Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Ini part ketiga dari chapter lima. Para kakak, mulai menggencarkan 'serangan' pada Sasuke. Dan Sasuke mulai menunjjukkan kesungguhannya. (Hint)
Hai semua~, maaf kalo lama menunggu... saya benar-benar bingung, mau nulis chap ini... soalnya, saya bukan tipe penulis citrus dan teman-temannya.
Langsung ke cerita ya?
Baka Tantei Seishiro Amane present....
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
PART III: I WISH I DIDN'T PROMISED TO....
Sebelumnya…
Sakura mengingat kata-kata Hibari tadi. Dia meletakkan kepalanya dibahu Sasuke. 'Mungkin... Aku memang jatuh hati padanya....' Pikirnya. Mereka pun terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.
Keempat kakak Sakura melihat ini. Mereka melihat mereka dengan kesal.
"Jangan harap kau bisa melewat ini dengan mudah, Uchiha."
"Tenanglah... Kau mau diceramahi Hibari lagi?"
"Masih ada besok… pemotertan itu…"
"Ya… Kita akan membalas semua ini, Uchiha... Lihat saja."
Mereka berempat tersenyum jahat.
Sasuke terbangun dengan senyum yang masih terpeta di bibirnya. Dia bahkan masih tersenyum saat datang ke ruang makan untuk sarapan. Ini membuat seluruh anggota keluarganya terpana. Mikoto Uchiha, seumur hidupnya, hanya pernah sekali melihat anak bungsunya tersenyum. Pada saat dia mendapatkan penghargaan atas usahanya membuat daerah pertokoan sepi di pinggiran Shinjuku, menjadi pusat perhatian orang-orang.
Selain itu, hanya seringai khas Uchiha, yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak generasi paling awal lewat gen mereka. Walau tidak semuanya begitu. Ada beberapa generasi yang disebut 'Keturunan Hikari', merujuk dari Hikari Uchiha, yang disebut satu-satunya keturunan awal Uchiha yang memiliki sifat ramah dan ceria. Dia dan dan adiknya, Obito, adalah termasuk dalam keturunan Uchiha.
Dan dia sebenarnya sudah menyerah untuk berharap bahwa anaknya dengan Fuga-kun akan seperti dirinya, ceria dan ramah. Tapi, baik Ita-chan dan Sasu-chan terlahir seperti ayahnya. Stoic, suka menyindir dan arogan. Tapi, melihat Sasuke dari kemarin malam sampai hari ini, membuatnya sedikit berharap.
'Mungkin, Sasu-chan tidak sepenuhnya seperti Fuga-kun...' Pikirnya. Dia tersenyum, sambil menyerahkan sandwich pada Sasuke yang sepertinya masih berada di dunia lain. Itachi diam-diam memotret Sasuke. dia diam-diam sedang menjalankan hobi baru, yaitu mengabadikan setiap 'keunikan' yang ada pada adiknya itu.
Dia telah mengikuti setiap kegiatan Sasuke, dan mengetahui tentang gadis bernama Sakura, yang sedang dekat dengannya. Dari yang dia lihat, sepertinya justru adiknya lah yang mengejar gadis itu. Berbeda dengan sebelumnya, dimana dia lah yang selalu dikejar-kejar oleh para gadis.
Sejak saat itu dia mulai mengabadikan setiap hal yang menurutnya menarik, yang dilakukan oleh adiknya. Dia mendapatkan insting bahwa kali ini pun, akan terjadi sesuatu yang menarik yang akan terjadi. Dia telah mempersiapkan kamera khusus fotografer kesayangannya, selain kamera digital yang dia gunakan untuk memfoto Sasuke tadi.
Sasuke, yang tidak menyadari seringai kakaknya, hanya dapat tersenyum sepanjang pagi itu. Dia pergi ke rumah Sakura hari ini, semenjak hari ini adalah peringatan berdirinya perguruan Konoha. Karena itulah, sekolah memberi murid liburan. Ditambah lagi, festival sekolah.
Semenjak sistem kurikulum perguruan Konoha yang diciptakan oleh kepala sekolah sendiri, sehingga lebih fleksibel dengan seluruh kegiatan sekolah. Karena itulah, mereka bisa berlibur saat sekolah lain sedang meneruskan kegiatan belajar mereka.
Kedatangan Sasuke ke rumah Sakura, tak lain karena dia telah berjanji akan menjadi model dalam pemotretan untuk iklan restoran mereka. Sasuke menaiki mobil ferrari kesayangannya, tidak menyadari Itachi mengikutinya.
Berbeda dengan adiknya, Itachi lebih memilih mobil tipe offroad daripada mobil balap. Dia menaiki jeep Wrangler TJ Rubicon, mengekor dari belakang. Seperti yang dia duga, dia tidak mengebut seperti biasa. Dia, sebaliknya malah berkendara dengan tenang. Tak lama, Sasuke sampai di kediaman Haruno.
Dia mengetuk dengan tenang. Wajahnya kembali tanpa ekspresi. Namun Itachi tahu, dia sedang sangat senang. Tak lama kemudian, seorang wanita membuka pintunya. "Kau benar-benar datang rupanya, Sasuke... Kuakui, aku terkesan oleh kegigihanmu... Apa adikku memang sedemikian berharga bagimu?" Kata Yuri.
Sasuke hanya menjawab dengan jawaban 'Hhnh'. Dia mempersilakan Sasuke masuk. "Paling tidak, cobalah berbicara lebih sering. Hanya sedikit orang yang mengerti apa arti lenguhanmu itu." Sasuke hanya mengangguk. Itachi terpana melihatnya. Dia tetap menunggu diluar. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi, namun bukan disini. Jadi, dia menunggu dengan sabar.
Di dalam rumah.
Sasuke sedang duduk tenang di ruang keluarga. Entah kenapa, rumah yang selalu ramai itu kini lenggang dan sepi. Tak lama kemudian, Sakura muncul. Dia mengenakan celana jeans pink dan atasan merah. Dia menyapa Sasuke yang sedang melamun. "Sasuke, kamu sudah lama menunggu?"
