Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Chapter 3!!!!!!
All thanks for your support and comment… makasih buat yang sah kasih masukan… bener-bener ngebantu saya meningkatkan kemampuan saya…
Langsung ke cerita ya…
Baka Tantei Seishiro Amane present…
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 3: THE CLUB AND THE PAINT
Sebelumnya…
"Sialan… Apa ini balasan atas perlakuanku pada semua fans ku? Tuhan… Tolong beri belas kasihan…"
Dia menatap langit memohon. Dia mengumpat pelan, meratapi kutukannya untuk jatuh hati pada gadis yang dikelilingi kumpulan 'monster' itu, dan keinginannya untuk bisa bersama gadis itu walau tahu dia harus menghadapi neraka bernama Hyouga Fuyuno, Kagerou Natsuno, Momiji Akino, Dan Nadeshiko Haruno, dengan tambahan cobaan duet Yuri-Kotaro, sendirian. Dia melangkah gontai ke rumahnya.
"Aku betul-betul memohon belas kasihmu, wahai Tuhan…"
Sasuke bangun dengan keringat deras membasahi tubuhnya, napasnya terengah-engah. Dia memandang sekeliling, kemudian menghela napas lega. 'Cuma mimpi… Tenang, itu tak akan terjadi… Itu hanya khayalan…' Dia bermimpi bahwa dia diikat dan dilempar ke lautan api oleh 4 kakak Sakura. Dia merinding memikirkan kata-kata yang diucapkan mereka dalam mimpi, sebelum melemparnya.
"Ini balasan karena kau membuat Sakura menangis."
"Sejak awal aku tak pernah setuju…"
"Sudah, lempar saja dia!!!!"
"Selamat tinggal, Sasu-kirei~"
Dia bangkit dari tempat tidurnya. Dia segera mandi, walau jam baru menunjukkan jam 05.30 pagi (A/N: saya pake jam sekolah luar negeri, yang masuknya kira2 jam 08.30 ato 09.00). keringat yang membasahi tubuhnya, juga mimpi barusan membuatnya tidak nyaman. Setelah mandi, dia menuju dapur, membuat sandwich dan pergi ke ruang keluarganya. Disana, ada Itachi yang sedang minum kopi sambil membaca novel.
"Kakak sudah bangun?" tanya Sasuke, sambil duduk di kursinya. Itachi mengangkat kepalanya.
"Mestinya aku yang tanya begitu. Aku memang biasa bangun jam segini…" dia kembali membaca. Sasuke mengambil sepotong sandwich, mulai makan.
"Aku… bangun lebih awal." Katanya menghindar. Alis Itachi naik, tahu ada sesuatu.
"Ada apa? Jangan coba cari alasan, aku tahu ada yang kau sembunyikan." Sasuke menghela napas, dia tahu tak mungkin menipu kakaknya.
"Cuma mimpi buruk, tak ada apa-apa." Dia mencoba mengelak. 'Semoga dia tidak menanyakan lebih lanjut.' Itachi tertawa.
"Kau masih mimpi hantu di umur 17 tahun? Sungguh imajinasi mengagumkan." Dia tertawa lagi. Sasuke mencoba protes, namun diam. Dia tahu sebaiknya tidak mengungkit ini lagi.
"Kenapa kakak terbiasa bangun jam segini?" tanyanya ingin tahu.
"Aku biasa meditasi pagi." Jawabnya singkat.
Mereka duduk dalam diam. Sasuke memandang ke arah beranda, mengingat apa saja yang telah terjadi semalam. Dia menghela napas. 'Mau tak mau, aku harus mengahadapi mereka kalau mau bersama Sakura. Yang aku perlu tunjukkan cuma keseriusanku, kan?' Dia mendapat semangat baru, bangkit dari kursi. Dia memandang jam tangannya, masih menunjukkan pukul 06.00.
"Mau kemana, Sasuke?" tanya Itachi, masih tenggelam dalam buku novelnya.
"Bersiap-siap ke sekolah. Aku mau lihat kegiatan ekstrakurikuler (1)." Jawab Sasuke, menuju kamarnya. Dia sebenarnya hanya ingin menghindar dari kakaknya, takut kalau kakaknya menangkap sesuatu yang aneh dan menyelidikinya. 'Bisa jadi bahan tertawaan nanti, kalau kakak tahu aku kena dikerjai.' Pikirnya.
Dia mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Dia melihat jam tangannya sekali lagi. 'Jam 06.30… Apa tidak kepagian ya?' Dia berpikir sejenak, lalu mengambil tasnya. 'Ah… Tak apa.' Dia segera menuruni tangga, menuju ruang parkir.
