Yap, dah chapter 3… tapi belum ada satu pun review yg Mey balas…
Mey merasa bersalah T.T
Makasih para readers yang mw ngereview fic buatan amatir kayak Mey ini…
Karena bagian terbaik buat Mey itu review dari readers semua…
Maaf Mey belum bisa membalas satu per satu review para readers, hape internetan Mey masih rusak…
Tapi Mey pastiin Mey bakalan ngebaca review klian semua setiap kali ngpublish cerita…
Gomen juga Mey juga belum ngasih review di fic langganan Mey, en lagi-lagi karena si hape untuk internetan RUSAK…
Maaf juga kalu selama ni cerita fic buatan Mey tulisannya suka salah atau hurufnya ga komplit, selama ni Mey ga pernah meriksa ulang ketikannya…
Mey juga belum tau endingnya nt mau Ichiruki ato Ichihime…
Kalu skrg sih Mey masih mau Ichiruki, ga tau deh kalu adeknya mey berhasil bujuk Mey bikin ending Ichihime… dia ngebet banget tuh pengen Ichihime…
Oiy…
Di chap 1 ada yg ngreview ttg masalah typo…
JUJUR, saking amatirannya, Mey ga ngerti bagaimana bentuk serta wujud typo itu…
Dengan sgala kerendahan hati… mey harap ada dari diantara para readers yg mau jelasin apa itu typo… karena walaupun Mey dah nulis sejak SMP, tp ttp aja para reders lah yg jauh lebih berpengalaman dr Mey…
Gomennasai… end… semoga kalian semua suka…
Prisoner of Love
Author : Meyrin Hawk
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Pairing : Rukia K. x Ichigo K.
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo
Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.
Chapter 3 : Kaien-dono?
'Sudah cukup! Bocah sialan itu pasti ada didalam.' pikir Byakuya.
Sreeek!
Dengan kasar Byakuya menggeser pintu kamar Rukia…
…
…
Kamar Rukia gelap gulita. Sumber penerangan satu-satunya sat itu adalah cahaya bulan yang menembus kamar Rukia hingga memperlihatkan sosok Rukia yang berbaring diatas futonnya. Dan…
Tidak ada Ichigo disana?
"Rukia, kau baik-baik saja?"
"Nii-sama?"
Rukia bergegas bangkit dari futon tidurnya. Menghampiri Byakuya yang masih berdiri diambang pintu.
Mata Byakuya terus mengamati tiap sudut kamar Rukia. Meskipun tidak ada Ichigo disana, Byakuya masih merasakan keganjilan.
"Aku mnedengar suara aneh dari kamarmu. Ada apa?"
"A-ku… baik-baik saja, nii-sama. Aku hanya mimpi buruk."
Dipandanginya Rukia dari ujung kaki hingga kepala. Rukia sama sekali tidak terlihat seperti baru bangun tidur. Rukia masih memakai shihakuso'nya yang sedikit berantakan, setara dengan futonnya.
Kecurigaan Byakuya kian bertambah. Ia tahu Rukia bukanlah tipe orang yang malas mengganti shihakuso'nya dengan yukata tidur ketika akan beristirahat, selelah apapun Rukia. Terlebih lagi, zanpakutou Rukia masih tersemat manis dipinggangnya.
Orang bodoh mana membawa zanpakutou saat tidur?
"Aku merasakan reiatsu aneh dikamarmu. Aku akan memeriksanya sebentar."
"Ja-ngan, nii-sama!"
Rukia tiba-tiba menghadang Byakuya sebelum Byakuya sempat memijakkan kakinya di dalam. Tentu saja itu menambah keyakinan Byakuya kalau bocah jeruuk itu sedang bersembunyi didalam.
"Aku merasakan reiatsu Kurosaki, Rukia. Aku yakin dia ada disini. Biarkan aku masuk."
"Ta-ta-pi…"
"Ya, aku memang berada disekitar sini, Byakuuya."
Ichigo tiba-tiba sudah berada dibelakang Byakuya. Byakuya berbalik dan memandang dingin Ichigo.
"Tapi aku bukan berada didalam," lanjut Ichigo.
