Disclaimer : YGO dan karakter-karakter yang ada di cerita ini adalah milik Kazuki Takahashi. Saya menculik dan menyeret mereka ke dalam dimensi anehku.
Rating : 18+
Genre : Romance (niatnya mah gitu!)
Warning : OOC
Terima kasih banyak buat yang sudah mereview chapter sebelumnya, maaf apdet-na lamaaaaaaaa pisan.
TASTES LIKE CHOCOLATE
Episode 2
01 February
"Ayo layani Aku…Katsuya!"
Saat itu Shizuka baru merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Ada udara hangat yang menerpa wajahnya, diselingi gumaman-gumaman tidak jelas. Menyadari ada yang tidak beres, Shizuka langsung membuka matanya dan mendapati sebuah tangan besar melingkari tubuhnya.
"KYAAAA....!!!"
Spontan Shizuka langsung bangkit dari posisi tidurnya, namun tangan besar itu keburu mencengkram bahunya dan menariknya kembali ke tempat tidur.
"Jangan! Jangaaaann..." Shizuka mulai menjerit histeris dan meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
"Katsuya?"
Shizuka mengenali suara itu.
"O..otou-san?"
"Ka..Katsuya..hmm.."
"Aku bukan Katsuya!!"
Pria itu terdiam sejenak, mencoba melihat lebih jelas di dalam kegelapan. "Kau..hik...seorang gadis?" tanyanya parau. "Hm..hik..hehehehe...hik...ayo kita bermain, manis!"
Shizuka tidak salah dalam mengenali pria itu, apalagi setelah matanya terbiasa dengan kegelapan dan berhasil menangkap siluet lelaki yang biasa dilihatnya dari jauh itu. Dia memang ayahnya!
"Jangan...Tou-san! Otou-san, ini aku!!
"Uuurrghh..." Pria tinggi besar, menatap tubuh Shizuka penuh nafsu. Jakunnya turun naik di sela-sela nafasnya yang memburu. Shizuka panik dan merasakan ketakutan luar biasa menjalari tubuhnya saat piyama milik Jou yang dia kenakan dirobek dengan kasar.
"Nii-chan...tolong!!"
Sang ayah yang seharusnya menjaga dan mengayomi putrinya itu kini malah menindih tubuh gadis itu, menahannya agar tidak kabur sementara dia sendiri mulai membuka resleting celananya. Melihat itu, Shizuka menangis sejadinya, berusaha membebaskan selangkangannya yang mulai terasa sakit akibat gencetan ayahnya. Shizuka meronta, mencakar, mencabik bagian tubuh mana saja dari pria itu yang bisa dijangkau dan disakitinya agar sang ayah menyingkir dari tubuhnya.
"ONII-CHAN..!!" lolongnya ketakutan.
Ruangan menjadi terang benderang secara tiba-tiba, memperlihatkan Jou yang berdiri di dekat saklar lampu sambil memegangi perutnya. Wajahnya terlihat kuyu dengan lingkar mata hitam di bawah matanya.
"Brengsek!!" makinya tanpa tenaga.
"Kat..suya?" Pria itu menoleh ke arah Jou yang berjalan cepat ke arahnya dengan ekspresi marah. Dengan perut mual dan kepala pening akibat kurang tidur Jou menarik krah kemeja ayahnya dan langsung menghajarnya dengan sisa tenaga yang dia punya. Pria itu terguling ke samping tubuh Shizuka yang gemetaran, meggeram tanpa daya. Jou mencengkram otot lengan ayahnya itu dan menyeretnya menjauh dari Shizuka.
"Kau...bajingan! Jangan lakukan itu pada Shizuka! SIALAN!!"
Dipukulinya wajah sang ayah beberapa kali, hingga mungkin akan meninggalkan bekas lebam di sana sini dan tidak mudah hilang.
"Brengsek! Keparat! Pergi sana, ayah tidak berguna!!" Didorongnya tubuh penuh keringat itu tanpa tenaga. Pria itu masih mabuk. Wajahnya merah, rambutnya kusut dan bicaranya meracau tidak jelas.
"Katsuya..."
"PERGI!!"
Bukannya beranjak, pria itu malah mengeluarkan bunyi "hoek" beberapa kali dan mengeluarkan cairan berbau busuk dari mulutnya. Setelah itu dia jatuh tak sadarkan diri diiringi dengkuran keras seperti gorila. Sementara di kepala ranjang Shizuka menyelimuti tubuhnya rapat-rapat sambil membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Jou bisa melihat bahunya yang berguncang-guncang karena menangis.
Dengan frustasi Jounouchi mendengus keras-keras. Sekarang dia harus menyeret ayahnya ke kamar dan mengantarkan Shizuka pulang. Itu pun kalau Shizuka mau diantar olehnya.
* * *
03 February
Dua hari berlalu sejak peristiwa naas di apartemen Jou. Seharian Jou bekerja tanpa fokus sedikitpun. Yang ada di kepalanya hanya Shizuka, Shizuka, dan Shizuka!
