Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Hai2… Chap baru!!!! *tepuk tangan*
Makasih buat komen teman2. membuat saya jadi bersemangat…
Buat komen anonim:
Naru-mania: hehehe… Emang dibikin jail… ga sendirian lagi… saya usahain cepet update kok…
Ditunggu yaaa~
Anyway, go to the story~
Disclaimer: I don't own that great masterpiece, but I own my original character.
Baka Tantei: Seishiro Amane present…
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 2: THE COUSIN'S FIRST STRIKE
Sebelumnya…
Tiba-tiba, bel berbunyi. "Aku saja." Sakura bangkit dari kursinya.
"Oh iya!!!" Yuri terperanjat.
"Kenapa?"
"mereka datang hari ini…"
Sakura membuka pintu rumah, melihat sosok 3 laki-laki di pintu. Seorang laki-laki berambut biru kehitaman mengenakan setelan jas rapi berwarna putih dengan kemeja biru muda. Seorang laki-laki berambut kuning kecoklatan mengenakan kaos merah dengan jaket abu-abu dan bercelana jeans hitam. Dan yang terakhir, seorang laki-laki berambut merah kejinggaan mengenakan sweater hijau gelap dan celana jeans coklat tua.
Sakura tercengang. "Kakak… Kalian datang?" mereka mendesah. Lelaki bersetelan jas berbicara, "Yuri pasti lupa memberi tahu." Mereka tertawa. "Kakak!!! Kak Hyouga, kak Kagerou dan kak Momiji datang!!!!" Sakura memanggil. Kotaro mendekati Sasuke, "Kalau kau merasa tidak kuat dikerjai kak Nade, sebaiknya kau segera kabur sekarang. Yang datang itu jauh lebih berbahaya." Sasuke menelan ludah, namun menggeleng. "Aku benar-benar mendoakan keselamatanmu, Sasuke." Kotaro segera angkat kaki, pergi ke atas.
"Wah-wah… Siapa ini?" sebuah suara terdengar. Sasuke menengok, melihat 3 orang pemuda memandang Sasuke, terlihat ramah namun sebenarnya dingin. "Ah!! Kenalkan, ini kakak sepupuku. Yang berambut biru, Fuyuno Hyouga. Yang berambut kuning, Natsuno Kagerou. Dan yang berambut merah, Akino Momiji. Mereka, bersama kak Nadeshiko dikenal sebagai Four Season… Kakak, dia temanku, Sasuke Uchiha…" Sakura memperkenalkan mereka.
"Hoo… Sasuke…" mereka bergumam. Sasuke sadar, apa yang dimaksud 'lebih berbahaya' oleh Kotaro. 'Ukh… Mungkin aku tidak akan selamat.' Pikir Sasuke. "Oh, iya!!! Kalian ada perlu kemari? Kok kalian buru-buru… Kak Hyou pun belum ganti baju…" Tanya Sakura. Hyouga tersenyum. "Kami ada pembicaraan tentang restoran baru Nadeshiko." Dua orang lainnya mengangguk. Momiji menarik lengan baju Kagerou, membisiki sesuatu. Kagerou juga melakukan yang sama pada Hyouga.
Sasuke merasa tengkuknyamerinding. Dia tahu mereka merencanakan sesuatu. "Sakura, sepertinya temanmu cukup bagus tampangnya… Bagaimana kalau dia menjadi model untuk restoran baru Nade?" Sakura berpikir sejenak. "Boleh juga… Kau tidak keberatan, Sasuke?" Sasuke meleleh dilihat oleh tatapan penuh harap Sakura. 'Sial… Jangan menatapku seperti itu!!! Ukh…' Dia menelan ludah, "…Baiklah." Jawabnya, kalah. 'Hehehe… Kau akan mendapat sesuatu yang tak terlupakan, bocah…' Pikir mereka.
