Setelah kepentok UTS, kepentok namatin komik, namatin anime dan bikin manga dll, akhirnya bisa juga ngupdate story yang satu ini… Haaahhhh~~~ *garuk2 kuping* niatnya mau bikin romens LuffyXNatsu… :P kerasukan apa ya otak ku?
Nggg… unsur almost-yaoi masih ada disini… tapi masih friendship (betapa mengerikan mendapat 101 protes yang menyuarakan ketidak setujuan atas yaoi LuffyXNatsu (keliatan ngibulnya, padahal reader fic ini juga palingan gak nyampe 101 =_=")) Wokeh, author capek… mata-matain Luffy pacaran sama Natsu (digetok palu) semalam…
Umm… reader, jujur, format ff ini agak melenceng dikit dari draft yang ada di kepala saiia…penulisanya juga kacau… saiia kalang kabut setelah cerai (?) sama asisten saiia tercinta nih ==" (Minna, kalian sadar gak kalo ff ini emang ehm… aneh dibanding pas awal2 dulu?) ada yang mau daftar jadi penggantinya Gold Diamond P Salamander? (Diamond : JANGAN ADA YANG MAU! PENYIKSAAN! TIRANI! GAK BERPERIKEMANUSIAAN! Hmmpphh *disumpel sebelum banyak omong*) wokeh, jangan dengarkan curhatan gaje diatas, saiia hanya bercanda. Argentum tetaplah Argentum dan diamond tetaplah diamond. Okey? (author gilak, mana ada orang mau nyamain perak sama berlian?)
Yosh! Di chapter ini… kayaknya OP and FT bakal damai beneran deh ^^v (ditimpuk kertas2 data hasil mata-matain semalem)
Happy reading friends! Mangga dipunwaos kanca-kanca! selamat baca teman-teman! (ngomong apa saiia ini?)
One Piece vs Fairy Tail
The Picture, symbol of peace
By : Argentum F Silver-chan
Dingin angin menusuk kulit. Bulan mulai meninggi, menandakan puncak malam ini. Dua sosok pemuda itu berjalan perlahan, beriringan menyusuri hamparan pasir putih di pantai. Gemuruh ombak mengalun, menguatkan rasa nyaman di hati keduanya. Rambut jabrik mereka terhembus angin, memberi efek mengagumkan pada wajah tampan mereka yang disinari perak rembulan dalam gelap bayang malam.
"Woiii! Kalian sedang apa disini? Pacaran ya?" mendadak suara berat seorang pria terdengar, melengking memecah keheningan damai ini.
Bruaaakk!
"Ugh!" erang pemuda berambut hitam, yang jatuh tersungkur akibat teriakan tadi.
"Ugh! SIAPA YANG TERIAK-TERIAK HA?" berang si rambut merah.
"KAU YANG TERIAK SALAMANDER!" balas si rambut hitam.
"KAU JUGA TERIAK LUFFY!" balas si rambut merah lagi. Hening. lalu keduanya sweatdrop bersamaan."Jangan berisik Luffy, nanti anak-anak lain tau kalau kita disini!" sambung si rambut merah yang bernama Natsu, setengah berbisik.
"Umm... yeah~ aku hampir lupa kalau kita sedang kabur..." si rambut hitam yang bernama Luffy menyahut datar. Ia membetulkan letak topi jerami yang bertengger manis diatas kepalanya.
"Ngomong-ngomong... tadi yang teriak pada kita siapa ya?" mendadak Natsu bertanya.
"Hn? Seperti suaranya franky?" kata Luffy. Ia hanya mengangkat bahunya setengah tidak peduli, lalu meneruskan langkahnya, mendahului si rambut merah.
"Kok aku jadi merasa seperti peserta kawin lari sih..." keluh luffy lemas dengan suara lirih. Ia melirik Natsu yang berjalan di belakangnya. Nampak Natsu tengah repot menyingsingkan lengan pakaianya. Sesekali mulutnya mengeluhkan betapa merepotkanya pakaian itu.
"Lucy merancang baju seenaknya sendiri! Dasar! Lain kali aku mau pinjam baju Elfman saja!...eh, salah… baju Elf kebesaran ya… pinjam baju Gray saja!" dan bla.. bla... bla.. entah apa yang dipusingkan oleh cowok manis berambut merah ini. Luffy hanya berpaling dengan tampang datar. Walaupun itu sesungguhnya adalah bentuk usaha agar Natsu tak menyadari gurat merah yang muncul di kedua sisi pipinya setiap kali mereka berinteraksi. Sekuat itukah pesona seorang salamander Natsu sehingga mampu menyihir seorang Monkey D. Luffy yang bahkan belum tertarik pada lawan jenis? Oh, tidaaaakkk! Ehm… dan… dan sepertinya… Natsu juga sama deh…
"Hah, kita mau kemana Luff? Kita sudah cukup jauh dari guild..." tanya Natsu seraya menyusul langkah Luffy. Mereka berjalan beriringan lagi kini.
"Umm... entah. pokoknya sejauh-jauhnya! Sekarang kan guild sudah jadi papan duel anak-anak Mugiwara dan Fairy Tail...? Aku malas mengurus mereka. Sudah biasa..." sahut Luffy.
"Bagaimana kalau ke dermaga? Disitu aman dari anak-anak...?"
Blusshh... dada Luffy terasa panas. Langkahnya terhenti seketika. Ia membuka mulutnya dan berkata dengan perasaan tak menentu, "K... kau pikir kita sedang PACARAN?" serunya keras, dengan tatapan jijik. Deg! Apakah Luffy benar-benar berniat membentak sahabatnya sendiri? Rasanya itu sangat impossible bagi seorang insan polos semacam Monkey D. Luffy ini…
"Kau sakit Luffy?" tanya Natsu perlahan. Ia mengerutkan keningnya ketika menyadari sahabatnya yang satu ini… umm… aneh…? Otaknya konslet batin Natsu.
"Ti...tidak..." Luffy sedikit tergagap, "...kenapa kau tanya seperti itu...?"
"Memangnya aneh kalau aku menanyakan itu?" jawab Natsu tak bernafsu. Ia langsung meneruskan langkahnya tanpa mengucapkan apapun lagi. Meninggalkan suasana yang sangat ganjil diantara mereka. Luffy tertunduk lemas. hancur sudah image nya di hadapan Natsu. Awal pertemuan mereka hanyalah sebuah kebetulan semata, tidak lebih. Tapi kenapa... sekarang rasanya...
"Salamander? boleh aku menanyakan sesuatu?" mendadak suara polos Luffy terdengar. Langkah Natsu terhenti. Agaknya pemuda salamander ini tergelitIk mendengar suara polos si topi jerami, suara yang sangat berbeda dari... umm... bentakanya tadi...
