Chapter 8

One Piece vs Fairy Tail

By : Argentum F. Silver and Gold F. Diamond


Luffy merinding, menatap tatapan horror (baca : mesum) Natsu padanya.

"Salamander! Sadarlah! Apa kau gila!" Tangan Luffy gemetar, akan tetapi otaknya terus memerintahkan untuk menahan gerak Natsu yang semakin brutal.

Brukkk!

"Ugh!" erang Luffy.

"Luff, kau tau, kau ini sangat tampan~"

Luffy tak berdaya, membiarkan tangan hangat Natsu menggerayanginya.

"hen...hentikan...HENTIKAAAANNNN! HWAAAA~~~!"


"HWAAAA!"

"Luffy!" Ace berseru, menghantam wajah Luffy dengan bantal. Luffy yang berteriak-teriak dalam tidurnya itu langsung bangkit.

"Untunglah... Syukur cuma mimpi..." ucap Luffy sangat lega. Sembari menyeka dahinya yang agak basah, Ia mengalihkan pandanganya pada sang kakak.

"Kak..." panggilnya.

"Hn?" Ace yang sudah ber face super ngantuk itu hanya menyahut pendek.

"Nggg... Luffy barusan mimpi apaan ya?"

GUBRAAKKK!

"Kalau kau tidak tau mimpimu sendiri kenapa kau teriak-teriak!" amuk Ace, ganas.

"Hwaaa~~! maaf, maaf... "

"Huh? Kau mimpi apaan sih, jangan-jangan mimpi basah ya?" mata ace menyipit curiga.

Bruakkk!

Hantaman bantal mendarat di wajah Ace. Lalu Luffy menyambung, "Luffy mau tidur di bed bawah sajalah!"

"Tap..."

Tanpa aba-aba Luffy bangkit dari posisinya, terjun tanpa ampun dari bednya sendiri. Masih dengan selimut yang melilit tubuhnya yang hanya terbalut boxer dan kaus itu, Ia langsung melingkar ke bed sang kakak.

Ekspresi Ace : sweatdrop + jengkel + kurang tidur + over emosi + tidak tega menghantam kepaa adik tercintanya sekalipun dia ingin.

"Huh!" dengusnya setelah (dengan bodohnya) terpaku sebal menatap sang adik selama 10 menit.

"Kau boleh tidur di bed ku, tapi..."

"Ng?" Luffy membuka satu matanya, melirik sang kakak.

"JANGAN PAKAI BANTALKU! pakai tuh bantalmu yang bau!"

Braaakkk!

Wajah tak berdosa Luffy tertimpa bantal bersarung biru yang dilempar Ace, membuatnya sedikit mengernyit, menyadari bahwa sarung bantal itu memang sudah tidak dicuci selama... sebulan? dua bulan? Mungkin...

"Huh," Ace mendengus sebelum akhirnya hengkang dari tempat itu, menuju bed atas.

"Kau sih pakai minta tempat tidur bertingkat seperti yang di kapal thousand sunny! aku deh yang repot!"

Ace mash menggerutu panjang sebelum akhirnya merebahkan dirinya diatas bed berseprai putih itu.

Tak butuh semenit untuk Ace agar Ia bisa kembali terlelap. Berbeda dengan Luffy yang mendadak amnesia + insomnia, padahal jam dinding baru menunjukkan pukul satu dini hari.

Eh, berarti sekarang sudah tanggal 14?

Valentine?

Luffy mencoba menutup matanya.

Kreeekkk...

"Eh?" Baik Luffy maupun Ace langsung terbelalak mendadak mendengar derakan itu.

"Kak?" Tanya Luffy.

"Iya?"

"Itu suara apa?"

"Entahlah... jangan-jangan..."

BRUAKK!

Bed bertingkat itu jebol tak kuat menahan bobot Ace.

"Arrggghhh!" Erang Luffy dan Ace bersamaan saat tubuh mereka langsung terhempas paksa diantara dua patahan papan. Luffy malang tertimpa tubuh gagah Kakaknya, Ia hanya meringis ngilu.

"Gara-gara kau nih!" seru Ace, bangkit.

"Kok aku? Salah kakak, kenapa punya tubuh berat-berat!"

"Jangan salahkan kakak!"

"Kakak memang salah!"

Dan bla...bla...bla... terdengarlah suara adu mulut, adu bantal, adu jitak dan lain sebagainya.

Pertengkaran itu hanya bertahan selama setengah jam. Setelah mereka berdua letih mengumpat, nampaklah dua manusia yang mengungsi ke ruang tengah. Ace dan Luffy pun meneruskan tidur mereka yang terganggu disana. Hihihi...