Dia memutuskan hari ini akan pergi sendiri. Dia berjalan menuju mobil Ferari hitam yang ada disana. Dia terdiam sejenak, berpikir. 'Ah… pakai ini saja…' Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Dia pun segera meluncur ke jalan.
Sasuke baru keluar dari mobilnya, ketika dia mendengar suara motor yang dikenalinya. Dia menengok, melihat sebuah motor besar mendekati tempat parkir sekolah. Pengendara motor berhenti beberapa meter dari tempatnya, Sasuke mengenali rambut kemerahan yang dikepang itu. 'Kotaro rupanya… Dia juga datang sepagi ini?'
Kotaro membuka helmnya, melihat Sasuke. "Hei… Ada apa datang sepagi ini?" Dia bertanya sambil mengunci ban motornya. Sasuke diam beberapa saat, lalu menjawab saat Kotaro selesai mengunci motornya.
"Cuma mau lihat-lihat ekskul sekolah. Aku bukan tipe yang berdiam dirumah," jawabnya. "Kau sendiri akan pergi ke klub-mu kan?" Kotaro tertawa ditanya seperti itu.
"Aku tidak masuk klub manapun, setidaknya sebagai anggota." Jawabnya sambil melepas jaketnya. Sasuke mengangkat alisnya.
"Kau bukan masuk klub olahraga untuk belajar?" tanyanya. Kotaro mendekati Sasuke.
"Aku punya kualifikasi sebagai pelatih, juga lisensi mengajar. Aku datang cuma untuk sparring dengan beberapa orang saja," Dia berbicara sambil mengajak Sasuke melihat-lihat. "Jadi… kau mau masuk klub mana? Apa kau punya pengalaman beladiri atau olahraga? Yang ada pagi-pagi Klub olahraga dan beladiri, kecuali klub penyiaran dan klub koran." Jelasnya sambil berjalan.
Sasuke menjawab, "Aku dan 2 aikido, juga dan 4 karate," Kotaro mengangguk-angguk. "Aku juga bisa dasar-dasar sepakbola. Tapi, aku tidak ingin masuk klub olahraga." Jelasnya.
"Hoo… Begitu. Baik, kalau begitu kita lewatkan bagian dome. Kita ke sana." Kotaro menunjuk arah timur sekolah. Sasuke belum melewati daerah ini karena bagian timur hanya digunakan klub saja, kecuali saat festival Perguruan. Dia melihat sekeliling dengan penuh minat.
Dia melihat berbagai macam klub beladiri sedang berlatih. "Totalnya ada 24 klub. Ada Klub Karate, disini ada dalam beberapa aliran. Klub gulat. Klub beladiri cina, terdiri dari tipe juuken dan gouken. Klub aikido. Klub kendo. Klub judo... masih banyak lagi. Kau tinggal pilih." Kotaro berkata sambil menunjuk ke setiap bangunan.
Sasuke melihat-lihat. "Atau… kau mau masuk satu klub dengan Sakura?" Kotaro bertanya. Sasuke memandangnya serius. "Kalau begitu, aku sarankan klub bela diri cina." Dia berjalan ke ruangan di area pepohonan.
Mereka disambut oleh laki-laki berambut bob yang tiba-tiba menyerang. Dia melancarkan tendangan berputar, namun Kotaro menghindarinya dengan mudah. "Rock Lee, ada orang baru nih…" Katanya, seakan tak ada yang terjadi. Dia menunjuk Sasuke yang masih bersiaga karena kejadian tadi.
"Yosh!!! Selamat datang!!! Aku Rock Lee!!! Siapa kamu?" dia menjabat tangan Sasuke penuh semangat.
"Sasuke Uchiha…" Jawabnya, masih tegang. Saat mereka masuk ke dalam, Sasuke bertanya pada Kotaro. "Kenapa dia menyerangmu?"
"Sudah kubilang kan? Aku datang untuk sparring… Itu untuk melatih refleks…" jawabnya santai. Mereka masuk ke dalam bangunan besar itu. Mereka melihat ke tempat latihan. Disitu ada banyak orang, namun ada beberapa orang menarik perhatiannya. Ada wanita yang kemarin Sasuke lihat bersama Sakura, ada seorang lelaki berambut panjang yang menngingatkan Sasuke akan salah satu teman Sakura, sedang memberi instruksi.
Dan disana ada Sakura, sedang berlatih bersama wanita tadi. "Tenten, Neji!!! Kita kedatangan orang baru!!!" Lee memanggil. Mereka menengok, melihat Sasuke.