"Boleh. Kau mau tanya apa?" sahut Natsu seraya membalikkan tubuh tegapnya. Ia menatap lurus ke mata hitam Luffy yang berada tiga meter di hadapanya.
"Salamander suka padaku?" Glek! bicara apa aku ini?
"..."
"Suka?" tanya Natsu dengan wajah bertanya-tanya.
"Setelah sekian lama Mugiwara dan Fairy Tail mengalami perseteruan (tidak masuk akal) ini, aku sering berpikir tentang perasaanmu yang sesungguhnya padaku…"
Hening lagi. Natsu seakan memberi jeda dengan ucapan berikutnya.
"…"
"Yah, tentu saja aku suka padamu. Kau sahabat yang sangat baik, Luffy! Seperti Igneel... seperti Happy...seperti Erza, Lucy dan (meskipun aku malas mengakuinya) Gray... sungguh kau sahabat yang baik. Bagaimana mungkin aku tidak menyukaimu?" jawab Natsu akhirnya, dengan suara yang polos tanpa dosa. Ia tersenyum. Senyum terbaik yang pernah ia persembahkan kepada sahabatnya. Luffy membalas senyum itu. Senyum yang melambangkan sebuah kelegaan. Ada beban besar yang luruh sempurna di hatinya.
"Nakama!" ucap Luffy mantap. Tanganya langsung menyambar tangan Natsu dengan gembira. "AYO MAIN KE DERMAGAAAA!" seru Luffy menggila, menyeret Natsu tanpa ampun, membuat tubuh sang Salamander terseret penuh kesadisan.
"Ukh! L.. Luffy! Tungg… HWAAA!"
Malam yang sangat seru. Luffy menyerukan teriakan bersemangatnya, menyeret badan tak berdosa dari kawanya ini diatas pasir. Telinganya menuli (atau mungkin memang tuli), tak mendengar jerit kesakitan dari si rambut merah yang diseret penuh kebiadaban.
"Hwaaa! Badanku makin berantakan Luuufff! LUUUFFFYYY!"
Ironis memang jika harus berada di sisi sang topi jerami = =" Dan… entah apa yang meracuni otak anak itu, Luffy 100% lupa akan menanyakan surat 'cinta' Natsu tempo hari…
"Manis," Luffy berkomentar ketika melihat cahaya keperakan rembulan yang memantul di riak ombak lautan.
"Yeah… coba kalau aku kemari dengan Lu…"
"Lu…?" mendadak Luffy langsung menoleh dan memotong ucapan Natsu.
"Eh, tidak, tidak, maksudku, coba kalau mugiwara dan fairy tail juga ada disini ya, hehehe…" Natsu langsung meralat ucapan ganjilnya. Ia mencondongkan badanya ke belakang dan menggoyahkan tanganya di depan dada seraya meringis khas, "I… iya, maksudku itu!"
Luffy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja dengan tampang polos, lalu mengarahkan matanya ke laut lepas lagi.
Polos sekali anak ini, Inner Natsu langsung menepuk dahinya sendiri. Ia pun menekuk kakinya dan duduk disamping tambatan kapal. Dingin ombak menyapu kaki telanjangnya, yang saling bergesekan, menciptakan rasa nyaman.
"Waduh, sayang ya anak-anak yang lain tidak ada disini. Pemandanganya cantik sih," Luffy berkomentar lagi seraya menekuk kakinya juga, menyusul Natsu untuk duduk dan mengistirahatkan kakinya dalam belaian ombak lautan.
"Huh, biar saja… soalnya pesta valentine tahun ini pasti akan menjadi pesta paling seru! Guild fairy tail akan menjadi ring duel terbaik abad ini, huahaha!" natsu langsung tertawa laknat, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika duel itu benar-benar akan digelar. Ia tak bisa menahan seringai tipis tatkala para anggota mugiwara datang dan menyatakan tantangan secara frontal kepada genk nya yang memang terkenal badung. Bahkan setelah banyak sekali hal yang telah terjadi diantara mereka. Mereka sungguh para manusia (bodoh) yang selalu haus akan kompetisi. Tak puas hanya beradu kekuatan di lapangan, maupun di jalanan…
flashback…
"Mugiwara menantang duel. MALAM INI!" Sanji berucap dengan nada penuh keseriusan. Tanganya mengepal erat dan diacungkanya ke arah gerombolan fairy tail yang berada dua meter di hadapanya. Sikap angkuhnya di background oleh Ussop, Zorro dan Brook yang mengirim devil glare terbaik mereka. Umm… kecuali Zorro mungkin, Ia memasang face mengantuk yang memang sudah trade mark nya sejak lahir.
Dan di sisi lain, Gray hanya membalas wajah angkuh itu. Tak kalah, Ia pun di background-i oleh Gerald, Rocky dan Leon. Dua tim hebat yang akan mempertaruhkan segala harga diri mereka disini.
"A… ada apa ini…?" mendadak seruan Nami terdengar membelah keheningan sesaat diantara kedua tim itu.
"NAMI?" seru Sanji keras. Wajahnya tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget ketika melihat dara jelita yang berlari-lari ke arah mereka. Daripada ekspresi kaget, mungkin lebih pantas jika dikatakan sebagai ekspresi terpesona…
"Apa yang terjadi disini?" tanya Nami kaget. Matanya yang ber iris oranye jernih membulat tanda tak percaya menatap pemandangan di hadapanya. Kedua kubu yang terkenal saling berseteru belakangan ini, berhadapan, menyeringai dengan air muka menantang…
"waduh… aku lupa, kepala keju salah jurusan ini penggila wanita stadium empat… kalau lihat wanita cantik…" gumam Zorro, "Batal duel deh. Mau kita kemanakan harga diri kita!"
"Dasar! Kalian ini kubu macam apa! Kalau kalian menantang kami, berarti kalian sudah siap dengan segala persiapan dan resiko!" kata Gray datar.
"Semua takkan berakhir hanya dengan mengumpat! SERBUUU!" seru Ussop berapi-api, "Kapten Ussop inilah yang akan memimpin di frontline!"
"Oh ya? Bisa apa kau hidung panjang!"
"Apa kau bilang!"
Bla… bla… bla… Luffy dan Natsu sama-sama menyumpal lubang telinga mereka dengan jari. Ada beberapa perempatan di dahi mereka. Naasnya...
Mereka berdua memasang tampang aku-telah-gagal-mendidik-anak-buah.
"Luff…" bisik Natsu, "… perang fasis vs sekutu pecah lagi… escape yuk!"
