Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Yay, chapter 4!!!!
Thanks for your support my reader!!!! Sori agak lama, soalnya banyak tugas kuliah nih, jadi ditunda dulu nulisnya… maaf ya~
Anyway, back to story!!
Baka Tantei Seishiro Amane present…
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 4: THE ANXIETY, SUGGESTION AND DECISION
Sebelumnya…
Sakura berpikir, lalu mendesah.
"Aku akan tanyakan tentang ini dengan yang lain besok."
Dia mematikan lampu dan langsung tertidur membawa segala kebimbangannya kedalam mimpi.
Sakura terbangun keesokan harinya, namun terlihat kelelahan. Dia tak dapat tidur dengan tenang karena terus memikirkan kejadian kemarin. Dia melihat jam, 'Masih jam 06.30' pikirnya. Untung saja dia tidak perlu khawatir akan sekolah, karena hari ini minggu. Dia bangun dan pergi menuju dapur untuk minum. Dia kembali memikirkan apa yang terjadi kemarin. Dia berputar-putar, sesekali memegang kepalanya bingung.
'Apa yang harus kulakukan???' dia semakin larut dalam pikirannya, dia tidak sadar ada yang sedang memperhatikannya dengan wajah bingung.
Beberapa saat sebelumnya…
Kotaro baru saja keluar dari kamar Yuri. 'Dia akhir-akhir ini sering murung… Apa sebaiknya…' dia mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Dia membukanya, lalu mengamati benda itu. 'Ah, aku tanyakan pada yang lainnya dulu.' Dia menuju dapur, dan melihat Sakura sedang berputar-putar, berhenti hanya untuk memegangi kepala sambil menggeleng-geleng. 'Apa ini? ritual?' pikirnya.
Mereka sibuk dalam pikiran masing-masing sampai Yuri datang ke dapur. Dia melihat mereka, lalu tertawa. Sakura yang terlihat seperti sedang melakukan ritual, dan Kotaro yang bengong melihatnya adalah sesuatu yang jarang terjadi.
Mereka yang mendengar tawa Yuri tersadar. "Kenapa kalian?" Tanya Yuri disela-sela tawanya. Sakura Cuma bisa salah tingkah, sedangkan Kotaro mengangkat bahunya.
"Aku memperhatikannya karena kukira dia melakukan suatu ritual. Aku pernah lihat ini di Google." Jawab Kotaro simpel. Mereka tertawa, lalu segera menyiapkan sarapan. Baik Kotaro maupun Yuri menyadari ada yang aneh dengan Sakura.
"Sakura? Ada apa? Kau aneh hari ini?" tanya Yuri khawatir. Kotaro memberi Sakura pandangan 'Katakan-yang-terjadi'. Sakura menghela napas.
"Tidak apa-apa… Aku… Cuma bosan." Elaknya. Namun mereka tahu kalau itu hanya alasan.
"Jangan bohong, Sakura. Kau itu tak bisa berbohong." Jawab Yuri, masih dalam mode keibuan. Sakura mendesah.
"Aku… belum ingin membicarakan ini. Tak apa kan, Onee-san?" Jawabnya dengan pandangan memohon. Yuri, yang sedang keluar sifat keibuannya mengangguk. Kotaro menghela napas, 'Walau dia tak bisa bohong, dia tahu cara memanfaatkan situasi untuk lolos.' Sakura bengkit dari kursinya.
"Nee-san, hari ini ada acara apa? Aku ingin pergi ke tempat teman hari ini." Katanya.
"Hari ini… mungkin tak ada. Hati-hati, Sakura." Jawabnya saat Sakura pergi ke kamar untuk ganti baju. Yuri lalu memandang Kotaro.
"Kota-kun…" dia memandang dengan lembut. Kotaro mendesah, mengangguk. Yuri tersenyum, memeluknya. "Terima kasih, Kota-kun." Dia berkata.
"Oke… Aku akan ambil motorku dulu." Kata Kotaro, pergi keluar. Dia segera bergegas berganti baju dan mengambil motornya. 'Dasar… kakak yang khawatiran.' Dia tersenyum.
