Andai Hiro Mashima mau nyerahin separuh content Fairy Tail buatku, maka aku akan menjadi makhluk paling berbahagian diantara semua makhluk yang penah idup... (contoh manusia stress stadium tidak tertolong)

One Piece vs Fairy Tail

By : Argentum Silver and Gold Diamond

Jarum jam berdetak perlahan. Senyap masih saja mendominasi ruangan kelas bercontent anak-anak laknat ini, walaupun tinggal beberapa menit sebelum bel pulang dideringkan. Kata sang guru yang tengah mengajar : "Saya dibayar untuk mengajar sampai jarum panjang mencapai angka dua belas, dan saya tidak akan korupsi satu menitpun!"

Guru muda itu berdiri. Mata lembutnya dibalik lensa jernih itu memandang para muridnya satu persatu.

"Anak-anak," katanya, memecah suasana, membuat satu persatu kepala para muridnya terangkat. Guru muda itu bangkit dari kursinya.

Masih dalam tatapan lembut nan teduh itu, Ia berkata lagi, "Ada sesuatu yang harus saya sampaikan,"

Detak jarum jam beradu dengan detak high heel sang guru. Wajah cantiknya seakan menjadi sugesti besar pada mata para muridnya.

"Dari hasil rapat guru tempo hari, kami membuat keputusan bahwa pihak sekolah akan melakukan razia berkala pada game-game center di pusat kota. Barangsiapa...."

Braakkk!!!

Tawa anak-anak meledak ketika high heel sang guru cantik itu patah dan sukses membanting sang pemakai dengan sadisnya diatas keramik ivory dibawahnya.

"Hahahahahaha....."

"Diam!" hardik guru itu kesal.

"Bisa tidak latihan tidak kikuk, Bu Tashigi?" tanya Sanji, masih terpingkal-pingkal menatap guru mudanya itu.

"Wajah Bu Tashigi itu mirrrrriiip sekali dengan Bu Ur, yang beda cuma sifatnya~" komentar Ussop.

Tawa murid-muridnya yang berkepanjangan melahirkan beberapa urat menyilang pada kepalanya. Guru cerdas bernama Tashigi itu berpaling ke arah seisi kelas. Tak lupa memasang style paling horrornya, Ia menyeringai tajam.

"Diam kalian sem..."

Teeeetttttt......

Kalimatnya terputus oleh jeritan bel pulang sekolah. Spontan seisi kelas bersorak. Tashigi kalah telak, tak ada kalimat yang sempat keluar dari tenggorokanya sekarang. Kalah dengan keganasan murid-muridnya yang (pasti) kambuh jika mendengar bel pulang sekolah!

"Dengarkan saya!" bentak Tashigi kesal.

"Pulang dulu ya Buuu~~~" teriak Genk Mugiwara bersamaan, masih dengan tawa yang berkepanjangan, mengejek.

"Huh!" dengus Tashigi kesal. ia menaikkan kacamatanya dengan telunjuk lentiknya, "Awas kalian!!!!!" jeritnya depresi.


"Kau serius Sanji, akan pakai cara nista ini untuk menaklukan anak-anak FT ?" tanya Brook.

"Tentu, kenapa tidak? Selama ini kita kalah terus dari FT dalam hal permainan fisik, kita belum mencoba permainan dalam bentuk game virtual kan? Nah, sekarang kita cari Luffy," ujar Sanji.

"Luffy? Paling dia sudah pulang... Dia agak terpukul dengan insiden kemarin," sahut Zorro dingin.

"Huh," dengus Sanji sengit, "Aku otak rencana ini, siapa yang minta pendapatmu, cerewet!"

"Apa kau bilang!?" hardik Zorro.

"Kau tuli, mau makan tendanganku ha?," balas Sanji.

"Oke kalau itu maumu !"

"Stop!" seru Ussop seketika, "Tidak usah bertengkar! Itu dia Luffy!"

Sanji dan Zorro langsung berpaling ke arah Ussop, menyeringai ganas dengan tampang horror se horror-horror nya, membuat keringat dingin Ussop langsung meleleh dalam hitungan detik.