"Setuju Salamander! Eh? Lho? Tapi kenapa? Bukanya kau paling suka bertarung?" tanya Luffy
"Iya juga sih… tapi kalau dengan mereka, apa untungnya… mereka sih bisa aku bekuk dengan sekali pukul… hanya saja, Luff, aku sudah merasa gagal mendidik geng ku sampai-sampai mereka nekat melibatkan diri dalam pertarungan tolol ini…" ucap Natsu lemas.
"Nekat tidak apa-apa, yang penting jangan NAKED. Ya sudah, ayo escape!." Balas Luffy seraya merapatkan punggungnya dengan punggung Natsu dan melangkah bersamaan dengan konyol, menjauhi kedua kubu yang sedang saling merapal umpatan.
"…" Nami, Erza, Lucy dan Robin sweatdrop bersamaan. Eit tunggu! Robin?
"ROBIN?" seru Nami spontan dengan wajah kaget ketika melihat teman satu angkatanya itu berada di sampingnya dengan gaya santai. Gadis cantik berambut panjang itu melirik Nami dengan tampang cuek.
"Hn?"
Gubbrraakk!
Nami mengusap kepalanya, "Pelajaran untuk kalian, Lucy, Erza, jangan bertanya dengan gamblang pada Robin karena dia hanya akan mejawabnya dengan answer tidak bermutu seperti tadi," ucapnya lemas.
Robin hanya tersenyum kecil, lalu membuka buku sastra yang biasa ia baca, dan berujar lembut, "…Sanji berkoar ingin menghajar anak-anak kelas sebelah. Aku khawatir… jadi aku sengaja mengikuti mereka… tenang, aku sudah mengontak guru BP untuk jaga-jaga…"
Bleezzttt! Nami langsung memasang tampang angker kepada Robin dengan background percikan listrik dahsyat, "… kau… mau… membunuh… mereka… ya… pakai…mengontak…BP…segala…" ucapnya mengancam dengan nada penuh penekanan. Robin meliriknya cuek dan membalas, "… tentu saja, Karena aku tak sanggup menghentikan pertarungan ini dengan tenaga sendiri…" lalu ia menyambung dengan senyuman manis, "Kurasa… ini akan menjadi pertarungan yang sangat menarik…"
End of Flashback
.
"Habis itu apa yang terjadi ya?" Tanya Luffy dengan nada geli.
"Hah, palingan mereka hanya akan berakhir di ruang kesehatan!" balas Natsu tidak peduli, lalu melemparkan pandanganya ke cakrawala. Indah sekali.
"Luff," bisik Natsu, "Kau pernah punya impian dan cita-cita tidak?"
"Hn? Pertanyaanmu aneh sekali Salamander! Tentu aku punya banyak impian. Setiap orang pasti punya juga. Bagaimana denganmu?"
"Aku… aku ingin sekali bertemu dengan Igneel," ucap Natsu. Ia berpaling pada Luffy dan bertanya dengan nada serius, "Apa impianmu Luffy?"
"Umm… impianku… yah, ini hanyalah satu diantara semua keinginanku. Tapi yang saat ini paling aku inginkan adalah…"
"Adalah…?"
"adalah…"
"adalah…?"
"…"
Kryuuukkk! Terdengar suara perut Luffy menjerit.
"…makan ayam gorengnya Mira…"
"…"
"AKU BICARA SERIUS LUFFY!" berang Natsu seraya mencekik leher sang topi jerami dengan ganas dan mengeluarkan aura-aura panas tanda kemarahan besar.
"Kkkhhh… habis… aku masih lapar…"
"…" Natsu sweatdrop, "Sebenarnya.. aku juga lapar…"
Kryuuukkk! Terdengar suara perut mereka berdua, bersamaan.
"Hahahaha! Luffy/Salamander kau sama saja!" seru mereka bersamaan sambil tertawa lebar.
"…"
Hening. Mereka mengamati indahnya cahaya bulan yang memantul di riak ombak lautan. Terdengar Luffy menghela nafas lembut.
"Impianku… bertemu dengan Shanks lagi," bisiknya.
"Ah… iya. Kita sama-sama merindukan seseorang ya?"
"Ah, satu lagi!" sambung Luffy, "Aku ingin menjadi orang yang hebat. Seorang raja! Raja pirate!"
"Itu sih impian anak-anak, Luffy! Di dunia ini tidak ada raja bajak laut!" balas Natsu. Luffy tersenyum dan memandang sahabatnya ini.
"Mungkin memang terdengar seperti keinginan anak-anak… " Lanjutnya, "tapi itu nyata. Aku ingin menjamah keluasan samudera, aku ingin melangkahi semua ombak lautan. Aku menginginkanya. Saat aku kecil, Shanks yang mengajariku tentang semua ini. Berturut-turut, aku bertemu dengan Zorro, Nami, Ussop, Sanji, Chopper, Robin, Franky dan Brook. Teman-teman kesayanganku yang memiliki harapan dan cita-cita masing-masing, yang bertekad penuh untuk merealisasikanya bersama… Itulah mengapa mereka menyebut kami semua mugiwara,"
"…" Natsu terdiam, takjub, "Keren," desisnya kemudian, "Jadi… Nami, Robin dan Franky itu bagian dari kalian?"
"Yeah!"
"Ah… mimpi yang luar biasa Luffy!"
"Ehm," Luffy mendehem, "Kau bilang menjadi raja bajak laut itu impian anak-anak… itu karena kau lemah terhadap kapal kan?"
Kyut! Muncul perempatan di dahi Natsu, "…kubunuh kau menyebut-nyebut kelemahanku…" desisnya kesal.
"He..he..he…"
"DARRR!" seru seseorang –ehm.. ralat, satu lusin manusia tiba-tiba, mengagetkan Luffy dan Natsu. Seruan keras yang membuat bulu kuduk mereka berdiri nyaris melompat dari kulit.
"Gyaa~~ Aku kaget bodoh!" seru mereka bersamaan berang. Nampaklah Sanji, Zorro, Ussop, Brook, Gray, Rocky, Leon dan Gerard berdiri ber-delapan di belakang Natsu dan Luffy. Ehm… selain mereka, ternyata ada Erza, Nami dan Robin juga.
"Lho? Kok perempuanya Cuma tiga? Eh, Lucy mana?" Tanya Natsu heran
"Uff…" Sanji menghela nafas. Ada perempatan di dahinya, "…memangnya kau ini pacarnya Lu-chan ya, Natsu?" tanyanya dengan penuh penekanan. Merasakan ada aura tidak beres dari si playboy di hadapanya, Natsu hanya meringis geli.
"Bukan. Apa urusanmu? Suka ya pada Lucy? Kalau suka biar aku yang bilang!"
