Wah... wah... wah... lama juga updatenya ya Minna... kangen ya~

Gimana ya nasibnya tuh anak-anak OP n FT ? Gyahahaha... silahkan baca...

Ini para author nista mau istirahat dulu...*Silver ngacir ke WC, ngitung duit malak maren sore, Diamond molor di peti mati, Emerald gali kuburan buat diamond (?)*

One Pice vs Fairy Tail

By : Argentum F Silver and Gold Diamond. J. P

Riuh mendominasi game center yang dipenuhi para manusia berpredikat game-maniac-fourth-stadium. Tak terkecuali dua gank yang masing-masing sudah mulai menyalakan api peperangan mereka itu.

"Awas saja ya, Mugiwara takkan kalah dari kalian!" seru Sanji meledak-ledak.

"Tak usah berlebihan deh, kalau berlebihan, bisa bisa kalianlah yang malu," sahut Leon santai, yang langsung melahirkan beberapa urat menyilang di kepala Sanji.

"Kau belum pernaha makan tendanganku ya!?" serunya emosi.

"Stop! Sudah deh! Kalian ini kurang kerjaan," timpal Gray kesal, yang langsung diiyakan yang lain. Kecuali Zorro, Ia menyambut perkataan Gray dengan sebuah uapan lebar (Baca : Ejekan yang dialamatkan untuk Sanji)

"Nah, silahkan tentukan urutan pemain," kata Natsu.

"Oke, ayo teman-teman!" kata Luffy juga. Seketika semua berkerumun mengelilingi leader masing-masing.

"Hihihi," tawa seorang pria yang menyandarkan tubuh gagahnya di dinding ruangan yang bercat krem itu.

"Malangnya kedua kelompok itu, masing-masing leadernya bodoh! bagaimana bisa mereka kabur ya nanti, padahal kan hari ini razia besar-besaran," ujarnya. Sebuah gumaman yang sangat jelas tertangkap telinga Natsu.

"Jadi... urutan ketiga..."

"Tunggu," sela Natsu, "Sepertinya aku mendengar suara Kak Aria deh," katanya mendadak.

"Kak Aria? Mana? " Tanya Gray heran, memutar kepalanya.

"Ah, itu tuh, yang bersandar di dinding," tunjuk Gerald. Semua mengikuti arah yang ditunjuk Gerald. Pria yang bergumam tadi tersenyum pada mereka.

"Ih, ada apa ya si cengeng datang kemari," komentar Gray.

"Ah, kak Aria? Kak, tadi kudengar kakak bicara soal razia...?" tanya Natsu.

"kalian baru dengar ya kalau siang ini para guru akan mendatangi tempat-tempat macam ini untuk menjaring para siswanya? Beritanya sudah dikoar-koarkan beberapa hari yang lalu. bahkan untuk mendukung suksesnya, polisi akan berjaga-jaga untuk mengintrogasi para siswa yang berkeliaran di jalanan pada jam pulang sekolah. Entah progam dari mana, ada juga kabar bahwa acara pengawasan anak-anak sekolah ini akan digalakkan di seluruh lapisan masyarakat.... "

Buakk! Natsu menghantam pelipis Aria dengan keras.

"Cerewet!" komentarnya kesal, "Huh, menyebalkan! Pokoknya aku mau terus main sampai puas! jangan ada yang berani menghalangi aku! Hwahaha~"

"Gila!" ujar Gray, menggosokan telunjuknya di dahi, "Bukanya tadi dia sendiri yang tanya pada kak Aria tentang razia itu, kok sekarang malah protes?"

"Biasalah, anak tidak terlalu waras..." sahut Leon, bergidik ngeri ketika melihat kobaran api semangat di belakang Natsu. Perlambangan manusia paling nekat nan gila abad ini =='

"Oke, siapa yang mau main pertama?" tanya Gerald.

"AKU! Aku mau main pertama!" Seru Natsu tiba-tiba, langsung menabrak Gerald tanpa ampun.