'Sejak kapan dia berada disana?' batin Rukia.
Rukia melirik sedikit tempat persembunyian Ichigo disudut kamarnya tadi, disana ada jendela yang sedikit terbuka. Tampaknya Ichigo menggunakan jendela itu untuk keluar dari kamar Rukia.
"Sedang apa kau malam-malam begini dikawasan kamar Rukia?" selidik Byakuya.
"Mana aku tahu itu kamar Rukia. Bentuk ruangan disini kan sama. Aku bisa kesini saja karena mendengar suaramu yang menyebut-nyebut namaku."
"Cepat kembali kekamarmu, Kurosaki. Aku tidak suka melihat ada orang berkeliaran di mansionku tengah malam begini."
"Ya, ya, ya… dari tadi aku memang ingin kekamarku kok. Tch, kau juga cepat kembali kekamarmu, Byakuya. Kau tidak suka kan melihat orang berkeliaran di mansionmu tengah malam," ledek Ichigo sebelum akhirnya ber'shunpo meninggalkan kamar Rukia.
Byakuya memberikan tatapan –aku-tidak-suka- kearah Rukia, ia baru meninggalkan kamar Rukia setelah yakin Ichigo sudah benar-benar pergi.
"Dasa jeruk idiot," gerutu Rukia mengunci rapat-rapat pintu kamarnya.
mmmmm
Suasana sarapan pagi diruang makan Kuchiki Mansion terasa sepi. Meskipun orang yang ikut sarapan sedikit bertambah dari biasanya, tetap saja tidak bisa memecah kebisuan ruangan itu.
"Mmm… ano… Kuchiki!" akhirnya Orihime memberanikan diri untuk berbicara.
Lucunya, karena sama-sama Kuchiki, baik Byakuya maupun Rukia langsung menoleh kearah Orihime.
"E-eh, maksudku Kuchiki Rukia," Orihime memperjelas siapa yang ia panggil.
Well, Byakuya kembali ke ativitas makannya.
"Ada apa, Inoue?"
"Itu… leher Kuchiki. Kenapa ada bercak merahnya?"
"Uhuk!" tiba-tiba saja Ichigo tersedak makanannya.
"Kau baik-baik saja, Ichigo?" tanya Sado, Ichigo mengangguk cepat.
"Ah, ini?" Rukia meraba bercak merah di lehernya, mencoba bersikap setenang mungkin.
"Mungkin tadi malam digigit nyamuk."
"O… begitu. Aku pikir Kuchiki sedang alergi."
"Aku harap nyamuknya tidak berkepala orange," tembak Byakuya langsung.
Ekor mata Byakuya melirik Rukia dan Ichigo bergantian. Keduanya tidak tersipu ataupun memerah. Mereka berdua tetap sibuk dengan makanannya.
"A… nyamuknya cukup ganas ya," cela Ishida mulai mengerti darimana asal bercak merah di leher Rukia.
Ichigo memasukan makanan kedalam mulut dengan asal. Dia tidak peduli dengan Byakuya yang secara terang-terangan menyindirnya. Ichigo kesal pada Byakuya atas kejadian tadi malam. Semua perjuangan Ichigo hancur begitu saja berkat Byakuya seorang.
Flashback…
"Ichigo… tolong hentikan…" rengek Rukia mencoba menghentikan tindakan gila Ichigo yang terus menyerang lehernya.
Antara sadar dan tidak, Rukia baru menyadari bahwa ia tidak bersandar di pintu kamarnya lagi. Entah sejak kapan ini terjadi, yang jelas sekarang ia sudah berbaring diatas futon tidur di dalam kamarnya.
Futonnya digelar asal-asalan, sepertinya Ichigo menariknya dengan paksa dari lemari penyimpanan saat Ichigo menyeret Rukia kedalam kamar.
Dan sekarang…
Kurosaki Ichigo sedang menyerangnya, mengurung Rukia dibawahnya. Memaksa Rukia mengikuti permintaan yang sendari tadi terus Rukia coba menolaknya.
"Katakan kau mencintaiku, Rukia."
