Selau ucapan terimakasih yang pertama…

Especially to all readers…

I love youuuu… lup you…

Bagi yang suka espada,

Di chap ini ntar muncul, tapi ga bisa semuanya…

Maaf juga kalu kurang sreg gitu ma karakter espadanya, Mey ga terlalu semaniak adek'nya Mey ma espada…

Mey juga mau ngucapin makasih ma adek Mey yg dah membantu Mey buat memahami karekter espada,

maf ya dek, nee-san'mu ini tak bisa mewujudkan keinginanmu untuk menampilkan pair UlquiHime, Mey bener-bener ga dapat feel'nya… ga semudah bikin Ichiruki…

Kalu soal ending Ichihime.. hmm… liat entar aja ya…

Seperti biasa, ntar bagian pertarungannya agak Mey percepat kayak di chap 3,,,

Mey emang bukan spesialis pertarungan…

Hhe, gomen yaaa…

Mungkin ini bakalan menjadi chapter yg membosankan en menyebalkan… u_u

Maaf jug buat Orihime FC, bukan maksud Mey di chap ini buat nyakitin hatinya atau menghinanya… Cuma terpaksa nulis karena tuntutan cerita…

Kalu ma Ichihime mey netral kug,

Chap ini mey persembahin khusus buat adek'nya Mey…

Gomennasai… end… semoga kalian suka…

Selamat membaca…

Prisoner of Love

Author : Meyrin Hawk

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Pairing : Rukia K. x Ichigo K.

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo

Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.

Chapter 5 : Tactics?

"Berhenti menyentuhnya, Kurosaki!" ujar seseorang dengan mata berkilat meninju rahang Ichigo.

Flashback

Renji tengah duduk bersandar di sebuah pohon. Entah mengapa malam ini sulit baginya untuk tidur. Dilihatnya Sado yang telah tertidur pulas bersandar di sebuah batu. Renji cukup heran, bisa-bisanya badan Sado tertidur hanya dengan bersandar disebuah batu yang ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran badan Sado yang besar.

Ada apa dengan dirinya?

Dia hanya ditolak seorang Kuchiki Rukia. Kenapa dia bisa merasa sangat terganggu seperti ini?

Semua serba tidak jelas bagi Renji. Ia belum terlalu puas dengan alasan penolakan Rukia. Rukia bilang bukan karena Ichigo. Lalu… karena apa?

"Lho, Ishida?" Renji sedikit terkejut melihat Ishida baru datang dari arah sungai.

"Kau belum tidur Abarai?"

Renji menggeleng pelan. "Kau dari mana?"

"Aku baru dari sungai. Aku merasa mendengar suara aneh dari sana saat ingin buang air kecil."

"Tch! Mungkin itu hanya suara burung hantu atau air."

"Yah… aku rasa begitu."

Ishida kembali merebahkan badannya diatas rumput, semenit kemudian ia sudah tertidur.

"Huh! Kenapa mereka mudah sekali tertidur," gerutu Renji bangkit dari tempat duduknya.

Renji tahu ia tidak akan bisa tidur selama beberapa menit kedepan. Daripada ia terus duduk diam disana, lebih baik ia patroli sekaligus jalan-jalan malam. Itu jauh lebih menyegarkan.

Sepuluh menit sudah Renji mengitari hutan tempat mereka beristirahat dengan menggunakan shunpo. Badannya sudah cukup lelah, mungkin dia sudah bisa tertidur setelah ini, pikir Renji.

"Baik! Setelah cuci muka, aku langsung tidur," ujarnya berjalan kearah sungai.

Renji mencuci mukanya dipinggiran sungi. Air sungai begitu jernih hingga ia mampu melihat pantulan wajanya yang menyedihkan di permukaan air.

'Suara apa itu?' batinnya mencari-cari sumber dari suara aneh yang samar-samar ia dengar.

Renji berhasil menemukan sesosok mankhluk berambut orange tengah menyandarkan tangannya di sebuah pohon. Kepalanya tertunduk, dan nafasnya terputus-putus.

'Ichigo?' Renji bangkit berdiri dari pinggiran sungai.

'Sedang apa dia disana? Apa dia kurang enak badan.'

