Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap permata pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Chapter 5~!!!! Maaf kalo lama.... soalnya saya lagi sibuk banget.... ditambah lagi, susah mencari ilham buat nulis lemon....
Warning 2: slight Yaoi... mungkin... ama incest juga kayaknya....
Lanjut ke cerita...
Baka Tantei Seishiro Amane present....
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 5 PART II: THAT MAN S SECRET
Sebelumnya
"Bocah itu..." ujar lelaki berambut merah kejinggaan itu.
"Sudah dipastikan. Dia akan mati hari ini." kata wanita berambut pink disebelahnya.
"Kita habisi sekarang?" tanya lelaki berambut kuning kecoklatan, yang menyamar sebagai wanita.
"Jangan! Tunggu sampai mereka keluar... setelah itu... terserah kalian." ujar lelaki berambut biru kehitaman itu.
Mereka berempat tersenyum mengerikan. Mereka memikirkan satu kalimat yang sama dalam pikiran mereka.
"Sasuke Uchiha, bersiaplah."
Sejak mereka masuk, Sasuke merasakan bahwa mereka diawasi. Bahkan, dia merinding tanpa alasan yang jelas. Apa empat bersaudara itu ada disini? Kalau ada, pasti duo Kota-Yuri itu yang memberi tahu... Sasuke diam-diam memandang sekeliling. Matanya menangkap sesuatu yang dikenalnya. Sekilas, dia hampir tak mengenali wanita itu, sampai dia melihat baju terusan yang dipakainya. Dia teringat pembicaraan mereka saat dia didandani untuk mencoba baju untuk model iklan pembukaan restoran itu...
2 minggu sebelumnya...
"Hmmmph!!!" Sasuke yang terikat dan disumpal hanya bisa menggeliat saat mereka mulai membicarakan kostum.
"Hmm... Kita lihat dulu... Kulitnya putih, tapi pucat..." Kagerou sibuk memilih kosmetik.
"Kau memang bos Agensi artis yang hebat, ya... Yang semacam itu bisa tahu..." Kata Hyouga. Kagerou mendengus.
"Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang juga mampu mengerjakan pekerjaan bawahannya.... Lagipula, dunia keartisan itu tidak pasti. Ada saja kejadian-kejadian yang tak diinginkan, yang membuat kita terpaksa turun tangan juga." Katanya. Dia sedang memilih barang saat Nadeshiko bersorak.
"Wah!!!! Ini kan baju terusan rancangan Orochimaru!!!! Kok kamu bisa dapat sih? Baju ini kan hanya dibuat sekitar 10 buah saja?" Tanya Nadeshiko. Kagerou menyeringai.
"Itu hadiah dari perancangnya, saat kami bekerja sama dalam peragaan busana baru-baru ini... Hehe, anggap saja karena koneksiku banyak..." Jawabnya. Nadeshiko tiba-tiba tersenyum jahat.
"Kita coba pakaikan saja.... Sasu-kirei~" Kagerou tiba-tiba merebutnya. "Hei!!! Kenapa?" Dia berteriak kesal.
"Enak saja!!!! Ini berharga, tahu!!!! Baju ini, tak akan kubiarkan seorangpun, selain artis terbaikku atau diriku sendiri, boleh memakainya!!!" dia menyimpan baju itu dengan hati-hati.
Flashback end.
'Sialan... Mereka benar-benar datang...' Dia langsung memandang sekitar wanita itu. Benar saja, dia mengenali orang disebelahnya, juga 2 orang diseberangnya.
"Kenapa, Sasuke?" Tanya Sakura. Dia memandang Sasuke dengan bingung. Sasuke langsung salah tingkah. "Kau... Sebenarnya tidak mau menonton film ini ya?" Wajah Sakura terlihat sedih. Sasuke segera mencari alasan.
Dia menunjukkan bola kertas yang tak sengaja ditemukannya. "Tadi ada yang melempar ini... Jadi aku mencari orang tersebut." Katanya, terlihat tenang. Sakura kembali senang mendengarnya. Dia kembali menonton dengan sukacita. 'Kau harus mencari cara menghindari mereka, Sasuke... Atau kau akan mati.' Katanya pada dirinya sendiri.
Seusai film...
Kagerou berkeliling diantara pengunjung. Dia ditugasi hal ini karena diantara mereka berempat, hanya dialah yang benar-benar tersamarkan dengan baik. "Sial!!! Mereka menghilang kemana?" Dia mengumpat pelan. Dia sibuk mencari, hingga tidak sadar ada seorang lelaki mendekatinya.
"Hei, nona.... Mencari seseorang?" Lelaki itu menyapa. Kagerou memandangnya sesaat, lalu mengacuhkannya. "Nona seperti anda sebaiknya tidak berjalan sendirian... ikut saja denganku." Katanya lagi.
Kagerou memandangnya kesal. "Tidak, terima kasih," Dia menjawab dengan ketus. Lelaki itu mulai kesal. Dia menarik pergelangan tangan Kagerou dengan paksa. "Lepaskan!!!" Dia berteriak. Namun, semua orang malah menjauhinya.
"Aku ini pemimpin geng disini... Kau tak akan kulepas sampai aku memuaskan hasratku." Dia tertawa. Kagerou mengutuk dirinya sendiri saat itu, karena terlahir mungil dan bersuara tinggi seperti perempuan. Dia bermasud menendang wajah lelaki itu ketika genggaman tangannya terlepas.