"Bagaimana kalau kita tentukan dulu bajunya… Sakura, tolong panggil Nadeshiko." Kata Momiji. Sakura segera pergi memanggil Nadeshiko. Mereka berbalik pada Sasuke. "Bocah… Kau pikir kau bisa mendekati Sakura seenaknya, Hah?" Kagerou memulai. "Kau akan menyesal…" Sahut Momiji. "Ya… Kau bahkan akan kubuat lari terkencing-kencing, bocah." Diakhiri oleh Hyouga.
Normalnya, ancaman semacam itu tak akan mempan pada Sasuke. Selain karena dia memiliki body guard, walau hanya dipergunakan saat dia pergi ke acara resmi, dia adalah pemegang ban hitam karate dan aikido. Namun, kini Sasuke merasa tidak aman atas ancaman mereka. Dia merasa mereka bukan akan menyerang secara fisik, namun secara psikologis. Dia mencoba tetap tenang, walaupun tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Aku tak akan kalah." Jawab Sasuke, meyakinkan diri. Mereka saling pandang sampai Nadeshiko datang. 'Hoho… Sudah mulai rupanya…' Nadeshiko tersenyum nakal. 'Bocah cantik itu berani juga… Yah, kuat tidaknya dia baru akan ditentukan nanti…' "Hei, katanya kalian dapat ide untuk foto promosi restoran baruku."
"Ya. Aku yang menyediakan kostumnya. Ide ini ide Momiji dan Hyouga. Begini…" Kagerou mengajak Nadeshiko ke teras, tempat mobil Hyouga diparkir. "Aku mulai…" Momiji berkata pada Hyouga, meletakkan tas besar yang dibawanya, lalu berjalan mendekati Sasuke. Secara cepat dan tanpa disadari Sasuke, Momiji telah menangkap Sasuke, membungkam mulutnya dan mengikatnya di kursi. "Mpffff!!!!" Sasuke berusaha melepaskan diri, namun ikatan itu tidak terlepas.
"Percuma. Momiji ahli dalam tali-temali. Juga dalam segala jenis seni yanf pernah diperkenalkan manusia. Dia akan meriasmu jadi sangat cantik, bocah." Hyouga menyeringai, sedangkan Momiji tetap berwajah pasif. Nadeshiko dan Kagerou datang tak lama kemudian. "Persiapan sudah beres?" tanya Kagerou. Mereka mengangguk.
"Nah, Sasuke~kun~… Kau akan kami buat jadi gadis paling cantik yang pernah ada~." Nadeshiko tersenyum nakal. Sasuke menatap horor pada mereka, sedangkan mereka mulai tertawa bengis. 'Kalau ini mimpi, tolong hajar aku sampai bangun!!!!!!!!!!' raung Sasuke dalam hati.
"Ayo kita mulai."
30 menit kemudian…
Sakura sedang menelepon Seiji, memberikan jadwal pemotretan dan lokasi yang telah ditetapkan. Dia mendengar suara tawa dan decak kagum dari bawah. 'Mereka pasti sedang ngobrol.' Sakura tersenyum. "Jadi, hari kamis jam 5 sore di daerah pertokoan Shinjuku utara kan?" Seiji berkata di telpon, mengkonfirmasi. Sakura membetulkan. "Lalu… Sasuke sudah pulang?" Sakura tersentak, memukul keningnya. "Oh iya! Aku lupa!! Jangan lupa, jam 5 sore. Sampai nanti."
Saat Sakura menutup teleponnya, terdengar jeritan yang sangat keras, diikuti tawa yang tak kerasnya. 'Semoga saja mereka tidak melakukan sesuatu yang bodoh.' Sakura berlari menuruni tangga. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah alat kosmetik berhamburan dan baju-baju maid plus aksesorinya berserakan di lantai. Lalu dia melihat Nadeshiko dan Kagerou tertawa sambil berguling di lantai, bahkan hyouga tertawa kecil. Lalu dia melihat Momiji sedang berdiri menahan sesuatu, dia terlihat puas.
