Selau ucapan terimakasih yang pertama…
Especially to all readers…
I love youuuu… lup you…
Hmm… chap ini mungkin ga terlalu menarik,
Soalnya di chap ini dah masuk kebagian pertempuran, Mey bukan ahlinya dalam membuat pertempuran menjadi menarik…
So, gomennasai agains…
Trus adegan pertempurannya selalu Mey percepat seperti biasa…
Mey selalu ga pernah dapat feel'nya kalu ngebuat adegan pertempuran…
Gomen ne… u_u
Rencana Gin untuk Rukia akan terbongkar di chap ini…
Mungkin fic ini akan berakhir dengan Ichiruki… *Mey dihajar ma Ichiruki FC karena dari kemarin ga konsisten*
Gomennasai… end… semoga kalian suka…
Selamat membaca…
Prisoner of Love
Author : Meyrin Hawk
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Pairing : Rukia K. x Ichigo K.
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo
Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.
Chapter 7 : Disappearing Rukia!
Ichigo bangun di pagi harinya ketika sinar matahari menembus jendela kamarnya, tepat mengenai matanya. Walaupun sedikit malas, Ichigo tahu sudah waktunya ia bangun.
Rasanya baru 3 jam Ichigo tertidur setelah kembali dari berguyur ria dengan air hujan. Begitu lelahnya Ichigo hingga tidak sempat mengganti shihakuso'nya yang basah dengan yukata tidur. Bahkan tangannya yang masih memar bekas luka tadi malam masih ia biarkan begitu saja. Dan pagi ini, Ichigo harus bangun dan mandi air hangat untuk menyegarkan kepalanya.
"Dasar cebol! Bisa-bisanya dia membuatku marah dan pergi tanpa membawa zanpakutou. Kalau ada Hollow bagaimana, bisa-bisa aku cidera," gerutu Ichigo tiada hentinya.
"O ya, aku letakan dimana ya Zangetsu?"
Ichigo celingak-celinguk mencari Zangetsu. Ichigo lupa sudah meninggalkannya dimana. Yang Ichigo ingat, terakhir kali ia sandakan Zangetsu di dinding.
"Ah, itu di…" kata-kata Ichigo terhenti begitu melihat ada zanpakutou lain yang tersandar bersebelahan dengan Zangetsu.
Ichigo sedikit menggeser posisi duduknya untuk meraih zanpakutou asing tersebut. Di telitinya baik-baik. Rasanya sangat sulit menentukan pemiliknya bila zanpakutou tersebut masih dalam wujud pedang biasa, terlebih lagi semua bentuk zanpakutou di Soul Society semuanya sama.
Yah… terkecuali milik Ichigo, sejak awal Zangetsu memang memiliki bentuk berbeda dari semua zanpakutou yang pernah ada.
"Milik siapa ya?" gumam Ichigo sedikit berpikir tentang orang yang berkemungkinan memiliki zanpakutou yang ia pegang sekarang.
"Renji? Tidak mungkin, kami masih berkelahi. Byakuya? Apa lagi, dia tidak mungkin meletakan zanpakutounya disini kalau ingin mencincangku. Tapi… sepertinya aku pernah melihatnya."
Ichigo memejamkan matanya, di genggamnya erat-erat zanpakutou asing tersebut. Ichigo sedang berkonsentrasi penuh untuk merasakan sisa-sisa reiatsu yang tertinggal di zanpakutou yang ia pegang.
"Rukia?" gumam Ichigo membuka matanya.
"Kenapa dia meninggalkan benda berharga seperti ini di tempatku?"
Ichigo kembali memejamkan matanya. Mencoba mencari reiatsu Rukia. Ichigo punya firasat buruk tentang Rukia.
Sraaak!
Secepat kilat Ichigo ber'shunpo setelah membuka kasar pintu kamarnya, menuju kantor divisi 1 untuk mencari Yamamoto-taichou.
Yamamoto Genryuusai harus tahu semua. Ichigo harus bergegas memberitahunya. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Rukia benar-benar menghilang. Sungguh, Ichigo tidak mampu merasakan reiatsu Rukia lagi. Reiatsunya seoalah-olah hilang di telan bumi.
mmmmm
"Hei! Sudah kubilang jangan masuk! Oramg lain tidak boleh masuk saat ke-13 batalion sedang mengadakan rapat!" penjaga pintu mencoba menghalangi Ichigo yang telah berhasil menembus masuk ruang rapat ke-13 batalion.
Ichigo sukses mendapat perhatian dari taichou beserta fuku-taichou yang memnuhi ruangan tersebut.
"Apa maunya dia?" kesal Renji.
"Kami sedang mengadakan rapat, Kurosaki," ujar Yamamoto.
"Rukia dalam bahaya!" teriak Ichigo di depan Yamamoto.