Sasuke mendongak, dia menatap Sakura sesaat. "Tidak... Aku baru saja datang... Ngomong-ngomong, kakak-kakakmu kemana? Apa mereka sedang bekerja?" Tanya Sasuke. Sakura hanya tertawa mendengar pertanyaan Sasuke.
"Mereka itu sebenarnya pemimpin dari seluruh Four season Corp. Kak Nade adalah pemimpin sekaligus pemilik, sedangkan ketiga kakak sepupuku adalah para direkturnya. Mereka lah yang memutuskan jam kerja. Dan mereka bebas masuk kapan saja. Terutama kak Kage, yang menjadi direktur bagian entertainment." Jelas Sakura.
Sasuke mangangguk-angguk. Ayahnya pun pernah mengatakan hal ini. "Kelebihan dari orang-orang yang telah mencapai puncaknya." Kata Ayahnya, saat dia menanyakan kenapa dia melakukan itu. Dia pun merasa itu sebagai hak dari mereka yang telah berusaha naik sampai ke atas.
"Jadi, mereka kemana?" Tanya Sasuke lagi. Sakura mengecek barang bawaannya. Kemudian, dia berkata.
"Mereka pergi duluan ke lokasi pemotretan. Mereka sepertinya sedang fokus dalam hal ini, sepertinya. Soalnya, bagi mereka, proyek ini menggunakan kemampuan memimpin kak Nade, keahlian bisnis kak Hyou, Keahlian kuliner dan pemasaran kak Momi, dan keahlian fashion kak kage. Mereka senang kalau bisa bekerja sama dalam satu tingkat yang sama. Soalnya, di kantor Kak Nade ada di atas mereka." Jelas Sakura.
Sasuke berpikir sejenak 'Four Season, ya?' "Sakura, apa Kakakmu pernah bilang akan mengambil alih perusahaan animasi Gainax?" Tanya Sasuke. Sakura berpikir sesaat.
"Coba kau tanyakan pada Kak Kage… Dia yang mengurusi bidan entertainment soalnya…" Kata Sakura. Sasuke mengangguk-angguk. "Ayo!!! Kita kesana juga sekarang!!!! Mereka suka uring-uringan kalau sedang menunggu soalnya," Sakura menarik tangan Sasuke. "Kak Yuri... Ayo..." Seru Sakura. Tak lama, Yuri keluar dengan baju terusan berwarna kuning pucat.
Mereka segera keluar dari rumah, lalu bergegas pergi ke tempat yan dimaksud. Itachi mengikuti dari belakang. Dia menyeringai saat mulai mengetahui siapa yang ikut bersama Sasuke. 'Mengantar pacar dan kakaknya ya? Benar-benar tidak seperti Sasuke...'
Sepanjang pengetahuan Itachi, Sasuke bukan tipe yang mau berinteraksi dengan keluarga gadis yang dipacarinya. Mengetahui ini, Itachi makin bersemangat. Bagaimanapun juga, dia selalu beranggapan bahwa adiknya itu tak akan merubah sikap dinginnya, sehingga dijuluki 'Pangeran Es'. Namun, anggapannya telah dimentahkan dengan melihat kejadian ini. Dia masih pendiam, namun sama sekali tidak dingin pada gadis yang bersamanya sekarang.
Mobil Sasuke.
"Kita ke daerah mana? Shinjuku?" Tanya Sasuke. Yuri sedang membaca novel, sedangkan Sakura baru saja menelepon Seiji.
Sakura menjawabnya. "Ya!!! Tapi, kita ke daerah utara. Disanalah kakak membangun Restoran..." Kata Sakura. Alis Sasuke naik. Dia tahu tempat itu merupakan sentral 'sesuatu'. Sakura yang melihat ekspresinya tertawa. "Kenapa Sasuke?"
Sasuke menggeleng. "Tidak apa-apa. Tapi, bukannya Daerah Utara Itu... Sentral Penjualan untuk Otaku?" Sakura mengangguk. Sasuke memandangnya bingung. "Bukannya kalian mendirikan Cafe dan Restoran? Kenapa didirikan di tempat dimana orang-orang akan lebih memilih membeli act figure dari pada sekedar minum?"
Sakura tertawa mendengar penyataan Sasuke. Yuri ikut tertawa juga. "Justru itulah sasaran kami. Tema restoran dan cafe kami itu cosplay Cafe And Restaurant. Justru para Otakulah yang kami jaring menjadi pelanggan." Kata Sakura menjelaskan. Sasuke terpana.
"Siapa yang mempunyai ide ini?" Sasuke bertanya. Dia pun tak pernah terpikirkan ide semacam itu. Sakura tersenyum saat ditanya.
"Sakura lah yang memiliki ide itu. Dia melihat bagaimana para Otaku diperlakukan sebagai orang aneh oleh orang-orang disekitarnya. Lalu, dia memberikan ide ini pada Kak Nade. Katanya, 'Coba kita ciptakan cafe dimana para Otaku bisa merasa nyaman dan merasa diterima saat berada di cafe tersebut.' Dia langsung menyetujuinya." Yuri menjawab pertanyaan Sasuke.
Sasuke menatap Sakura dengan kagum. Sakura bersemu merah karena tatapan Sasuke. Yuri sendiri, melihat mereka dengan senyuman iseng. Sakura salah tingkah, dia memandang ke arah lain. "Hoi, belok kiri." Kata Yuri, sambil mengenakan senyuman isengnya. Sasuke, dengan wajah memerah, belok sesuai perintah Yuri.
Mereka pun tiba di tempat yang dimaksud. Gedung itu, terlihat berbeda dengan lukisan-lukisan karakter anime terkenal. Bahkan, sebelum buka pun, tempat itu sudah dipenuhi oleh para Otaku. Mereka sedang mencari tahu kapan tempat itu dibuka.
Mereka meninggalkan mobil, setelah masuk lewat pintu belakang parkiran tempat itu. Saat masuk, sasuke terpaksa harus mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia seakan masuk kedalam dunia lain. Semua dekorasi, mulai dari kasir sampai meja dan kursinya, dipersiapkan untuk membuat Otaku merasa di surga anime.
