Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Hore, chapter 5!!!!!!!!
Wah, gak nyangka ampe dapet 66 komen (asal ga jadi 666 aja, serem oi…), makasih yah semuanya…
Ini adalah filler chapter untuk chapter berikutnya... jadi harap maklum kalo pendek... anggep aja ini sebagai 'prolog' buat chapter depan...
Anyway, back to story.
Baka Tantei Seishiro Amane present…
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 5: THE COUSIN'S SECOND STRIKE PART 1 (SPYING IN MOVIE; PROLOG)
Sebelumnya…
"Aku menelepon Nade-neechan dan yang lain… Memberi tahu bahwa Sakura pergi dengan Sasuke."
"Apa tak ada yang bisa kita lakukan?"
"Kita cuma bisa berharap mereka tak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh."
"Sasuke… kau masih harus menghadapi rintangan panjang."
Mereka menghela napas.
Mereka sedang berada di pusat pertokoan Shinjuku. Sakura sedang melihat-lihat tas baru, sedangkan Sasuke menemaninya dengan ekspresi minim. 'Cewek memang suka belanja ya…' pikirnya. Mereka melewati salah satu toko saat Sasuke melihat orang yang familiar dimatanya.
Dia memfokuskan pandangannya. Sakura yang melihat itu ikut memandang ke arah yang sama. Dia tersenyum, lalu memanggil orang itu. "Naruto, Hinata!!!" Kedua orang itu menoleh, lalu membalas panggilan Sakura sambil mendekati mendekati mereka.
"Sakura, sedang kencan ya?" tanya Hinata polos. Pertanyaan itu membuat Sasuke dan Sakura bersemu merah. Naruto tertawa, lalu memeluk Hinata. "Eh? Kenapa?" tanyanya. Naruto hanya geleng-geleng kepala.
"Jangan menanyakannya secara langsung, Hinata-chan… Mereka jadi salah tingkah, tuh. Ngomong-ngomong, kalian mau kemana habis ini? Bagaimana kalau kita makan dulu?" Kata Naruto. Dalam hati, Sasuke berterima kasih pada Naruto yang mengganti subjek pembicaraan.
"Kami mau nonton film di bioskop dulu… Kalian sendiri, sedang apa?" Tanya Sakura. Naruto menunjuk ke arah Hinata.
"Dia bersikeras membelikanku setelan jas lagi untuk pertemuan keluarga Hyuuga. Dasar… Padahal yang lama tidak apa-apa." Hinata memandang Naruto agak kesal.
"Kamu harus tampil bagus hari itu. Ayah itu sangat teliti. Dia bisa mencecarmu kalau kamu memakai baju yang itu-itu saja… Aku ini sedang menyelamatkanmu dari ayah, tahu." Dia berbicara dengan kesal. Naruto mengelus kepalanya.
"Mana? Coba aku bantu…" kata Sakura. Mereka pun sibuk dengan memilih-milih jas, sedangkan Naruto dan Sasuke berdiri diluar. Naruto bertanya pada Sasuke.
"Mau nonton apa, Sasuke?" Sasuke mengangkat alis karena orang yang baru dikenalnya memanggilnya seakan mereka kenal sudah lama.
"Mungkin Film romantis atau semacamnya." Jawabnya. naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak setuju dengan Sasuke.
"Sakura bukan pecinta romance… Kau hanya akan membuatnya bosan, Sasuke. Lebih baik, kau ajak dia nonton Clash of The Titans, soalnya dia penyuka film action dan film mitologi. Yang 3D, kalau bisa," Kata Naruto menyarankan Sasuke. Sasuke menatapnya bingung. Naruto berkata lagi, "Dia itu tak seperti tipe wanita pada umumnya… Dia suka bela diri, juga suka legenda, mitos dan fantasi. Percayalah, kau akan membuatnya senang, Sasuke." Lanjut Naruto.
Sasuke ragu akan saran itu. "Apa kau bisa dipercaya?" tanyanya. Naruto tertawa.
"Aku dan Shikamaru ini sudah berteman dengan Sakura sejak dari TK… Aku sudah hapal semua kelakuan, kebiasaan dan kesukaan Sakura. Percayalah!" dia tersenyum lebar. Sasuke berpikir sejenak.
"Terima kasih atas sarannya." Kata Sasuke. Naruto menggelengkan kepalanya.