"A... aku bilang... Itu Luffy..." Ussop gemetar, tertekan dengan aura dahsyat nan laknat dari dua pemuda di hadapanya ini.

Sanji yang berpaling pertamakali. Ia melihat pemuda topi jerami itu berjalan terseok, menyeret kaki malangnya.

"Luff?" tanya Zorro pelan, mengerutkan keningnya heran.

"Hai teman-teman..." sapanya lesu.

"Apaan nih... sekali dalam sejarah aku melihat Luffy tanpa gairah begini... malas hidup ya?" tanya Ussop heran.

"Iya nih... malas hidup..." keluh Luffy, "Aku dengar, game-game center akan dibersihkan dari anak-anak SMA mengingat ujian tengan semester sudah dekat..."

"Dengar darimana? tadi Bu Tashigi kan belum sempat bicara tuntas?" tanya Sanji.

"Anak kelas sebelah yang bilang..." jawab Luffy.

"Wah, pantas... kita tidak bisa main game selama beberapa minggu ini ya..." ujar Brook.

"Bukan... bukan itu... masalahnya game Virtual Fighter versi baru keluar hari ini tau!!!" jerit Luffy, dengan ekspresi depresi stadium akut.

"NANIIIII????" teriak rekan-rekanya bersamaan dengan suara beberapa oktaf lebih tinggi daripada penyanyi opera. Dan tentu saja, ada curahan liur yang menimpa kepala tak berdosa Luffy.

"Serius???" seru Sanji.

"Bodoh! ulasanya sudah beredar dari dua minggu yang lalu!"

"NANIIII???"


"Eh, Luff..." panggil Sanji.

"Ya?"

"Main ke game center yuk... kita tanding VF sama anak-anak fairytail, bagaimana?" ujar Zorro.

"Benar!" dukung Ussop, yang setiap sel syaraf otaknya telah teracuni kata-kata Sanji untuk mempermalukan anak-anak fairy tail.

"Wah, gila... kalau ada guru memergoki kalian, matilah kita!" kata Luffy, mendelik pada rekanya yang nekat itu.

"Hah! Kamu bercanda! Memangnya kau tidak mau jadi orang pertama yang mencoba versi baru ini apa? Aku dengar, VF kali ini karakternya lebih keren dan stabil. Jurusnya hebat, dan kontrol yang sangat sempurna," ujar Ussop, terkikik.

"Jangan menggodaku dong! Aaaaaaa... aku jadi penasaran..." rajuk Luffy, menjejakkan kakinya ke tanah beberapa kali dengan manja.

"Makanya yuk ke game center! Sayang lho... game baru ini keren!" Sanji masih gigih menggoda demi dendamnya pada anak-anak fairy tail.

"Kalau ketahuan... ?"

"Huh, Luffy benar-benar sudah dicuci otak nih! Sejak kapan Luffy takut dengan peraturan? Perasaan dulu Luffy punya motto 'dimarahi ya didengarkan, dipukuli ya dirasakan' ! Kemana itu sekarang?" tanya Brook, ikut mendukung Sanji, dan langsung diiyakan oleh yang lain. Otak-otak nista itu masih menguraikan kalimat-kalimat godaan untuk meruntuhkan iman Luffy.

"Kalau tidak sekarang kapan lagi? Ini belum terlalu dekat dengan tes kok..." ujar Ussop.

"Kalian sekongkol apa nih? Kok rajin menggodaku?"

"Huh, kurang kerjaan, siapa yang menggoda, kami mengajak kok. Lagipula lusa kan tanggan 14, kita ber-valentine-ria, masa sampai sekarang masih musuhan..."

"Kepala-keju-salah-jurusan benar deh Luff," dukung Zorro, yang langsung melahirkan urat-urat bersilang di kepala kuning Sanji.

"Siapa yang kau bilang kepala-keju-salah-jurusan ha?" serunya kalap.

"Kau! Memangnya siapa lagi? kau kan memang kepala keju salah jurusan, seharusnya kau itu masuk jurusan tata boga!" balas Zorro tak kalah sengit.

