Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?
Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita
Hai semua~ bagaimana kabarnya?
Akhirnya, sampe chapter 9 juga...
Makasih atas dukungannya...
Oke, chapter 6 dimulai...!
Baka Tantei seishiro amane present...
FALLING FOR CHERRY BLOSSOM
CHAPTER 6: EVIL'S PLAN
Sebelumnya...
Kuharap, dia benar-benar bertahan... Sepertinya, Sakura juga tertarik padanya..." Kata Yuri. Kotaro memeluknya, kemudian menciumnya lagi.
"Kami cukup berharap padamu, Sasuke. Jangan kecewakan kami. Atau aku akan membalasmu berkali-kali lipat."
Kagerou mengetuk keidaman Sakura. Hari ini, beberapa hari setelah pemotretan, adalah persiapan festival, sehingga Sakura tidak melakukan latihan pagi bersama klub bela diri cina-nya. 'Semoga Sakura belum berangkat.' Pikirnya. Seperti yang diduga, yang membukakan pintu adalah Sakura.
"Kak kage? Ayo, masuk....! Ada urusan penting ya, sampai datang pagi-pagi sekali?" Sakura bertanya saat mereka masuk. Kagerou hanya menghela napas. Sakura segera menyiapkan teh untuknya. Kagerou baru menjawab setelah Sakura kembali, dan duduk setelah menaruh cangkir berisi teh dihadapannya.
"Tidak, bukan hal yang sepenting itu, kok. Aku kemari untuk menaruh mobil saja, soalnya aku ada janji bertemu Kotarou... Dia memiliki beberapa permintaan yang ditujukan padaku... Yah, aku yang menjanjikannya sih..." Katanya, sambil menyesap teh. Sakura mengangguk-angguk.
"Sebaiknya kakak kesana saja... Dia sudah bangun kok. Dia baru saja membangunkan kak Yuri tadi..." Sakura menyarankan. Kagerou terdiam sejenak. Dia lalu meminum habis tehnya.
"Oke! Aku akan kesana! Sampai jumpa, Sakura-hime...!" Dia bergegas pergi. Sakura hanya tertawa mendengar panggilan 'Sakura-hime'. Dia membereskan cangkir, mencucinya, lalu segera membuatkan sarapan untuk yang lain.
Kagerou berlari kecil menuju rumah Kotaro. Sesampainya disana, dia bermaksud untuk langsung masuk, namun dia teringat sesuatu. Dia berhenti tepat di depan pintu rumah Kotaro. Dia masih ingat hal yang terjadi saat terakhir kali dia masuk tanpa pemberitahuan terlebih dulu. 'Hampir saja lupa... Huff... Untung aku ingat... Kalau tidak...' Dia merinding meningatnya.
Dia lalu mengetuk pintu rumah itu. Dari dalam, terdengar bunyi-bunyi sesuatu yang bergerak. Dari pendengaran Kagerou, dapat disimpulkan, seakan-akan seluruh ruangan di balik pintu itu bergerak. Mau tak mau, dia menghelan napas lega, karena dia tidak langsung masuk ke dalam. Tak lama setelah bunyi-bunyi itu reda, pintu terbuka.
Kotaro berdiri di depan pintu. Dia hanya mengenakan kaos singlet dan celana jeans tua yang warnanya sudah tidak jelas lagi, karena banyaknya bekas noda yang menempel. Dia memegang lap yang berbau minyak di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang pistol. "Err... Untuk apa membawa pistol?" Tanya Kagerou gugup. Dia segera menyembunyikannya.
Dia lalu tersenyum lebar, sedikit salah tingkah. "Ahh.... Aku sedang membersihkan sebagian koleksiku. Ayo, kita bicara di dalam." Dia mengajak Kagerou masuk. Saat masuk, Kagerou baru melihat jelas pistol yang sekarang diselipkan di kantong belakang jeans Kotaro. Dia menariknya.
"Ini... Colt?" Tanya Kagerou, memperhatikan pistol yang saat ini ada ditangannya. Dia membaca di kode paten di moncong pistol itu. 'tahun 1902... Pistol tua, toh.'