Renji masih mengamati Ichigo dari jauh, ia masih belum yakin dengan keadaan Ichigo. Mungkin saja dia tidak sakit, atau… bisa saja dia sedang menangisi kekalahannya dengan Renji sore tadi.

Renji tersenyum puas bila membayangkan kemungkinan yang terakhir. Selama ini Ichigo memang jarang di tolak oleh Rukia, jadi wajar saja ia menangisi nasibnya.

Namun senyum Renji berangsur pudar begitu merasa bukan hanya Ichigo seorang disana. Renji juga bisa mendengar nafas orang lain disana, terlebih lagi… beberapa detik kemudian Renji melihat tangan seseorang bergerak menelusuri punggung Ichigo. Sungguh sangat mesra.

"Ichi…goh…"

Muka Renji menegang. Renji mengenal suara desahan itu. Tangan mungilnya, shihakusonya. Renji tidak akan pernah salah dalam mengenali sosoknya.

Dengan penuh emosi, Renji menghampiri Ichigo. Telinganya semakin panas begitu mendengar orang itu semakin gencar menyebut-nyebut nama Ichigo. Saat itu juga, Renji ingin membunuh Ichigo.

Dengan kasar Renji menarik kerah shihakuso Ichigo dari kebelakang. Tentunya Renji bisa memisahkan mereka berdua dengan mudah karena saat itu Ichigo sudah lemah dan setengah sadar.

"Tidak! Jangan berhenti…" rengek gadis itu ingin meraih punggung Ichigo kembali, tentu saja Renji tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Berhenti menyentuhnya, Kurosaki!"

Dengan sekuat tenaga Renji meninju rahang Ichigo hingga makhluk orange itu terjengkang di tanah.

Flashback end…

Rukia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tubuhnya merosot ke tanah. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Ia membalas ciuman Ichigo, ia tidak berusaha menolaknya, dan yang lebih parah… Rukia merengek saat Ichigo menghentikan ciumannya. Dan rengekannya seperti seorang anak kecil yang mainannya telah dirampas oleh seseorang, sungguh memalukan.

Dirampas?

Tunggu dulu! Rukia baru ingat, Ichigo tidaklah menghentikan ciumannya. Lebih tepatnya bukan karena Ichigo ciuman mereka jadi berakhir, tapi karena ada seseorang yang memisahkam mereka berdua secara paksa.

Renji.

Yah, karena Renji ciuman mereka berdua berakhir. Rukia baru sadar kalau semenit yang lalu Renji meninju rahang Ichigo.

"Renji, hentikan!" seru Rukia ketika melihat Renji hendak meninju Ichigo yang belum sepenuhnya sadar untuk kedua kalinya.

Baik Renji maupun Ichigo, keduanya menoleh kearah Rukia. satu mnatap dengan tatapan marah, dan yang satunya lagi dengan tatapan bingung.

"Kenapa kau membohongiku Rukia?" bentak Renji. "Kau bilang semuanya tidak ada hubungannya dengan Ichigo, tapi kenapa kalian berdua berciuman?"

Renji menatap tajam Rukia, sementara Rukia hanya bisa menunduk untuk menyembunikan rasa malunya. Sungguh ia merasa sangat bersalah telah membohongi sahabatnya itu.

"Jawab aku, Rukia!"

"…"

"Tch! Seharusnya kau sudah tahu jawabannya setelah melihat kami berciuman, Renji," ujar Ichigo berdiri sambil membersihkan debu tanah dari shihakusonya.

"Akulah yang memiliki Rukia," lanjut Ichigo tersenyum bangga.

"Tidak! Rukia bilang dia tidak mencintaimu! Dia bilang akulah yang memilikinya!"

"Hentiikan omong kosongmu, Renji. Kau sudah melihat buktinya tadi."

"Kalau begitu kenapa tidak kita buktikan secara langsung saja," ujar Renji mencabut zabimaru dari sarungnya.

"Hentikan…" ujar Rukia lirih.

"Siapa takut," Ichigo ikut-ikutan memungut zangetsu yang ia letakkan di tanah tadi.

"Hentikan!" bentak Rukia akhirnya mendapatkan perhatian dari mereka berdua.

"Tenanglah, Rukia. Kita akan pulang ke Karakura setelah aku mengalahkannya," kata Ichigo penuh percaya diri.

