Arigatou minna!

Selau ucapan terimakasih yang pertama…

Especially to all readers…

I love youuuu… lup you…

Yah, chap ini bagian dimana Ichigo menghadapi Kaien..

Mey dah berusaha nampilin adegan petempuran semaksimal mungkin, Mey harap readers ga terlalu kecewa…

Tapi kalu readers belum juga puas, gomen… u_u

Pertempuran emang bukan keahlian Mey T.T

Gomennasai… end… semoga kalian suka…

Selamat membaca…

Prisoner of Love

Author : Meyrin Hawk

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Pairing : Rukia K. x Ichigo K.

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo

Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.

Chapter 8 : Dismal Empties

"Katakan kau mencintaiku, Kuchiki," pinta Kaien perlahan bergerak menundukkan kepalanya untuk mencium Rukia.

Rukia melihatnya.

Melihat sosok lelaki kuat, hebat, dan keras kepala yang selalu menantinya. Setiap saat selalu menuggu Rukia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, tapi… ia tidak pernah benar-benar mendengar Rukia mengucapkan cinta padanya.

"Ya, aku mencintaimu…" ujar Rukia penuh keyakinan, mulai memejamkan matanya. 'Aku memang selalu mencintaimu, Ichigo…' lanjut Rukia dalam hati.

"Rukiaaa!"

Teriakan seseorang telah menghentikan usaha Kaien mencium Rukia.

Rukia membuka matanya. Kehadiran orang itu telah membuat Rukia benar-benar terkejut, ini bukanlah bagian dari rencananya.

"Hei! Jangan sembarangan menyentuh gadisku ya!"

Kaien mengerutkan alisnya. "Siapa kau?"

"Ichigo!" seru Rukia.

"Yo, Rukia! ternyata kau masih ingat cara memanggil namaku dngan benar."

"Kuchiki, kau kenal dia?"

Kesalah terbesar Rukia adalah Ichigo. Rukia lupa memperhitungkan kehadiran Ichigo di Las Noches, ia juga telah mengambil tindakan ceroboh dengan meninggalkan Sode no Shirayuki ke Ichigo. Entah apa yang ada dipikiran Rukia waktu itu, bisa-bisanya ia menitipka Shirayuki pada Ichigo padahal saat itu Rukia berniat meninggalkan Ichigo.

Rukia melirik Kaien sekilas, lalu dengan tatapan yakin dipandanginya Ichigo.

"Tidak, Kaien-dono. Aku hanya mengnal Kaien-dono semenjak aku menginjakkan kakiku disini."

"Hoi, Rukia! Jangan asal bicara! Kau tidak tahu seberapa sulitnya aku untuk tiba disini?"

"Itu urusanmu, Kurosaki. Sekarang pergilah sebelum Kaien-dono menghabisimu."

"Aku tidak takut!"

"Hei, idiot!"

"Kau cebol!"

"Kau!"

"Yah… Kuchiki," Kaien menengahi pertengkaran mereka berdua. "Kupikir karena dulu dia pernah menyelamatkanmu, aku akan berpura-pura tidak tahu dan membiarkan dia pergi hidup-hidup. Tapi… begitu melihat sikapnya barusan, aku jadi berminat untuk mempersembahkan mayatnya kepada Ichimaru-sama."

"Tidak-tidak… jangan Kaien-dono," cegah Rukia, tapi Kaien telah bersiap-siap mencabut Nejibana dari sarungnya

"Tenang saja, Rukia. Setelah ini kita akan kembali ke Karakura dan menjadikanmu Kurosaki Rukia," ujar Ichigo mulai mencabut Zangetsu yang bertengger di punggungnya.

"Sayangnya itu cuma mimpi, Kurosaki. Kuchiki telah memilihku, dan sebentar lagi dia akan menjadi Shiba Rukia."

"Mari kita buktikan."

"Kaien-dono, tung-."

"Getsuga Tenshou!"

Serangan Ichigo tlah melesat terlebih dahulu sbelum Rukia sempat menuntaskan kalimatnya. Serang Ichigo tersebut menciptakan gumpalan debu dimana-mana.

"Ck, ck, ck… menyerang lebih dulu, sungguh sangat licik," kata Kaien mengucek-ngucek matanya.

Begitu gumpalan debu menipis, sosok Ichigo dan Rukia telah menghilang dari pandangan.

