One Piece vs Fairy Tail
By : Argentum Silver and Gold Diamond
Siang yang luar biasa panas. Ketika surai matahari menembus bebas kaca jendela sebuah ruangan kusam di lantai dua, beberapa orang pemuda menelantarkan dagu dan pipi mereka begitu saja diatas meja dengan ekspresi enggan yang amat sangat.
"Ah, kalian kenapa teman-teman ?, " tegur seorang gadis pada kelima pemuda yang tengah mengistirahatkan kepala mereka diatas meja. Wajahnya yang terbingkai rambut merah, samar dalam silau cahaya matahari.
"Kami pesakitan yang akan digantung di tiang gantungan," jawab si rambut gelap asal. Suara serak dari tenggorokan kering yang malang.
"Ah, pasti karena lusa ulangan fisika kan?," tebak gadis itu, tertawa kecil, "sabarlah wahai para penganut ilmu sains," tawanya renyah, lalu mengusap-usap punggung si rambut gelap tadi.
"Sudahlah Nami, kau mengganggu kami semua," keluh si rambut toska.
"Aku tau kau rindu padaku, Nami-chan yang cantik~ Tapi kami juga sedang dilanda depresi stadium akut gara-gara ulangan maut itu," timpal si rambut kuning.
"Yang dibilang Zorro dan Sanji benar, Nami, kumohon jangan ganggu kami," sambung si hidung panjang.
"Mereka semua benar," dukung si rambut afro.
"Oke," kata gadis bernama Nami itu, "Meski lelah dan depresi kalian masih bisa demo juga ya! Bagaimana kalau aku numpang curhat soal ulangan Sosiologi dan politik ekonomi yang membuat anak-anak jurusan IPS mati mendadak?, "
"Aku mau, " si rambut kuning bernama Sanji mengangkat kepalanya yang terasa lebih berat dari biasanya, "Tapi aku tidak janji akan menyimaknya sebaik aku menyimak wajah cantikmu, " sahutnya kemudian.
"Kalian lucu ya," tawanya lagi, "Dengarkan dan ambil saja hikmahnya," lanjut Nami.
"Kau mau mendongeng apa selagi kita dilanda Big Strom bernama ULANGAN FISIKA?," tanya Zorro si rambut toska.
"Kau tinggal dengarkan tanpa banyak komentar! Jangan ngelunjak ya!," seruan Nami membungkam para pemuda itu.
"Dulu, waktu ulangan sosiologi dan politik ekonomi, anak-anak IPS 1 juga wajahnya seperti para pesakitan macam kalian ini, tapi ternyata nasib baik datang, kita bisa mencari contekan instant dengan mudah dan..."
"Benarkah??!!," seruan spontan Luffy, Sanji, Zorro, Ussop dan Brook yang sukses muncurahkan ratusan tetes air liur membuat Nami terlonjak.
"Dengarkan dulu! Sudah kubilang, dengarkan dan ambil hikmahnya!, " Balas Nami sengit ketika seragam putihnya tertimpa curahan liur mereka.
"Oke, Nami-chan! " Sanji mengangkat kepalanya sampai 90 derajat dari posisi semula. Tak ada lagi pipi dan dagu yang terdampar malang diatas meja lagi seperti tadi. Melihat respons yang sedikit bodoh ini, Nami pun melanjutkan ceritanya. Entah nyata atau hanya karangan belaka, tapi entah bagaimana gadis dari jurusan Ilmu pengetahuan sosial ini mampu mengembalikan senyum genk malas yang satu ini.
"Cukup jelas?, " Nami memastikan.
"Ya! " teriakan serempak bergema lagi dari Luffy dkk.
"Kalau begini caranya, kami benar-benar tertolong Nami!," seru Ussop dengan wajah cerah.
"Tentu saja, aku kan pintar. Tapi, " lanjut Nami,"Tapi kenapa kalian tidak minta contekan saja pada Robin, bukankah itu lebih instant?, "
"bukanya begitu, Robin kan berangkat lomba olimpiade Kimia di luar kota selama beberapa hari, dan dia berangkat besok, " jelas Zorro.
"Oh ya, " seru Luffy, "Siang ini kita kan ada pertandingan basket lagi awan Fairy Tail! "
Semuanya mengangkat alis mendengar seruan yang tiba-tiba itu.
"Kita semua tau, memang kenapa?, " tanya Brook.
"Gadis yang mengalahkanku kemarin itu juga pintar Kimia lho! Kemungkinan dia tidak ikut bertanding karena persiapan olimpiade, benar tidak?, "
"Eh? Benar juga ya katamu, " Sanji mengangguk-angguk, "Presentase kemungkinan kita menang meningkat nih! "
"Yeah! Rasanya beban di kepalaku berkurang setengah nih!, " seru Luffy.