Kotaro mengangguk. "M1911 Colt. Pistol yang cukup tua, sebenarnya. Dia sudah tidak dipakai lagi sebagai senjata kedua tentara... Tapi, masih cukup terkenal. Itu, salah satu dari isi permintaanku." Kagerou memandangnya sesaat, lalu mengangguk.
Mereka masuk ke ruang tengah. Kagerou terpana melihat apa yang terjajar disana. 'Gila! Aku memang tahu dia maniak soal begini, tapi aku baru tahu kalau dia punya koleksi sebanyak ini!' Disana, tersusun secara teratur, berbagai macam senjata api. Mulai dari pistol, sampai senapan sniper. "Bagaimana cara mengurus izinnya sih? Lagipula, bagaimana kau bisa diizinkan mempunyai senjata sebanyak ini?"
Kotaro tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya. "Itulah gunanya kalau kenalan baik kita adalah kepala kepolisian negara... Soal izinnya, karena aku bisa menembak lebih baik dari setengah pasukan SWAT mereka, kepala unit mereka memintaku melatih mereka. Dan sebagai bonusnya, aku dapat izin khusus." Kagerou hanya geleng-geleng kepala.
Dia duduk di salah satu kursi. "Kau bisa disangka teroris lho... menyimpan senjata sebanyak ini di rumah..." Dia berkata, sambil menaruh pistol yang dia pegang di jejeran pistol di hadapannya.
Kotaro tersenyum. "Paman Mitokado juga bilang begitu. Makanya, dia menawarkan aku untuk menyimpan sebagian senjata ini di gudang senjata kepolisian. Tapi, tempat pajang disini jadi kosong kalau aku mengirimnya..." Dia menjawab. Kagerou mengangguk-angguk.
"Jadi, karena itu kamu memintaku untuk membuat model senjata-senjata ini?" Kotaro mengangguk. Dia menghela napas. 'Dasar... Dia memang bocah spesial... Bisa-bisanya diizinkan memakai tempat penyimpanan kepolisian negara sebagai gudang senjata koleksinya... Bahkan, memanggil kepala Kepolisian Negara, Mitokado Homura, dengan sesantai itu.... Dia kan, salah satu dari 3 orang paling berpengaruh di negara ini...'
Dia lalu mengeluarkan kamera polaroid, pengukur dan timbangan kecil, juga catatan dari tas besar yang sedari tadi dibawanya. "Oke. Kau ingin model, ukuran dan beratnya sama kan? Bawa semua yang ingin kau buat imitasinya," Kotaro segera menyerahkan barang yang diinginkan satu persatu. Kagerou teringat sesuatu. "Bagaimana sekolahmu?" Dia hanya memandang Kotaro. "Oh... Kamu minta ijin, ya?" Dia mengangguk.
Mereka mulai bekerja dalam diam. Kagerou memfoto, mengukur dan menimbang senjata itu satu-persatu. Setelah beberapa saat, beberap orang berseragam datang juga. Mereka adalah utusan kepolisian yang diperintahkan membawa senjata-senjata itu. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka selesai juga. Semua senjata, kecuali beberapa dibawa oleh mereka.
Kagerou tertarik melihat senjata api yang ditinggalkan. "Aku ingin tahu, apa saja yang kau tinggalkan. Biasanya, hanya yang biasa kamu pakai saja yang tetap kamu simpan..." Kotaro menhampirinya.
Dia mengangkat sebuah senapan. Senapan itu terlihat cukup berat, karena memmiliki moncong cukup panjang dan besar. "SIG SG 550, dengan tambahan teropong Kern 4x24. Agak lebih panjang, namun mudah dikendalikan..." dia menaruhnya, lalu mengambil senapan aneh yang sangat kecil. Bahkan, hanya beberapa senti lebih esar dari pistol yang tergeletak di sebelahnya. "Heckler & Koch MP7A1 . Walau kurang besar tingkat kerusakannya, tapi sangat ringan dan praktis."
Dia beranjak pada senapan paling panjang yang ada disana. Kali ini, dia meninggalkan dua buah. Yang satu adalah senapan berwarna cokelat denga scoop. Yang satunya, berwarna hijau pudar, dengan scoop yang lebih besar. "Yang cokelat, Remington M700. Biasa dipakai juga untuk berburu, sih... Yang satunya, AWM Winchester. Aku lebih suka yang tipe begini sih."