Sakura turun dari lantai 2, disambut Yuri yang memberikan jaket padanya. Sakura bingung, namun segera mengerti saat melihat Kotaro yang sedang duduk diatas motornya. "Dia memintaku. Makanya, cerita apa yang terjadi." Kata Kotaro singkat. Sakura hanya tertawa grogi.
Saat Nadeshiko keluar dari kamar, mereka telah pergi. Dia bertanya dengan Yuri. "Kenapa Sakura pergi dengan Kotaro? Bukannya kalian semestinya ada rencana pergi hari ini?" Yuri terdiam sejenak.
"Sakura… sepertinya ada masalah. Aku khawatir, jadi aku meminta Kotaro mengawsinya agar dia tidak melakukan yang tidak-tidak." Jawabnya. Nadeshiko tertawa. Dia mengacak-acak rambut yuri.
"Tenanglah, dia tak akan melakukan apapun. Dia itu tahu batasan. Paling dia pergi ke tempat orang yang tahu cara memecahkan masalahnya. Dasar terlalu khawatiran, kamu ini," Yuri cuma diam. "Sudah, aku lapar. Mana sarapannya?" tanya Nadeshiko. Mereka pun segera masuk ke dapur.
Sakura kini tengah berdiri di depan pintu sebuah kamar di apartemen besar. Dia terdiam sesaat, lalu menekan tombol bel. Dia dan Kotaro menunggu di depan pintu apartemen. Dari dalam, ada suara-suara ramai. Ada barang yang jatuh, ada teriakan dan langkah kaki mendekat ke arah pintu. Terdengar suara jatuh dan umpatan pelan, lalu pintu dibuka. Seorang wanita, bermata ungu muda dengan rambut merah keemasan menyambut mereka. Dia membetulkan sweater hijau yang dikenakannya, sambil mengusap bahunya yang terbentur.
"Hei Sakura, Kotaro!!! Lama tak bertemu!!!" Wanita itu tersenyum. Dia mengajak masuk Kotaro dan Sakura. Suasana di apartemen itu berantakan. Masih banyak kardus-kardus yang belum terbuka, perabotan yang sebagian masih berserakan. Baju-baju yang belum dimasukkan kemari, dan masih banyak lagi. Ada seorang pria besar sedang tidur di atas sofa. Wanita itu bergegas ke sana, membangunkannya. "Bangun!!! Ada tamu!!!" Laki-laki itu terbangun, mengerjapkan matanya. Dia baru sadar sepenuhnya saat melihat sekitar.
"Hei, kalian… Kapan datang? Maaf, masih berantakan…" Lelaki itu berkata. Sakura menggelengkan kepalanya.
"Kamilah yang harus minta maaf… Datang tiba-tiba, padahal kalian baru saja pindah kemari. Apa kabar, Chouji-niisan dan Hibari-neesan?" Sakura menjawab dengan ramah. Kotaro mengangguk.
"Yah, masih sama dengan sebelumnya, Sakura…" Chouji menjawab sambil membereskan sofa. "Ayo duduk, akan kubawakan teh." Chouji mempersilakan Sakura dan Kotaro duduk, lalu dia menghilan di dapur. Sakura kembali tenggelam dalam pikirannya. Hibari segera mengetahuinya saat melihat wajah murung Sakura.
"Sakura? Ada apa? Kau kelihatan bimbang… Apa sesuatu terjadi?" tanya Hibari. Sakura terdiam, bingung harus mulai dari mana.
"Dia sudah begini sejak pagi… Membuat Yuri khawatir sampai menyuruhku menemaninya agar dia tidak berbuat yang aneh-aneh…" Kata Kotaro. Sakura menggumamkan 'maaf' pada Kotaro. "Ah, tak apa. Tapi, ceritakan masalahmu… Kami tak akan tahu apa yang terjadi kalau kau memilih tetap diam." Lanjutnya.
"Kotaro benar, Sakura. Kamu harus menceritakan pada kami apa yang terjadi… Bukankah kita semua sahabatmu?" kata Hibari. Sakura merenung sejenak, lalu memandang Hibari.