"Cih! Akulah yang akan membawa Rukia, Ichigo."

"Kalian berdua tidak bisa dengar ya? Aku bilang hentikan! Berhentilah bersikap seperti anak kecil? Kalian pikir dengan berkelahi bisa menyelesaikan masala apa? Kau Ichigo!" Rukia menatap tajam Ichigo.

"Kita berdua hanya berciuman. Itu bukan bearti aku menyukaimu dan sudah menjadi milikku."

"Tapi, Ruki-"

"DIAM!"

Kini pandangan Rukia beralih ke Renji. "Dan aku Renji! Memangnya kenapa kalau aku berciuman dengan Ichigo? Aku bukan milik kalian berdua, aku bebas ingin berciuman dengan siapa saja."

"Tapi kau membohongiku Rukia! kau bilang kau tidak memiliki perasaan apapun pada Ichi-"

"Aku memang tidak mempunyai perasaan terhadap Ichigo," potong Rukia.

"Tch! Berhentilah berakting, Rukia. Kau pikir setelah ciuman kita, kau bisa membongiku dengan mudah?" cela Ichigo.

Rukia tersenyum licik. "Aku shinigami, Kurosaki…"

Sepertinya Rukia yang lama sudah kembali lagi.

"Aku hanya dilatih untuk membunuh, shinigami sama sekali tidak pernah memiliki atau belajar tentang perasaan. Kita memang berciuman, tapi… apakah kau yakin aku memakai perasaan saat menciumu?"

Ichigo belum bereaksi apapun. Dia sungguh bosan menghadapi kepura-puraan Rukia. Mana mungkin ada seorang gadis yang bisa melupakan begitu saja ciuman pertamanya yang sangat menakjubkan.

"Sepertinya kau belum percaya, Kurosaki. Baiklah!" Rukia berjalan kearah Renji. "Akan ku buktikan aku bisa mencium siapapun yang kumau."

Rukia menarik shihakuso Renji dan mulai berjinjit untuk menciumnya.

Rukia tahu ini salah, ia sudah memanfaatkan Renji. Tapi setidaknya inilah cara terbaik untuk memusnahkan perasaan cinta Ichigo kepadanya. Dan mungkin… ia bisa belajar mencintai Renji setelah Ichigo mencintai Orihime

"Berhenti membuatku marah, Rukia!" Ichigo telah bershunpo ke arah Rukia untuk menariknya menjauh dari Renji.

"Tch! Berhenti menggangunya, Ichigo!" Renji ikut-ikutan menarik Rukia.

"Lepaskan dia, Renji!"

"Kau seharusnya melepaskan Rukia!"

Terjadi aksi saling tarik menarik antara Ichigo dan Renji. Mereka berdua tidak sadar kalau yang diperebutkan meringis kesakitan karena pergelangan tangannya sudah memerah.

"Aku bukan mainan! Berhentilah memperbutkanku! Yang aku cintai bukanlah kalian bedua! Aku mencintai laki-laki lain!" bentak Rukia menarik paksa tangannya kembali.

"Jangan berbohong lagi, Rukia," ujar Renji.

"Aku tidak bohong! Dari dulu hingga sekarang aku mencintai K-," kata-kata Rukia terhenti begitu melihat Ishida datang dengan wajah panik.

"Apa yang kalian bertiga lakukan disini!" marah Ishida. "Kita harus ke tempat Sado dan Inoue, ada banyak Hollow yang muncul disana."

"Ayo kita kesana!" ajak Rukia membawa Ishida pergi. Ia sudah muak meladeni tingkah kekanakan Ichigo dan Renji.

mmmmm

"L Ditro!" Sado melancarkan serangannya ke Hollow.

"Inoue, sebaiknya kau bersembunyi saja," saran Sado berusaha melindungi Orihime dari serangan Hollow.

"Umm… tidak. Aku akan tetap disini untuk mengobatimu."

"Sado!" panggil Rukia baru tiba bersama Ishida.

"Bagaimana bisa ada Gilliant muncul disini?" tanya Rukia mulai menebaskan zanpakutounya.

"Entahlah… kita beruntung tidak ada Ajucas atau Vasto Lorde yang muncul bersama mereka."

"Inoue, awas di belakangmu!" teriak Ishida.

