CHAPTER 4
Title : Dimension.
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Warning : AU, OOC, GJ….
Rated : T.
Genre : Romance and Fantasy, slight Tragedy.
Pairing : SasuSaku.
o-o-o-o-o
Holaaa…
Gomennasai update telat banget udah gitu ceritanya pendek lagi…*bungkuk-bungkuk*
Habisnya dari kemaren tugas sekolah numpuk terus, belum lagi dua minggu lagi ada UTS.
Terus lagi buntu ide nih bingung mau nerusin gimana lageee...
Makanya jadilah chapter pendek yg aneh ini...
Karena aku gak pandai dalam menggambarkan action scene tolong diminta sarannya y buat chap akhir nanti pas scene Sasu-kun melawan Orochimaru*puppy eyes*...
Oh iy fict aku yg You and My First love aku delete soalnya takut gk bisa dilanjutin gomennasai*bungkuk2* bagi yang udah nungguin updatenya!...
Ini akan menjadi 2 chapter akhir...*hikshiks*
Dengan kata lain chap depan adalah last chapter..
Oh iya karena habis ini aku akan hiatus selama 3 minggu ke depan*gara2 UTS* , maka fict ini paling lambat aku update 3 minggu ke depan..
Dua kata untuk mengawali bacaan readers semua..
Happy reading..^o^
o-o-o-o-o
"Langkah pertama anda adalah mencari pedang kusanagi di jurang kematian!" ucap Kakashi tegas.
o-o-o-o-o-o
Chapter 4
"Tapi, sebelum itu anda harus melewati beberapa rintangan," ucap Kakashi.
"Hn?" tanya Sasuke tak mengerti.
"Satu-satunya jalan menuju dasar jurang kematian adalah anda harus melewati hutan kegelapan dan anda harus menemukan gua tersembunyi di puncak gunung Konoha ," ujar Kakashi.
Sasuke hanya mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Gua itu adalah sebuah gua yang hanya akan terlihat jika purnama bersinar, dan ujung lain dari gua itu terhubung langsung dengan dasar jurang kematian," ucap Kakashi lagi.
"Baik, ayo kita mulai latihannya lagi," ajak Kakashi.
"Hn," gumam Sasuke.
Senja telah kembali ke peraduannya, menyisakan semburat rona kemerahan di ufuk barat. Sinar mentari telah sepenuhnya redup. Digantikan dengan terangnya sinar rembulan. Angin musim gugur berhembus kencang, membuat bulu kuduk bergidik kedinginan. Helai-helai daun berwarna kecokelatan bertebaran dimana-mana. Hutan yang semula tampak bak batu zamrud hijau, kini hanya warna kuning kecokelatan yang terlihat. Pohon-pohon mulai menggugurkan daunnya, menjadikan mereka tampak seperti batang mati.
Sakura memandang ke luar jendela kamarnya sebari masih terbaring di tempat tidurnya. Angin berhembus memainkan lembut rambut merah muda sepinggangnya. Lukanya memang sudah sembuh, namun terkadang, sakit masih terasa di bagian tubuh sebelah kanannya. Sehingga ia diwajibkan Tsunade untuk beristirahat selama beberapa hari ke depan. Tiba-tiba dari belakang ada sosok yang masuk ke kamarnya, sesosok pria berambut pirang dan bermata biru saphire. Pria itu Uzumaki Naruto.
"Bagaimana keadaanmu Sakura?" tanya Naruto ramah sambil mendudukkan dirinya di samping tempat tidur Sakura.
"Ya, sudah lebih baik, tapi Bibi Tsunade sepertinya sangat mengkhawatirkanku, aku sampai tidak boleh beranjak se centi pun dari tempat tidur ini, " ucap Sakura.
"Syukurlah kalau begitu, maklumi sajalah Bibi Tsunade kan pengasuhmu dari kecil, sehingga dia menganggapmu sebagai anaknya sendiri," ucap Naruto lagi.
"Hm," gumam Sakura.
