CHAPTER 3
Title : Dimension.
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Warning : AU, OOC, GJ….
Rated : T.
Genre : Romance Slight Tragedy.
Pairing : SasuSaku.
O-o
Holaaaa..
Aku kembali lagi…
Lama y nunggu updatenya..*siapa juga yg nungguin*
Hehe bg yg nungguin gomennansai ywa coz.a dr kemaren aku sibuk ngerjain tugas skul mulu…
Tapi, sebagai gantinya chapter ini aku panjangin kok..
Semoga chapter kali ini gk mengecewakan y..
Happy Reading all!^_^
0-o
o-o-o-o-o-o-o
Mata onyx Sasuke melebar kini ia melihat sebuah pedang yang tengah menancap di punggung kanan Sakura.
"Ma-maaf Sa-Sasuke kurasa a-aku ti-ti-tidak kuat la-lagi," ujar Sakura terbata sambil menahan sakit.
"Sa-Sakura," ujar Sasuke lirih.
o-o-o-o-o-o-o-o
Chapter 3
Sakura pun terjatuh ke dalam pelukan Sasuke, dengan darah yang tidak berhenti mengalir dari arah tubuh sebelah kanannya. Sasuke menatap kejatuhan Sakura dengan nanar. Hatinya sangat sakit melihat keadaan Sakura sekarang, ingin sekali rasanya ia menggantikan posisi Sakura sekarang. Ia memeluk erat Sakura. Terlihat jelas raut kesedihan di wajahnya, meskipun tak setetespun air mata keluar dari mata onyx hitamnya.
'Maafkan aku Sakura, seandainya saja aku bisa lebih kuat dari ini,' batin Sasuke penuh penyesalan.
Sasuke pun menggendong tubuh Sakura yang penuh darah, kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan beberapa langkah ke depan, memisahkan jarak mereka dengan para panglima akatsuki itu sejauh 10 meter, la membungkuk lalu membaringkan tubuh Sakura yang berlumuran darah di tanah yang dingin dengan amat hati-hati, perlahan ia menekan lembut salah satu titik pada leher sakura menggunakan dua jarinya, memeriksa denyut nadi pada leher gadis itu.
'Masih ada, tetapi sangat lemah,' batin Sasuke sambil melepaskan tekanan jarinya di leher putih Sakura.
"Hahaha, gadis itu kuat juga un! Apa dia belum mati?" tanya Deidara sambil tertawa puas.
Sementara Sasori masih terpaku melihat kejadian itu, hatinya mencelos, ia tak menyangka pedang beracunnya akan menusuk tubuh gadis yang amat sangat dikaguminya itu.
"Mana kekuatan Pangeran Langit yang amat sangat dashyat dan ditakuti itu? Atau kau bukan reinkarnasi Pangeran Langit hmm?" ucap Deidara sambil menyeringai.
"Bodoh, kau tidak bisa melindungi seorang wanita, bagaimana kau bisa melindungi dirimu sendiri?" ujar Sasori lirih.
"Kau tak pantas untuk Sakura! Laki-laki lemah!" ucap Sasori tegas.
Sasuke yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya dengan amat keras, ia berdiri kemudian berbalik menghadap kedua musuhnya itu sambil memejamkan matanya.
"Aku bukan laki-laki lemah, hanya aku yang pantas untuk melindungi Sakura!" ucap Sasuke lantang sambil masih menutup matanya.
"Oh, ya? Baiklah kami akan sangat merasa tersanjung, jika kau memilih kami sebagai malaikat pencabut nyawamu Pangeran Langit!" ucap Sasori mengejek.
"Seharusnya aku yang bilang begitu, bersiaplah menemui ajal kalian berdua!" ujar Sasuke sambil masih mempertahankan posisinya tadi.
"Hahahaha, lucu sekali un, bahkan kau tidak berani menatap kami," ujar Deidara sambil tertawa.
