Makasih para readers yang mw ngereview fia buatan amati kayak Mey ini…

Yang doyan ma cerita adventure, Mey minta maf karena disini yg terasa baget romance nya… karena Mey ga ahli dalam bidang pertempuran…

Maaf juga kalu selama ni cerita fic buatan Mey tulisannya suka salah atau hurufnya ga komplit, selama ni Mey ga pernah meriksa ulang ketikannya…

Maaf ya, di chap ni mungkin Ichigo agak OOC gitu…

Yang ga suka, mending tinggalin aja ni cerita…

Bagi yang suka… tolong kasih keyakinan buat Mey ngelanjutin ni cerita…

Gomennasai… end… semoga kalian semua suka…

Prisoner of Love

Author : Meyrin Hawk

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Pairing : Rukia K. x Ichigo K.

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo

Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.

Chapter 2 : Say you love me, please…

Tangan mungil itu tak hentinya menggoreskan tinta diatas kertas laporannya. Pikirannya yang kosong tidak menghilangkan kendali tangannya. Cukup mengagumkan, tangan itu tetap mampu menulis dengan benar tanpa cacat sedikitpun.

"Sudahlah Rukia-chan…. Ini sudah larut malam, berhentilah menulis."

Sentuhan tangan lembut seseorang pada punggung tangan Rukia membuat Rukia berhenti menulis.

"Shirayuki…"

Entah sejak kapan… rupanya zanpakutou Rukia telah menjelma menjadi sesosok wanita cantik berkimono putih.

"Pulanglah, Rukia–chan. Hadapi dia…. Menghindar bukanlah gayamu."

Rukia menggeleng pelan. "Tidak, Shirayuki. Aku takut pertahananku akan hancur kalau terus bertemu dengannya."

"Kalau ka uterus menghindar, lama-lama kau tidak mempunyai tempat untuk sembunyi."

"Nani…? Candamu tidak lucu, Shirayuki."

"Aku tidak bercanda. Kau kenal sendirikan bagaimana sifatnya? Dia sangat nekad. Kalau tidak berhasil menemuimu di Kuchiki Mansion, dia pasti akan mencarimu disini."

Rukia tersenyum simpul. Ia kembali mengenang bagaimana nekadnya seorang Kurosaki Ichigo.

"Ya, dia memang selalu bertindak sesuka hatinya. Tidak peduli oaring lain akan suka atau tidak atas sikapnya itu. Dia tetap melakukan apa saja yang diangapnya perlu untuk dilakukan."

"Kalau begitu pulanglah…"

"Haaah… andai saja aku bisa menghapusnya dengan mudah dari pikiranku, aku pasti tidak akan sebingung ini."

"Kau yang membuat masalnya menjadi semakin rumit. Kau ingin merelakannya untuk temanmu, tapi kau sendiri malah membiarkan perasaannya terus berkembang kepadamu."

"Aku sudah meninggalkannya, Shirayuki. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya melupakan perasaannya kepadaku."

"Kalau memang semudah itu, kenapa kau sendiri tidak bisa melupakannya? Kau masih belum menjawab pernyataan cintanya, Rukia-chan…"

"Behenti menghakimiku, Shirayuki!" geram Rukia. "A-aku… aku tidak bisa membohongi perasaanku terhadap Ichigo.

Suara Rukia semakin bergetar, tangisnya pecah dipelukan Shirayuki.

mmmmm

Nafas Ichigo terdengar berat. Ia tiada hentinya menghela nafas, berharap dengan terus melakukan itu berulang-ulang dapat mengurangi sedikit bebannya.

Ini terlalu sulit.

Benar-benar rumit.

Ichigo tidak menyangka pertengkarannya dengan Rukia satu tahun yang lalu akan berkembang seperti ini.

Mereka biasa beradu argument. Makanya pada malam pertengkarannya dengan Rukia satu tahun yang lalu itu, Ichigo membiarkan Rukia pergi begitu saja.

Toh, Rukia Cuma pergi. Paling-paling pagi besok dia sudah kembali untuk memakai baju seagamnya agar bisa pergi sekolah. Pikir Ichigo waktu itu.