"Aku tidak bisa…"
"Kenapa tidak bisa? Aku yakin kau juga mencintaiku!" kata Ichigo menatap tajam mata Rukia.
Menatap mata Ichigo yang memohon padanya membuat Rukia ingin mengakui perasaanya. Mata Ichigo sungguh rapuh dan putus asa. Rukia tidak ingin melihat Ichigo seperti ini. Ia benar-benar tidak tega.
"A-ku…" Rukia mulai mencoba jujur.
"Katakan saja, Rukia…" bisik Ichigo.
Ichigo bergerak pelan menciumi leher Rukia, agar gadis mungil itu tetap setengah sadar dan lebih mudah mengatakan apa yang ingin Ichigo dengar.
"Aku… a-ku… men… cin…"
Sedikit lagi…
"Rukia, kau berada didalam?"
Suara Byakukya dari balik pintu berhasil membuat Rukia kembali ke realita. And congratulation… Byakuya telah membuat usaha Ichigo yang hampir berhasil menjadi gagal total.
"Nii-sama?"
"Argh! Sial!" geram Ichigo membenamkan kepalanya disisi kanan leher Rukia.
"Ichigo, cepat pergi!"
"Tidak. Sebelum kau bilang mencintaiku."
"Aku mohon Ichigo…" bujuk Rukia putus asa dan hampir menangis.
"Tidak mau…"
"Aku tidak ingin kau mendapat masalah…"
"Aku tidak peduli."
"Aku peduli, Ichigo! Aku peduli padamu…"
Ichigo mengangkat sedikit kepalanya agar bisa menatap mata Rukia. Sungguh senang rasanya mendengar Rukia masih tetap peduli kepadanya.
"Rukia?"
Rukia menarik nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan segenap kekuatannya kembali. Dikecupnya lembut pipi Ichigo.
"Kumohon, pergilah kalau memang kau mencintaiku."
Sreek!
Pintu kamar Rukia terbuka bertepatan dengan bersembunyinya Ichigo disudut tergelap kamar Rukia.
Flashback end…
Sekarang.
Di ruangan ini.
Ichigo tiada hentinya melempar pandang kearah Rukia, berharap gadis itu akan membalas pandangannya. Tapi kenyataannya Rukia hanya menunduk, mengacuhkan Ichigo.
Kepala Rukia baru terangkat ketika seorang pelayan datang membisikan sesuatu ditelinga Rukia. Rukia hanya menberi isyarat agar pelayan itu pergi.
"Aku sudah selesai," ujar Byakuya akhirnya meninggalkan ruang makan.
Begitu tekanan roh Byakuya terasa jauh, Rukia langsung bangkit dari bantal duduknya.
"Kuchiki fuku-taichou!"
Kiyone mendobrak begitu saja ruang makan Kuchiki Mansion.
"Aku sudah tahu, Kiyone. Aku harus menunggu nii-sama pergi dulu," kata Rukia menyambut zanpakutou yang dibawakan oleh pelayannya.
"Ah, kebetulan sekali ada Kurosaki disini. Aku harap Kurosaki mau ikut membantu kami. Ukitake-taichou sudah sangat kewalahan." ajak Kiyone.
"Tidak usah, Kiyone!" sela Rukia sebelum Ichigo sempat menjawab. "Kita tidak punya banyak waktu untuk menunggunya mengambil zanpakutounya yang masih tertinggal dikamar."
"Kuchiki fuku-taichou, saya melihat zanpakutou ini disalah satu ruangan yang saya lewati. Zanpakutou ini mirip dengan milik Kurosaki," kata Sentaro datang sambil membawa zangetsu milik Ichigo.
"Ah, iya. Terimakasih!"
Dengan wajah berseri-seri Ichigo mengambil zangetsu dari tangan Sentaro.
"Ck! Pasti kau meninggalkan kamarmu dalam keadaan terbuka," omel Rukia berjalan keluar.
mmmmm
"Saya sendiri juga tidak tahu mengapa jadi seperti ini. Tiba-tiba saja Hollow bermunculan disana," jelas Kiyone sambil terus mengimbangi kecepatan shunpo Rukia.