Sasuke pun membuka matanya tapi bukan sepasang mata onyx hitam yang terlihat melainkan sepasang mata berwarna merah dengan tiga buah titik kecil seperti kipas yang berputar di sekeliling pupilnya yang hitam.
"Wah sudah lama aku tidak melihat sharingan, rupanya segel jiwamu telah terbuka? Ini akan semakin seru!" ujar Sasori padahal dalam hatinya ia merasa sedikit takut.
"Benar un, ini akan menjadi pertarungan yang sengit," ucap Deidara getir, kini ia tidak bisa lagi tersenyum.
Sasuke semakin mengepalkan kedua tangannya, kini terlihat aliran listrik di sekitar tangan Sasuke. Sasuke kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit, dan terlihat sepasang petir berwarna biru yang sangat dashyat menyambar ke langit, kilatannya sangat terlihat jelas di langit, petir itu berasal dari kedua tangan Sasuke.
"AAAARRGGGHHH!" teriak Sasuke kesakitan.
o-o-o-o-o-o
Di sebuah rumah besar yang sepantasnya disebut istana di atas bukit, terlihat seorang laki-laki berambut pirang bermata biru saphire tengah memandangi langit di atas balkon tingkat dua. Mata saphirenya membelalak, ia terkejut melihat kilatan petir yang sangat dashyat yang berasal dari arah hutan di bawah bukit.
"Chidori? Apakah ini pertanda reinkarnasi Pangeran Langit telah bangkit, " gumamnya.
Ia kemudian berlari menuju lantai bawah, kemudian mendorong paksa sebuah pintu kamar. Disana terlihat seorang pria berambut perak dengan sebuah masker menutupi wajahnya, hanya sebelah matanya yang berwarna onyx hitam yang terlihat. Kini pria itu tengah menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya.
"Kakashi, kau lihat kilat tadi?" tanyanya pada pria itu.
"Jadi tadi bukan halusinasiku?" tanya pria itu.
"Haduuhh, ini bukan saatnya bergurau sebaiknya kita segera ke hutan!" ajak sang pria berambut pirang.
Pria bermata saphire itu berlari cepat keluar lalu meninggalkan pria bermata onyx yang masih terdiam di tempatnya.
"Hei! Tunggu Naruto!" panggil pria bermasker itu sambil mengejar pria yang bernama Naruto.
Pria berambut perak itu akhirnya bisa menyamakan langkahnya dengan pria berambut pirang, kini mereka berdua tengah berlari menuruni bukit.
"Sepertinya perang akan segera dimulai," ujar sang pria bermasker.
"Ya," gumam sang pria bermata saphire.
'Putri Sakura tunggu aku!' batin pria bermata saphire itu dalam hati kecilnya.
Perlahan Sasuke menurunkan kedua lengannya dan terlihat aliran listrik yang lebih kecil mengelilingi kedua tangannya.
"Baiklah kita mulai," ucap Sasori sambil mempersiapkan bonekanya.
"Deidara-sama, sepertinya kali ini kita harus menyerangnya bersamaan!" ucapnya lagi.
"Un," gumam Deidara.
Sasori kembali mengeluarkan beberapa buah boneka manusianya, kini ia kembali menyiapkan pedang beracun di tangan boneka itu. Sementara Deidara tengah mengangkat kedua tangannya dan kembali terlihat lubang seperti mulut pada kedua telapak tangannya.
Deidara pun beraksi, ia mengeluarkan sepasang burung yang terbuat dari tanah liat. Burung-burung itu terbang gemulai ke arah Sasuke. Sasuke hanya berdiam diri dan mengarahkan sebuah kilat ke arah kedua burung yang tengah terbang beriringan di bawah langit malam itu.
'DUAARRR' terjadi ledakan besar di udara akibat kedua serangan Sasuke dan Deidara yang bertemu.