"Tenangkan dirimu, Kurosaki. Kita bisa berbicara setelah rapat ini selesai."
"Rukia dalam bahaya! Kenapa kau bisa bersikap setenang itu!"
"Jaga sikapmu, Kurosaki," ancam Byakuya. "Adikku baik-baik saja, dia bisa melindungi dirinya sendiri."
"Pagi ini aku menemukan zanpakutou milik Rukia di kamarku, aku rasa Rukia sengaja meninggalkannya sebagai tanda kalau ia dalam masalah. Dan aku tidak merasakan reiatsu'nya dimanapun."
"Hmm… mmm…" Yamamoto bergumam sebentar.
"Kenapa hanya itu yang kau lakukan? Seharusnya kau mulai mengerahkan pasukanmu untuk mencari Rukia!" geram Ichigo.
"Ini cukup sulit, Kurosaki. Kami belum 100% persen yakin Kuchiki Rukia dalam bahaya. Lagi pula… kita belum tahu pasti dimana keberadaannya."
"Di Hueco Mundo! Perasaanku mengatakan Rukia disana."
"Yare… yare… anak muda selalu mengandalkan emosinya," komentar Mayuri, kapten divisi 12.
"Para shinigami dari 13 batalion tidak bisa bertindak sesuai perasaan, Kurosaki. Kami bertindak berdasarkan bukti."
"Kalau kalian tidak ingin membantuku, ya sudah! Aku akan mengejar Rukia sendirian."
Dengan perasaan kesal bercampur marah, Ichigo meninggalkan ruang rapat ke-13 batalion. Bergerak sendiri untuk menemukan Rukia.
mmmmm
Reruntuhan Las Noches
"Gin, anak itu sudah membawa wadah Hougyoku."
Tousen mendatangi Gin yang tengah sibuk mengamati bekas singgah sana Aizen.
"Hmm… mm… aku sudah tahu. Mereka berdua baru saja menemuiku."
"Lalu, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?"
"Aku memerintahkan Aaroniero untuk membawa Kuchiki Rukia ke ruang penelitian Szayel. Disana Hougyoku akan dimasukan lagi ke wadahnya."
"Tidakah itu terdengar mudah? Seharusnya gadis Kuchiki itu tidak langsung percaya begitu saja padamu, dari awal dia memang tidak terlihat akan menghianati teman-temannya."
"Yah… bagaimanapun dia hanya seorang gadis. Walaupun diaseorang gadis Kuchiki, tetap saja kepercayaannya terhadap teman-temannya akan goyah bila terus dihianati. Dia tetap shinigami lemah, yang membuatnya berbeda adalah karena dia wadah Hougyoku kita."
"Sepertinya akan memakan sedikit lebih banyak waktu. Kuchiki Rukia tidak mungkin menurut begitu saja bila tahu Hougyoku akan dimasukan lagi ke tubuhnya."
"Santailah, Kaname. Kita masih mempunyai waktu beberapa jam lagi sebelum semuanya lenyap. Aku sudah memperhitungkannya, kurasa itu lebih dari cukup."
"Aku harap kali ini tidak gagal lagi," ujar Tousen sebelum meninggalkan Gin.
mmmmm
Kemarahan meliputi hati Ichigo. Ichigo tahu ia akan mendapat masalah besar setelah ini. Ia sudah bersikap kurangajar dengan meneriaki Yamamoto Genryuusai di depan ke-13 batalion.
Tapi apa peduli Ichigo, baginya sekarang yang terpenting adalah Rukia.
Ichigo telah membiarkan Rukia pergi darinya satu tahun yang lalu, karena itu hubungan mereka berubah mendingin serta merenggang.
Sekarang Rukia telah meniggalkannya lagi setelah mereka bertngkar hebat. Dan Ichigo tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Bagaimanapun caranya, Ichigo harus bisa membawa Rukia kembali ke sisinya kali ini.
Setelah meninggalkan ruang pertemuan ke-13 batalion, Ichigo bergegas mencari orang yang bisa membukakan Garganta untuknya. Untungnya Ukitake-taichou mengikutinya dan bersedia membukakan Garganta. Sebenarnya kapten divisi 13 itu inging ikut bersama Ichigo, tapi kesehatannya tidak mengizinkan sang kapten terjun dalam pertarungan berat.
Sekarang, Ichigo telah memasuki reruntuhan Las Noches. Tebakannya benar. Ia bisa merasakan reiatsu Rukia begitu memijakkan kaki disana.
"Mencari seseoang, Kurosaki Ichigo?"
Sebuah suara dari arah belakang menghentikan langkah Ichigo. Begitu Ichigo menoleh, sosok qutro espada telah berdiri disana. Ulquiorra Schiffer, menatap dingin Kurosaki Ichigo.
"Dimana Ruki-."
"Cero!"