"Cih!" balas Sanji kesal.
"Eh, Gray, kau lupa pakai baju lagi ya?" Tanya Luffy heran ketika melihat Gray berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya yang telanjang. Ehm… hanya memakai boxer saja.
"Ha?," Tanya Gray bodoh, lalu melirIk bagian bawah tubuhnya, "GYAAA~~~ Siapa yang berani mencuri pakaiankuuu!"
"…" semua sweatdrop.
"Siapa juga yang mau mencuri pakaian bulukmu Gray! Lagipula kurang kerjaan sekali ada orang yang mencuri pakaian yang masih menempel di tubuh orangnya!" ledek Natsu, yang langsung melahirkan beberapa persimpangan di dahi Gray. Pemuda Fullbuster ini langsung mengangkat kakinya, dan..
BUAKK!
"Gyaaa~~~" Natsu terpekik ketika kaki Gray menghantam belikatnya dan mendorongnya paksa ke laut. Refleks, Natsu meraih pundak Luffy yang berada disampingnya, membuat kedua pemuda ini sama-sama kehilangan keseimbangan dan…
Byuuurr!
Gol saudara-saudara! Gray pun sukses membuang rivalnya (dan Luffy) ke LAUT.
"Gyaahahahahahahahaaa!" tawa semuanya meledak. Nami mengatupkan tanganya ke mulut, berusaha menahan agar tawanya tidak terlepas. Sementara Erza dan Robin hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala mereka. Naas sekali nasib kalian Natsu… Luffy…
1 detik
2 detik
3detik
"TEMAN-TEMAAANNN!" mendadak Zorro berteriak begitu kencang.
Piiippp… terdengar dengungan parah. Maaaf, pendengaran terganggu sedikit.
"LUFFY KAN TIDAK BISA BERENANG BODOH!"
"…" hening.
"GYAAA! LUPAAA!" Mugiwara berteriak serentak mata nyaris melompat dari rongga, ketika mereka menyadari, Natsu sudah muncul di permukaan, tapi Luffy belum. Luffy tenggelam! Diantara dingin ombak lautan, dibawah deru amuk gelombang. Diam. Diantara karang hitam, sosoknya nyaris menghilang. Detak jantungnya… terhenti…
"Ha… ha… HATSYIII!~!" Luffy bersin keras, mengeluarkan ingus di dalam hidungnya sekaligus, mencemari udara kelas… Ya, Luffy selamat malam itu. Ketika raganya tenggelam dalam amukan ombak, tepat saat ambang hidup dan matinya, Natsu menyelamatkanya. Ehm… romantis juga, meskipun akhirnya Luffy bernasib malang seperti ini, terkena flu berat.
Siang yang lumayan panas itu, Luffy menaruh kepalanya di meja dengan tampang tidak bernafsu seolah berkata 'mati-saja-di-laut-kemarin-daripada-sakit-begini'
"Bhwuuhh! Hey! Kau kemanakan sapu tanganmu Luffy!" tegur Ussop seraya menutup hidung panjangnya.
"Biarkan saja Ussop. Flu memang sedang melanda," sambung Zorro cuek tanpa mengalihkan pandanganya dari 'pacar tercintanya' yang bernama PSP-setengah-harga-dari-toko-game-bangkrut-komplek-perumahan-sebelah.
"HA… HATSYIII!"
"Bhwuh!" Ussop langsung berlindung di belakang Zorro, Zorro berlindung di belakang Brook, Brook berlindung di belakang gitar akustik yang berada di belakang tubuh Sanji.
Alhasil, wajah tampan sang koki masak inipun terkena curahan liur dan ingus biadab Luffy. Kyut! Muncul urat besar berkedut di kepala kuning Sanji, diikuti dengan backround blazing electric penuh aura kemarahan.
"Suruh siapa kau di frontline… coba kalau di belakang seperti mereka, pesti tidak kena bersinku…hehe…" Luffy nyengir.
"GO TO HELL!" teriak Sanji over-angry seraya menggampar pipi kanan Luffy yang imut-imut dengan kaki jenjangnya.
Bruaakk!
"Astaga!" seru Nami histeris melihat ada 'pajangan' baru di dinding kelas berupa pemuda rambut hitam babak belur, tersangkut tragis di tembok kelas dengan pose yang amat memalukan.
"Nami-swaaann?" seru Sanji kaget… ehm… terpesona.
"Ah, iya. Aku mau menengok Luffy. Kudengar dia sakit flu. Kasihan. Ini aku bawaka makan siang kesukaanya…" ucap Nami simpati.
"Makan siang? Makan siang apa? Bagaimana kalau kapan-kapan aku yang memasakanmu makan siang? Kemampuan memasakku tidak diragukan loh! Hehehe…"
"Ah, tidak ah," interupsi Nami, "Sekali-kali aku ingin makan siang bersama Luffy saja ah,"
"…" Sanji terpaku dengan background hati tercabik. " 'sekali-sekali' dia bilang? Oh, Kami-sama… mengapa Nami-san sang wanita tercantik di hati ini lebih menjatuhkan cintanya pada si bodoh-kepala-kosong itu~~~" ucapnya pilu… ehm, lebay.
Ctakk! Zorro menjitak kepala kuning Sanji dengan badan PSP nya, lalu berujar, "Relakan saja, kepala kuning…"
"RELA? KAU BILANG RELAAA? Bwuuhhhpp!"
Zorro menjejalkan kardus PSPnya sekaligus ke dalam mulut Sanji, dan berlalu dengan tampang tanpa nafsu, sebelum Ia mendengar ocehan teman… eh, rivalnya ini.
"Tutup mulutmu!" katanya cuek.
Kembali ke LuffyNami…
"Ha…Ha… HATSYIII!" srooott! Luffy menyedot ingusnya kembali ke dalam hidung. Uft… repotnya minta ampun. Kepalanya agak nyeri sekarang. "Oh, Nami… aku semakin parah…" bisik Luffy, seraya mencomot daging panggang dari box lunch Nami. Nami hanya menatapnya dengan tatapan geli, sekaligus iba. Ah… ganjil sekali rasanya melihat si hiperaktif ini memasang wajah tak bermutu karena penyakit umum-tapi-menyiksa ini, tapi masih bisa menyikat habis semua isi box lunch jumbo Nami.
"Bagaimana kalau kita ke UKS ?" usul Nami sembari mengelus pundak Luffy dengan lembut.
"Sebentar ah… makan siang dulu," balas Luffy lemas seraya mencomot potongan daging ke-9 dan memakanya dengan ganas (lagi). Nami hanya terkikik geli melihatnya.