Dengan ekspresi terkejut, Orihimee menoleh keblakang. Di belakangnya sudah menanti sesosok Hollo siap menebasnya. Orihime teduduk pasrah.

"Getsuga Tenshou!"

Dengan sekali serangan, Hollow tadi telah musnah.

"Kurosaki-kun!"

"Inoue, kau baik-baik saja kan?" tanya Ichigo membantu Orihime berdiri.

Orihime mnggeleng cepat. "Aku baik-baik saja. Terimaksih, Kurosaki-kun."

Rukia memandang mereka berdua dengan tatapan cemburu, ia tidak sadar ada Gillian yang sedang menembakkan cero kearahnya.

"Rukia!" Renji muncul untuk menangkis cero. Renji menyeringai menatap Ichigo. "Kau tidak apa kan, Rukia?"

"Ya, aku baik-baik saja."

"Berhenti berbicara! Cepat habisi hollow-hollow itu!" omel Ichigo.

"Kau cemburu, Ichigo?" goda Renji.

"Renji, jangan mulai lag-… Ichigo!" omelan Rukia berubah menjadi jeritan ketika melihat sosok espada muncul di belakan Ichigo.

Dengan cepat Rukia ber'shunpo kebelakkang Ichigo untuk menangkis serangan espada tersebut.

"Gotcha! Shinigami yang pernah membekukanku ternyata," ujar espada tersebut menhempaskan badan Rukia ke pohon besar.

"Grimmjow?" Ichigo nampak terkejut.

"Kurosaki Ichigo. Aku beruntung telah dihidupkan kembali, mari kita lanjutkan pertarungan yang dulu pernah tertunda."

"Inoue, cepat tolong Rukia," perintah Ichigo tanpa mengalihkan pandangan dari Grimmjow. "Akan ku pastikan kau akan musnah kali ini."

Ichigo mengacungkan zangetsu ke arah Grimmjow.

"Menarik," gumam Grimmjow. "Cero!"

Selagi Ichigo dan Grimmjow asyik bertarung, Orihime berlari ketempat Rukia dilemparkan tadi.

"Biarkan dia, onna."

Sesosok espada muncul lagi. Kini ia muncul dihadapan Orihime dengan wajah dingin tanpa ekspresi, sama seperti dulu.

"Ulquiorra…" gumam Orihime.

"Inoue, cepat obati Rukia!"

Renji muncul bersama Ishida untuk menghadapi Ulquiorra.

"Huh… apa mau kalian, sampah?" ujar si muka pucat.

"Menghabisi kalian… Mengaumlah zabimaru!"

Renji mulai melancarkan serangannya bersama Ishida kearah Ulquiorra.

Pertarungan sengit terjadi di berbagai pihak. Kedua kubu saling menyerang dengan sangat berutal, hingga memunculkan ledakan dimana-mana.

….

….

"Ichi… go…" gumam Rukia mulai sadarkan diri.

Ternyata Rukia telah pingsang akibat hempasan Grimmjow tadi. Perlahan-lahan Rukia membuka matanya. Rukia telah melewatkan banyak pertarungan karena tak sadarkan diri. Ledakan akibat pertempuran tidak terdengar lagi. Kini yang tersisa adalah sosok teman-temannya tengah terbaring lemah tidak berdaya.

Orihime tergeletak tidak jauh darinya, ia masih sadar, tapi sudah tidak berdaya lagi. Tampaknya Orihime mendapat serangan ketika hendak mengobatinya.

Tidak jauh dari sana, Rukia juga bisa melihat Ichigo. Makhluk orange itu jauh lebih mengerikan dibandingkan teman-temannya yang lain. Luka menganga terlihat jelas di punggungnya karena badannya tertelungkup.

"Ichigo!" jerit Rukia bankit berdiri, berlari kearah Ichigo.

"Wah, wah… sudah sadar ya, Kuchiki?"

Sebuah suara ramah tapi menusuk memperlihatkan sosok Ichimaru Gin dari balik pohon di dekat Ichigo.

"Ka-u… Ichimaru Gin…"

"Ru-ki-aaa… cepat lari!" teriak Ichigo.

"Tenanglah shinigami pengganti," Tousen Kaname telah ber'shunpo di samping Ichigo hanya untuk sekedar menginjak kepala Ichigo.