Mereka segera bertemu dengan Seiji dan Kotaro. Disana juga ada Naruto, Neji, juga Shikamaru. Bahkan ada Kimimaro dan Kabuto. Sasuke mendekati mereka, menyadari bahwa ada yang aneh dengan mereka. Baik Neji maupun Kabuto terlihat terganggu akan sesuatu. Shikamaru menggumamkan 'Kumpulan orang menyusahkan.'
Naruto dan Kimimaro tetap terlihat seperti biasa, walau terlihat berwajah usil. Kotaro dan Seiji sedang mengobrol seru, sesekali tertawa dengan suara yang tidak disukai. Sasuke menyadari keanehan ini. Dia mendekati mereka, bertanya pada Naruto. "Kalian semua kesini juga? Kalian menjadi model juga?" Naruto memandang Sasuke tak percaya.
"Kamu juga jadi model? Kamu tak keberatan? Kita..." Dia melanjutkaan kata-katanya dalam bisikan. Sasuke masih bisa menangkapnya, langsung menuju ke arah Sakura.
"Sakura, apa benar Kita sebagai model harus memakai kostum wanita ?" Tanya Sasuke. Sakura memandangnya bingung.
"Bukannya kamu sudah tahu? Kamu, kan sudah mencoba salah satu kostumnya?" ingatan Sasuke kembali ke hari dimana dia diikat dan dipakaikan kostum perempuan. Dia langsung memucat. "Kamu tidak mau ya? Tidak apa-apa kok... Aku bisa mencari model lainnya." Kata Sakura. Namun, dia sedikit kecewa.
Sasuke mengerang pelan. 'Aku sudah keburu menjanjikannya lagi...' "Tidak apa-apa. Aku hanya lupa." Katanya, sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sakura langsung bersemangat. Setelah berbicara sebentar, dia kembali. Kali ini, dia duduk bersama Neji dan Kabuto.
"Tak bisa kabur, ya?" Tanya Neji. Sasuke mengangguk, menghela napas panjang. "Kadang... Saat seperti ini... Aku mengutuk diriku yang terlalu menyayangi Tenten, dan tak mampu menolaknya saat dia memohon." Kata Neji menerawang. Sasuke, merasakan hal yang sama, mengangguk setuju.
"Kabuto-san sendiri, kenapa kamu menuruti keinginan gadis itu?" Tanya Neji, menunjuk Yakumo. Kabuto memandang Yakumo penuh kasih. Namun, dia segera kembali serius.
"...Bagiku, keinginan Nona adalah perintah. Kalau itu adalah keinginan beliau, aku akan melakukannya." Akhirnya dia bicara. Sasuke mengangkat alisnya.
"Kenapa kamu masih memanggilnya 'Nona'? Bukankah kalian sudah bertunangan?" Kabuto hanya terdiam. Sasuke akhirnya angkat suara. "Kamu tahu... Secara tak langsung, kamu telah menyakitinya..." Kabuto memandangnya terbelalak. Dia tidak mengerti bagian mana yang salah.
Kali ini, Nejilah yang berbicara. "Karena kamu memanggilnya seperti itu, kamu telah membuat jarak diantara kalian semakin jauh... Dia menyayangimu, aku tahu dengan sekali lihat saja. Lagipula, kakaknya tidak mempersalahkan hubungan kalian kan?" Neji sudah tahu soal hubungan mereka. Kotaro yang memberi tahukannya saat mereka bertemu.
"Tapi... Aku hanyalah pelayan... Bagaimanapun juga..." Kata-katanya terputus karena Sasuke memotongnya.
"Dengarkan aku. Aku tahu kamu ingin menjaga kehormatan keluarganya... Tapi, kamu tidak menyadari kan? Kalau kamu tetap bersikap seperti ini, orang-orang akan mengira bahwa kamu diikat secara paksa dalam pertunangan ini. Itu akan membuat citra keluarganya buruk." Kata Sasuke. Kabuto berpikir beberapa saat.
"Lalu, aku harus melakukan apa? Yang aku inginkan hanyalah melihat No-Yakumo bahagia... Juga ingin membalas budi keluarga Kurama, yang telah menolong kami..." Katanya. Sasuke mendesah.
"Cobalah hentikan merasa segan mendekatinya. Dia bertunangan denganmu karena dia mencintaimu. Kau pun mencintainya kan?" Kabuto mengangguk dengan wajah memerah. "Kalau kukatakan, dia sekarang sedang menunggumu. Dia menunggumu mendekatinya, merengkuhnya dalam pelukanmu. Kalau kamu memang ingin melihatnya bahagia, kamu harus lepaskan segala hormat itu, setidaknya padanya.
Dia ingin melihatmu sejajar dengannya, bukan setingkat dibawahnya. Dia ingin kamu melakukan semua yang dia minta, bukan karena kewajiban sebagai pelayan. Tetapi, sebagai kekasih yang mencintainya." Kata Sasuke. Kabuto tenggelam dalam pikirannya.
Dia kemudian bertanya lagi. "Aku harus mulai dari mana? Aku sebenarnya agak kurang paham dalam hubungan semacam ini..." Sasuke tersenyum.
"Hentikan panggilan 'Nona' itu, denga segala rasa hormat itu. Lalu, cobalah tidak membungkuk saat dia memanggilmu. Namun, pertama-tama kamu harus minta maaf. Minta maaf karena selama ini kamu selalu menjaga jarak dengannya, padahal kamu ingin dekat dengannya." Jawab Sasuke. Kabuto berpikir untuk sesaat.
Dia kemudian beranjak pergi. Dia pergi menemui Yakumo. "Kamu ahli sekali soal wanita, ya..." Kata Neji pada Sasuke.
Sasuke hanya angkat bahu. "Aku sebenarnya bukan sekali dua kali dekat dengan wanita. Lagipula, aku belajar itu dari kakakku." Tak lama kemudian, terdengar suara isak tangis. Mereka semua mendekati tempat dimana Kabuto mengajak Yakumo bicara.