Hyouga sedang memelintir tangan lelaki itu. "Sudah kubilang hati-hati, kan..." Katanya, seraya melepaskan pelintiran tangannya. Lelaki itu segera menyerangnya. Hyouga menghindari setiap serangan lelaki itu dengan mudah. Kagerou tiba-tiba terpekik pelan.
Lelaki itu mengeluarkan pisau butterfly. "Kau sebaiknya menyerah saja, paman... Atau kau akan mati!!!" Hyouga hanya menyeringai. Lelaki itu menyerang bersamaan dengan Kagerou. Mereka terdiam saat kedua itu bertubrukkan. Lelaki itu berhasil menggores tangan Hyouga, namun tidak parah. Sedangkan, lelaki itu menerima pukulan telak di ulu hatinya.
"Awas kau nanti..." Dia tergopoh-gopoh pergi. Kagerou segera mendekati Hyouga. Dia segera membalut lengannya.
"Dasar... Kau tetap saja gegabah... bikin khawatir saja..." Katanya. Matanya berkaca-kaca karena sempat mengira bahwa Hyouga tertusuk. Kagerou hanya menyeringai, lalu tertawa. "Jangan tertawa, bodoh!!! Kau tahu, aku kira kau tertusuk tadi..." Dia menunduk.
Hyouga menghela napas. Dia mengelus kepala kagerou. "Iya-iya... Aku minta maaf..". Kagerou mengangguk. Tanpa mereka sadari, orang-orang telah berkumpul disekitar mereka. Para wanita menggumamkan 'Keren...' dan para lelaki menggumamkan 'Imut~' . Nadeshiko dan Momiji juga ada disana, melihat semua kejadian tadi.
"Kau tahu, Nade-chan..." Momiji angkat suara. Nadeshiko memandangnya.
"Tahu apa, Mo-kun?" Tanyanya. Momiji menghela napas. Dia memandang ke arah Kagerou dan Hyouga.
"Aku... terkadang berpikir... kalau kedekatan mereka lebih dari hubungan kasih sayang platonik...". Nadeshiko tertawa mendengarnya.
(A/N: platonik itu maksudnya bersifat kekeluargaan atau persaudaraan. Kayak hubungan saudara kembar yang deket gitu.)
Sasuke dan Sakura sedang berjalan keluar dari daerah pertokoan. Hari sudah mulai gelap saat itu. "Sasuke, kita mau kemana lagi?" Tanya Sakura. Sasuke menengok padanya.
"Bagaimana kalau kita makan? Kamu mau kemana?" Tanya Sasuke. Sakura berpikir sesaat. Saat dia mau menjawab, tiba-tiba sekumpulan orang datang. Sasuke melindungi Sakura. "Mau apa kalian?" Katanya menantang.
Seorang dari mereka maju. "Oh, kami tidak meminta yang aneh-aneh... Hanya ingin barang berharga kalian, itu saja." Gerombolan itu tertawa. Sasuke menendang selangkangan pria itu, membuatnya jatuh terguling-guling. Gerombolan itu mendekat dengan marah.
Tiba-tiba, terdengar letusan pistol. Semua orang menengok. Ada dua orang berdiri dihadapan mereka, dengan banyak sekali anak buah dibelakangnya. "Jadi... mereka ya... Yang suka berbuat onar. Dasar kumpulan berandalan... dalam sehari, sudah membuat 2 keributan..." lelaki berambut putih yang memegang pistol maju.
Para berandalan itu bergetar ketakutan. Apalagi setelah melihat apa yang ada dihadapannya. "Cepat pergi dari sini. Aku sedang malas... berurusan dengan kecoak semacam kalian. Tapi, kalau sampai kalian datang lagi, kalian mati." wanita berambut merah disebelahnya maju. Orang-orang itu segera lari tunggang langgang.
Mereka lalu mendekati Sasuke dan Sakura. "Kalian tidak apa-apa? Maaf, tak kusangka sampai ada kejadian seperti ini di areal kami...." Kata-kata lelaki itu terhenti saat melihat Sakura. "Boleh saya tahu nama kalian?" Tanyanya.
"Aku Sakura Haruno, dan dia Sasuke Uchiha." Orang-orang dibelakang lelaki itu langsung berbisik-bisik saat mendengar nama Sakura. Sasuke menatap Sakura bingung, namun Sakura hanya angkat bahu.
"Maafkan kelancangan kami tadi, Nona Sakura dan Tuan Uchiha... Silakan, Anda sekalian akan kami bawa ke tempat aman sementara kami membereskan sisanya." Dia menjentikkan jarinya. Seketika, sebuah kendaraan muncul.
"Apa sebaiknya kita ikuti kemauan mereka?" tanya Sasuke. Sakura, walau ragu maju untuk menaiki kendaraan itu, diikuti Sasuke.
"Mungkin kita ikuti saja permintaan mereka. Mereka sudah menolong kita. Lagipula, aku penasaran bagaimana mereka tahu identitasku. Mereka mungkin memberitahu kalau kita ikut mereka." Kata Sakura.
Setelah mereka naik, mobil itusegera berjalan ke arah selatan. Lelaki itu menghela napas. 'Mungkin, aku bisa membalas segala kebaikannya, walau hanya sedikit.' Dia memanggil anak buahnya. "Bersihkan tempat ini dari sampah-sampah itu. Tunjukkan bahwa gelar Yakuza bukan hanya untuk main-main saja."
