Selau ucapan terimakasih yang pertama…
Especially to all readers…
I love youuuu… lup you…
Huwaaa… gomen!
Jangan bunuh Mey soal endingnya…
Mey cuma lagi nyari ending yang tepat kug, sementara ini Mey belum mau ngubah ni fic jadi pair Ichihime…
Suweeer dah….
Mey juga minta maaf karena di chap 5 Ichigo mudah dikalahkan,
Yah… semua itu karena pecahan Hougyoku, espada yg muncul sekarang kekuatannya dah jauh beda ma espada yg dulu…
Soal nama jurus" Mey juga minta maaf kalu tulisannya salah ( khan dah dibilang kalu Mey bukan spesialis pertarungan)
Mey dapet pengetahuan tentang pertarungan dari adek Mey semua, tapi kayaknya Mey sedikit dikerjain ma adek Mey gara-gara dari kemarin ga ada bikin pair kesukaan dia…
Gomen ne, my sista… ;p
Chap ini juga sedikit menyakitkan,
Yah… banyak tentang kebohongan Rukia, sakit hati, end… ga banyak Ichiruki…
Mey harap readers mau bersabar untuk menuggu kehidupan bahagianya…
Disini juga readers bakalan tahu kenapa Rukia ditinggalin gitu aja ma Kaien di chap 5
Seharunya chap ini mesti banyak ngeluarin emosi, tapi kayaknya Mey ga terlalu pandai bikin fic yang bisa mancing emosi readers pada kelaur…
So, I just can say gomennasai…
Maaf buat Inoue FC… u_u
Mey belum bisa buat dia bahagia di chap ini…
Mungkin readers nti agak dikit bingung karena Mey banyak gunain tokoh yang ga cuma punya satu panggilan..
Ex. Shiba Kaien = Aaroniero = Novena Espada
Mey bukannya mau mempersulit, gomen yah…
Mey yakin readers lebih tahu dari Mey tentang espada… ^^
Gomennasai… end… semoga kalian suka…
Selamat membaca…
Prisoner of Love
Author : Meyrin Hawk
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Pairing : Rukia K. x Ichigo K.
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo
Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.
Chapter 6 : Goobye Ichigo…
Reruntuhan Las Noches
Pasir di daratan Hueco Mundo terlihat kering seperti biasa, deru angin yang tak beraturan terus menerbangkan butir-butir pasir ke udara, memperkuat kegersangan layaknya padang pasir.
Ichimaru Gin.
Sudah satu tahun ia menggantikan kedudukan Sousuke Aizen sebagai pemimpin. Diluar dugaan, Gin berhasil selamat berkat pecahan Hougyoku. Berkat pecahan Hougyoku, ia berhasil menghidupkan Tousen Kaname dan beberapa anggota espada dengan sedikit campur tangan Szayel Aporo Granz -yang juga berhasil selamat dari strategi serangan Renji dan Ishida.
"Bagaimana Aaroniero? Apakah kau sudah membereskan tugasmu?" tanya Gin tetap memandang lurus daratan gurun pasir dari jendela Las Noches.
Tanpa menoleh kebelakangpun, Gin telah terbiasa merasakan reiatsu Aaroniero berwujud Shiba Kaien.
Semenjak dihidupkan kembali, bentuk Novena espda tersebut telah permanen menjadi Shiba Kaien. Dan tentunya Novena espada yang sekarang sudah tidak takut lagi terhadap cahaya.
"Ya, Ichimaru-sama. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku yakin itu saja sudah cukup."
"Hmm… mmm… aku jadi tidak sabar menuggu kelanjutannya. Pastikan semuanya tepat waktu, kalau tidak… kau hanya akan mendapatkan mayatnya."
"Aku mengerti…"
Dengan langkah berat Novena espada meniggalkan Ichimaru Gin, sendirian menelusuri lorong-lorong Las Noches yang tak sepenuhnya sempurna lagi.
"Wah, wah… sepertinya Szayel belum terlalu sempurna menghidupakanmu. Sampai-sampai… kau mempunyai perasaan menjijikan, seperti shinigami sungguhan."
Grimmjow ternyata telah menunggu di ujung lorong hanya untuk menghardik Aaroniero.
Aaroniero memandang sinis Grimmjow.