"Kau ingin main sembunyi-sembunyian dengan ku? Itu tidak akan berhasil, Kurosaki. Aku tahu, kau masih berada di ruangan ini, mencoba menyembunyikan Kuchiki dariku."

Kaien mulai mengayunkan zanpakutounya. Tiap pilar bangunan yang ia lewati, ia hancurkan begitu saja.

"Menggunakan Bakudou #26 rupanya," gumam Kaien.

"Ichigo!" maki Rukia sepelan mungkin. "Sejak kapan kau bisa menggunakan Kidou?"

"Shh…!" desis Ichigo semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Rukia, mencoba menyembunyikan reiatsu Rukia beserta miliknya dari Kaien.

"Ichigo, demi tuhan! Kaien-dono adalah ahlinya menggunakan Kidou, kau tidak akan menang!"

"Kau tidak bisa terus bersembunyi, Kurosaki."

Kaien masih asyik menghancurkan pilar dengan zanpakutounya.

"Ichigo! Berhentilah bertindak gila!"

"Ssst! Diam, Rukia! Kenapa kau tidak bisa berhenti memakiku? Kau tahu, kaulah yang membuatku bertindak gila seperti ini."

"Cepat kembalikan aku kepada Kaien-dono!"

"Berhenti memaksaku menyerahkanmu ke orang gila itu! Kau milikku Rukia! Kau tidak tahu kan apa tujuanku mengejarmu sampai Soul Society?"

"Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu itu. Cepat kembali-."

"Karena ini, Rukia!" potong Ichigo sedikit menyingkapkan kerah shihakusonya, memperlihatkan sebuah kalung yang melingkar dileher Ichigo dengan sebuah cincin sebagai liontinnya.

"Ichigo?"

"Ini adalah milik ibuku. Aku telah salah membiarkanmu pergi satu tahun yang lalu. Aku ingin melamarmu, Rukia. Membawamu kembali ke Karakura, menjadikanmu milikku selamanya.

"I-chi…"

Mata Rukia bekaca-kaca. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Antara perasaan haru dan bahagia, semuanya bercampur aduk.

"Kembalilah padaku, Rukia. Buat aku menjadi kuat lagi."

Cup!

Rukia mengecup singkat bibir Ichigo.

"hati di selatan, mata di utara, ujung jari di barat, tumit di timur, berkumpul bersama angin, berpencar bersama hujan," Kaien mulai membaca mantra Kidou. "Bakudou #58. Kakushitsuijaku!"

"Ru-kia, apakah artinya kau menjawab iya?" tanya Ichigo setengah tidak percaya.

Kaien tersenyum. "Oh, rupanya kau disana."

"oh penguasa, topeng dari daging dan darah, segala ciptaan di semesta, sayap-sayap yang mengepak, engkau yang memikul nama seorang manusia! Api yang menghanguskan dan kekacauan, kembangkan perubahan dinding selatan lautan," lagi- lagi Kaein membaca mantra Kidou.

"Ichigo, aku-."

"Hadou #31. Shakkahou!"

Duar!

Pilar tempat Ichigo dan Rukia bersembunyi tiba-tiba hancur, membuat Ichigo dan Rukia terlempar karena efek ledakan dari tembakkan energi spiritual berupa bola api yang Kaien lancarkan.

"Ops! Aku menemukanmu, Kurosaki…"

"Sial!" geram Ichigo bangkit berdiri.

Diliriknya Rukia, gadis itu telah tidak sadarkan diri.

"Rukia!"

"Tenang, Kurosaki. Dia cuma pingsan. Yang perlu kau khawatirkan adalah segel di tangannya."

"Segel?"

"Ya, segel. Aku yang membuat segel itu. Segel itu sebentar lagi sempurna bentuknya, dan… itu artinya dia kan mati."

"Tega sekali kau melakukannya pada Rukia!"

"Aku tidak ingin dia mati kok. Aku hanya ingin kau tahu, kalau kau ingin memiliknya juga, kau harus cepat. Walaupun nantinya aku berhsil kau kalahkan, semuanya akan percuma bila segel itu telah sempurna."

"Maksudmu, aku harus membunuhmu tepat waktu?"

"Ya. Begitu juga aku. Kalau aku menang, aku bisa segera menghapus segelnya."

"Bagaimana bila aku menang sebelum waktunya habis?"

"Segelnya akan hilang sendiri. Mudah bukan?"

"Hmp, bearti… hanya boleh ada 1 orang pemenang diantara kita."