Sejak kejadian itu, bagaimana keadaan Shizuka sekarang? Jou tidak berani membayangkan wajah sedih adiknya saat pergi ke sekolah sendirian, melangkah pelan dengan wajah tertunduk. Ada rasa sesak yang tiba-tiba dirasakan Jounouchi. Sakit, seperti saat pipinya ditonjok atau ketika dada dan perutnya ditendangi sewaktu adu jotos dengan preman dari sekolah lain.
Dalam hati Jou mengutuk dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan malam itu. Mengajak Shizuka menginap hingga menyebabkan gadis itu dalam "bahaya" adalah suatu kesalahan besar, dan kesalahan itu adalah perbuatannya. Apalagi setelahnya Jou malah menelepon Honda dan memintanya mengantar Shizuka pulang. Pada saat itu Jou berpikir Shizuka lebih baik bersama Honda. Dan ternyata tindakannya itu juga disesalinya.
Seharusnya yang mengantar Shizuka, menjaga dan menghiburnya adalah Jou. Seharusnya dia ada bersama Shizuka saat ini dan bukannya malah melimpahkan semua tugas itu pada Honda. Perasaan bersalah itu kian menguat dan menekan-nekan kepala Jou hingga membuatnya pening.
"Jangan-jangan Shizuka marah padaku. Jangan-jangan dia tidak mau menemuiku lagi!" gumamnya. Jou menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, tidak berani berpikir lebih jauh lagi. Tanpa Jou sadari, dirinya tengah terjerumus ke dalam rasa takut yang dia ciptakan sendiri.
"Jou.." panggil Yuugi. Tapi yang disapa nampaknya tidak mendengar suaranya, menyadari kehadirannya pun tidak.
"Jou!" Yuugi memutuskan menaikkan volume suaranya dan menepuk pundak sahabatnya itu. Tidak disangka, Jou melompat kaget dengan sentuhan halus itu.
"Eh...oh..Kau, Yuugi. A..ada apa?" Jou tergagap.
"Kau sedang memikirkan apa?"
"A..tidak.."
"Sudahlah, tidak usah ditutup-tutupi." Yuugi tersenyum simpul. Dia kemudian menarik sebuah kursi dan lalu duduk di samping Jou. Di raihnya sebuah loyang berisi kulit pai mini yang tertata rapi, kemudian mulai mengisinya dengan potongan-potongan buah kering. Lagi, dia tersenyum. "Wajahmu itu...seperti orang yang baru saja ditinggal pergi pacarnya." Yuugi tertawa kecil mendengar kalimat yang dia ucapkan sendiri.
"Hah? Masa? A..aku kan tidak punya pacar!" Kilah Jou. Aku hanya memiliki seorang adik perempuan yang manis, lanjut Jou dalam hati. Darahnya berdesir begitu kalimat itu muncul di kepalanya tanpa ia duga.
Yuugi mengangguk-angguk mendengar jawaban Jou yang terdengar tidak jujur di telinganya itu. "Hei, Jou. Apakah..." Kalimat itu terputus, menggantung di ujung lidah Yuugi. Saat Jou mengalihkan perhatiannya dari pai-pai mini yang sedang diisinya dengan saus coklat itu dan menoleh ke arah Yuugi, sahabatnya itu sedang menundukkan wajahnya. Kening Jou sedikit berkerut melihat sikap aneh Yuugi.
"Apakah apa, maksudmu?" tanyanya penasaran.
"Apa...apakah Kau...menyukai seseorang?"
Dahi Jou berkerut lagi, dan dia memasang wajah serius seolah sedang berpikir keras. "Hm...ya, ada. Aku menyukai Shizuka. Tentu saja aku menyukainya, dia itu cantik, manis, pintar..."
"Jou! Aku serius."
Sejurus kemudian Jou tertawa keras melihat reaksi sebal di wajah Yuugi.
"Aku juga serius, Yuugi." Timpal Jou. "Aku serius, aku memang menyayanginya. Yah, memang sih Shizuka itu masih tergolong gadis alih-alih wanita," lanjut Jou tanpa dibuat-buat.
"Maksudku bukan yang seperti itu! Apa kau tidak memiliki seseorang yang kau sayangi melebihi rasa sayang seorang saudara, orang yang ingin kau lindungi, yang selalu kau rindukan, yang nama dan wajahnya selalu menari-nari di kepalamu tiap saat, yang selalu ingin kau bahagiakan, orang yang...yang kau cintai...dengan sepenuh hati."
Yuugi menatap wajah Jou agak lama, mencari jawaban atas berondongan pertanyaannya barusan. Jou sendiri sibuk memikirkan jawaban Yuugi, namun yang muncul di benaknya hanyalah wajah Shizuka. Hanya Shizuka. Dan itu membuat jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ah, tidak-tidak-tidak! Tidak mungkin aku mencintai Shizuka. Dia itu adikku! Jou melempar jauh-jauh pikiran bodoh yang baru saja melintas di kepalanya.