"Grimmjow, jangan memancing keributan lagi," lerai Neliel (dalam wujud dewasa)
"Cih! Aku heran, kenapa Ichimaru-sama bisa percaya kepada orang-orang yang pernah brhubungan dengan shinigami," umpat Grimmjow sebelum berlalu pergi.
"Kaie… eh, maksudku Aaroniero. Kau baik-baik saja kan?" tanya Neliel takut-takut, tapi Aaroniero malah meniggalkannya.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Aaroniero?"
Aaroniero menghentikan langkahnya, menoleh kearah Neliel.
"Jawabannya sudah jelas kan? Karena aku… setia pada Ichimaru-sama."
Neliel menggelengkan kepalanya. "Tidak, Aaroniero. Itu bukan jawabanmu yang sesungguhnya. Aku tahu perasaanmu, kau memang mencintai wanita shinigami itu. Karena kau adalah Shiba Kaien, bukan Aaroniero Arrururie."
"DIAM! Kalau kau tidak berhenti bicara, akan ku adukan semua kepada Ichimaru-sama!" ancam Kaien bergegas menjauh dari Neliel.
mmmmm
Kuchiki Rukia mendapati dirinya telah berbaring di atas futonnya di Kuchiki Mansion saat ia terbangun. Cepat-cepat diubahnya posisi tidurnya menjadi duduk. Dilihatnya sekeliling, ruangan itu masih tampak tenang seperti biasa.
Apa yang telah terjadi?
Rukia sama sekali tidak ingat apa yang menyebabkan ia terbaring disana. Ia sama sekali tidak terluka, juga tidak merasa kurang enak badan.
Tapi…
"Aauw…" rintih Rukia memegangi daerah antara pergelangan tangan dan sikunya di bagian kiri.
Rasanya sangat nyeri dan menusuk-nusuk, seolah-olah tangan Rukia akan patah. Butuh waktu beberapa detik untuk merasakan sakitnya berkurang.
Penasaran apa yang terjadi pada tangan kirinya, Rukia langsung melihat bagian yang di pegangnya tadi.
"A-ap ini?"
Tato mungil beraksen unik tercetak di tangan Rukia. Awalnya tato tersebut berukuran mungil, tapi begitu rasa sakitnya berkurang, ukiran lain muncul seperti cabang.
"Ini… Kaien-dono?"
Flashback…
"Hentikan… hiks, hiks…" isak Rukia menutup matanya rapat-rapat.
Kaien menyingkirkan tangan Rukia perlahan-lahan dari telinganya. Matanya yang serupa air lautan menatap lembut iris violet Rukia.
"Aku disini, Kuchiki. Aku mencintaimu. Ikutlah denganku, lupakan teman-temanmu, lupakan Kurosaki Ichigo. Aku berjanji akan membuatmu jauh lebih bahagia dari pada saat bersama Kurosaki Ichigo," bujuk Kaien.
"Ka… Kaien-dono…"
Kaien melingkarkan tangannya di pinggang Rukia. Ditatapnya lekat-lekat violet indah yang sudah basah karena air mata. Kemudian meraih tangan kiri Rukia. Di peganginya kuat-kuat bagian antara pergelangan tangan dan siku.
Kaien menunduk seakan-akan hendak mencium Rukia, akan tetapi yang sesungguhnya adalah Kaien membisikan sesuatu di telinga Rukia
"Aku telah meniggalkan sesuatu untukmu, Kuchiki. Setiap rasa sakitnya akan mengingatkanmu bahwa aku menuggumu. Ingat…"
Hanya itu yang bisa Rukia lihat, dengar, dan ingat. Setelah itu… Rukia mulai merasa kehilangan kesadaran, seolah-olah baru saja disuntikan obat bius.
Flashback end…
"Aku harus menanyakan ini kepada Unohana-taichou."
mmmmm
Ruang Perawatan Divisi 4
Mereka berdua adalah teman yang cukup dekat, tapi karena seorang gadis, beberapa jam yang lalu mereka berdua telah berubah menjadi rival.
Kurosaki Ichigo dan Renji Abarai.
Keduanya saling melempar deathglare di ruang perawatan. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka, ego mereka lebih besar untuk meminta maaf atau sekedar memperbaiki keadaan.
"Aauw! Sakit Unohana-taichou!" seru Renji meringis kesakitan ketika Unohana melilitkan perban ke badannya.
"Rasakan," gumam Ichigo.