Hanya selang beberapa menit, bel masuk kelas berbunyi nyaring. Nami memutuskan untuk mengantar Luffy ke UKS dahulu sebelum memasuki kelasnya. Ia memapah tubuh Luffy yang lebih tinggi daripada tubuhnya, dengan susah payah. Sedangkan Luffy… err… terlalu kenyang sampai-sampai kesulitan untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Hah? Separah itukah? Jangan salahkan dia, pemirsa, salahkan Nami yang terlalu ahli memasak sampai membuat Luffy melupakan segalanya dan tenggelam dalam nafsu makanya sendiri.
Nami mendorong pintu ruangan UKS perlahan. Dilihatnya ruang yang didominasi warna putih, dengan dua buah tempat tidur disana. Kedua tempat tidur itu dibatasi tirai putih polos yang lumayan transparan. Luffy melepaskan tubuhnya dari Nami dan menjatuhkan dirinya diatas salah satu kasur, dengan tampang tidak berdosa.
"Aku mau tiduuurrr!" serunya.
"L… Luffy… aku mau bilang sesuatu padamu… aku…"
"Zzzz…" Luffy memejamkan matanya dengan damai seraya memproduksi gelembung ingus dari hidungnya. Inner Nami langsung menepuk Jidat dengan frustasi.
"D… dia… tertidur hanya dalam waktu 2 DETIK setelah menyentuh kasur?" tanyanya heran seraya menggaruk kepala. Ia mengamati betapa imut (dan joroknya) pemuda di hadapanya ini. Terbaring dengan nafas perlahan, terlelap dalam dunia mimpinya. Manis… manis sekali. Wajah Nami memerah ketika Ia menyadari posisinya : di ruang UKS yang sangat sepi, dengan pemuda (yang disukainya) terbaring tak berdaya di salah satu tempat tidur… apa yang akan dilakukan gadis cantik ini ketika ada fantasi ganji merambah otaknya?
Nami mendekati Luffy yang tertidur. Plukk! Ia tersenyum ketika satu gelembung ingus Luffy pecah. Sungguh… manis…
"Luff…" bisiknya, "… kau tau kan aku suka padamu. Sejak dulu, sejak kau menolongku dari Arlong dan semuanya…"
"…"
"Aku…"
Tok! Tok! Terdengar pintu UKS diketuk seseorang. Nami langsung berpaling ke arah pintu, tepat pada saat pintu dibuka seseorang dari luar.
"Eh? LUCY? NATSU?" seru Nami kaget ketika melihat pemuda berambut merah itu dipapah seorang gadis berambut pirang.
"Nami? Lho? Luffy juga masuk sini ya?" Tanya Lucy juga kaget.
"Luffy flu. Aku jadi tidak tega, jadi kubawa kemari," kata Nami menjelaskan.
"Wah? Natsu juga flu berat nih. Ditambah lagi tadi dia di 'treatment' sama Erza, alias dipukul waktu berangkat sekolah dengan mobilnya Elfman…"
"Oh… baiklah, sini aku bantu kau mengangkatnya…"
Panas… jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Luffy baru saja terjaga dari tidur panjangnya di UKS. Sekarang dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia mengejapkan matanya beberapa kali dan mengamati sekelilingnya. Mulai dari pintu, yang terbuat dari kayu kokoh bercat putih… dinding yang memuat berbagai pajangan, skema, diagram dan lain-lain yang tidak dapat Luffy mengerti, sampai kemudian Luiffy memutar kepalanya hingga Ia melihat kasur di sampingnya…
Glek! Makhluk apa itu? Rambut merah… baju acak-acakan…. Dan mukanya…
"SETAAANNN!" jeritnya ganas.
"Bwah! SETAN? MANA SETAN?" teriak 'makhluk' itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Salamander Natsu itu. Ia terbangun paksa karena jeritan Luffy yang membahana tampa ampun.
"HWAAA~~!" Jerit keduanya bersamaan, dengan tampang ketakutan, tanpa harga diri. Glek! Dengan muka pucat pasi, mereka terdiam juga dalam waktu yang bersamaan. Otak kosong keduanya mencoba mencerna apa yang terjadi.
"…"
Aku tidur di UKS bersama kepala obor ini? Batin Inner Luffy, cemas sekaligus was-was.
Lihat muka Luffy, aku jadi lapar. Batin Inner Natsu laknat sambil memegangi perut.
"…" hening lagi.
"Luffy?" Tanya Natsu pertama kali.
"Ya?" jawab Luffy datar.
"Kau kenapa?"
"Flu,"
"Sama dong,"
"…" hening lagi. Lalu mereka sweatdrop bersamaan.
"Uaahhh! Aku ngatuuukkk!" seru Luffy sambil merebahkan badanya lagi. Natsu ikut merebahkan badanya di kasurnya sendiri. Ia sempat menyibak tirai tipis disitu agar bisa melihat Luffy lebih leluasa.
"Sama nih! Aku flu berat dari kemarin malam!" ucap Natsu kesal, "Jadi Lucy membawaku kemari…"
"Iya! Nami juga membawaku kemari!" lapor Luffy innoucent. Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat. Natsu mengangkat badanya sedikit dan memiringkanya sehingga Ia menghadap ke arah Luffy, dengan bertumpu pada siku.
"Luff, mulutmu bau ayam panggang!" ucap Natsu curiga sambil menyipitkan matanya.
Luffy memiringkan kepalanya sedikit sehingga menghadap ke arah Natsu, "Penciumanmu tajam ya! Aku habis makan siang dengan Nami tadi. Dia membawa sekotak besar ayam panggang, hehe… enak!" promosi Luffy sambil meringis ceria. Kyut! Ada perempatan muncul mendadak di kepala merah Natsu.
"KOK TIDAK BAGI-BAGI SIIIHHH!" amuknya ganas. Ia meraih kerah seragam si topi jerami dan mengangkat tangan dengan pose akan melontarkan combat.
"Aah! Mulutmu sendiri bau steak sapi buatanya Mira tuh! Kau juga curaaanngg!" balas Luffy seraya menarik kerah baju Natsu.
"DAN KAU…"
Tok! Tok! Pintu UKS diketuk. Suara ketukan itu menghentikan gerakan keduanya. Greeekkk… pintu UKS terbuka, dan..
"GYAAA! Luffy! Salamander! Kalian sedang apa?" teriak Sanji keras ketika melihat pose tanpa harga diri mereka berdua, berdiri diatas kasur seraya mencengkeram kerah baju dan memasang pose combat.