Dia, lalu mengangkat sepasang senapan pendek yang aneh. "Kriss S.V.D, mudah dikendalikan dan mematikan," Akhirnya, dia mengambil pistol besar yang dari tadi menjadi perhatian Kagerou. "Ini Favoritku. Dessert Eagle .50. Daya rusak setara senapan. Dan, jenis ini, adalah yang terkuat dari semua handgun. Jangan tanya dari mana aku mendapatkan ini..."
Kagerou hanya tertawa melihatnya. "Kamu memang maniak senjata, ya? Ya sudah...." Dia terdiam, membuat Kotaro bingung. Dia lalu mulai melakukan lagi kegiatan foto-timbang-catat nya. Dia lalu menyeringai lebar. "Hei, kalau tak salah, kepala sekolah kalian masih Tsunade, kan?" Kotaro mendeteksi sesuatu yang mencurigakan. Kagerou mulai tertawa-tawa sendiri. "Sepertinya, aku akan datang berkunjung kesana hari ini..."
Dia pergi, meninggalkan Kotaro yang mulai memikirkan apa yang sedang direncanakan lelaki mungil itu. Bahkan dia masih mendengar tawa bengisnya dari jauh. 'Ukh... Apa aku melakukan kesalahan, dengan menunjukkan koleksiku... Semoga tidak terjadi apa-apa...' Dia masuk untuk tidur lagi. Dia sudah mengirim surat izin tidak masuk sekolah, dan dia sudah bangun sejak pagi buta untuk membersihkan seluruh koleksinya.
Setelah masuk mobil, Kagerou mengambil telepon genggamnya. Dia menelepon Momiji. "Hai. Aku ada pekerjaan untukmu. Bukan, bukan urusan kantor..." dia bericara beberapa saat. "...Oke? Kalau bisa, tolong buat dalam jumlah besar... kira-kira, cukup untuk seluruh orang di kota ini. Thanks." Dia menutup teleponnya. 'Ke toko Minuman dulu, beli Gin dan Whiski. Kalau tidak, wanita tua itu tak akan mendengarku. Hmmm… Ditambah menyediakan stok Bloody Marie untuknya sebagai 'Pelicin'. Hihihi… Wanita tua itu mudah dideteksi kelemahannya…'
Dia kembali terkekeh. Lalu, dia segera melaju pergi.
Tsunade sedang dalam mood yang buruk. Selama beberapa hari ini, sekelompok murid, yang merupakan ketua-kelas dan ketua-klub dari seluruh Perguruan Bagian SMA terus mengganggunya. Mereka sedang memperebutkan tempat di Aula Hall perguruan Konoha Bagian SMA. Acara utama festival selalu dilakukan disana, sehingga arus massa banyak menuju kesana. Itu adalah 'best spot' yang selalu di perebutkan tiap tahunnya.
Dan kepala sekolah lah yang menjadi sasaran mereka. Sudah beberapa hari ini Tsunade terjebak bersama para 'setan kecil' ini. Mereka berdatangan, menunjukkan kehebatan stan mereka sebagai alasan 'pantas ditempatkan di best spot'. Bahkan hingga menjilat dan memakai status sosial mereka.
Memang, yang mendapat 'best spot' selalu mendapat perhatian banyak orang. Dan, karena perguruan in terbaik di negara Fire, para pejabat selalu datang saat festival. Dan stan yang mendapat pujian para pejabat itu, orang-orangnya bisa dibilang memiliki masa depan yang cerah. Mereka mengincar hal itu, sehingga selalu memperebutkan 'best spot', yang membuat Tsunade uring-uringan.
Dia pun kini sedang dalam situasi yang sama. Tertahan oleh sekelompok murid, yang sedang mendemonstrasikan sesuatu yang menjadi alasan kenapa mereka pantas mendapat 'best spot' yang jumlahnya hanya 10 tempat saja. 'Apa ini? Alat untuk menunjukkan roh pelindung?' Mereka berusaha meyakinkan Tsunade bahwa, alat yang seperti gabungan tripod dan lampu sorot itu, adalah alat occultisme yang paling mutakhir. Tsunade hanya menatap kosong saja.
