Ni story lama juga ya? Ntah dapet ilham dari mana saiia semangat lagi buat nerusin ni fic... *ngelirik wallpaper hape dari 'seseorang' *
Nah, sebelumnya saya beri semacam warning bahwa janganlah kalian tiru karakter-karakter di story ini... Jujur, sedikit banyak inilah cermin sang author, Gyahahaha~~~ *dihantam lemari*
Hwey, jangan berpikiran buru tentang saya ya~ ^,^v Argentum anak baik~ *dihantam lagi*
Oke, mau tau lanjutanya kan? Daripada author ngigau terus, lanjutin aja baca ni story aneh...Bye! *ngacir ntah kmana*
One Piece vs Fairy Tail
By : Argentum F SilveR
Langkah Luffy dkk terhenti di hadapan pntu tinggi bercat krem itu. Semua nyaris menahan nafas, tak berani menduga apa yang sudah menanti di balik pintu dengan label 'Conseling room' itu.
Duk! Natsu menyikut Luffy. "Apa yang akan terjadi dengan kita?" bisiknya.
"Entah, tapi tadi aku sempat melihat bayangan Brook dan yang lain di jalan..."
"Mereka pasti akan menolong kita!" bisik Sanji pelan.
Ckrek, ckrek, ckrek. Mereka menelan ludah dengan rasa was-was ketika mendengar suara anak kunci yang beradu dengan gembok keperakan itu.
Ciiiitttt... pintu tua yang bergesek pelan dengan lantai menyuarakan decitan panjang. Terbukalah ruangan yang lumayan luas itu. Glek!
"Masuk," perintah Pak Joze. Tajam, dingin, tak berperasaan. Manusia-manusia yang sempat terpaku itupun melangkah dengan kaki gemetar memasuki ruangan. Sepatu-sepatu mereka yang beradu dengan lantai menimbulkan suara-suara khas, terdengar lebih jelas karena suasana yang sangat sepi ini.
"Duduk," lagi-lagi suara Pak Joze terdengar tajam. Seolah membekukan darah yang mengalir pelan di dada mereka.
Natsu menyikut Luffy lagi, lalu berujar perlahan, "Ssstt... kenapa Pak Joze bisa membaca muslihat Lucy dan yang lain ya? Soal paku-paku di jalanan itu dan..."
"Diam!" hardik guru itu. Lelaki bernama Joze Paula itu menatap satu persatu wajah para murid bejatnya ini.
"Apa yang kalian lakukan ini benar-benar sulit dimaafkan!" hardk Pak Joze. Semua menahan nafas.
"Kalau memang tindakan kami tidak bisa dimaafkan..." mendadak Natsu menyela, mengejutkan semuanya. Dengan tampang berani Natsu pun melanjutkan kalimatnya, "...anda tidak perlu repot memaafkan kami. Beres bukan?"
"Ha?" Semua syok. Alis kanan Joze terangkat, Ia menyeringai tajam ke arah si rambut merah ini.
"Apa kau sadar apa yang kau katakan ha?" tanyanya, kasar. Tangan meraih buku jurnal di meja beralas kain bermotif abstrak itu.
"Namamu... Natsu Dragneel bukan?" tanyanya, melirik dengan tajam ke arah Natsu.
"Ya, tidak ada yang lain!" jawabnya. Stay cool.
"Huh! Dan kau juga anak yang paling terkenal bengal dan kandidat nomor satu dari jajaran anak yang diprediksikan tidak akan naik kelas nantinya. Dengan reputasimu yang 'sangat baik' ini kenapa kau masih saja membuat ulah saat test sudah di depan mata, ha?" Pak Joze kembali menyuarakan suaranya.
Semua bungkam.
"Apa kalian sadar..."
"Hikz..." isak Luffy tiba-tiba, mendadak tak kuasa menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
"...Kenapa kau?" tanya Pak Joze, kaget melihat si topi jerami ini menangis seperti murid taman kanak-kanak.
"I... itu... hikz..." Luffy terisak, "... Salamand... der..."
