Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?

Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita.

Chapter 9... saya gak banyak komentar deh. Pokoknya, saya amat menghargai semua readers yang telah menunggu update saya...

Enjoy!

Baka Tantei Seishiro Amane present...

FALLING FOR CHERRY BLOSSOM

CHAPTER 9: THE DOLL'S HOUSE (THE FREAK AND THE MECHA)

Mereka memasuki perumahan kuno yang sangat mahal. Sasuke berhenti di salah satu rumah kuno. Kotaro memeriksa papan namanya. "Sawada... Ya, ini rumahnya." dia memencet bel di pintu. Saat pintu terbuka, seorang pelayan berdiri disana. Dia menggumamkan sesuatu yang aneh. "Silahkan masuk, tuan sudah menunggu." Suaranya terdengar seperti mesin penjawab telepon.

Kotaro menghela napas, lalu berbalik pada Sakura dan Sasuke. "Selamat datang di rumah boneka Sawada."

Sasuke menatapnya aneh. "Rumah boneka? Dia penjual boneka? " Tanyanya. Kotaro tidak menjawabnya, hanya mengajak mereka masuk. Sakura memandangi areal rumah saat mereka masuk. Dia merasa ada yang aneh dengan semua pekerja yang diperkerjakan di tempat ini.

Dia menarik lengan baju Sasuke. Sasuke memandangnya bingung. Dia berbisik ke telinga Sasuke. "Mungkin hanya perasaanku, tapi sepertinya semua pekerja disini... Terlihat tidak hidup. Seperti boneka, atau sesuatu semacamnya, tapi bukan makhluk hidup." Katanya. Sasuke memperhatikan tukang kebun yang sedang memangkas rumput. Gerakannya monoton, tidak ada gerkan percuma.

Kemudian dia tersentak karena sadar. 'Mereka tidak melakukan aktivitas lainnya, selain apa yang ditugaskan pada mereka. Mereka bahkan tidak melakukan gerakan yang tidak dibutuhkan dalam pekerjaan mereka. Hal-hal manusiawi yang semestinya dilakukan manusia. Mereka ini?' Sasuke kini memandang Kotaro, meminta penjelasan. Namun, orang yang dipandangi sedang memikirkan sesuatu sambil memperhatikan setiap pekerja disana. Mulai dari tukang kebun, pelayan, penjaga, dan lainnya.

Mereka dibawa menuju ruang tamu. Tak lama, seorang wanita berjalan masuk. Dia memakai sweater tipis lengan panjang, dengan rok panjang dengan warna pastel, sama dengan sweaternya. Dia memiliki rambut cokelat sepinggang. Mata ungunya memandang sekeliling. "Selamat datang, semua. Kotaro-san, lama tak berjumpa... Bagaimana kabar Yuri-san?" Dia berkata dengan ramah. Sakura menghela napas lega. Setidaknya, mereka bertemu orang yang normal.

"Apa dia masih di ruang kerjanya, Natsuki?" Tanya Kotaro sambil menyesap teh yang disediakan.

Wanita bernama Natsuki itu mengangguk. "Aku sudah membujuknya keluar, tapi sepertinya dia mengerjakan sesuatu yang menyenangkan, sehingga dia lupa dengan dunia luar." Dia menghela napas dan memandang keluar, namun Sakura menyadari bahwa dia tersenyum lembut saat dia memandang ke arah jendela.

Kotaro bangkit dari kursinya. "Kalian tunggu dulu disini. Natsuki, antarkan aku ke tempat kerjanya. Dia perlu dikembalikan ke kenyataan. Dasar, ilmuwan dimana-mana selalu sama..." Dia pergi bersama Natsuki.

Sasuke dan Sakura duduk diam disana. Tiba-tiba, Sakura menyandarkan kepalanya ke pundak Sasuke sambil memegang lengannya erat. "Ada apa, Sakura? Kau tidak apa-apa?" Dia memandang Sakura khawatir.