"Berarti masih ada setengah dong?," canda Nami, menyikut lengan Luffy.
"Iyalah masih ada setengah, kan kita masih punya tanggungan pertandingan basket nanti siang, ya tidak teman-teman?,"
"Yeah! " sambut yang lainya kompak.
Nami tersenyum cerah. Udara panas siang itu tak lagi memberi efek negatif bagi mereka.
"Luff, kau lama sekali sih, cepat ambil baju olah ragamu!, " seru Sanji seraya menonjok lengan Luffy yang agak lamban.
"Iya, iya, nanti kususul di lapangan basket!, " Luffy berseru.
"Jangan lama-lama!, " balas Sanji sebelum akhirnya berlalu di balik pintu kusam besar yang membatasu ruangan ganti dengan sport hall.
Luffy cepat-cepat memutar kunci lokernya yang berada pada bagian terujung dari jajaran loker anak laki-laki di ruangan itu. Gerakan tangan Luffy terlalu terburu-buru saat itu. Ditariknya handle loker dengan keras. Sebuah tindakan yang (sangat) fatal akibatnya. Tubuh tak berdosa Luffy pun...
"Awww... " Brukkk!! Brukkk!!!
Tumpukan barang menimpa Luffy malang.
"Sialan," umpatnya keras sembari berusa meloloskan diri dari barang-barang yang nama dan fungsinya hanya diketahui Tuhan itu.
"Kapan ya terakhir kali aku merapikan loker laknat ini! Huh, sialan!," Ia merapal umpatan kesal, kemudian melemparkan barang-barang itu secara sembarang kedalam loker yang biasa disebut 'miniatur loker davy jones' oleh teman-temanya.
"Lain kali akan kulempar ke laut!, " ocehnya, menarik kaus olah raga aqua marine nya dan membanting pintu loker tak bersalah itu. Sebuah gerakan yang sangat cepat, membuat sesuatu jatuh menimpa kakinya yang telanjang. Sebuah benda yang putih dan ringan.
"Apa ini?, " tanyanya heran, memungut benda tadi. Sebuah lipatan kertas putih Ivory yang entah dimana Luffy merasa pernah melihatnya. Sebuah amplop yang sangat (amat) familiar dalam ingatanya.
Takut-takut Ia membukanya. Ada perasaan cemas tersisip. Tentu saja Luffy cemas, Ia amat kenal dengan tulisan yang tertera di situ, tulisan khas anak laki-laki yang... ehmm... per-nah me-nya-ta-kan su-ka pa-da-nya.
Mau main denganku di dermaga sore ini?
Natsu 'Salamander' Dragon Igniel
"Nama lengkap Salamander keren sekali, " komentar Luffy, kaget sekaligus takut dengan 'undangan' ini. Ditatapnya kembali jajaran tulisan itu, memastikan pengelihatan Luffy masih bagus.
"Serius? Salamander mengajakku ke main ke dermaga sore ini?, " tanyanya.
"Lu.... ffyyyyy!!!! " teriakan lantang mengejutkan Luffy yang masih terpaku dengan surat di tanganya. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka paksa, dan Nami berdiri di sana dengan tatapan marah.
"Kami menunggumu Luffy! " teriaknya nyaring, "sedang apa kau disana! "
"Maaf Nami, sebentar lagi aku keluar!" balas Luffy.
"Keluar apanya! Sudah dari tadi kau ada di sana! Memangnya kau mau mundur gara-gara kemarin kalah dari anak kelas sebelah ha?," tanya Nami kesal melihat Luffy yang belum juga bergeming dari tempatnya.
"Mundur? Kau ingin mengejekku atau bagaimana sih!" Luffy menyampirkan kaus olah raganya di pundak dan berkata dengan nada kesal, "Keluarlah, aku mau ganti baju!"
"Dalam waktu tiga menit kau tidak ke lapangan, kami akan mengeluarkanmu! Jangan kira ini hanya ancaman ya!" Cibir Nami tak kalah sengit.
"Kalau aku tidak berlaga sekarang, nanti aku akan mengecewakan fansgirlku dong! Enak saja!" balas Luffy lagi, "Dengar, mereka sudah meneriakkan namaku!"
Nami mengerutkan kening ketika suara riuh di luar sana terdengar sampai ruangan ini.
"R * * * * Y !!!! "
Sebuah teriakkan yang tak cukup jelas terdengar samapi telinga Luffy.
"Kau dengar? Mereka meneriakkan namaku!"
"Masa sih? Aku tak yakin mereka berteriak 'Luffy' "
"Kalau begitu kau harus mendatangi dokter THT, sudah sana pergi!"