Lalu Momiji mundur, memperlihatkan apa yang sedang ditahannya. Apa yang dilihat sakura membuatnya terpana. Di kursi meja makan, seorang wanita berambut hitam panjang, dengan baju maid berenda hitam, mengenakan aksesori kepala berwarna sama, dengan sepatu hak datar, sedang duduk. Wajahnya yang sangat cantik itu memandang marah pada Momiji.
"Jangan marah padaku. Aku Cuma disuruh Hyou." Momiji berkata singkat. "Yah, paling tidak kau benar-benar jadi gadis yang sangat cantik… Berterima kasihlah." Dia memandang murka pada Hyouga. Dia akhirnya angkat suara. "Ya… ITU KALAU AKU PEREMPUAN!!!!" Dia berteriak. Sakura mengenali suara halus, namun berat itu. Dia menutup mulutnya terkejut. "Sa… Sasuke?"
Sasuke melihat Sakura, shock. 'Akh… Dia yang paling tidak ingin kutemui dalam penampilan ini…' "Ukh… Sakura… Ini…" Sasuke berusaha mencari kata. Sakura maju ke arah Sasuke. "KAKAK… APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH!?" dia berteriak keras. Mereka cuma tertawa. "Ayo." Sakura menarik lengan Sasuke, berlari ke atas. "Kejar!" Perintah Nadeshiko. "Sakura, kami belum selesai!" kata Kagerou.
Sakura menutup pintu kamarnya, lalu menguncinya. Dia menyuruh Sasuke duduk di Sofa kecil berwarna hijau toska. Sasuke melihat sekeliling. Dinding kamarnya dilapisi kertas dinding berwarna hijau pudar. Banyak boneka berwarna pink dan merah di sudut ruangan. Kasurnya dilapisi sprei berwarna peach. Suasana di kamar itu terasa hangat, berbeda dengan suasana kamarnya yang dingin.
"Maaf Sasuke… Aku tak mengerti kenapa mereka suka begitu. Aku benar-benar minta maaf karena meninggalkanmu dengan mereka…" Sakura menatap Sasuke bersalah, matanya berkaca-kaca. "Tak apa. Jangan merasa bersalah…" dia menepuk pundak Sakura. Sakura menatap Sasuke. "Benarkah?" Sasuke tak dapat menahan rona merah di wajahnya saat melihat wajah Sakura.
"Ya." Katanya. Sakura tersenyum tulus, membuat wajah Sasuke makin bersemu merah. Sakura mendengar suara-suara mencurigakan dari luar kamar. "Err… Sasuke? Boleh aku bilang sesuatu?" tanyanya. Sasuke yang masih dibuai senyuman Sakura hanya bisa mengangguk. "Kau… benar-benar cantik dengan baju itu…" Sakura mengagumi Sasuke. Sasuke tersentak. "Jangan mencelaku…" katanya agak kesal. "Tidak!!! Aku serius! Coba kau lihat di cermin."
Sakura menunjuk cermin besar yang ada di sisi ruangan. Sasuke menuju ke sana, terkejut melihat sosok di cermin. Dia mengira melihat sosok ibunya saat masih muda. Dia terdiam beberapa saat di depan cermin. Kemudian dia sadar bahwa itu dirinya. Dia kesal setengah mati. Walaupun, seperti kata Sakura, dia memang jadi cantik, dia tetap laki-laki. Tulen. Sakura mendengar suara-suara aneh lagi dari luar kamarnya.
Kali ini dia yakin, itu suara logam. Dia segera menyangga pintu, lalu menarik Sasuke, "Cepat…!! Mereka mencoba membuka kunci kamarku!" dia berbisik pada Sasuke. "Kita mau kemana? Memangnya ada jalan?" tanya Sasuke. "ada jalan sempit ke kamar kak Yuri. Kita bisa kesana, mereka bisa menyibukkan yang lain saat aku mengambill bajumu. Setelah kau berpakaian, kita bisa keluar melalui tangga darurat di sebelah kamar kak Yuri." Jelas Sakura.