Disana, ada Yakumo yang memeluk Kabuto sambil menangis. Kabuto sendiri, sedang sibuk menenangkannya. "Apa yang kau lakukan, Sasuke? Kau tadi terlihat berbicara dengan Kabuto." Tanya Kimimaro. Sasuke menceritakan apa yang terjadi. "Hoo... Begitu toh... Yah, kupikir ada apa... Terima kasih Sasuke, kau sudah membantu kami." Sasuke mengerti dan mengangguk.
"Maaf... Sa-aku melakukan sesuatu yang salah ya?" Tanya Kabuto. Yakumo kini sudah tenang, namun masih membenamkan wajahnya di tubuh Kabuto. Dia tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Kabuto. "Maafkan saya.... Saya pikir..." Kata-kata Kabuto terputus saat Yakumo mencium bibirnya.
Setelah sekitar beberapa lama, mereka memutus ciuman itu untuk menghirup udara. Yakumo memandang Kabuto. "Kau tahu... Aku sempat hilang harapan tadi... Mengira kamu memang tak punya perasaan yang sama denganku... sehingga tidak menolak saat kamu mengenalkanku sebagai 'Nona'-mu itu... Terima kasih, Kabuto-kun..." Dia mengistirahatkan kepalanya di pundak Kabuto.
Kabuto langsung menahannya. Saat dia memandangnya bingung, dia menjawab dengan bisikan. "Na-nanti ada yang lihat. Aku tidak terbiasa begini, dan di depan umum..." Wajahnya memerah. Yakumo tertawa.
"Kamu malu kalau kita bermesraan di tempat umum?" Kabuto mengangguk. "Ini wajar, Kabuto-kun... Semua pasangan yang telah bertunangan memang biasa begini..." kata Yakumo.
"A-aku sama sekali tidak tahu tentang hal semacam ini... Bisa dibilang, Ini pengalaman pertamaku menjalin hubungan dekat dengan wanita..." Katanya mengaku. Yakumo tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya kepada Kabuto.
"Tenang saja, Kabuto-kun... Aku akan mengajarimu... Hihihi..." Suara Yakumo terdengar menggoda. Kabuto mengangguk polos. Sebelum yang lain sempat melihat hal selanjutnya, Kotaro perlahan menutup pintu ruangannya.
"Tontonan sudah selesai… Ayo, kita mulai ganti kostum. Mereka segera bergerak sesuai instruksi. Para model dan yang memakaikan kostum segera menuju ruang ganti. Sasuke masuk ke ruang ganti bersama Sakura. Tak lama, Yakumo dan Kabuto masuk bersama mereka. Mereka memang berbagi satu ruang ganti berdua. Sakura ingin menanyakan tentang yang terjadi tadi, tapi Sasuke menahannya.
Mereka memakai baju ala maid. Kabuto dipilihkan baju baju maid berwarna abu-abu, sedangkan Sasuke memilih baju maid berwarna biru. Tiba-tiba, terdengar teriakan dan penolakan dari ruangan lain. Sasuke mendengarkan dari balik tembok. "Apa ini? Kita juga harus memakai pakaian dalamnya!!!???" Sebelum Sasuke sempat bereaksi, dia merasakan sesuatu yang tajam menusuk lengannya.
Dia menengok. Kabuto telah jatuh dalam pelukan Yakumo yang menyeringai. Dia mencari Sakura, menemukannya sedang keluar, mengobrol dengan kakaknya. Lalu, dia melihat Momiji, dengan senjata tiup di tangannya. Dia mencabut jarum yang menusuknya. "Sial..." Kesadarannya mulai lenyap. Hal terakhir yang dia ingat adalah wajah stoic Momiji, yang mendekat padanya.
Sasuke terbangun dengan kepala melayang. Dia terdiam beberapa saat, memfokuskan pandangannya. Dia memandang sekeliling dan langsung bagkit dari tempatnya berbaring. "Sudah bangun, putri tidur?" dia menengok ke arah suara itu.
Seorang pria berdiri di tak jauh dari tempatnya tertidur. Dia menyibakkan rambut biru muda sebahunya. Dia memakai kaos oblong, dengan jaket disampirkan di meja bar. Sasuke baru sadar bahwa dia dibaringkan di depan bar. Dia segera melihat pakaiannya. Dia telah memakai baju maid yang diberikan Sakura.
Dia melihat sekeliling. Dia melihat sekumpulan lelaki yang tadi masuk ke ruang ganti yang berbeda beda bersamanya, minus Kotaro dan Kimimaro. Neji dan Naruto memakai baju ala putri raja, Neji, dengan baju putri Kaisar jepang, sedangkan Naruto dengan baju putri bangsawan inggris. Naruto dipakaikan wig pirang dengan model kuncir buntut kuda.
Shikamaru memakai baju kelasi, seperti pada anime terkenal yang sempat booming. Lelaki itu menyodorkan gelas pada Sasuke. "Minumlah. Itu resep spesial buatanku sendiri. Perkenalkan, aku Suigetsu, pekerja disini." Kata lelaki bernama Suigetsu. Sasuke langsung meminum minuman itu.
Dia terkejut saat merasakan cairan yang masuk dalam tenggorokannya. "Cocktail?" Dia yang telah menghadiri berbagai pesta perusahaan ayahnya, telah terbiasa meminum minuman alkohol. Namun, cocktail bukanlah sesuatu yang biasa ditemukan di restoran biasa.
"Corpse Reviver. Absinthe, Gin, jus lemon, Cointreau dan Lillet blanc yang dicampur. Bagaimana, sudah bangkit dari 'kematian'mu?" Suigetsu memainkan juggler dengan santai. Sasuke agak terbatuk. Walau terbiasa minum, bukan berarti dia peminum. Dan minuman yang digunakan dalam cocktail itu agak keras baginya.
"Sudah… Ngomong-ngomong, kenapa ada bar di restoran yang dikhususkan untuk Otaku?" Tanya Sasuke. Suigetsu tertawa mendengarnya.
"Memangnya, kau pikir tempat ini hanya untuk Otaku? Daerah ini daerah yang diciptakan untuk hobiis. Mereka yang mempunyai selera unik, seperti penggemar Anime, Gothic, Trend-setter unik ala Shinjuku, juga masih banyak lagi... Ini adalah tempat, dimana bahkan cross-dresser dan Okama diperlakukan selayaknya orang normal." Jawab Suigetsu. Dia tersenyum, memamerkan barisan gigi tajamnya.