"Akulah yang harus berterima kasih. Kalau tak bertemu kalian, mungkin aku masih harus berkutat dengan setelan-setelan jas itu… mungkin, sekitar satu atau dua jam lagi." Jawab Naruto. Sasuke mengangguk mendengarnya. Dia juga sering mengalami itu saat berpergian ke Mall dengan ibunya.
Setelah mendapat masukan dari Sakura, Hinata memilih setelan jas berwanra perak. Setelah Naruto membayar, mereka keluar dair pertokoan dan berpisah. Sasuke mengajak Sakura ke bioskop. Ternyata, seperti yang dikatakan Naruto, Sakura lebih memilih film Action. Sasuke diam-diam berterima kasih pada Naruto.
"Sakura!" sebuah suara memanggil Sakura, membuatnya menengok saat menunggu teater tempat mereka akan menonton dibuka. Sasuke ikut menengok, mengenali orang yang memanggil. Neji dan Tenten datang, diikuti Shikamaru dan Ino. "Kalian mau nonton juga?" tanya Tenten. Mereka bertiga langsung mengobrol. Shikamaru dan Neji berjalan ke arah Sasuke.
"Ternyata kau berani juga, ya…" Kata Shikamaru, membuat Neji memandang Shikamaru bingung. "Kau tahukan, Neji… Tentang kakak-kakak Sakura yang menyusahkan." Lanjut Shikamaru. Neji mengangguk, mengerti maksud Shikamaru. Sasuke menghela napas. Dia sendiri heran kenapa dia bisa bertahan.
"Kalian ingin pergi makan malam ya, habis menonton?" Tanya Shikamaru. Sasuke mengangguk. "Aku beri saran. Jangan pergi ke restoran eropa. Sakura dibesarkan dengan makanan semacam itu, dan baginya itu tidak berkesan sama sekali. Coba ajak dia ke restoran Cina atau India. Dia menganggap makanan dari tempat itu unik dan enak." Shikamaru berkata.
"Apa benar?" tanya Sasuke. Dia bukannya tidak percaya, hanya memastikan. Kali ini, Neji yang angkat bicara.
"Itu benar,Uchiha. Aku pernah dengar dia mengajak Tenten pergi ke Restoran India di dekat rumahku. Dia memang menyukai makanan timur tengah." Sasuke mencerna kalimat Neji. Dia tersenyum.
"Terima kasih saran dan masukannya, Shikamaru, Neji." katanya. Shikamaru dan Neji menggeleng.
"Kami juga harus berterima kasih. Kalau Sakura tidak datang, mungkin mereka masih ribut mau menonton film yang mana. Di kelompok mereka, Sakura itu si pembuat keputusan." Kata Neji. Shikamaru menggumamkan 'Wanita menyusahkan' sambil memandang para wanita yang kini mendekati mereka.
Mereka telah memutuskan menonton film apa, dan mulai menarik pasangan mereka, meninggalkan Sakura dan Sasuke. Lalu, mereka mendengar pengumuman bahwa teater tempat mereka akan menonton telah dibuka. "Ayo!!" Sakura menarik lengan Sasuke. Mereka memasuki teater, tak menyadari bahwa ada empat pasang mata memperhatikannya.
Nadeshiko sedang bergelung dengan nyaman di kasurnya saat telepon rumahnya tiba-tiba berdering. 'Ukh... dasar orang tak tahu diri..." pikirnya. Baginya, hari libur berarti hari bermalas-malasan. Setelah bekerja selama 5 hari dalam seminggu, dia membutuhkan istirahat dan hiburan seharian. Dia mengangkat telepon dengan malas. "Halo... kediaman Haruno disini."
"Nade-chan!!! Ada berita gawat!!!" Orang yang ada di seberang telepon berteriak. Nadeshiko harus menjauhkan telinganya agar dia tidak tuli. Dia mebalas dengan kasar.
"Heh!!! Aku tidak tuli, bodoh!!! Cepat katakan apa yang gawat, Kage-baka!! Atau, akan kututup teleponnya!!!" dia balas berteriak. Mereka terdiam sesaat. Kagerou melanjutkannya dengan lebih tenang sekarang.
"Kau dengar berita dari Yuri? Bocah sialan itu mengajak Sakura berkencan!!! Kita harus mmencegahnya!!!" Kagerou berkata serius. Nadeshiko bingung sesaat, lalu menepuk keningnya.
"OH!!! Ternyata Yuri menelepon untuk itu?" dia berkata. Kagerou segera berbicara lagi.
"Bagaimana kau bisa tidak menyimak hah? Apa kamu tidak peduli pada Sakura?" alis Nadeshiko berkerut. Dia balas berteriak.