"Wah, ada apa nih? kapten kuyu sekali," komentar Robin, yang mendadak berjalan menyejajari luffy.

"Eh, Robin... bagaimana olimpiadenya...?" tanya Luffy, lesu.

"Aku juara satu untuk cabang fisika dan juara umum untuk cabang biologi... Nggg... kau belum jawab pertanyaanku?"

"Ah, iya nih... sedang tidak semangat saja... aku telat lagi tadi pagi...oke deh, aku duluan ya..." Luffy melambaikan tanganya sebentar, lalu mempercepat langkahnya.

"Oke sampai nanti!"

Suasana lapangan basket begitu riuh, lumayan menggelitik Luffy. ia berheti sejenak, menatap dua tim yang tengah berlaga di sana. Tim Natsu yang diketuai Gray Fullbuster, dan tim lawan, sepertinya kakak kelas.

Luffy menyaksikanya dengan mata tak berkedip. Natsu yang bertubuh kekar itu menguasai bola dengan sempurna. kelentingan tubuhnya yang luar biasa, dan... wajahnya yang terbilang tampan... Gyaaaa~~~

Luffy memalingkan wajahnya, enggan teracuni mimpi semalam.

"Eh? Luffy? Kau mua kemana? Pertandinganya keren lho!" seru seseorang di belakangnya, Lucy.

"Eh? Nnnggg... iya sih..." jawab Luffy.

"Kau nampak kurang sehat? Mana genkmu? Oh ya, kau datang ke acara nanti malam kan? kata Natsu, kau akan datang ke pesta valentine kami?" tanya gadis itu, betubi.

"Nngg... iya, aku akan datang..." Luffy nyengir, "Sudah ya! daaaagghhh!"


Gadis manis itu menyesap juicenya dengan santai di kantin yang tak terlalu ramai saat itu.

"Hai Vivi!" sapa Luffy padanya, langsung menarik kursi di sampingnya dan duduk. Hanya selang sedetik setelah ia mengambil tempat duduk, iapun berteriak dengan liar, "PAK! MIE TIGA MANGKOK! COCACOLA TIGA BOTOL YA! CEPAT!"

"Lu... Luffy... lemari pendinginya kan ada di belakan kamu, masa kamu pesan sama pak kantin sih?"

"hehehe..." cengir Luffy, "iya deh aku ambil sendiri,"

"Eh, iya, kudengar kau dan anak-anak kelas sebelah sudah damai ya?" tanya Vivi. Matanya menatap lekat-lekat mata Luffy. Ehm!

"Ya... sepertinya..."

"Jadi... soal pesta valentine itu..." Vivi blusing, "...kau benar-benar akan mengajakku?"

"Enggg..."

Pesta valentine?

"I... iya deh! kau jadi kan? aku sudah janji mau membawamu ke pesta itu sih, hehehe..." Luffy meneguk cola nya, lalu menyambung, "pasti akan sangat menyenangkan kalau kau punya teman kencan!"

Vivi blushing. Tapi itu hanya untuk beberapa detik. Pada detik berikutnya, Vivi menghela nafasnya dan menunduk, seakan ada sesal di kedua matanya.

"Luff... aku mau mengatakan sesuatu..."

"Mengatakan apa? Oh, aku tau! pasti kau kau mau bilang bahwa Nami juga ingin ikut kan?" Luffy tertawa ceria, "Bukanya ita sudah membahasnya?"

"Bu...bukan...bukan itu maksudku... aku..."

"VIVI!" sebuah suara lantang dan nyaring terdengar, memutus ucapan Vivi seketika.

"Nami?" seru Vivi dan Luffy nyaris bersamaan.

"Oh iya, kau dipanggil wali kelas tuh! katanya penting!" kata Nami.

"Oh, baiklah, aku akan kesana," jawab Vivi.

"Ok, jangan lama-lama ya? Bye!"

Nami berlalu.

Luffy menghela nafas sejenak sebelum mengalihkan pandanganya ke Vivi lagi, "Jadi...?"

"Jadi kita bicarakan nanti saja ya? Bye!" Vivi bangkit dari duduknya, langsung berlari ke arah pintu kantin.

"Eh! Vivi..." Suara dan gerakan Luffy tertahan oleh semangkok mie pedas yang masih hangat dengan asap mengepul dan aroma yang amat mengundang selera.

"Hwaaa~ bicaranya nanti saja deh~ Isi perut duluuu~" serunya ceria. Selang sepersekian detik setelah mengucapkan terimakasih pada pak kantin iapun melahap sang mie dengan ganasnya.