"Hah! Oke, kau boleh jadi pemain pertama! tapi jangan pakai acara tabrak begitu dong! sakit tau!" keluh Gerald, meringis sakit sembari menyeringai ganas pada Natsu.

"Jangan marah Ger... ayolah, siapa pemain kedua?" tanya Leon.

"Oke, kalau begitu..."

"Eh!? Teman-teman..." sela Gray, "Lihat, cara pemilihan pemain ala mugiwara.... "

Semua langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Gray. Ups...

"Pokoknya aku pemain pertama! " seru Sanji, menuding tepat di dahi Zorro dengan emosi.

"Enak saja! Kita kan sudah sepakat! Aku pemain pertama..."

"Tapi kau jangan seenaknya menjadikanku pemain terakhir dong!!!" balas Sanji keras.

"Kau belum puas makan pukulanku?"

"Oh? Menantang ya? Mau makan tendanganku ya???"

"Stop!" lerai Luffy cepat, "Kalian ini bagaimana sih! Aku kan main pertamakali!"

"Luffy jangan ikut-ikut ya!"

"Enak saja!"

"..." semua sweatdrop melihat pertengkaran-anak-kecil ini.

"Huh, ternyata kita harus bertanding melawan anak-anak macam ini ya..." Rocky angkat bicara.

"Jangan remahkan... mereka kan juga pasti punya kemampuan hebat!" Natsu menyodok perut Rocky dengan sikunya.

"Kemampuan hebat apanya... saling melempar umpatan?" tanya Gray, menggeleng-geleng heran melihat devil glare mem-background-i Sanji, Zorro dan Luffy.

"Oke kalau kalian minta..." seru Sanji tiba-tiba, "Aku akan menengahi semua ini!"

"Hah?" Gray semakin sweatdrop, "Menengahi pakai cara apa ya kira-kira?"

"Kita tunggu saja aksi mereka, " ujar Rocky cuek.

Zorro menaikkan kaki jenjangnya di meja yang ada di depanya, lalu berkata dengan nada tinggi, "Kau mau menengahi pakai cara apa ha? Dasar kepala-keju-salah-jurusan!"

Sanji menyeringai galak ke arah si rambut toska itu, "Akan ku buktikan kalau aku lebih bisa memakai otakku daripada kau!"

"Oke, buktikan sekarang! biar semua anak-anak yang ada di game center ini lihat!" tantang Zorro.

Seisi ruangan pun mulai mengalihkan perhatian pada pertengkaran super-bodoh itu, tak terkecuali tiga orang pemuda tampan yang ada di sudut ruangan.

"Hibiki, itu ada apa ya?" tanya si rambut perak yang bertampang manis. Pemuda tampan yang ada di sampingnya berpaling. Ia menaruh stick dan mengalihkan pandanya ke arah yang ditunjuk si manis tadi.

"Ah? Mereka masih pakai seragam SMA? Apa mereka belum tau soal razia dadakan itu ya?" balas seorang pemuda tampan berkulit gelap yang ada di samping pemuda bernama Hibiki tadi.

"Ren benar, sepertinya mereka tidak tau soal itu," kata si manis tadi, yang bernama Eve.

"Hn? kalian benar, coba aku lihat, ada apa disana," Hibiki bangkit. Sembari mengerutkan keningnya dengan heran, Ia melangkah menuju tempat pertengkaran bodoh itu.

"Duh... hei, apa-apaan ini?," seru Hibiki, mengerutkan kening ke arah anak-anak SMA itu, "Apa kalian tidak tau soal razia itu ya? Ini kan sudah dekat dengan tes?"

"..." baik Mugiwara maupun Fairy Tail sama-sama sweatdrop melihat Hibiki yang berseru nyaring kepada mereka.

"AH! Sudahlah! Aku jadi merasa jadi orang bodoh sekarang! Aku akan menyelesaikan masalah pemain VF ini! Tunggu saja!" kata Sanji kesal, sebelum akhirnya melesat keluar ruangan itu dengan kecepatan tinggi.

"Uh, bukanya dia memang bodoh..." ujar Zorro heran.