"Apa kau bilang, strawberry?"
"Aku bukan strawberry, babon!"
"Aku juga bukan babon! Mau kuhajar ya?" Renji bersiap-siap turun dari ranjang perawatan.
"Akulah yang akan menghajarmu!" Ichigo juga bersiap-siap turun.
"Abarai fuku-taichou, perbanmu belum selesai," larang Unohana.
"Cih!"
"Aku juga belum selesai mengobatimu, Kuroaki-kun…" ujar Orihime masih mengobati Ichigo dengan shun shun rikka'nya.
"Sudahlah Inoue-san, kau juga perlu istirahat," nasehat Unohana.
"Aku baik-baik saja, Unohana-taichou, cuma ini yang bisa kulakukan."
"Unohana-taichou berkata benar, Inoue," timpal Ichigo.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku, Kurosaki-kun. Lagi pula…"
Orihime terdiam sejenak. Kepalanya tertunduk karena tidak berani menatap langsung mata Ichigo.
"Ada yang ingin ku katakan pada Kurosaki-kun."
"Apa?"
"Ini… tentang Kuchiki. Aku…"
"Sudahlah, Inoue," potong Ichigo. "Jangan terlalu serius menanggapi perkataan Ichimaru Gin. Kami semua tahu yang dikatakannya waktu itu adalah boh-."
"Dia berkata benar!" kali ini Orihime yang memotong.
"Selama ini… aku berpura-pura buta terhadap perasaan kalian berdua. Jelas-jelas… aku tahu Kuchiki sangat menyukai Kurosaki-kun, tapi aku malah dengan sengaja mengatakan kepada Kuchiki kalau aku menyukai Kurosaki-kun, sehari sebelum kepergian Kuchiki."
Ada jeda sedikit dari pengakuan Orihime. Ia terlihat seperti sedang mengendalikan emosinya.
"Kupikir… Kuchiki akan menghalangi perasaanku, tapi yang terjadi ia malah tersenyum. Dan… hiks… hiks…"
"Tidak perlu kau lanjutkan kalau memang terasa berat," saran Ichigo.
"Umm… tidak. Aku harus mengatakannya.
Orihime menyeka air matanya.
"Hari itu adalah hari terakhir Kuchiki menunjukan dirinya di sekolah. Aku tahu Kurosaki-kun telah menyatakan cinta kepada Kuchiki, dan sedang menunggunya di depan gerbang sekolah… hiks… hiks…"
"Aku ingin tahu apa yang akan Kuchiki lakukan terhadap perasaanya, makanya… hiks… hiks… aku menemani Kurosaki-kun menuggu Kuchiki. Kupikir… hiks… hiks…" isakan Orihime semakin kencang.
"Kupikr Kuchiki akan mengakui perasaannya terhadap Kurosaki-kun, karena aku melihat ia begitu bersemangat berlari menuju Kurosaki-kun. Tapi… hiks… Kuchiki malah berhenti ketika melihatku, Kuchiki menagnis dan berbalik arah."
"Benarkah itu, Inoue?"
Ichigo setengah tidak percaya mendengar pengakuan dari Orihime. Dia pikir selama ini Rukia memang pergi meninggalkan dirinya tanpa alasan, ia benar-benar percaya dengan kebohongan Rukia bahwa hari itu Rukia tidak pernah berniat menemuinya di depan pagar.
Rukia membohonginya. Tapi untuk apa?
Apakah karena Orihime?
Atau memang Rukia tidak menyukai Ichigo, sehingga Rukia menggunakan cara menghidar agar tidak perlu menjawab pengakuaan cinta dari Ichigo hari itu.
Tapi kenapa?
"Ya, Kurosaki-kun. Baru kusadari setelah hari itu. Kuchiki pergi bukan karena marah padaku atau cemburu, Kuchiki pergi karena dia mengalah. Kuchiki menutup hatinya agar Kurosaki-kun berpaling padaku. Teman macam apa aku ini… hiks… hiks… maafkan aku Kurosaki-kun…"
Ichigo menhembuskan nafasnya dengan berat. Pikirannya semakin menjadi runyam.
"Huh! Benarkan, seharusnya kau jangan dekat-dekat lagi dengan Rukia. Dia sudah mencampakanmu," ujar Renji.
"Abarai, jangan memperburuk suasana," nasehat Ishida.