Pak Joze menghujamkan pandanganya ke arah Natsu, seakan menatap sang kidnaper bra di tepi sungai.
"Apa maksudmu Luffy?" Natsu bersuara dengan nada memprotes berat.
"...Kau..."
"Ng?"
"Injak kakiku tau!"
GUBRAKK...
"Gyaaa~~~ Maaf... maaf... aku tidak sengaja~~~" pekik Natsu, melonjak dari posisi duduknya.
"Kau sih! kalau emosi lihat-lihat dong!" komentar Gray.
"Apa kau bilang? Dasar nafas beku sialan!"
"Ha? Kau berani mengataiku di depan guru? Kau benar-benar keterlaluan, dasar nafas api bau!"
BRAKK!
Tangan kekar itu menggebrak meja, menimbulkan suara begitu tajam, membungkam mulut-mulut Luffy dkk seketika.
"Apa kalian tidak malu ha?" bentaknya, kasar.
Semua diam.
"Kami tidak merasa bahwa kami melakukan hal yang negatif," Kata Sanji mendadak, membuat semuanya berpaling ke arah kepala-keju-salah-jurusan ini.
"Tidak negatif kau bilang ha?" Pak Joze menghardik lagi, "Jelas kelakuan kalian sudah sangat buruk sebagai seorang siswa! Sudah sepantasnya kalian mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan kalian itu!"
"..." semua diam. Suhu ruang konseling yang mendadak menjadi meja hijau itu sedikit turun, seperti keringat dingin yang mulai meleleh di dahi masing-masing. Kepala mereka sibuk menyusun kata-kata yang bisa jadi kartu as penyelamat.
"Lalu..." tiba-tiba Luffy berujar, "... hukuman apa yang pantas untuk kami yang melanggar peraturan sekolah pada hari pertama peraturan itu dijalankan?"
Alis kanan Pak Joze terangkat. "Apa yang kau maksud, Monkey D. Luffy?"
"Saya bisa membaca jalan pikiran para siswa maupun para guru..." Kalimat yang datar dan tenang. Luffy berdiri, memasang style cool yang melumpuhkan.
"Hari pertama saat suatu peraturan diberlakukan akan dimanfaatkan para siswa untuk melanggarnya, karena mereka berpikir pada saat itulah para guru lengah..." Luffy melirik Pak Joze dengan ekor matanya, membuat semuanya menahan nafas.
"Lalu?" Alis mata kanan Pak Joze terangkat lagi. Pandangan matanya menyiratkan penasaran sekaligus tatapan mengejek.
"...LALU..." Luffy menekan kalimatnya, "..."
"...saya tidak tau lagi harus ngeles apa lagi..."
GUBRAKKK!
"SAYA TIDAK MENGIRA..."Bla... Bla...Bla...
"Ugh, Luff, kau akan dihajar anak-anak fairy tail nih!" Bisik Natsu, menutup telinganya mendengar pidato tak bermutu ini.
"Maaf, deh..."
"Gayamu keren, ternyata akhirnya malah seperti ini," Sanji menutup sebelah matanya. Luffy menghempaskan pantatnya di kursi lagi sambil meringis.
"...KESIMPULANYA...!" Pak Joze berseru dengan keras, membuat semua menahan nafas lagi.
'Akhirnya setelah nyaris sejam mengoceh, sampailah pada kesimpulan. Artinya, acara mengoceh sudah selesai' pikir otak-otak para remaja SMA badung ini bahagia.
"KALIAN..."
Tok...tok..
Pintu diketuk, membuat semuanya spontan menoleh.
"Selamat siang," sapa serang laki-laki bertubuh kekar yang muncul dari balik pintu. Rambut perak dan bekas jahitan di bawah matanya menguatkan kesan tampan di wajahnya yang lembut.
Raut wajah Pak Joze berubah melihat laki-laki ini. "Elfman?" tanyanya, masam.
"Maafkan saya Pak, saya membawa pesan dari bagian kesiswaan yang melakukan razia di sejumlah tempat di kota," katanya.
