Silver : Chapter 4 update !!! Seneng rasanya~
Ya udahlah, baca aja ya~ ^^ ga tau sih mau bilang apa lagi... tapi maaf kalau banyak kekacauan, terutama peletakkan tanda kutip, koma dan spasi, itu dikarenakan sebelum update terjadi masalah teknis pada penulisan fic ini *ngelirik hape nexian gue yg udah menyebabkan semua ini*
Diamond : Apa hubunganya kekacauan fic dengan hape bututmu mbak?
Silver : Ga ada!
Diamond : Gubbrrakkk!!!
One Piece vs Fairy tail
By : Argentum Silver and Gold Diamond
Angin yang semilir, menembus ruangan yang didominasi warna putih itu. Dan di sebuah ranjang yang juga terdominasi warna putih, sosok itu terbaring. Matanya terpejam tenang.
Brakkk!!!
"Gray!!!! "
Pintu ruangan terdobrak paksa, dan paduan suara kasar bergema, meneriakkan nama sosok itu -Gray-
"Bangun pemalas!" hardik si rambut oranye. Gray membuka matanya sedikit, melirik dengan tatapan malas kepada ketiga pemuda yang berdiri garang di depan pintu.
"Bangun! Darurat tingkat A nih!" ujar si rambut keemasan yang kemudian mendekati Gray, diikuti kedua temanya yang lain.
"Gray, anak-anak topi jerami memutuskan jalur contekan kita!" kata si rambut biru.
"Kita hajar saja pulang sekolah!"
"Ah, kalian ini bagaimana, aku baru sekarat di ruang kesehatan begini kalian malah mengajak berbuat kejahatan," balas Gray, "kan masih ada si nafas api bau yang bisa membantu kalian! "
Plakk! Ketiga pemuda itu menepun jidat masing-masing bersamaan.
"Bukan bodoh~ maksudku, bukan kita yang mau menghajar anak-anak itu! kita sewa orang lah! Dan kau tau kan siapa dia?" kata rambut oranye.
"Ah! sia-sia saja Rocky... rencana picik kalian tak pernah berhasil masih saja nekat! Jangan jadi pengecut deh, kalau mau hajar, hajar saja!" hardik Gray kesal.
"Nah, itu kamu sendiri tau! Ayo Gray, berpartispasilah! Kita hajar saja anak-anak topi jerami!"
Gray mengerutkan kening. Ia bangkit spontan dan menatap wajah-wajah di hadapanya.
"Aku sudah bilang, kan masih ada Natsu yang bisa membantu kalian!" kata Gray tajam.
"Jangan berlagak deh Gray! Kalau kami dapat contekanya, jangan pernah minta ya!" seru si rambut keemasan, Leon.
"Iya, iya deh, aku ikut kalian menghajar anak-anak topi jerami... tapi kalian jamin keamananya ya! Jangan sampai kita semua didepak ke konseling cuma gara-gara masalah ini!" balas Gray dengan nada pasrah.
"Baguslah! Ayo bangun, sekarang ini anak-anak topi jerami sedang ada di kelas mengikuti ulangan fisika, kita punya banyak waktu untuk mencari orang ke lima", ujar rambut biru, Gerald.
"Orang ke lima?," Gray kaget, "Maksudmu...."
"Jumlah anak-anak topi jerami kan lima orang, kita juga harus mempertimbangkan keseimbangan jumlah dan kemungkinan resiko perlawanan nanti," jelas Rocky.
"Wah, kau ini mau balas dendam atau tawur massal ha?" tanya Gray heran. Ia menatap Rocky dengan pandangan penuh tanya.
"Tenanglah Gray, kapan sih fairy tail kalah?" ujar Leon santai, membuat Gray langsung menyeringai galak pada rivalnya yang satu ini.
"Memang kau anak fairy tail?", tanyanya sinis.
"Aku dan Gerald memang bukan anak FT, tapi kami kan juga teman kalian!" balas Leon sengit.