"Inoue, aku…"
Sraaak!
Seseorang masuk tiba-tiba di ruang perawatan divisi 4, membuat Ichigo mnehentikan kalimatnya.
"Unohana-taichou!"
Ternyata yang masuk adalah Kuchiki Rukia. Orang yang baru saja menjadi pembicaraan mereka beberapa menit yang lalu.
"Aku perlu bantuanmu, Unohana-taichou," lanjut Rukia menghampiri Unohana dengan tergesa-gesa tanpa menyadari seisi ruangan sedang memperhatikannya.
"Kuchiki fuku-taichou, ada apa?"
"Begini, sesuatu terjadi pada…"
Rukia hampir memberitahukan masalahnya kepada Unohana, namun ia langsung sadar kalau diruangan itu ada teman-temannya juga.
"Renji?"
Tanpa sengaja Rukia menyebut nama Renji begitu melihat tampang Renji.
"Ada apa dengan Abarai, Kuchiki-san?" tanya Unohana bingung.
"Eh, bukan! Maksudku kenapa Renji bisa di perban seperti mumi?"
"Cih! Mentang-mentang kau baik-baik saja, seenaknya saja mengataiku mumi," kata Renji cemberut.
Renji memasang ekspresi seolah-olah dia marah pada Rukia. niatnya ingin bercanda, namun malah Rukia menanggapinya dengan wajah sedih bejalan menuju ranjang Renji.
"Dasar baka," ujar Rukia lirih.
"E-eh, Rukia… aku cuma bercanda kok. Jangan sedih begitu, aku kan jadi merasa tidak enak."
"Diam," bentak Rukia menempelkan telapak tangannya di kening Renji.
Renji tersipu malu, sementara Ichigo cemburu. Ichigo sedang mencoba menahan keinginan untuk tidak lompat dari ranjang dan menarik Rukia menjauh dari Renji.
'Dasar baka! Kenapa kau bisa luka-luka, Ichigo…' batin Rukia.
Inilah fakta yang sama sekali tidak Ichigo ketahui.
Rukia mengkhawatirkan Ichigo, bukan Renji. Rukia ingin bersama Ichigo, tapi sekarang disamping Ichigo sudah ada Orihime. Kalau sudah begitu… Rukia hanya bisa berpura-pura tidak peduli.
"Ah, Rukia! Ada yang aneh dengan dirimu!" seru Renji mengejutkan Rukia.
Rukia cepat-cepat menurunkan tangannya dari kening Renji, ia merasa tatonya sudah terlihat oleh Renji.
"Apa yang aneh?"
"Model rambutmu, Rukia! Sepertinya mirip seseorang, tapi siapa ya…"
"Dasar babon aneh!"
"Kuchiki fuku-taichou, tadi kau ada perlu apa denganku?" sela Unohana selagi Renji berpikir.
"Begini, waktu bangun pagi aku meli-."
"Shiba Miyako!" seru Renji. "Iya, benar! Model rambutmu mirip sekali dengan mendiang istri Shiba Kaien fuku-taichou."
Wajah Rukia berubah pucat. Pagi ini memang dia sengaja menjepit sedikit rambutnya kebelakang, tapi ia tidak menduga kalau akan mengikuti model rambut mendiang istri fuku-taichou'nya.
"Wah… benar-benar mirip."
Renji terus berkomentar tanpa menyadari perubahan ekspresi di waja Rukia, ia tidak tahu ucapannya barusan sudah menyinggung Rukia.
'Apakah kau benar-benar menyukai Shiba Kaien, Rukia?' batin Ichigo.
"Abarai, sudah cukup…" saran Unohana.
"Benarkan Unohana-taichou? Modelnya sama!"
"Abarai fuku-taichou, kau bisa menyinggunng perasaan Kuchiki."
Sepertinya Unohana memang harus berkata jujur agar Renji cepat menghentikan topik yang tidak enak didengar oleh telinga Rukia.
"Ah, maaf…" Renji baru tersadar.
"Hmp, biarkan dia Unohana-taichou. Aku ingin tahu seberapa sopan mulutnya bisa berbicara," hardik Rukia.
Kuchiki Rukia merendahkan orang lain?
Pastinya ini sesuatu yang baru dan mengejutkan bagi seisi ruangan yang mendengarnya barusan.