Bukannya menghina, tapi baginya itu hanyalah akal-akalan orang yang berusaha mendapatkan 'best spot'. Mereka memiliki jalur komunikasi khusus dengan badan hak paten temuan bertaraf internasional. Kalau itu asli, semestinya mereka lebih mngurusi hak paten dan hak ciptanya, daripada sekedar memperebutkan tempat terbaik stan di perguruan ini.
Shizune masuk ke ruangannya, membuatnya lega. Dia membisiki sesuatu, yang semakin membuatnya senang. Dia segera berdiri. "Maaf mengganggu. Namun, aku memiliki tamu penting yang akan hadir sebentar lagi. Jadi, tolong bereskan presentasi kalian sekarang juga."
Salah seorang dari mereka maju. "Anda tak bisa menolak kami. Ini adalah proyek kami. Aku, atas nama keluarga Miyazaki, keturunan cenayang terbaik aset negara ini, menginginkan presentasi ini dilanjutkan. Anda..." Kata-katanya dipotong Tsunade.
"Kau, keturunan siapapun, saat ini hanyalah murid. Aku memerintahmu PERGI sekarang juga. Atau kau ingin ini masuk berita acara pertemuan wali murid?" Gadis itu memucat, lalu mundur. Mereka segera membereskan alat-alat mereka. "Dan aku mengngat nama kalian, Nerima Miyazaki, Kitaro Dokurou, Sadako Hana." Mereka makin memucat. Mereka segera angkat kaki dari ruangan itu.
Terdengar suara tawa dari luar ruangan. "Masuk!" dua orang tamu yang dikatakan Shizune memasuki ruangan. Satu pemuda mungil berambut kuning kecoklatan sebahu, dengan wajah secantik model perempuan. Bersamanya, seorang lelaki besar berambut biru kehitaman pendek, sedang membawa kotak besar yang dari tadi ditunggu-tunggu oleh Tsunade.
Begitu kotak itu diletakkan, Tsunade langsung membukanya. Terdapat banyak bloody marie di dalamnya. Dia lansung tersenyum ramah pada dua orang yang sepertinya pernah dia lihat di suatu tempat itu. Lelaki mungil itu tertawa. "Sepertinya, selera anda masih belum berubah, Nona Tsunade Senju... Yah, saya juga punya hadiah lain... Silakan." Dia mengeluarkan isi kantong yang dibawanya. Sebotol besar Gin dan Whiskey diletakkan di hadapannya.
Namun, yang membuatnya terkejut bukan itu. Nama keluarga Senju, adalah nama keluarga ibunya. Dia memakai nama keluarga ayahnya, Namekuji. Hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa dia adalah keturunan Senju, keluarga penguasa negara Fire ini. Dia memandang kedua lelaki itu dengan seksama. 'Memang... Aku seperti pernah melihat mereka. Namun, sepertinya dulu agak berbeda... Apanya ya?'
Lelaki besar menyadari akan kebingungan Tsunade. Dia berkata pada lelaki berwajah perempuan itu. "Katakan tentang kita. Dia sepertinya lupa. Lagipula, kaulah yang paling banyak berubah..." Lelaki satunya tertawa lembut, sampai Tsunade mulai menyangkal pikirannya dan mengira dia adalah seorang gadis tomboi.
"Baiklah, kurasa sebaiknya kita memperkenalkan diri lagi. Kami mantan muridmu, nona Tsunade. Aku adalah Kagerou Natsuno, dan dia adalah Hyouga Fuyuno. Anda ingat kan? Four Season Clover bersaudara?" Tsunade teringat lagi tentang empat bersaudara yang selalu menghiasi halaman depan koran umum dan sekolah, karena melakukan banyak kesuksesan, bahkan menciptakan perusahaan yang saat ini menjadi salah satu perusahaan terbaik di negara ini. Disebut sebagai empat bersaudara jenius yang telah mengharumkan nama perguruan Konoha ini.