"Hn? Lalu? Bagaimana hasilnya?" tanya Pak Joze lagi.
"Kami menangkap sekitar dua lusin siswa sekolah ini, termasuk ketiga siswa lainya selain mereka, tapi..."
Laki-laki bernama Elfman itu mendekati Pak Joze. Nampaknya Ia membisikkan sesuatu di telinga si guru yang entah bagaimana masih saja punya tenaga setelah lamaaa sekali mengoceh kepada para siswa badungnya (yang sebenarnya sama sekali tak mendengar ocehanya)
"Benarkah itu? Elf?"
"Tentu,"
Nampak Pak Joze menghela nafasnya panjaaang sekali. Dia menyeringai ke arah Luffy dkk.
"Kalian boleh pergi." katanya. Datar tak bernafsu, seperti hakim yang gagal mengadili kidnaper bra.
"SERIUUSSS?" seru semuanya.
"Enyah kalian..."
Bruak...bruak...bruak...
Tanpa sanggup meneruskan kalimatnya, tubuh jangkung Pak Joze sudah menjadi korban tabrakan berantai anak-anak Mugiwara dan Fairy Tail.
"Ugh..." lenguhnya, kesakitan.
"Maaf Pak, saya permisi dulu, selamat siang..." Elfman meringis, lalu meninggalkan sang guru yang malang dengan face tanpa dosa dengan gerakan cepat.
"HWAHAHAHAHA~~~!" Natsu tak bisa menahan tawanya yang tak terkontrol.
"Ih," seru Luffy, "Salamander serapa bulan tidak gosok gigi ya?" tanyanya.
"Namanya juga nafas-api-bau-sialan," sahut Gray, santai, yang langsung disambut hantaman telak di dadanya oleh sepasang lutut Natsu.
"Ugh!"
"Apa katamu? Ha? Gray?"
"Kenapa kau memukulku ha?"
"STOP!" hardik Luffy, "Sudahlah kawan! Nah sekarang, aku mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kita dibebaskan ha?"
"Ooohhh... itu pasti kerjaanya si Lucy! Dia menelpon Elfman untuk menolong kita... sebenarnya itu pastilah akal-akalanya Lucy!" ujar Natsu, tertawa tanpa dosa.
"Elfman?" tanya mugiwara bersamaan.
"tuh yang tadi itu, itu namanya Elfman, adik laki-lakinya Mira"
"Ng?" kata Sanji memiringkan kepalanya, "Apa hubunganya? Memang akal-akalan apa yang Lucy lakukan? Lagipula... Lucy itu siapa?"
"Dasar Sanji!" Luffy memukul pundak Sanji pelan, "Si rambut pirang yang mengejar kita waktu kita mau ke game center itulah! Siapa lagi!"
"Benarkah? Si Cantik itu?"
Bruakkk!
Combat berantai gaya Virtual Fighter jatuh di perut si rambut keju ini, membuatnya meringis.
"Kalau urusan gadis cantik kau benar-benar tidak mau kalah ya..." Gray berkomentar datar tak bernafsuseperti pak Joze tadi.
"Berisik kau Gay! Mentang-mentang kau jadi idola di kantin sekolah!" sahut sanji, penuh penekanan pada 'kantin sekolah' yang secara tidak langsung mengandung ejekan untuk Gray sebagai tempat-paling-tidak-bermutu-untuk-jumpa-fans.
"Sialan! Namaku GRAY tau! GRAY! Bukan GAY! dan lagi, aku tidak suka caramu berbicara!" seru Gray, menantang.
''Oh? Begitukah? Apa maumu?" Balas Sanji, yang langsung menarik kerah seragam Gray dan menautkan pangkal hidungnya dengan pangkal hidung Gray.
"..." semua sweatdrop
"Oh, ya, Mugiwara akan sangat berterimakasih pada Fairy Tail yang sudah membebaskan kami dari sarang laskar konseling!" seru Luffy ceria., terang-terangan mengacuhkan duo Sanji-Gray.