"Makan tendanganku!"

"Boleh! sini kalau kau ada nyali!"

"STOPPP!!!" Luffy berteriak, menengahi bertarungan dadakan ber-background super devil glare nan ber-efex sound tak bermutu itu.

"Kalian mau adu kuat di VF atau disini?" tanya Luffy kesal.

"Oke," sanji menurunkan kakinya yang tadi siap seratus persen untuk menggampar Zorr, "kita adu kuat di VF saja!"

"Oke! Siapa takut?!" balas Zorro.

"Oke kalau begitu!" timpal Luffy, "Ayo ke game center!"

Gubbrrakkk!!!

"bu... bukanya tadi dia yang menolak waktu kita ajak ke game center..." ujar Ussop, menggaruk-garuk kepalanya.

"Sudahlah, yang penting kita bisa balas dendam ke anak-anak FT, hehehe" Sanji terkikik horror, yang langsung disambut tonjokan Zorro di pipi kirinya.

"Aku mual melihat tampangmu!" kata Zorro santai.


"Teman-teman, nomor handphone Salamander tidak aktif," keluh Luffy yang berkutat dengan handphone nya, berjuang mengontak Natsu.

"Wah, kalau begitu...?"

"Ya, terpaksalah, kita cari saja mereka ke guild,"

"Guild?" tanya Sanji dkk kompak.

"Ya, kita ke guild FT, tidak keberatan kan?" tanya Luffy.

"Nggg..."

"Bo... boleh deh..."

Kelima pemuda itu sepakat mengunjungi guild FT. Mengunjungi? Sanji dkk merasa aneh sekarang...

"Jauhkan?" tanya Sanji.

"Dekat, aku pernah kesana kok," jawab Luffy.

Langkah mereka terhenti di sebuah bangunan megah berlambang fairy tail.

"I... Ini ya yang namanya guild?" tanya Zorro, takjub.

"Ya, bagus kan? Oke, kalian mau ikut ke dalam atau menunggu di sini? aku mau masuk, mencari Salamander,"

"Kami disini saja deh!" sahut Zorro cepat ketika merasakan bahwa di dalam ada banyak gadis cantik yang pasti menyulut pikiran mesum nan kotor Sanji.

"Aku masuk ya..." Luffy berpaling, memunggunggi teman-temanya, lalu melangkah masuk melewati gerbang megah itu.

Tangan Luffy mendorong pintu bening itu perlahan. Hiruk-pikuk kafe nampak nyata siang itu. Tak heran, ini waktu lunch.

Ia berjalan masuk. Beberapa ekor mata mengikuti gerakanya.

"Mira! Mira!" panggilnya pada waitress cantik di belakang bar.

"Luffy?" tanya Mira heran melihat Luffy yang meringis lucu ke arahnya.

"Salamander mana?" tanya Luffy.

"Natsu? kau cari Natsu ya? Wah, Natsu belum pulang sekolah... kukira kau satu kelas denganya..."

Luffy mengerutkan keningnya. Belum pulang? Batinya.

"Biasanya Salamander kemana ya? Lalu, Gray, Rocky dan yang lainya kemana?" tanya Luffy.

"Wah, aku tidak tau, kalau jam segini mereka biasanya main di pelabuhan sih, tapi belakangan ini mereka membicarakan tentang game SAGA keluaran baru... ah, apa ya namanya... oh ya, VF !"

"Nani???" Bibir Luffy turun beberapa cm, terkejut sekaligus syok, "Ja... jadi mereka di game center sekarang?" tanyanya depresi.

"Mungkin," jawab Mira, terkikik melihat ekspresi Luffy, "Pergilah ke game center, mungkin kau akan bertemu dengan Natsu di sana,"

"Oke, terimakasih Mira! Daaahhh...." Luffy yang mendadak terbakar semangatpun berbalik, dan berlari. Mungkin kakinya akan terus terayun, berlari, keluar dan menabrak tiang, kalau saja tidak ada 'pasukan' yang menghadang di depan pintu.