Nami terkejut dengan teriakkan itu. Ia membalikkan badanya, dan tanpa mengatakan apapun menarik handle pintu dan menutupnya.
Ada kalimat yang tertahan paksa di tenggorokanya saat Ia melakukan itu.
"Sudahlah, Nami," kata Vivi lembut. Nami mengangkat wajahnya, menatap Vivi yang berada di sana sedari tadi.
"Baiklah, dia memang keras kepala," bisiknya kemudian, "Aku tak yakin bisa mengatakan 'itu' padanya "
"Tak apa, akan kukatakan pada Luffy nanti," kata Vivi pelan.
Bruakk!!!
Pintu ruangan itu terdorong, dan muncullah sosok dengan rambut gelap berantakan.
"Baiklah Nona-nona, jagoan mau beraksi dulu ya, daaa... " teriak Luffy sembari melesat cepat, melewati Nami dan Vivi dan...
Buakk!!!
"Awwww!!!!" pekiknya.
"Aduh!," Nami dan Vivi kaget, menutup mata masing-masing ketika lutut Luffy sukses bertabrakan dengan kusen pintu keluar sport hall karena terburu-buru.
"Sakit~ " pekiknya. Nami dan Vivi cepat mendekat mendengar pekikan itu.
"Lain kali jangan ceroboh Luff," kata Nami kesal. Ditariknya tangan Luffy lembut, membantunya berdiri.
"kalau lututmu cedera, bagaimana kau bisa main?," tanya Vivi cemas.
"Siapa peduli! cedera tidak cedera aku akan tetap main. Ini bukan apa-apa," Kata Luffy keras.
"Aku tidak apa-apa Nami, terimakasih," ujarnya sembari meluruskan kakinya kembali, "Ini bukan masalah besar,"
"Jangan memaksakan dirimu, Luff," Vivi berkata pelan, antara cemas dan kasihan.
"Aku tidak memaksakan diri kok, Vi, tenang saja,"
"Oke kalau begitu," sambung Nami, menonjok lengan Luffy, "Jangan bilang kami tidak mengingatkanmu,"
"Oke, lihat saja nanti, aku baik-baik saja, sudah ya, aku pergi dulu! Daaaa...."
Sebuah gerakan yang cepat untuk ukuran seorang atlit sekolah, Luffy berlari ke arah lapangan basket yang tengah menunggunya.
"apa ia akan baik-baik saja?, " desis Vivi.
"Huh, untuk apa mencemaskan Luffy, dia kan super positif orangnya! " balas Nami cuek sebelum akhirnya mengamit lengan Vivi dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Maaf aku telat," seru Luffy, berlari ke arah teman-temanya yang memasang wajah kesal padanya.
"Kemana saja kau!" bentak Ussop.
"Jangan marah, mustahil deh aku kabur, kan aku sudah ditunggu para fansgirlku berlaga di sini, masa sih aku mau kab..."
"ROCKY !!!!!!!! "
Kalimat Luffy terhenti oleh suara para gadis sekolah yang berteriak ganas di tepi lapangan. (Yang jelas) tidak meneriakkan namanya, melainkan nama orang lain.
"Fansgirl dari mana!" cibir Sanji kesal dengan beberapa urat kesabaran menyembul di kepala kuningnya, "Kau kan sekarang senasib dengan Kak Ace,"
"Tidak laku! " sambung Brook.
"Maksud kalian?"
"Dengar tuh! Mereka tidak meneriakkan namamu lagi! Mereka punya idola baru sih sekarang. Dan apa kau tau apa yang lebih buruk dari itu, Luff?" tanya Zorro.
"Idola baru mereka anak fairy tail!" timpal Sanji cepat, "Dan setidaknya idola baru mereka itu bukan pahlawan kesiangan macam dirimu Luff!"
Luffy mendelik, memasang wajahnya yang paling angker pada teman-temanya.
"Apa kalian bilang????!!!"
Luffy memutar kepalanya, melihat ke saentero penjuru lapangan, mencari seseorang yang diteriakki para gadis.
Rocky. Nama yang sangat asing untuknya. Mungkinkah Ia anak baru? Anak fairy tail juga?
"kau cari apa Luff?, " tanya Sanji heran.
"Anak bernama Rocky itu, aku penasaran padanya," jawab Luffy.
"Ah, kau tidak tau ya, dia kan anak baru," sela Ussop, "Katanya dialah idola baru sekolah ini, most wanted boy begitu... "
"Makanya aku penasaran padanya!"
Peluit panjang mengakhiri percakapan mereka.