Sasuke segera mencerna kata-kata Suigetsu. "Lalu, hubungannya dengan bar ini?" Suigetsu geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kebanyakan dari pekerja kantoran sekarang adalah termasuk dalam 'Bagian Sini'... mereka, diam-diam adalah Otaku. Dan tentu saja, tidak aneh bila menyediakan bar untuk mereka, kan? Mereka, kalau tidak sedang menggeluti hobi mereka, pasti pergi minum-minum. Justru ini yang direkomendasi oleh pengisi angket yang kami sebarkan.." Kata Suigetsu. Dia kembali meramu beberapa minuman.
Kotaro dan Kimimaro datang ke bar. Setidaknya, Sasuke mengira mereka Kotaro dan Kimimaro. Mereka memakai pakaian gothic. Kimimaro gothic murni, sedangkan Kotaro gothic lolita. Dengan dandanan serba hitam dan serba pink itu, sulit mengenali wajah mereka. Baru saat mereka bicaralah, Sasuke yakin mereka adalah Kimimaro dan Kotaro.
"Long Island Iced Tea. Hei, sudah bangun, Uchiha-san?" Tanya Kimimaro, setelah memesan pada Suigetsu. Sasuke mengangguk.
"The Last Word. Eh, kau tidak memberikannya sesuatu yang aneh kan, Suigetsu-san? Aku tidak ingin dia mabuk sebelum sesi foto dimulai." Kata Kotaro. Sasuke memberinya pandangan kesal karena dianggap tidak dapat minum.
"Aku terbiasa minum, walau bukan peminum. Aku bisa bertahan kalau hanya segini." Jawabnya. Kotaro memberinya pandangan 'Aku-tidak-menanggung'.
Suigetsu berkata. "Dia benar, Kotaro. Aku memberinya Corpse Reviver dan dia hanya terbatuk sedikit. Nih, Long Island Iced Tea dan The Last Word pesanan kalian. Untuk yang lainnya, apa sebaiknya kusiapkan punch? Atau yang sama sekali non alkohol?" Dia menyodorkan pesanan masing-masing.
Kotaro berpikir sejenak setelah menenggak minumannya. "Sebaiknya yang non alkohol dulu. Setelah sesi selesai, beri mereka punch. Sebenarnya sih, terserah... Tapi, aku tidak bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu." Kimimaro juga menyetujui hal itu.
Suigetsu mengangguk. Tak lama, Yakumo dan Tayuya datang. "Kalian… Minum kok tidak mengajak… Kir Royale satu." Kata Tayuya, sambil duduk disebelah Kimimaro.
"Tolong Keyser satu~. Hei, Uchiha-san!!! Sudah sadar rupanya?" Yakumo menyapa Sasuke. Dia kemudian duduk di sebelah Tayuya. Mereka segera mendapat pesanannya, dan mulai menyesap minuman tersebut. "Kabu-kun masih belum sadar. Sebenarnya, apa sih yang dipakai kakak bernama Momiji itu?" Tanya Yakumo pada Kotaro.
Dia terdiam sejenak sebelum menjawab. "Sepertinya, itu obat yang dulu kupakai saat kabur dari kejaran Yakuza. Aku menceritakannya, beberapa hari kemudian dia mengabariku bahwa dia sudah menemukan komposisi bahan yang kupakai. Yang kutahu, itu jadi favoritnya." Jawabnya, sambil menghabiskan gelas ketiga minuman pesanannya.
Sasuke melotot padanya. "Jawab aku. APA yang kalian lakukan sampai harus membius kami?" Bahkan tatapannya mampu membuat seorang bos berandalan ciut nyalinya.
Kotaro, yang tidak terpengaruh, hanya tertawa. "Oke, Sorry. Tapi, kalian tak akan mau kalau kami memintanya, secara halus maupun kasar. Kamu mau tahu?" Sasuke mengangguk. "Kami membius kalian supaya bawahan Kak Kage dapat mengganti pakaian dalam kalian, dengan yang lebih 'manis'. Kalian tak akan mau kalau disuruh, karena itu kami membius kalian." Jawabnya, seakan itu bukan apa-apa.
Namun tidak bagi Sasuke. Dia segera mengangkat roknya, membuat Tayuya dan Yakumo bersemu, dan Suigetsu berusaha untuk tidak tertawa. Dia terdiam atas pemandangan yang dia lihat. Suigetsu mengomentarinya, membuatnya tersadar. "Kau tahu, pemandangan ini akan sangat menggoda kalau kau adalah wanita." Sasuke segera menurunkan roknya.
Dia menatap pada Kotaro dengan tatapan yang sanggup membuat orang biasa kecing di celana. Tapi, semua orang disana sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Jadi, mereka hanya tertawa melihatnya. "KALIAN...." Dia bersiap untuk mengamuk, tapi Kotaro menahannya.
"Tenanglah. Aku akan memberi alasan bagus," Sasuke menghela napas beberapa kali. Lalu, dia duduk tenang. "Tema pemotretan adalah 'cross-dresser'. Artinya, seorang lelaki dan perempuan yang mengenakan pakaian berkebalikan dengan jenis kelaminnya. Dan adalah suatu KEHARUSAN bagi seorang cross-dresser untuk mengenakan pakaian itu, sampai ke pakaian dalamnya. Karena itulah, kami terpaksa membius kalian, karena kalian pasti menolak hal ini.
Namun, kesan pertama adalah sesuatu yang krusial bagi kepopuleran tempat ini. Dan para orang yang kita targetkan, sebenarnya adalah sekumpulan orang sangat teliti soal hobi mereka. Mereka akan mengecap kami buruk kalau mereka melihat model iklan kami melewatkan hal penting semacam ini. Inti utama dari seorang cross-dresser adalah 'berubah sempurna menjadi seorang yang yang berlainan jenis'. Jadi, kamu mengerti kenapa kami terpaksa membius kalian kan?"