Dia segera menemukan sesuatu yang aneh. "Tunggu dulu... Bukannya empat bersaudara itu terdiri dari 2 laki-laki dan 2 perempuan? Seingatku, tak ada lelaki..." Dia memandang lagi Kagerou. Matanya melebar. Dia mulai tergagap. "Ka-kau... Ja-jangan jangan... Ka-kage...." Dia tak mampu menyelesaikan kata-katanya karena dia tenggelam dalam tawanya sendiri.
Kagerou memandangnya bingung. Hyouga hanya menghela napas lega. 'Setidaknya, kami tidak dihajar sampai tak berbentuk...' Kagerou memandangnya bingung, meminta penjelasan. Dia pun menjelaskannya. "Kau lupa? Kau adalah pemenang kontes Yamato Nadeshiko tiga tahun berturut-turut... Kalau semua lawanmu saat itu melihatmu sekarang, juga semua penggemarmu saat itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi." Kagerou pun agak memucat.
Setelah (akhirnya) Tsunade tenang, dia berrtanya. "Jadi... Selama ini kamu menyamar sebagai perempuan saat berssekolah disini? Oh! Benar juga, kamu mengaku alergi klorin yang dipakai di kolam renang, juga digosipkan sangat pemalu, yang membuatmu tak ingin berganti pakaian olahraga bersama teman sekelasmu saat pelajaran olahraga... Itu semua dalih agar kamu tidak ketahuan kan?"
Kagerou berpikir sejenak. "Untuk yang kedua... Itu memang benar... Tapi, untuk yang pertama... Tak sepenuhnya benar... Ukh, bagaimana mengatakannya, ya...?" Tsunade menatapnya bingung. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Tsunade menunggunya menjelaskan, sedangkan Kagerou bingung untuk menjelaskan 'keadaan'nya.
Hyouga menghela napas. 'Kalau dibiarkan, mereka akan terus seperti ini.' Dia akhirnya angkat suara. "Nona Tsunade, yang akan saya katakan ini adalah rahasia. Kami mohon kerja sama anda untuk merahasiakannya, setidaknya sampai dia membuat keputusan," Tsunade mengangguk, setuju akan syarat itu. Hyouga pun melanjutkan. "Kagerou ini, adalah Hemaphrodite. Anda tahu kan?"
Tsunade terkesima. "Kelainan medis yang menyebabkan seseorang memiliki dua jenis kelamin itu?" Tanya nya pada Hyouga. Dia mengangguk.
"Alasan dia bersekolah dengan menyamar sebagai perempuan, adalah karena dia ingin merasakan hidup sebagai wanita, sebelum mengambil keputusan, memilih menjadi lelaki atau wanita. Namun, sampai saat ini, dia masih belum memutuskan juga..." Jelas Hyouga. Kagerou hanya menunduk.
Tsunade, yang tergelitik rasa keibuannya, menghibur Kagerou. Dia tersenyum. "Tak apa, nona Tsunade... Saya hanya bingung, mau memilih yang mana..." Dia berkata malu-malu. Mereka kembali dalam suasana rileks lagi.
"Jadi, kalian ada perlua apa kemari? Aku tahu, kalian ada maksud tertentu, sampai membawa 'upeti' padaku..." Kagerou segera menjelaskan maksudnya datang kesana. "Hmm... Sepertinya cukup menarik... Tapi, apa mereka mau mengikuti acara ini?"
Kagerou tersenyum licik. "Pakai saja 'best spot' sebagai hadiah. Lagipula, kalau ini direkam, bisa dijadikan tontonan saat festival kan? Anda bisa bersantai, karena mereka akan memfokuskan diri dalam acara ini..." Tsunade berpikir sejenak.
"Lalu, syarat yang kamu ajukan itu... Apa tidak membahayakan kalian? Ingat, kalau kamu benar mengajukan syarat itu, kamu akan melawan seluruh murid bagian SMA perguruan ini, lho?" Tanya Tsunade. Syaratnya, yang menginginkan dia dan orang-orang yang dipilihnya mengikuti acara ini juga sebagai kubu musuh yang memegang 'hadiah', terlalu berbahaya oleh Tsunade. Kagerou tersenyum lebar.