"Apa maumu?" tanya Rukia dingin.

Gin tertawa pelan. "Semakin lama kau semakin mirip Kuchiki-taichou, walaupu… kau sendiri bukan anggota asli keluarga Kuchiki."

"Katakan dengan jelas apa maumu, Ichimaru!" bentak Rukia.

"Santailah sedikit, Kuchiki. Aku kemari hanya ingin memberikan kejutan untukmu."

Rukia menyeringai. "Kejutan?"

"Lihat… siapa yang kubawakan untukmu."

Gin sedikit menggeser posisi berdirinya, memperlihatkan sosok orang lain yang tidak begitu terlihat Rukia sebelumnya.

Sosok itu tinggi tegap, kulitnya putih, matanya yang bewarna aqua green sangat sempurna dengan rambun raven hitamnya.

"Lama tidak berjumpa, Kuchik," sapanya.

"Ka… Kaien-dono?"

(author : jangan harap Mey bakalan membayangkan Kaien muncul dengan pakaian aneh berenda serta topeng espadanya itu. Yang Mey bayangkan sekarang adalah Kaien muncul dengan pakaian seperti Ulquiorra Schiffer atau Szayel Aporo Granz. And always… tanapa lobang di dada)

'Dia Shiba Kaien?' batin Ichigo mencoba berdiri, tapi lagi-lagi Tousen menginjak kepalanya.

"Ya, Kuchiki. Aku disini untukmu."

"Ini tidak mungkin!"

"Aku memang berada disini, Kuchiki. Aku nyata."

Tiba-tiba Rukia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suara pelah, lebih tepatnya suara tangisan terdengar dari mulut Rukia. Siapapun yang mendengarnya pasti akan percaya kalau Rukia tengah menangis.

"Ku-chiki…?"

Namun suara tangisan itu berangsur-angsur berubah menjadi tawa cekikikan, setahap demi setahap berubah mnjadi tawa kencang dari bibr Rukia.

"Terima kasih kau sudah mengajakku bercandan lagi Kaien-dono.." ejek Rukia. "Atau… mau kupanggil Aaroniero Arruruerie?"

Kaien menggeleng-gelenkan kepalanya. "Aku tidak sedang ingin bercanda kali ini. Kau boleh tertawa sepuasmu, Kuchiki. Tapi kau tidak bisa menyangkal kalau Aaroniero Arruruerie sudah tewas kau bunuh di Hueco Mundo."

"Aku bukan Kuchiki Rukia yang dulu lagi, Kaien-dono…"

Kaien memandang sendu Rukia. "Aku kecewa padamu, Kuchiki. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya aku ini adalah Shiba Kaien? Aaroniero telah musnah ketika aku di hidupkan kembali oleh Ichimaru-sama."

"Itulah yang membuatku tidak prcaya padamu. Karena orang mati itdak mungkin dapat di hidupkan kembali."

"Perlu kau ketahui, Kuchiki. Aku menggunakan kekuatan Hougyoku untuk menghidupkan mereka semua," sela Gin. "Lihatlah semua espada disekelilingmu, mereka semuanya telah musnah kan sebelumnya?"

Rukia tertegun, matanya dengan waspada melempar pandang kearah Ulquiorra yang berdiri tidak jauh dari Orihime, lalu ke arah Grimmjow tengah menduduki Sado yang badannya tertelungkup.

'Benar! Mereka semua dulu sudah musnah karena Ichigo,' batin Rukia.

"Aku menghidupkan mereka kembali."

"Untuk apa?" bentak Rukia. "Kaien-dono yang ku kenal tidak akan mau dihidupkan kembali bila harus menjadi seorang penghianat. Jawab aku, Kaien-dono!"

"Kau tahu jawabannya, Kuchiki," kata Kaien selangkah demi selangkah berjalan mendekati Rukia.

"Jangan mendekat!" ancam Rukia mengacungkan zanpakutounya.

Kaien tetap melangkah.

"Aku bodoh, Kuchiki. Aku pengecut, aku menyiksamu tanpa membalas perasaanmu."

Langkah Kaien berhenti tepat di hadapan Rukia. Dengan pelan diturunkannya zanpakutou Rukia.