Sasori pun mengarahkan boneka manusianya cepat ke arah Sasuke, Sasuke yang melihatnya hanya menyeringai dan ia menerjang ke arah boneka itu dengan kedua tangannya yang dipenuhi aliran listrik, secepat kilat seluruh boneka milik Sasori pun hancur berkeping-keping kemudian ia berlari dan langsung menyerang Sasori. Sasori tak berdiam diri ia berusaha sebisa mungkin menghindari pukulan Sasuke yang bertubi-tubi ke arahnya.
"Arrghh!" teriak Sasori kesakitan, ia terlempar ke belakang sejauh 10 meter, dan terlihat berkas-berkas petir di dada kirinya, rupanya salah satu pukulan Sasuke berhasil mengenai bagian vital milik Sasori. Sasuke hanya menyeringai melihatnya, kemudian ia menghentikan serangannya.
"Hebat juga kau, kita lihat apa kau mampu menghadapi ini, " ucap Deidara sambil berusaha setenang mungkin.
Deidara kembali menyerang kini ia mengarahkan seekor naga, tapi bukan ke arah Sasuke melainkan ke arah tebing di belakang tubuh Sakura. Sasuke pun langsung berlari cepat ke arah Sakura. Bersamaan dengan datangnya naga itu Sasuke pun sampai di tempat Sakura.
"Katsu," teriak Deidara.
'DUAAARRRRRR' terdengar suara ledakan yang lebih dashyat dari ledakan tadi.
Seketika naga itu meledak, dan menghancurkan pohon-pohon di sekitarnya, bahkan tebing tinggi di belakang Sasuke pun hancur berkeping-keping. Terlihat asap berwarna kehitaman yang mengaburkan pandangan di sekitarnya. Deidara menyeringai puas.
"Hahaha, ternyata meskipun segelmu telah terbuka kau tidak bisa mengalahkanku un," ucap Deidara sambil tertawa puas.
Tiba-tiba datang dua sosok laki-laki di tengah gelapnya malam, seorang berambut pirang bermata biru saphire dan seorang lagi bermata onyx berambut perak.
"Oh, rupanya Panglima Kakashi dan Panglima Naruto? Suatu kehormatan bisa bertemu dengan para anggota kerajaan secara bersamaan un," ujar Deidara ringan.
Kedua orang tadi hanya diam sambil menatap death glare ke arah Deidara. Deidara yang menyadarinya hanya tersenyum tipis.
"Haha, kalian datang pada saat yang tepat un, lihatlah persembahan terhormat kami untuk kalian, kematian Putri Sakura dan Pangeran Langit," ucap Deidara sambil menunjuk ke arah tebing.
Sontak Naruto dan Kakashi membalikan tubuhnya dan melihat kepulan asap berwarna hitam di sekitar tebing yang telah hancur, dan beberapa titik api yang menyambar-nyambar pada pepohonan. Naruto pun berbalik menghadap Deidara sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kau ini, ayo lawan aku!" ucap Naruto lantang dengan posisi siap bertarung, sementara Kakashi masih memperhatikan kepulan asap pada tebing.
Deidara tidak mengindahkan perkataan Naruto, ia malah melihat ke arah tubuh Sasori yang sedang tidak sadarkan diri. Kemudian ia berjalan ke arah Sasori dan menaruh tubuh Sasori di salah satu pundaknya.
"Wah, sepertinya Sasori terluka, kalau begitu lain kali saja kita bertarung un, sampai jumpa!" ujar Deidara.
Deidara pun melesat meninggalkan Kakashi dan Naruto.
"Heh, jangan kabur kau!" ujar Naruto emosi.
Naruto yang berniat mengejar Deidara mengurungkan niatnya setelah ia merasakan tangan Kakashi yang menyentuh bahunya. Ia pun berbalik dan menatap ke arah Kakashi.
"Tenanglah Naruto, lihat itu!" ucap Kakashi santai sambil menunjuk ke arah kepulan asap.