"Aku… Datang kesini untuk minta saran Oneesan… Karena aku bingung harus bagaimana. Begini ceritanya…"
Sasuke berjalan menuju mobilnya. Dia bermaksud untuk pergi kerumah Sakura. Dia kali ini memilih mobil BMW untuk dikendarai. 'Ini tidak mencolok kan?' Pikirnya. Entah kenapa, dia merasa gugup. 'tenang, Sasuke. Kau hanya berkunjung, lalu mengajak Sakura pergi. Ini bukan kencan… Cuma jalan-jalan. Ya, hanya jalan-jalan saja.' Pikirnya menenangkan diri. Dia mengenakan celana jeans pudar dan kaos, dengan jaket hitam diluarnya.
Dia pun menaiki mobilnya, segera melaju menuju ke rumah sakura. Dari rumah, kedua orang tua dan kakak Sasuke melihat kepergiannya dengan terpana. Mereka terpana karena, Sasuke Uchiha yang asosial itu pergi bermain. Mereka jelas tidak menyangka bahwa dia akan berubah sampai sejauh ini. Dia sebelumnya bahkan jarang berbicara dengan orang luar, bagaimana dia bisa punya teman? Mereka melihat lagi sekilas, sebelum masuk untuk memberithukan kabar ini pada anggota keluarga lainnya.
Sasuke melaju dengan kecepatan sedang. Dia sedang berpikir sambil memandangi tiket nonton yang di taruh di dashboard mobil. 'Apa yang sebaiknya kukatakan padanya? Ah, bilang saja ini punya kakakku, lalu dia batal pergi… Ya, bilang itu saja.' Dia berbelok ke arah perumahan tempat Sakura tinggal.
Dia pun sampai di rumah Sakura. Dia menarik napas panjang, lalu menekan bel. Tak lama kemudian, Yuri membuka pintunya. "Ada perlu apa, Uchiha-san?" Katanya. Sasuke menelan ludah, namun dia tetap bertekad.
"Sakura ada? Aku bermaksud mengajaknya pergi…" wajahnya sedikit merah. Yuri tersenyum melihatnya.
"Sakuranya sedang pergi…" Sasuke kecewa mendengarnya. Namun, saat dia bermaksud pergi Yuri menarik tangannya. "Kau mau ikut kesana? Kebetulan aku juga mau kesana…" Sasuke berpikir sejenak, lalu menganguk.
Yuri bergegas masuk, lalu keluar lagi tak lama kemudian. Mereka masuk mobil Sasuke. Mereka berdua terdiam, hanya bicara untuk menanyakan jalan. Sasuke akhirnya buka suara, "Sebenarnya, kita mau kemana?" Yuri terdiam sesaat.
"Kita mau ke tempat tinggal teman Sakura yang bernama Hibari Akimichi dan Chouji akimichi… Mereka sering dimintai nasehat karena mereka teman Sakura yang palig tua, sih." Yuri menjelaskan.
"Saudara?" tanya Sasuke.
"Bukan." Jawab Yuri. Dia memandang jalanan.
"Menikah?" Alis Sasuke naik. 'Sakura punya teman yang sudah menikah?'
"Baru tunangan. Tapi mereka sudah tinggal bersama sejak 3 tahun lalu, sebelum bertunangan," Yuri menjawab. Sasuke mengerem mendadak. Dia memberi tatapan 'aku-tidak-percaya' pada Yuri. "Aku tidak bohong… Ayo jalan lagi." Kata Yuri.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang dimaksud.
"…Begitu ceritanya…" Sakura menyelesaikan ceritanya. Dia kini terdiam, menanti jawaban Hibari. Baik Kotaro maupun Chouji terpana mendengar cerita Sakura. Hibari mencerna semua Informasi yang diterima. Dia menyesap tehnya.
"Oke… Jadi kamu bingung karena kamu tahu bahwa dia jatuh hati padamu…" Dia terdiam sejenak. "Errr… Sakura, apa kamu tertarik padanya?" Sakura Menumpahkan tehnya. Kotaro kagum dengan cara Hibari menanyakan hal itu. 'Hibari memang selalu tanpa basa-basi.' Pikir mereka.
"A-apa maksudmu? Dia memang baik, juga hangat walau terlihat dingin diluar. Dia juga ramah, walau jarang bicara. Tapi…" Sakura terdiam. Hibari menggelengkan kepalanya.