Sakura menggeleng. "Aku tidak apa-apa... Hanya sedikit takut. Orang-orang tadi... Terlihat aneh. Mata mereka kosong, dan suara mereka tidak memiliki emosi di dalamnya. Mereka... Seperti hantu." Sakura sedikit merinding saat memikirkan hal itu.

Sasuke mencium keningnya. "Tidak apa-apa. Mungkin itu memang yang ditugaskan pada mereka... Atau in ada hubungannya dengan kata-kata Kotaro tadi. Rumah boneka... Mungkin mereka memang bukan manusia?" Kata Sasuke.

"Kalau begitu, mereka itu APA?" Sakura bertanya dengan bingung.

"Kata-kata pacarmu itu tepat, nona." Sebuah suara membuat mereka tersentak. Seseorang berdiri di pintu belakang mereka. Dia memakai yukata hitam yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Rambut hitam pekat pendeknya dibiarkan tak beraturan. Tapi, yang membuat Sakura ketakutan adalah senyumnya. Dia menyunggingkan senyum palsu dengan ekspresi wajah kosongnya, seakan-akan mereka memandang sebuah topeng tersenyum.

Sakura menyembunyikan wajahnya di pundak Sasuke. "Siapa kau? Sedang apa kau kemari?" lelaki itu berjalan beberapa langkah menuju mereka.

Lelaki yang memiliki wajah cantik tersebut tertawa. "Kalian sudah terjebak... Kalian akan menjadi koleksi di rumah boneka ini. Sama seperti semua yang ada di luar... huhuhu... Kotaro membawa bahan koleksi yang bagus..." Berbeda dengan nada ramah yang dikeluarkan, ucapannya memberikan sensasi yang menyeramkan. Sasuke merasakan Sakura gemetar.

Sebelum Sasuke sempat bereaksi, pintu di belakang lelaki itu terbuka. Sebuah tangan menghantam kepala lelaki itu. Itu adalah tangan Natsuki, yang kini berdiri dengan satu tangan di pinggangnya. Dia memandang lelaki itu dengan kesal. "Bisa tidak, kamu sekali saja tidak mengganggu tamu kita, hah? Gara-gara kelakuanmu, semua orang menjauhi rumah kita!" Dia kini mengomel panjang lebar.

Kotaro masuk dengan ekspresi 'sudah-kuduga', lalu menghampiri Sasuke dan Sakura. Sakura memandang takut-takut ke arah lelaki itu, yang kini sedang dimarahi. "Sori, dia memang seperti itu. Mohon maklum."

Sasuke memandang lelaki itu. "Siapa mereka, Kotaro? Apa ada hubungannya dengan perkataanmu dan kelakuan pekerja di tempat ini?" Tanya Sasuke.

Kotaro mendengus. "Ya, kau benar. Kenalkan, mereka adalah Natsuki Sawada dan Sai Sawada, pasangan suami istri jenius, juga pencipta seluruh Android yang bekerja di rumah ini. Seperti yang kukatakan, ini adalah rumah boneka. Dan mereka adalah para pengendalinya."

Mereka kini duduk bersama di ruangan itu. Sakura, kini memandangi para pelayan yang membawakan teh dengan kagum. Sasuke memandang Kotaro, ekspresinya seakan menanyakan apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu. "Jadi, ada perlu apa?" Sai berkata sembari menyesap tehnya.

Kotaro menceritakan tentang acara yang dikerjakan mereka. "...Jadi, aku ingin kau membantu kami, soal kamera dan komunikasi. Kalau kau mau, kau juga bisa ikut berpartisipasi, kalau kau mau." Kata Kotaro. Sai berpikir sejenak.

"Menyaksikan sekumpulan imbisil berkelahi demi tempat untuk memamerkan keidiotan mereka... Cukup bagus untuk hiburan. Oke, aku ikut. Tapi hanya sebagai pihak netral, koordinator. Aku hanya akan menonton kumupulan monyet idiot itu berkelahi. Bagaimana?" Sai berkata dengan senyum ramah. Baik Sakura maupun Sasuke terkejut dengan pilihan katanya.

