapi persidangan. Tachibana tadi langsung berangkat ke kantor setelah mengantarku ke pengadilan yang diberitahu oleh Kanzaki-sachou. Dia sangat mencemaskanku saat hendak meninggalkanku tadi.

Persidangan akan dimulai 30 menit lagi. Bersama Fuji dan Natsuki, dua rekan kerja yang dikirim oleh bosku dari kantor, kami sedang mempersiapkan diri di ruang tunggu bersama klien kami.

"Kunimitsu, kau baik-baik saja?"

"Ya, Fuji. Kenapa?"

"Kau seperti…menahan sakit. Bagaimana kandunganmu?"

"Tidak masalah. Aku hanya…kurang tidur tadi malam." *bohong*

"Aku dipesankan oleh Kanzaki-sachou, agar selalu mengawasimu setiap saat. Maka itu aku ingin memastikan ka-"

"Aku baik-baik saja. Percayalah padaku, Fuji."

Aku tidak ingin banyak orang yang mencemaskanku. Masih ada banyak hal hari ini yang harus dicemaskan. Berdasarkan laporan yang aku ketik kemarin, klien kami ini menginginkan persidangan bisa selesai dalam waktu satu hari. Maka itu, kami diminta bekerja keras untuk bisa menyelesaikan kasus ini.

"Masih ada waktu 10 menit. Aku mau ke toilet dulu. Kalau nanti sudah mulai, kalian masuk saja ke ruang sidang tanpa menungguku."

"Mau ditemani, Kunimitsu-san?"

"Aku sendiri saja, Natsuki. Terima kasih."

Aku ingin memastikan penampilanku hari ini sudah sempurna. Maksudku, aku memang jarang turun tangan langsung kalau mendampingi Kanzaki-sachou di persidangan. Aku kebagian mencatat, dan dia yang lebih banyak bicara. Sekarang keadaannya berbalik. Aku akan menjadi pusat perhatian selain kedua pihak yang berselisih.

"Oh tidak!" *megang perut sendiri*

Saat aku bercermin di toilet, tiba-tiba rasa nyeri di perutku datang lagi. Kali ini lebih sakit, aku hampir saja berteriak. Aku sampai menekuk badanku untuk menahan sakit, satu tanganku berpegangan pada wastafel. Mengapa hal ini datang saat persidangan baru akan dimulai? Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri menahan sakit yang berlebih ini. Setelah rasa sakit mulai sedikit reda, aku kembali menguatkan diri untuk berjalan keluar dari toilet dan bergegas ke persidangan.

Tepat pukul 10 pagi, persidangan kasus sengketa lahan dan bangunan sekolah pun dimulai. Pertama-tama, Hakim Ketua membacakan berkas perkara sampai tuntas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari pihak pengklaim lahan. Selama mendengarkan penjelasan itu, rasa nyeri di perutku semakin menjadi-jadi. Aku bisa memastikan keringat dingin mulai membasahi keningku. Kedua rekanku, bersama klien kami, tetap fokus kepada penjelasan pihak pengklaim lahan. Sedangkan aku…

Aku tidak kuat lagi…

"Berikutnya kita dengarkan penjelasan dari pihak pemilih lahan dan bangunan sekolah."

Mendengar pihak kami disebut, aku langsung memantapkan diri untuk maju ke tengah persidangan. Tidak bisa dipungkiri lagi, rasa sakit ini semakin kuat. Aku hampir kehilangan keseimbangan saat sudah berdiri di tengah dan menyampaikan penjelasan.

"Sebentar, Nona Pengacara. Anda baik-baik saja?"

"Ya, saya baik-baik saja, Yang Mulia Hakim. Saya…uuugh! Hnngh!" *mulai meremas perut sendiri*

Akhirnya aku tidak tahan lagi. Rasa sakit ini tidak mau kalah dariku. Rasa sakit ini berhasil menguasaiku. Aku berteriak kesakitan, aku berlutut di lantai sambil memegang perutku. Fuji dan Natsuki, berserta dua orang petugas medis langsung menghampiriku. Kepanikan luar biasa mulai melanda ruang sidang, terlebih lagi melanda diriku.

"Ah…sakit! Sakit…!" *gelisah hebat*

"Ya Tuhan! Kau mengalami pendarahan, Kunimitsu!"

"Tidak mungkin! Aakh…!" *mulai meronta gak keruan*

"OK, tenang dulu. Petugas medis sudah akan kemari membawamu keluar."

"Kippei…! Fuji, tolong telepon suamiku sekarang!"

"Baiklah, aku akan meneleponnya sekarang juga."