"Pintar! Silahkan kerahkan seluruh kemampuanmu disini, Kurosaki. Ini pertarungan antara sesama lelaki."

Ichigo tersenyum lebar, dengan penuh keyakinan ia mengacungkan Zangetsu lurus ke depan.

"BANKAI!"

Ichigo telah berubah menjadi mode bankai.

"Mari kita selesaikan ini dengan cepat."

Pertarungan berlangsung dengan sengit. Tidak mudah bagi Ichigo mengalahkan Shiba Kaien ketika lawannya itu memiliki kekuatan dua kali lipat setelah dibangkitkan kembali. Terlebih lagi konsentrasi Ichigo sedikit terpecah ke Rukia –yang walaupun tak sadarkan diri, wajahnya meringis menahan sakit.

"Oi! Tidak seharusnya kita bertarung seperti ini. Lebih baik menghilangkan segel Rukia yang jadi prioritas utama kita," Ichigo mencoba berkompromi.

"Kuchiki memang menjadi prioritas utama bagiku. Tapi selama kau masih hidup, Kuchiki tidak sepenuhnya menjadi miliku. Jurus Bakudou #1. Sai!"

Bruak!

Ichigo jatuh terguling dilantai. Lengannya telah terikat di belakang punggung, ia berhasil terjerat oleh jurus Kidou yang Kaien lancarkan karena tidak fokus.

"Sial!"

"Padahal aku hanya menggunakan Kidou, tapi semudah ini kau bisa terjerat," cela Kaien.

"Bersiap untuk yang terakhir, Kurosaki. oh penguasa, topeng dari daging dan darah, segala ciptaan di semesta, sayap-sayap yang mengepak, engkau yang memikul nama seorang manusia! Kebenaran dan kesederhanaan, menyambar perlahan cakarmu pada dinding yang berpura-pura mengabaikan dosa!"

'Sial! Habislah aku, dia mulai melancarkan Kidou lagi,' batin Ichigo mencari akal untuk lepas dari jeratan energi yang menjerat lengannya.

Ichigo tahu, ia bisa mengalahkan Kaien. Semuanya cukup mudah dengan semua pengalaman bertarung yang ia miliki, belum lagi selama satu tahun belakangan tidak sedikit jurus Kidou yang berhasil Ichigo pelajari dari Urahara Kisuke. Tapi tidak dengan tangan terjerat seperti ini, terlebih dahulu Ichigo harus mencari cara untuk melepaskan diri dari jeratan Kidou yangmembelenggunya.

"Jurus Hadou #33. Soukat-."

"Apakah kau pernah merasakan bagaimana rasanya berciuman dengan Kuchiki Rukia?" sela Ichigo sebelum Kaien sempat mnyelesaikan mantra Kidou'nya.

Kaien memang orang yang memiliki tingkat kecerdasan jauh berbeda dari Renji. Namun keduanya sama-sama lelaki kan? Mereka berdua juga sangat menyukai Rukia. Sama seperti Renji, Kaien pasti akan mudah terbakar cemburu bila dipancing soal Rukia.

"Apa maksudmu, Kurosaki?"

Kaien sepertinya mulai memakan umpan dari pancingan Ichigo.

'Bagus!' batin Ichigo.

"Kau tahu, Rukia pertama kali berciuman denganku."

"Aku tidak ambil pusing soal itu. Aku bisa menciumnya nanti, setelah kau mati."

'Keras kepala. Bilang saja kau sudah mulai cemburu.'

Ichigo masih belum kehabisan ide.

"Kau tidak penasaran bagaimana cara Rukia membalas ciumanku? Bibirnya yang basah bekas ciumanku, lalu… cara dia mendesah menyebut namaku di sela-sela ciuman kami. Kau tahu, suaranya sangat merdu saat menyebutkan namaku."

Raut kekesalan terbentuk di wajah Kaien. Membuat Ichigo lebih besemangat memanasinya. Pancingan Ichigo cukup berhasil, jeratan dilengannya mulai melonggar.

"Diam kau, Kurosaki! Kau akan menerima balasa dari semua ini. Jurus Hadou #37. Souren Soukatsui!"

Duar!

Hup!

Ichigo berhasil lepas dari jeratan ketika serangan Kidou melesat kearahnya. Ichigo telah melompat ke sisi lain.

"Getsuga Tenshou!"