"Kau pikir gara-gara siapa aku sampai harus lembur sampai jam 3 pagi, HAH?! Jangan bilang kau lupa, atau aku akan memotong gajimu!!!" Kagerou sedikit merinding mendengarnya. 'Nade-chan yang kurang tidur menyeramkan!!!' Dia segera mengalihkan perhatian.
"Sakura sekarang sedang berkencan dengan bocah itu!!! Memangnya, tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan 'berbuat' yang tidak-tidak kan?" katanya. Perkataan Kegerou membuat Nedeshiko tersadar. Dia segera berkata pada Kagerou.
"Kage-chan, kita segera ke sana. Hyou-san dan mo-kun sudah diberi tahu kan? Kau juga tahu tempatnya, kan?" kata Nadeshiko serius. 'Tak akan kubiarkan bocah brengsek itu berbuat seenaknya!!!" Pikirnya.
"Hyouga dan Momiji sudah diberi tahu. Aku sudah tahu tempatnya... Kan sudah diberi tahu Yuri..." dia berkata. Nadeshiko tertawa gugup. 'Aku harus lebih fokus saat orang meneleponku.' Katanya dalam hati. "Kau ikut tidak? Sepertinya kau lelah..." Kata-kata Kagerou dipotong oleh Nedeshiko.
"Aku ikut. Lihat saja, Uchiha... Akan kupotong lehermu kalau sampai terjadi apa-apa pada Sakura... Hihihihihihihi...." Dia mengeluarkan tawa ala penyihir, membuat Kagerou merinding.
Dia, untuk sesaat merasa tindakannya menelepon Nadeshiko adalah hal yang buruk. Walau dia tidak suka dengan Sasuke, tapi dia sebenarnya bukan pecinta kekerasan. 'Aku sedikit bersimpati padamu, bocah.' Pikirnya. Dia menutup telepon, bergegas mengambil kunci mobilnya.
Mereka memasuki teater yang sama dengan Sasuke dan Sakura. Momiji dan Nadeshiko menyamar sebagai pasangan, sedangkan Kagerou, dengan keahlian make-upnya, dengan Hyouga menyamar sebagai kakak-adik. Namun, penyamaran mereka diketahui si jenius pemalas sesaat sebelum mereka memasuki teater. "Dasar orang-orang menyusahkan.." katanya.
Kekasihnya menengok padanya. "Kenapa, Shika-kun? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ino. Shikamaru menggeleng. "Kalau begitu, ayo!!" Dia mengamit lengan Shikamaru. Shikamaru sekali lagi melihat ke arah pintu teater yang telah ditutup.
'Semoga kau selamat, Sasuke Uchiha....' Pikirnya, lalu berlalu bersama Ino menuju teater tempat mereka akan menonton.
Di dalam teater...
Sasuke diam-diam berterima kasih pada Naruto. Seperti yang dikatakannya, Sakura sangat antusias menonton film itu. Dia menatap mata zamrud yang berbinar itu dengan lembut. Sakura menengok padanya, membuatnya salah tingkah. "Terima kasih, Sasuke... Aku sangat senang kamu mau mengajakku nonton film ini. Habis, biasanya aku sendirian kalau menonton film... karena seleraku beda dengan anak perempuan kebanyakan..." Katanya agak sedih.
Sasuke langsung memegang tangan Sakura. "Sudahlah... Lebih baik kita mulai menonton saja." katanya. Dia sedikit bersemu merah saat memegang tangan Sakura. Sakura yang wajahnya memerah hanya mengangguk.
Tak jauh dari mereka, ada empat orang yang memperhatikan mereka. Walau tidak terlihat, namun mereka sedang murka pada Sasuke.
"Bocah itu..." ujar lelaki berambut merah kejinggaan itu.
"Sudah dipastikan. Dia akan mati hari ini." kata wanita berambut pink disebelahnya.
"Kita habisi sekarang?" tanya lelaki berambut kuning kecoklatan, yang menyamar sebagai wanita.
"Jangan! Tunggu sampai mereka keluar... setelah itu... terserah kalian." ujar lelaki berambut biru kehitaman itu.
Mereka berempat tersenyum mengerikan. Mereka memikirkan satu kalimat yang sama dalam pikiran mereka.
'Sasuke Uchiha, bersiaplah.'
Wai!!!! Hidup Sasuke dalam bahaya!!! Apakah hidupnya akan berakhir ditangan sekumpulan kakak yang marah?
Tunggu chapter berikutnya ya...
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