"Tapi aku bosan disini terus, maukah kau mengantarku berjalan-jalan keluar rumah ini, sebentar saja ya?" ucap Sakura sambil mengeluarkan jurus puppy eyesnya.
"Tapi kan Bibi Tsunade melarangmu keluar kamar Sakura," ucap Naruto lagi.
"Sudahlah Naruto aku tidak apa-apa, lagipula sepertinya bintang dan bulan sabit itu terlihat sangat indah dilapisi kelamnya langit malam," ucap Sakura sambil masih memandangi langit.
"Baiklah, ayo!" ucap Naruto sambil membantu Sakura berdiri.
"Sudahlah, aku bisa sendiri Naruto," ujar Sakura sambil tersenyum.
Kedua insan lawan jenis itu pun beranjak menuju halaman belakang rumah besar.
"Sepertinya latihan cukup sampai disini tuan," ucap Kakashi.
"Hn, bagaimana kemampuanku?" tanya Sasuke.
"Kurasa anda sudah bisa menguasai hampir seluruh jurus yang dulu dikuasai oleh Pangeran Langit," ucap Kakashi lagi.
"Hn," gumam Sasuke sambil tersenyum kecil.
"Musim dingin tinggal beberapa hari lagi, kurasa tuan harus segera pergi mencari pedang kusanagi itu, karena sekitar besok atau lusa adalah bulan purnama dan itu adalah satu-satunya saat dimana gua itu terlihat," ucap Kakashi.
"Hn," gumam Sasuke.
"Kita tidak mungkin menunggu purnama berikutnya, karena beberapa hari lagi musim dingin akan tiba dan pada hari pertama musim dingin sang penguasa kegelapan akan bangkit, oleh karena itu anda harus membunuh Orochimaru sebelum musim dingin tiba, jika tuan gagal maka dunia akan hancur," jelas Kakashi panjang lebar.
"Baiklah, kurasa besok atau lusa aku akan mencari pedang kusanagi itu," ujar Sasuke mantap.
"Kalau begitu, saran saya anda terus saja berjalan ke arah utara hutan kegelapan," ucap Kakashi lagi.
"Hn," gumam Sasuke.
Sasuke lalu berjalan meninggalkan Kakashi menuju satu tempat, Sakura. Dengan langkah tegapnya ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah besar yang tampak tua itu. Setelah berjalan tak sampai 5 menit, ia telah berada di depan kamar Sakura. Diketuknya berulang kali pintu kayu yang menjadi pembatas kamar itu.
'Tok-tok-tok.'
Namun tak ada jawaban dari dalam. Perlahan ia membuka pintu kayu yang memang tidak dikunci itu.
'Kriet.'
Kini ia melenggang masuk ke dalam kamar kosong itu, dilihatnya tak ada seorangpun di kamar itu. Ia lantas berlari ke luar kamar itu.
Ia mengitari seluruh rumah hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang ia cari sedang duduk membelakangi dirinya di rerumputan kecokelatan sambil memandangi rembulan di halaman belakang. Dengan seorang pria berambut pirang yang duduk dismpingnya.
"Sakura," panggil Sasuke dengan suara berat khasnya.
Sang gadis yang merasa namanya dipanggil pun mendongakkan kepalanya dan menatap sang pemilik mata onyx yang menggumamkan namanya itu.
"Sasuke?" tanya Sakura.
Sasuke memandang Sakura serius, lalu ia manatap Naruto tajam. Sakura mengerti arti tatapan Sasuke.
"Naruto, bisakah kau tinggalkan kami berdua?" tanya Sakura sambil balik memandang Naruto.
"Hm, Baiklah," gumam Naruto sambil meninggalkan kedua insan itu.
"Ada apa Sasuke?" tanya Sakura.
"Hn? Tidak ada apa-apa," ucap Sasuke.
Sakura hanya mendengus kecil mendengarnya. Beberapa lama kedua insan itu menyesak dalam kesunyian, Sasuke membuka suaranya.
"Hn, Sakura," ujar Sasuke sambil memandang wajah Sakura yang tengah memandangi rembulan.