Sakura ingin membalas dengan kesal, namun Kotaro menahannya. "Dia memang seperti ini. Dan dia memiliki IQ diatas 300, Sakura. Tidak aneh kalau dia menganggap semua orang di sekitarnya bodoh. Kau boleh anggap dia jenius yang tak pernah diajarkan tata krama," Sakura mendengus dan memalingkan wajahnya.

Kotaro kembali berbicara pada Sai. "Oke. Tolong persiapkan secepatnya, karena waktu kita tak terlalu banyak. Natsuki, tolong ajarkan dia berbicara, setidaknya sampai dia bisa berkata tanpa mengejek orang." Kata Kotaro. Natsuki mengangguk, sementara Sai hanya tertawa.

Natsuki tiba-tiba terdiam. Dia seperti melihat sesuatu yang tak terlihat. Lalu, dia berkata pada Sai. "Suamiku, ada yang mencoba menerobos sistem keamanan. Lagi. Dan sepertinya pelakunya sama seperti sebelumnya. Juga." Sai menghela napas.

Dia lalu mengambil laptop yang dibawa oleh salah satu pelayan mereka. "Nat-chan, cegah dengan sistem standar untuk sementara. Aku akan membuka 'kuncimu'. Setelah kau 'bangkit', segera aktifkan semua sistem di komputer pusat." Natsuki mengangguk. Lalu, dia melakukan sesuatu yang tak manusiawi. Dia mengeluarkan kabel dari telinga kanannya.

"Tolong cepatlah. Sistem standar tak akan bisa bertahan lama. Mereka bekerja sama untuk mendobrak masuk... Ah, mereka menembus dinding pertama." Natsuki berkata. Sai menghubungkan kabel dari telinga Natsuki dengan laptopnya. Dia pun mulai bekerja.

"Ubah mode ke mode perintah suara," Sai berkata. Mereka menginstruksikan pada Kotaro dan yang lainnya untuk diam. "Buka penuh sistem utama 'Natsuki'. Buka penuh program pertahanan Tartarus. Jalankan program 'silent labyrinth' dan 'monster forest'." Sai berkata dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Natsuki memunculkan antena berbentuk tanduk di kepalanya. "Sistem dijalankan. Program dijalankan. Silent Labiryth dan Monster Forest diaktifkan." Sai menghela napasnya.

"Persiapkan program selanjutnya. Kita lihat, seberapa lihai mereka..." Sai menyeringai. "Mau lihat? Akan kupermudah untuk level otak kalian." Sakura mengacuhkan cemoohan Sai.

Dia mengetik beberapa perintah, lalu menyodorkan laptop itu pada mereka. Yang mereka lihat adalah sebuah areal yang dipenuhi jebakan, dengan labirin besar dan hutan penuh hewan-hewan mistik. "Program kartunisasi 3D ya? sudah kuduga, itu idemu." Kotaro berkata. Sai hanya menyeringai kecil.

Sasuke memandangnya bingung. "Ini seperti program mengubah foto menjadi gambar kartun dicampur dengan program game internet sekarang ini. Semuanya adalah kumpulan data yang lalu diubah menjadi gambar dan dijalankan. Dia adalah jenius, kau ingat?"

Sakura memandangi Natsuki saat mereka telah menyelesaikan 'kegiatan pembersihan' mereka. "Natsuki-san... Anda juga..." Sakura ingin berkata 'robot', namun ada sesuatu yang melarangnya.

Natsuki tersenyum. "Gynoid. Kau bisa bilang seperti itu. Aku awalnya hanyalah program utama yang menjalankan sistem. Dia lalu menciptakan tubuhku, dan memindahkan aku kedalamnya." Jelasnya.

Sasuke mengangguk-angguk. "Aku pernah melihatmu dalam seminar tentang android di TV beberapa waktu lalu. Jadi, dia yang menjadi penggerak teknologi 'Humanoid machine' yang sedang ramai dibicarakan itu?" Tanya Sasuke. Natsuki mengangguk.