"Ya. Kau tertarik padanya. Karena itu kamu bingung saat mengetahui bahwa dia jatuh hati padamu. Di satu sisi, kamu senang karena tahu dia suka padamu. Di sisi lain, kamu kecewa dan sedih, karena berpikir bahwa dia mendekatimu bukan untuk berteman, namun karena dia menyukaimu, seperti semua lelaki yang mendekatimu. Aku betul kan?" Sakura tak mampu membantah.
"Lalu… Aku harus bagaimana?" tanya Sakura kemudian. Hibari terseyum.
"Berlakulah seperti biasa. Dia, kalau melihat ceritamu adalah orang kuat. Kakak-kakakmu mungkin sudah tahu tentang perasaannya, dan sudah bergerak. Namun, dia tetap berada disampingmu, kan? Itu bukti bahwa perasaannya kuat. Yang perlu kau lakukan hanya berlaku normal padanya, sambil mencoba mengenalnya." Kata Hibari.
"Apa aku tak perlu menanyakan tentang perasaannya?" tanya Sakura. Hibari menggeleng.
"Dia belum mengatakannya, mungkin karena 2 hal. Mungkin dia perlu keesiapan hati, atau mungkin dia ingin hubungan ini berjalan seperti ini dahulu, mengenalmu dulu. Kau pun bisa mulai mengenalnya, baru memutuskan perasaanmu sendiri." Jawabnya, sambil mengelus kepala Sakura.
"Tapi… Apa dia serius suka padaku? Aku tidak tahu tentang hal itu…" kata Sakura. Hibari tertawa.
"Lihat di matanya. Kalau dia memandangmu dengan hasrat atau memandang tubuhmu, dia mungkin cuma tertarik pada fisikmu. Kalau dia memandang langsung ke arah matamu, dengan lembut… Mungkin kamu boleh berharap," Jawabnya lagi. "Tenanglah Sakura… Kalau kakakmu belum bertindak lebih jauh lagi, mungkin dia memang serius." Dia menenangkan Sakura.
"Jadi… bersikap seperti biasa, ya?" Sakura bergumam. Hibari mengangguk. Kotaro terpana, dia kemudian memandang Chouji.
"Dia memang bisa diandalkan kan?" Kata Chouji ringan. Mereka tertawa, lalu kembali sibuk berbenah. Sakura dan Hibari pun membantu mereka. Mereka membereskan kamar, menaruh perabotan, membersihkan ruangan, dan masih banyak lagi.
Tiba-tiba, bel berbunyi. Sakura segera menuju pintu, karena yang lain sedang sibuk mengangkat kardus. Dia membuka pintu, terkejut melihat orang yang ada di depan pintu. Dia terdiam, bingung untuk sesaat. "Sakura, kamu tak apa?" tanya orang itu khawatir. Sakura teringat apa yang baru dikatakan Hibari.
Dia menggeleng, lalu tersenyum lembut. "Tak apa, Sasuke. Aku cuma kaget kau bisa ada disini. Silakan masuk…" Dia mempersilakan Sasuke dan Yuri masuk. "Yu-neesan yang memberi tahu tempat ini ya?" tanyanya. Yuri mengangguk.
Mereka masuk ke dalam apartemen, disambut oleh Hibari. "Ayo-ayo!!! Silakan masuk!!! Halo Yuri… Err… kamu?" tanyannya pada Sasuke.
"Sasuke Uchiha," Jawabnya. Hibari langsung mengangguk-angguk. Mereka duduk di sofa. "Maaf kalau kami mengganggu." Kata Sasuke. Hibari menggeleng.
"Ah, tidak apa-apa… Ini semestinya sudah beres dari kemarin… Tapi…" wajahnya memerah. "Yah, anggap saja banyak yang terjadi, membuat kami menunda membereskan barang." Katanya, mengalihkan perhatian.
"Bermesraan ya? Dasar kalian ini…" Kotaro muncul dari dalam kamar. Hibari dan Chouji langsung salah tingkah, begitu pula dengan Sakura dan Sasuke.