Mereka melewati jalan yang dimaksud Sakura (Sakura terlebih dahulu mengunci berandanya). Sasuke agak susah menyeimbangkan diri karena gaun yang dipakainya. Namun mereka sampai di kamar Yuri dengan selamat. "Kak Yu… Mpf!!" Sakura bermaksud memanggil Yuri, namun ditahan Sasuke. Sakura menatapnya bingung. Sasuke menunjuk ke dalam kamar.
Disana ada Kotaro, sedang duduk di kasur. Dipangkuannya ada Yuri yang sedang tertidur pulas. Namun yang membuat Sasuke menutup mulut sakura adalah karena cara pandang Kotaro. Dia memandang Yuri dengan penuh kasih sayang, bahkan membuat Sasuke dan Sakura. Tiba-tiba dia menengok ke arah mereka. "Masuklah, di luar dingin." Kata Kotaro. Mereka masuk dengan ragu-ragu. "Jadi… Kau kena dikerjai semacam itu juga ya…" Kotaro menunjuk Sasuke.
"Kau juga pernah!?" tanya Sasuke. "Aku bahkan sempat disuruh keliling Shinjuku, Memberikan Pamflet Modelling Agency Kak Kage. Besoknya aku masuk majalah dan situs otaku." Sasuke menatap Kotaro horor. "Ngomong-ngomong, kau berencana membawanya pergi dengan kostum itu? Bisa-bisa dia membuat orang tuanya kena serangan jantung." Sakura berpikir. "Aku mau mengambil pakaian, tas dan sepatunya kemari… Tapi mereka masih berkeliaran…" Kotaro tertawa.
"Ini." Dia melempar semua barang yang disebut Sakura pada Sasuke. Mereka menatap Kotaro bingung. "Aku sudah tahu perkembangannya bagaimana saat Kak kage membawa kostum maid itu. Jadi, saat mereka sibuk dengan Sasuke aku mengambil barang-barangnya. Aku juga sudah menduga kau akan kabur ke sini." Sasuke menatapnya tak percaya. "Kenapa kau menolongku? Bukannya kau di kubu mereka?"
"Aku netral. Aku mestinya tidak ikut campur…" Sasuke menatap bingung. "Yah, bukan cuma Sakura yang disayang oleh mereka. Aku juga pernah mengalami hal semacam ini, walau cuma sekitar 2 minggu." Sasuke terpana. "Bagaimana caranya kau bisa mendapat restu secepat itu?" Kotaro mengusap dagunya, berusaha mencari kata-kata. Sakura menarik lengan gaun Sasuke, memberi tatapan 'tolong-jangan-tanyakan'.
"Yaaa… kau boleh bilang diantara aku dan Yuri hubungan 'unik' yang membuat mereka luluh." Sasuke mengangguk, tahu bahwa Kotaro tak ingin membahasnya. "Mmmmhhh… Ada apa, Kota…?" Yuri terbangun. Dia melihat Sakura dan Sasuke. "Hai Sakura dan… Nona?" Sakura menahan tawa, kotaro tersenyum. "Dia Sasuke Uchiha." Yuri segera tersadar. Dia memandangi Sasuke beberapa saat. "…Kemampuan Momiji meningkat ya." Katanya.
"Kakak, jangan bercanda. Aku harus membawa Sasuke keluar sebelum mereka kembali menyerang." Yuri menyandarkan kepalanya ke bahu Kotaro. "Bersihkan make-up itu pakai pembersih wajah yang ada di kamar mandi, lalu ganti bajumu. Kau sudah bawa seragamnya?" Kotaro mengangguk. "Oke. Setelah kau selesai, kami akan mengahalau mereka. Kalian, keluar menggunakan tangga disana."
Mereka segera melaksanakan rencana itu. Sakura membantu membersihkan make-up Sasuke. Lalu, mereka mendengar suara aneh dari kamar. Mereka pun mengintip. Disana, mereka melihat Yuri dan Kotaro sedang bercumbu. "Hei… Mereka bisa dengar…" Kata Kotaro. "Mmmhhh…" Jawab Yuri. Dia mencium bibir Kotaro. "He… Hentikan, hoi!" bisik Kotaro. Yuri cuma tertawa nakal.