"LUFFYYYY~" gadis-gadis itu histeris.

"Gyaaa~~~ Ampun, ini bukan saatnya jumpa fans teman-teman~" seru Luffy kaget ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh nafsu.

"Luffy, sudah kukira kau akan kembali lagi kemari~" seru si nafas alkohol yang Luffy tidak ingat namanya.

"Benar... mainlah kesini sering-sering ya~" timpal gadis bertopi.

"Eh? Eh? Maaf, aku da urusan nih~ Aku kan kesini hanya mau mencari Salamander, bukanya mau jumpa fans," kilah Luffy kesal ketika tangan-tangan mulus para gadis itu menggerayanginya. Wah, parah!

"Maaf~ Aku harus ke game center sekarang," kata Luffy.

"Pasti game SAGA keluaran terbaru itu kan? Wah, si Natsu cs sih sudah kesana duluan. bahkan kudengar mereka membolos dari jam tambahan demi game itu,"

"I...iya deh...Lepaskan ya..." Mata Luffy memohon pada gadis-gadis itu, mengisyaratkan belas kasihan yang dalam. Justru bahasa isyarat dari mata Luffy yang selalu bicara tanpa dusta itulah yang semakin menyulut kagum para gadis itu. Alhasil, bukan dilepas, tapi justru semakin dipeluk.

"Foto dong~ Aku mau mengabadikan wajah imutmu~" pinta si topi, yang segera diiyakan oleh si rambut hitam.

"Ih, Visca, Kana, minggir deh!" seru seorang gadis. Ia melepas kacamatanya, lalu mengarahkan kamera digital ke wajah Luffy, mengajaknya tersenyum bersama.

"Levy, apa-apaan sih kau ini!" bentak si topi, yang bernama Visca.

"Aku bilang minggir tau!"

"STOP!" Luffy berteriak yang tak hanya membungkam para gadis tadi, tapi juga membuat suasana kafe berubah drastis, menjadi sunyi.

"Mau nomor handphone ku?" tanya Luffy, yang langsung disambut jerit histeris para gadis tadi.

"Mau! Mau! Mau!"

Luffy menjauhkan wajahnya sedikit. daripada disebut histeris, mereka lebih pantas disebut MENYALAK. Memangnya anjing?

"Kenal Jubia kan? Nah, dia punya nomor handphoneku! Nah! Itu dia Jubia!" seru Luffy tiba-tiba. Spontan Visca, Kana, Levy, dan yang lainya menoleh ke arah yang Luffy tunjuk.

"KABUUURRRR!!!!!" teriak Luffy seketika. Kakinya melompat mudur, dan dengan mudah Ia bisa menghindar dari 'paparazi wanita dadakan' fairy tail itu.

Yang penting keluar dari sini dengan selamat lahir dan batin, kata Luffy dalam hati. Seakan mempertaruhkan nyawanya untuk keluar pintu, Ia mengerahkan sisa kekuatanya pada kaki. Dilompatinya sebuah meja panjang yang berjarak lima meter dari pintu. Sebuah lompatan luar biasa yang langsung disambung dengan gerakan salto keatas.

Braakk!!! Kakinya terbanting dengan kasar. Selang sedetik setelah bantingan kasar itu Luffy melanjutkan acara escape nya yang tak bermutu. Wah... wah...

"Kabuuurrrrr~~~" jeritnya, berlari tanpa ampun menuju rekan-rekanya yang berdiri tenang di depan gerbang.

"Eh? Kenapa dia?" tanya Zorro heran pada Luffy yang sudah kabur duluan.

"Ayo kabur, atau nyawa kalian taruhanya!" Seru Luffy yang tengah lari di tempat agak jauh dari mereka, "Cepat lari! Bodoh!" sambungnya sebelum mengayunkan langkahnya lagi, membuat teman-temanya itu kebingungan.

"Ada razia orang-orang tidak waras ya?" tanya Brook, yang langsung disambut cekikikan dari yang lain.