Akhirnya mereka tiba di area pertarungan shinigami divisi 13 dengan para Hollow. Tempat itu kacau sekali. Hollow berada dimana-mana. Bagaimanpun bentuk ukuran mereka, 1 Hollow tidak cukup kalau dihadapi oleh 3 atau 5 orang shinigami.
"Benar-benar kacau," Ichigo mencabut zangetsu dari punggungnya. "Saatnya bersenang-senang."
Ichigo turun ke arena pertempuran dengan semangat menyala-nyala. Menebas satu per satu Hollow yang muncul dihadapannya dengan zangetsu.
"Sentaro, Kiyone… sebaiknya kalian bawa saja Ukitake-taichou dari arena pertempuran, biar aku yang menangani semua," perintah Rukia akhirnya terjun ke arena pertarungan.
Sekitar 25 menit berlalu, akhirnya para Hollow berhasil dimusnahkan. Rukia menyibukkan dirinya dengan berkeliling untuk melihat kondisi anggota divisi 13.
Mata Rukia tiba-tiba tertuju ke arah laki-laki berambut orange tengah dipapah Sentaro untuk duduk beristirahat di bawah pohon.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Rukia menghampiri mereka.
"Hehe, hanya sedikit tergores. Tidak perlu khawatir," jelas Ichigo sedikit meringis menahan sakit akibat luka diperutnya.
"Dasar baka!" Rukia mengambil alih tugas sentaro. "Selalu saja ceroboh!"
Rukia terus saja mengomel, mengatai Ichigo bodoh dan sebagainya. Tapi walaupun begitu, tangannya terus mengeluarkan kidou untuk menyembuhkan luka-luka Ichigo.
Ichigo tertawa pelan melihat tingkah Rukia. Sungguh ia sangat merindukan sosok Rukia yang seperti ini.
"Idiot, dimarahi malah tertawa. Jangan-jangan kepalamu terbentur saat bertarung tadi?"
Ichigo terus tertawa sambil menarik Rukia ke pelukannya. Sebenarnya Ichigo ingin lebih erat memeluk Rukia, tapi luka yang belum sembuh sempurna di perutnya itu menghalanginya.
"He-i, apa-apaan kau ini? Apa benar gara-gara terkena serangan Hollow tadi membuatmu jadi aneh?"
Rukia terus berusaha melepaskan diri dari Ichigo, tapi tetap saja ia kalah kuat.
"Jangan banyak bergerak. Kau malah akan semakin menyakitiku," bisik Ichigo di telinga Rukia.
"Apa maumu, baka?"
Walaupun tidak melihat wajah Ichigo, Rukia bisa menebak kalau saat ini Ichigo pasti tengah tersenyum.
Kemudian dengan beruntun Ichigo menciumi pundak Rukia. Shihakuso milik Rukia tidak menjadi halangan untuk menghantarkan rangsangan ke kulit Rukia. Badan Rukia terasa memanas.
"Aku merindukanmu, Rukia," katanya kemudian masih asyik menciumi pundak Rukia, kini berpindah ke leher.
"Ichigo…"
Tangan Rukia bergerak perlahan memeluk punggung Ichigo, memperdalam kedekatannya dengan panas tubuh Ichigo.
Rukia tamapaknya sudah lupa dimana mereka sekarang berada. Rukia kelihatan menikmati tiap sentuhan yang Ichigo berikan. Matanya terpejam, dadanya kembang kempis.
"Yo, Rukia! Aku dengar divisi 13 mendapat serangan Hollow."
Sosok Abarai Renji tiba-tiba sudah muncul dibelakang Rukia, membuat Ichigo menghentikan aktivitasnya.
"Ups! Aku sengaja mengganggumu, Ichigo," ujar Renji tersenyum-senyum penuh kemenangan.
"Ugh… baik taicho maupun fuku-taichou, dua-duanya sama-sama pengganggu." gerutu Ichigo tidak rela melepaskan Rukia.
"Yo, Ichigo! Kapan kau tiba?"
"Baru kemarin."
"Renji, tolong bawa Ichigo ke Unohana-taichou. Aku mau melihat keadaan yang lainnya dulu." Rukia bergegas meninggalkan mereka berdua.