"Ya? ada yang ingin kau bicarakan Sasuke?" tanya Sakura.
"Hn-," gumam Sasuke.
"Ya ada apa Sasuke katakan saja," ujar Sakura lagi.
"Sebenarnya, apa arti kehadiranku dalam hidupmu saat ini?" tanya Sasuke pelan.
"Hmm, sebentar," ucap Sakura sambil berpikir.
"Mungkin kau ini adalah lelaki yang diciptakan tuhan khusus untukku," ucap Sakura sambil memandang Sasuke.
Sasuke hanya menatap Sakura lembut.
"Khusus untuk menemaniku ditengah penderitaanku saat ini, khusus untuk membuatku tersenyum lagi, khusus untuk-," ucap Sakura tak terselesaikan.
"Mengisi hatimu?" tanya Sasuke.
Sakura hanya terdiam mendengarnya. Sasuke masih menunggu jawaban Sakura.
"Entahlah, mungkin saja," ucap Sakura.
Sasuke yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang.
"Sepertinya kau belum mampu melupakan dia? Kumohon tatap aku sebagai Sasuke bukan sebagai pangeran lagit, " ucap Sasuke sambil memegangi kedua bahu Sakura memaksa mata emerald Sakura menjelajahi kesungguhan perkataannya di mata onyx hitamnya.
Sakura diam seribu bahasa. Batinnya bergejolak hebat mendengar perkataan Sasuke barusan. Apalagi tatapan tajam dari Sasuke, membuatnya semakin tegang. Malam semakin menjadi-jadi, dengan sinar rembulan yang semakin terang.
"Kurasa sudah malam, aku harus kembali ke kamarku," ucap Sakura sambil melepaskan kedua tangan Sasuke yang berada di kedua bahunya.
"Hn," gumam Sasuke.
Sakura pun pergi meninggalkan Sasuke di tengah kekecewaannya. Dengan mata onyxnya yang masih memandangi punggung Sakura yang kelamaan mengecil.
"Kau tidak bisa memilihku kan Sakura?" tanya Sasuke sambil menatap bintang-bintang yang bersinar.
Mentari kembali menunjukkan cahayanya. Burung-burung menyandungkan nyanyian merdu. Kini seorang lelaki berambut biru raven tengah berdiri di depan gerbang sebuah rumah besar dengan sebuah tas ransel kecil berada di punggungnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu dan menuju ke bawah bukit.
"Akan segera kuselesaikan semua ini Sakura, Ibu, Ayah, Kakak, bersabarlah," gumam Sasuke sambil siluetnya benar-benar hilang ditelan hutan.
Sementara itu, di dalam rumah besar yang tadi ditinggalkan Sasuke.
"Dimana Sasuke?" tanya Sakura setelah terbangun dan mendapati Sasuke tidak berada di kamarnya.
"Sasuke sepertinya pergi pagi-pagi sekali," ujar Naruto sambil mempersiapkan ranselnya.
"Mungkin untuk mencari pedang kusanagi itu," ujar Naruto lagi.
"A-apa?" tanya Sakura sambil membelalakkan mata emeraldnya.
"Tapi, kenapa ia tidak mau mengajakku?" tanya Sakura.
"Entahlah, mungkin karena lukamu yang belum sembuh benar," ujar Naruto lagi.
"Aku harus menyusulnya sekarang," ucap Sakura sambil berdiri.
"Jangan, Sakura lukamu masih belum sembuh lebih baik aku dan Kakashi yang menyusulnya," ucap Naruto sambil mencegah Sakura berdiri.
Sakura berdiam sesaat.
"Baiklah, tolong bantu Sasuke, Naruto," ujar Sakura berat sambil kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Hm," gumam Naruto sambil menggendong tas ranselnya.
Naruto lalu beranjak dari kamar Sakura dan pergi mencari Sasuke. Lalu masuklah seorang wanita paruh baya bermata madu.
"Bagaimana keadaan anda tuan putri?" tanya Tsunade sambil meletakkan secangkir teh herbal di meja.
"Hm, sudah agak baik," ujar Sakura sambil tersenyum kecil.