Sasuke, dengan berat hati mengangguk. Suigetsu menyodorkan minuman di gelas wine pada Sasuke. "Apa ini? Bagaimana cara membuatnya?" Sasuke teralihkan oleh minuman yang ada di hadapannya. Minuman itu berwarna hitam kemerahan, dengan irisan jeruk dan lemon di atasnya.
Suigetsu tersenyum senang, karena seseorang tertarik dengan minumannya. "Dark Side. Red Wine dan Coke dicampur, lalu diberi irisan jaruk dan lemon. Ini," Katanya sambil menunjukkan minuman yang diminumnya, "Adalah Mimosa. Dari sparkling wine dan jus jeruk." Dia menenggak minuman itu.
Segera setelah mereka minum, yang lain segera terbangun. Setelah semua tersadar, Suigetsu memberi mereka punch. Mereka minum sambil mendengar penjelasan Kotaro. Mereka, akhirnya setuju dengan kondisi itu. Shikamaru bertanya pada Kotaro. "Kau bilang semua orang kan? Apa para wanita juga?" semua memandang Kotaro. Dia menyeringai.
"Tentu saja..." Dia mendekat ke arah mereka. Mereka semua tahu apa yang akan dikatakannya, namun tetap berdebar-debar. Mereka semua bersemu merah. Dia maju sampai cukup dekat untuk berbisik. Untungnya, baik Tayuya dan Yakumo sudah pergi setelah mereka sadar, sehingga dia bisa mempermainkannya. "Kau tahu, mereka juga hanya memakai boxer." Dia berbisik.
Beberapa yang masih polos, seperti Kabuto dan Naruto langsung mimisan. Mereka yang sudah lebih dewasa, seperti Sasuke, wajahnya bersemu semerah tomat. Sedangkan, para lelaki yang telah dewasa sepenuhnya, seperti Kotaro dan Kimimaro hanya menyeringai. 'Mengusili mereka memang menyenangkan.'
Sebelum mereka sempat menenangkan diri, lepas dari imajinasi kotor mereka, para gadis datang keluar dari ruang ganti. Mereka memakai kostum para tokoh animasi terkenal. Dan, entah disengaja atau tidak, mereka memakai baju terbuka atau agak ketat. Naruto dan Kabuto pingsan karena mimisan parah. Bahkan beberapa ikut lemas karena kekurangan darah.
Setelah mereka tersadar kembali dan mendapatkan perawatan, sesi foto pun dimulai. Mereka berfoto sesuai tema masing-masing, lalu berempat, sesuai pasangannya. Sasuke dan Sakura berfoto bersama pasangan Yuri-Kotaro. Saat mereka akan berpose, Kagerou menahannya. "Kenapa?" Tanya Sakura.
"Hmm... Kalau yang jadi pelanggan sama, agak membosankan... Sebentar, aku cari orang dulu." Sambil berkata seperti itu, dia keluar. Mereka menunggu sambil mengobrol. Sakura melihat Sasuke yang agak pucat bertanya.
"Sasuke, kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat pucat..." Dia meletakkan tangannya di kening Sasuke. Sasuke, sedikit memerah, menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Sakura. Hanya saja, aku khawatir, jangan-jangan yang diajak kemari adalah seseorang yang kukenal, seperti kakakku. Aku tidak ingin dilihat dengan pakaian semacam ini..." Kata Sasuke. Dia tertunduk. Sakura mengelus kepalanya.
"Tenanglah... Kemungkinan untuk itu kecil, kok," Kata Sakura, menenangkan Sasuke. "Ngomong-ngomong, kamu punya kakak?" Tanya Sakura Sakura yang tertarik akan topik itu.
Sasuke mengangguk. "Namanya Itachi. Umurnya 21 tahun. Dia sekarang sedang libur kuliah dari Harfard. Dia punya hobi memotret dan pergi ke tempat-tempat yang menurutnya unik dan menarik. Dia..." Kata-katanya terputus saat melihat orang yang dibawa masuk Kagerou.
"Dia kenapa, Sasuke?" Tanya Sakura penasaran karena Sasuke tiba-tiba terdiam. Sasuke tiba-tiba memucat sepucat hantu.
Tangannya yang gemetaran menunjuk ke arah orang yang baru saja masuk, yang kini menyeringai lebar pada Sasuke. "D-Dia... Ada disini..." Sakura menengok. Di tempat Sasuke menunjuk, berdiri seorang pria berambut hitam panjang yang dikuncir.
Dia mengenakan kaos hitam dengan lambang kipas, lambang keluarga Uchiha, kata Sasuke, dibalik vest biru tuanya. Badannya tegap dan berotot, namun langsing. Namun, yang paling menunjukkan bahwa dia kakak Sasuke adalah tatapan tajam dan agak dingin, mirip tatapan Sasuke saat mereka pertama kali bertemu. Namun, mata itu kini menunjukkan keusilan di dalamnya.
"Wah-wah... Tak kusangka, Sasu-chan punya hobi semacam ini... kalau ibu dan ayah mendengar, bagaimana ya?" Lelaki bernama Itachi itu mendekat. Sasuke mundur selangkah setiap kali dia maju selangkah. Sakura ingin menolong, tapi Seiji menahannya.
"Ini angle yang bagus. Ekspresi sangat alami yang kucari dari tadi. Biarkan, toh kita bisa melakukan sesuatu kalau lelaki itu macam-macam, kan?" Kata Seiji saat Sakura bertanya Kenapa. Mereka semua kini memandangi kejadian ini dengan takjub. Sasuke sang pangeran es, yang mungkin tak gentar melawan berandalan bisa begitu ketakutan di hadapan lelaki itu.
Sasuke terus berusaha mundur, hingga punggungnya menabrak dinding restoran. Dia berusaha menghindar ke samping, namun kedua tangan Itachi menahannya. Mereka saling tatap beberapa saat. "Ayah pasti akan terkejut melihat ini." Mendengar itu, Sasuke makin pucat.