Tapi ternyata…. Ichigo salah.

Rukia tidak pernah terlihat lagi setelah malam itu.

Tidak disekolah.

Tidak dirumah.

Tidak juga didalam lemarinya.

Hari itu juga Ichigo berkeliling kota Karakura untuk mencari Rukia. Setelah kakinya terasa letih karena mencari sambil berlari, barulah Ichigo ingat pada satu tempat dimana ia bisa menemukan Rukia.

Tanpa mengulur waktu lagi, Ichigo ber'shunpo menuju toko Urahara. Ia ingin meminta sang pemilik toko membukakan Senkaimon untuknya. Rupanya begitu tiba, ia langsung disambut senyuman manis oleh si pemilik toko.

"Wah… sayang sekali, Kurosaki. Senkaimon baru saja dikunci rapat oleh Yamamoto-taichou. Katanyademi keamanan Soul Soceity." ujar Urahara.

Ichigo berlutut ditanah. Kakinya terasa kehilangan kekuatan untuk menopang berat badannya sendiri.

Barulah Ichigo sadar saat itu, ucapan Rukia sebelum pergi adalah benar. Rukia meninggalkannya…

"RUKIAAA…"

Flashback…

Ichigo memasuki rumahnya dengan tampang kusut. Tekanan roh yang ia keluarkanpun terasa kalau ia sedang marah besar. Bahkan Yuzu yang memanggilnya untuk makan malam ia acuhkan begitu saja.

"Rukiaaa!"

Ichigo membanting pintu kamarnya begitu mendapati sosok Rukia tengah duduk diranjangnya sambil memandang keluar jendela.

"Bisa-bisanya kau , meninggalkanku dan membiarkanku menuggu sampai berjam-jam." marah Ichigo menghampiri Rukia.

Alih-alih meminta maaf, Rukia malah sibuk meringkuk diatas ranjang Ichigo.

"Hoi, Rukia! Kau tidak tuli kan?"

"Aku dengar kok. Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu." akhirnya Ichigo memdapatkan perhatian dari Rukia.

"Kenapa kau tidak menemuiku didepan pagar tadi?"

"Aku harus buru-buru ke Soul Society. Ada informasi yang harus aku ketahui."

"Haah…sudahlah. Apa jawabanmu sekarang?" Ichigo tidak ingin kemarahannya terus berlarut.

"Apa?"

"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu aku menuggu jawaban atas pernyataan cintaku tadi."

"Oh… itu."

"Lalu?" Ichigo nampak tak sabaran.

"Aku tidak tahu."

"Apa? Selama itu aku meniggalkanmu sendirian dikelas tidak membuatmu memikirkan jawabannya?"

"Itu kan cuma hal kecil, tidak perlu semarah itu kan?"

"Hal kecil? Hal KECIL kau bilang?"

"Sudah kubilang jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau membuatku semakin tidak nyaman dirumah ini."

"Kalau kau tidak nyaman, pulang saja ke Soul Socity sana!"

emosi Ichigo sunggguh meledak-ledak saat itu, ia tidak sadar sudah mengucapkan kata 'pengusiran untuk Rukia.

"Baik! Aku akan pergi!" kesal Rukia bersiap-siap keluar lewat jendela kamar Ichigo.

"Pergi sana! Kalau perlu kunci saja Senkaimon rapat-rapat."

"Kau tenang saja, Ichigo. Senkaimon akan terkunci rapat untukmu." ujarnya sebelum menhilang dari pandangan Ichigo.

Flashback end…

Tap tap tap

Lamunan Ichigo buyar ketika mendengar langkah melewati tempat Ichigo berdiri sekarang.

Ichigo sedikit menyipitkan matanya agar bida melihat dengan jelas sosok yang baru melwatinya, karena cahaya penerangan ditempat itu remang-remang.

"Rukia? Kenapa kau disini?"

Rukia membalikan badannya. Ia baru sadar kalau baru melewati Ichigo.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Sedang apa kau malam-malam begini didepan kamarku?"

"Aku baru tahu itu kamarmu. Tapi syukurlah, aku tidakperlu repot-repot mencari kamarmu di mansion seluas ini."

