Hospital. Surgery Room corridor, afternoon 1.00 p.m (Tachibana's POV)

Setelah sempat mengurus administrasi rawat inap untuk Kunimitsu, aku kembali duduk di ruang tunggu dekat ruang operasi. Sudah satu jam lebih para dokter berusaha menyembuhkan Kunimitsu. Yang masih menjadi pertanyaan bagiku adalah adanya tumor atau mioma dalam rahimnya. Bagaimana mungkin hal mengerikan itu bisa bercokol di sana? Dan Kunimitsu tidak menyadarinya sama sekali. Selama kehamilannya, dia memang tidak pernah mengeluhkan apapun. Benar kata dokternya tadi, dia sangat kuat. Apa karena itu sampai dia tidak merasakan keanehan di dalam perutnya sendiri?

"Ano…Tachibana-san ka."

Seseorang menyadarkanku saat sedang melamun di ruang tunggu. Ternyata teman kerja dari Kunimitsu, yaitu Fuji dan seorang lagi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Mereka menghampiriku, keduanya sangat cemas.

"Tachibana-san, bagaimana keadaannya?"

"Dia keguguran, Fuji. Dan kondisinya tambah parah setelah dokter menemukan ada kelainan di rahimnya."

"Kanker? Atau tumor?"

"Dokter bilang tumor, tapi ini masih diselidiki lagi. Sekarang dia sedang dikuret."

"Semoga prediksinya salah. Kami ditugaskan oleh bos kami, dan juga bosnya Kunimitsu, untuk menjenguknya kemari. Beliau tidak bisa datang karena masih ada urusan."

"…"

"Sebenarnya saat sebelum memulai tugasnya, Kunimitsu sudah terlihat aneh. Dia nampak menahan sakit, tetapi tidak mau mengatakannya padaku."

"Benarkah?"

"Aku sudah menduga pasti ada sesuatu yang sedang dialaminya. Dia tidak mau cerita. Kami juga tidak bisa langsung tanggap karena dia bisa menutupi kondisinya dengan baik. Sampai akhirnya saat di persidangan…"

"Aku mengerti. Terima kasih kalian sudah mau mengabarkan keadaannya padaku. Malam sebelumnya, Kunimitsu jatuh di kamar mandi. Dan aku tidak menduga bahwa kecelakaan kecil seperti ini bisa berakibat fatal untuknya."

"Lalu bagaimana dengan janinnya?"

"Tidak bisa diselamatkan. Kata dokter, ada kemungkinan Kunimitsu telah mengeluarkannya saat di perjalanan dibawa kemari. Sudah tidak bisa diselamatkan lagi."

"Tidak mungkin…"

"Sekarang tinggal menunggu hasilnya saja. Aku harap…"

Belum selesai aku berbicara, pintu ruang operasi sudah terbuka. Aku melihat tim perawat mendorong keluar ranjang Kunimitsu. Di atasnya, aku melihat dia masih belum sadar. Mungkin ini efek dari biusnya. Aku langsung mengikuti mereka yang sekarang membawa istriku ke paviliun rawat inap. Sementara itu Fuji dan temannya tadi memohon diri padaku untuk kembali bertugas di pengadilan.

Di kamar VIP 205, mereka meletakkannya. Selang infus dan oksigen masih terpasang di tangan dan hidungnya. Mereka sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus pasien rumah sakit. Aku membelai kepalanya sekali, sebelum dokter yang tadi bicara denganku kembali menghampiriku.

"Kau harus bersyukur mempunyai istri sepertinya, Tachibana-san. Dia ini tegar dan kuat."

"Bagaimana hasil kuretase yang Anda maksud tadi, Dok?"

"Kami sudah mengeluarkan semua isi rahimnya. Termasuk miom yang tadi aku maksud. Hanya saja, ada kendala lain sekarang."

"…" *perasaan gak enak*

"Miom-nya itu sudah membuat rahimnya infeksi. Apalagi ditambah dia keguguran, ini akan menambah parah kondisinya jika dibiarkan tetap berada di dalam tubuhnya."

"Maksud Anda, Dok?"

"Aku tahu ini berat. Tapi…kami harus mengangkat rahimnya."

"Apa? Mengangkat rahimnya? Jadi…jadi…"

"Tenang dulu, Tachibana-san. Keputusan ini kami ambil karena ini menyangkut keselamatannya."

