Mohon maaf yang seeeee besar/tinggi/dalem2 nyaaa ato apalah kepada semua pembacaaa! Dikarenakan banyak review yang mengatakan klo banyak typo jadi saya sudah rewrite story ini ^^.
Terima kasih atas reviewnya yang sangat membangun, mudah-mudahan setelah cerita ini di rewrite, pembaca lebih nyaman membacanya…
Dan seperti biasaaa, saya meminta maaf kalau di chapter ini terdapat kesalahan kata/ketikan/informasi dan yang lain sebagainya. Dan saya ingatkan, saya membuka hati saya lebar-lebar untuk review yang menyertakan berbagai informasi mengenai Naruto.
Baiklah, terima kasih dan selamat membaca…
Disclaimer: Hak sepenuhnya adalah milik Masashi Kishimoto-san, sementara saya hanya meminjamnya sebentar….
"Bicara"
'berpikir'
"Kyuubi bicara"
'Pikiran Kyuubi '
Chapter 2
"Egh…." Rintihku kecil.
Perlahan-lahan, mulai kucoba untuk membuka mataku. Aku tak tahu, dimanakah keberadaan ku sekarang. Sejauh mata memandang,hanya ada lorong hitam beratap tinggi tanpa akhir.
"Akhirnya saat ini datang juga, aku sudah menunggumu bocah.."
Terdengar suara raungan bersuara rendah yang sangat keras. Dapat kurasakan kalau tubuhku mulai gemetar, bulu kudukku berdiri, kumerasa kakiku seakan tak kuat lagi menopang berat badanku. Kudapati sesosok mahluk sejenis rubah berekor 9 nampak dihadapanku.
Tubuhnya besar, tingginya sekitar 100 cm (sebesar akamaru yang sudah dewasa -,-). Bulunya yang berwarna merah menyala terlihat sangat lembut. Bola matanya sangatlah indah dan menarik perhatian, mereka berwarna kuning menyala. Pandangan matanya sangat tajam, tetapi bukan kengerian atau ketakutan yang terpancar darinya melainkan ketegasan dan kebijaksanaan.
"Kyuubi?"
Tak ada respon dari sang rubah. Tak lama kemudian sang rubah menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
"Lalu dimana ini?"
"Naruto…"
Akhirnya sang rubah mengeluarkan suaranya. Suaranya sangat feminim dan terasa penuh dengan kesedihan didalamnya.
Sang rubah berjalan perlahan mendekati Naruto, nampak wujudnya mulai berubah dan menyerupai seorang wanita paruh baya. Rambut wanita tersebut berwarna merah menyala, matanya berwarna kuning menyala dan kulinya berwarna putih dan kelihatan halus seperti sutra. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai, ia mengenakan pakaian kimono berwarna hitam dengan motif sakura berwarna pink dibangian bawah serta tulisan kaji yang berlafalkan "kitsune" dibangian belakang tubuhnya.
"Maafkan aku Naruto, ini semua salahku sehingga kau harus hidup menderita seperti ini.. seandainya aku tak ada di dunia ini, kau mungkin dapat hidup dengan damai seperti anak-anak seusiamu yang lain…"
Sang rubah (wanita) berjalan mendekati Naruto dan berlutut dihadapannya. Ia merangkul Naruto kedalam pelukan eratnya. Wajahnya yang bersandar dipundak kanan sang bocah mulai meneteskan air mata.
"Kyu—"
Naruto mendapat jiari telunjuk sang wanita di bibirnya, menghentikan ucapannya.
"Hotaru"
"Eh?"
"Hotaru, itu namaku." Ucapnya seraya melepaskan Naruto dari pelukannya.
"Naruto, sebenarnya tujuanku mengundangmu ke sini adalah untuk memberikan ini. Aku tak tahu kau mau memaafkanku atau tidak tapi.. setidaknya aku mau mencoba menolongmu. Kumohon terimalah ini."
Kyuubi lantas menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Naruto.
"Bukalah.."
Narutopun membuka kotak tersebut untuk melihat isi yang ada didalamnya. Terdapat 3 buah kartu didalamnya.
"Untuk apa ini Hota-chan?"
Wajah sang wanita sekejap berubah menjadi merah padam setelah mendengar namanya panggilannya dari Naruto.
"Bloodline.. didalam dirimu terdapat 3 buah bloodline yang berbeda-beda dan aku tak tahu darimana atau darisiapa kah kau bisa mendapatkan ini semua ."
"Aku memiliki bloodline?" gumam naruto seakan tak percaya.
"Kartu yang berwarna merah itu bernama Shakugan. Untuk penjelasan yang lebihmudahnya, Shakugan merupakan gabungan antara Bloodline klan hyuuga dan uchiha dan tentu saja punyamu ini jelas lebih hebat"
"Kartu yang berwarna hijau itu bernama elemental teretory. Dengan kekuatan ini kau dapat menguasai ke 6 element sekaligus tetapi tentu saja dalam jarak yang ditentukan."
"Dan yang terakhir kartu yang berwarna hitam ini bernama fortuner. Dengan bloodline ini, kau dapat memanggil dewi pengendali waktu dan mengendalikan waktu tetapi tentu saja hal ini mengakibatkan sang pemakainya dapat tidak sadarkan diri selama beberapa hari dikarenankan terlalu banyak memngunakan cakra, bagaimana?"
"Sugoiiiii ! "
Kyuubi hanya tersenyum melihat reaksi dari sang bocah.
"Nah Naruto, lebih baik sekarang kau kembali. Mereka semua sudah menunggu mu dengan cemas, jangan kau buat mereka merasa khawatir lebih dari ini."
"Hmm, baiklah. Tetapi kau kan sudah berjanji padaku bahwa kau akan melatihku."