"Sudahlah, kalian ini bikin malu saja, ya sudahlah, ayo main!" lerai Ussop jengkel.

"Oke, aku main pert.... "

GUBBRRAAKKK!!! Suara gebrakan yang sangat keras bergema mencapai ruangan game center itu, membuat semua perhatian teralih.

"Apa itu?!" seru Luffy kaget. Keningnya juga berkerut seperti hibiki tadi. Samar-samar ada suara yang masuk ke telinganya. seruan nyaring yang tak asing. Ah, suara tadi... jangan-jangan...

"SANJI!" Seru Mugiwara bersamaan sebelum akhirnya mereka berlari bersamaan dan saling berjejal di pintu game center.

"Sanji!" teriak Luffy.

"Sanji! kau ken..."

"...." Luffy, Zorro, Ussop dan Brook yang panik mendengar keributan di luar dan saling berebut untuk melihat keadaan itu bungkam seketika. Melihat ternyata Sanji....

"dasar pedagang mi sialan! Aku kan hanya pinjam sumpit lima batang! Masa seperti itu saja tidak boleh ha?" bentak si kepala keju yang berkacak pinggang, memelototi penjual ramen di depan game center.

Sang penjual yang tinggi tubuhnya setengah dari tinggi tubuh Sanji itu juga membalas pelototan Sanji dengan wajah tak kalah ganas.

"Kalu ini tidak pinjam! Tapi tadi niatmu seperti mau merampok tau!" bentak sang penjual ramen, tak lupa mengacungkan sendok sayurnya ke arah dahi Sanji.

"Aku bilang pinjam lima batang! Aku mau pakai untuk undian main game tau!"

"Oh?!" balas sang penjual, "Maksudmu kau mau melumuri ujung salah satu sumpitku dengan cat untuk undian main game?"

"Kalau tidak, mana mungkin aku kemari untuk pinjam sumpit ha?!"

"..." Para mugiwara semakin sweatdrop melihat aksi si kepala keju itu. Memalak sumpit pedagang ramen!

"Gila! Seharusnya kita tidak ajak anak gila itu!" keluh Zorro, "Aku mau mian sendiri saja kalau begitu!"

"Betul!" dukung Brook yang langsung berbalik, mengikuti Zorro dengan cuek.

"Gila! Ya sudah, yuk kita main berempat saja Luff," komentar Ussop.

"Lho? Luffy? " ulang Ussop, ketika menyadari tak ada respons yang mengalir dari mulut Luffy.

"..."

"Luff?"

"GYAAA~" jerit Luffy mendadak, "SANJI~~~ Idemu keren!!!"

Jedagghh!!!


Sanji memajukan bibirnya beberapa cm. ketika Luffy mengguncangkan gelas berisi batang-batang sumpit di depanya.

"Kalian ini tadi mengumpatku, tapi sekarang ide kocok sumpitku dipakai juga! dasar licik!" katanya kesal.

Luffy acuh saja, terus mengguncangkan gelas berisi sumpit hasil rampasan tadi.

"Oke, dalam hitungan ketiga, rebut ya! Yang dapat sumpit bertanda cat merah di ujungnya akan menjadi pemain pertama!" seru Luffy.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga!"

Seketika tangan-tangan para anggota mugiwara itu berebut menarik sebatang sumpit dari gelas plastik di tangan Luffy.

"Hore~!!!!" jerit Luffy, "Aku dapat sumpit bertanda!!! Ayo! Siapa yang mau melawan kapten Mugiwara ini?hahaha...."

"..." Anak-anak Fairy tail sweatdrop.

"Oke, aku pemain pertama, ayo lawan aku!" kata Gerald santai.

"Oh? Kau anak yang melukai perutku kan? Ayo sini lawan aku! Akan kubalas kelakuanmu!" seru Luffy berapi-api.

"Huh," Gerald mendengus. Mereka memilih karakter masing-masing setelah itu.

"First Fight!!! Luffy vs Gerald, character Jack vs Sarah," desis Natsu, "Seru dong? Karakter itu punya keunggulan serangan yang tinggi!"