"Sudah deh, pertengkaran kalian sia-sia," lerai Rocky, "Gray segera bangun dan kita pikirkan siapa orang ke lima itu, "
Gray menggelengken kepalanya sebentar, lalu mencoba bangkit dan menepis semua ngilu yang mulai merayapi tubuh gagahnya.
"Gazzille," katanya tiba-tiba.
"Ya, kau benar, kita bisa merekrut Gazzille," kata Rocky, "Dengan itu, kita pas berlima, jadi kita bisa menghadang gank topi jerami itu!"
"Iya deh, aku ikutan, daripada nanti nilaiku hancur," sahut Gray. Ia menyibakkan selimut putih yang menutupi tubuhnya.
"Gyaaaa~~~ Gray! Gila kau! Kemana pakaianmu?!" Pekik Rocky ketika semua selimut yang menutupi tubuh Gray telah tersibak. Gray yang mendadak autis tak bisa menangkap maksud Rocky.
"Gyaaaa~~~" seru Leon dan Gerald bersamaan. Gray mengerutkan keningnya. Ia langsung menunduk, memperhatikan seluruh tubuhnya. pandanganya langsung jatuh ke arah...
"Gyaaaa~~~" teriak Gray tanpa ampun, "JANGAN LIHAT KE SINI!!!! "
Uff... pipi Gray memerah. Ia buru-buru memakai boxer nya yang tadi lenyap entah kemana. Bagaimana mungkin ada siswa yang terbaring sekarat di ruang kesehatan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya... hwaaaa.....
"Uh, dari dulu kau tak pernah bisa berubah! selalu saja begitu!" keluh Leon, menepuk dahinya berkali-kali melihat ulah Gray
"Aku juga tidak tau kenapa bisa telanjang bulat begini!" balas Gray sembari mengancingkan seragamnya.
"Eh, ngomong-ngomong, kata Gray, kalian bolos dari kelas ya? Kalau tidak salah sekarang kan ada praktek di lab. ? "
"Tentu saja, siapa yang betah berkutat dengan bunsen dan alkohol di lab. ha?" jawab Gerald.
"Kapan-kapan aku akan mengerjai Alberonna-chan agar dia meminum semua alkohol di lab. Aku pusing dengan praktek-praktek macam itu sih... "keluh Rocky yang menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
"Kau ingin mengerjai Alberonna atau membunuhnya?" tanya Gray, menatap
Rocky dengan tatapan takut.
"Yow, sudah kan Gray? Ayo keluar !" ajak Gerald.
"Yow~ " seru ketiga rekanya bersamaan.
Keempat pemuda itu keluar dari ruang kesehatan setelah itu. Dan mereka pun menuju suatu tempat. Gelap, pengap, menyeramkan. Di tempat itulah mereka menjemput seseorang, yang nantinya akan menjadi masalah yang (sangat) besar bagi Luffy dkk.
"Aw~"
"Aw~"
"Aw~"
"Gazzile !!!!! " seketika Gray, Leon, Gerald dan Rocky berseru pada sesosok pemuda dekil yang tengah sibuk ber -aw- ria di sebuah kursi panjang lusuh di sudut ruangan berdebu ini.
"Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai begini?" tanyanya datar.
"Kau sedang apa sih?", tanya Rocky, mengerutkan keningnya heran pada pemuda dekil itu.
"Bisa tidak kalian membiarkanku mencabuti bulu mataku dengan tenang ha?, "
Gubbrrakkk !!!
"Kenapa kau mendadak jadi banci sih!" hardik Gray yang kemudian langsung melepas tendanganya ke kursi yang diduduki pemuda bernama Gazzille itu. Tendangan maut itu sukses menghempas tubuh Gezzille berikut kursinya ke lantai kusam di bawahnya.
"Awww~~~ Tega sekali sih menghempasku begitu!" balas Gazzille, meringis kesakitan sembari mengelus punggungnya dengan rasa kasihan.
"Kita butuh bantuan nih!" ujar Rocky. Gazzille menoleh pada keempat pemuda di belakangnya itu. Wajahnya nampak dewasa dan terkesan keras. Ditambah beberapa tindik di wajahnya yang menguatkan kesan garang pada wajah berbingkai rambut jabrik berwarna gelap itu.