"Wow! Sedingin sode no shirayuki!" ledek Rneji.
"Apakah dia memang seperti itu selama setahun ini?"
"Yeah, begitulah… Untung saja kau gagal mencairkannya barusan. Aku datang tepat waktu," ujar Renji bangga.
"Ck! Dasar babon!"
mmmmm
"Nah… sudah selesai, Kurosaki-kun," ujar Orihime mengubah kembali bentuk shun shun rikka miliknya menjadi jepitan rambut.
"Terimakasih, Inoue."
Ichigo mencoba merapikan kembali shihakuso'nya.
"Benar-benar ramai ya."
Orihime tiada hentinya melempar pandang kesekeliling ruangan. Sekarang mereka sedang berada di salah satu ruangan di Kuchiki Mansion.
Berbeda dari biasanya, ruangan itu kini ramai dipenuhi oleh beberapa orang shinigami yang mereka kenal. Mereka semua sedang mengadakan pesta penyambutan untuk Ichigo beserta kawan-kawannya.
Mengadakan peseta di Kuchiki Mansion memang merupakn hal aneh, mengingat si tuan rumah yang lebih menyukai keheningan dirumah seluas ini. Siapapun pencetus ide gila ini, dia telah sukses membuat ruangan tersebut penuh dengan bau sake.
Di satu sudut bisa dilihat Hitsugaya duduk diam bersama Hinamori, keduanya tidak ingin terlibat dalam pesta minuman keras. Di sudut lainnya ada Ikkaku sedang adu minum bersama Rangiku, wajah mereka berdua benar-benar merah karena mabuk.
"Pesta yang gila," komentar Ishida menyeruput sedikit sakenya.
"Kau mau, Ichigo?" tawar Sado menyodorkan segelas sake ke Ichigo.
"Tidak. Aku tidak ingin minum," tolak Ichigo mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ngomong-ngomong… pemilik rumah belum terlihat dari tadi."
Lagi-lagi Orihime melempar pandang ke penjuru ruangan. Rasanya baru beberapa detik Orihime berbicara, tiba-tiba pintu sudah terbuka hingga memperlihatkan sosok Renji tengah membopong Rukia di pundaknya layaknya karung beras.
"Halo semuaaa… aku membawakan tuan rumah kesini," teriak Renji terus membopong Rukia kedalam.
"Hei, babon! Turunkan aku! Aku harus kembali, Ukitake-taichou membutuhkanku."
Rukia terus memberontak dalam bopongan Renji. Ini sudah melebihi batas. Gara-gara sikap Renji yang seenaknya saja ini, Rukia telah kehilangan wibawa didepan shinigami lainnya. Seisi ruangan menertawankan kekoyolan mereka berdua. Rukia tahu yang ditertawakan itu Renji, tapi tetap saja Rukia juga ikut merasa.
"Tidak apa-apa. Aku sudah miinta izin pada Ukitake-taichou."
"Turunkan aku dasar babon!"
Bruak!
Renji menjatuhkan Rukia hingga terduduk tepat disamping Ichigo.
"Kau tuli ya? Kubilang turunkan, bukan jatuhkan!"
"Santailah sedikit, Rukia. Sia-sia saja aku memohon kepada Kuchiki-taichou untuk memakai ruangannya kalau kau tidak bergabung bersama kami."
"Pertama, aku tidak suka pesta. Kedua, aku tidak suka minum. Dan… yang ketiga, AKU TIDAK ADA WAKTU BABON!"
"Ayolah Kuchiki, sudah lama kita tidak berbicara bersama," bujuk Orihime.
"Paling tidak ikutlah minum bersama kami. Sedikit… saja. Setelah itu kau boleh kembali."
"Benarkah aku boleh kembali kalau minum sedikit?"
Renji mengangguk cepat. Ia tahu Rukia tidak akan minum. Dari dulu Rukia benci sake. Jadi… ini adalah jebakan pas untuk membuat Rukia tinggal.
"Bersenang-senanglah…"
Renji mulai berbaur dengan yang lainnya, meniggalkan Rukia dipojokkan yang tak hentinya cemberut.