"Aku banyak belajar soal kemanusiaan darinya. Aku jadi memiliki emosi, perasaan, hati... Semua berkat kerja kerasnya. Aku pun dapat mengukur aura seseorang. Menurut penglihatanku, kalian baru menjadi pasangan, kan? Aku harap kalian tetap awet." Kata Natsuki. Sasuke dan Sakura bersemu merah.

Kotaro telah selesai berbicara pada Sai. "Oke. Terima kasih, Sai. Aku benar-benar tertolong." Katanya. Sai hanya mengangguk.

Dia lalu melihat Sasuke dan Sakura. "Apa yang kalian tunggu? Pergi, kalian mengkontaminasi tempat ini," Sasuke menggerutu dan bangkit, sementara Sakura memandanginya dengan kesal. "Kalau kalian datang lagi, sterilkan diri kalian. Aku tidak ingin tertular virus bodoh." Kalau tidak ditahan Kotaro, Sasuke mungkin sudah memukul lelaki itu.

"Jangan diladeni. Dia memang seperti itu. Ayo, kita pergi." Kata Kotaro. Mereka akhirnya pergi, walau kesal.

Sakura mendengus kesal di mobil. "Kenapa kau tidak menahan lelaki itu? Semestinya kau menghentikannya sebelum bicara." Kotaro hanya tertawa dan memberi pandangan 'apapun-yang-kulakukan-percuma'.

"Sepertinya kau mengenalnya sangat baik. Apa dia salah satu dari yang diciptakan?" Tanya Sasuke. Kotaro hanya tersenyum simpul.

"Dia adalah orang yang membantu menciptakan boneka perang Danzou. Setelah profesor Ukon mati akibat perobaan yang gagal, Sai yang tadinya hanya jadi asisten dan mengurusi sistem diterjunkan juga. Dia mengurusi penstabilan hasil eksperimen. Dialah yang membuat rencana kami untuk kudeta saat itu." Kotaro bercerita.

Sasuke terdiam sejenak. Lalu, dia bertanya lagi. "Dia... Otaku? Atau mesum? Semua pekerjanya berjenis kelamin wanita. Dan tempatnya seperti surga Otaku, menurutku. Penuh pelayan yang akan menuruti permintaanmu."

Kotaro tertawa terbahak-bahak. "Memang. Jangan menanyakan ini langsung padanya, kalau kau tidak ingin diikat dan dicuci otak. Dia menolak disebut semacam itu, walau setiap tindakannya menunjukkan jelas bahwa dia Otaku." Sakura terdiam dengan mulut menganga. Sasuke mendengus dan menggumam 'sudah kuduga'.

"Yah, kita pikirkan saja persiapan untuk besok. Kita masih punya banyak hal untuk dikerjakan besok. Dan kalian harus hati-hati. Kagerou itu cukup lihai mengendus rahasia orang. Dialah yang pertama menyadari hubunganku dengan Yuri." Sasuke dan Sakura mengangguk. Mereka menyadari, Kagerou memperhatikan mereka lebih sering tadi.

Lelaki berambut abu-bau panjang duduk di kursinya. Dia menganakan kaki mesin di kaki kirinya. Dia memandangi jendela dari kursi rodanya. Seorang lelaki berjalan kepadanya.

"Lapor. 'Viper' sudah masuk dalam areal musuh. Sepertinya, target tidak menyadari hal itu, namun banyak mantan anggota orden yang ada disana. Jadi, dia baru akan melaksanakan rencana pada 'main event'." Lelaki di kursi roda itu mengangguk.

Cobra datang padanya. "Tuan Sakon, apa tidak apa-apa memakai Viper? Dia itu sulit menutup mulutnya. Kalau dia tertangkap. Kita pun..." Dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Lelaki bernama Sakon itu mendesis. "Panggil aku dengan sebutan 'Serpent'! Memangnya kau pikir kenapa kita memakai kode, hah? Soal itu, tenang saja. Aku memiliki 'sesuatu' yang dia inginkan, dan dia tidak akan mengatakan apa-apa selama aku memiliki 'itu'," dia bersandar di kursinya. "Persiapan lab sudah selesai? Aku harus mengaktifkan kaki laknat ini segera."