Sasuke dan Sakura melongo. Wajah mereka memerah semerah tomat. "Oke, tontonan selesai. Keluar kalau kalian sudah selesai…" Yuri berkata tiba-tiba. Mereka keluar dengan canggung, wajah mereka masih merona merah. "Heh… Sudah cukup mengerjainya. Kita harus membawa dia keluar." Kata Kotaro. "Eh!? Kalian cuma iseng!? Katanya kalian netral?" Sakura kaget.
"Adikku… bukan berarti kami tak akan mengerjainya. Aku tetap kakakmu, dan Kota mendukung apa yang kulakukan." Yuri menjelaskan. "Lagipula, kau, Yuri dan kak Nadeshiko berbagi darah yang sama… Bukan mustahil kalau kalian memiliki sifat yang sama, walau kadarnya berbeda." Sambung Kotaro. Mereka menghela napas, lega kalau mereka tak akan bergabung dengan yang lain.
"Sudah… Sekarang kita mulai rencana kita. Kalian tahu yang harus kalian lakukan kan?" Semua mengangguk. "Oke. Begitu kamar ini terbuka kalian langsung turun. Kita mulai sekarang." Yukari memerintah. Rencana 'penyelamatan' itu berjalan lancar. Yuri dan Sakura menahan mereka, sementara Sasuke dan Kotaro turun ke halaman. Mereka segera keluar dari rumah Sakura.
Kotaro mengajak Sasuke ke depan rumahnya, yang berjarak 3 rumah dari rumah Sakura. "Tunggu sebentar. Aku segera kembali." Sasuke sedang menunggu Kotaro saat Sakura dan Yuri datang. "Mereka berhasil ditenangkan. Mereka juga mengurungkan niatnya untuk menjadikanmu wanita… tapi…"
"Kenapa?" tanya Sasuke. "Mereka bersikeras ingin menjadikanmu model mereka. Sebaiknya kau turuti saja… Mereka sangat pemaksa, soalnya." Kata Yuri. "Maaf ya Sasuke… Kau tak keberatan kan?" Sakura memohon. Sasuke berusaha agar wajahnya tak bersemu. "Selama tak jadi wanita." Katanya.
Kotaro keluar tak lama kemudian, dengan motor Harley Davidson dan 2 buah helm. "Aku antar kau pulang." Sasuke terpana. 'Harley Davidson mesin twincam 1500 cc? lagipula, ini jenis langkanya pula…' "Dari mana kau dapatkan ini?" Kotaro menyeringai. "Rahasia." Dia membrikan helm pada Sasuke. "Jangan Terlalu kencang, Kota…" Yuri memperingatkan. Kotaro mengangguk.
"Err… Sasuke?" Sakura mendekat. Sasuke menengok. "Kau tidak akan menjauhiku kan? Hehe… Soalnya banyak orang yang menjauhiku setelah bertemu mereka…" Sasuke terkejut, lalu tertawa ringan. "Tak apa. Aku bukan orang sembarangan." Dia tersenyum. "Sampai bertemu besok." Kata Sakura. Dia mengangguk.
Sasuke memakai helmnya, lalu naik ke atas motor. Mereka pun melaju pergi. Yuri memandang mereka. "Kenapa, kak?" Tanya Sakura. "Oh… Aku cuma menyadari kalau mereka mirip. Sama-sama tipe yang lebih banyak bekerja daripada bicara." Sakura tertawa. "Ya, mungkin kakak benar. Ayo kita pulang, kak. Yang lain pasti sedang berbuat yang aneh-aneh lagi." Mereka berbalik ke rumah mereka.