"Kota-kun… Jangan bicara segamblang itu… Kamu ini tak mengenal kiasan ya?" Yuri menasehati. Kotaro cuma angkat bahu. Yuri pun berdiri. "Oke, aku juga akan membantu… Hibari, mana yang harus dibereskan?" Tanya Yuri, menggulung lengan bajunya.
"Eh, apa tak apa?" tanya Hibari. Dia terlihat tidak enak pada yang lain. Sasuke pun berdiri.
"Tak apa. Aku juga akan membantu." Katanya. Hibari saling pandang dengan Chouji sejenak, lalu tersenyum.
"Oke!!! Yang wanita, ikut aku. Chouji akan membantu yang laki-laki. Ayo kita mulai!!!" Katanya penuh semangat. Chouji hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala. Mereka pun mulai membereskan apartemen tersebut.
"Jadi… Kau tertarik pada Sakura?" tanya Chouji disela-sela kegiatan. Mereka sedang memindahkan perabotan elektronik. Sasuke yang kaget nyaris melepas pegangannya dari TV yang diangkatnya bersama Kotaro. Dia memandang Chouji panik. Chouji tertawa. "Tenang… Dia tak tahu. Aku hanya menebak dari caramu memandang Sakura." Elaknya.
Sasuke terdiam beberapa saat, lalu bertanya "Apa terlihat dengan jelas ya? Ada yang pernah bilang seperti itu juga padaku." Chouji mengangguk. Kotaro menggelengkan kepalanya.
"Sangat jelas, tahu. Untungnya, karena sikap cool yang selalu kau perlihatkan di sekolah, banyak yang tidak sadar akan hal itu. Tapi, saat diluar sekolah kau memperlihatkan perasaanmu dengan jelas. Kami yang ada disekitar Sakura saat tidak di sekolah jadi tahu juga." Jelas Kotaro. Sasuke tersentak mendengar itu.
Sasuke berpikir, lalu sesuatu menyadarkannya. Kotaro yang tahu apa yang dipikirkan oleh Sasuke memotongnya sebelum Sasuke sempat bertanya. "Sakura tidak tahu, setidaknya belum," Sasuke menghela napas lega mendengarnya. "Kapan kau akan bilang padanya? Seharusnya kamu segera bilang padanya." Lanjutnya. Alis Sasuke mengerut.
"Kau sendiri, kapan kau 'meresmikan' hubungan kalian?" Dia berharap Kotaro menjadi salah tingkah dan terdiam, namun Kotaro malah tersenyum.
"Dalam waktu dekat, mungkin," Katanya. Dia kemudian menunjukkan pada mereka sesuatu. "Aku sudah mempersiapkan ini. Tinggal menunggu saat tepat untuk memberinya." Sasuke terpana melihat benda itu.
"Kau tetap pintar memilih barang, ya. Bisa-bisanya dapat yang sebagus itu…" Kata Chouji. Kotaro tertawa kecil. Sasuke menyetujui kata-kata Chouji.
"Itu bukan sesuatu yang bahkan bisa kita temui setiap hari… Kau pintar memilih barang, Kotaro," Kata Sasuke. Kemudian, dia teringat percakapan dengan Yuri di mobil tadi. "Ngomong-ngomong, katanya kalian tinggal bersama, walau belum menikah?" Tanya Sasuke pada Chouji.
Chouji mengangguk, "Ya. Aku memang belum menikah dengan Hibari. Aku mengenal Hibari sejak masih SMP. Dia adalah guru privatku," Jawabnya. Sasuke terkejut mendengarnya. Chouji cuma tertawa melihatnya. "Ini bukan semacam cinta terlarang guru-murid… Aku mulai dekat dengannya setelah aku masuk SMA, dan dia bukan lagi guruku." Lanjutnya.
"Yang membingungkan aku bukan itu… Kalian, umur kalian berapa sebenarnya?" tanya Sasuke. Chouji mengangguk-angguk.
"Tahun ini aku berumur 20. Sedangkan Hibari, bulan depan akan berulang tahun ke-23." Jawabnnya. Sasuke terkejut mendengarnya. Dia hanya bisa terdiam. Kotaro tertawa melihatnya.