"Ayo masuk lapangan," Zorro bangkit dari posisi push up nya, lalu menyusul Sanji dan yang lain yang sudah melesat duluan ke arah lapangan.
Riuh sudah mendominasi sekarang. Terik matahari mulai kalah dengan angin sepoi yang mulai mengehembuskan kesegaranya.
"Sssttt... Luff! " desis Sanji, "Itu yang namanya Rocky!" katanya sembari menunjuk dengan dagunya. Luffy mengedarkan pandanganya, mengikuti arah yang ditunjuk Sanji. Dahinya berkerut sejenak.
Seorang pemuda melangkah memasuki lapangan. Tubuh atletisnya lebih tinggi beberapa cm dari Luffy. Pantas disebut sebagai idola baru sekolah mereka, wajahnya tampan luar biasa, rambutnya yang oranye menyala terhembus angin perlahan, menguatkan efek cool pada wajah tirus manisnya. Beberapa gadis berteriak histeris pada pemuda itu yang beberapa kali melempar senyum maut yang... wawww...
Keren, puji Luffy dalam hati. Pemuda itu melepas kacamatanya yang berlensa kebiruan. Nampak bagai gerakan eksotis slow motion di mata para gadis yang langsung 'sekarat' menyaksikan pangeran baru ini.
Aneh... batin Luffy, Perasaan dulu yang berada dalam posisi seperti itu adalah aku...
Peluit panjang kembali menjerit, membuat semua pemain dalam posisi siaga masing-masing, dan...
BRAKKK!!!
Sanji dkk -kecuali Luffy- membanting pintu loker masing-masing bersamaan.
"Sialan!" umpat Zorro kesal. Ditendangnya loker tak bersalah di hadapanya.
"Anak baru itu benar-benar membalik kedudukan! Aku tidak terima skor 30-12 ini!" sambung Ussop.
"ita salah duga, meski tak sebaik si Erza dalam bertanding, tapi ternyata kita terlalu meremehkan anak itu," timpal Luffy sembari menutup lokernya perlahan.
"Benar-benar keparat! Lama-lama aku bisa gila melayani anak-anak fairy tail! Lihat saja gaya si Rocky itu! Sok cool!" umpat Sanji geram.
"Ada yang punya ide bagaimana caranya memberi perhitungan pada fairy tail?," mendadak Brook angkat suara. Semua memalingkan wajah pada si rambut afro ini. Satu persatu alis mereka terangkat.
"Brook benar, saling mengumpat bukan jalan keluar," ujar Sanji, "Kita harus cari cara memberi pelajaran pada anak-anak brengsek itu,"
"AKU TAU!" Pekik Ussop. Pekikan tiba-tiba yang mengejutkan kawan-kawanya.
"Jangan berteriak! kau membuat jantung kami berhebti berdetak tau!" seru Zorro, melepas tamparanya ke pipi Ussop.
"Uuhh... kenapa kau menamparku! Dengarkan, aku punya ide hebat!" protesnya. Semua mengerutkan kening ketika Ussop menarik susut bibirnya keatas, tersenyum. Senyum licik yang mendadak menarik perhatian Luffy.
Apa yang mereka rencanakan terhadap Salamander dan kawan-kawanya? Pikirnya. Luffy pun beringsut, mendekati teman-temanya yang duduk melingkar mengelilingi Ussop.
"Kita matikan jalur contekan anak-anak kelas sebelah!" bisik Ussop memulai. Semua mulai menyimak rencananya.
Sebuah rencana gila! Mereka akan mengordinasi semua anak IPA agar tidak membocorkan contekan ulangan Fisika pada anak-anak fairy tail.
"Jagoan Fisika dari kelas sebelah kan berangkat mengikuti olimpiade, jadi tanpa contekan itu, dipastikan mereka akan kebingungan! "
"Idemu gila!" seru Luffy.
"Gila, tapi hebat! Aku memang tak menjamin ide ini akan seratus persen berjalan lancar... "
"Tetap saja itu licik! Fairy tail tak seburuk itu! Kalian gila kalau mau mematikan jalur contekan mereka! " Luffy melompat berdiri, suaranya keras melengking, mengejutkan kawan-kawanya, "Tanpa contekan itu, tak ada satupun dari mereka yang akan lulus ulangan! Ulangan kali ini adalah akumulasi dari tiga materi tersulit semester ini, apa kalian tau itu!"
Diam. tak ada satupun yang membuka mulut ketika Luffy menyelesaikan kalimat terakhirnya yang bernada tajam.
"Kau... ternyata memang ada hubungan dengan anak fairy tail... " desis Sanji, menatap Luffy dengan tatapan tak percaya. Luffy yang berdiri di hadapan teman-temanya memalingkan wajah.