(Di mata Sanji : Luffy dan Natsu, berdiri, berhadapan = tanpa jarak = di dalam ruangan sepi = mau melakukan hal asusila)
"Fyuuh!" Natsu langsung menghembuskan nafasnya di wajah Luffy ketika Ia sadar bahwa ada yang memergokinya hendak berkelahi.
"salamander, steak sapinya Mira sedap juga," bisik Luffy innocent, yang langsung disambut gamparan maut Natsu tepat di wajahnya.
"Gila kau! Malah bicara soal makanan! Ini steak kemarin malam tau!"
"Hueekk!"
"Apa maksudmu bereaksi seperti itu!"
"…" Sanji sweatdrop berat. Ia mundur beberapa langkah dan memilih untuk keluar dari ruangan yang telah tercemar hawa ketidakwarasan ini, dengan tatapan ngeri.
"…" hening.
"Berantemnya mau lanjut?" Tanya Luffy polos.
"Tidak deh. Sudah kepergok… jadi malas…" Natsu melepaskan tanganya dan merebahkan tubuhnya di kasur lagi, disusul Luffy. Kini mereka bertukar tempat tidur, Natsu di sisi kiri dan Luffy di sisi kanan.
"Jam berapa ini ya? Sekolah sudah bubar?" Tanya Natsu.
"Entah. Mungkin hampir bubar…" balas Luffy.
"Kau mau pulang kapan Luffy?"
"nanti sajalah.. aku malas bangun. Kasur di kamarku jebol waktu dipakai tidur Kakak, jadi sekarang kami berdua mengungsi di ruang tengah. Kalau tidur siang di ruang tengah tidak asyik…" curhat Luffy.
"Kalau begitu, ikut aku tidur siang di rumah Lucy yuk!" ajak Natsu bersemangat.
"ha?"
"Aku dan Happy sering sekali tidur disana!" cerita Natsu.
"Lucy tidak marah?" Tanya Luffy.
"Marah. Marah sekali!"'
"…" Luffy sweatdrop. Lalu menggeleng dengan tatapan ngeri. Kalau Vivi itu se tipe dengan Mira, Lucy itu setipe dengan Nami. Aku bisa membayangkan bagaimana kemarahanya, batin Luffy yang mulai merasakan hawa-hawa laknat.
"…" mereka lalu diam. Mendadak, ada sesuatu melintas di kepala Luffy. Ah, iya… Luffy ingat, tempo hari Ia kan menggambar lambang Fairy Tail…
"Salamander," panggilnya lembut, "Lambang fairy tail itu… seperti apa sih?" Tanya Luffy.
"Hn? Lambang konkretnya sih… peri wanita yang memiliki ekor. Peri berekor merupakan sebuah misteri… kata Master Makarov, Fairy Tail memiliki arti, sebuah guild yang diselubungi misteri… tempat orang-orang hebat bernaung," cerita Natsu.
"Oohh…keren…"
"Ngg… Luffy… kalau lambang Mugiwara itu… seperti apa?" kali ini Natsu yang bertanya. Luffy hanya tersenyum kecil.
"Bisa dibilang… masing-masing dari kami memiliki lambang sendiri!" ucapnya, "lambang kami mencirikan pribadi masing-masing. Misalnya, kalau lambangku adalah tengkorak bertopi jerami, kalau lambang Zorro adalah tengkorak yang disilang tiga pedang, kalau Chopper, lambang tengkorak dengan bunga Sakura… dan yang lainya! Tapi, yang kami pakai adalah lambang yang mencirikan aku," Luffy menghela nafas sejenak, "Lambang tengkorak bertopi jerami. Mereka berada dalam naunganku. Mereka mempercayaiku sebagai ketua mereka, dan aku pun mempercayai mereka. Aku senang dengan itu. Mereka adalah teman-teman baikku,"
"…" Natsu terdiam terpesona, "Keren," desisnya.
"Luffy!"
"Salamander!"
Mereka memanggil satu sama lain bersamaan.
"Eh? Err… Salamander, lihat ini deh!" kata Luffy, lalu mengambil tasnya yang berada di sisi kiri kasur. Ia mengeluarkan buku sketsanya… eh, buku sketsa kakaknya.
"Sebenarnya aku menggambar ini," kata Luffy seraya menunjukkan hasil coretanya, "Aku mau bertanya pada Gray… sayang, Gray malah ketakutan dan pergi!"
"Haha…" tawa Natsu sambil meraih buku itu. Dilihatnya gambar lambang Fairy Tail, dengan arsiran sempurna. Tanpa sentuhan software grafis apapun. Lambang peri berekor yang sangat manis.
"W…wow!" Natsu takjub seraya memindahkan buku itu dari tangan Luffy ke pangkuanya.
"Aku tidak yakin. Tapi di undangan pesta valentine yang kau berikan padaku, kalau tidak salah bentuknya seperti ini," Luffy mengamatinya seraya menggaruk kepala belakangnya, agak ragu.
"Itu… keren sekali Luffy!" puji Natsu dengan mata berbinar, "Ah… sebenarnya aku juga membuatkan ini untukmu," Natsu menarik tasnya dan mengeluarkan sebuah buku gambar berukuran A3. Luffy agak mengerutkan keningnya ketika membaca tulisan di bagian sampulnya,
Lucy Hartphiliea.
"Itu… punya Lucy?" Tanya Luffy heran.
"hehe… Iya, Happy yang mencurinya bulan lalu," cengir Natsu. Ia membuka halaman demi halaman, sampai kemudian…
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Natsu, memperlihatkan sebuah gambar. Tengkorak bertopi jerami. Kali ini Ia tak memakai teknik arsiran seperti Luffy, tapi Ia memakai teknik pointilis yang rumit. Luffy speechless seketika. Halus sekali sentuhan tangan Natsu. Tekstur yang benar-benar sempurna.
"Kau… pandai menggambar juga. Yah, meski bentuknya kurang sempurna, hehe…" Luffy meringis sambil seraba-raba dasar tas sekolahnya.
"Aku les di tempatnya Reedus, hehe…"
Luffy menarik sebuah pensil dan mulai mengerakan pensilnya diatas kertas gambar Natsu. Natsu hanya tersenyum. Ia mengeser tubuhnya sedikit agar lebih mendekat pada Luffy.
"Pinjam pensilnya," pintanya. Mereka tertawa bersama dan mulai memodifikasi kedua gambar itu bersama-sama. Aura persahabatan yang begitu… kentara.
"Lambang persahabatan kami, Mugiwara dan fairy tail," lirih Natsu, menyelesaikan coretan terakhirnya, yaitu pada efek bayangan pada lambang tengkorak Mugiwara.