"Ishida, Kuchik bersikap aneh lagi," bisik Sado.
"Dan aku tidak butuh bisik-bisik kalian!" sindir Rukia menatap tajam Sado dan Ishida.
"Kalau memang model rambutku mirip degan Miyako-dono, memangnya kenapa? Cita-citaku dari dulu memang ingin menikah dengan orang seperti Kaien-dono."
"Tenanglah, Kuchiki," kata Orihime.
"Tenang? Kalianlah yang sudah membuat hidupku tidak tenang! Kurasa Yamamoto-taichou sudah salah mmenyuruh kaliandatang kesini. Dan khususnya kau, Inoue! Disini kau hanya bisa lari, kau bahkan tidak bisa menghadapi seorang pun musuh dengan benar."
"Oi, Rukia! Jangan bicara seperti itu kepada Inoue," marah Ichigo.
"Ck! Pulanglah ke Karakura! Aku muak melihat kalian disini."
Rukia pergi meniggalkan ruang perawatan divisi 4 tanpa sempat memberitahukan masalahnya pada Unohana, meninggalkan teman-temannya yang masih bingung dengan perubahan Rukia.
mmmmm
Rumah Keluarga Shiba
"Tolonglah, aku perlu bicra dengan Shiba Kukkaku," pinta Rukia.
"Dia tidak ada disini. Pergilah, shinigami!" usir Ganju.
"Ini sangat penting…"
"Keras kepala!"
"Ada ribut-ribut apa ini?"
Kukkaku baru saja tiba dirumah ketika mendengar rebut-ribut didepan rumahnya. Walau agak kesal, Kukkaku harus melihat endiri apa yang seang terjadi.
"Lho, Kuchiki? Ada keperluan apa kau kesini?" tanya Kukkaku.
"Ada sesuatu yang kutanya padamu tentan-."
"Tunggu!" tahan Kukkaku. "Ganju, tolong belikan aku bahan-bahan untuk membuat kemabang api."
"Buat apa, Kak? Persediaan kita kan masih banyak."
Bug!
Kukkaku menendang kuat perut Ganju.
"Kalau ku bilang belikan, ya beli! Jangan banyak tanya!"
"Aku mengerti."
Ganju bergegas menunggangi babinya yang terparkir di halaman (emangnya mobil?), Ganju tahu umurnya tidak akan panjang bila tidak segera menuruti keinginian Kukkaku. "Bonnie-chan, let's go!"
"Huh! Susah sekali mengusir anak bodoh itu. Cepat katakan keperluanmu, sebelum Ganju pulang."
"Eh?"
"Jangan berwajah bingung seperti itu. Aku tahu kau pasti punya urusan yang sangat penting, makanya aku mengusir Ganju tadi. Cepat katakan!"
"Umm… begini, waktu aku bangun pagi ini, aku menemukan tato ini."
Rukia menyinkapkan sedikit lengan shihakusonya agar Kukkaku dapat melihat ukiran tato di tangannya itu.
"Awalnya aku sedikit ragu, tapi lama-lama aku jadi yakin kalau pola tato ini sama persis dengan milik Kaien-dono di tangan kirinya. Aku tahu hanya kau yang bisa menjelaskan semua ini kepadaku."
"Aku…" Kukkaku sedikit menggaruk-garuk kepalanya. "Bagaimana mengatakannya ya? Ini terdengar gila."
"Katakan saja…"
"Apakah… kau bertemu kakak sebelumnya?"
"Kaien-dono?"
"Benar kan! Kedengaran gila."
"Tolonglah, Kukkaku. Aku perlu informasi tentang tato ini."
Kukkaku memandang ragu Rukia. Ia tidak ingin mengatakan apapun tentang tato tersebut, bagaimana pun juga tato itu adalah rahasia keluarga Shiba.
"Kumohon…"
Dengan nafas berat, Kukkaku terpaksa menglah. Rukia tampak seperti orang kebingungan, mendiang kakanya pasti tidak akan suka kalau tahu Kukkaku mengabaikan orang yang dicintai kakaknya.
"Tato itu adalah lambag keluarga Shiba, biasa digunakan untuk menyegel dan memusnakah kekuatan roh. Bentuk awalnya sangat kecil atau bahkan tidak terllihat sama sekali, seiring dengan berjalannya waktu tato itu akan muncul perlahan-lahan seperti cabang."