"Butuh bantuan apa sih! Ngomong-ngomong si nafas api kemana?" tanyanya.
"Kami sudah menyekap si nafas api di loker sport hall, biar tidak mengacau~" jawab Gerald santai.
"Wah? Tega sekali~ Oke kalau begitu, kalian ada urusan apa sampai-sampai mencariku segala ha?", tanya Gazzille lagi.
"Begini, ujar Rocky, Kami ada dendam dengan anak-anak kelas sebelah. tadinya kami sih ingin berteman dengan mereka, tapi mereka malah memutus jalur contekan
ulangan fisika kami. Padahal besok kami ulangan, "
"Rumit juga sih kronologinya... "
"Begitu kau bilang rumit?" Timpal Leon.
"Kau kemanakan otakmu Gazz?" sambung Gray.
"Maaf... kalian kan juga tau, hidupku berantakan sejak aku keluar dari sekolah setahun lalu..." bisik Gazzille.
"Ya sudahlah, intinya bergabunglah dengan kami untuk menghajar anak-anak kelas sebelah itu!" potong Rocky.
"Menghajar???" Gazzille berseru, "ya! Aku mau! Aku terima!"
Gazzille melompat, Ia bersorak bagai orang gila.
"Yeah! Sudah lama aku tidak menghajar orang!" teriaknya.
"Duh!" Gray menepuk dahinya, "seharusnya kita jangan ajak dia!" keluhnya.
"Eh? Tapi kenapa kau pikir Salamander bakal mengacau sehingga kalian menyekapnya? " tanya Gazzille tiba-tiba.
"Sudahlah, jangan bahas itu. Selesaikan pekerjaanmu dan segera pasang tindik diatas matamu! Kita pergi siang ini!"
"Siap!" serunya.
Pintu learning room 7 terbuka.
Wajah-wajah kuyu pun bermunculan dari balik pintu itu.
"Sulit~ "
"Gila! Soal ini tidak terprediksi, "
"Soalnya mengerikan~"
Keluhan-keluhan senada pun mengalir mulus dari mulut para siswa yang muncul dari balik pintu ruangan itu. Tak terkecuali grup yang satu ini : Topi jerami.
"Wah~ Susahnya~" keluh Ussop.
"Yah... berterimakasihlah padaku!" sahut Sanji.
"Siapa yang sudi berterimakasih padamu, aku mencari contekan sendiri tau!" ujar Zorro, tak lupa menambah tamparan pada pipi kiri Sanji.
"Marimo sialan! dasar tidak tau diuntung!"
"Apa kau bilang!"
"Kau tuli?!"
"STOP!" seru Luffy menegahi Sanji dan Zorro yang mulai saling melempar devil glare, "Kalian ini apa-apaan sih!"
"Oke, kami semua berterimakasih pada kalian yang sudah mencarikan kami contekan, dan jangan lupa berterimakasih juga pada Nami yang katanya sudah memberikan cara bagaiaman mencari contekan instant... beres kan?" ujar Brook ringan.
"Afro benar!" sambung Luffy ceria, "lanjutkan saja hidup SMA kita setelah ini. Soal ulangan biarkan saja, kan hasilnya keluar nanti,"
"Oh, ya!" seru sanji tiba-tiba, membuat rekan-rekanya yang hendak menaiki anak tangga menoleh bersamaan.
"Kita kan sedang marahan dengan Luffy!" serunya.
"Ya, kita kan sedang marahan dengan Luffy," sambung Zorro, dan segera diiyakan oleh Ussop dan Brook.
"Lalu?" Alis kanan Luffy terangkat.
"Ingat ya!" Sanji mengacungkan jarinya tepat di dahi Luffy. Dengan nada tajam ia berkata, "Kami akan tetap mematikan jalur contekan anak-anak FT, jangan halangi niat kami!"
"Rampas contekan yang ada di sakunya!" seru Ussop.