Laki-laki bernama Neji itu mendekat. Dia menilai panampilan Sasuke. "Kau pernah laithan bela diri? Ini bukan tempat bermain." Dia berkata tanpa ekspresi. Alis Sasuke mengerut.
"Dia cukup mahir di bela diri lain kak Neji," Jawab Kotaro. "Dia tak akan kabur, tenang saja." Tambahnya.
Neji berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah, ikut aku. Isi formulir pendaftaran dulu… Lalu, kalau memang mau mulai, kau bisa langsung latihan hari ini." Dia mengajak Sasuke ke lemari kecil di sudut ruangan. Tempat itu hanya disekat, sehingga dia masih bisa melihat keluar.
Neji menyerahkan formulir, dan Sasuke segera mengisinya. "Kau ingin mulai hari ini juga?" Sasuke mengangguk. "Oke. Kebetulan aku masih punya seragam seukuran tubuhmu. Ini, pakailah. Lokernya ada di sebelah ruangan ini." Dia memberikan Seragam dan papan nama untuk loker, lalu menunjuk pintu yang ada tepat disebelah ruang itu.
Dia memasuki ruangan itu. pemandangan disana tak seperti bayangannya. Alih-alih berantakan, ruangan itu rapi dan bersih. Bahkan tidak bau. Dia segera mencari loker kosong. Dia menemukan loker kosong disebelah loker Lee. Dia segera berganti baju dengan baju latihan ala cina berwarna ungu muda itu.
Dia keluar dari ruangan itu, disambut dengan suara riuh. Dia melihat Lee sedang sparring dengan Kotaro, disaksikan seluruh anggota. Sasuke melihat lagi tendangan berputar Lee, yang kembali ditepis Kotaro. "Seru ya?" sebuah suara memanggil Sasuke. Dia berbalik, melihat Sakura. "Mereka memang suka begitu dari dulu… Mungkin ini kedengaran aneh, tapi mereka justru berteman baik karena sering berkelahi. Aku juga tidak begitu mengerti tentang hal ini…"
"Jadi… Kau tertarik pada bela diri cina?" tanya Sasuke. "Apa yang membuatmu tertarik?" Sakura berpikir sejenak.
"Mungkin karena gerakannya indah, seperti tarian. Baik tipe gouken (serangan besi), juuken (serangan lembut) maupun cara pakai senjatanya. Dan lagi, bela diri ini unik karena kita bisa menggunakan benda-benda non senjata untuk menyerang jika kita mampu… Ah, lihat!!" Sakura menunjuk.
Lee mengambil langkah cepat, dalam sekejab dia sudah masuk dalam jarak serang. Dia menyerang memanfaatkan kelengahan Kotaro. Dia menghantamkan sikunya ke perut Kotaro. "Yang Kak Lee pakai itu Bajiquan, intinya serangan jarak dekat bertubi-tubi. Itu, lihat lagi!" Sakura berseru.
Kotaro menahan serangan Lee dengan tepisan lembut, lalu berputar dan menotok lengan Lee. "Yang dipakai Kotaro itu Baguazhang, yaitu serangan telapak atau jari yang lebih mengutamakan malfungsi anggota tubuh atau luka internal. Kelihatannya seperti tepukan atau totokan biasa, namun bisa mematikan, lho." Mata Sakura berbinar. Sasule terpesona melihatnya.
Sasuke tersentak saat dia mendengar teriakan para penonton. Dia segera memandang ke arah lain. Dia melihat bahwa pertandingan selesai dengan seri. Kotaro sendiri tertawa-tawa bersama Lee. "Dasar… Kalian ini suka membuat keributan…" Neji berkata sambil menyerahkan handuk. Mereka mengambilnya dan segera mengelap peluhnya.
"Yah… Tanding dengan Kak Lee selalu seru. Aku sampai ikut terbawa." Jawab Kotaro. Lee tertawa.
"Oke, pertunjukan sudah selesai. Kembali berlatih, semua!" Neji memberi perintah. Mereka kembali dengan latihan mereka. Neji mendekati Sasuke dan Sakura. "Latihan disini dibagi atas 3: Gouken, Juuken dan penggunaan senjata. Kau akan dites untuk memutuskan mana yang baik untukmu… Tapi aku menyarankan kau belajar menggunakan gerakan daszr terlebih dahulu. Sakura, kau bisa kan?"
"Ya! Tak masalah. Ayo, Sasuke!!" Sakura menarik tangan Sasuke. Mereka menunju sebuah sasaran kayu. "Baik, ayo kita mulai…"
Sisa hari itu berjalan seperti biasa, namun Sakura merasa mood Sasuke sedang sangat bagus. Dia tidak mengeluarkan tatapan dingin, yang biasanya sering dia keluarkan kalau dia merasa terganggu. 'Apa terjadi sesuatu yang bagus dirumahnya ya? Sejak pagi dia terlihat senang…' Sakura berpikir sambil memberi sentuhan akhir pada lukisannya.