Tawa kencang, bau sake, serta tarian babon Renji membuat Rukia mual.
"Siapa sih orang yang tidak suka situasi ini selain aku? Bisa-bisanya mereka senang cuma karena sake?" Rukia bergumam sendiri.
Ia terus mengabaikan Orihime dan Ichigo yang asyik berbicara dari tadi. Ruangan itu terasa semakin memanas bagi Rukia begitu melihat Orihime tersipu dihadapan Ichigo.
'O ya! Ada! Ada orang yang tidak suka acara seperti ini selain aku,' batin Rukia tersenyum-senyum sendiri.
'Biasanya dia akan duduk di teras untuk menghindar.'
Rukia terus memutar memori saat baru menjadi anggota divisi 13. Saat itu semua anggota divisi 13 sedang berpesta. Semuanya saling melempar canda dan tertawa bersama.
Kecuali… Rukia.
Rukia selalu menjadi tunggal diantara yang lainnya. Mereka semua sama sekali tidak berani bergaul dangan keluarga Kuchiki. Mereka selalu saja berbisik-bisik di belakang Rukia.
Rukia lelah terus di 'istimewakan'. Dia ingin disamakan dengan yang lainnya, dia cuma shinigami biasa, dia juga butuh teman untuk berbicara.
Sekedar mencari penyegaran, Rukia menoleh ke arah teras luar. Disana ada sosok fuku-taichou'nya sedang melambaikan tangan kearah Rukiaa, memberi isyarat agar Rukia bergabung bersamanya.
Rukia tersenyum sendiri bila mengingat kenangan itu kembali. Kenangan bersama fuku-taichou terdahulu selalu memberikan warna yang berbeda di hatinya. Sayang sekarang Rukia tidak bisa melihat senyum ramah fuku-taichounya lagi.
'Kaien-dono,' batin Rukia menoleh keteras luar, berharap perasaanya bisa teredam.
'Ti-tidak mungkin!'
Masih di dalam hatinya, Rukia terkejut ketika memandang teras luar. Disana ada sosok seseorang yang melambaikan tangan kearahnya.
'Kaien-dono? Aku pasti berhalusinasi.'
Rukia menepuk-nepuk pipinya, berharap tindakannya itu dapat membuat matanya kembali normal.
Lagi.
Rukia melihat lagi keluar. Meyakinkan dirinya sendiri kalau yang ia lihat hanya halusinasi.
'Masih ada?'
"Kuchiki, kau baik-baik saja?" tanya Ishida khawatir melihat Rukia begitu gelisah.
Perhatian teman-teman Ichigo langsung teralih ke Rukia.
"A-a-ku…"
Rukia tidak tahu ingin mengatakan apa. Ia tidak ingin teman-temannya menganggap ia gila.
"Aku haus!" lanjut Rukia menyambar cawan sake dari tangan Sado yang sudah berisi sake.
Diteguknya habis sake itu.
1 cawan…
2 cawan…
3 cawan…
4, 5, 6, 7… semua belum cukup.
"Kuchiki?" Orihime mulai cemas.
Rukia masih terliat gelisah. Di sambarnya gentong sake yang berada tepat di depannya.
"Oi, Rukia!"
Ichigo mencoba mencegah, tapi Rukia telah berhasil meminum langsung dari gentong sake tadi.
"Ada apa dengannya?" tanya Renji menghampiri Ichigo.
Semua mata masih tertegun memandangi Rukia yang terus meneguk habis sakenya.
"Hik!"
Rukia sedikit cegukkan ketika selesai menghabiskan 1 gentong sake. Ia menggunakan punggung tangannya untuk menyeka sisa sake yang masih tertinggal di bibirnya. Kedua sisi pipinya memerah, sepertinya ia sudah sedikit mabuk.
"Kuchiki, kau baik-baik saja?" tanya Sado.
"Aku?" Rukia menunjuk dirinya sendiri sambil memandangi teman-temannya, lalu beralih ke teras luar. Syukurlah, ia hanya berhalusinasi pikir Rukia.