"Kemana mereka pergi!?" Nadeshiko berseru kesal. Mereka sudah mencari ke seluruh tempat, namun tidak menemukan Sakura. Kagerou bahkan sempat berganti baju dengan kaos dan jeans dulu saat mereka berpencar, namun mereka tetap tidak menemukan kedua orang itu.
"Tenang. Sakura tidaklah selemah itu, sampai termakan rayuan bocah itu. Kemungkinan terbesar, mereka sedang makan..." Kata Momiji menenangkan. "Sebaiknya, kita juga makan dulu." Walau mereka kesal, mereka mengangguk.
Mereka memasuki salah satu restoran. Mereka melihat sekumpulan orang yang tidak asing. Mereka melihat Kotaro dan Chouji yang sedang menarik Hibari dan Yuri yang bertengkar. Mereka segera mendekati mereka.
15 menit kemudian...
Mereka duduk dalam satu meja besar. Hibari memandang tajam ke arah Nadeshiko dan yang lain. Chouji berusaha menenangkannya, namun gagal. Yang lain terdiam. Mereka terdiam karena khawatir akan membuat Hibari meledak kalau mereka angkat suara. Walau mungil, Hibari mampu membuat Chouji, seorang yang mampu melempar orang sebesar dirinya ke atas pohon, terkapar.
Hibari angkat suara. "Dasar!!! Kalian itu terlalu posesif terhadap Sakura!!!! Kau tahu, yang kalian lakukan itu sudah melebihi tahap stalker, tahu!!!! Dasar..." Dia mengucapkan sumpah serapah pelan. Yuri ingin membalas, namun tak dapat menangkis omongan Hibari.
"Sudah-sudah... Mereka hanya khawatir pada Sakura..." Chouji menenangkan Hibari. Dia malah makin marah. Dia mmukul meja, membuat orang-orang disekitarnya memandang ke arah mereka.
"Mana mungkin aku bisa membiarkan mereka. Yang namanya khawatir itu tak sampai seperti itu, tahu!? Kalian tahu, Sakura jadi dijauhi karena ulah kalian!?" Dia meraung. Keempat orang itu protes. Adu mulut pun terjadi.
Kotaro pun angkat bicara. "Untuk kali ini, aku setuju dengan Hibari," Nadeshiko menatapnya marah. Dia bermaksud melawan, tapi Kotaro memotongnya. "Dengarkan aku dulu. Kalian tahu, para siswa tidak berani mendekatinya karena kalian.
Sedangkan, para siswi menjauhinya karena menganggap Sakura Senang mempermainkan lelaki , karena desas-desus yang muncul akibat ulah kalian. Selama ini aku ikut dalam ulah kalian agar kalian tidak lepas kendali. Apa kalian lupa, kalau kalian pernah membuat seorang siswa depresi akiat ulah kalian?" Keempatnya terdiam.
"Jadi, kamu mau kami bagaimana?" Tanya Momiji. Hibari mendengus kesal, sedangkan Kotaro menghela napas.
"Tolong, manusiawilah. Aku mengerti kekhawtiran kalian. Tapi, masa kalian tega mengerjai orang sampai dia harus diterapi, hanya gara-gara dia memegang tangan Sakura?" Kotaro berkata, mengingatkan apa yang pernah mereka lakukan.
"Huh, sekumpulan orang bodoh..." Kata Hibari. Suasana di sekitar mereka menjadi suram. Mereka semua terdiam.
Chouji akhirnya buka suara. "Nah, semua sudah saling mengerti kan? Sebaiknya, kita menenangkan diri dengan makan..." Dia memanggil pelayan. Mereka segera memesan makanan.
Suasana mulai mencair lagi saat mereka mulai makan. Hibari akhirnya tenang, dan mulai bergurau bersama Kagerou. Hyouga pun menimpali lelucon mereka dengan caranya, membuat semua tertawa.
Saat sedang tertawa-tawa, tiba-tiba ponsel Kotaro berbunyi. "Sebentar." Dia bangkit dari kursinya, menuju tempat tenang, lalu mulai berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Yuri melihatinya.
"Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Momiji. Semua memandangnya bingung, karena Yuri terlihat khawatir.
"Yang meneleponnya... Aku mendengar suara perempuan... Lihat! Dia tertawa-tawa begitu..." Yuri mulai terlihat kesal. Semua memberinya tatapan 'Tidak-yang-itu-lagi' .
"Yuri... Kamu ini terlalu pencemburu... Kau tahu kan, dia punya banyak kenalan perempuan..." Kata Nadeshiko. Dia mengangguk, namun tetap terlihat kesal. Tak lama, Kotaro kembali
"Maaf... Aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali..." Kata-katanya terputus karena Yuri memegangi tangannya. Yuri memandang dengan sedih dan khawatir. Kotaro tersenyum, lalu memegang tangan Yuri yang menggenggam lengan bajunya. Dia memandang dengan lembut, membuat semua yang ada disana (kecuali Chouji dan Hibari) salah tingkah.
"Tolong, jangan membuat masalah... Hati-hatilah..." Yuri akhirnya bicara, setelah mereka saling pandang selama beberapa saat. Kotaro tersenyum, lalu mencium kening Yuri.