"Jangan sampai Luffy memberikanya pada anak-anak kelas sebelah!" sambung Brook yang kemudian langsung menerjang Luffy, berusaha mengunci gerakanya.
"Hey..."
"Berikan kertas itu!" paksa Sanji yang langsung menarik seragam Luffy. Tapi, tubuh lentur Luffy mempu menghindarinya dalam sekejap.
"Oke, Aku akan memberikanya! Jangan pakai kekerasan!" teriaknya.
Sebuah tangan kekar langsung menarik lehernya seketika itu.
"Zorro... sesak..." pekik Luffy tertahan. Beberapa siswa menghentikan langkah mereka dan mulai memperhatikan pemaksaan sadis itu.
"A... ambil saja di saku kiriku, masih ada..."
Zorro semakin menekan leher Luffy sampai topi jeraminya terhempas pelan di lantai. Tekanan yang semakin membuat Luffy sesak membuatnya meracau mengumpat pemuda berambut toska itu.
"Ini dia!" ujar Brook, menarik sepotong kertas berisikan contekan itu dari saku Luffy.
"Kalau begini, kau tidak akan bisa membantu anak-anak fairy tail!" Sanji tersenyum picik.
"Putus sudah jalur contekan mereka!" sambung Ussop.
"Kalian yakin ya?" timpal Luffy yang mengelus leher malangnya dengan penuh belas kasihan.
"Tentu saja, aku sudah membereskan semua kelas IPA dan mempertimbangkan kemungkinan mereka membuka jalur contekan lain, dan sebagainya. Kecerdasan
kami mustahil dikalahkan anak-anak keparat macam mereka", kata Zorro datar.
"Aku tidak bisa memahami jalan pikiran kalian yang sangat sempit..." desis Luffy.
"Oke, kami duluan ya Luff~ " Sanji berseru, lalu berlari menaiki anak-anak tangga ke lantai dua diikuti semua rekanya.
"Gawat..." gumam Luffy cemas, Matilah Salamander dan teman-temanya...
Luffy menatap kertas bertuliskan angka 90 itu dengan bangga.
Aku memang hebat... ujarnya ceria. Angka dengan tinta merah itu membuat hatinya berbunga-bunga siang itu. Sukses mencontek memang kebanggaan trsendiri bagi pemuda ini.
"Kau tampak ceria Luff?" sapa Vivi, menyejajari langkah Luffy. Kalimat Vivi hanya disambut senyuman lembut.
"Tentu, lihat saja~" katanya, menyodorkan ketas ulangan lusuh itu.
"Luffy hebat deh~" puji Vivi. Ada ketulusan yang begitu dalam pada kalimatnya. Sangat dalam.
"Di sekolahan ini tim topi jerami adalah jagoan mencontek yang paling hebat, hahaha..." tawa Luffy innocent. Tawa yang menghentikan langkah Vivi detik itu.
"Men... contek?" tanyanya dengan nada yang sedikit rendah.
"Tanpa contekan mungkin sekarang ini kau akan melihatku terpuruk dijejali buku-buku keparat di perpustakaan~" ujar Luffy, "Memang sih itu buruk... tapi ini kan kebiasaan anak-anak sekolah... "
"Aku tidak menyalahkanmu kok, kata Vivi, Semua anak sekolah pasti pernah melakukan yang seperti itu, "
"Kau pernah mencontek ya?", tanya Luffy penasaran. ia mendorong topinya lebih ke belakang agar bisa memandang wajah Vivi yang teduh.
"Belum~ Kalaupin pernah, setidaknya hasil contekan itu tidak kupamerkan," ujar Vivi dengan riang. Kata-kata ceria yang memuat kesinisan yang dalam. Sindiran yang sangat halus bagi Luffy.
Luffy tidak tersinggung atau pun sakit hati. Ia bahkan tersenyum kecil. Kecerdasan Vivi dalam berkata-kata menyeretnya dalam rasa kagum yang besar.