Pelajaran terakhir hari ini adalah pelajaran seni. Mereka diminta melukis dalam pasangan, melukis wajah partner mereka. Mereka diminta melukis bebas dengan model partner lukis mereka. Sakura sendiri melukis Sasuke sedang berdansa di ball, dengan berpakaian tuksedo putih.
"Bagaimana lukisanmu?" Tanya Sasuke. Dia sedang menilai lukisannya sendiri.
"Yah… Sedikit lagi. Bagaimana denganmu?" Sakura balik bertanya. Sasuke masih diam, menilai lukisannya sendiri. Kemudian, dia tersenyum puas dan berkata, "Sempurna. Aku sudah selelsai…"
Sakura jadi tertarik untuk melihat lukisan itu. 'Aku kan modelnya.' Pikirnya. "Hei Sasuke… Boleh aku lihat lukisanmu?" Sasuke memandang lukisannya, lalu ke arah Sakura. Dia berpikir sejenak.
"Jangan. Nanti saja," Katanya. Sakura mau protes, namun Sasuke keburu menyerahkan lukisan itu pada Guru kesenian, Kotetsu. "Ini sensei." Kotetsu melihat lukisan itu dengan seksama, lalu tersenyum.
Dia berkata pelan pada Sasuke. "Perasaanmu terlihat jelas di lukisan ini," Sasuke mencoba tetap pasif. "Apa dia melihatnya?" Sasuke menggelengkan kepala.
"Yah, Siapapun yang melihat ini, pasti tahu kalau yang melukisnya punya perasaan khusus pada modelnnya." Kotetsu tertawa kecil. Sasuke hanya bisa terdiam. 'Aku tidak mungkin memperlihatkan ini pada Sakura.' Dia menggaruk kepalanya.
Sakura yang melihat itu makin penasaran. 'Kotetsu sensei hanya mengajak bicara santai pada murid yang lukisannya menarik perhatiannya… Ukh… Aku ingin lihat…' Dia berpikir. Namun saat Kotetsu mengumumkan bahwa waktu tinggal 10 menit lagi dan yang tidak selesai akan mendapat nilai F, Sakura langsung berkonsentrasi pada lukisannya lagi.
Sakura sedang mengambil buku di loker saat pulang sekolah saat dia teringat sesuatu. 'Sial!! Pensil lukisku tertinggal!!' Dia melihat sekeliling, tak ada seorangpun. Semua orang, termasuk Sasuke sudah pulang. Dia sengaja pulang telat karena mengurus tentang rencana pemotretan pada Seiji di klub koran.
Dia bergegas menuju ruang seni, di depan pintu ada Kotetsu yang baru akan mengunci pintu ruangan seni. "Sensei, tunggu!!" dia berhenti sebentar, mengambil napas. "Ada barang tertinggal, boleh saya masuk dulu?" Kotetsu berpikir sejenak, lalu menyerahkan kunci itu.
"Aku ke ruang kesehatan. Kalau sudah, segera kembalikan padaku disana." Dia bergegas pergi. Sakura memasuki ruang seni, dia segera menemukan pensil lukisnya. Dia bermaksud segera keluar, namun matanya menangkap sesuatu. Lukisan-lukisan hasil karya mereka ada disitu, telah dinilai oleh Kotetsu. Sakura tertarik dan melihat-lihat.
Guru-guru di perguruan ini unik. Banyak yang memiliki latar belakang dan sifat yang tak akan ditemukan pada guru di sekolah lain. Fleksibilitas perguruan ini membuat banyak guru eksentrik berkumpul disini. Namun, mereka menjunjung tinggi kredibilitas sekolah dan kualitas siswa, sebagai rasa terima kasih mereka. Mereka, walau memiliki pandangan dan hobi aneh, namun tidak pernah menyinggung itu dihadapan murid mereka.
Walau banyak berita bahwa Kotetsu itu homoseks, namun dia adalah guru seni yang baik. Itu terlihat dari setiap komentar yang ditulis dibalik kanvas lukisan mereka. Sakura melihat komentar-komentar yang diberikan gurunya di lukisan seluruh murid kelasnya.
Lukisan Naruto, Kiba yang berayun di hutan dengan sulur. 'Jangan menganggap seseorang seperti tampak luarnya.'
Lukisan Kiba, Naruto yang berusaha menyembunyikan nilai-nilai F-nya yang menggunung. 'Kau terlalu vulgar mengeluarkan kelemahan seseorang. Cobalah melihat ke sisi positifnya.'