Asap itu mulai terlihat samar kini tubuh Sasuke tidak terlihat lagi di tempatnya yang tadi. Mereka melihat sesosok cahaya petir berwarna kebiruan yang membentuk seperti bola dan melindungi Sasuke yang tengah memeluk Sakura. Perlahan Sasuke melepaskan pelukannya, bersamaan dengan hilangnya lapisan petir itu.ia kembali meletakkan tubuh Sakura di tanah yang dingin. Kemudian ia menatap tajam ke arah Kakashi dan Naruto. Sasuke pun berjalan ke arah Naruto dan Kakashi yang tengah terdiam menatapnya.
"Jadi anda reinkarnasi Pangeran Langit itu?" tanya Kakashi.
Sasuke tidak menghiraukan perkataan Kakashi, ia terus berjalan mendekati kedua panglima perang itu dan terlihat kembali kedua aliran listrik berwarna biru di kedua tangannya. Kakashi yang menyadarinya langsung mengambil posisi siap bertarung.
"Naruto, hati-hati sepertinya ia akan menyerang kita," ujar Kakashi memperingatkan Naruto.
"Menyerang kita? Tapi kita kan kawan!" ujar Naruto heran.
"Sepertinya ia belum bisa mengendalikan kekuatan itu, sudah pokoknya kau berhati-hatilah!" ucap Kakashi lagi.
"Baiklah," jawab Naruto sambil mengatur tubuhnya ke posisi siap bertarung.
Sasuke pun semakin mendekat ke arah mereka berdua terlihat kedua aliran listrik di tangannya yang semakin membesar, lalu ia pun langsung berlari dan menerjang ke arah Naruto dan Kakashi. Naruto dan Kakashi pun menghindar dari serangan Sasuke dengan cara melompat ke atas. Sasuke tidak diam saja ia kini mengarah ke arah Naruto, dengan secepat kilat ia melayangkan pukulan yang disertai dengan petir ke arah Naruto, Naruto yang terlambat terlambat menyadarinya hanya bisa menutup matanya. Tepat beberapa cm dari wajah Naruto, aliran petir itu menghilang dan terdengar suara benda jatuh.
'Bruk'
Naruto perlahan membuka mata biru saphire-nya. Ia melihat tubuh Sasuke yang terkulai lemah di tanah. Rupanya Sasuke pingsan sebelum sempat melancarkan serangannya kepada Naruto.
"Kau beruntung, sepertinya ia kehabisan tenaga! Sebaiknya kita bawa mereka," ujar Kakashi sambil mengangkat tubuh Sasuke.
"Hm," gumam Naruto sambil berjalan ke arah tubuh Sakura dan memeriksa denyut nadinya.
"Putri Sakura hanya pingsan," ucap Naruto lagi sambil menggendong Sakura di punggungnya.
"Baiklah, ayo cepat kita bawa mereka," ujar Kakashi lagi.
"Oke," gumam Naruto sambil mengangguk.
Terbenamnya sang surya, menciptakan semburat kemerahan di ufuk barat menandakan hari itu akan segera berakhir. Di sebuah kamar yang amat megah, Sasuke kini tengah membuka mata onyx hitamnya.
"Dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Anda sudah siuman?" tanya Naruto yang baru saja tiba di kamar Sasuke.
"Hn? Siapa kau? Kenapa aku bisa ada disini? Dan dimana aku? Dimana Sakura?" tanya Sasuke bertubi-tubi pada Naruto.
"Tenanglah, satu persatu akan kujelaskan," ucap Naruto berusaha menenangkan Sasuke.
"Perkenalkan saya Uzumaki Naruto, panglima perang Kerajaan Konoha, anda berada di rumahku sekarang, anda disini karena kemarin malam anda pingsan setelah bertarung melawan para panglima akatsuki," ucap Naruto panjang lebar.
"Lalu dimana Sakura sekarang? Bagaimana keadaannya?" tanya Sasuke lagi.
"Tenanglah, tuan putri baik-baik saja, sekarang beliau tengah diobati oleh Bibi Tsunade, tabib Kerajaan Konoha," ujar Naruto lagi.
Tiba-tiba datang seorang pria berambut perak yang bermasker lalu pria itu mendekati Sasuke dan Naruto.