"Aku sudah pernah menyakiti Salamander, jadi aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menyudahi perseteruan antara kita dan mereka, " katanya pelan, "kalau kalian tidak keberatan, aku akan pergi sekarang,"
Langkah Luffy terasa tertahan ketika Ia meninggalkan ruangan itu. Ia tau bagaimana perasaan teman-temanya. Ia pun takkan mau jika berada dalam posisi itu. Semua menatap Luffy dengan tatapan seolah Luffy pengkhianat. Ya, Luffyu memang pengkhianat. tapi Ia pengkhianat yang anak membalik semuanya. Menyudahi segala perseteruan tak masuk akal ini.
Kaki telanjang Luffy mencapai pantai. Segera saja, ombak dan buihnya menjemput, menyapunya dan mengajaknya bermain dalam pesta dansa abadi antara pasir putih dan gelombang lautan.
"Luff!" panggil seseorang. Meski Luffy tau itu suara manis milik siapa, tapi Ia tetap enggan memutar lehernya.
"Luff, aku sudah menyelesaikan setengah tugas kimiamu," katanya lagi. tapi kali ini 'seseorang' itu mendekat.
"Ah, Vivi,"
"ada apa, sepertinya kau ada masalah," tanya Vivi.
"Bukan masalah kok," jawab Luffy, tersenyum.
"Lalu, sedang apa kau?, "
"Aku menunggu seseorang,"
Vivi tersenyum kecil, kemudian menjajari Luffy.
"Boleh aku disini?," tanyanya.
"Tentu, aku kan jarang sekali bermain dengan anak gadis, aku senang kau mau menemaniku," ujar Luffy ceria. Tak ada senyum yang dibuat-buat di wajahnya. wajah ceria dan bersahabat yang membuat paras cantik Vivi memerah sesaat.
Tak butuh waktu lama untuk mereka bisa akrab. Interaksi manis dalam background laut yang mengagumkan...
"Luff, lihat, aku menemukan molusca cantik," ujar Vivi, mengangsurkan tangan mungilnya. Spiral bercorak abu-abu itu bergerak perlahan, membuat Vivi terkikik geli.
"Cantik ya," kata Luffy, ikut tertawa. Tubuhnya hanya berjarak beberapa cm dari Vivi. Mereka berdua tertawa bersama menatap makhluk mungil itu bergerak-gerak kebingungan diatas tangan mulus Vivi.
"Aku lepas ya," Vivi menekuk kakinya, duduk diatas pasir halus di bawahnya. Luffy tertegun sesaat detik itu. Wajah menawan Vivi memantul di mata jernih miliknya. Ia pun membungkuk perlahan. Kini Ia mengerti mengapa Sanji ataupun pemuda lain di sekolahnya tergila-gila pada gadis ini. Rambut birunya berkibar pelan, menambah anggun sosoknya yang terbalut inner beauty yang nyaris sempurna.
"Vi... "
Vivi mengangkat wajahnya. Gerakan yang membuat wajahnya hanya berjarak dua cm dari Luffy.
"Vi, aku... "
"Ya?"
"Aku... "
2 cm...
1 cm...
Dekat sekali...
Bruakkk!!!
'Sesuatu' menghantam Luffy dengan kecepatan tinggi sebelum Ia sempat melakukan apapun dengan Vivi.
"Kyaaaa... " jerit Vivi kaget. Bukan hanya hantaman telak, Luffy pun tertimpa 'sesuatu' itu.
"Sa... salamander???" serunya syok melihat wajah lebam 'sesuatu' yang menimpanya itu.
"Maaf... " Natsu mengangkat tubuhnya yang menimpa Luffy.
"kau kenapa?, " tanya Luffy heran. tanpa memperdulikan pertanyaan Luffy, natsu menyeka lebam di pipi kirinya dan berdiri, merapal umpatan,
"GRAY SIALAN!!! Awas kau! Kubunuh nanti! Brengsek! Kubakar isi perutmu!"
"Aisaaa... " teriak seekor kucing berbulu biru yang muncul dari dalam pasir, "jangan khawatir Luffy, Ia hanya berkelahi dengan Gray~"
"Apa mereka berdua memang selalu begitu?" tanya Luffy heran, menatap Natsu yang mendelik tajam sambil merapal umpatan beberapa kali pada Gray.
"Setiap hari, bahkan setiap detik! Aisaaa... mereka memang ditakdirkan untuk berseteru, hihihihihi.... " tawa kucing itu. Luffy mengerutkan keningnya, lalu melempar pandanganya ke arah Natsu yang tengah disibukkan dengan lilitan syal kotak-kotaknya.
"Ck... ck... ck..."