Cobra mengangguk. "Sudah 95% selesai. Dalam 1-2 jam lab akan bisa segera digunakan." Serpent mengangguk. Cobra pun pergi.

Dia memandang mentari sore. "Tak lama lagi... Aku akan membalasmu berkali-kali lipat, tentara nomor 1253, Kotaro..." Dia tertawa dengan senang, sebelum meninggalkan ruangannya.

Kotaro merasakan sensasi dingin di punggungnya. Bulu kuduknya berdiri. Dia menengok sekeliling. 'Apa ini? Perasaan ini... Aku pernah merasakan ini...' Pikirnya. Yuri menyelimutinya dengan selimut.

"Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat menggigil tadi..." Yuri bertanya dengan khawatir. Kotaro hanya tertawa kecil, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Yuri.

"Aku tidak apa-apa... Hanya agak kecapekan... Tak kusangka, persiapan acara Kak Kage benar-benar banyak. Dasar perfeksionis... Dia bahkan menyuruhku mengecek suplai sampai enam kali, padahal kami sudah mengeceknya sampai tiga kali sebelumnya." Kotaro bercerita. Yuri terkekeh. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Kotaro.

"Bagaimana dengan kedua anak itu? Mereka masih seperti sebelumnya?" Yuri menanyakan tentang Sakura dan Sasuke. Kotaro berpikir sejenak.

"Agak mengejutkan, sebetulnya... Tapi mereka merencanakan untuk membuat keempat kakak itu menerima Sasuke. Mereka juga semakin dekat saja... Walau masih suka salah tingkah saat mereka tak sengaja dilihat orang, tapi mereka sudah cukup dekat, menurutku." Dia berkata. Yuri mengangguk-angguk.

Kotaro lalu menggendong Yuri. "Tidurlah. Ini sudah jam 10 malam." Yuri mendekap Kotaro sambil memberi pandangan memohon. Kotaro mengerang.

"Kau tahu, ini bisa jadi bahan pembicaraan orang-orang... Dan lagi, aku bisa dihajar keempat kakakmu kalau sampai terjadi sesuatu padamu..." Kotaro berkata sambil mendesah panjang.

Yuri terkikik. "Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan melindungimu. Lagipula, mereka cukup mengerti dirimu untuk mengetahui bahwa kamu tak ingin hal ini terjadi. Ayolah~, ya~?" Dia melakukan pose imut. Kotaro menghela napas panjang.

Dia meletakkan Yuri di tempat tidur. "Jangan berharap aku akan menyerangmu tengah malam, Nona." Dia berkata sambil memberi ekspresi kosong.

Yuri terkikik. "Jangan harap aku akan diam saja, tuan." balasnya. Kotaro mengerang. Yuri lalu menariknya ke tempat tidur.

Sakura dan Sasuke kini sedang memeriksa layar di ruangan utama. 2 hari yang lalu, Sai datang dengan kamera-kamera mininya. Dia hanya memberikannya kepada Sakura dan Sasuke, beserta mesin pengendalinya dalam keadaan belum terakit dan buku panduan perakitannya. "Aku sudah melakukan apa yang aku bisa lakukan. Kalau kalian memang terbaik di kelas kalian, rakit sendiri. Yah, itu juga kalau kalian bisa..." Dia meninggalkan mereka dengan senyum menghina.

Sasuke masih bersungut-sungut akan hal itu. Dia akan mencekik lelaki pucat itu, kalau tidak ditahan Kotaro dan Yahiko yang datang bersama hari itu. Akhirnya, mereka merakit benda itu dan memasang seluruh kamera mini di seluruh areal hutan. Sakura mau tak mau harus mengakui kemampuan lelaki yang menjadi profesor di umur 14 tahun tersebut. Kamera mini itu memiliki kualitas setara kamera standar para reporter TV, sesuatu yang tak akan ditemukan pada kamera CCTV biasa. Kamera itu juga mampu menangkap suara dalam radius 500 meter dan tahan dari segala cuaca.