Ledakan besar selalu menyusul setiap serangan yang mereka keluarkan. Amarah Kaien benar-benar terbakar berkat Ichigo. Dengan suksesnya Ichigo menjadi orang yang berada di urutan pertama dalam daftar orang-orang yang akan Kaien musnahkan.

Sejak awal pertempuran ini hanya main-main bagi Ichigo, ia hanya seperti menari-nari menghindari serangan Kidou milik Kaien.

Ichigo tidak ingin membunuh Kaien, ia hanya ingin merebut Rukia kembali. Sendari tadi Ichigo telah berpikir, bagaimana perasaan Rukia kalau Ichigo membunuh orang yang Rukia cintai? Pastinya Rukia akan sedih. Dan Ichigo tidak menginginkan hal itu.

Tapi… melihat Rukia begitu menderita karena segel yang Kaien tanamkan, membuat Ichigo harus segera mengambil keputusan.

"Saatnya penutupan, Kurosaki."

Kaien mengacungkan zanpakutounya lurus kedepan. "Nejibana!"

Dalam sekejap zanpakutou milik Kaien telah berubah menjadi mode shikai.

'Apakah ini jalan satu-satunya yang harus kupilih, Kami-sama?' batin Ichigo.

"Ingat waktumu, Kurosaki… Kuchiki menunggu salah seorang diantara kita untuk menolongnya."

Kepala Ichigo tertunduk muram. "Maaf."

"Maaf? Kau ingin mengalah?" cela Kaien.

Ichigo kembali mengangkat kepalanya. "Bukan itu maksudku. Aku minta maaf… karena harus menghabisimu dalam satu serangan."

"Hah! Keluarkan seluruh kemampuanmu."

Ichigo mentap Kaien. Tangan kananya menggenggam kuat gagang Zngetsu, dan tangan kirinya menutup sebelah matanya.

Aura chaya gelap senada dengan warna darah langsung terpancar disekitar Ichigo. Begitu aura gelap tersebut musnah, Ichigo telah memiliki topeng Hollow mebungkus wajahnya. Warna mata Ichigo pun telah berubah, senada dengan mata ular yang siap memangsa.

'Anak ini! Darimana dia mendapatkan kekuatan iblis seperti ini?' batin Kaien sedikit terkejut. 'Kenapa sebelumnya dia tidak pernah memperlihatkannya padaku?'

"Aku siap," Ichigo mengacungkan Zangetsu kearah Kaien.

"A…auw…" Rukia tersadar begitu segel di tangannya terasa berdenyut.

"Dimana?" Rukia bergumam sendiri sambil mencari-cari sosok Ichigo ataupun Kaien.

Rukia melihatnya.

Ichigo dan Kaien tengah berdiri berhadapan dalam jarak yang tidak begitu dekat, sekujur tubuh mereka telah dipenuhi luka-luka.

"Akan ku akhiri dengan cepat."

Keduanya sama-sama mengacungkan zanpakutou lurus kedepan, kearah lawan masing-masing. Tak ada sedikitpun keraguan di wajah mereka, keduanya telah siap mati demi mendapatkan orang yang dicintai.

'Mereka akan saling bunuh? Ini gila!' batin Rukia.

Tanpa keraguan Kaien ber'sonido ke arah Ichigo, begitupun Ichigo yang menggunakan teknik shunpo'nya. Keduanya bersiap-siap menghunuskan zanpakutou ke perut masing-masing lawan.

"Ichigo! Kaien-dono! Hentikan!" teriak Rukia mulai ber'shunpo pula.

Crassh!

Darah terciprat dimana-mana.

"Aaroniero! Apa yang kau lakukan? Tidak, tidak, tidak… TIDAK! Dasar idiot!" Szayel telah muncul sambil memukul-mukul lantai.

Tidak berapa lama kemudian, wujudnya telah berubah menjadi pasir. Begitu juga Hougyoku yang berada di genggamannya.

Flashback…

"Kenapa Aaroniero lama sekali?"

Szayel sibuk mondar-mandir di ruang penelitiannya. Telah dua jam ia menunggu, tapi tanda-tanda kemunculan Aaroniero bersama wadah Hougyoku tak tampak juga.

Diliriknya kembali jam tangannya, kini waktu tepat menunjukan bahwa ia telah menunggu selama 3 jam.

"Sial! Apakah Aaroniero tidak tahu kalau waktunya sebentar lagi habis?" lagi-lagi Szayel berbicar sendiri.