Ketika petugas medis mulai mengangkatku keluar dari ruang sidang, keramaian orang-orang di sana berangsur-angsur tak terdengar lagi di telingaku. Badanku lemas, rasa sakit ini sampai tidak bisa dirasakan lagi. Di antara kedua pahaku, aku bisa merasakan banyak cairan yang mengalir keluar.

Aku mulai kehilangan kesadaranku…

Kippei…

Ministry of Foreign Affairs Office. 10.30 a.m (Tachibana's POV)

PRANG!

Ketika sedang mengetik sesuatu di komputer, aku mendengar suara gelas pecah. Sumber suaranya tidak jauh dariku. Ketika aku berdiri dan memeriksa keadaan sekitar ruang kerjaku, ternyata seorang OB memecahkan mug-ku yang berisi kopi susu.

"Bagaimana bisa pecah?"

OB ini mulai mencoba menjelaskan padaku ketidaksengajaannya memecahkan mug itu. Dia bilang tadi tidak sengaja tersandung kabel saat melintasi sekat-sekat kerja karyawan. Dia bilang akan membuatkan yang baru, dan mencoba memperbaikki mug itu. Aku lihat memang pecahannya tidak parah. Hanya saja pegangannya lepas.

Perasaanku tambah tidak enak saat melihat insiden gelas pecah tadi. Pikiranku langsung tertuju pada istriku yang sekarang sedang bertugas di persidangan. Malam itu, aku berusaha sekuat tenaga mencegahnya menuruti kemauan bosnya. Istriku yang satu ini memang gila kerja, workaholic. Dia sangat keras kepala kalau sudah berurusan dengan pekerjaan. Daripada merusak mood-nya, aku terpaksa mengizinkan dia bertugas hari ini.

"Permisi, Tachibana-san. Ada telepon untuk Anda di line 3."

"Ya, aku terima."

Line 3 adalah sambungan telepon untuk orang luar kantor. Ini bisa berarti siapa saja. Dan aku berharap mendapat telepon dari Kunimitsu.

"Tachibana di sini."

"Ano, Tachibana-san. Fuji desu."

"Fuji? Oh, kau rekan kerjanya Kunimitsu."

"Maaf sebelumnya kalau sudah mengganggu pekerjaanmu. Kunimitsu…dia…dia…"

"Ada apa, Fuji? Apa yang terjadi padanya?" *mulai panik*

"Aku tidak bisa menjelaskannya. Yang jelas sekarang dia sudah di bawa ke rumah sakit yang tidak jauh dari gedung pengadilan ini. Aku ingin kau ke sana untuk melihatnya."

"Apa? Rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya? Jelaskan padaku secara ringkas!"

"Dia mengalami pendarahan hebat, perutnya sakit…sebenarnya sudah dari awal sebelum persidangan di mulai-"

Tanpa menunggu waktu lama, aku memutus telepon dan mulai beranjak dari kantor. Aku langsung meminta izin dari atasanku, dan aku lega dia memberiku izin karena dia mengerti bagaimana situasinya. Keluar dari kantor, aku langsung mengemudikan mobilku secepat mungkin menuju rumah sakit yang tadi dikatakan Fuji.

Mit-chan…!

Hospital. I.C.U Corridor 11.00 a.m

Tiba di rumah sakit, aku tidak kesulitan mencari di mana Kunimitsu berada. 10 menit sebelum aku datang, ambulans yang membawanya sudah datang lebih dulu. Sekarang dia sedang ditangani tim dokter di ruang UGD. Aku tidak diizinkan masuk meski aku sudah bilang pada petugas yang berjaga di sana, bahwa aku ini suaminya.

Sekarang aku hanya bisa duduk di ruang tunggu. Aku menenggelamkan kepalaku di kedua telapak tanganku. Kecemasan melanda diriku, sampai aku tidak bisa memikirkan apa-apa kecuali keselamat istriku, dan anak kami.

Selang 1 jam setelah ditangani, pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah satu tim dokter dan para perawat sambil mendorong tempat tidur yang di atasnya sudah terbaring Kunimitsu. Selang oksigen terpasang di hidungnya, selang infus juga terpasang di tangan kanannya. Dia tidak membuka matanya, dia seperti tidur. Kedua alisnya mengerenyit karena mungkin dia sudah menahan sakit dari tadi. Aku langsung mengikuti langkah orang-orang tadi, dan berakhir di ruang operasi.

Ruang Operasi...

Salah seorang dokter tidak ikut masuk ke ruangan itu karena dia ingin bicara denganku. Dokter ini kemudian mengajakku duduk di kursi dekat dengan ruang operasi. Dia sudah siap dengan seragam operasinya.

"Kau suaminya?"

"Ya, Dok. Nama saya Tachibana Kippei."

"Aku yakin kau sangat mencemaskannya. Dia itu…orang yang kuat…"

"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia sampai harus dioperasi?"