Kotaro sedang menatap kediaman Uchiha. Sebuah kastil kecil di luar kota dengan halaman sangat luas. Dia tertawa. "Kenapa?" tanya Sasuke. "Pantas saja kau Asosial…" jawab Kotaro. Mereka mendekati gerbang, disambut penjaga yang menyetop mereka. "Ada perlu apa?" katanya. Sasuke membuka helmnya. Penjaga itu tersentak, lalu segera membuka gerbang. "Silakan Tuan muda dan…" Kotaro menyeringai. "Teman sekelasnya." Penjaga itu terpana. 'si pangeran es membawa temannya!? Bakal ada badai salju di tengah musim panas ini besok…'
Kotaro bertanya sebelum masuk. "Kenapa dia seperti melihat hantu?" Sasuke mendengus. "Karena aku tidak pernah membawa teman ke rumahku." Kotaro tertawa. "Mungkin orang tuamu sedang menyiapkan pesta besar, karena anaknya akhirnya bergaul juga." Sasuke tertawa. "Atau, mereka sedang mempersiapkan penjagaan penuh. Mengira kita palsu, atau kau sedang menyanderaku dan bermaksud merampok rumahku."
Mereka berdua tertawa, tidak tahu kalau salah satu dari kedua hal itu sebentar lagi menjadi kenyataan. Atau keduanya jadi kenyataan. Bahkan lebih dari perkiraan.
Mereka memasuki garasi kediaman tersebut. "Ada yang aneh." Kata Sasuke. "Apanya?" Kotaro bertanya. Sasuke memandang sekeliling. "Ini semestinya daerah parkir tamu yang berkunjung. Kenapa ada mobil ayah dan kakakku disini?" Kotaro menyadari apa yang dimaksud Sasuke. Mereka tetap menjaga kewaspadaan saat memasuki rumah. Namun, apa yang mereka lihat membuat mereka terkejut. Atau, membuat Sasuke terkejut, juga membuat Kotaro nyaris tertawa terbahak-bahak.
Ruang tamu kediaman Uchiha dipenuhi orang-orang dan barang-barang. Kumpulan orang dan barang itu terbagi jadi 3 kubu. Di kanan, sekumpulan orang berseragam membawa alat deteksi, tes DNA dan persenjataan dipimpin seorang lelaki paruh baya. Di kiri, sekumpulan orang memakai baju pesta dengan petasan dan makanan dan musik, dengan wanita paruh baya sebagai pusatnya. Di belakang, sekumpulan ilmuwan dan monitor satelit, alat pencatat dan sebagainya, menerima perintah seorang lelaki muda.
"Yah, aku benar-benar tidak menyangka keluargamu sekocak ini."
Mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga Kediaman Uchiha. Semua orang, selain keluarga Uchiha dan Kotaro telah pergi. Sasuke menatap murka pada keluarganya, sedangkan mereka terlihat tidak merasa bersalah. Kotaro masih tersenyum lebar, membayangkan apa yang baru saja terjadi. "Jadi… Kau teman Sasuke yang dikatakan penjaga?" pria paruh baya itu bertanya.
"Kotaro Itsuki. Selamat malam Tuan…" Sasuke menghela napas. "Kenalkan. Dia Fugaku Uchiha, ayahku. Wanita di sebelahnya ibuku, Mikoto Uchiha. Dan yang disana, Itachi kakakku." Orang itu melihat Sasuke penuh keingin tahuan. "Jadi… Kau pergi makan dengan temanmu, lalu diantar pulang olehnya?" tanya Fugaku lagi. 'Wow, Sasuke pasti cuma keluar rumah kalau ada kepentingannya saja.' Pikir Kotaro. "Hhnn." Jawab Sasuke.
"Kotaro-san, bagaimana Sasuke-chan disekolahnya? Dia tidak mendapat masalah, kan?" tanya Mikoto, ada kekhawatiran khas ibu terpancar di wajahnya. Kotaro menerima tatapan 'Jangan-bicara-macam-macam' dari Sasuke. "Tidak, nyonya." Kata Kotaro. 'Setidaknya, belum.' Tambahnya dalam hati.