"Ya sudah yuk sepertinya serius sekali! Luff~ Tunggu!" teriak Ussop, lalu berlari di belakang Luffy. Disusul Sanji dan yang lain.


Nafas Luffy terengah, nyaris putus.

"Ada apa Kapen?" tanya Zorro, "kita jadi kan main ke game center?"

"Iya..." jawab Luffy, "... Kita jadi main ke game center kok..."

"Lalu mana Salamander? Kenapa kau malah berlari seperti orang gila seperti itu?" tanya Sanji.

"Kalian tidak mengerti! Aku dikejar-kejar para gadis fairy tail nih! Kalau aku tidak kabur, matilah aku!"

"Fansgirl mu ya?" timpal Ussop.

"Siapa lagi!?" balas Luffy, mendelik.

"Ah, sialan, seharusnya tadi aku saja yang masuk dan mencari Salamander!" hardik Sanji, lalu melepas gamparan pada pipi kiri Luffy.

"Kalau kau yang masuk, kau pasti takkan keluar lagi!" balas Luffy kesal. Terciptalah aura devil glare diantara mereka berdua.

"Nah," kata Zorro, "Aku mau tanya,"

"Apa!?" bentak Luffy dan Sanji bersamaan.

"Gadis yang disana itu fansgirlmu juga?" ujar Zorro santai, menunjuk ke arah ujung jalan. Luffy dan Sanji mengerutkan keningnya sebentar, lalu menoleh bersamaan.

Gadis berambut pirang itu melambaikan tanganya, "Luffy~~~" panggilnya dengan mendayu.

"Gyaaaa~~~" jerit Luffy dan Sanji bersamaan. Luffy karena kaget bercampur takut, Sanji karena kaget bercampur terpesona akan kecantikanya.

"Luffy! Luffy!" panggil gadis pirang itu.

"Iya! Iya sayang! aku yang bernama Luffy!" teriak Sanji kegirangan sembari menyeka darah yang mengalir dari hidungnya.

"Sanji bodoh! Ayo kabur!" bentak Luffy.

"Tidak mau! Gadis itu cantik sekali~~~Oh, benar-benar imut... sepeti bidadari~"

Kyut! Urat kesabaran menyembul dari kepala Luffy.

"Kalau kau melayaninya sama saja dengan membunuhku! Dia juga gadis fairy tail tau! Kaburrrr~~~"

Disentaknya kerah baju Sanji dengan kasar dan diseretnya pemuda berambut kuning itu dengan penuh kebiadaban tak bermoral.

"Luffy!" seru Gadis tadi, masih berjuang memanggil pemuda topi jerami itu, "Tunggu! Aku tau Natsu dimana! Tapi jangan lewat situ! Ada razia game cen..."

Terlambat. Luffy beserta pasukanya lenyap di tikungan.

"Oh, Luffy.... di komplek sana ada para guru... kau akan dikuliti hidup-hidup kalau ketahuan ke game center..." desis gadis itu. Ia meremas tanganya sendiri. Tatapanya yang menyiratkan tatapan khawatir nampak nyata.

"Semoga kau tak apa-apa, aku janji, akan kukirim bantuan jika kau tertangkap guru..."


Ramai yang luar biasa mendominasi. Sound efex game dan jeritan para remaja membahana di ruangan ber AC yang cukup luas ini.

"Ngeri, kalau ada guru datang, kemana kita sembunyi?," tanya Luffy saat kakinya mulai memasuki ruangan itu. Dingin AC segera berhembus lembut, menggerayangi tubuhnya yang berpeluh akibat acara escape-dari-paparazzi-dadakan-FT.

"Bunuh diri, lompat ventilasi dan kabur!" timpal Zorro cuek.

"Nah, itu cara kabur yang bagus, bukan seperti Luffy yang kabur dari guild orang!" sambung Sanji, mencibir dengan kesal.

"Nanti aku takkan mengenalkanmu pada gadis-gadis cantik FT kalau menggerutu terus!" ancam Luffy yang juga tak kalah kesal karena ulah Sanji tadi.

"Dasar!"

"Sudah!," lerai Brook, "Mau main VF tidak nih?"