"Eh, iya, Luffy, kudengar kau berteman ya dengan Natsu?" tanya kucing itu. Luffy yang masih terduduk diatas pasir itu mengalihkan pandanganya pada kucing biru lucu ini.
"Kenapa? Ada yang salah?,"
"Bukan, tapi Erza sekarang ini sedang keluar kota untuk olimpiade sains, makanya, mereka jadi rajin bertengkar, habisnya mereka berdua cuma takut pada Erza sih~ jadi, maukah siang ini kau main ke guild kami? Hanya untuk meredam mereka berdua, aku mohon~"
"Guild? Keren~ oke, aku mau main ke guild kalian!" jawab Luffy spontan. Ia mendorong topi jeraminya lebih ke belakang, lalu berpaling pada vivi, "Vi, kita main ke markas FT yuk!"
"Baiklah~" ujar Vivi, tersenyum lembut. Parasnya masih nampak merah akibat kejadian tadi.
"Hehehehe...."
Langkah mereka terhenti di depan sebuah gedung megah yang menjulang dengan tinggi tak kurang dari delapan meter ke atas. Gedung berarsiterkur menawan itu memantrai mata Luffy dan Vivi untuk sesaat. Keindahanya yang mencengangkan amat menakjubkan. Halaman luas yang dibatasi beteng berpagar besi keperakan dengan lambang FT terukir diatasnya. Desah angin yang menggesekkan dedaunan di sekitarnya melahirka aura nyaman yang mengantukan.
"Cantik, " komentar Vivi, tersenyum.
"Wah... wah... jangan melihat dari luarnya saja dong, kalian tau tidak, di dalam gedng megah ini, penuh dengan orang-orang super bermasalah," ujar si kucing biru yang memperkenalkan dirinya bernama Happy itu, "kalau tidak percaya, aku punya contoh kongkretnya. Tuh!"
Luffy memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk Happy. Diatas jalan berpaving yang rapi memanjang, dua makhluk aneh saling menerkam dengan sadisnya. Yah, Gray dan Natsu yang belum menuntaskan perseteruan mereka sedari tadi.
"Aku bisa mengerti," bisik Luffy pada Happy.
"Makanya, aku minta tolong padamu," balas Happy.
"Tapi, apa kau yakin aku bisa meredam mereka berdua? Mereka lebih parah daripada teman-temanku sih," keluh Luffy, melihat aksi Natsu dan Gray yangs semakin lama semakin brutal, bahkan tak segan saling menghantam pada bagian vital mereka. Uhhh...
"Coba saja," ujar Happy.
"Iya, lihat, kalau merka terus begitu, mereka bisa mati, Luff," Vivi menarik tangan Luffy. Ekspresi cemasnya terlihat nyata.
"Oke deh, tapi mereka lebih ganas daripada Zoro dan Sanji, jadi aku tidak jamin aku bisa melerai mereka,"
Luffy mengerutkan keningnya sejenak, entah berpikir, atau mencari kesempatan melerai keduanya.
Ini sulit, mereka terlalu sering menghantam, tapi seimbang, pikirnya mencoba menganalisa, Ada kelemahan pada tendangan Gray, tapi Salamander juga punya kelemahan dalam pertahananya, terutama tangan kiri. Kalau aku mencari celah pada kesempatan itu, makan aku bisa menangkap leher keduanya. Tapi itu sangat sulit, karena aku belum pernah meghadapi yang seperti ini. Berbeda dengan pertarungan Sanji dengan Zorro yang memiliki banyak celah, pertarungan mereka sangat sulit ditebak! Tapi hanya pada kesempatan itulah, aku bisa melerainya. Kesempatan itu...
"Sekarang!" seru Luffy tiba-tiba. Hanya hitungan detik setelah itu, Ia masuk diantara keduanya. Tubuh lenturnya mampu berkelit dari serangan manapun. Sebuah gerakan tubuh yang tiba-tiba dan tak terduga! Dan...
"Luf..."
"...Fy..."
Semua tercengang. Tak lupa memasang wajahnya yang paling horor, Luffy berdesis tajam laksana viper gurun, "Kupatahkan tulang kalian kalau kalian berani bertingkah!"
Kaki kanan Luffy terangkat, mampu menahan tendangan dari kaki jenjang Gray. Entah bagaimana, timingnya sangat tepat sehingga Luffy luput dari tendangan itu, padahal Gray memiliki daya serang yang lebih jauh dari pada Natsu. Sementara tangan kananya tepat meraih leher Gray dan menekanya sehingga Gray tak bisa bergerak tanpa harus kehabisan nafas.