"Tentu. Aku baik-baik saja," kataya kemudian sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sepertinya pengaruh alkohol mulai bekerja pada diri Rukia.
"Nah… aku kan sudah minum sedikit. Aku mau kembali bekerja. Kaien-dono pasti akan memarahiku kalau aku tidak membantu Ukitake-taichou."
Rukia bangkit dari tempat duduknya dengan sedikit tehuyung. Ichigo ingin membantunya berdiri, tapi langsung di tolak oleh Rukia.
"Tidak, tidak… Jaga saja Inoue. Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri."
Baru selangkah Rukia melangkahkan kakinya, ia langsung ambruk tidak sadarkan diri.
"Dasar cebol! Tidak kuat minum, malah banyak minum."
Ichigo berjalan mendekati Rukia, lalu mnggendongnya bridal style.
"Kalian lanjutkan saja pestannya, aku mengantar si cebol ini kekamarnya dulu," kata Ichigo sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Umm… Kaien-dono?" Rukia bergumam sendri dalam gendongan Ichigo.
"Sudah, tidur saja. Kau masih mabuk."
Rukia malah tertawa cekikikan memandang wajah Ichigo. "Kenapa rambut Kaien-dono sama dengan jeruk aneh itu?"
'Dia benar-benar mabuk,' pikir Ichigo.
Beberapa menit kemudian Ichigo telah tiba di kamar Rukia. Tidak begitu sulit untuk menemukannya karena malam sebelunya dia sudah berada disana.
Ichigo membaringkan Rukia di atas futon tidur. Ia selimuti Rukia agar gadis mungil itu bisa tidur dengan nyaman.
"Oi, Rukia?"
Ichigo setengah terkejut ketika Rukia menarik kerah shihakuso'nya hingga wajah mereka berdekatan.
Ichigo tersipu malu. "Rukia?"
"Kau memang selalu baik padaku," bisik Rukia. "Akan kuberitahu satu rahasia. Aku… mencintaimu…"
"Rukia…" Ichigo semakin tersipu malu.
Kata-kata yang selama ini dinanti Ichigo akhirnya keluar juga dari mulut Rukia. Walau dengan cara sperti ini, itu sudah cukup membuat Ichigo senang. Ichigo percaya, orang mabuk selalu berkata jujur. Perasaannya serasa melambung diatas udara.
Ichigo tersenyum, secara perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Dari dulu ia ingin melakukan hal ini, tapi ia menahannya sampai mendengar Rukia mengakui perasaannya kepada Ichigo.
Ciuman pertama Ichigo, hanya akan ia berikan untuk Rukia. Walaupun kedudukannya sedikit tidak imbang karena Ichigo merebut ciuman pertama Rukia saat ia sedang mabuk, toh setidaknya Ichigo bisa memberitahu Rukia saat gadis itu telah sadar.
"Apakah itu artinya kau juga mencintaiku?"
Ichigo berhenti sebelum berhasil menyentuh bibir Rukia.
'Ada apa ini? Bukankah Rukia sudah tahu kalau aku sangat mencintainya?' batin Ichigo.
Ichigo merasa ada yang tidak beres. Ditatapnya kembali mata Rukia, mata itu begitu sedih. Dan… Ichigo merasa tidak melihat bayangannya di mata Rukia.
Apakah mungkin ada orang lain selain Ichigo dimata Rukia?
"Apakah kau juga mencintaiku… Kaien-dono?"
To be continued…
Mey mengharap kesediaan para readers untuk mereview…
Walaupun… mey bakalan merasa bersalah karena ga tau kapan bisa ngebalas reviewnya…
Yang jelas setelah hape mey disembuhkan…
Mey perlu hape sendri buat ngebalas review,
emang sih, dirumah Mey masih banyak yg punya hape yg bisa internetan…
but… setiap Mey mau pinjem selalu susah, mereka selalu bilang "No, my sista, I wanna check my facebook or twitter. You just wanna see your fanfic. So, next time. Okay my dear…"
Waktu ngepublish chap 2 aja nyolong-nyolong…
Huaaa…
My family ignore my handphone… (Isshin mode on)
Okay….
Review please… ^^