"Saya akan ke hutan untuk mencari tumbuhan obat, apakah tuan putri keberatan jika ditinggal sendirian disini?" tanya Tsunade.
"Silahkan Bibi Tsunade, aku tidak apa-apa ditinggal sendirian disini," ujar Sakura.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu," ujar Tsunade sambil berjalan keluar kamar Sakura.
"Hm, hati-hati Bi," ucap Sakura lemah.
Setelah Tsunade benar-benar lenyap dari pandangannya, Sakura langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku harus mencari Sasuke," gumam Sakura.
Sementara itu di kastil milik Orochimaru.
Terlihat dua orang pria. Pria yang satu tengah mendudukki sebuah kursi yang megah, sementara pria yang satu lagi berdiri di hadapan pria yang tengah duduk di depan kursi megah itu. Salah satu dari pria itu lalu membuka suaranya.
"Lusa bulan purnama, mungkin saja sekarang reinkarnasi Pangeran Langit itu sedang mencari pedang kusanagi di dasar jurang kematian," ucap seseorang berambut hitam panjang dengan wajah yang menyeramkan.
"Lalu apa yang bisa hamba lakukan Kaisar Orochimaru?" tanya seorang pria berkacamata.
"Sudahlah kau diam saja disini Kabuto, biar aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini, aku sudah punya rencana briliant," ujar Orochimaru sambil menyeringai.
"Tolong bawakan aku tubuh milik 'dia'," ujar Orochimaru lagi.
"Baiklah," gumam Kabuto mengerti.
Meskipun mentari bersinar terang di angkasa, namun di dalam hutan kegelapan sama sekali tidak tertembus cahaya. Mungkin karena pohon-pohonnya yang harus disebut pohon raksasa, karena tingginya hampir 100 kali lipat tinggi tubuhnya.
"Sepertinya tempat ini memang pantas disebut hutan kegelapan," ujar Sasuke sambil berjalan menjelajahi hutan itu.
Sasuke terus menerus berjalan, peluh membasahi tubuhnya namun tak mengurungkan niatnya untuk terus berjalan. Sesekali akar-akar pohon yang besar itu seakan menarik kakinya, namun dengan sekali tebasan akar itu melepaskan ikatannya.
"Pohon-pohon disini seperti hidup," ucap Sasuke lagi.
Tak terlihat seekor hewanpun di hutan ini. Membuat keadaan hutan ini agak sunyi, bahkan bisa dibilang sangat sunyi.
"Kemana aku harus mencari gua itu," gumam Sasuke bingung.
"Arah utara," ucap Sasuke.
Ia kemudian berlari menyusuri hutan itu.
Sementara itu Kakashi dan Naruto yang tengah mencari Sasuke.
"Kakashi, kau tahu dimana letak gua itu?" tanya Naruto sambil masih berlari kencang.
"Aku juga kurang tahu, tapi menurutku kita terus saja ke arah utara," ucap Kakashi lagi.
"Baiklah," ucap Naruto.
Mereka berdua terus menerus mencari.
Sementara itu Sakura.
"Sasuke, dimana kau?" gumam Sakura sambil berlari menyusuri hutan.
Ia terus menerus berlari, tidak peduli akan bagian tubuh sebelah kanannya yang masih terasa sakit, tidak peduli akan gesekan tajam ranting-ranting, tak peduli dengan gelapnya hutan yang menurut sebagian gadis terkesan menyeramkan.
"Kemana aku harus mencari?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Utara, benar waktu itu Panglima Kakashi pernah mengatakan padaku kalau gua yang menuju dasar jurang kematian itu berada di arah utara," ucapnya sambil masih berlari.
"Baiklah, Sasuke tunggu aku," ucap Sakura mantap sambil berlari ke arah utara.
Matahari semakin meredup, kini cahayanya benar-benar hilang. Membuat keadaan hutan makin gelap. Purnama terlihat indah di langit, namun keempat orang yang berada di dalam hutan sama sekali tidak melihatnya. Bahkan mungkin mereka pikir malam belum datang.