Tiba-tiba Itachi mendekati Kotaro. "Kau… Kotaro yang merupakan salah satu atlet bela diri yang ikut olimpiade pelajar itu kan?" Kotaro tersenyum, "Ya, walau Rock Lee yang mendapat medali emasnya. Aku Cuma dapat medali perak." Sasuke terpana. "Tapi… Kau terlihat lebih…" kata-katanya dipotong Kotaro.
"Lebih beradab? Itu bela diri kuno cina, tinju binatang buas. Perlu keganasan untuk menguasainya. Rock Lee sendiri mengalami krisis dalam penampilannya karena mempelajari ilmu itu." Kotaro menjelaskan. "Ya… Aku pernah mendengarnya. Katanya, untuk menjaga kemanusiaan mereka, pengguna nya menggunakan 'segel' untuk menahan sisi 'buas' mereka."
"Benar, Itachi-san." Itachi bertanya lagi. "Kalau kau?" Kotaro tertawa kecil. "tidak… Cuma yang telah menguasai teknik tersebut yang memiliki masalah semacam itu. Aku Cuma bisa sedikit, keahlianku berbeda." Sasuke terpana. 'Dia bukan cuma bisa menyelesaikan masalah dengan tenang, tapi dia juga bisa membuat lawan bicaranya mengikuti arah pembicaraan dengan mudah…'
Kalau bukan karena Kotaro, mungkin dia masih menghadapi kumpulan orang tadi, dan mungkin orang tua dan kakaknya masih dalam persepsi konyol mereka. "Yah, sudah jam segini. Sebaiknya saya permisi dulu…" Mereka tersentak, melihat jam dinding. Sadar bahwa sudah jam 12 malam. "Anu… Sebaiknya kau menginap disini saja. Diluar pada jam segini bahaya." Mikoto menganjurkan.
"Saya… Bisa menjaga diri saya. Namun, saya amat berterima kasih atas keramahan anda, Nyonya. Lagipula, ada yang menunggu saya pulang." Kotaro tersenyum tulus. "Aku akan mengantarmu sampai garasi." Sasuke bangkit dari sofa. Mereka mengantar sampai pintu. "Selamat malam, sekali lagi." Kotaro dan Sasuke menuju garasi dalam diam.
"Kau pintar bicara ya." Kata Sasuke saat Kotaro menaiki motornya. "Haha… Itu keahlian alamiku. Lagipula, Yuri bakal tidak tidur semalaman kalau aku tidak pulang." Dia menyalakan motornya. Dia teringat sesuatu, membuka kaca helm-nya. Dia menengok pada Sasuke.
"Sasuke Uchiha, aku dengar perkataan Yuri tadi. Walau mereka setuju tidak mendandanimu menjadi wanita, mereka pasti akan mendandanimu dengan sesuatu yang lain, yang pasti akan menyusahkanmu. Berhati-hatilah, ingat bahwa yang terjadi hari ini hanyalah salam perkenalan." Dia pergi meninggalkan Sasuke yang memucat. Dia teringat apa yang terjadi hari ini.
"Sialan… Apa ini balasan atas perlakuanku pada semua fans ku? Tuhan… Tolong beri belas kasihan…" dia menatap langit memohon. Dia mengumpat pelan, meratapi kutukannya untuk jatuh hati pada gadis yang dikelilingi kumpulan 'monster' itu, dan keinginannya untuk bisa bersama gadis itu walau tahu dia harus menghadapi neraka bernama Hyouga Fuyuno, Kagerou Natsuno, Momiji Akino, Dan Nadeshiko Haruno, dengan tambahan cobaan duet Yuri-Kotaro, sendirian. Dia melangkah gontai ke rumahnya.
"Aku betul-betul memohon belas kasihmu, wahai Tuhan…"
Apa yang akan dihadapi Sasuke selanjutnya? Apa yang telah dipersiapkan Hyouga cs untuk mengusir Sasuke?
Tunggu chap selanjutnya yaaa………
Baka Tantei: Seishiro Amane, sign out.