"Aku akan kembali sebelum festival kembang api." Yuri mengangguk. Kotaro segera melenggang pergi.
"Kalian ini sangat dekat ya? Tinggal menunggu dipersunting nih~" Kata Hibari menggoda. Yuri memandang malu-malu ke arah Hibari. Chouji tersenyum atas ulah mereka. Dia lalu memandang empat sekawan itu.
"Kalian sendiri, kapan punya pasangan? Selama ini aku hanya melihat kalian berempat bersama terus..." Dia bertanya pada mereka. Yang ditanya malah terdiam. Mereka seakan baru menyadari apa yang dikatakan Chouji. Chouji menghela napas. "Itu juga salah satu kekhawatiran Sakura. Dia selalu meminta nasihat kami, agar kalian mendapat pasangan. Dia merasa tidak enak kalau dia harus mendahului kalian berempat..."
Mereka mulai berpikir. Tiba-tiba, Nadeshiko angkat suara. "Aku... tak bisa memikirkan orang lain selain mereka bertiga... Tapi, kalau disuruh memilih, aku akan memilih Mo-kun... Kalian kenapa?" Semua orang terkejut mendengar itu. Kagerou dan Hyouga lalu tertawa. Hibari menyeringai, sedangkan Chouji geleng-geleng kepala, tak percaya bahwa Nadeshiko masih suka mengungkapkan apapun yang ada di otaknya tanpa pikir panjang.
Momiji hanya menghela napas. Walau hanya sedikit, ada semburat warna pink di pipinya. Chouji berbicara, memberitahu Nadeshiko. "Nadeshiko... Secara tak langsung, tadi kau baru saja mengungkapkan perasaanmu pada Momiji." Nadeshiko malah bingung.
"Sudah.... Lebih baik kita makan..." Kata Momiji. Mereka pun mulai makan, melupakan apa yang terjadi barusan. "Yuri, jangan khawatir... Dia berjanji akan datang saat pertunjukkan kembang api kan?" Kata Momiji, melihat Yuri yang belum menyentuh makanannya. Yuri mengangguk, lalu mulai makan.
'Jangan berbuat macam-macam, Kota-kun...' Katanya, seraya mengambil shoyu. Dia pun mulai tenggelam dalam pembicaraan.
Sakura dan Sasuke kini sedang duduk di sebuah restoran cina. Orang-orang yang mengantarnya meminta mereka menunggu orang-orang tadi, yang sepertinya pemimpin mereka. Seorang pemuda berambut abu-abu yang dikuncir, dengan dandanan ala cina berjalan ke arah mereka. Dia ditemani seorang gadis berambut ungu.
Sasuke memandang mereka, bersiaga kalau ada apa-apa. Lelaki itu tertawa melihatnya. "Tenang saja... Saya tak akan berbuat apa-apa terhadap tamu Tuan besar kami. Perkenalkan, Saya Kabuto Yakushi, manajer tempat ini. Wanita disebelahku adalah pemilik tempat ini, nona Yakumo Kurama." Lelaki bernama Kabuto berkata sambil membetulkan letak kacamata bulatnya.
Perempuan itu mengamit lengan Kabuto. Dia berseru "Kabuto.... Kamu kok mengenalkan aku seperti itu, sih?" dia memandang kesal. Kabuto langsung salah tingkah. Kemudian, dia menengok pada Sakura dan Sasuke. "Kenalkan, Aku Yakumo Kurama Maaf, tunanganku terlalu kaku. Dia selalu seperti ini sejak lama..." Yakumo berkata. Kabuto terlihat panik.
"Nona, jangan bicara seperti itu... Kalau Tamu Tuan besar ini mengatakan hal ini, bagaimana? Bagaimana pun juga, saya hanya anak buah..." Kabuto berkata. Yakumo merengut. Dia mencubit pipi Kabuto.
"Terserah mereka mau bilang apa. Yang menjalani hubungan ini kan kita?" Dia berkata. Dia lalu berbalik pada Sakura dan Sasuke. "Jadi, kalian mau pesan apa? Tenang, karena kalian tamu kakak, kami akan melayani kalian secara gratis. Ayo, makanan disini adalah yang terbaik, lho!!!!" Sakura langsung memesan.
Sasuke sendiri masih terdiam. Dia masih khawatir, karena orang-orang tadi membawa senjata. Sepanjang yang dia tahu, hanya bos gangster dan pejabat penting yang membawa penjaga dalam jumlah besar dengan perlengkapan persenjataan lengkap. 'Gawat... Sepertinya kami terseret kedalam kelompok Yakuza... Apa aku bisa mengeluarkan Sakura dalam keadaan baik-baik saja, ya? Ah, jangan panik, Sasuke!!! Kau pasti bisa!!! Ya, walau mempertaruhkan nyawa...' pikirannya terpotong oleh sebuah tepukan lembut di pundak.
Sakura menepuk bahunya karena dari tadi Sasuke tidak menjawab panggilannya. "Sasuke, kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit, ya?" Tanya Sakura. Sasuke menggeleng, namun tetap diam. "Kamu mau makan apa?" Pertanyaan Sakura membuat Sasuke mengangkat alis. "Kita ada di restoran. Lagipula, mereka menjamu kita... Masa kita tidak menanggapinya?" Jawab Sakura. Dia tahu kenapa Sasuke bingung.