"Ng? Jadi kau mengundang Luffy ke pesta kita?" tanya Gerard, mengernyitkan dahi.

"Kenapa? Boleh saja kan?" sahut Natsu, cuek.

"Aku sih tidak keberatan," timpal Gray, "hanya saja aku tidak bisa membayangkan... menghadapi keusilan satu Natsu saja sudah repot setengah mati... bagaimana kalau menghadapi dua Natsu? Luffy kan usilnya sama dengan si nafas api bau ini!"

"APA KAU BILANG GRAYYY?"

"TULI YA?"

bla..bla...bla... semua sweatdrop.

"Sudahlah! kalian membuat kami pusing tau!" Rocky menarik kerah Natsu.

"Rocky benar!" Leon menyeret Gray.

"Kalian seperti anak kecil saja," dengus Gerard menengahi.

"Ngomong-ngomong... bagaimana kalau kalian memikirkan hadiah yang keren untuk pacar kalian masing-masing?" tanya Rocky, si playboy metroseksual.

"harusnya kau tidak usul begituan Rocky!" kata Leon, mengejek, "kau akan kerepotan sendiri... kan pacarmu kebanyakan...?"

"Ah, tidak juga... aku ingin memberikan hadia teristimewa untuk orang yang paling istimewa..." kata Rocky, mendayu gaya berpuisi.

"Hmmm... kau belikan apa untuk Erza ya..." ujar Gerard, "Ngg... kalau kau Natsu?" Gerard mengalihkan pandanganya ke arah Natsu.

"Aku ingin berikan hadian valentine untuk Happy sajalah!"

"hahaha..." tawa semuanya.

"Bagus, kaubisa ajak kencan happy di panggung cinta berbentuk hati yang dibangun dengan badan ikan!" ledek Gray.

"hahahaha..."

"Tertawalah semau kalian!" Natsu cemberut berat, langsung memalingkan wajahnya dengan sebal, "Happy kan temanku juga," kilahnya masam.

"Aku akan menghadiahkan keindahan semalam yang paling indah untuk Jubia!" kata Gray tiba-tiba. Mendadak angin terasa mengalun begitu lembut di sekitarnya, dan burung-burung berkicau begitu merdu di angkasa.

Semua sweatdrop.

"Gr..Gray... ingat, Jubia masih gadis..." cibir Natsu.

"HWEEE! KAU INI MIKIR APA SIH! BUKAN ITU MAKSUDNYA! MAKSUDNYA AKU TAKKAN MELAKUKAN YANG ANEH-ANEH PADANYA!"

"Natsu kan cuma bilang 'Jubia masih gadis' bukan berarti dia mikir yang 'aneh-aneh'," komentar Leon.

"Berarti yang pikiranya aneh-aneh itu..."

"YA KAMU ITU, GRAY!" sambung semuanya, langsung disambung tawa yang berderai. Sekarang gray-lah yang memasang wajah masam. Ia memalingkan wajah dari semuanya, sesekali mulutnya merapal umpatan tak jelas.


Luffy mematung di depan cermin. Bukan karena ingin memastikan dirinya sudah tampan atau belum, tapi untuk meyakinkan hatinya, apakah Ia benar-benar akan-menemui-orang-yang-membawa-mimpi-buruk-baginya.

"Aaahhh~~~" Luffy mengacak-acak rambutnya sehingga semakin nampak lebih berantakan dari sebelumnya, membuat Ace menyipit curiga seketika.

"Kenapa? malam ini kau janjian dengan teman-temanmu kan?" tanya Ace.

"Iya sih Kak," jawab Luffy.

"Lalu?"

Luffy menghela nafas.

"Kak...ada anak laki-laki suka pada Luffy," Luffy mengadu dengan lemas tanpa gairah. Membauat alis kanan Ace terangkat.

"Serius?"

"Iyalah serius! Sampai terbawa mimpi lagi! Bagimana dong Kak! apalagi ini valentine! Waktu anak-anak sekolah sibuk kencan dan mencari hadiah, Luffy malah dilanda bingung!" Kali ini Luffy berpaling, menatap kedua mata kakak laki-lakinya itu dengan tatapan memelas lengkap dengan mata berkaca-kaca seperti di komik serial cantik (?)

Sukses membuat tawa Ace meledak tanpa ampun.

"HAHAHAHAHAHAHAHA~~~!"

"Jangan menertawakan aku!" seru Luffy dengan tampang frustasi.