Alat pengandali dan pemantaunya pun setara dengan alat pemantau yang dipakai di airport. Sakura kini tengah mengecek pergerakan kamera-kamera tersebut. Sasuke dan Kotaro sedang memeriksa keadaan mesin. Yuri yang ikut datang hari itu mendekati Sakura. "Kalian sudah sejauh mana, Sakura?" Tanya gadis yang dua tahun lebih tua dari Sakura tersebut.

Sakura langsung salah tingkah. Dia segera membalas. "Kakak sendiri, melakukan apa dengan Kotaro tadi malam? Dasar... Aku tidak bisa tidur tahu..." Dia memalingkan wajahnya dengan wajah memerah.

Yuri terdiam sejenak. "Mungkin, sebaiknya aku segera menikah... Sebelum kamu menyerang Sasuke karena selalu mendengarkan kami." Perkataannya tepat mengenai sasaran. Sakura langsung berseru panik. Yuri hanya tertawa nakal.

Mereka mulai berkelahi dengan seru. Sasuke dan Kotaro menahan mereka dari saling cakar. Sakura terlihat kesal dan malu, sedangkan Yuri hanya tertawa senang. Kotaro menasihati Yuri. Sasuke mencoleknya. "Kenapa mereka berkelahi?"

Kotaro mengangkat bahunya. "Mungkin Yuri menggodanya. Mereka memang sering bertengkar. Yah, mereka bersaudara itu sebenarnya sama. Usil, tapi polos dan mudah dikerjai. Dan mereka biasanya terbuka sepenuhnya hanya pada orang-orang yang dekat dengan mereka. Dan sedikit temperamental." Dia menarik Yuri pergi.

Sasuke kini mendekati Sakura. Gadis itu, entah kenapa, agak salah tingkah saat dia duduk di sebelahnya. Dia memandang ke arah lain saat Sasuke memandangnya. "Ada apa, Sakura? Tolong, ceritakanlah padaku." Katanya, sembari mengelus rambut pink Sakura.

Sakura memandangnya dengan malu-malu. Sasuke menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan cara Sakura memandangnya. "Jangan Tertawa." Katanya. Sasuke mengangguk. Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Sasuke.

Kotaro dan Yuri melihat mereka. Kotaro melihat wajah Sasuke menjadi merah padam. "Apa yang terjadi, sebenarnya?" Tanya Kotaro pada Yuri.

Yang ditanya hanya terkikik. "Nanti kau juga tahu. Lihat, mereka kemari." Yuri berkata. Sasuke mendekati mereka dengan ekspresi kesal dan wajah masih semerah tomat. Sakura mengikuti sambil bersembunyi di punggung Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Tanya Kotaro yang tak tahu apa-apa.

Sasuke hampir meledak. Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya beberapa kali. "Yang terjadi, adalah KALIAN bercinta, dan membiarkan Sakura mendengarnya! Dasar, bisa tidak kalian melakukan ini di tempat lain!" Sasuke mendengus kesal.

Kotaro memberi pandangan 'kita-akan-bicara-nanti' pada Yuri, lalu mendekati Sakura. "Maaf, Sakura. Wanita itu mencekokiku obat penenang dan obat perangsang, lalu mengikatku. Aku benar-benar lengah, karena dia memasang wajah polos saat melakukannya."

Sasuke mendesah. Dia sebenarnya sudah bisa menduga ini. Lalu dia berkata. "Terserah. Pokoknya kita harus menyelesaikan alat ini sebelum besok, atau kita akan kerepotan nantinya." Semua mengangguk. Dia akhirnya menenangkan Sakura. Untungnya, itu berhasil. Mereka kembali bekerja.

Sasuke memandang areal hutan dari kamera. 'Aku merasakan firasat buruk... Semoga tidak terjadi apa-apa...'

Yay! Bersambung ke chapter selanjutnya~!

Ditunggu ya~

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.