"Yeah… itu keren!" balas Luffy, yang juga sudah menyelesaikan coretan terakhirnya. Ia lalu menggerakkan pensilnya dengan cepat, menandatangani kertas itu seraya tersenyum riang. "Mau memberi tanda tanganmu?" Tanya Luffy pada Natsu.
"Oke!" balas Natsu. Ia merebut pensil di tangan Luffy dan mengambil alih kertas.
"…"
"Hn? Kok diam Salamander?"
"Luff…"
"ya?"
"tanda tanganku itu… seperti apa ya…?"
BRUAAKK!
"Jangan jadi anak sekolah kalau tidak bisa tanda tangan!" amuk Luffy ganas, dengan beberapa perempatan diatas kepalanya. Natsu hanya meringis tanpa dosa.
"Hehe… maaf deh…" ucapnya lucu, "Oke, aku akan mnuliskan namaku saja disini…"
Natsu masih menahan tawanya, ketika Ia mulai menggerakan ujung pensil dan menuliskan namanya di sebelah kanan tanda tangan Luffy.
Salamander Natsu D. Igneel –Fairy Tail.
"Tulisanku bagus kan?" ucap Natsu seraya menjulurkan lidahnya.
Deg! Luffy tersentak. Tunggu! Tunggu dulu! Tu… Tulisan Natsu bagus (dibanding Luffy)… sangat berbeda dengan surat 'cinta' yang diterima Luffy tempo hari… Mustahil. Sangat mustahil! Kalau bukan Natsu yang menulis surat itu… lalu siapa ?
"Lho? Luffy? Kok pucat? Kau sakit lagi ya?" Tanya Natsu sambil menggoyahkan tanganya di depan wajah Luffy.
"Eh? A… aku? Oh, aku tidak apa-apa. Sungguh. Hanya saja…"
"Hn?"
Luffy terdiam, mengerutkan dahinya. "sa… salamander…" panggilnya lirih, "K… kau… pernah mengirimiku surat…?"
"Ha?" Natsu memiringkan kepalanya tanda tak mengerti, "Surat? Surat apa?"
"HA? 'Surat apa' kau bilang?" Luffy syok, "Surat CINTA! KAU BILANG KAU SUKA PADAKU!" teriak Luffy frustasi.
"Hn?"
"Hn?"
Keduanya memasang wajah bingung.
"… Satu-satunya surat yang kubuat seumur hidupku adalah surat ancaman untuk Gray, saat kami masih kecil dulu… dan balasan surat untuk Lisanna yang dirobek-robek Mira waktu aku masih sekolah dasar… Cuma itu? Lainya tidak pernah tuh? Lho? Luffy! Luffy? LUFFY?"
Kreekk… Luffy membatu dengan tampang untung-aku-tidak-menanyakanya-pada-Salamander-sumpah-aku-malu-sekali! Tampang polos Natsu membayangi pikiran Luffy. Sumpah… nasib… telah… mengerjainya…
"Aku sampai dibayangi mimpi buruk hanya gara-gara dikerjain seseorang…" batinya depresi.
"Luffy? LUFFY? KYAAA! LUFFYYY!"
Tok! Tok! Pintu UKS diketuk. "Luffy! Natsu!" terdengar seruan dari luar.
"Masuk saja, kami tidak sedang apa-apa," balas Natsu, langsung disambut tonjokan Luffy, tepat di jidatnya.
"Apa maksudmu 'kami tidak sedang apa-apa' !" protesnya, yang dibalas dengan cengiran khas Natsu.
Pintu UKS terbuka. Muncullah… ehm… delapan orang pemuda berseragam SMA. Separuh dari mereka adalah Fairy Tail dan separuh sisanya Mugiwara. Mereka menghampiri kapten masing-masing, yang tergeletak diatas kasur.
"kalian tampak sehat," Tanya Gray sambil mengangkat sebelah alisnya.
"tapi kalian juga nampak… lelah," komentar Sanji curiga.
"APA MAKSUDMU!" teriak Luffy dan Natsu bersamaan ketika mendengar pernyataan ganjil sanji barusan. Sang pemilik nama hanya meringis dan mengangkat bahunya.
"Bsst! Sudah ah!" lerai Gerald, geleng-geleng kepala dengan tampang prihatin, "Sebentar lagi Erza dan kawan-kawan datang kemari lho!"
"hah! Si Gerald berani mengancam kita…!" seru Natsu mencemooh,"Si Erza mana mungkin datang kemari, ha ha ha…"
Ziingg! Aura gelap menyelubungi. "Siapa~yang~kau~bilang~tak~mungkin~datang~kemari~" terdengar suara horror wanita, diikuti hawa pembunuh. Ups… Natsu menoleh…
"GYAA! ERZAAA!" jeritnya.
"Kau ini seenaknya ya Natsu!" Sang titania itu melotot, lengkap dengan beberapa urat kesabaran yang menyembul keluar di dahinya.
"He he he…" cengir Natsu.
"GO TO HELL!" teriak Erza seraya menghadiahkan gamparan terbaiknya di tubuh malang sang salamander.
"Uwaaa!" BUAKK!
"Nasib kita sama Salamander!" lirih Luffy sambil mengacungkan ibu jarinya. Anak-anak di ruangan itu tertawa riuh. Ruangan 4x3 meter itu ramai sesaat.
"Haha… tak kusangka, kemarin malam kita batal duel, sekarang malah damai," komentar Ussop sambil duduk di sisi Luffy, diikuti Zorro, Sanji dan Brook. Para nggota Fairy tail juga mengambil tempat duduk masing-masing. Zorro duduk di kursi tua di sebelah kiri ruangan, Sanji berada diatas meja tempat menyimpan obat-obatan, dan Brook lebih memilih menduduki bingkai tempat tidur UKS sembari mengelap harmonikanya. Gray memilih duduk diatas bangku kayu yang ada di sisi kanan ruangan, Leon yang tidak banyak bicara duduk diatas tempat tidur Natsu, sementara Gerald memilih mengistirahatkan bokongnya di lantai. Dan playboy metroseksual, Rocky, memilih duduk di sisi jendela UKS yang menghadap kearah perpustakaan. Aneh. Semuanya dalam nuansa senyum dan… damai.
"Ramai nih," tiba-tiba Lucy muncul dari pintu, diikuti Nami dan Robin.
"Wah, banyak gadis cantik~~!" teriak Sanji dan Rocky spontan.
"Huh!" Zorro mendengus, "kalian gila!"
Ah… Semuanya berkumpul sekarang.
Luffy, Sanji, Zorro, Ussop, Brook, Robin dan Nami.
Natsu, Rocky, Gray, Gerard, Leon, Erza dan Lucy.
"Ironis," komentar Erza, "Kemarin batal duel, sekarang damai…"
"Hahaha…" tawa semuanya.