"Aku pikir… kalau aku diam, aku tidak menyakiti kau ataupu Miyako. Ternyata aku salah. Aku menyakitimu, aku membohongimu, dan aku menipu perasaanku."

"Aku tidak mengerti apa maksumu, Kaien-dono," Rukia mendongakkan kepalanya untuk menatap langsung mata Kaien.

'Tidak! Jangan lihat dia, Rukia! Lihat aku saja!' batin Ichigo terus berusaha mengangkat kepalanya untuk berteriak kearah Rukia, tapi tetap tidak bisa karena Tousen yang memijak kuat kepalanya.

'Jangan dengarkan dia!'

"Aku mencintaimu, Kuchiki."

Tiga kata yang meluncur dari mulut Kaien barusan berhasil membuat Rukia dan Ichigo membatu.

"KArena itulah aku mau dihidupkan kembali walaupun sebagaipenghianat. Agar aku bisa bertemu denganmu, memandang matamu, merasakan aroma tubuhmu. Dan… mengatakan bahwa aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Melebihi cintaku terhadap Miyako, bahkan terhadap hidupku sendiri."

"Rukia jangan percay… hmp!" lagi-lagi Tousen membenamkan kepala Ichigo ke tanah.

"Tidak! Kalian pasti bohong!" rukia berusaha membangun pertahanannya berkat teriakan Ichigo.

Kaien menggelelng cepat. "Tidak, Kuchiki. Itu tidak benar! Tujuan kami kesini hanya inigin membawamu bersamaku. Ichimaru-sama membantuku karena aku sudah memohon padanya."

"TIDAK! Kalian ingin memperalatku agar menyerang teman-temanku sendiri kan?"

"Ck, ck, ck… hargailah sedikit jeih payahnya, Kuchiki," kata Gin.

"Buat apa kami memperalatmu kalau Shiba menginginkanmu. Lagi pula…" senyum Gin betambah lebar. "Perasaanmu akan jauh lebih baik bila ikut bersama kami."

"Cih! Benar kan, kalian mau memanipulasiku," cela Rukia berusaha menutupi kebimbangannya.

"Aku bicara fakta, Kuchiki. Buat apa kau bersama terus mereka kalau hal itu akan membuatmu semakin terluka."

"Tutup mulutmu, Ichimaru!"

"Tch! Kenapa? Kau takut aku membongkar kejahatan mereka terhadap dirimu?"

"DIAM!"

"Mereka semua harus tahu, Kuchiki. Mereka bukanlah temanmu yang sesungguhnya."

"Berhenti menghina teman-temanku!"

"Teman? Siapa yang kau sebut teman itu? Manusia bertangan Hollow dan Quincy itu?"

Gin melirik Sado dan Ishida yang masih tergeletak lemah.

"Mereka bahkan hanya mengambil sedikit andil dalam kehidupanmu. Atau… gadis pemilik shun shun rikka? Inoue Orihime?"

Dengan senyum lebar Gin memberi isyarat agar Rukia melirik Orihime.

"Lihat betapa cantiknya dia? Apakah menurutmu dia akan cocok untuk bersama Kurosaki Ichigo? Kau memberikan Kurosaki padanya kan? Apakah kau lupa apa yang dia lakukan padamu?"

Terdengar isakan tangis tiba-tibak. Sepertinya Orihime menangis mendengar perkataan Gin barusan.

"Lihat… dia menangis, pintar sekali dia memilih tempat untuk dikasihani olehmu. Dengan cara seperti ini kan dia membuatmu melepaskan Kurosaki. Dia bahkan tidak memberitahu Kurosaki kalau dia melihatmu berlari menangis setelah kau melihat dia berduaan dengan Kurosaki di depan gerbang sekolahmu, di hari terakhirmu di Karakura. Apakah itu yang disebut teman?"

"Cukup! Jangan di teruskan!" bentak Rukia mennutup telianganya rapat-rapat. "Aku tidak mau dengar lagi!"

"Kau harus mendengarnya, Kuchiki. Kau tahu semua itu benar. Teman-temamu tidak tahu seberapa hancurnya hidupmu setahun belakangan ini."

"Diam! Aku bilang diam!"

Rukia sudah terlihat putus asa dan hampir menangis. Tapi itulah yang membuat Gin semakin bersemangat untuk mengatkan semuanya.