"*cukle* kita akan memulai latihannya pada pertemuan kita yang selanjutnya dan Naruto, ku ingatkan ya akan lebih baik untuk kita berdua bila kau tidak memberi tahukan siapapun mengenai hal ini, mengerti?"
"Baiklah hota-chan, aku mengert-"
Tak sempat ku selesaikan salam perpisahan ku pada Hotaru-chan, aku dapat merasakan rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku sebagai pertanda kesadaranku muali kembali. Aku tak lagi terbaring dilantai dingin masion Namikaze melainkan di atas tempat tidur beralaskan kain putih yang empuk. Bau atau aroma disekitar kamar itu berbau menusuk seperti bau obat atau alkohol.
Perlahan-lahan kucoba untuk membuka mataku, cahaya yang terpancar dari lampu disekitarnya membuat pandangan ku kabur. Butuh waktu bagi mataku untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada.
Terdengar suara seseorang yang memanggil namaku, ia memanggil namaku berulang kali. Suaranya terdengar seperti suara laki-laki ah- tidak, mungkin anak laki-laki yang seumuran dengan ku ataupun lebih.
Begitu kubuka mata ku, nampak pemuda Uchiha, Uchiha itachi memandang ku dengan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kekhawatiran dan kecemasan. Mata nya tak lagi berwarna merah, melainkan hitam khas klan Uchiha. walau dengan mata hitamnya itu, aku masih dapat melihat keindahan dan ketulusan di baliknya.
"Naruto-sama, apakah anda baik-baik saja? Saya akan segera panggilakan peraw-"
Tak menunggu jawaban dari Naruto, itachi langsung membalikan badannya untuk menemui perawat tetapi langkahnya terhenti ketika mengetahui bahwa pergelangan tangannya di genggam erat oleh Naruto. Itachi dapat merasakan kalau gengamannya sangat lemah, mencerminkan tenaganya yang belum pulih sepenuhnya.
"Jangan pergi, kumohon jangan tinggal kan aku sendiri"
Mata biru lautnya terlihat sayu, pandangan matanya lemah dan tampak kabur sementara tubuhnya sedikit gemetar. Itachi yang melihat hal itu lantas tak dapat berbuat apa-apa, hatinya sakit mendengar perkataan dari sang bocah, entah mengapa ia merasa bersalah. Ia lantas kembali ke tempatnya yang semula, ia duduk di kursi yang berada disamping tempat tidur Naruto.
"Naruto-sama, anda harus beristirahat dahulu karena tubuh anda masih lemah. Saya sudah mendapat perintah dari Hokage-sama untuk menyampaikan berita ini saat anda sudah siuman. Mulai sekarang anda di harapkan tinggal di ANBU HQ"
"ANBU HQ?"
"Tempat itu bisa dibilang seperti asrama tempat tinggal para ANBU. Akan lebih aman bila anda tinggal disana dan mempermudah saya untuk mengontrol pendidikan anda.."
"Aku tak tahu tapi.."
"Setelah kupikir kan matang-matang, aku setuju dengan usulan Itachi, Naruto."
Suara seseorang terdengar seraya nampak sang hokage yang memasuki ruangan
"Kalau kau memang mensetujui keputusan ini, aku akan segera memproses kepindahan mu secepatnya Naruto."
"Aku memang tak keberatan jiji-sama, tetapi nampaknya kau sangat terburu-buru dalam mengambil keputusan ini. Apakah tidak sebaiknya anda pertimbangkan lagi, jiji-sama?"
Sang hokage hanya membalas usulan Naruto dengan senyum hangat nya.
"Aku sudah memikirkan keputusanku ini masak-masak Naruto dan disamping itu, aku melakukan semua ini karena aku khawatir akan keselamatan mu Naruto.."
"Baiklah kalau begitu jiji-sama, arigatou ne…"
Sang hokage lantas merangkul sang bocah kecil.
"Hokage-sama, apakah sebaiknya anda membiarkan Naruto-sama untuk beristirahat terlebih dahulu? Nampak nya kondisi tubuhnya masih sangatlah lemah"
"Ma.. ma.. Sepertinya kau benar Itachi. Baiklah Naruto, beristirahatlah sampai tubuhmu pulih kembali. Jika kau ada keperluan, jangan sungkan untuk menemuiku di menara hokage."
"Hai"
"Baiklah Naruto-sama, saya juga mohon diri. Jika ada perlu apa-apa, saya akan berjaga di depan pintu kamar anda."
Hokage dan sang ANBU muda beranjak keluar dari kamar tersebut. Itachi mematikan lampu kamar tersebut dan membiarkan Naruto untuk beristirahat.
Lampu kamar Naruto sudah padam. Sepi dan keheningan seakan mendominasi ruangan tersebut. Bocah pirang kecil terlihat tertidur lelap di ranjang nya. Jendela kamar yang terbuka membiarkan sinar rembulan masuk menembus kamar tersebut.
Sesosok laki-laki muda Nampak memasuki ruangan tersebut. Wajahnya tak terlihat jelas karena faktor pencahayaan yang sangat minimum. Ia berjalan mendekati ranjang sang bocang. Ia pun berbisik ditelinganya.
"Selamat tidur, Naruto-sama"
Yey! Update…! Bagaimana? Apakah masih terlalu pendek untuk chapter ini ? mohon maaaf sekali untuk chapter yang ke-2.. otak saya lagi mentok-tok-tok, hehehehehe
BTW, karena cerita ini saya rewrite, chapter selanjutnya akan saya gunakan untuk lembar review.. review sangat berharga bagi saya yang bias dikatakan seberharganya seperti emas(?)
Ya sudah, saya ingatkan kembali jangan lupa REVIEW ^^
Ditunggu selalu dan salam dari Ra-chan, ja ne