"Kalau begini… aku harus menyusulnya."

Szayel ber'sonido mencri Aaroniero. Lama ia bersonido, rupanya ia telah menemukan Aaroniero siap menghunuskan zanpakutounya, begitu pula Ichigo.

"Buat apa dia membuang-buang waktu disini? Sebaiknya aku melakukannya sendiri."

Szayel mengeluarkan pecahan Hougyoku dari sakunya. Bagaimanapun juga Szayel harus segera memasukan Hougyoku sendiri, kembali ke wadahnya. Ini harus dilakukan mengingat waktu yang sebentar lagi habis.

Tanpa membuang waktu, Szayel ber'sonido ke tempat Rukia. Namun… baru sekjap Szayel tiba, Rukia telah lenyap. Rupanya wadah Hougyoku tersebut telah ber'shunpo ketengah-tengah pertarungan.

Tanpa aba-aba, salah satu dari zanpakutou di arena pertarungan telah menembus perut Rukia.

"Aaroniero! Apa yang kau lakukan? Tidak, tidak, tidak… TIDAK! Dasar idiot!" Szayel berlutut sambil memukul-mukul lantai.

Flashback end…

"Ke…napa.. bisa begini?" Kaien nampak shock.

"Ru…kia?" topeng di wajah Ichigo lenyap begitu saja.

Baik Ichigo maupun Kaien, keduanya membatu. Zangetsu berhasil menembus dada Kaien, tapi tidak dengan Nejibana.

Bukan karena Kaien tidak menghunuskan Nejibana atau karena Kaien mengalah, tapi karena Nejibana telah mengenai orang lain terlebih dahulu.

Rukia telah melindungi Ichigo.

Rukia muncul bertepatan dengan dihunuskannya Nejibana ke perut Ichigo. Meski darah mengucur deras di perut Rukia, gadis itu tetap tersenyum.

"Rukia, apa yang kau lakukan?" marah Ichigo ditanggapi senyum.

"Kaien-dono… maaf… uhuk!" Rukia terbatuk mengelurkan darah

"Rukia, berhentilah berbicara. Darahmu makin banyak keluar!"

Rukia menggeleng lemah. "Maafkan… a-ku, Kaien-dono. A-ku tidak… bisa lagi menjaga hatimu… yang dulu telah k-au titipkan. A…ku, aku telah memiliki hati orang lain un-tuk aku… ja-ga…"

Rukia mencoba mengatur nafasnya, semakin lama rasanya ia semakin kesulitan untuk berbicara.

"Ma-afkan a-ku, karena aku… te-lah salah mengaritkan rasa… kagumku kepada Kaien-dono se-bagai rasa… suka. Maaf…"

Kaien terdiam mendengar pengakuan dari Rukia, namun kemudian ia tersenyum.

"Aku mengerti. Kaulah pemenangnya, Kuroski," kata-kata terakhir Kaien sebelum ia berubah menjadi pasir.

Rukia merosot kepelukan Ichigo setelah Kaien beserta zanpakutounya musnah.

"Ichi…"

"Diam, cebol! Aku akan membawamu ke Soul Society."

"Ti-dak usah…"

"Aku bilang diam!"

Rukia meraih pipi Ichigo sebelum Ichigo berhasil menggendong Rukia. Disentuhnya lembut pipi Ichigo, perlahan air mata Rukia mulai menetes.

"Kau.. ti-dak lemah, Ichigo. Ka-u bisa… kuat tan-pa… aku…"

"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau akan tetap berada di sisiku."

Rukia menggeleng lemah. "Ti-dak, Ichi-go. Semuanya akan kembali nor-mal. Kau akan… kem-bali ke Karakura."

"Aku tahu itu, aku akan kembali bersamamu."

Rukia kian terisak. Ia tidak tega melihat Ichigo seperti ini. Pemuda itu begitu menaruh harapan besar terhadap masa depannya untuk bersama Rukia. Tapi semuanya terlihat mustahil sekarang.

"I-chi… maafkan aku karena… telah membiarkanmu menanti jawaban be-gitu lama dariku. Maaf… karena a-ku telah membuatmu terlibat dalam dunia shinigami. Seharusnya kau bisa menjadi manusia normal jika tidak bertemua denganku dulu. Sungguh… a-ku… sangat menyesal te-lah membahayakanmu…"

"Tidak, Rukia. Aku tidak pernah keberatan dan menyesal melakukannya. Justru aku merasa bersyukur karena semua itu membuatku bertemu denganmu."