"hahaha... Luff... Kakak tidak menertawakan kamu..hahaha..." Ace berjuang untuk bicara di sela tawanya, "hanya saja...hanya saja kau ini ANEH!"

Merah padam wajah Luffy, seakan bersiap meyemburkan asap marah menyaingi lokomotif kereta uap.

"Sabarlah, Luff!" ucap Ace, "Mustahil orang yang suka padamu itu bersungguh-sungguh! Bisa saja dia mengerjaimu!"

Tampang Luffy lebih frustasi, "Tapi...tapi..."

"Sudahlah Luff! jangan dipikir! Adikku ini kan masih normal!," Ace meringis, mengucak rambut Luffy, membuatnya lebih berantakan.

"Oh ya! Luffy tidak lupa dengan janji kan?"

"Jan...ji...?" alis kanan Luffy terangkat. Feelingnya sangat jelek ketika melihat Ace menyeringai ke arahnya.

"Luffy kan janji mau mencarikan kakak teman kencan?"

"..."

"GYAAAA~~~!" Luffy menjerit sejadi-sadinya ketika Ace menerkamnya dengan ganas.

"jangan bilang kau mau ingkar janji ya!" Ace menekan kalimatnya, tak lupa mengeluarkan hawa devil yang se devil-devilnya (?)

"Maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf...!"


Huh, waktu terasa berputar lebih cepat. Luffy berjalan perlahan ke arah guild Fairy Tail. Yupz, ini kan valentine. Ini akan menjadi valentine paling semarak. Lantunan lagu romatis, semua tempat yang bertaburkan warna pink, serta ratusan pasang muda-mudi yang saling bercengkerama mesra. Ehm!

Tok...tok... Luffy mengetuk pintu rumah Vivi, 'gadis' nya di acara pesta nanti. Tak ada jawaban.

Tok..tok..

"Vivi~!" panggilnya. Kosong tanpa jawaban.

"Kalau kau tidak keluar aku pergi lho~" kata Luffy. Masih tak ada jawaban. Ada firasat buruk menyelip di benak Luffy. Oh, apa yang terjadi pada Vivi? Apa dia tidak ada di rumah?

"Hey!" seru seseorang di belakang Luffy, membuat Luffy berpaling seketika.

"Apa yang kau lakukan Luff?"

Luffy menahan hafas, "Sa... salamander?"

Tanpa sadar Luffy meneguk ludah, menatap wajah tampan itu. Tubuh yang gagah terbalut pakaian serba hitam. ada sedikit motif api pada ujung lenganya. Tak lupa syal yang tak pernah lepas dari lehernya. Rambutnya masih jabrik, dan ada harum maskulin menguar dari badanya.

"Iya, ini aku. Kenapa kau nampak aneh begitu? Oh ya, ini rumah pacarmu itu ya?" tanya Natsu, dengan tampang khasnya yang polos.

"I... Iya... aku lupa kalau Vivi tidak ada di rumah sekarang..." Kata Luffy, terbata. Ia memaksakan tenggorokanya supaya mengeluarkan suara. Ia pun berusaha tersenyum ceria, meskipun jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya.

"Oh... jadi... kau single?" tanya Natsu.

"Umm... i..iya sih..."

"Sama aku yuk!" seru Natsu mendadak, seketika tanganya ditarik oleh Natsu, menjauhi pintu rumah Vivi.

"Eh! Eh! Ti...tidak!" Luffy yang panik langsung berontak. Sesaat terbayang adegan dalam mimpinya, "Pa...pacarku bukan hanya Vivi! Aku akan ke mengajak... umm... NAMI! ya, namanya Nami!" seru Luffy. Entah benar-benar berniat mengatakanya atau hanya sebagai dalih.

"Nami? Oh, baiklah! Aku duluan ya! Sampai ketemu di guild! Daaaggg!"

"..." Luffy tertegun, "Salamander kok sampai sini sih? Dia mau apa ya tadi..."


"w...whattt?" gadis berambut oranye itu terbelalak.

"I...iya nih...jadi, kau mau jadi...jadi teman kencanku kan?" tanya Luffy, pucat pasi. Ia tak bisa membayangkan akan menggandeng Nami.

"Bukanya aku mau menolak, tapi...baiklah! Tunggu aku ya!"

sepuluh menit berlalu. Luffy mengangguk-angguk, terkantuk-kantuk menanti Nami yang tengah berdandan

"Nami... kau cantik pakai pakaian apa saja...ayolah keluar..." bujuk Luffy, mulai lelah.

"Iya! sebentar lagi!" seru Nami dari dalam kamar riasnya. Duh!