"Kami belum ingin mengoperasinya, Tachibana-san. Maka itu aku ingin kau mendengarkan penjelasan ini baik-baik. Istrimu…yah, dia mengalami keguguran."

"Apa? Keguguran? Tapi…tapi…" *panic at the disco*

"Tenang dulu, Tachibana-san. Aku ingin tanya padamu, apakah sebelumnya dia mengalami kecelakaan kecil seperti jatuh atau…"

"Ya, tadi malam dia terpeleset di kamar mandi dan posisi jatuhnya cukup menyakitkan. Perutnya sakit setelah itu. Tapi dengan bantuan obat pereda rasa sakit, dia bisa mengatasi sakitnya. Hanya saja…"

"Seharusnya kejadian itu tidak sampai menyebabkan dia keguguran. Apa ada faktor lain? Petugas medis yang mengirimnya ke sini tadi bilang bahwa dia di bawa dari pengadilan. Apa istrimu seorang pengacara?"

"Sebenarnya dia hanya menggantikan bosnya yang sedang berhalangan hadir. Saya sudah mencegahnya untuk melakukan itu. Tapi dia tetap keras kepala."

"Keguguran ini bisa disebabkan banyak faktor. Yang paling mencolok di sini adalah karena dia kelelahan. Apa dia bekerja sepanjang hari di kantor?"

"Sudah satu minggu ini dia bekerja di rumah, statusnya menjadi pegawai freelance."

"Usia kandungannya masih sangat dini, tetapi dia sudah memaksakan diri untuk tetap bekerja di bawah tekanan. Jika bukan kelelahan, berarti dia sedang banyak pikiran."

"Tidak mungkin…"

"Kalian tidak sedang ada masalah khan?"

"Kami ini pasangan baru, Dok. Hampir tidak ada masalah di antara kami."

"Sekarang, kita bicarakan dia yang sedang ada di ruang operasi. Tindakkan kami berikutnya adalah melakukan kuretase. Tujuannya adalah untuk membersihkan rahimnya dari sisa-sisa pendarahan."

"Lalu bagaimana dengan janinnya?"

"Nampaknya dia mengeluarkan janinnya selama pendarahan berlangsung, mungkin terjadi saat dia sedang dalam perjalanan kemari. Dan sayangnya…kami tidak bisa menyelamatkannya."

"Jadi…anak kami…" *Panic Room*

(Tingkatan panik itu apa aja sih? Tadi panik, trus panik berat, ada lagi panic at the disco, sekarang Panic Room. Author aneh…*geleng2*)

"Satu hal lagi, Tachibana-san. Saat kami mengeluarkan setengah dari isi rahimnya, kami menemukan…ah, bagaimana ya menjelaskannya?"

"Katakan saja, Dok."

"Ada miom, atau tumor yang tumbuh di dinding rahimnya."

"Miom? Tumor? Bagaimana mungkin?"

"Banyak hal yang memicu berkembangnya miom ini dalam rahimnya. Salah satunya faktor hormonal, emosi berlebihan, dan kelelahan." (emang iya yak? Ya pokoknya gitu deh)

"Tapi bagaimana mungkin dia tidak tahu? Apa memang tidak bisa dideteksi sejak awal, Dok?"

"Mungkin dia tidak merasakan kehadiran tumor ini karena memang belum terlalu besar. Tetapi nampaknya ini sangat mengganggu aktifitas si janin yang belum terbentuk sempurna itu. Maka itu, kuretase ini nantinya yang akan menjawab segalanya."

"Anda…harus ke dalam untuk melakukan itu khan?"

"Banyak dokter yang menanganinya di dalam. Aku hanya melakukan supervisi. Nah, kita bicarakan nanti lagi. Aku harus ke dalam sekarang."

Dokter itu meninggalkanku yang masih bingung dan penuh pertanyaan. Aku hanya bisa melihat Kunimitsu dari balik jendela ruang operasi, itu pun samar-samar karena tertutup tirai. Aku tidak tahu berapa lama proses kuretase ini akan berlangsung. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Meski tidak berada di dekatnya, aku harus tetap berada di sini sampai selesai urusannya.

Mit-chan…bertahanlah!

To be continue~


Mohon maap atas kengawuran ini. Saya gak tau banyak soal kehamilan. Apa pun yang terjadi di sini, tujuannya hanya untuk mendramatisir saja…

Tezuka : dia yang sakit jiwa, seharusnya dia yang dimasukkin rumah sakit. *nunjuk Author*

Tachibana : kamu benar. Kasian kamu jadi korban penindasan author sarap ini…

Tezuka : udah gitu pake acara mendramatisir segala…*geleng2*

Comment/review-nya masih ditunggu…^^/