Seiji mengambil kesempatan ini untuk memfoto mereka sebanyak-banyaknya. Sakura yang tidak bisa menahan dirinya, berlari ke arah mereka. Dia mendorong tangan Itachi, dan berdiri diantara Sasuke dengan kakaknya. "Ini tidak seperti yang terlihat, Itachi-san." Katanya dengan penuh ketegasan. Sasuke menyembunyikan dirinya dibalik Sakura.
Semua yang melihat ini berpikir bahwa mereka seperti sedang melihat adegan drama, dimana tokoh wanita yang sedang diganggu orng jahat dilindungi oleh seorang ksatria. Semua terdiam, dan ruangan menjadi hening. Itachi yang tak bisa menahan diri lagi, tertawa lepas. Sasuke dan semua orang, kecuali kakak-kakak Sakura, hanya bisa terdiam.
"Kau ini... Mestinya bisa lebih lama lagi, kan?" Suara Nadeshiko membuat perhatian mereka tertuju padanya. "Saat kami beritahu untuk apa dia diajak, dia bertanya apa ada seorang lelaki bernama Sasuke. kami memberitahunya. Dia lalu bilang bahwa dia punya ide usil. Kami sih, hanya mengikuti saja." Jelas Nadeshiko.
Mereka semua menghela napas, terutama Sasuke. "Kau kaget ya? Makanya, beri tahu kami kalau kamu sedang melakukan sesuatu... Kau tahu, kadang ibu khawatir akan keselamatanmu... Dasar, bocah ini..." Itachi berkata, sambil mengetuk kening Sasuke dengan du jari. Sasuke hanya diam saja.
"Kakak sendiri, kenapa ada disini?" Tanya Sasuke. Itachi menunjuk kamera yang tergantung di lehernya.
"Mencari gambar yang unik. Karena distrik ini terkenal eksentriks, aku datang mencari gambar yang unik. Dan memang banyak objek unik untuk difoto. Saat aku sedang asyik memfoto, mereka datang padaku dan menawariku untuk jadi model mereka." Katanya, sambil menunjuk Nadeshiko cs.
Sasuke mengangguk-angguk. Dia tahu kebiasaan kakaknya, dan tahu bahwa bukan hal aneh kalau menemukan dia di areal ini. Dia tidak menyadari Itachi yang diam-diam menghela napas. 'Untung saja dia percaya...' Pikirnya dalam hati.
Mereka kembali dalam aktivitas mereka. Kegiatan ini manjadi lebih cepat karena bantuan Itachi. Sasuke agak terkejut mengetahui Itachi mengetahui tentang beberapa hal tentang apa yang disebut 'cross-dresser' itu. Rupanya, itu juga adalah studi lepas kelompok kuliahnya. Dia kuliah psikologi disana. Baginya, bisnis adalah sesuatu yang mengalir secara alami dalam darahnya, dan dia benar. Dia segera mengetahui semua seluk-beluk bisnis seakan dia pernah melakukan itu sebelumnya.
Setelah mereka berganti baju lagi, (ada sedikit kehebohan saat mereka berusaha melepas pakaian dalamnya.) mereka berkumpul di dekat bar. Dua sosok muncul dari dapur yang belum dilihat oleh mereka sebelumnya. Seorang wanita berambut merah berkacamata dan seorang lelaki berambut oranye besar, bahkan lebih tinggi dari Chouji, datang membawa berbagai makanan dengan troli besar.
Nadeshiko berdehem, mendapat perhatian mereka. "Kenalkan, mereka adalah kepala koki disini. Karin Himura dan Juugo Himura. Mereka akan mengepalai semua kegiatan masak-memasak disini. Dan kuperkenalkan lagi, Suigetsu Hozuki, bartender dan orang yang memutuskan minuman apa yang akan masuk dalam menu restoran kita." Kata Nadeshiko, memperkenalkan para orang tadi. Lelaki bernama Juugo itu menunduk, sedangkan wanita bernama Karin itu segera sibuk menempatkan makanan di meja, tak menggubris Nadeshiko.
"Kami sibuk, Nade-san. Kami masih harus membereskan dapur, belum lagi masih belum membereskan beberapa barang yang masih belum diberskan. Basa-basinya nanti saja." Kata Karin segera setelah menempatkan makanan. Juugo hanya mengankat bahu saat mereka memberinya pandangan penuh tanda tanya.
"Dia itu perfeksionis. Dia tak akan tenang sebelum semuanya beres, sesuai keinginannya," Suigetsu berkata, setelah Karin menarik Juugo pergi. "Aku masih heran kenapa Juugo bisa bertahan dengannya, bahkan menikahi wanita cerewet itu." Dia berkata sambil mulai makan.
Mereka pun segera makan. Tak lama setelahnya, Juugo datang, mendorong Karin yang masih bertahan untuk pergi ke dapur. Dia mulai bertengkar, atau lebih tepatnya, Karin berteriak-teriak, semantara Juugo hanya diam. Kemudian, Juugo menutup mulut Karin.
Karin akan meledak marah, saat Juugo mencium keningnya. "Tenanglah. Kau bisa sakit karena terlalu lelah." Wajah mereka hanya beberapa inchi terpisah saat dia berkata. Hanya dengan itu, Karin terdiam. Juugo mengelus kepala Karin, lalu menuntunnya ke salah satu kursi kosong. Mereka menyadari, mata Karin tidak lepas dari Juugo. Dia sedikit memerah saat Juugo kembali menciumnya, kini di pipi, sebelum duduk di sebelahnya.
Mereka kembali pada aktivitas mereka, namun dalam kepala mereka, mereka kagum akan kemampuan Juugo menahan Karin. Semua lelaki seangkatan dengan Sasuke, berpikir cara apa yang telah dilakukan Juugo sampai membuat wanita keras kepala dan emosian itu tenang.
Akhirnya, kegiatan hari itu selesai juga. Saat Sasuke sedang bersiap-siap untuk pulang, Nadeshiko cs. Mendatanginya. "Ada apa, kakak-kakak?" Tanya Sasuke, berusaha sopan.
Nadeshiko maju. "Ini baru saja dimulai, bocah," Sasuke memberikannya pandangan bingung. "Jangan kau kira ini sudah selesai, bocah sial. Sebelum kau membuktikan bahwa niatanmu itu tulus, kami tak akan berhenti mengerjaimu." Sasuke mendesah panjang.