"Huh! Cepat kembali kekamarmu, Kurosaki."

Rukia tidak ingin berlama-lama disana. Berada didekat Ichigo membuatnya merasakan reatsu hangat penuh kerinduan yang terus Ichigo pancarkan. Rukia putuskan untuk lekas masuk kekamarnya.

"Kenapa harus Kurosaki?"

Rukia sedikit tercekat ketika membalikkan badannya. Ternyata Ichigo telah berdiri sangat dekat dengan dirinya. Entah Ichigo berjalan atau ber'shunpo, yang jelas Rukia sama sekali tidak mendengar langkahnya sama sekali.

Ichigo membuat langkah maju, membuat punggung Rukia menabrak pintu dibelakangknya. Kemudian tangan kiri Ichigo bergerak menepel di pintu yang disandari Rukia.

"Ini aneh. Kau yang bertambah tinggi, atau akunya yang jadi pendek." canda Ichigo

"A-pa maumu, Kurosaki? Jangan bersikap kuarang ajar padaku. Cepat kembali kekamarmu!"

Rukia mencoba mengeluarkan suara setenang mungikn, namun sedikit gagal karena merasakan nafas Ichigo berhembur ditelinga kirinya.

"Sudah kubilang, kenapa harus Kurosaki? Bukan seperti itu kau memanggilku dulu."

"Jangan… co…ba-coba… ganggu… a-ku."

Nafas Rukia semakin terputus-putus saat menggertak Ichigo. Ini terlalu mengejutkan bagi Rukia. Ichigo membuat Rukia gugup.

"Sebutkan namaku, Rukia." bisik Ichigo mesra.

"Kurosaki… Ichigo…"

"Bukan yang itu. Kau tahu apa yang kuminta. Katakan, Rukia…"

Ichigo semakin mendesak Rukia. Ia mencium pipi Rukia, berpindah ke rahangnya, lalu leher Rukia. Hal itu ia lakukan dengan pelan agar Rukia juga menikmatinya.

"Ichi… go…" akhirnya Rukia menyerah juga.

Ichigo tersenyum, tapi ia ingin lebih.

"Lebih keras!"

"Ichigo…!"

"Hmp, bagus. Sekarang… katakan kau mencintaiku."

"Tid-dak, kumohon jangan…"

Kesadaran Rukis mulai diambang batas. Terlebih lagi saat itu Ichigo sedikit menghisap dan mengigit leher Rukia.

"Katakan, Rukia…"

"Ichi…"

Pada waktu yang hampir bersamaan, Byakuyab berjalan dikoridor menuju kamar Rukia ketika merasakan dua buah tekana roh mengumpul disana. Satu milik Ichigo yang semakin menguat, dan atu lagi milik Rukia yang berubah-ubah.

Tentu itu sangatlah aneh bagi Byakuya. Ia khawatir makhluk jingga iut sedang mengganggu adiknya.

Langkah Byakuya terhenti ketika hampir tiba didepan kamar Rukia. Ia sedikit tercekat. Ia berani bersumpah kalau semenit sebelumnya pintu kamar Rukia bergerak menutup.

Byakuta tidak langsung membuka pintu kamar Rukia begitu tiba didepannya. Ia masih menghargai privasi adik angkatnya itu.

Wajah Byakuya berubah tegang ketika mendengar rintihan serta isakan pelan suara Rukia dari dalam kamar.

"Rukia, aku berada didalam sana?"

Byakuya sedikit menebalkan tekanan roh miliknya untuk menggertak Ichigo (kalau memang ia beradadidalam). Memdadak suara isakan serta rintihan Rukia tidak terdengar lagi. Tapi belum ada tanda-tanda kalau penghuni kamar akan keluar.

'Sudah cukup! Bocah sialan itu pasti ada didalam.' pikir Byakuya.

Sreeek!

Dengan kasar Byakuya menggeser pintu kamar Rukia…

To be continued…

Silahkan menebak, silahkan menunggu untuk kelanjutannya….

Dan…

Silahkan mereview….

Chapter brikutnya akan mulai terlihat orang ke-3 nya…