Natsu membelalakan matanya ketika menyadari kedua pergelangan tanganya telah bersatu dalam genggaman tangan kiri Luffy. Keduanya tak mampu bergerak kini.
"Kalian dengar, jangan ada yang bertingkah!"
Prangg! Langkah pertama Luffy memasuki ruangan bangunan itu disambut lemparan gelas keramik. Gelas itu melayang cepat melewati telinga kirinya.
"Siapa itu yang melempar gelas!" teriak Natsu. Seorang gadis mengangkat roknya sedikit dan berlari dari atas tangga dengan langkah tergesa-gesa.
"Rachxas mabuk, maaf ya Natsu," katanya. Gadis berambut keperakan itu berlari kecil, membuat dadanya yang aduhai nampak menggoda dalam balutan busana panjang dengan belahan rendah. Luffy mengeleng keras, menepis pikiran joroknya.
"Luffy, Vivi, kenalkan, ini pelayan di kafe ini, namanya Mira," ujar Natsu ramah.
"Hai, namanku Mirajane, kalian bisa panggil ku Mira saja," katanya. Senyumnya manis dan menyiratkan persahabatan yang dalam.
"Hai Mira, aku Vivi, dan ini Luffy, kami teman satu sekolahnya Salamander," kata Vivi lembut.
Mereka satu karakter, pikir Luffy.
"Duduklah, maaf ya, suasanya kacau. Kubuatkan sesuatu untuk kalian," ujar Mirajane ramah.
"Terimakasih. tapi Salamander yang bayar ya, hehehe... "
"Ih, kau ini!" Natsu menyikut lengan Luffy.
"hahaha..."
Sebuah tempat di pojok kafe. Luffy mengedarkan pandanganya, menatap satu persatu pengunjung. Riuh mendominasi seperti layaknya kafe lain.
"Nih, aku ambilkan softdrink dari kulkas," seru Natsu, melempar kaleng dingin ke arah Luffy dan Vivi.
"Terimakasih ya, tapi, apa maksudmu mengambil?" Tanya Luffy, mengerutkan keningnya.
"Biasalah... " timpal Gray, "Otak maling Natsu tak ada duanya!"
Kyut! Muncul beberapa urat kesabaran di kepala Natsu, "Apa maksudmu?! " serunya kalap, lalu menaikkan kaki kananya keatas meja, melahirkan suara gebrakan yang tajam.
"Aku memuji tau!"
"Mana ada pujia macam itu, ha?"
"Tutup mulutmu, nafas api bau!"
"Es sialan!"
Brakk! Luffy membanting kaleng softdrinknya di meja, membuat Gray dan natsu berpaling ke arahnya. Dalam hitungan detik mereka bungkam dan menurunkan kaki masing-masing dari meja.
"Hihihi... kenapa tidak jadi berkelahi lagi?," tawa Vivi.
"Siapa yang tidak takut dengan tampang angkernya," bisik Gray.
"Itu baru tampang, belum nanti kalau menunjukkan aksinya..."
"Hai Salamander, siapa nih~" Kata seorang gadis manis yang melintas di meja Natsu dan yang lainya.
"Oh, ini teman sekolahku, namanya Luffy," jawab Natsu ceria.
"Wah, tampan ya~"
Luffy mendongak, kaget dengan kalimat gadis tadi. Pandangan mereka bertemu beberapa detik lamanya. Seorang gadis mungil yang sangat manis, Pikir Luffy.
"Hai, namaku Levy, senang bertemu denganmu," sapanya ramah. Luffy membalas senyum gadis bernama Levy itu. Senyum yang menyiratkan satu pemikiran positif tentang FT di benak Luffy, tuh kan, semua anak fairy tail ramah...
"Ah, Levy, jahatnya, kau mencuri start, padahal aku ingin menjadi orang perama yang kenalan denganya," timpal seorang gadis lagi. Kalimat yang diucapkanya mengejutkan Luffy seketika itu.
"Hai, Natsu, kenalkan juga padaku dong," sela gadis yang lain.
"Iya, Natsu, temanmu keren juga ya~"
Luffy tercengang ketika beberapa gadis langsung mengerubutinya.
"Hai, aku Kana," sapa si rambut gelap berombak. Cantik, tapi nafasnya berbau alkohol.
"Aku Visca," sela seorang gadis bertopi.
"Aku Miki~"
"Hei, hei," seru Luffy bingung, "Maaf Nona-nona, jangan terlalu menempel dong, aku jadi tidak enak nih... "
"Maaf, jadi..." kata Kana, ".. siapa tadi namamu?"
"Namaku Luffy. Monkey D. Luffy. Perkenalkan juga, ini pacarku, namanya Vivi, dan kami teman satu sekolahnya Salamander," ujar Luffy.