"Niatku tulus. Kau bilang tidak akan berhenti sebelum aku membuktikan niatku kan? Aku akan membuat kalian percaya, sampai memohon maaf padaku karena telah tidak mempercayaiku." Katanya penuh tekad.
Kagerou akan menyeruak dengan marah, namun Momiji menahannya. Setelah tenang, dia angkat suara. "Jadi... Itu jawabanmu? Begitu... Kau menantang kami rupanya... Baiklah... Berarti, kami bisa berbuat sesuka kami, kan?"
Sasuke mengangguk, namun merasakn bulu tengkuknya berdiri. Mereka menyeringai seram, bahkan sampai membuat Sasuke merinding. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Uchiha. Kami memiliki beberapa hal yang harus direncanakan. Nikmatilah kedamaian mu yang sesaat ini." Kata Hyouga, sebelum mereka berempat pergi. Sasuke menghela napas, dia terduduk lemas.
Itachi masuk tak lama setelah mereka keluar. "Aku sudah mendengar dari lelaki bernama Kotaro. Jadi... Kamu melawan mereka demi gadis itu? Benar-benar diluar dirimu, Sasuke." Dia duduk menghadap ke arah Sasuke.
Dia menatap langit-langit. "Aku sendiri tidak mengerti. Biasanya, aku segera mundur setelah mengetahui ini... Namun, senyumnya seakan membuatku merasa semua ini layak dilakukan. Seakan, seulas senyumnya mampu membayar segala jerih payahku. Dan aku ingin terus bersamanya, menatap mata emeraldnya, menyaksikan tawanya, mendengar senandung suaranya.
Aku terbius, oleh segala yang ada pada dirinya. Ingin merenkuhnya dalam pelukku saat dia bersedih, ingin menjaganya saat dia terlelap. Ingin tetap melihatnya dalam kebahagiaan, dan menjaga agar senyum indahnya tetap terjaga. Baru kali ini aku begitu menginginkan seseorang, hanya karena dia adalah dia, bukan karena dia adalah sesuatu." Kata Sasuke.
Itachi terpana. Dia tidak menyangka bahwa Sasuke akan berkata seperti itu. Dia lalu tersenyum. "Kau jatuh cinta padanya. Jangan menolak, bahkan orang bodoh pun dapat melihatnya dengan jelas." Sasuke tidak menjawab.
"Aku... Akan bersiap-siap... Aku tak tahu apa yang ada di kepala mereka. Tapi, yang pasti mereka tak akan membiarkan aku keluar secara utuh." Kata Sasuke, berdiri dan melangkah gontai. Itachi menahannya.
Dia menghela napas. "Baiklah, aku akan membantumu," Katanya. Sasuke menatapnya tak percaya. "Kau lupa, bagaimana usahaku sampai bisa bertunangan dengan Yugito? Kau tidak lupa 'Duo Muscle' itu kan?" Sasuke teringat akan tunangan kakaknya, Yugito Nii. Dia anak angkat dari pegulat legendaris, Shadow lightning, juga saudara angkat dari pegulat yang terkenal seaentaro dunia, Killer Bee, yang juga dikenal sebagai Longhorn Ox.
Untuk alasan yang samalah kenapa kakaknya sekarang berotot. Kalau orang yang dikenalnya, tidak bertemu dengannya tiga tahun terakhir ini, mungkin dia tak akan mengenali Itachi sekarang. Dia dulu lebih terlihat seperti wanita cantik daripada lelaki tampan. Kulit putih agak pucat, wajah halus dan sangat cantik, rambut panjang dan tubuh langsingnya, sering membuat orang salah sangka.
Namun, sebagian besar dari itu telah hilang. Kulitnya sekarang lebih gelap. Walau tetap langsing dan berwajah halus, keduanya telah berbentuk lebih melelaki. Sekarang, mungkin orang lebih meliahtnya sebagai seorang model lelaki tampan, dari pada seorang wanita.
"Baiklah, aku mendengarkanmu. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sasuke. Itachi membisikkan beberapa hal. Dia mengangguk-angguk.
"Sisanya, akan kuajari mulai besok. Namun, camkan hal itu baik-baik. Itu adalah dasar utama untuk membuat mereka percaya padamu." Kata Itachi. Sasuke, mendapat semangat baru, menyambar kunci mobilnya dengan senyum penuh semangat. Mereka meninggalkan tempat itu.
"Sasuke, tunggu!!!" Suara Sakura membuatnya berbalik. "Anu, terima kasih... Kamu mau menyanggupi permintaanku untuk menjadi model..." Dia mencium pipi Sasuke. Dia melambai, sebelum pergi dengan wajah memerah. Dalam diri Sasuke, muncul api tekad yang membara.
Dia memandang ke langit. "Aku akan membuat mereka mempercayaiku, Sakura. Tunggulah." dia segera memasuki mobil, dan melaju pergi. Kotaro yang melihat itu menyeringai.
"Kenapa, Kota-kun?" Tanya Yuri. Kekasihnya hanya tertawa kecil. "Ukh... Jawab aku dong..." Dia merengut. Kotaro mengelus kepalanya, lalu menciumnya.
"Sepertinya, dia tidak menyerah. Ini jadi semakin menarik saja..." Dia lalu memberi tahu Yuri. Dia memandang tempat dimana mobil Sasuke berada beberapa saat lalu.
"Kuharap, dia benar-benar bertahan... Sepertinya, Sakura juga tertarik padanya..." Kata Yuri. Kotaro memeluknya, kemudian mnciumnya lagi.
"Kami cukup berharap padamu, Sasuke. Jangan kecewakan kami. Atau aku akan membalasmu berkali-kali lipat."
Wai!!!!! Apa yang akan dialami Sasuke? Apa yang direncanakan kakak-kakak Sakura? Apa yang akan diajarkan Itachi? Tunggu chapter selanjutnya ya....
Untuk data tentang cocktail, silakan cari di Wikipedia... Itu asli lho.
Bye!!!!!
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