Sasuke masih terus berlari cepat, sesekali ia harus mengeluarkan tenaganya untuk sekedar melepaskan akar pohon yang membelit kakinya ataupun untuk mengeluarkan dirinya dari pasir hisap yang sama sekali tidak terlihat. Cahaya terang semakin terlihat di depan matanya. Ia terus berjalan ke arah utara, sampai akhirnya ia sampai di depan sebuah gua yang tengah bersinar terang memantulkan cahaya rembulan.
"Itu dia guanya," ucap Sasuke senang.
Ia lalu berjalan perlahan mendekati gua yang bersinar terang itu. Namun tiba-tiba..
'Duarr.'
Terdengar suara ledakan dari atas gua yang membuat batu-batu besar menghalangi pintu masuk gua itu. Sasuke lantas menghentikan langkahnya.
Sasuke menoleh ke atas gua. Mata onyxnya melebar.
"Kau," ucap Sasuke tajam.
Sementara Sakura.
"Suara apa itu? Sepertinya berasal dari sana," ucap Sakura sambil berlari ke arah datangnya suara itu.
Tak perlu waktu lama, hanya dalam beberapa menit sampai ke sumber suara itu. Setibanya disana, ia melihat Sasuke yang tengah berdiri dengan badan yang bergetar sambil memandang ke arah atas gua.
Sementara Sasuke.
Sakura berlari ke arahnya namun Sasuke tak mengindahkan pandangannya ke arah Sakura.
"Sasuke," panggil Sakura.
Sasuke masih membelalakkan matanya. Sakura yang menyadarinya langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang sedang dilihat Sasuke. Seorang lelaki berdiri tegap dengan pakaian ala kerajaan, mata onyx hitam yang tampak redup dan juga rambut ravennya yang berwarna hitam kebiruan. Pria itu tampak sangat mirip dengan Sasuke. Sakura bergetar hebat, bibirnya perlahan menggumamkan sesuatu.
"Pa-Pangeran La-langit," ujar Sakura terbata dengan mata yang berkaca-kaca.
To be Continued...
Huwa bagaimana menurut readers?
Makin aneh bin abal aja y ceritanya..
Kayaknya fict ini masuk ke fict fantasy deh makanya genrenya aku ganti..
Oke mau bales review baik yg login maupun yg gk login dulu..
To : Thia 2rh.
Sudah aku update nih..
Gomen ngaret banget..
Arigatou udah mau review nd baca fict ini..
Mind to review again?
To : Hikari Shinju
Arigatou sudah mau baca nd review…
Sudah aku update nih, semoga tidak mengecewakan y…
Gomen ngaret banget…
Mind to review again?
To : Fidy Discrimination
Hola Nee-chan*lambai2*
Atau akan aku update 2 minggu lagi setelah UTS..
Arigatou udah mau review nd baca fict ini..
Gomen update telat…
Mind to review again?
Bales review Nee-chan yg buat Kyuubi, My Lovely Cat.
Tenang aja fict NaruSaku aku msih ada kelanjutannya kok..
Insya Allah kalo sempet beberapa hari lagi aku update sebelum aku hiatus..
Tunggu aja y…
To : 4ntk4-ch4n
Holaaa Anka -chan...
Gomen update telat...
Aku laage banyak banget tugas skul nih..
Arigatou telah membaca nd mereview fict aku...
Mind to review again?
To : Namichan
Gomen update ngaret banget..
Abisnya aku lagi banyak tugas menjelang UTS..
Arigatou telah membaca fict ini juga atas reviewnya, sudah aku update bagaimana ceritanya?
Mind to review again?
o-o-o-o
selesai juga chapter ini..
chapter selanjutnya karena aku akan hiatus selama 2 mingguan akan aku update paling lambat 2 minggu kedepan..
Arigatou buat yg udah baca, review, fave, alert dsb...
Doain aku y semoga UTSnya bisa aku jalani dengan baik..*ngarep siapa juga yg mau doain*
Sampai jumpa di chap depan ..
JAAA,,,:D