Serangan cero memburu Ichigo sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Beruntung Ichigo telah menangkisnya hingga serangan tersebut membelok ke dinding.
"Menyenangkan bisa bertemu denganmu lagi, Kurosaki Ichigo," Grimmjow telah ber'sonido ke hadapan Ichigo. "Sepertinya gerak refleksmu masih lambat."
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, aku kesini hanya ingin mencari Rukia."
"Sayangnya, kami tidak bisa membiarkanmu lewat begitu saja. Kami sudah ditugaskan untuk mengulur waktu," ujar Ulquiorra.
"Mengulur waktu? Untuk apa?"
"Waktu bertanya habis. Saatnya bersenang-senang!" Grimmjow bersiap-siap mengeluarkan cero dari tangannya.
"Tunggu!" seseorang berkepala botak telah hadir terlebih dahulu ke tengah-tengah pertarungan mereka.
"Cih! Pengganggu!" gerutu Grimmjow.
"Ikkaku?"
"Jangan memulai pertarungan yang tidak indah ini tanpa kami, Kurosaki," timpal Yumichika mengibaskan alisnya.
"Yo, Ichigo! Jangan mengira kau saja yang ingin disebut pahlawan. Aku juga bisa menylamatkan Rukia," lanjut Renji.
Sepertinya makhluk babon *Mey dihajar Renji FC* itu telah melenyapkan egonya demi menyelamatkan Rukia.
"Teman-teman!"
"Pergilah, Kurosaki. Selamatkan Kuchiki. Biar kami yang menghadapi mereka," kata Ikkaku mencabut zanpakutou dari sarungnya.
"Terima kasih."
Ichigo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, secepatnya ia melanjutkan pencariannya yang sempat tertunda.
Haah… unfortunately, belum lagi jauh Ichigo bershunpo, langkah Ichigo kembali terhenti oleh reiatsu besar yang tiba-tiba muncul disekitarnya.
Ichimau Gin muncul besama Tousen Kaname.
"Wah, wah… apa saja kerja Ulquiorra dan Grimmjow, sampai-sampai kau bisa secepat ini kesini," kata Gin.
"Katakan! Diamana Rukia!"
"Tenanglah, Kurosaki. Dia aman bersama Aaroniero Arruruerie, atau… yang Kuchiki kenal sebagai Shiba Kaien."
"Ichigooo~…."
"Suara ini?" gumam Ichigo.
Bruaaak!
Sebuah kaki telah mendarat di kepala Ichigo, membuat Ichigo tersungkur mencium lantai.
"Huwaaa… Masaki… refleks putra kita ternyata sudah berkurang…" Isshin muncul sambil menangis bombay.
"Dasar ayah bodoh! Kenapa kau bisa ada disini?"
"Kau yang anak bodoh! Cuma membawa Rukia-chan ke Karakura saja bisa memakan waktu selama ini!"
'Baguslah, mereka berdua sadar kalau mereka sama-sama bodoh,' batin Byakuya terus mengamati pertengkaran ayah dan anak didepannya.
"Dengan siapa ayah kesini?"
"Dengan calon kakak iparmu," Isshin melirik Byakuya.
"Kakak ipar?" Ichigo mengerutkan alisnya. "Maksud ayah… Byakuya?"
"Jaga bicaramu, Kurosaki," sosok Byakuya yang dari tadi diam mulai di lirik Ichigo. "Aku sudah berbaik hati menolongmu. Seharusnya kau memanfaatkan waktu untuk menolong Rukia, bukannya malah bertengkar dengan ayahmu."
"Pertemuan keluarga yang mengharukan. Benar-benar menarik," cela Gin.
"Tenang saja, setelah ini akan jauh lebih menarik," timpal Isshin. "Dan kau, anak bodoh! Cepat cari Rukia-chan!"
Isshin menendang pantat Ichigo hingga Ichigo terpental jauh.
"Aku suka caramu mengusir anakmu," ujar Byakuya.
"Yeah, mari kita nikmati pertarungan ini, Kuchiki Byakuya. Setelah itu, mari kita nikahkan Ichigo dengan Rukia-chan. Oke?"
Isshin mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan mata ke Byakuya.
"Menikmati pertarungan? Ya!" Byakuya mencabut zanpakutou dari sarungnya. "Menikahkan adikku dengan anakmu? Tidak akan!"
*Hmm… sepertinya ini akan menjadi pertarungan menarik, tapi sayangnya author tidak pernah bisa membuat suasana pertarungan. Rukia sudah menunggu untuk tampil…*
….
….
Kembali Ichigo berlari sekencang mungkin setelah dotendang ayahnya. Ichigo merasa sangat beruntung, pengorbanan dirnya untuk orang-orang disekelilingnya mulai terbalas. Walaupun selama ini Ichigo tidak pernah sedikitpun mengharap balasan atas jasanya.