"Jangan mengacuhkan kami dooongg!" seru Sanji-Gray bersamaan, plus beberapa 'perempatan' di kepala mereka.
"Orang gila mana yang sudi menyaksikan pertengkaran tidak masuk akal kalian," Zorro yang sedari tadi bungkam karena malas mulai angkat bicara, seakan mendukung Gray untuk men-skak-mat-Sanji.
"Diam marimo-kepala-salad!"
"Apa kau bilang?"
"STOOOPPP!" Semua berseru lantang, mengguncang gedung bercat putih itu.
(Efek : Burung gagak kabur dari sarang masing-masing memenuhi langit)
"Oke, deh..." Gray yang tersungkur tanpa harga diri mengusap benjol di kepalanya.
"Kibarkan saja bendera putih kita," lanjut Sanji, yang juga menahan nyeri di kepala kuningnya yang entah sudah mendapat berapa kali hantaman.
Trek... Trek..
Suara high heels yang beradu dengan lantai keramik ini menggelitik telinga. Semua kompak berpaling, sehingga mata mereka tertumbuk dengan sosok cantik yang sudah tak berseragam sekolah di ujung koridor.
"LUCY?"
"Hai teman-teman! Bagaimana? Kalian lolos kan?" tanyanya dengan tatapan nakal yang khas. Di belakangnya ada Rocky, yang terkikik geli.
"Terimakasih ya Lucy. Maaf aku kabur darimu tadi. Kupikir kau..."
"Ah, sudahlah Luffy. Wajarlah kalau kau mengira aku ini fansmu juga... kau kelewat imut sih~"
"Hihihi..." Luffy terkikik.
"Lagipula," ujar Lucy lagi, "Justru kamilah yang harus berterimakasih pada kalian, karena yang mengusulkan menipu Pak Joze adalah Brook..."
"Brook?" Natsu memutar kepalanya ke arah Luffy, "...Si Afro?"
"Ya, si Afro! Tapi... dimana Brook sekarang?"
Semua diam mendadak, lalu memutar kepala masing-masing, mencari si kurus itu. Hn? Dimana pemuda itu?
"..."
Ada alunan gitar. Indah begitu merasuk ke hati.
"SAKE BINKS!" seru semuanya.
"Eh? Kalian tau lagu ini?" tanya Luffy terkejut.
"Siapa sih yang tidak tau! Brook kan pemenang kompetisi musik antar sekolah bulan lalu! Dia membawakan lagu ini kan?"
"Yo ho ho! Nyanyikan melodi persahabatan kita~~~!" seru Brook, yang ternyata duduk di balkon lantai dua dan langsung terjun ke lantai dasar dengan gaya coolnya.
"Brook, keren! Ayo nyanyi lagi!" seru Lucy. Kesepuluh anak di lantai dasar itu berpandangan.
"Ayolah," kata Rocky lembut, "Sedikit melepas penat setelah dikerjai mahasiswa di game center dan gagal tanding VF..."
"Oke!" sahut semuanya kompak, langsung mengambil posisi yang paling nyaman untuk mereka di lantai. Dingin lantai keramik ini mulai menjalari kulit para remaja SMA ini, dan dengan senyum manis, Brook mulai memetik gitarnya dan menyuarakan suara merdunya.
"Yohohoho yohohoho!
Yohohoho yohohoho!
Yohohoho yohohoho!
Binks no sake wo
Todoke ni yuku yo
Umi kaze ki makase
Nami makase!
Shio no mukou de
Yuki mo sawagu
Sora ni ya
Wa o kaku tori no uta!..."
"Hahaha..." Ace tak bisa menahan tawanya, "Benarkah? Jadi kalian sudah damai ya?"
Ace yang sudah membaringkan diri di bed di bawah bed Luffy itu masih terkikik geli, memancing Luffy yang ada diatasnya untuk tertawa juga.
"Entahlah... tapi Luffy berharap begitu," sahut Luffy, yang mencoba menyamankan tidurnya di bed atas, membuat bed bertingkat itu goyah sedikit.
"Oh... kalau begitu perjanjian kita batal dong?" mendadak Ace berseru.