Sasuke menghela napas. Dia memang sudah tahu hal ini, namun ia masih bingung kenapa Sakura sangat fleksibel dan dapat membaur, segera setelah mengenal seseorang. Dia pun akhirnya mengambil daftar menu.
Mereka sedang menikmati hidangan saat kedua orang tadi datang. Beberapa orang yang sedang bekerja di restoran segera memberi hormat padanya. Mereka segera duduk di kursi kosong di meja Sakura dan Sasuke. "Bagaimana hidangannnya? Semoga sesuai dengan selera anda, Nona Sakura." Lelaki berambut putih itu berkata.
Perempuan berambut merah disebelahnya berseru. "Tentu saja enak... Ini kan restoran terbaik se-Shinjuku!!!" Dia menjawab dengan semangat. Lelaki itu tertawa. Sakura mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Sasuke hanya menjawab dengan jawaban 'Hhn' khasnya.
Sakura kemudian berkata. "Anu... Kalian siapa? Kenapa kalian memperlakukan kami denagn penuh hormat?" Sasuke, walau tidak kelihatan, juga ingin tahu tentang hal itu. Lelaki itu hanya tertawa.
"Yah... Kalaupun nona mengingat, anda tak akan bisa mengigat kami. Kami pun, hanya mengetahui tentang anda dari seseorang. Ngomong-ngomong, nama saya adalah Kimimaro Kurama... Wanita Itu adalah Tayuya, adikku." Kata Kimimaro. Dia mulai memakan bakpao. Tayuya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Kimi-kun... Jangan memakan pesanan orang... Dasar kamu ini..." Dia berjalan ke arah dapur. "Kalian mau pesan lagi? Kamu mau apa, Kimi-kun?" Sasuke saling pandang dengan Sakura. Mereka merasa, dari nada suara dan cara bicara mereka berdua, hubungan mereka sangat dekat. Tapi, yang membingungkan mereka, kedekatan mereka lebih seperti sepasang kekasih dari pada saudara kandung.
"Errr... Kami rasa, ini sudah cukup... Iya kan, Sasuke?" Kata Sakura. Sasuke mengangguk. Tayuya lalu mengalihkan pandangan ke Kimimaro.
"Bakpao daging", Jawabnya simpel. Tayuya segera memasuki dapur. "Kalian ingin tahu kenapa aku bisa tahu tentang kalian?" keduanya mengangguk. "Kami memiliki kenalan... Bukan, beliau adalah penolong kami. Dia telah membebaskan kami dari jeratan pemimpin terjahat bagian belakang ... Juga banyak membantu kami dalam mendirikan kelompok ini..."
Dia memandang jendela, menerawang jauh. Sakura, walau ragu, bertanya pada Kimimaro. "Kalian mengalami kejadian apa?" Kimimaro terdiam. Dia memandang ke arah dapur, dimana Tayuya berada.
"Kami... tiga bersaudara adalah anak dari seorang pemimpin perusahaan surat kabar, yang memberitakan keburukan pemimpin Belakang disini. Suatu hari, mereka datang dengan membawa uang, membayar supaya ayah tutup mulut soal mereka. Ayah kami, menolak sogokan dan tetap memberitakan segala kejadian yang berhubungan dengan mereka.
Mereka pun marah dan menyerang rumah kami. Mereka membakar rumah kami, juga membunuh semua orang. Yakumo, yang saat itu bersama Kabuto, berhasil lolos dan kabur ke Cina, kampung halaman ibu kami. Sedangkan, kami dan ibu serta ayah kami tertangkap. Ayah sepertinya disiksa sampai mati... sedangkan ibu dijadikan objek seksual para anak buah mereka. Aku sendiri dijadikan budak disana. Tayuya... Yah, bisa dibilang jadi kucing peliharaan Danzou, pemimpin mereka... Kenapa?"
Cerita Kimimaro terputus saat dia melihat ekspresi mereka. Sakura mulai mengalirkan air mata, sedangkan Sasuke hanya bisa terdiam karen shock, sambil berusaha menenangkan Sakura. "Ma-maaf... Aku ti-tidak tahu ka-kalau masa lalumu seperti itu... Ma-maaf aku bertanya se-seperti itu..." Kata Sakura disela-sela isak tangisnya.
Tayuya keluar dari dapur, kaget melihat pemandangan itu. Dia menghampiri mereka, lalu duduk disebelah Kimimaro. Dia memberi pandangan bingung pada Kimimaro. Kimimaro mendesah. "Aku menceritakan tentang kita dulu... Dia tiba-tiba menangis... Apa caraku bercerita salah?"
Tayuya tersenyum agak sedih saat dia mengingat hal itu. "Tidak... Hanya saja, cerita kita mungkin agak kejam untuk diceritakan pada orang awam, Kimi-kun." Katanya. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Kimimaro yang berada di atas meja. Dia mengistirahatkan kepalanya dibahu Kimimaro.
Kimimaro tersentak mendengarnya. Dia segera meminta maaf pada Sakura. "Maaf... Sebaiknya, kita lewati bagian yang tadi... Pokoknya, kami ditolong oleh beliau. Lalu, bersama-sama teman kami yang ditindas oleh Danzou dan kelompok Ne mereka, kami membentuk kelompok ini. Ah!!! Soal tadi, anda tak perlu khawatir... Bagi kami, itu adalah pengingat... Agar kami tidak berubah jadi seperti dia... Jadi, anda tak perlu merasa bersalah, Nona Sakura."