"Eh, Ngomong-ngomong, bagaimana duel kalian? Seru?" Tanya Natsu antusias.
"Ah, tidak penting," balas Gray, "Pokoknya kita happy ending sajalah!"
"haha…!"
"Ngomong-ngomong…." Sela Nami, "…ini apa?" tanyanya seraya mengangkat dua gambar yang baru saja mereka modifikasi.
"Haha… lambang perdamaian kita…" kata Natsu dan Luffy bersamaan. Semua mengangkat alis.
"Wow, coba lihat!"
"Bagus sekali,"
"Keren!"
"kalian yang buat?"
"Kalian pandai juga!"
Luffy dan Natsu tersenyum riang. "lambang perdamaian…. Yeah… kami damai. Kami semua adalah teman…" lirih Luffy. Ia merasakan aura hangat. Persahabatan ini akan menjadi fenomena terunik… Luffy melirik Natsu yang tertawa polos bersama teman-teman yang lain. Ia… bersyukur memiliki teman seperti Natsu, juga Fairy Tail…
"Eh!" seru Nami, "kalau ini lambang damai, kami juga boleh menuliskan nama kami di sini kan?" tanyanya.
"Boleh! Tulis saja!" seru Natsu bersemangat. Ia mengulurkan pensilnya pada Nami, "Tulislah nama kalian disana…"
Jam menunjukkan pukul tiga sore.
"Wah, aku harus les sepak bola nih…" kata Sanji.
"Iya, aku juga harus les kendo," timpal Zorro.
"Ah, aku juga ada janji dengan Kaya," sambung Ussop.
"Aku juga harus mengajar anak-anak kursus biola," kata Brook.
"Oke, pergilah, aku juga mau pulang kok…" sahut Luffy. Lalu ia berpaling ke arah anak-anak Fairy tail, "Kalian juga ada acara sore ini?" tanyanya.
"Nnngg… Ah, iya nih, aku piket di guild! Aku harus pulang sekarang…" kata Gray seraya menjentikan jarinya.
"Aku juga ada janji dengan Sherry, Jura-san dan anak-anak Lamia Scalee," sambung Leon.
"Aku ada les matematika," sambung Gerard juga.
"Aku harus ke laundry, ambil jacket baruku yang baru dicuci," timpal Rocky.
"Wokey, pergilah, " jawab Natsu, "nanti aku menyusul…"
"Haha… Natsu, Luffy," Erza menyela, "Aku, Nami, Lucy dan Robin juga harus ikut latihan lomba debat bahasa Inggris. Minggu depan kami berempat maju lomba. Maaf ya?"
"Oh, baiklah, Erza," jawab Natsu dan Luffy bersamaan. Satu persatu anggota Mugiwara dan fairy Tail pun keluar dari ruangan itu, setelah pamit pada leader masing-masing…
"Wah, damai betulan nih," kata Luffy ceria. Ia mengamati gambar lambang Mugiwara yang tadi sudah ia modifikasi. Disana tertera :
Monkey D. Luffy
Sanji si kaki hitam
Zorro si pemburu perompak
Ussop si tinggi hati
Nami si kucing maling
Nico Robin si Arkeolog
"Yeah! Memang sudah damai," sahut Natsu. Ia mengambil gambar lambang fairy tail yang tadi. Ia juga mengamati nama yang tertera disana :
Salamander Natsu D. Igneel
Gray Fullbuster
Rocky
Gerald Fernandez
Leon Reitei
Titania Erza Scarlet
Lucy Hartphiliea
"Manis bukan?" komentar Natsu pelan.
"Manis sekali," balas Luffy, "Aku bawa gambarmu, kau bawa gambarku. Bagaimana?" tanyanya.
"Boleh juga! Itu keren," jawab Natsu seraya tersenyum lebar, lantas menukar kertas gambar di tanganya dengan kertas gambar di tangan Luffy.
"Aku berharap, tidak ada permusuhan tidak masuk akal lagi diantara kita,"
"Yeah~ Kau benar…"
Temperatur udara sedikit turun sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Luffy dan Natsu pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing…
Cahaya matahari menyapu tubuh kedua pemuda itu dengan lembut. Kedua pemuda itu –Luffy dan Natsu- hanya tersenyum , menikmati belaian angin sore yang berhembus pelan di sisa sore ini. Cakrawala menelan sosok mereka berdua, yang larut dalam canda. Perlambangan persahabatan yang mendalam… sangat dalam…
"Luff?" panggil Ace. Ace keluar dari pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada. Tetes-tetes air yang tersisa di tubuhnya menandakan Ia baru saja menyelesaikan acara mandinya. Luffy yang tengah menekuni game Virtual Fighter di handphonenya segera menekan tombol pause dan mendongak dengan tampang tidak niat.
"Hn? Kakak memanggil Luffy?"
"Iya. Luffy, kau lihat buku sketsa kakak tidak?" tanya Ace, "Kakak cari tapi ternyata tidak ada…"
Glek! Pucat pasi wajah Luffy. "Mana Luffy tau yang begituan. Mungkin kakak salah menaruhnya," jawab Luffy asal seraya mendekatkan wajahnya dengan layar handphone, membuat Ace mengerutkan keningnya curiga.
"Coba lihat tas mu," ucapnya dengan nada memaksa. Luffy semakin pucat pasi, lalu menarik tas sekolahnya dengan kaki kanan.
"Di tas Luffy tidak ada apa-apa!" serunya setengah panik. Ace hanya menyeringai horror, lantas merenggut tas hitam itu dari kekuasaan sang adik. Malang, tenaga Luffy tak cukup kuat untuk menahan aksi sang kakak.
Dengan cekatan Ace mengguncang tas Luffy, membuat isinya berhamburan.
"Kakaaaakk! Jangan dong!" teriak Luffy panik.
"Kakak Cuma memastikan apakah buku kakak ada di…" plukk! Buku gambar Natsu… eh, buku gambar Lucy terjatuh di kaki Ace. Ia mengerutkan keningnya. Pasal, adiknya yang satu ini tak mungkin memiliki buku gambar semacam itu.
"Buku siapa nih?" tanyanya.
"Teman," jawab Luffy singkat. Habislah, batinya.
"Jadi… darimana kau dapatkan buku ini Monkey D. Luffy?" tanya Ace dengan nada tinggi, "Dan dimana milikku?"
Luffy hanya bisa meneguk ludahnya seraya berusaha mengambil ancang-ancang untuk kabur ketika kemarahan sang kakak mulai akan memuncak.
"Ngg… buku kakak… dibawa Salamander! KABUUUURRRR!"
TBC