"Perjanjian apa? Oh, soal Luffy mau mencarikan teman kencan buat Kakak? Ya... maaf ya kak, hehehe..." tawa Luffy innocent.
"dasar... yaaahhh... kakak single deh valentine ini~" Ace bersuara dengan nada kecewa berat.
"Hahaha..."
Ah, iya, besok tanggal 14 Februari. Artinya, hari kasih sayang. Hmm... apa yang akan terjadi di hari itu ya? apakah Luffy akan menanyakan perihal 'surat-pernyataan-suka' dari Natsu itu.
'Aku gelisah,' batin Luffy. ia meletakkan kedua telapak tanganya dibawah kepala. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Selamat malam Luff," kata Ace, lalu menekan sakelar lampu sedetik setelah itu.
"Selamat malam," balas Luffy. Yah, apapun yang akan terjadi besok, Luffy lebih memilih tidur daripada memikirkanya.
Ia menghela nafas panjang sekali. Tak butuh waktu lama sampai kemudian Luffy sudah mengambang di alam mimpinya dalam lelap...
Ombak menyapu kaki Luffy. Tepi pantai yang sangat indah.
"jarang aku berada di sini. Ini sisi pantai yang paling keren!" puji Natsu yang ada di samping Luffy. Ombak juga menerpa lembut kakinya.
"Iya nih... aku juga jarang berada di tempat ini..." jawab Luffy, "Oh ya, bagaimana kalau kita main ke Going Marry?"
"Ha? Apa itu Going Marry?" tanya Natsu heran.
"Ah, itu kapal! Tenang, dia tidak berlayar kok! Ayo kita berteduh di bawahnya, pasti enak!" ajak Luffy ceria, lalu mengamit lengan Natsu.
Kapal itu lumayan cantik, dengan kepala domba di bagian depanya. Semakin sempurna dengan background ombak laut yang indah berbuih.
"Bagus sekali!" seru Natsu dengan mata berbinar, "Tapi aku akan memilih mati daripada mengendarainya!"
"Hahaha~" tawa Luffy, "Ikut aku! Berada di bawah bayangan going marry pada saat matahari sudah condong begini akan sangat menyenangkan!"
Natsu mengikuti langkah Luffy memutari badan going Marry.
"Enak kan?" seru Luffy ketika mereka telah mencapai sisi Going Marry, di bawah bayanganya. Natsu mengikutinya tanpa banyak bicara. Mereka merebahkan diri dengan nyaman. Dibawah bayangan Going Marry dimana cahaya matahari yang terik tidak bisa menjamah mereka, memang sangat asyik.
"Kau benar Luff! Disini sangat menyenangkan! sangat!" kata Natsu, tertawa ceria.
Menyenangkan sekali, kedua remaja ini tertawa bersama. sesekali mulut mereka melontarkan komentar tentang langit, tentang laut, tentang kenyamanan yang tengah mereka nikmati...
"Luff!" Natsu bangkit dari posisinya yang berbaring.
"Ya?" Luffy ikut bangkit.
"Selama kita bermusuhan, rasanya aku punya perasaa lain padamu..." kata Natsu tiba-tiba, sukses mencetak semburat merah di wajah imut Luffy.
"Maksud...mu...? Hhhhmmmpp..." Luffy terpekik tertahan, mendapati Natsu langsung melakukan sesuatu yang sangat tak terduga!
Natsu LAKI-LAKI, dan Luffy juga LAKI-LAKI!
"Natsu! kau apaan sih!" seru Luffy marah, mendorong paksa tubuh si rambut merah itu, yang kini menatapnya ganas.
"Luff... kau manis,"
"GYAAAAAA~~~~!"
TBC
A/N : Dilarang berpikiran buruk a.k.a ngeres a.k.a jorok dan sejenisnya sebelum anda membaca next chapter, ok? Bisa aja kan adegan Natsu nyium Luffy hanya dusta author belaka ? (digorok se RT)
Pastika anda sekalian meninggalkan review sebelum nutup page ini, oke?