Satu setengah jam sudah berlalu.

"Hai Luffy! Ayo, aku sudah siap sekarang!" seru Nami ceria.

"Zzzzz..."

"LUFFYYYY!" Nami menjerit ketika sang pangeran Monkey D. Luffy telah nyenyak diatas lantai.

"Gyaaa~~~ Gempaaa! " Luffy linglung, "Oh, ternyata Nami... hehe, maaf ya..."

"Luffy, kau itu bagaimana sih!" Nami merajuk.

"I...iya deh... maafkan aku. Ayo!"


Malam yang indah. Nami mendongak, menatap kerlipan bintang diatas sana. Tubuh mulusnya terbalut gaun pink lembut bergaya strappless sepanjang lutut, lengkap dengan high heels beraksen pita yang melilit betisnya. Rambutnya yang terikat jepit berbentuk teratai warna pastel mulai bergoyang terhembus angin. Ini akan jadi malam yang sangat romantis bagi mereka berdua, kalau saja Luffy tidak sibuk memikirkan apakah-aku-sudah-tidak-normal-lagi.

"Umm... Luffy... malam ini aku cantik tidak?" tanya Nami, berkedip manja.

"Cantik,"

"Kenapa kau pikir aku cantik?"

"karena tadi kau bertanya padaku,"

"Ugh! Luffy, romantis sedikit kenapa sih!" Nami merajuk.

"Iya, Nami sayang, kita sudah sampai, yuk masuk!" Luffy menarik pergelangan tangan Nami lembut, tak peduli bagaimana wajah Nami saat itu. Merah merona, tersipu malu.


Suasana yang ramai, tapi terkesan romantis. Kesan mewah terpancar dari guild ini. Beberapa pasang muda-mudi nampak berdansa mengikuti irama slow piano yang dimainkan Mirajane di atas panggung.

"Waww..." Nami terpana.

"Indah bukan malam valentine kita?" tanya Luffy, membetulkan topi kesayanganya.

"Iya... eh, tunggu! Kau bilang 'malam valentine kita' ?" tanya Nami, blushing.

"Eh, nggg... tentu...kenapa tidak?"

Nami tertunduk. Tanpa sadar tangan kananya meremas tangan Luffy.

'uh..' batin Luffy, 'aku harus cari salamander sekarang...bagaiman nih...'

"Umm...Nami, sebentar ya, aku mau mencari salamander dulu. Penting! Kau tunggu ya!" Luffy menarik tanganya dari genggaman Nami, "Aku takkan lama...Ok?"

"Ngg... oke..." kata Nami, ragu.

"Ok, bye!"

Luffy menembus kerumunan orang di guild itu, sesekali membalas senyum fansgirl ganasnya yang terkapar terpesona oleh penampilan Luffy malam ini. nampaknya mereka sudah punya pasangan masing-masing...jadi bukan masalah bagi Luffy.

"Rocky!" Luffy memanggil pemuda yang tengah bersanding denan seorang gadis di dekat panggung. Dalam hati Luffy berujar 'tumben ceweknya hanya satu?'

"Kau lihat Salamander?" tanya Luffy.

"Natsu? Dia di lantai dua kalau tidak salah," jawab Rocky.

"Thanks!"

Luffy melesat, menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

"Aku harus bicara pada Salamander!" tekad Luffy dengan mata berkilat. Kakinya terayun dengan cepat, matanya yang tajam mengawasi setiap gerombolan orang, berharap ada Natsu disana. Tidak! Tidak ada Natsu disana.

Mata Luffy berputar, mencoba mencermati.

"Kau mencari sesuatu?" tegus seseorang, "Luff?"

"Oh? Gray! Kau tau dimana Salamander?"

"Oh, nafas api bau ada di balkon," kata Gray, datar. Tentu, dia sedang menggandeng gadis cantik. Luffy kenal gadis itu, itu kan Jubia.

"Ok!"

Balkon? Waw, berdiri diatas balkon di bawah langit malam bertabur bintan teriring musik slow menghanyutkan di malam valentine... aduuhhh... Luffy mulai berpikir kotor. Bagaimana kalau dirinya dan Natsu berdiri di balkon dengan suasana yang seperti tadi itu...?

"Salamander?" seru Luffy, terengah.

Kosong.

Tak ada siapapun disana.

Mata Luffy meredup. Tanpa sengaja Ia menatap ke bawah, ke arah laut. Ia melihat sosok gadis di dekat laut. seketika pupil mata Luffy mengecil.

"Vivi?" desisnya.


TBC