Ichigo berhenti tepat di tengah-tenah ruangan yang memiliki banyak lorong tiap sudutnya. Tentunya ini sangat menghambat pencaian Ichigo.
"Sial! Kenapa banyak sekali lorongnya? Aku harus lewat jalan mana?"
"Itshigo!"
"Ne-liel?"
Cepat-cepat Neliel menghampiri Ichigo dan menarik tangan Ichigo. Membawa Ichigo memasuki salah satu diantara banyak lorong yang berada dihadapan Ichigo tadi.
"Neliel, tunggu! Aku tidak ada waktu untuk bermain, akau kesini ingin mencaari-."
"Gadis shinigami itu kan?" potong Neliel terus menarik Ichigo.
"Kau tahu dimana Rukia?"
"Ya, aku akan menunjukan jalannya."
"Ta-tapi, Neliel…"
"Tidak apa-apa, Itshigo. Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan dulu untukku. Aku memang bagian dari mereka, tapi… aku temanmu kan?"
"Terimakasih, Neliel."
mmmmm
Rukia berjalan menelusuri lorong-lorong reruntuhan Las Noches bersama Aaroniero alam wujud Kaien. Mereka berdua dalam perjalanan menuju ruang penelitian Szayel.
"Tenang saja, Kuchiki. Segelnya akan hilang begitu Hougyoku masuk dalam tubuhmu. Dan setelah itu… kita akan bersama selama-lamanya," ujar Kaien berjalan di sisi Rukia.
"Hmp, aku tahu Kaien-dono. Semuanya akan berakhir sebentar lagi, dan aku akan selama-lamanya di Hueco Mundo."
Rukia terus tersenyum mendengar janji-janji dari mulut Kaien, ia tahu semua itu adalah arahan dari Ichimaru Gin.
Rukia dapat membacanya, sejak awal Ichimaru Gin mempergunakan Aaroniero untuk menjerat dirinya agar secara suka rela datang ke Hueco Mudo. Membuat Rukia benar-benar yakin Kaien menginginkannya sebagai Kuchik Rukia, padahal yang sesungguhnya mereka menginginkan dirinya hanya sebagai wadah Hougyoku. Tapi Rukia kini sudah bertekad untuk melanjutkan kebohongan Ichimaru Gin hingga akhir, karena Rukia sudah memiliki rencana lain.
Rukia berencana untuk memusnahkan dirinya bersama Hougyoku ketika benda tersebut dimasukan dalam tubuhnya. Karena Rukia tahu, Ichimaru Gin beserta kawanannya akan ikut musnah bila Hougyoku dimusnahkan.
Namun… ada sedikit keraguan di hati Rukia sekarang. Tentang Aaroniero…
Rukia merasa… Aaroniero yang berada di sisinya sekarang benar-benar adalah Shiba Kaien yang dulunya sangat ia cintai dan hormati.
Rukia tidak pernah salah dalam merasakan hal ini. Ia tahu Gin memanfaatkannya, tapi bagaiman Aaroniero? Apakah benar baik Shiba Kaien maupun Aaroniero Arruruerie mencintainya?
"Kuchiki Rukia," KAien menghentikan langkahnya.
"Ya."
"Aku tahu, kau pasti belum sepenuhnya percaya padaku."
Seperti biasa, Kaien memang selalu bisa membaca gelagat serta jalan pikir Rukia.
"Kaien-dono, itu tidak ben-."
"Tidak apa," potong Kaien.
Kaien meraih tangan Rukia kedalam genggamannya. Diangkatnya dagu Rukia agar Rukia menatap matanya.
"Asalkan kau terus berada disisiku, aku yakin perlahan-lahan kepercayaanmu terhadapku akan tumbuh seperti dulu."
'Benarkah?' batin Rukia. "Kaien-dono…"
"Katakan kau mencintaiku, Kuchiki," pinta Kaien perlahan bergerak menundukkan kepalanya untuk mencium Rukia.
Rukia melihatnya.
Melihat sosok lelaki kuat, hebat, dan keras kepala yang selalu menantinya. Setiap saat selalu menuggu Rukia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, tapi… ia tidak pernah benar-benar mendengar Rukia mengucapkan cinta padanya.
"Ya, aku mencintaimu…" ujar Rukia penuh keyakinan, mulai memejamkan matanya. 'Aku memang selalu mencintaimu, Ichigo…' lanjut Rukia dalam hati.
"Rukiaaa!"
Teriakan seseorang telah menghentikan usaha Kaien mencium Rukia.
To be continued…
Wow, wow, wow!
Sipakah yang muncul?
Tentunya readers sudah bisa menebak….
Silahkan readers meniggalkan review sementara menuggu apa yang akan terjadi di chap depan…
Tentunya akan selalu ada kejutan…
Okay…
It's time to review….