"Apakah tidak ada jalan lain, Dok? Apakah tidak ada obat atau apa pun untuk menyembuhkan infeksi pada rahimnya? Ini kehamilan pertamanya, kami akan punya anak pertama…"

"Aku mengerti. Aku sudah berdiskusi dengan tim dokter tadi. Ada dua alternatif, dan keduanya sangat beresiko. Kau mungkin bisa membicarakan ini bersama istrimu jika dia sudah sadar nanti."

"…"

"Pertama, dengan pengobatan berkala. Selain nanti kami berikan obat, kami juga akan memberikan tindakan langsung untuk menyembuhkan infeksinya. Semacam melakukan kuretase. Resikonya adalah kami khawatir akan merusak rahimnya. Kedua, yang tadi aku sebutkan. Kami akan mengangkat rahimnya keseluruhan. Dan resikonya adalah istrimu tidak bisa hamil lagi."

(mohon maaf, sekali lagi apa pun yang ada di sini, hanya untuk mendramatisir. Belum tentu sesuai dengan kenyataannya…)

"Tidak mungkin…"

"Tachibana-san, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Kalian pasangan baru, dan sudah merencanakan segalanya dengan baik. Aku yakin keputusan kalian mempunyai anak pun sudah termasuk dalam rencana kalian. Tetapi sekali lagi, kalian bukan satu-satunya pihak yang berencana. Tuhan pun adalah pihak yang tidak bisa dikesampingkan."

"…"

"Jika Dia sudah memberikan keputusan pada rencana kalian, maka kita sebagai manusia pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima keputusannya. Sepahit atau semanis apa pun itu."

"…"

"Nah, kalau tidak keberatan, aku permisi dulu. Istrimu akan tetap dalam kondisi tertidur kira-kira 1-2 hari. Kalau kekuatan fisiknya bagus, mungkin nanti sore dia sudah bisa sadar kembali."

"Terima kasih, Dokter."

"Ah ya, kita belum berkenalan. Namaku Mizuki Hajime. Aku ginekolog di rumah sakit ini. Mungkin kalian sudah punya ginekolog sendiri sebelum bertemu denganku."

(Note : Ginekolog = Dokter Kandungan)

"Ya, kami kenal dengan Dr. Inui Sadaharu."

"Aku kenal dengan orang ini juga. Aku akan mencoba mencari tahu keterangan dari Dr. Inui mengenai kehamilan istrimu. Mungkin dia punya catatannya. OK, kita bicarakan lagi nanti."

Ministry of Foreign Affairs Office. 3 days later, 3.00 p.m

Semenjak kejadian itu, aku jadi kehilangan semangat mengerjakan tugas-tugasku di kantor. Pulang ke apartemen, tidak ada orang. Biasanya ada Kunimitsu yang menyambutku pulang, memelukku dan menarikku ke meja makan untuk makan malam bersama. Sekarang, aku jadi merasa kesepian.

Setiap pulang kerja, aku harus mampir dulu ke rumah sakit untuk menjenguk istriku. Aku sedih sekali melihat dia belum sadar. Dokter bilang kondisi seperti itu karena syok-nya yang sangat berlebihan. Dia kehilangan tenaga untuk bisa sadar, maka harus menunggu paling lama 5 hari sampai satu minggu. Aku menjadi bertambah bingung, ditambah lagi dengan dua pilihan yang kemarin sudah ditawarkan oleh Dr. Mizuki. Karena aku tidak bisa memutuskan sendiri, maka aku berunding dulu dengan kedua orangtua Kunimitsu. Hasilnya…

Ayahnya marah-marah, dan menyalahkanku karena aku tidak bisa menjaga putri mereka dengan baik. Ibunya juga sedih sekali mendengar kejadian ini. Mengenai pilihan dokter, mereka dengan sangat berat hati setuju dengan pilihan kedua. Mereka tidak ingin putri mereka mengalami kejadian yang lebih buruk dari ini. Maka keputusan untuk mengangkat rahim Kunimitsu pun akhirnya disepakati.

Saat ini, aku masih terkurung di ruang kerjaku di kantor Kementrian Luar Negeri. Aku bekerja sebagai wakil dari Head of Public Diplomacy Department (beneran ada lho, tapi nama Head aslinya saya ndak tau…). Aku tidak bisa konsentrasi sepenuhnya dengan pekerjaanku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar ruangan dan bertemu dengan atasanku.