"Tuan sudah lebih baik?" tanya Kakashi pada Sasuke.
"Hn, siapa kau?" tanya Sasuke.
"Aku Hatake Kakashi panglima perang Kerajaan Langit," ucap Kakashi.
'Jadi orang ini yang bisa membuka segel jiwaku seperti yang dibicarakan oleh Sakura kemarin' batin Sasuke.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku kemarin sehingga aku bisa pingsan?" tanya Sasuke lagi.
"Hmm, kemarin segel jiwa tuan sudah terbuka, namun tuan belum bisa mengendalikan kekuatan tuan sehingga tuan kehabisan tenaga dan akhirnya pingsan," ucap Kakashi ringan.
Sasuke hanya terdiam, ia menatap Kakashi dengan tatapan heran.
"Dan tugas saya disini, saya akan melatih tuan hingga tuan mampu mengendalikan kekuatan itu," ujar Kakashi lagi.
Sasuke masih terdiam berusaha mengartikan perkataan Kakashi.
"Latihannya dimulai besok pagi tuan, Oh iya Putri Sakura sudah bisa ditengok sekarang, kalau begitu saya permisi, saya masih ada urusan," ucap Kakashi sambil meninggalkan ruangan itu.
"Hn," gumam Sasuke.
"Tolong bawa aku ke tempat Sakura sekarang," ucap Sasuke mantap pada Naruto.
"Baiklah, ayo ikuti saya!" ujar Naruto sambil berlalu pergi dari kamar Sasuke sambil diikuti oleh Sasuke di belakangnya.
Mereka berdua pun meyusuri koridor yang amat sangat panjang, Hening selama perjalanan mereka. Naruto sesekali melirik Sasuke di belakangnya terlihat jelas raut kekhawatiran di wajahnya.
"Sepertinya anda sangat khawatir dengan keadaan Putri Sakura?" tanya Naruto.
Sasuke terdiam sejenak ia mengingat bagaimana tentramnya hatinya saat ia melihat senyum dan tawa Sakura, bagaimana ia merasakan jantungnya berdegup kencang saat Sakura menatapnya, bagaimana ia sangat ingin melindungi gadis itu. Padahal mereka berdua baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.
"Hn," jawab Sasuke sambil tersenyum kecil.
Naruto menyadari arti dari senyuman kecil Sasuke yang terlihat tulus itu.
'Mungkinkah di kehidupan berikutnya Pangeran Langit tetap mencintai Putri Sakura?' batin Naruto.
Tak terasa mereka telah sampai di depan sebuah ruangan.
"Silahkan, ini ruangannya, saya permisi dulu" ucap Naruto.
"Hn," gumam Sasuke.
Naruto pun pergi meninggalkan Sasuke, sementara Sasuke masuk ke dalam kamar Sakura. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat sekeliling kamar Sakura, ia melihat seorang wanita berambut pirang bermata madu yang tengah memeriksa Sakura.
"Siapa kau?" tanya Sasuke menyelidik.
"Perkenalkan saya Tsunade tabib kerajaan," jawab Tsunade sambil tersenyum.
"Dan siapa anda?" tanya Tsunade.
"Uchiha Sasuke," ucap Sasuke ringan.
'Sepertinya orang ini adalah reinkarnasi Pangeran Langit yang diceritakan Naruto' batin Tsunade.
"Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Sasuke.
"Tuan Putri baik-baik saja, racun yang ada di dalam tubuhnya sudah saya keluarkan, lukanya juga sudah saya obati, mungkin besok ia akan siuman," ujar Tsunade sambil membereskan tas obat-obatannya.
"Kalau begitu saya permisi," ujar Tsunade lagi.
"Hn," gumam Sasuke.
Tsunade pun keluar dari kamar Sakura, meninggalkan Sasuke yang tengah duduk bersimpuh di samping tempat tidur Sakura. Perlahan Sasuke mengusap pelan rambut Sakura secara berulang-ulang, lalu mendaratkan kecupan kecil di jidat lebar Sakura.