Dia kemuadian memberi tahu beberapa hal pada Tsunade. "...Dan Kotaro Itsuki, adalah seorang yang mahir. Tenang saja, justru merekalah yang harus khawatir. Karena tim yang kupilih terdiri dari orang-orang pro." Tsunade berpikir lagi. Kemudian, dia menyeringai.
"Kalian masih saja usil, ya? Aku agak bersimpati pada bocah Uchiha itu… Hmm… Bisa-bisanya mengajak seluruh sekolah dalam rencanamu mengerjainya…" Kagerou hanya tersenyum lebar. "Oke! Aku akan mengikuti rencanamu! Shizune! Kemari sebentar!" Shizune segera datang. "susun pertemuan dengan OSIS. Mereka akan senang mendengarnya…" Dia lalu menjelaskan apa saja yang direncanakan.
Shizune terpana, lalu tersenyum. "Brilian sekali! Anda dan orang OSIS yang selalu dipusingkan dengan hal ini, pasti merasa senang. Mereka juga, lebih suka melakukan sesuatu yang memiliki hasil, bukan gangguan dari orang-orang yang ingin mendapatkan 'best spot' itu..." Tsunade mengangguk. Shizune langsung pergi dari tempat itu.
"Kalau sudah, kami permisi dulu... Kami tunggu persiapannya. Kami akan membantu segala sesuatunya. Sampai jumpa, Nona Tsunade..." Kata Kagerou. Lalu, mereka pergi dari ruangan kepala sekolah. Tsunade segera membuka salah satu botol. Dia menuangnya, lalu menyesapnya.
Dia bersenandung ringan. 'Akhirnya, aku bisa melepas segala kepenatan ini... Dapat bonus lagi, hihihihi...' Dia mulai minum dengan khidmat.
Sakura dan Sasuke baru saja keluar dari kelasnya. Karena sudah jam 4, mereka berencana langsung pergi ke klub bela diri. Sasuke sedang mengambil seragamnya saat Sakura mendekati dua orang yang dikenalnya. 'Akh, dua dari empat bersaudara itu...' Dia segera bersiaga. Namun, dia mengingat perkataan kakaknya. 'Tenang, jangan memancing permusuhan...' Dia kembali tenang, namun tetap waspada.
Dia kembali mengingat dasar yang dikatakan kakaknya. 'Jangan menganggap mereka sebagai musuh. Anggap tindakannya bukan sebagai usaha memisahkan kalian, tapi sebagai usaha melindungi adik tercinta mereka. Buat mereka percaya, bahwa kamu cukup pantas untuk menjaga orang yang kamu sayangi.' Dia mengulang kata-kata itu berkali-kali dalam kepalanya.
Sakura kembali tepat saat dia telah kembali tenang. Sasuke bertanya kenapa mereka ada disini. "Oh... Mereka mengunjungi Kepala Sekolah... Kakakku sepertinya cukup mengenal baik kepala sekolah, soalnya mereka adalah yang terbaik di angkatan waktu itu..." Sasuke mengangguk-angguk. "Ayo, kita kan akan mendiskusikan stan apa yang akan dibuka nanti."
Sasuke berjalan bersama Sakura. "Sakura, apa ketua klub tidak ingin berebut 'best spot'? Sepertinya, klub kita santai sekali..." Sakura tertawa mendengarnya.
"Kita dapat waktu di salah satu pertunjukkan utama Hall. Jadi, kita tak perlua repot-repot mengincar itu. Lagipula, klub kita biasanya membuka stan makanan atau permainan, bukan tentang bela diri…" Sakura memberi tahu. Sasuke mengangguk-angguk.
"Jadi, rencananya kita akan membuat stan apa?" Tanya Sasuke. Sakura berpikir sejenak. Dia lalu berkata.
"Katanya, tema kita tahun ini adalah 'makanan dan kesehatan'. Aku juga tidak tahu detilnya apa... Kita lihat saja nanti." Mereka kembali berjalan menuju tempat latihan klub, dimana seluruh anggota lain berkumpul untuk berdiskusi.
Kagerou kini berada di rumah Kotaro lagi. Dia menjelaskan apa yang sudah direncanakan olehnya pada Kotaro. "Biar kuperjelas lagi, kamu ingin aku ikut dalam rencana ini? Aku menolak." Kata Kotaro tegas. Dia tak ingin jadi bulan-bulanan Sakura kalau dia satu kubu dengan mereka.