"Aku memperhatikan kau agak kurang bersemangat, Tachibana. Kau bilang istrimu sedang masuk rumah sakit. Bagaimana keadaannya?"

"Dia masih belum sadar sampai sekarang. Err…Pak, saya ingin mengajukan permohonan kepada Anda."

"Silakan."

"Saya ingin ambil cuti selama dua minggu. Terus terang, saya khawatir sekali dengan kondisi istri saya. Bagaimana pun, dia sangat membutuhkan saya sekarang."

"Sejak awal bekerja, kau memang belum mengambil cuti. Dua minggu cukup?"

"Saya rasa cukup."

"OK. Kau bisa serahkan semua pekerjaanmu kepada staff ahli di departemen kita. Jangan khawatir, aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Daripada situasi ini mengganggu, aku memutuskan untuk menyetujui permohonanmu."

"Terima kasih, Pak."

"Salamku untuk istrimu jika dia sudah siuman nanti."

Paviliun Rawat Inap, kamar 205. 4.30 p.m

Mulai detik ini, aku sudah bisa menjalani masa cutiku. Sekarang, aku sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk istriku. Kata suster yang merawat, sebenarnya kondisinya sudah mulai stabil. Tinggal menunggu waktu kapan dia akan membuka mata.

Aku duduk di dekatnya, memegang tangannya seraya berdoa. Jika dia sadar hari ini, maka aku harus mempersiapkan dirinya menghadapi segala kenyataan ini.

Beberapa menit kemudian…

"Ki…ppei…" *lirih*

Suara lirih ini menyadarkanku. Aku melihat ujung-ujung jadi Kunimitsu mulai bergerak, dan dia juga sudah bisa menggerakkan kepalanya.

"Mit-chan…"

Dia mendengarku, dan dia sudah membuka matanya sekarang. Dengan susah payah, dia berusaha memfokuskan pandangannya padaku.

"Kippei…Kippei…"

"Ya, Mit-chan. Aku di sini."

Aku mencium tangannya, kemudian aku membiarkan dia menyentuh wajahku. Aku mengucap syukur berkali-kali, Kunimitsu sudah kembali sadar. Aku melihat dia berusaha untuk tersenyum.

"Selamat datang kembali ke dunia, sayang."

"Aku…di mana?"

"Kau di ruang rawat inap. Di rumah sakit, tepatnya."

"Sudah berapa lama?"

"3 hari sudah kau terbaring di sini. Kau membuatku khawatir karena kau tidak bangun-bangun selama itu."

"Benarkah? Rasanya baru sebentar aku tidur…"

"Yang penting kau sudah siuman lagi, aku senang."

Dia masih terlihat bingung, aku berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya yang lembut. Kedua bola matanya bergerak-gerak seakan mencoba memikirkan sesuatu. Kemudian dia teringat satu hal, dan menanyakannya padaku.

"Kippei, maukah kau menceritakan padaku apa yang sudah terjadi selama ini?"

"Berjanjilah kau mau mendengarkannya. Tapi itu jika kau sudah siap."

"Aku siap, Kippei. Ceritalah, aku akan mendengarkannya dengan baik."

Aku menarik nafas dalam-dalam, karena terus terang aku yang tidak kuat menceritakannya. Aku tidak tahu apa reaksinya nanti setelah mendengar serangkaian peristiwa yang dialaminya sebelum dia terbangun. Sebelum memulai pembicaraan, aku menekan tombol otomatis untuk menaikkan bagian atas ranjangnya supaya dia bisa menatapku dengan posisi duduk.

"Mit-chan. Kau mengalami hari yang berat. Di persidangan itu, kau mendadak sakit perut dan banyak mengeluarkan darah."

"Eh? Darah?"

"Ya, intinya kau mengalami pendarahan hebat. Saking syoknya, kau sampai pingsan. Hasil pemeriksaan dokter…"

"…"

"Kau keguguran."

"Apa? Keguguran? Jadi…sekarang di dalam sini…" *megang perutnya sendiri*

"Mit-chan, aku ingin kau mengikhlaskannya. Janinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kita…kehilangan…"

"Tidak mungkin…"

"Ini memang sangat berat. Tetapi begitulah keadaannya."