"Maaf Vi, kau bisa bersandiwara sedikit kan?," bisik Luffy pada Vivi setelah itu. Luffy menangkap rona merah pada pipi Vivi.
"Ti... tidak apa-apa... " balas Vivi tersipu.
"Oh, jadi Luffy sudah punya pacar~" seru para gadis itu kecewa. Desah kecewa yang hanya dibalas tawa kecil khas dari mulut Luffy.
"Maaf..." ujar Luffy.
"Ck... ck... ck... playboy darimana nih, enak sekali..." seru seseorang dari seberang meja. Suara bernada tinggi mengejek dari 'seseorang'.
Hmm... pemuda keren berambut oranye... berkacamata gelap... berwajah tampan...
"Ro... Rocky?" seru Luffy kaget melihat Rocky yang tengah menaikkan kakinya keatas meja itu. Asap dari rokok kecil yang terselip di mulutnya melayang perlahan ke udara.
"Kau member baru FT ya?" tanyanya.
"Tidak, aku hanya menjadi pengawasnya Gray dan Salamander selama Erza pergi," jawab Luffy cepat.
"Pengawas ya... hmmm... ya sudahlah, anggap saja kompensasi... " katanya.
Mata Luffy menyipit heran, "Kompensasi apa?"
"Kudengar kau adalah most wanted boy di sekolah. Aku sadar aku telah merebut posisi itu darimu. Sekarang kubiarkan kau jadi idola di markas ini,"
"Hahaha..." tawa Luffy, "Tak apa, Rocky, menjadi idola kan bukan persaingan,"
Rocky tersenyum. Suara coolnya terdengar, "Tentu, Luff... kau akan menjadi teman yang baik untuk kita..."
Jarum jam berputar cepat, dan langit mulai berubah warna.
"Sudah sore nih," ujar Luffy, melayangkan pandanganya ke jendela. Langit nampak kehilangan sedikit derajat kebiruanya kini, tanda telah senja.
"Wah, sudah mau pulang nih?," tanya Natsu.
"Iya, kasihan kan Vivi, dia juga banyak tugas sih... "
"Oke, yuk kuantar. Tapi kapan-kapan main kemari lagi ya, kita bisa ngobrol banyak hal sepeti tadi, hehehe..."
Luffy bangkit dari duduknya, "Aku senang kau tidak berkelahi dengan Gray hari ini, ingat, kalau kau berkelahi lagi, kuadukan pada Erza!"
"Mengadulah sepuasmu!" timpal Gray, "Kami takkan berkelahi lagi kok,"
"Bagus, berjanjilah padaku! awas kalau berkelahi!"
Tawa mereka lepas. Hari yang sangat menyenangkan menurut Luffy...
Kaki mereka melangkah pelan diatas pasir. Ombak yang dipermanis sunset menjadi backround yang indah untuk persahabaan baru ini.
"Hati-hati ya Luffy, Vivi," kata Natsu.
"Oke, terimakasih banyak ya,"
"Maaf," sela Vivi tiba-tiba, "Bolehkah aku bicara dengan Luffy sebentar," pintanya.
"Oke, kalau begitu aku akan pergi," kata Natsu cepat.
"Tidak perlu, kulihat kau juga ingin bicara pada Luffy. Aku cuma sebentar kok. Tapi, Salamander tutup mata dulu ya sebentar..."
Alis Natsu terangkat, "Ba... baiklah... " katanya, lalu menutup kedua matanya, sesuai keinginan Vivi.
Saat itu, mata Natsu dan Vivi bertemu. Hanya sekian detik setelahnya, Vivi mengangkat tumitnya agar wajahnya dapat sejajar dengan Luffy. Ia pun menampar pipi kanan Luffy dengan kecupan lembut yang hangat. Gerakan yang tak terduga!
"Sampai nanti teman-teman~" seru Vivi sambil berbalik, lalu berlari pergi.
"Vi... " tenggorokan Luffy tercekat hebat. Nafasnya... detak jantungnya... ufff.... rasa apa ini....
"Hey!" seru Natsu, "Aku sudah boleh buka mata atau belum nih?"
Luffy mengehembuskan nafas panjang. Lalu berpaling kearah Natsu yang masih memejamkan matanya.
"Oh, iya... " Luffy menyeringai, "Jangan buka matamu dulu!" seru Luffy. Ia berlari menjauh.
"Masih belum boleh buka mata!" seru Luffy dalam jarak lima meter.
"Belumj boleh, nanti kalau aku bilang buka, baru kau buka mata!" teriaknya. Suaranya samar di telinga Natsu. Luffy tertawa jahil, lalu berlari... lari dan terus lari...
TBC