Sakura mengangguk, dia mengelap air matanya dengan saputangan Sasuke yang diberikan padanya tadi. Sasuke kemudian bertanya. "Siapa orang yang kamu maksud?" Kimimaro tersenyum mendengarnya.
"Tentu saja, Tuan Kotaro. Kotaro Itsuki... Kamu pasti tahu, kan?" Kata Kimimaro. Sasuke hanya terdiam mendengarnya. Dia, walau berusaha, tetap tak mampu berbicara sepatah kata pun.
Tiba-tiba, terdengar suara bersin dari arah pintu. Mereka menengok ke arah pintu. Disana, ada Kotaro, sedang mengusap hidungnya. "Ukh... Pasti gara-gara debu tadi... Oh!!! Hei, kalian sedang apa?" Dia berkata dengan tenang pada mereka semua.
"Tuan!!! Lama tak berjumpa!!! Bagaimana kabar anda?" Kata Kimimaro. Dia segera beranjak dari kursinya. Dia mempersilahkan Kotaro masuk, sambil menaruh jaketnya di gantungan. Sakura dan Sasuke memberi tatapan kenapa-kau-tahu pada Kotaro.
"Kenapa aku tahu kalian ada disini? Yakumo meneleponku tadi... Dia bilang, kakak yang fotonya kutunjukkan datang kemari. Nadeshiko dan yang lainnya bersama kami, tadi. Jadi, aku langsung tahu siapa yang dimaksud... Kimimaro, apa mereka melakukan sesuatu yang buruk sampai kalian bawa?" Katanya.
Kimimaro menggeleng. "Tidak, tuan. Mereka dikepung gerombolan berandalan yang akhir-akhir ini sering menganggu ketertiban. Aku yang mengenal Nona Sakura segera membawa mereka kemari, karena aku tak tahu tempat aman lainnya selain disini." Jawab Kimimaro dengan sopan.
Kotaro mengangguk-angguk. "Hei, Kimimaro... Jangan terlalu formal begitu... Aku bukanlah seorang yang patut disanjung seperti itu..". Tayuya datang dan memberi hormat pada Kotaro.
"Anda yang paling patut untuk di hormati, Tuan besar. Berkat andalah, kami bisa merasakan kedamaian yang mungkin tak pernah kami bayangkan akan terjadi pada kami." Kotaro hanya mendesah. Dia tahu tak mungkin bisa mengalahkan argumen mereka.
Sasuke mendekati Kotaro. "Hei... Kau menyelamatkan mereka dengan cara apa? Apa yang kau alami sebenarnya?" Tanyanya. Kotaro berpikir sejenak. Dia mengusap dagunya.
"Kau mau mendengarnya, Sasuke?" Sasuke mengangguk. Kotaro menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kau tahu, hukum ekploitasi tubuh?" Tanya Kotaro pada Sasuke.
"Hukum yang membuat setiap eksperimen yang berhubungan dengan manusia sebagai objeknya dilarang, kecuali dibawah pengawasan ketat pemerintah. Yang mnegajukan permohonan pun harus melewati serangkaian tes yang sangat ketat... yang kemungkinan lolosnya hanya 2% saja. Memangnya kenapa?" kata Sasuke.
"Kau tahu kenapa hukum itu terjadi?" Tanya Kotaro lagi. Sasuke berpikir sejenak. Dia mencari informasi dalam otaknya.
"Katanya, karena ada sepasang ilmuwan gila yang melakukan eksperimen pada anak bayi... Berusaha menciptakan senjata mematikan berupa tentara dalam bentuk anak-anak..." Kata-kata Sasuke terputus. Dia segera memandang Kotaro. "Kau... Ada hubungannya dengan itu?"
Kotaro hanya mendengus. "Aku satu-satunya yang bertahan dari serangkaian eksperimen itu. Profesor Sakon dan Ukon, nama mereka, mengatakan bahwa aku adalah sebuah lompatan besar dalam kemajuan kekuatan militer. Namun, saat polisi datang aku sudah keburu dibawa pergi oleh asisten mereka, Yadoumaru. Dia mengkhianati mereka dan menjualku pada Danzou.
Disanalah, sejak aku berumur 4 tahun, selama 10 tahun aku menjadi senjata Danzou. Disana pulalah aku bertemu mereka... Juga bertemu Yuri..." Katanya. Dia berhenti sejenak, menuang teh kedalam gelas yang disediakan.
"Kenapa kau bisa bertemu dengan Yuri disana?" Tanya Sasuke. Kotaro menghela napas. Dia pun segera melanjutkan ceritanya.
"Dia diculik. Ayah Sakura adalah penyuplai peralatan Kepolisian. Dan kepolisian sedang intens menyingkap kejahatan Danzou. Danzou berusaha menyogoknya, tapi Tsubaki Haruno, Ayah Sakura menolak bekerja sama. Jadi, dia menculik anaknya, yang merupakan harta berharganya setelah istrinya wafat.
Sakura yang masih sd sebenarnya lebih mudah diincar... Namun, saat itu dia sangat dekat dengan Naruto. Mereka khawatir ayah Naruto, Minato akan memakai kuasanya sebagai keturunan ratu inggris untuk menekan kepolisian dan menangkap mereka. Nadeshiko pun sulit ditangkap, karena dia bersahabat dengan anak dedengkot mafia negara Wind, Temari.