"Tapi… Yuri-oneesan bilang kalian sudah tinggal bersama sejak tiga tahun lalu…" Kata-katanya terputus. Chouji hanya tersenyum.
"Yah, itulah enaknya punya orang tua fleksibel. Orang tuaku tidak mempersalahkan itu. Orang tua Hibari juga sama. Jadi… Kami langsung tinggal berdua," Chouji menyelesaikan ceritanya. Sasuke terpana mendengarnya, sedangkan Kotaro cuma menyeringai.
"Hei… Kau belum menjawab pertanyaanku… Kau Suka pada Sakura?" Sasuke memandang ke arah lain, namun mengangguk. "Dia kadang terlalu polos… jadi maklumi saja." Kata Chouji. Sasuke kembali mengangguk. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka.
Mereka sedang duduk di ruang tamu yang telah dibereskan. Pekerjaan membereskan apartemen telah selesai. Kini mereka tengah beristirahat ditemani segelas the dan makanan kecil. "Jadi, kamu ada perlu apa sampai datang kemari?" tanya Sakura. Sasuke terdiam sejenak. Dia menarik napas perlahan.
"Aku… ingin mengajakmu pergi jalan-jalan… Lalu nonton, kalau kau tak keberatan…" kata Sasuke. Sakura memandang mata Sasuke. Dia menyadari, bahwa Sasuke, walau malu-malu, memandang matanya lekat-lekat. Dia tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita pergi!!!" katanya penuh semangat. Sasuke terdiam, lalu mengangguk. Sakura memberi tahu Hibari yang ada di dapur, "Hibari… Aku duluan ya!!!" Hibari mengangguk. Dia segera menarik lengan Sasuke. "Ayo." Sasuke menurutinya.
Setelah berpamitan, Sasuke dan Sakura turun dari Apartemen, menuju tempat parkir. Mereka mengobrol akan kemana mereka pergi. Dari jauh, yang lain memandang dengan pikiran masing-masing. Mereka sekali lagi melambai, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil BMW itu pun segera melaju pergi.
Kotaro dan Chouji memutuskan pergi kebawah untuk membeli jus. Mereka mengobrol ringan selama perjalanan, membuat mereka agak lama untuk kembali ke kamar apartemen Chouji yang ada dilantai 5, walau mereka menggunakan lift. Namun, mereka disambut pemandangan yang tidak biasa saat kembali.
Yuri dan Hibari sedang berdebat tentang sesuatu. Mereka berbicara agak keras, walau tidak berteriak. Chouji dan Kotaro segera melerai mereka. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Chouji pada Hibari.
Hibari mendengus kesal. "Tanya padanya!!!" katanya sambil menunjuk Yuri. Yuri mencibir pada Hibari.
"Yuri, ceritakan padaku. Sekarang." Kata Kotaro. Yuri masih mencibir pada Hibari, namun mengatakan apa yang terjadi. "Aku menelepon Nade-neechan dan yang lain… Memberi tahu bahwa Sakura pergi dengan Sasuke. Dia tiba-tiba marah-marah." Katanya kesal. Kotaro langsung mengerti apa yang terjadi.
"Memangnya kenapa?" tanya Chouji, masih belum mengerti kenapa hal itu membuat Hibari marah.
"Karena, kalau mereka tahu, pasti Sasuke jadi bulan-bulanan kumpulan orang kurang kerjaan itu. Mereka masih belum memulai apa-apa dan mereka sudah mencoba menghancurkan kesempatan itu. Tentu saja aku marah!!!!" Hibari menjelaskan. Chouji langsung mengerti dan memandang Kotaro. Kotaro hanya angkat bahu.
"Apa tak ada yang bisa kita lakukan?"
"Kita cuma bisa berharap mereka tak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh."
"Sasuke… kau masih harus menghadapi rintangan panjang."
Mereka menghela napas.
Apakah yang menanti Sasuke? Akankah kencan ini berkhir bencana?
Tunggu chapter selanjutnya yaa……
Maaf buat komen yang ga sempet dibales… saya lagi sibuk ama tugas kuliah en UTS. Cerita ini juga jadi agak telat di update deh…
Maaf ya…
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