"Sakura," ujar Sasuke lirih.
Tiba-tiba tubuh Sakura bergetar hebat, dan ia mengigaukan sesuatu. Sasuke pun menggenggam erat tangan mungil Sakura dan mengelusnya perlahan seolah memberikan ketenangan pada Sakura..
"Ja-jangan tinggalkan aku," gumam Sakura yang tengah pingsan.
"Tenanglah Sakura aku ada disini," ucap Sasuke berusaha menenangkan Sakura.
"Pa-pangeran Langit," gumam Sakura lagi.
Hati Sasuke terasa sakit, meskipun ia adalah reinkarnasi Pangeran Langit, namun ia tetap menganggap bahwa Sakura mencintai Pangeran Langit bukan dirinya.
'Aku bukan Pangeran Langitmu Sakura, aku Sasuke, apa kau masih sangat mencintai pria itu?' batin Sasuke.
Perlahan Sakura kembali tenang dan wajahnya penuh kedamaian. Sasuke pun mengelus pelan pipi putih Sakura, lalu kembali menggenggam kedua tangannya erat.
Malam pun semakin larut, Naruto melangkahkan kakinya masuk ke kamar Sakura untuk sekedar mengecek keadaan putri Konoha itu. Tapi sesampainya disana ia melihat Sasuke yang tengah tertidur di samping Sakura dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Sakura. Naruto hanya tersenyum kecil, lalu meninggalkan mereka.
Mentari pagi pun menampakan wajahnya di selingi dengan suara tetes embun yang mewarnai kesunyian. Sinar-sinar cerahnya memasuki jendela kaca sebuah kamar mewah yang tengah ditempati oleh seorang gadis berambut pink. Perlahan gadis itu membuka mata emeraldnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia pun berniat untuk beranjak dari tempat tidur, tapi ia melihat seseorang berambut hitam kebiruan yang tengah menggenggam erat tangannya dan tertidur dalam posisi duduk di samping tempat tidurnya.
"Sasuke," gumamnya.
Tanpa sadar Sakura mengusap pelan rambut hitam kebiruan milik Sasuke, membuat Sasuke membuka mata onyxnya dan menatap langsung mata emerald hijau yang tengah menatapnya penuh kasih.
"Eh, maaf Sasuke aku membangunkanmu ya?" tanya Sakura polos sambil tersenyum tipis.
'Bletak'
Sebuah jitakan kecil pun mendarat di dahi lebar Sakura.
"Aduh, kenapa kau menjitak dahiku?" rintih Sakura sambil mengusap-ngusap jidatnya.
"Kau ini seharusnya kalau mau berbuat sesuatu pikirkan terlebih dahulu!" ujar Sasuke enteng.
"Hehehe," Sakura hanya tertawa kecil.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Kemarin malam aku dan kau pingsan setelah bertarung dengan para panglima akatsuki itu, lalu Kakashi dan Naruto membawa kita kemari," ujar Sasuke lagi.
"Lalu siapa yang mengobati lukaku?" tanya Sakura lagi.
"Bibi Tsunade," ucap Sasuke lagi.
"Oh," gumam Sakura.
"Bagaimana lukamu?" tanya Sasuke datar.
Sakura pun memegang punggung sebelah kanannya, ia meringis sedikit.
"Tenanglah, hanya luka kecil," ujar Sakura enteng. Padahal ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian tubuh sebelah kanannya.
"Hn? Yasudah aku pergi dulu," ucap Sasuke enteng sambil berjalan keluar kamar Sakura.
"Hei? Kau mau kemana?" tanya Sakura lagi.
"Aku mau latihan dengan Kakashi," ucap Sasuke lagi.
"Kau memang mirip dengannya Sasuke," ucap Sakura lagi.
Tiba-tiba masuklah seorang pria berambut pirang dan bermata biru saphire.
"Bagaimana keadaanmu putri?" tanya pria itu sambil duduk di samping ranjang Sakura.