"Mau~~~" teriak semuanya.

Kelima pemuda itu melangkah masuk. Ruangan sarat kericuhan penuh kesenangan itu sempat membuat telinga mereka sakit.

"Kita pilih pojok sajalah Luff," pinta Ussop, menutup telinganya.

"Yosh! Yuk kita..." kalimat Luffy terhenti ketika ekor matanya menangkap sekelompok pemuda yang tengah asyik ber-Virtual Fighter-ria.

"Itu anak-anak FT!" seru Luffy, menunjuk sekelompok pemuda yang terdiri dari Natsu, Gray, Rocky, Leon dan Gerald.

"Anak-anak FT..." desis Sanji, langsung tertawa licik dengan efek nyala cahaya dalam gelap di wajahnya.

"Kambuh nih penyakit-dendam-stadium-tidak-tertolong nya Sanji," bisik Ussop pada Zorro, yang hanya disambut uapan malas dari rekan rambut toskanya itu.

Luffy berdiri di belakang mereka, menyaksikan Pai vs Lau yang dimainkan Natsu dan Gray.

Tendangan maut Pai memiliki kemungkinan serangan yang lebih dahsyat daripada karakter Lau yang dipegang Gray, tapi justru potensi itulah yang membuat frekuensi serangan karakter Pai turun, sehingga dapat dimanfaatkan untuk serangan beruntun andalan Lau. Mata Luffy menyipit, mencoba menganalisa setiap detik pertarungan antara dua karakter yang sama-sama memiliki keunggulan dalam serangan kaki itu.

Natsu mengusap dahinya yang berkeringat. Kelengahan berupa melepas jari dari papan kontrol itu dimanfaatkan Gray dengan semua serangan atas dari salto andalan Lau. Serangan telak! Natsu terlambat sedetik. Matanya semakin tajam, menyeringai pada Gray yang tersenyum licik.

"Untunglah tak ada batas waktu, mereka unggul, kalau waktu dibatasi, kemungkinan besar akan draw," komentar Leon datar.

"Huh! Pola serangan yang mudah dibaca!" komentar Sanji, tak kalah dingin.

"Kau mau coba ya?" tanya Luffy, berpaling ke arah Sanji.

"Boleh!" jawabnya santai, "Tunggu sampai pertarungan Pai vs Lau ini berakhir, kita bertarung team nanti!"

"TIM?" Seru Natsu dan Gray spontan. Mereka memalingkan wajah ke arah Luffy dan Sanji bersamaan.

"Aku suka! Aku suka itu! Kita bertarung tim!" seru Natsu, melonjak.

"Bodoh! Bukan saatnya untuk itu tau!" bentak Gray, yang langsung menekan tombol combat. Sebuah combat dasar dengan kekuatan tak seberapa langsung memojokkan tenaga Natsu di belakang garis merah!

"Tinggal satu combat dasar, kau kalah nafas-api-bau!" kata Gray keras.

"Jangan curang nafas-beku-sialan! Kita mau main tim sekarang! anak-anak mugiwara menantang tau!" balas Natsu, yang langsung menekan combat beruntun yang tak hanya menekan energi Gray, tapi juga menendangnya keluar ring dengan tak berperasaan.

"Gyaa~~~" jerit Gray depresi melihat karakternya kalah tanpa harga diri.

"Oke, kau terima tantangan kami kan Salamander?" tanya Luffy memastikan. Mereka tersenyum.

"Dengan senang hati Monkey D. Luffy..."

"Baiklah Natsu D. Igniel..."

Senyum mereka mengembang. Pertarungan persahabatankah ini?

Tidak...

Ada yang 'lain' di baliknya.


Gadis pirang itu berlari, menerjang apapun tanpa segan.

"Gawat!" desisnya, "Natsu! Gray! Ada razia dadakan...!!!!" jerit gadis itu, berlari berpacu dengan waktu menuju Game center. Tempat suatu 'bahaya' mengancam, baik mugiwara maupun fairy tail.....

TBC

Next chapter : Between Mugiwara and Fairy Tail