Ready? Go!

Jbuakkk!!! Sebuah serangan mendadak yang dilancarkan Luffy berupa pukulan telak, nyaris menguras 'nyawa' karakter Sarah yang dimainkan Gerald.

"awas kau," desis Gerald, "Kubalas!"

Pertarungan memanas, setelah Gerald menjatuhkan karakter yang dimainkan Luffy, mereka sama-sama memasang kuda-kuda yang kuat. Beruntung tak ada time limit, karena ini akan menjadi pertarungan yang sangat panjang antara dua jagoan VF.

"Hebat, karakter Jack dan Sarah mempunya keunggulan masing-masing berupa serangan yang akurat, terutama pada pukulan dan tendangan berputar! Hanya saja aku takut kalau itu akan memperlemah pertahanan. Lihat, Gerald saja menyerang tanpa ampun!" ujar Gray.

"Itu memang karakter terbaik di game ini!" komentar Natsu datar.

Tendangan dan pukulan bertubi dari karakter sarah tak membuat karakter Jack yang ditangani Luffy goyah. sebaliknya, ketika Gerald lengah dalam kuda-kudanya karena terfokus pada serangan, karakter Luffy melakukan salto di udara dan memojokkan garis energi milik karakter Gerald.

"Ugh!"

"Rasakan, pukulan maut Jack-Bryant milikku!"

Jbuaakk!!

"Akkhhh!!!" jerit Gerald, terbelalak penuh ketidakpercayaan karena serangan dadakan Luffy barusan.

"AKU MENAAANNGG!!!" Luffy berseru girang, nyaris melonjak dari kursi yang didudukinya.

"Yes! Satu kosong untuk Mugiwara!" Sanji menyeringai ke arah anak-anak fairy tail. Sesangar apapun itu, itu hanyalah seringai tidak penting yang pasti akan diacuhkan. Kasihan Sanji...

"Pemain berikutnya siapa? Ayo lawan aku!" seru Luffy.

"Oke deh, kita kalah satu point, tapi awas nanti, kami akan balas!" ujar Natsu berapi-api.

"Oke, kita kocokan sumpit lagi yuk!"

"GYA~ ITU KAN IDEKU!!!" seru Sanji memprotes, mendelik tajam ke arah Natsu dengan beberapa urat menyilang di kepalanya.

"Lho? Memangnya kenapa? Kita juga boleh kan pakai sistem kocokan sumpit? Nah, mana gelasnya? Ayo kocok!"

"Hahaha..." tawa Luffy, "Kuharap yang mendapat sumpit bertanda adalah Salamander!"

"KOK KAMU JADI MEMBELA MEREKA SIH!" jbuaaakkk! Sanji melepas gamparan ke kepala Luffy.

Klek, klek, klek... suara sumpit di gelas beradu dengan cepat ketika Natsu mengguncangkan gelasnya.

Samar-samar, ada suara yang spontan menusuk gendang telinga kesepuluh anak SMA itu. Suara yang sangat tak asing bagi mereka...

Suara...

Luffy dan Natsu dkk saling berpandangan dengan tatapan tak percaya.

"MOBIL POLISI!!!"

"GYAAA~~~" Kesepuluh anak berseragam SMA itu belingsatan seketika. Suara super nyaring itu menjerit terus, dekat dan semakin dekat dengan game center.

"Rasakan! Sudah kubilang!" ujar Hibiki.

"Tunggu! Tapi masa sih sampai polisi segala turun tangan?" seru Leon. Semua berpaling ke arah anak yang cara pikirnya paling realistis ini.

"Leon benar!" seru Gray.

Sirine nyaring itu masih terus menjerit. Dekat dan semakin dekat, merasuk ke gendang telinga kesepuluh anak itu.

"Ah, semakin dekat," desis Sanji.

"Parkir dimana ya?" sambung Luffy.

Dekat... dekat... dekat...

Ciiittt~ mobil polisi itu berhenti.