"Kalau kau tidak keberatan," kata Luffy, "aku mau minta buku kimiaku sekarang. Kau sudah bekerja keras mengerjakan tugas-tugasku, sebaiknya aku yang selesaikan sisanya,"
Vivi tersenyum pelan. ada rona merah lagi di pipi mulusnya. Ia berkata dengan lembut, "Tugasmu sisa sedikit kok, aku bisa menyelesaikanya dalam lima menit kalau aku mau, tidak apa-apa,"
"Kalau begitu, maukah kau menyimpan kertas ulanganku? Kurasa kau benar, tak ada gunanya aku memamerkan yang seperti ini. Jujur, aku juga malu punya pikiran pecundang seperti ini," kata Luffy. Kalimat yang sangat tegas menurut Vivi.
"Tentu saja, lain kali kalau ada ulangan, belajarlah denganku..."
Luffy menangkap ada ketulusan besar di wajah gadis di hadapanya ini. Vivi tidak pernah kikuk lagi di hadapanya sekarang. Ada keakraban yang menjalar begitu pesat diantara keduanya.
Luffy terus mengayun langkahnya menuju rumah. Ia tidak ada agenda main kemana-mana hari ini. Sampai kemudian langkahnya mencapai persimpangan pertama, dimana disana ada lima orang pemuda bergaya angkuh.
Si rambut oranye dengan jacket mewahnya yang menyandarkan tubuh atletisnya pada dinding kusam yang menjulang tepat di sampingnya. Di sampingnya ada sosok yang amat tak asing bagi Luffy. Si rambut gelap yang selalu bertengkar dengan Natsu, Gray. Dan tiga yang lain duduk beralaskan jalanan berpaving di bawah mereka.
"Ada apa ini?," tanya Luffy yang merasa diperhatikan oleh kelima pemuda itu.
"Brengsek! Apa yang kalian rencanakan pada kelas kami?" tanya Rocky.
"Rencana? apa maksudmu, Rocky?" balas Luffy.
"Jangan bertele-tele deh," sela Gazzille, "Kita hajar saja langsung anak ini!"
Luffy mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang terlontar dari pemuda betampang sangar itu. Menghajar? apa yang terjadi?
Luffy beradu pandang dengan Gazzille, satu-satunya pemuda yang tidak memakai seragam sekolah diantara mereka. Ia berseru, "Ada apa ini sebenarnya?"
"Jangan kira kami tidak tau akal licik kalian!" balas Leon. Ia mengusap rambut keemasanya yang berkilau. Luffy bisa menangkap tatapan mengejek pada wajah tampanya.
"Kita bisa selesaikan dengan cara baik-baik atau..."
"KAU BERISIK!!!" seru Gazzille mendadak, memotong perkataan Rocky, "Kalian sama saja dengan Dragon Slayer Salamander nafas api bau itu! Aku tidak tahan! Akan kuhabisi anak topi jerami ini! "
"Gazz!!!" sontak Rocky, Gray, Leon dan Gerald berteriak ketika tanpa aba-aba Gazzille melompat dari posisi duduknya. Ia menerjang Luffy tanpa ampun.
Satu pukulan keras langsung dialamatkan pada wajah Luffy, tapi itu dapat dihindari dengan mudah oleh tubuh lenturnya. Sebagai gantinya, dengan kecepatan tinggi Luffy langsung meraih tangan Gazzille dan menelikungnya dengan paksa ke belakang.
"Kau yang akan mati kalau berhadapan satu lawan satu dengan Luffy tau!" seru Gray yang kemudian menarik tangan Leon dan Rocky. Mereka bertiga berlari ke arah Luffy dan Gazzille yang terlibat duel penuh emosi. Gerald yang melihat perkelahian tidak seimbang ini langsung mencabut sabuk kulit yang melilit pinggangnya.
"Aku juga tidak benci kekerasan tau! " gumamnya. Ia melompat, dengan satu gerakan kemudia Gerald bersalto, dan menyentakan sabuk kulitnya, tepat mengenai perut kanan Luffy.