"Ichi…" Rukia semakin terisak. Dia tidak ingin meninggalkan Ichigo, dia juga ingin bersama Ichigo. Melewati kehidupan di dunia nyata bersama Ichigo, lalu melewati hidup yang kekal di Soul Society bersama Ichigo pula.

Tapi apa daya Rukia. Takdir sepertinya tak pernah menginginkan Rukia agar bersatu denan Ichigo.

"Ka-u tahu Ichigo… aku benar-benar ingin bersama-mu… A-ku… men-cintai…"

Rukia ingin terus berbicara, tapi inilah batas akhirnya. Darah Rukia yang terus keluar sejak tadi telah menguras seluruh tenaganya.

'Kami-sama… kenapa suaraku tidak bisa keluar?' batin Rukia mulai hilang kesadaran.

'Tolong… untuk kali ini… izinkan aku memberitahu Ichigo betapa aku sangat mencintainya, dia belum pernah mendengarnya langsung dari mulutku. Kumohon Kami-sama… aku ingini bersamanya…'

"Tidak, Rukia. Tetaplah sadar!"

Ichigo terus mengguncang-guncang badan Rukia agar tetap sadar.

"Buka matamu! Rukia!"

Rukia hanya tersenyum sebelum matanya tertutup semua.

"Tidak! Jangan tinggalkan aku, Rukia. Jangan pergi dulu. Rukia! Rukia! Rukia!"

Ichigo terus berusaha membangunkan Rukia, terus berteriak agar gadis itu kembali membuka matanya. Tapi… gadis itu hanya diam…

Untuk kedua kalinya, Ichigo telah menangis. Seumur hidupnya, ia hanya menagis di hadapan ibunya.

"Ibu, jangan bawa dia… Kumohon jangan bawa Rukia pergi bersamamu… Kembalikan Rukia padaku… Rukia, Rukia, Rukia…"

Dan kini… Ichigo telah menangis dihadapan Rukia, gadis itu semakin mendingin di dalam pelukannya.

"Aaargh… RUKIAAA!"

To be continued…

I can't say anything…

Please, don't give me a flame…

Mey janji, it will be happy ending…

Tapi Mey ga bisa ngasih bocoran apapun untuk chap depan…

Apapun yang terjadi di chap depan,

tolong jangan bunuh Mey… *sujud-sujud*

Mey sebenarnya takut untuk memintanya,

Tapi… I need review… please… ~_~'

Note about Kidou :

Bakudou

1. Sai (pengikat) - mengunci kedua lengan target di belakang punggungnya.

4. Hainawa (tali menjalar) - mengikat lengan target dengan energi berbentuk tali.

26. Kyokko (cahaya berliku) - membuat target tidak kelihatan dengan membiaskan cahaya, mantra ini juga bisa menyembunyikan keberadaan dan reiatsu target.

58. Kakushitsuijaku (pemanggilan burung gereja pelacak) - melacak dan mengetahui lokasi kekuatan roh yang difokuskan oleh pengguna kidou.

Mantra: "hati di selatan, mata di utara, ujung jari di barat, tumit di timur, berkumpul bersama angin, berpencar bersama hujan."

Hadou

31. Shakkahou (meriam api merah) - menembakkan energi spiritual berupa bola api ke musuh.

Mantra: "oh penguasa, topeng dari daging dan darah, segala ciptaan di semesta, sayap-sayap yang mengepak, engkau yang memikul nama seorang manusia! Api yang menghanguskan dan kekacauan, kembangkan perubahan dinding selatan lautan."

33. Soukatsui (penjatuhan api biru) - menembakkan ledakan energi spiritual ungu yang membakar habis target.

Mantra: "oh penguasa, topeng dari daging dan darah, segala ciptaan di semesta, sayap-sayap yang mengepak, engkau yang memikul nama seorang manusia! Kebenaran dan kesederhanaan, menyambar perlahan cakarmu pada dinding yang berpura-pura mengabaikan dosa!"

63. Souren Soukatsui (penjatuhan api biru bunga teratai kembar) - menembakkan ledakan reiatsu berwarna biru ke arah target, mirip dengan Soukatsui, namun dengan area yang lebih luas dan lebih kuat. Di anime, Rukia melabeli hadou ini sebagai #73.