Kagerou merengut. "Ayolah, Kota-chan... Ini akan seru sekali..." Dia menggunakan segala cara untuk menarik lelaki itu kedalam timnya. Dia tahu, memiliki seorang seperti dirinya dalam tim akan membuatnya unggul.
Dia menghela napas. "Tidak bisa. Kalau pun ikut, aku akan jadi bagian netral, atau sepihak dengan Sakura dan dia. Maaf, itu namanya curang, kakak. Kau tahu perbedaan kemampuan kami dan mereka kan?" Kagerou tahu lelaki ini akan menolaknya.
"Oke... Tapi, paling tidak, tolong latih mereka... Tidak seru kalau perbedaannya terlalu jauh..." Dia menyelipkan beberapa 'tantangan' di kata-katanya. Kotaro segera memandangnya.
"Kau ingin aku ada di acara itu kan? Oke, aku akan ikut. Dan sudah pasti, aku akan membawa mereka semua. Dasar... Kalian ini sangat keras kepala..." Kotaro akhirnya menyerah. 'Mereka ini memang bisa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan...'
"Hihihi... Pokoknya, aku akan mengajak yang lainnya. Kamu, sebaiknya mulai melatih mereka. Aku mendengar, kepala sekolah sudah memberi pengumuman khusus. Dan aku juga kaulah yang ditunjuk untuk menolong mereka mempersiapkan diri mereka untuk acara ini..." Kotaro menghela napas.
"Oke-oke... Sudah, sana pergi. Aku mau tidur lagi... Aku akan memutus telepon untuk sementara, sampai besok pagi. Kalau ada yang menanyakan, bilang tunggu besok." Kotaro berkata. Kagerou mengangguk. Setelah Kagerou pergi, dia berganti pakaian. Dia keluar, setelah memasang pengaman dan mengunci pintu.
Dia pergi ke kediaman Haruno. Yuri segera menyambutnya dengan senang, karena dia tidak melihatnya beberapa hari terakhir, karena disibukkan oleh kegiatan di kampusnya. Kotaro juga sedang sibuk mengurus perpindahan koleksinya. Namun, senyuman Yuri hilang saat melihat lelaki itu, yang terlihat seperti kurang tidur.
"Kota-kun, kamu tidak apa-apa? Istirahatlah kalau memang kamu lelah... Maaf, aku memintamu datang..." Kata Yuri. Kotaro menggeleng, dia malah jatuh di pelukan Yuri.
"Yuri... Bolehkah aku tidur disini malam ini? Aku merindukan sentuhan lembutmu..." Dia berkata. Yuri agak bersemu, namun mengangguk.
"T-tidak apa-apa, kok... A-aku akan membawamu ke atas.." Yuri agak terbata-bata berkata, seraya membawa Kotaro ke kamarnya. "Ada apa, Kota-kun? Kau terlihat memikirkan sesuatu?" Tanyanya, setelah membaringkan Kotaro di kasur.
Kotaro hanya menghela napas. "Hanya sedikit pusing. Kakak Kage merencanakan sesuatu yang usil, dan menyeretku kedalamnya. Aku juga sedang memikirkan beberapa hal..." Yuri mengangguk-angguk. Dia lalu mengelus kepala Kotaro.
"Ya sudah... Istrahatlah yang tenang... Aku akan menemanimu sampai kamu tenang..." Kata Yuri. Dia lalu mengecup kening Kotaro. Kotaro menggumamkan sesuatu sebelum terlelap. Yuri tertawa kecil. "Ya, selamat tidur, Kota-kun..." Dia segera mengganti pakaiannya, dan naik ke atas ranjang. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Kotaro. Dia meletakkan kepalanya di lengannya, dan memainkan jarinya di dada bidang lelaki itu.
'Hangat...' pikirnya, sebelum akhirnya ikut terbuai malam dan tertidur juga.
Waks~! Ada yang direncanakan oleh Kagerou! Apakah itu?
Tunggu chapter selanjutnya ya....
Baka Tantei Seishiro Amane sign out.