"Aaarggg!!! " pekik Luffy. Rasa sakit mulai menjalari tubuhnya. Ia melepas tangan Gazzille, dan kedaan pun berbalik.
"Mati kau! " teriak mereka bersamaan. Pandangan Luffy kabur sejenak, tapi dalam cahaya matahari Ia sempat menangkap bayangan kelima pemuda yang siap dengan combat masing-masing, siap menghantam tubuhnya.
"Kalian mau apa sih?!" teriaknya. Luffy bertumpu pada tangan kananya, dan Ia memaksa mengayunkan kaki kirinya untuk menerjang kelima-limanya sekaligus!
Buaaaakkk!!! Suara hantaman keras terdengar nyata.
"Ugh!" pekik Rocky yang terhempas tanpa ampun. Hempasan itu juga sukses meninggalkan bekas robekan di lengan jacket mahalnya.
Gray, Leon, Gerald dan Gazzille juga dalam posisi yang tak kalah mengenaskan, terhempas tanpa ampun diatas paving beton itu. Gazzille yang petama kali mendongak, meski pandangaya menjadi gelap saat itu, Ia mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ada darah segar yang mengalir perlahan di pipinya yang kusam dan bertindik. Agaknya ada sseorang yang sengaja melontarkan batu ke arah pelipisnya.
Apakah mereka terhempas karena tendangan Luffy?
"Jangan main-main dengan kami ya!" kata rambut toska.
"Kau pikir kita juga tidak bisa membaca akal licik kalian!" sambung si rambut kuning.
"Luffy teman kami, jangan seenaknya ya!" ujar si hidung panjang.
"Benar," lanjut si afro.
"San... Sanji... Zorro... Ussop... Brook..." desis Luffy tak percaya melihat keempat kawanya itu.
"Itulah kenapa aku tidak pernah percaya pada anak-anak FT, mereka licik!" kata Sanji tajam, lalu melayangkan
tatapan sadis pada kelima pemuda yang terhempas itu.
Rocky memandang Sanji. Ya, Sanji lah yang melayangkan tendangan maut ke arah dadanya tadi.
"Sial," keluh Gazzille. Ia memandang Ussop yang memegang ketapelnya. Gazzille yakin, dialah yang melontarkan kerikil yang mengenai pelipisnya tadi.
"Maaf, kami tidak tau alasan kalian menyerang Luffy seperti ini, jadi kami juga bertindak gegabah," ujar Zorro datar, "Katakan, apa yang kalian inginkan?"
"Ngomong-ngomong," sambung Sanji, "Kami punya Sandera,"
Semua berpaling yang ditunjuk Sanji, dan hanya selang sedetik...
"HAAA???"
Natsu yang kedua tanganya tertelikung ke belakang, diseret paksa oleh seorang pemuda yang (Sangat) dikenal Luffy.
"Kak... Ace...?" Luffy merendahkan suaranya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi kagetnya saat melihat sang kakak mengunci kedua pergelangan tangan Natsu.
"Kami menemukan makhluk berambut merah ini di loker sport hall dengan keadaan lebih mati dari pada hidup!" kata Ussop, "Dan kami dengar darinya kalau anak-anak FT merencanakan kebusukan untuk menyerang kami!"
"Dan kebetulan kami bertemu Kak Ace yang mau menjemput Luffy tadi..." sambung Zorro.
Kini tak ada yang berani bersuara lagi. Luffy melihat Rocky dan kawan-kawanya yang menunduk dengan wajah bersalah.
"Baiklah," Ace menengahi, "Luffy dan semua yang terluka ikut aku ke klinik, kita bisa bicara baik-baik, "
Ace membebaskan kedua tangan Natsu setelah itu.
"Panas tau!" umpat Natsu, melotot galak ke arah Ace sembari mengelus pergelangan tanganya yang menjadi korban itu dengan penuh kasih sayang.
"Itulah kenapa aku disebut tinju api!"
"Aku juga punya tinju api!"
"Siapa yang tanya?!"
"Kak... sakit..." erang Luffy yang bersandar pada Natsu. Ada noda darah di seragamnya yang robek pada bagian perut.