"Kuchiki Rukia, seorang gelandangan dari Rukongai distrik 59. Saat kecil kau dibuang oleh kakakmu, setelah besar kau tidak bisa hidup bebas karena aturan keluarga Kuchiki. Selalu dijauhi dan dihindari oleh para anggota akedemi shinigami. Itu sudah cukup membuatmu buruk, teman-temanmmu malah datang dan memperburuk semua itu."

"Hentikan! Aku bilang hentika! Hentikan, hentikan, hentikan!" Rukia terus membentak-bentak tanpa sadar kalau air matanya sudah menetes sejak tadi.

"Hentikan… hiks, hiks…" isak Rukia menutup matanya rapat-rapat.

Kaien menyingkirkan tangan Rukia perlahan-lahan dari telinganya. Matanya yang serupa air lautan menatap lembut iris violet Rukia.

"Aku disini, Kuchiki. Aku mencintaimu. Ikutlah denganku, lupakan teman-temanmu, lupakan Kurosaki Ichigo. Aku berjanji akan membuatmu jauh lebih bahagia dari pada sat bersama Kurosaki Ichigo," bujuk Kaien.

"Ka… Kaien-dono…"

Kaien melingkarkan tangannya di pinggang Rukia. Ditatapnya lekat-lekat violet indah yang sudah basah karena air mata. Lalu… Kaien menunduk seakan-akan hendak mencium Rukia.

Entah apa yang terjadi, semenit kemudian Rukia jatuh pingsan dalam pelukan Kaien.

"Gin, kita harus pergi. Pasukan dari Soul Society mendekat," ujar Tousen melepaskan pijakan kakinya dari kepala Ichigo.

"Kau dengar, Shiba?" tanya Gin.

"Ya, aku tahu," jawab Kaien perlahan-lahan membaringkan Rukia diatas rumput.

"Cih! Berhentilah memandangi gadis itu, Quatro!" cela Grimmjow ke Ulquiorra yang tiada hentinya melirik Orihime dengan tatapan tanpa ekspresi seperti biasa.

"Cepat bukakan Gargantanya untuk kami!"

"Diam kau Sexta! Aku tahu tugasku!" ujar Ulquiorra mulai membukakan Garganta.

Sebelum Garganta tertutup, Kaien menoleh kebelakang untuk melihat wajah Rukia.

Ichigo sepenuhnya sadar saat itu. Ia melihat semua yang terjadi.

Ichigo melihat Rukia terbaring tidak jauh darinya. Ia ingin bediri untuk menjangkau Rukia, tapi ia tidak bisa. Bhkan merangkak sekalipun ia tidak bisa.

Ia hanya bisa memandang dari jauh. Melihat sosok Rukia terbaring lemah dengan sisa air mata yang masih bercetak di wajahnya.

Ichigo merasa lemah.

Ia sama sekali tidak berdaya. Ia telah membiarkan Ichimaru Gin menyiksa batin Rukia, dan ia hanya bisa menonton. Memanggil nama Rukia saja ia tidak bisa.

"SIAL!" teriak Ichigo sekencang-kencangnya.

To be continued…

Benar-benar menyebalkan, isn't that?

Mey paling a suka nulis bagian yang sedikit IchiRuki

Setelah chap ini Rukia bakalan menentukan pilihan siapa yang bakalan Rukia pilih…

Mey ga bisa janji orang itu Ichigo…

Di chap 6 juga bakalan ngebuka gimana perasaan Rukia sesungguhnya ma Ichigo, tapi bukan bearti chap depan dah tamat…

Mungkin juga setelah chap ini Mey bakalan Hiatus dulu, mengingat nee-san yang gi butuh ma lap topnya…

Poknya semua tergantung ma nee-san'nya Mey, kalu ne lap top di bawnya ke temapat kost, Mey terpaksa hiatus…

So gomennasai kalu Mey ternyata terpaksa hiatus di chap yang menyebalkan…

Buat Ichiruki FC bisa sedikkit tenang, Mey dah nentuin gimana endingnya kalu ni cerita Ichiruki…

Tapi kalu misalnya mey dapet ending yang lebih bagus di Ichihime… I can't say anything…

Semua itu tergantung ma permintaan en mood Mey nanti…

So,

I need review… ^^