"Apakah kemunculan tiap cabangnya selau memberikan efek sakit?"
Kukkaku mengerutkan sedikit alisnya, bagaimana mungkin Rukia tahu tentang hal itu"Ya, begitulah. Begitu bentuk tatonya sempurna, maka semua berakhir. Yang disegel akan mati."
"Ma…ti?"
"Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan tato itu, yang jelas hanya kakak yang mampu membuat segel itu di keluarga Shiba. Jadi kau tenang saja…" hibur Kukkaku.
mmmmm
'Aku akan mati?' batin Rukia menelusuri lorong remang Kuchiki Mansion.
Malam yang muram, semuram hati Rukia. Bahkan bulan dan bintang enggan memperlihatkan keindahannya, hanya besembunyi di balik awan.
'Kaien-dono, apa yang kau inginkan dariku?'
"Aku telah meniggalkan sesuatu untukmu, Kuchiki. Setiap rasa sakitnya akan mengingatkanmu bahwa aku menuggumu. Ingat…"
Kali ini Rukia mencoba mengingat kembali perkataan Kaien sebelum ia tak sadarkan diri waktu itu.
'Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya?'
"Rukia."
Lagi-lagi Kurosaki Ichigo berada di teras kamar Rukia.
"Ada apa lagi, Kurosaki? Kau lupa, kita hampir ketahuan kemarin. Pergilah!" usir Rukia menggeser pintu kamarnya.
Sraaak!
Ichigo menutup paksa pintunya sebelum berhasil terbuka sempurna oleh Rukia.
"Heh! Apa maumu, idiot!"
"Kenapa kau bersikap kasar pada Inoue?"
"Bagus! Baru beberapa hari yang lalu kau merayuku dan mengatakan kau mencintaiku, sekarang sudah memarahiku karena gadis lain."
"Jangan campur adukan masalah kita. Aku hanya ingin kau tahu kalau kau sudah kelewatan kepada Inoue, Sado, Ishida, dan Renji."
"Sudahlah, Kurosaki. Aku tahu apa yang harus kulakukan, jangan sok mengajariku. Lagi pula… kau sudah tahu kan, aku membencimu beserta teman-temanmu itu. Jadi pulanglah ke Karakura."
Ichigo heran dengan perubahan sikap Rukia. Dalam sehari Rukia sudah berubah menjadi orang asing, yang berdiri di depan Ichigo sekarang rasanya bukanlah Kuchiki Rukia yang ia cintai.
"Rukia! Ini bukan dirimu, sadarlah!"
Ichigo memegang kedua pundak Rukia, ia ingin Rukia menatap matanya. Ia ingin Rukia tahu, banyak orang yang sudah Rukia sakiti akibat kepura-puraannya selama ini.
Tapi…
Mata Rukia terlihat kosong. Berbeda dari semenit yang lalu. Mata Rukia yang sekarang seolah menggambarkan jiwa Rukia sedang terbang entah kemana.
"Rukia?" pagil Ichigo sekali lagi, membuat mata Rukia kembali hidup dan sedikit berkilat.
Seringai kecil muncul dari sudut bibir Rukia. "Hmm… mmm… seharusnya kau yang sadar, Ku-ro-sa-ki…"
"A-ku?"
"Ya, kau! Kau… LE-MAH."
"Apa maksudmu, Rukia?" geram Ichigo mencengkram kuat kedua pundak Rukia.
"Kau tidak cukup kuat untuk melindungiku. Seandainya Kaien-dono berada di posisimu saat menghadapi espada kemarin, pasti yang lainnya tidak akan cidera parah."
"Rukia!"
Darah Ichigo serasa mendidih. Ia benci dikatakatakan lemah. Terlebih lagi oleh Rukia, orang yang mampu membuatnya kuat. Tapi kenapa sekarang Rukia seperti sengaja mengatakan semua itu dengan intonasi yang pelan? Apakah Rukia tahu semua itu membuat Ichigo semakin mendengar jelas semuanya.
Dan satu hal yang lebih penting. Ichigo benci di banding-bandingkan dengan Shiba Kaien.
"Akuilah, Kurosaki. Semua itu benar kan?"
"Diam!"
"Diam?" Rukia tertawa menghina. "O ya, kau tahu? Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya ingin mempermainkanmu. Kupikir akan menarik karena kau mirip Kaien-dono."