"Sabar dik... ngomong-ngomong, perutmu kena apa, kenapa sampai robek begitu? "
tanya Ace.
"Pasti sabuknya si Gerald!" sela Natsu, melirik Gerald yang berjalan di samping Gray.
"Sabuk? Coba aku lihat Gerald," pinta Ace. Gerald mendelik galak pada Natsu yang menyeringai padanya.
"Nih, sabukku memang tajam sih," ujarnya, mengulurkan sabuk hitam itu.
"Nah, kalian semua tunggu sini, biar aku panggilkan nenek Kureha dulu ya," kata Ace ketika mereka sampai di sebuah bangunan megah.
"Ini klinik atau kerajaan?" tanya Natsu takjub.
"Memang sih... aku juga heran... "
"Eh, Luff," sela Gazzille, "Pemuda dekil itu kakakmu ya?" tanyanya.
"Gayanya norak ya, padahal adiknya keren," sambung Natsu.
"Memang dia kakakku... jangan protes deh, dia itu diapa-apakan juga tetap norak gayanya... "kata Luffy dengan nada ejekan yang kentara pada akhir kalimat.
"Siapa maksudmu yang norak?" tanya Ace. Ups... Luffy mendongak pelan-pelan. Ia meringis tanpa dosa melihat kakaknya yang menyeringai dengan background sambaran petir maut.
"Ber... can... da... GYAAA~~" Luffy memekik. Ace menarik telinganya tanpa ampun lagi.
"Kau harus belajar sopan santun ya!" kata Ace tajam.
"Kakkkk... sakiiiiiitttt..... "
Nenek tua itu menatap kedelapan wajah di hadapanya.
"Ace... Luffy... lalu yang lainya siapa ya..." ujarnya, tersenyum ramah (baca : seram).
"Ini Salamander, lalu Gray, Leon, Rocky, Gerald dan Gazzille," jawab Ace.
"Tunggu ya, kupanggilkan Chopper, biar dia yang menangani kalian," kata Nenek tua itu. Mereka memnaggilnya Nenek Kureha, seorang nenek tua keriput yang masih memiliki tubuh indah sisa masa muda.
Ruangan itu tercekam sunyi sesaat sepeninggal Nenek Kureha. Tak satu pun anak fairy tail membuka mulutnya. Bahkan tak lagi terdengan erangan Luffy ataupun keluh kesah Rocky tenteng jacket mahalnya. Suasananya terasa begitu kaku detik itu.
Mata Luffy meredup, ia menatap darahnya yang mengalir perlahan, menyusuri
kulit halusnya.
"Maaf," seruan kecil itu membuyarkan kekakuan itu. Semua berpaling ke arah pintu.
"Gyaaaa~~~ " jerit Natsu mendadak, "Imuuuttttt~~~~" Natsu melonjak, tanganya segera meraih tubuh si rusa mungil berhidung biru yang berdiru di depan pintu tadi. Didekapnya erat.
"Gyaaaa~~~" teriak si rusa mungil itu. Kotak obat di tanganya terbanting ke lantai marmer di bawahnya.
"Salamander! Hentikan! rusa itu bisa mati tau!" tegur Ace.
"Imut~ Kau bahkan lebih imut dari kucing piaraanku~"
"Aku kan rusa! Jangan samakan dengan kucing dong! "Seru rusa mungil itu, terengah nyaris kehabisan nafasnya dalam pelukan ganas Natsu, "Namaku Chopper, aku dokter disini! "
"Oh? Rusa imut ini dokter ya? Keren deh~" seru Natsu.
"Aku mulai takut padamu..." ujar Chopper yang memandang Natsu sebagai ancamanya. Si rambut merah mengerikan yang sudah nyaris membunuhnya dengan pelukan maut... hiiii...
"Luff? kau kenapa?" tanya Chopper.
"Perutku sobek nih..." keluh Luffy.
"Oke, aku jahit ya... oh ya, Kak Ace, bisa minta tolong, kotak perban dan yang lainya ada di lemari putih itu, kau ambilkan untuk teman-teman Luffy yang lain ya, sepertinya mereka juga terluka," pinta Chopper.