"Naruto? Sudah berulangkali kubilang jangan memanggilku seformal itu! Kita sudah berteman sejak kecil, anggap saja kita ini bersaudara," ucap Sakura sambil tersenyum ke arah Naruto.
'Kau memang selalu menganggapku saudaramu Sakura, apa kau tidak pernah menyadari perasaanku terhadapmu?' batin Naruto.
"Oke kuulangi, bagaimana keadaanmu Sakura?" ujar Naruto ringan.
"Haha, baik aku baik-baik saja," ucap Sakura sambil tertawa kecil.
'Yang penting aku masih bisa melihatnya tertawa,' batin Naruto lagi.
"Jadi? Kau dan Kakashi yang membawaku dan Sasuke kemari?" tanya Sakura lagi.
"Hmm," gumam Naruto sambil mengangguk.
"Sepertinya dia sangat menyayangimu Sakura," ucap Naruto.
"Siapa?" tanya Sakura sambil masih berbaring di tempat tidurnya.
"Sasuke," ucap Naruto ringan.
"Dari kemarin malam ia terus menerus berada disini, menjagamu dan menunggumu siuman, padahal kondisi tubuhnya belum pulih sepenuhnya," ucap Naruto lagi.
Sakura yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.
'Begitu ya?' batin Sakura.
Sementara Sasuke dan Kakashi kini tengah latihan.
"Coba, pusatkan pikiran tuan dan jangan terbakar emosi," ucap Kakashi.
"Hn," gumam Sasuke.
Sasuke pun memusatkan pikirannya dan mulai terlihat aliran listrik di tangannya.
"Bagus, sekarang tuan mulai bisa mengontrol emosi anda," ujar Kakashi lagi.
"Mudah," ucap Sasuke datar.
"Ini baru permulaan, setelah tuan berhasil menjalani latihan ini ada hal besar yang harus kau lakukan!" ucap Kakashi yang mendengar pernyataan Sasuke barusan.
"Hn? Apa yang harus kulakukan setelah aku berhasil?" tanya Sasuke sambil menatap Kakashi.
"Langkah pertama anda adalah mencari pedang kusanagi di jurang kematian!" ucap Kakashi tegas.
TO BE CONTINUED
Huwaaa bagaimana readers?
Semakin anehkah cerita ini?
Sampaikan kritik, saran kalian di review y..
Okay mau bales review dulu...
To:Kirara Yukansa
Makasih udah review nd baca fict aku..
Udah bisa dibaca kan Saku-nya masih hidup..
Gomen update-nya telat..
Nie sudah aku update review lg y..
To:Kazuma big tomat
Makasih kazuma-chan udah mau review nd baca fict aku..
Tenang aja chap ini udah aku bikin panjang kok..
Gomen updatenya telat..
Review lg y...^_^
To:4ntk4-ch4n
Makasih udah mau review nd baca fict aku anka-chan..
Gomen updatenya telat maklum aku banyak bgt tugas skul..
Review lg y..
To:Fidy Discrimination
Makasih Nee-chan udah mau baca nd review fict aku..
Gomen updatenya telat..
Review lg y..
To:Hikari Shinju
Hikari-chan*boleh manggil getho?* tenang aja romancenya bakalan aku hadirkan d chap2 akhir tp ini juga udah aku kasih romance..
Bagaimana sudah terasa romancenya?
Gomen updatenya telat..
Makasih udah mau review..
Review lg y..
To:Thia2rh
Gpp kok..
Makasih udah mau baca nd review fict aku...
Chap kali ini sudah aku panjangkan..
Gomen update-nya ngaret...
Review lg y...
o-o-o-o-o-o-o-o
selesai juga membalas para reviewers baik yg login maupun yg tidak login..
mungkin chap selanjutnya akan aku teruskan kalau ada yg mau review fict ini...
paling telat seminggu deh aku updatenya..
makasih y udah mau baca or baca nd review fict aku...
tunggu kelanjutannya y..
JAAA...^_^