"GYAAAA~~~LARIIIII~" Kacau. Luffy, Sanji, Zorro, Ussop, Brook, Natsu, Gray, Leon, Gerald dan Rocky belingsatan, saling bertabrakan tak tentu arah.

"Cepat lari! Disana! Di bawah meja!" seru Hibiki, entah serius ingin menyelamatkan Mugiwara dan Fairy tail ataupun hanya mengerjai mereka.

"Lari~~!!!" Bruakk! Jbuakk! Bruakk!!! benturan keras tak terelakkan lagi ketika kesepuluh kepala dengan rambut aneka warna saling bertabrakan berlomba berlindung dibawah meja.

"Sialan geser dong!"

"Kau menginjak kakiku tau!"

"Sialan! Ini jacket baruku! awas kalau sampai cacat!"

"Jangan dorong dong!"

"Ugh!"

"..." hibiki, Eve dan Ren sweatdrop.

"Kau mengerjai mereka ya Hib...?" tanya Eve.

"Habisnya mereka berisik sekali sih!" sahut Hibiki santai, lalu kembali menekuni stick game nya.

Pintu terbuka perlahan. Seorang lelaki berseragam polisi mauk dengan langkah mantap ke game center itu. Seakan suara langkahnya tak kalah dengan efexsound game. Melahirkan beberapa keringat dingin di dahi anak-anak sinting yang dengn bodohnya membenamkan dirinya dibawah meja yang entah bagaimana ada di ruangan game center.

"Ada anak berseragam yang main disini tidak?" tanya polisi berwajah garang itu pada Aria.

"Ada..."

Manusia-manusia dibawah meja itu menahan nafas sambil merapal umpatan di hati masing-masing.

"... berseragam SMP, tapi sudah pulang sejam yang lalu," sambung Aria. Semua menarik nafas lega.

"Tapi yang berseragam SMA ada juga! Ada sepuluh orang!"

Semua menahan nafas.

"Tapi kemari untuk wawancara tugas jurnalis..."

Mugiwara dan fairy tail menarik nafas lega.

"Dan..."

"Ah, sudahlah!" kata polisi itu dingin, "Ngomong-ngomong, ada toilet tidak? Aku numpang ke toilet!"

GUBRAAKK!!!

"Sialan!" desis Luffy, "Polisi keparat!"

"Huh! Kan aku sudah bilang! Mustahil kalau polisi sampai turun tangan cuma gara-gara anak-anak berseragam yang ada di game center!"

Semua menarik nafas lega bersamaan, lalu keluar dari bawah meja dengan teratur.

"Aneh ya~ Nah, bagaimana? Apakah mau lanjut tanding VF?" tanya Luffy.

"Oke! Lanjut ya!" sambut Natsu.

"Kalau begitu..." gerakan Natsu terhenti sedetik. Matanya menangkap bayangan 'maut' di depan pintu. Ya! Bayangan para pencabut nyawa (minimal pencabut hak untuk naik kelas)

"Las...laskar konseling sekolah..." desis Luffy, yang langsung disambut jeritan tajam yang mengerikan...

"LASKAR KONSELING SEKOLAAAAHHHH???!!!"

"GYAAA~~~"

Pak Smoker, Bu Tashigi, Pak Morgan, Pak Joze, Pak Ivan dan anggota laskar konseling dan divisi kesiswaan sekolah lainya....

"Lari~~~~"

Semua tunggang langgang, belingsatan, kesetanan. Semua tercekam perasaan ngeri yang semakin menjadi karena tatapan tajam para guru itu.

"Ugh..." Natsu terpekik ketika lehernya dicengkeram tanpa ampun oleh sebuah tangan kekar.

"Ah... ini anak kurang ajar yang suka main dengan Lucy itu kan?" Pak Joze menyeringai.

"Ugh! Salamander!" Luffy yang hampir bisa menyelamatkan diri berbalik, mengulurkan tanganya pada Natsu. Tapi pada saat yang bersamaan, lehernya juga dicengkeram tangan kekar. Ugh... bau asap tembakau milik si gagah aneh yang menghukum Luffy di kamar mandi tempo hari!