Lukisan Kotaro. Seiji yang mengintip orang dari jendela gedung bertingkat lima. 'Jangan terlalu memakai imajinasimu. Lebih baik tidak menilai berdasar persepsi personal.'
Lukisan Seiji. Kotaro yang ketahuan memakai baju wanita. 'lebih baik kamu tidak membayangkan sesuatu berdasarkan tampak luar seseorang.'
Lukisan Sakura. 'Cukup sesuai dengan imej model. Namun, cobalah mengganbar berdasarkan sifatnya juga.' Dia tersenyum malu.
Lalu dia melihat lukisan yang dibalik. Di balik kanvasnya, ada nama Sasuke. Namun yang menarik perhatian Sakura adalah komentar yang ditulis Kotetsu.
Tulisan itu berbunyi, 'Kau membaca imej dan Sifat seseorang dengan sangat baik. Namun, cobalah tidak melibatkan perasaan pribadi dalam melukis. Karena perasaanmu terlihat jelas di lukisan ini.' Sakura makin bingung saat melihat judul yang ditulis Kotetsu.
THE DEAREST LOVE
Perlahan, Sakura membalik lukisan itu. Apa yang dia lihat membuatnya terpesona. Dia melihat lukisan seorang wanita, mengenakan gaun hijau muda sedang memandangnya. Dia terlihat beberapa tahun lebih tua dari dirinya, namun dia mengenali rambut pink dan mata hijau itu. Itu adalah Sakura, dalam versi dewasa. Namun, yang membuatnya terpesona adalah senyuman dan mata wanita itu.
Senyumnya sangat lembut, dan matanya memandang dengan cinta yang dalam. Seakan yang sedang dipandangnya adalah orang yang paling dicintainya. Sakura langsung berpikir cepat. 'Komentar itu… Lukisan ini… Ma-masa?' dia segera bergegas pergi. Dia masuk tiba-tiba, mengejutkan Kotetsu yang sedang (Ahem) bermesraan dengan Izumo, pacarnya sekaligus teman dokter sekolah (1). Dia menyerahkan kunci itu dan segera pergi. Namun Kotetsu melihat semburat merah diwajahnya.
"Kenapa dia? Buru-buru sekali…" Tanya Izumo. Kotetsu cuma menghela napas.
'Ternyata dia lihat ya…' dia memandang ke arah jendela. 'Nah, selanjutnya akan bagaimana?'
Sakura bergegas naik ke kamarnya setelah makan. Untungnya, tak ada sorangpun dirumah saat dia pulang, jadi tak ada yang menanyakan apa yang terjadi padanya. Dia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah setiap kali mengingat kejadian tadi. Dia menjatuhkan dirinya ke kasur. 'Kenapa aku begini? Bukan kali ini aku mengetahui bahwa seseorang menyukaiku, namun kenapa sekarang aku berdebar-debar?'
Dia semakin bingung. Baru kali ini dia merasakan perasaannya campur aduk. Dia bingung, marah, kecewa dan senang. 'Kenapa aku bingung? Aku memang agak kesal dan kecewa karena dia mendekatiku karena alasan tertentu, tapi kenapa aku bingung? Dan kenapa aku juga merasa senang?' dia semakin tenggelam dalam pikirannya. Dia kemudian bangun, menuju meja. Dia melihat ke arah catatan kecilnya. Dia membukanya. Dia melihat tulisan-tulisan yang dibuat temannya untuk dirinya.
'Jangan pernah mengubah pandanganmu terhadap seseorang saat dia membuat kesalahan. Manusia tidak sempurna, karena itu berilah kesempatan.'
Dia melihat tulisan lain. 'pelajarilah sesuatu dari seseorang yang lebih tahu.'
Dan tulisan disebelahnya, 'Cinta hanya dapat dimengerti dengan dijalani.'
Sakura berpikir, lalu mendesah. "Aku akan tanyakan tentang ini dengan yang lain besok." Dia mematikan lampu dan langsung tertidur membawa segala kebimbangannya kedalam mimpi.
Bagaimanakah keadaan mereka? Akankah mereka mendekat karena hal ini? Atau justru sebaliknya?
Tunggu chapter berikutnya!!!
saya bikin tokoh Kotetsu kayak Dokter Umeda di Hanazakarino Kimitachie. Homo, iseng dan suka seenaknya. Tapi dia guru yang penuh tanggung jawab dan walaupun dia homo, dia gak bakal biarin muridnya jadi homo juga.
Yah, segitu dulu ya…
Baka Tantei: Seishiro Amane sign out