Jadi, pilihan terakhir mereka adalah Yuri yang sedang stress karena melihat ibunya wafat di depan matanya. Aku bertemu dengan Yuri disana... Dia wanita yang baik dan ramah, walau selalu khawatir akan banyak hal. Dia yang meyakinkanku bahwa tidak semua orang seperti Danzou, dan mengembalikan kemanusiaanku yang telah lama hilang.
Namun, yang membuatku berontak adalah saat Danzou mulai tertarik pada Yuri. Dia bermaksud menjadikan Yuri kucing peliharaan nya juga, seperti Tayuya. Aku yang mendengar itu segera melakukan rencana. Dan, entah bagaimana caranya, aku berhasil meyakinkan semua orang yang ditindas Danzou, termasuk Tayuya dan Kimimaro, yang saat itu telah menjadi kepala pengawal Danzou.
Kami melaksanakan rencana itu... dan berhasil menggulingkan Danzou dari puncak kekuasaannya. Namun..." Cerita Kotaro terputus. Dia terlihat sedikit sedih.
Sasuke angkat suara. "Kalau tak ingin diceritakan, tidak apa-apa." Kotaro menggeleng. Dia melanjutkan ceritanya.
"Tidak apa-apa. Seperti yang kami katakan tadi, kami berhasil mengalahkan Danzou dan sisa anak buahnya yang masih setia... Namun, kami sedikit terlambat. Saat kami datang ke ruangan pribadinya, kami melihat Yuri, juga bebrapa gadis yang juga dibawa bersamanya dalam keadaan kacau. Mereka sepertinya sudah diperkosa oleh Danzou." Katanya, sambil memandang jendela.
Sasuke shock mendengar cerita itu. Dia menengok pada Sakura. Sakura mengangguk sedih. Dia masih berlinang air mata. Sasuke segera menghapus air mata Sakura dengan saputangannya. "Maaf... Aku tak bermaksud..." Sakura menempelkan tangannya ke mulut Sasuke, membuatnya terdiam.
"Tak apa, Sasuke... Tak apa..." Katanya. Sasuke mendekatkan dirinya pada Sakura, memegang bahunya. Sakura meletakkan kepalanya pada bahu Sasuke. 'Aneh... Aku tak pernah begini... Tapi, ada sesuatu yang membuatku merasa nyaman begini...' Pikir Sakura.
Kotaro tersenyum nakal melihat ini. "Wah-wah... Sepertinya cukup 'Hangat' disini..." Tayuya tertawa. Sasuke langsung salah tingkah. Sakura diam saja.
"Hei... Dia tertidur ya?" Tanya Kimimaro. Sasuke segera mengecek Sakura. Benar saja, Sakura sedang tertidur pulas di bahunya.
Tayuya segera membawakan selimut sutera. Dia segera menyelimuti Sakura. Sasuke sebenarnya ingin memindahkan Sakura ke tempat tidur, namun tangan Sakura mencengkram baju Sasuke kuat. Mereka terdiam sesaat. Kotaro akhirnya berkata lagi.
"Tentang tadi, kami terlambat, namun tidak sia-sia. Paling tidak, mereka masih bisa diselamatkan. Trauma itu membuat Yuri jadi takut membuat keputusan dan takut akan perubahan. Walau begitu, aku sudah mengusahakan segalanya, dan akhirnya dia kembali normal. Lalu, Kimimaro mengumpulkan semua orang dan membentuk kelompok baru di daerah kekuasaan Danzou.
Awalnya kepolisian tidak percaya akan hal ini. Namun, lewat pembicaraan dan pengertian, akhirnya Kepolisian mau bekerja sama dengan Kimimaro dalam menjaga keamanan daerah ini." Kata Kotaro, menyelesaikan ceritanya.
Mereka memandang Kimimaro dan Tayuya. Mereka sedang melakukan, yang menurut Sasuke adalah, bercumbu. Sasuke memandang Kotaro.
Kotaro tertawa. "Kau pernah mendengar apa yang disebut incest kan?" Sasuke mengangkat alisnya.
"Kau membiarkannya?" Tanya Sasuke. Kotaro menghela napas.
"Bagaimana aku bisa menhalanginya? Mereka itu baru bertemu denganku 4 tahun setelah aku menjadi anggota Danzou. Dan mereka sudah seperti itu... Lagipula, hubungan itulah yang membuat mereka tetap waras ... Yah, tidak bisa dibilang normal sih..." Kata Kotaro.
Sasuke hanya bisa terdiam mendengarnya. Dia kemudian menghela napas. "Semua yang ada disekitar kalian selalu membuatku terkejut." Katanya pada Kotaro. Kotaro hanya menyeringai.
"Biasakanlah, Sasuke... Kalau kau tidak siap, kau bisa gila lho. Keempat kakak Sakura lebih suka mengejutkan orang, soalnya..." Katanya. Dia lalu memandang jam tangannya. Dia segera beranjak dari kursinya. "Kimimaro, Tayuya... Aku pergi dulu." Katanya.
Sasuke segera bertanya. "Mau kemana?" Tayuya dan Kimimaro mengangguk, tanda setuju dengan pertanyaan Sasuke.
"Festival kembang api. Aku ada janji dengan Yuri. Kalian mau kesana juga?" Kata Kotaro. Kimimaro segera mengambil kunci mobilnya. "Sasuke, kau mau ikut?" Sasuke mengangkat Sakura, mengangguk.