"DIAM!"
"Hah! Rupanya tidak cukup menarik begitu kau mengejarku ke Soul Society. Kau bahkan tidak cukup menyenangkan untuk dimanfaatkan."
"Diam, Rukia! kubilang diam!" bentak Ichigo. "Kalau kau tidak brhenti berbicara, aku akan-."
"Akan apa?" lawan Rukia. "Akan memukulku? Akan menciumku? Atau menyeretku ke kamar seperti tempo hari? Kau pikir itu akan membuatmu terlihat lebih menarik dibandingkan Kaien-dono?"
"Cukup!" Ichigo meninju dinding Kuchiki Mansion hingga tangannya berdarah.
"Aku tidak lemah, Rukia. Dan aku bukan Shiba Kaien! Ingat itu baik-baik!"
Setelah menumpahkan kemarahannya, Ichigo langsung ber'shunpo sejauh mungkin dari Kuchiki Mansion. Meninggalkan Rukia yang kini merosot terduduk di lantai.
"Terima kasih," gumam Rukia sambil tersenyum, tapi… matanya tida henti mengluarkan air mata.
mmmmm
Hujan deras mengguyur Soul Society malam itu. Kilatan guntur tak hentinya beradu diatas langit, seoalah-olah sang dewa petir sedang murka terhadap penghuni alam. Kuchiki Mansion yang megah pun semakin memperlihatkan ketangguhannya ketika baying-bayangan kilat menghampirinya.
Kuchik Rukia…
Berjalan memasuki kamar Kurosaki Ichigo di Kuchiki Mansion. Kamar itu gelap dan tak terkunci. Rukia tahu penghuninya belum kembali sejak pertengkaran mereka berjam-jam yang lalu.
Rukia menutup pintu, ia sengaja membiarkan kamar itu dalam keadaan gelap agar tidak adayang menyadari keberadaannya disana.
Bayangan kilat dari luar memperlihatkan zanpakutou Ichigo yang masih bersandar di dinding. Seperti biasa, sang pemilik selalu meninggalkannya di kamar bila tidak sedang memerlukannya.
Rukia tersenyum, ia mengambil langkah untuk duduk bersimpuh dihadapan zanpakutou Ichigo. Dipanginya lekat-lekat Zangetsu, sungguh zanpakutou tersebut membuat Rukia kembali mengingat semua kenangan yang pernah ia lalui bersama Ichigo.
Rukia meremas-reams tangannya dengan gugup. Mengingat nama pemuda itu benar-benar membuatnya berdebar-debar, sekaligus… sakit.
"Kata orang…" Rukia mulai berbicara, menganggap Zangetsu sebagai perwakilan dari Ichigo.
"Zanpakutou yang kita miliki mencerminkan pemiliknya."
Rukia terdiam sejenak.
"Sejak awal pertemuan kita, aku tahu kau memiliki reiatsu yang sangat besar. Sayangnya kau cukup bodoh untuk menyadari hal itu," cela Rukia, kemudian Rukia tersenyum. "Dan anehnya, aku tidak keberatan merelakan kekuatan rohku nyaris terhisap penuh olehmu."
"Kita benar-benar terlihat tolol saat itu. Aku yang saat itu hanya shinigami biasa, kau buat menjadi shinigami yang memiliki perasaan. Betapa bodohnya aku, aku yang hanya boleh belajar membasmi hollow malah membiarkanmu masuk dalam hatiku dan mengajariku banyak hal tentang kehidupan."
Senyum di wajah Rukia berubah menjadi raut kesedihan. Memang manis rasanya mengenang kembali memorinya bersama Ichigo, tapi Rukia harus sadar ada fakta yang menyakitkan menanti Rukia.
"Aku percaya, Ichigo. Kau mampu melindungi setiap orang. Tapi untuk sekarang… kau harus berhenti melindungiku."
Setetes air mata jatuh di tangan Rukia yang mengepal di pangkuannya.
"Terima kasih, kau sudah marah padaku tadi. Maafkan aku… aku terpaksa melakukannya agar semuanya terasa lebih mudah bagimu untuk melepasku."