"P...Pak... Smo...Smoker?"

"Pak Joze, seret mereka berdua ke konseling! Kita adili disana!"

Joze mangangguk. Dengan kasar Ia menyentak leher Natsu, sementara tanganya menarik tangan Luffy.

"kalian sudah kelewat batas anak-anak!"

"Ugh... tentang polisi tadi ternyata hanya jebakan! Kita harus memberitahu yang lain!" seru Luffy. Natsu memutar kepalanya sedikit.

"Perasaanku tidak terlalu buruk Luff..."

Tubuh Luffy dan Natsu terhempas ke mobil. Ini sih pengendalian murid dengan cara penculikan!

Disusul Gerald, Gray, Leon, Sanji dan Ussop.

"Mana yang lain?" tanya Joze.

"Kabur Pak!" lapor tashigi sembari membetulkan letak kacamatanya.

"Kejar! Mereka akan mendapat hukuman lebih!" hanya itu yang diucapkan Joze sebelum akhirnya dia masuk ke mobil dan menjalankan mesinya.

"Tenanglah," ujar Bu Tashigi lembut, "Jangan anggap ini kekasaran pihak sekolah, ini demi kebaikan kalian!"

Mobil itu terus melaju. Asapnya mengepul pelan menerbangkan butir-butir debu jalanan.

"sial!" seru seorang gadis dengan nafas terengah. Ia mengusap dahinya yang sedikit berkeringat, mencoba mengatur nafasnya yang memburu, "Aku terlambat!"

Tangan mulus gadis bernama lengkap Lucy Hartphiliea itu meraih ponsel di saku mini-skirt nya. Dihubunginya sebaris nomor yang tertera di layar ponsel bertuts qwerty itu.

"DARURAT!" seru Lucy mendadak, "Anak-anak fairy tail terjaring razia di game center!"


"Temn-teman," bisik Natsu, "Aku punya firasat baik tentang ini,"

"Firasat baik bagaimana? Kita tertangkap tau!" bentak Sanji.

"Entahlah, tapi aku sependapat dengan Salamder," desis Luffy.

"Ingat kan, selama ini kita berseteru tidak masuk akal. Sekarang, bagaimana kalau kita damai. Kita sama-sama mencoba keluar dari masalah ini!"

"Dengar," sela Leon, "Kita jangan sekali-sekali berpikir untuk keluar dari masalh ini. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana mengelak dari introgasi para guru nanti. karena kalau kita kabur sekarang, otomatis kesalahan kita tambah berat. bukankah begitu?"

"Leon benar!" dukung Gray.

"Aku setuju dengan Luffy, bagaimana kalau sekarang kita korporasi," Ussop yang sedari tadi diam angkat bicara. semua mengiyakan.

Mobil keluaran perusahaan Eropa itu terus melaju, semakin menenggelamkan perasaan anak-anak ini dalam resah.

Ciiitttt.... mobil mengerem mendadak, membuat ketujuh anak di jok belakang itu terlempar ke depan akibat inersia. Pak Joze yang ada di belakang kemudi mendelik tajam menatap puluhan paku yang tersebar di jalan aspal di depanya.

"Apa-apaan ini!" serunya. Ada Neon seratus watt diatas kepala Natsu.

"Teman-teman, bantuan datang!" bisiknya.

"Aku tak peduli, mau Mugiwara, mau Fairy Tail, pokoknya diantara kami tak ada dendam lagi! Ayo, bantu mereka! Nyanyikan melodi kebebasan untuk perdamaian kita!" bisik rambut Afro yang merapatkan tubuh jangkungnya di beteng tak jauh dari situ.

"Bagus Brook!" balas Lucy, mengacungkan ibu jarinya. Ia melirik Rocky yang juga merapatkan tubuh atletisnya di beteng.

"Natsu, tenang, bantuan dariku datang!"


Yang pasti ni story lum tamat ya Minna... tetap tongkrongin ni fic gaje...

Author minta maaf, kalo masih ada yang rancu karena gak sempat ngedit ...