"Kalau begitu, Anda naik mobil kami saja." Kata Kimimaro. Mereka pun segera beranjak pergi dari restoran itu.
Sakura sedang tertidur nyenyak. Dia bermimpi sedang terbang di angkasa bersama gerombolan burung merpati. Namun, suara ramai disekitrnya membangunkannya. Hal pertama yang dilihatnya adalah selimut sutera yang menyelimuti tubuhnya, lalu jaket besar yang menutupi tubuhnya.
Dia memandang ke atas. Dia melihat kembang api yang ditembakkan ke langit berpencar membentuk bunga indah." Kau sudah terbangun?" sebuah suara membuatnya menengok. Sasuke memandangnya lekat-lekat. Sakura baru menyadari bahwa ia tertidur di pelukan Sasuke. Sakura pun segera salah tingkah.
"Maaf!!! Aku tak bermaksud tertidur..." Sasuke membelai rambutnya. Dia segera terdiam.
"Tak apa. Nikmati saja pertunjukannya. Yang lain pun sedang menikmati pertunjukkan ini." Kata Sasuke. Sakura memandang sekeliling. Mereka berada di taman disebelah pusat perbelanjaan di Shinjuku. Dia melihat orang-orang yang dia kenal disekitar mereka.
Ada Hyouga dan Kagerou yang masih berbicara seru. Nadeshiko yang membawa minuman kaleng bersama Momiji. Ada Chouji yang sedang berdiri di kerumunan, dengan Hibari diatas bahunya. Naruto, Neji dan Shikamaru yang sedang duduk bertiga, sedangkan Ino, Hinata dan Tenten sedang berdiri di dekat meja itu, sedang memotong kue.
Sakura juga melihat Kimimaro dan Tayuya yang sedang berkumpul dengan kelompoknya, tertawa-tawa. Dia pun memandang tempatnya duduk. Dia dan Sasuke sedang duduk di bawah pohon Sakura besar. "Sasuke..." Panggilnya, membuat Sasuke menengok padanya. "Terima kasih... Kau sudah mengajakku jalan-jalan. Aku sangat senang..." Dia tersenyum.
Wajah Sasuke memerah. Dia hanya mengangguk. "Hhnh." Jawabnya berusaha tetap tenang. Padahal, di dalam kepalanya dia dia sedang berloncat-loncat kegirangan.
Sakura mengingat kata-kata Hibari tadi. Dia meletakkan kepalanya dibahu Sasuke. 'Mungkin... Aku memang jatuh hati padanya....' Pikirnya. Mereka pun terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.
Keempat kakak Sakura melihat ini. Mereka melihat mereka dengan kesal.
"Jangan harap kau bisa melewat ini dengan mudah, Uchiha."
"Tenanglah... Kau mau diceramahi Hibari lagi?"
"Masih ada besok, pemotertan itu..."
"Ya Kita akan membalas semua ini, Uchiha... Lihat saja."
Mereka berempat tersenyum jahat.
Sepertinya, Sasuke masih selamat... namun, apa yang akan terjadi pada pemotertan untuk iklan yang akan dilakukan esok harinya? Apa yang sudah dipersiapkan empat bersaudara four season?
Tunggu chapter selanjutnya yaa....
TAMBAHAN
Oke, untuk yang ga tau:
Incest: hubungan cinta yang terjadi pada keluarga yang masih sedarah... misalnya, kakak-adik, ayah-anak, ibu-anak... Pokoknya yang masih berhubungan darah, deh.
Cinta/kasih sayang Platonik: sebutan untuk tipe kedekatan seperti saudara kandung... kayak temen yang deket sampe kayak sodar sendiri. Ato sepupu yang deketnya kayak sodara kandung.
Untuk penamaan keluarga Sakura:
Haruno itu artinya musim semi... Jadi saya menamakan semua nama anggota keluarga Haruno dengan nama bunga.
Nadeshiko: dari bunga Yamato Nadeshiko. Bunga jepang berwarna pink.
Yuri: dari bunga lily. Ada yang namanya Zephyranthes lily yang emang warnanya pink.
Tsubaki: dari bunga kamelia.
Natsuno Kagerou: artinya capung musim panas.
Kagerou itu artinya capung, walo ada nama lainnya. Saya namain Kagerou, soalnya musim panas identik dengan serangga yang banyak di jepang. Tapi, saya Cuma tau sedikit Jadi, saya pake yang agak universal, yang pasti ada di sebagian besar negara-negara pas musim panas. Jadilah nama itu.
Akino Momiji: artinya maple musim gugur.
Di jepang, pas musim gugur terkenal dengan pohon maple yang meranggas, mempersiapkan diri untuk musim dingin. Saat itu daun-daun maple akan berubah warna menjadi merah atau oranye, menjadi daya tarik tersendiri untuk menjadi objek piknik. Karena itu, saya menjadikan nama tersebut, sesuai kebiasaan unik yang terkenal di jepang tersebut.
Fuyuno Hyouga: artinya gletser musim dingin.
Itu adalah bongkahan es yang menutupi tanah, terjadi akibat tumpukan salju yang mengeras. Terjadi dalam waktu lama, yang dikenal juga sebagai es abadi (Wikipedia). Karena menurut saya keren, saya jadikan nama buat salah satu sepupu Sakura.
Segitu dulu dari saya...
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