Rocky melepas jacketnya. Ia duduk di tempat tidur pasien yang kosong dekat jendela.
"Aku lebih membutuhkan tiket pesawat untuk membeli jacket baru limited edition seperti ini di Paris daripada perban luka!" hardik Rocky ketika Ace mengulurkan perban berikut obat luka padanya.
"Terserahlah," komentar Ace dingin, lalu mengoper kotak obat itu ke Gray yang ada di samping Rocky. Mereka mulai disibukkan dengan perban dan obat luka itu sekarang.
"Kenapa kalian diam ? bicaralah tentang masalah ini," ujar Natsu. satu-satunya diantara mereka yang tidak sibuk mengobati luka.
"Ya deh... kami minta maaf, kami mendapat kabar bahwa gank Luffy mencoba memutuskan jalur contekan ulangan fisika kami," Kata Rocky setelah mereka diam cukup lama.
"Apa berita itu benar?" tanya Ace.
"Ya, kami sempat heran kenapa kami sangat sulit mendapatkan contekan sekarang ini, saat kami mendapat informasi semacam itu, kami jelas emosi," sambung Gerald.
"Tapi," sela Gray, "Ide menghajar Luffy ini gagasanya Rocky, Gerald dan Leon! Aku dan Gazzille hanya diajak, "
"Tidak masalah siapa yang memulai, kami menyesal jadinya seperti ini, intinya kami minta maaf!" kata Rocky cepat.
"Nah, Luffy, si playboy metroseksual sudah mewakili anak-anak FT untuk minta maaf, bagaimana denganmu?" tanya Ace pada Luffy.
"Hey! siapa yang kau sebut playboy metroseksual?" protes Rocky seketika.
"Iya... tentu," jawab Luffy lemah.
Ace mamandang Rocky untuk beberapa detik. Ia menyandarkan tubuh gagahnya perlahan di kusen pintu.
"Rocky," panggilnya.
"Ya?"
"Kau itu anak baru di sekolah, nampak paling keren dan sok leader...
"Apa au bilang???"
"... tapi... " sela Ace, "Kau juga punya sikap dewasa untuk mengakui kesalahanmu. Jarang kulihat ada anak SMA seperti kau. Mereka kebanyakan menonjolkan ego dan berdalih mempertahakan harga diri"
"Itulah fairy tail," jawab Rocky. Ace tersenyum, mendengar ada rasa bangga tersirat pada kalimat yang diucapkan Rocky barusan..
"Oke!" seru Natsu, "Masalah selesai kan?"
Semua mengangguk pasti. Luffy memiringkan kepalanya dan menatap kawan-kawanya itu dengan tatapan senang sekarang. Tinggal sedkit lagi sampai Ia dan Natsu bisa menyudahi perseteruan ini.
"Kalau saja aku masih menyimpan contekan atau hasil ulangan tadi, pasti akan kuberikan pada kalian," kata Luffy.
"Oh ya," seru Luffy lagi, "Kemarin Bu Ur mengatakan sesuatu padaku, "
"Apa?," tanya Gray dan Leon bersamaan.
Luffy tertawa kecil, "Kalian nampak kaget, jadi memang benar kalian adalah anak kesayangan Bu Ur, sampai-sampai kalau ada problem macam ini Bu Ur tidak mau melibatkan kalian!" ujar Luffy innocent.
"Maksud?" tanya Leon.
"Dengarkan aku....."
Brakkk!!! Retakan kecil mulai menjalar akibat gebrakan kaki jenjang Sanji.
"Percuma, apa yang harus kita lakukan sekarang?" keluhnya.
"Jangan emosi Sanji," bisik Ussop.
"Kita harus punya rencana lain," timpal Zorro, meletakan PSP nya. Ini masalah yang cukup serius, Zorro sampai merelakan PSP nya menganggur.
"Caranya?"
"Aku ada ide..."
TBC
R
E
V
I
E
W