"Aku bohong padamu, Ichigo. Aku bohong saat mengatakan kau lemah. Aku tahu kau sangat kuat. Aku juga bohong tntang perasaanku…"
"Aku mencintaimu, Ichigo. Sangat mencintaimu…"
"Kau bukanlah Kaien-dono. Fisik kalian memang sedikit mirip, tapi kalian jauh berbeda. Kaien-dono begitu tenang dan terkendali, dan kau… kau sangat bersemangat dan menyala-nyala. Mungkin itulah yang bisa membuatku bertahan samapai saat ini, karena pengaruh semangatmu."
Kepalan tangan Rukia semakin kuat, air matanya semakin banyak menetes.
"Aku harap… setelah semuanya selesai, kau akan kembali ke Karakura dan belajar mencintai Inoue. Lupakan aku, Ichigo. Cintailah Inoue…"
Rukia tiada hentinya terisak, bahkan tangan yang menutup bibirnya tak mampu lagi meredam suara tangisnya.
Ini terlalu berat bagi Rukia.
Ia hanya ingin hidup normal dan mencintai serta dicintai seorang Kurosaki Ichigo. Tapi kenapa takdir begitu kejam padanya.
Rukia bisa menerima kalau ia dicampakkan waktu kecil, ia juga bisa menerima kakaknya meninggal sebelum Rukia sempat melihatnya. Tapi… Rukia tidak bisa menerima perpisahannya dengan Ichigo.
Ia ingin dikenang dengan indah oleh Ichigo, namun… sampai saat terakhir pun Rukia hanya bisa memberikan kepahitan untuk Ichigo… Sampai sekarang pun Ichigo tidak pernah tahu betapa Rukia sangat mencintainya.
Denyutan sakit di tato tangan Rukia semakin terasa nyeri, mengingatkan Rukia akan waktunya yang semakin menipis.
Perlahan Rukia mencabut zanpakutou beserta sarunya dari piggang. Disandarkannya Sode no Shirayuki yang cantik di dinding, bersebelahan dengan Zangetsu.
Setelah meletakkan zanpakutounya, Rukia menghapus air matanya. Ia langsung keluar menembus hujan, ber'shunpo secepat mungkin menuju pinggiran hutan Rukongai. Tempat terakhir kalinya ia bertemu Kaien beberapa hari yang lalu.
Rukia sudah mengingat semuanya. Ia kembali mengingat semua ketika Ichigo memarahinya tadi.
"Aku telah meniggalkan sesuatu untukmu, Kuchiki. Setiap rasa sakitnya akan mengingatkanmu bahwa aku menuggumu. Ingat… aku akan datang dua hari lagi ditempat ini, untuk menjemputmu. Kau boleh pilih, aku jemput paksa atau secara baik-baik."
Inilah kesepakatannya. Shiba Kaien menginginkan Rukia. Tentunya Kaien akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Rukia. Dan segel ditangan Rukia adalah sedikit bagian dari rencana Kaien.
"Kau datang terlambat, Kuchiki."
Sosok Kaien telah menunggu dibawah guyuran hujan ketika Rukia tiba di tujuannya.
Rukia tersenyum. "Maafkan aku, Kaien-dono. Aku harus meninggalkan barang-barang yang tidak perlu."
"Tidak perlu?" Kaien mengerutkan alisnya.
"Ya. Karena yang kuperlukan saat ini hanya Kaien-dono seorang."
"Hmp… terima kasih," Kaien mengacak-acak pelan rambut Rukia.
"Ayo kita pergi, kita harus menghapus segelmu terlebih dahulu," ajak Kaien membuka Garganta di belakangnya.
Dengan senyum ramah, Kaien merangkul pundak Rukia. Memabawa gasdis mungil itu memasuki Garganta.
To be continued…
Sekarang sudah jelas bukan siapa yang Rukia pilih?
Dan readers juga tahu siapa sesungguhnya yang memiliki hati Rukia…
Tentunya ini ga akan selsai begitu aja…
Kurosaki Ichigo yang kita selama ini kenal ga akan mungkin akan membiarkan gadisnya dibawa pergi ma orang…
So, chap depan adalah bagian dimana Ichigo melakukan pengejaran untuk mendapatkan Rukia kembali…
Tentang tato di tangan Rukia,,
Asli karangan Mey…
Juga cerita tentang segel dari tato itu asli dari hasil imajinasi Mey ketika melihat tato di tangan Shiba Kaien…
Kecuali satu, tato itu emang bener lambang keluarga Shiba lho….
Okay…
I need more review…