"…"

Sekarang, dia terlihat gelisah. Dia menghindari tatapan mataku. Tangannya masih menggenggam tanganku, dan gemetaran. Dia nampak sedih, dan ini menambah sedih hatiku juga.

"Kippei…"

"Ya."

"Maafkan aku."

"…"

"Karena aku tidak menurut padamu, maka inilah yang terjadi. Aku tidak bisa menjaga anak kita. Aku terlalu memikirkan pekerjaanku sampai…"

"Ssshh…sudahlah, semua sudah terjadi."

"Tapi…kita sudah merencanakannya…" *mulai terbata2*

"Ya. Kita memang sudah merencanakannya. Tapi kita bukanlah orang yang sepenuhnya berperan dalam rencana kita. Tuhan mengawasi kita. Dan Tuhan pulalah yang memutuskan akhirnya."

"…"

"Mit-chan…kau harus kuat…"

Belum selesai kami berbicara, pintu kamar terbuka dan masuklah Dr. Inui. Lama sekali tidak bertemu dengannya. Dialah yang selama ini selalu memantau kehamilan Kunimitsu.

"Saya senang sekali melihat Anda sudah sadar, Tachibana-san. Suami Anda ini sangat setia sekali menunggu Anda sampai akhirnya siuman."

"Anda bekerja di sini juga, Dokter?"

"Kebetulan saya mendapat permohonan dari dokter setempat untuk memantau keadaan Anda karena sayalah dokter yang menangani Anda sejak kehamilan pertama."

"Begitu rupanya."

"Nah, saya rasa sekarang sudah saatnya kita bicarakan yang terpenting. Mungkin tadi suami Anda sudah menjelaskan situasinya. Dan sekarang, biar saya yang menjelaskan lebih lanjut."

"Ya, Dok. Dengan senang hati." *masih ragu*

"Anda positif keguguran, dan janinnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Banyak hal yang menyebabkannya, salah satunya adalah kami menemukan kelainan pada rahim Anda."

"Kelainan?"

"Tim dokter yang melakukan kuretase kemarin menemukan adanya miom atau sejenis tumor di dalam rahim. Mereka sudah berhasil mengeluarkannya. Hanya saja, efeknya adalah membuar rahim Anda infeksi."

"Bagaimana mungkin bisa infeksi? Bukankah setelah diangkat miom-nya, semuanya sudah baik-baik saja?"

"Tetapi sepertinya miom ini sudah mulai berkembang di dalam rahim Anda. Kami memang berhasil mengangkatnya, tetapi ada sisa-sisa yang tidak bisa dikeluarkan. Karena kalau kami paksakan juga, kami tidak bisa memberi jaminan untuk keselamatan Anda."

"Tidak mungkin…"

"Ada dua alternatif yang bisa dilakukan. Dengan pengobatan berkala, atau mengangkat rahim Anda keseluruhan. Keduanya pun sama-sama beresiko. Yang pertama, ini akan sangat melelahkan serta menyakitkan. Kalau fisik Anda lemah, ini bisa sangat berbahaya. Dan yang kedua, Anda tidak akan bisa hamil lagi."

"Apa? Kippei, benarkah begitu kondisinya?" *cemas*

"Aku sudah membaca seluruh hasil pemeriksaan dokter, Mit-chan. Aku pun sudah melihat hasil USG untuk rahimmu. Kondisinya memang sudah sangat tidak memungkinkan…"

"…"

"Saya tahu ini berat untuk Anda berdua. Maka itu, kami juga tidak ingin memburu Anda untuk cepat mengambil keputusan. Tetapi sebaiknya Anda segera memikirkannya karena ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Satu keputusan di ambil, maka besok kami akan langsung bertugas untuk Anda."

Yang kulihat sekarang adalah Kunimitsu tertunduk sedih. Kedua tangannya sedikit mengepal di pangkuannya. Dia menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam, dan mencoba berbicara.

"Tinggalkan aku sendiri…"

"Mit-chan…"

"Aku mohon…tinggalkan aku sendiri. 10 menit saja, aku mohon…"

To be continue~


Author's Note : Terus terang, saya gak tega nulisnya...kasian Tez-*dibunuh fansnya Tezuka*