"Jadi?"
"Apanya yang 'jadi'? Sudahlah, Kau sendiri tahu cowok sepertiku tidak mudah disukai cewek," Jou kembali menekuri pai-pai-nya yang beberapa saat lalu terabaikan.
"Kau sendiri...apa ada yang sedang mencuri perhatianmu, heh?" tanya Jou tanpa mengalihkan pandangannya dari ujung spuit supaya coklatnya tidak berceceran. Gara-gara itu, Jou melewatkan ekspresi panik Yuugi. Cowok mungil itu terlihat salah tingkah. Beberapa kali mulutnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi karena ujung lidahnya begitu kelu untuk membantunya melafalkan sebuah kata saja. Hanya sebuah kata, "Kau".
Sebelum Jou menyadari keganjilan itu, Yuugi memutuskan untuk segera hengkang dari sana. Dengan wajah merah padam dia melangkah cepat meninggalkan dapur dan memilih menyibukkan diri melayani pelanggan di meja kasir, atau sekedar mengecek kas hari itu, mengelap meja atau apapun yang bisa membuatnya terlihat wajar. Sementara Jou sendiri hanya menatap sekilas kepergian Yuugi dengan perasaan heran.
Hari itu Jounouchi ijin pulang lebih cepat. Tidak masalah, Yuugi dan Ryou pasti bisa menanganinya berdua saja. Jou tergesa-gesa mengayuh sepedanya dan berharap masih sempat menjemput Shizuka di sekolahnya, tapi setelah sampai Jou malah tidak berani mendekat. Tubuhnya mematung beberapa meter dari pintu masuk SMU Domino, diam dan berpikir.
"Apa yang harus kukatakan pada Shizuka?" Tanya Jou pada dirinya sendiri. Saat kebingungan begitu, sebuah sepeda motor besar dengan suara menderu berhenti tepat di sampingnya.
"Kau tidak perlu repot-repot menjemput Shizuka karena sudah ada aku yang akan mengantar dan menjemputnya setiap hari," kata si pengendara motor sambil membuka helm-nya. Honda.
"Aku kan kakaknya, jadi aku yang lebih berhak!"
"Kakak macam apa yang membuat adiknya bersedih, lalu menghilang begitu saja? Tidak bertanggung jawab!"
Kalimat itu menghujam begitu dalam di hati Jou, dan dia tidak bisa membantah. Pemuda jangkung itu malah berjongkok, lalu menjambak rambutnya sendiri sambil menggerutu.
"Sebenarnya apa yang terjadi di apartemenmu waktu itu, hah?"
"Itu...aku..."
"Pokoknya aku tidak mau tahu, Kau harus membuat Shizuka tersenyum lagi!"
Jou terdiam, menekuri trotoar yang tidak bisa membantunya mencari jawaban yang tepat untuk diungkapkannya pada Honda.
"Hei, Jou!" Honda mulai terlihat jengkel.
"Maaf, Aku kakak yang tidak berguna."
"Katakan itu pada Shizuka langsung!"
"Aku tidak berani. Aku takut dia membenciku."
"Bodoh! Dia tidak akan membencimu kalau kau minta maaf padanya."
Jou terdiam lagi, memainkan telunjuknya di atas trotoar. Hal itu semakin membuat Honda kesal dan malu mengakui kalau orang dengan tingkah bodoh itu adalah temannya.
"Shizuka tidak pernah membenci Onii-chan."
Tiba-tiba terdengar suara lain, suara yang merdu dan meninmbulkan kehangatan di dalam hati Jou, jauh berbeda dengan suara Honda. Jou mendongak, lalu menemukan sebentuk wajah yang dirindukannya. Shizuka.
"Aku...Shizuka..maaf..aku..."
Shizuka menggeleng kuat-kuat. "Itu bukan salah Onii-chan."
"Kau memaafkanku?"
Shizuka mengangguk. Seketika Jou bangkit dari posisi jongkoknya, menatap Shizuka lekat-lekat dengan wajah gembira dan lega luar biasa.
"Yang benar? Kau masih mau bicara padaku?"
Shizuka mengangguk lagi.
"Kau masih mau menemuiku?"
"Hai, onii-chan!"
"Yatta!!" Jou langsung memeluk Shizuka erat sambil melompat-lompat kegirangan.
"Tapi...untuk sementara aku tidak bisa mengunjungi Onii-chan," ucap Shizuka pelan, takut merusak suasana bahagia di hati kakak tercintanya.
Mendengar kalimat sehalus bisikan angin yang mengungkapkan permintaan maaf itu, Jou menatap mata adiknya lekat-lekat, menyentuh pipi halus gadis itu dengan kedua tangannya.
"Aku mengerti. Shizuka, mulai sekarang aku akan menjagamu lebih dan lebih baik lagi!" Janji Jou mantap sambil mengelus pipi Shizuka dengan sayang. Adegan itu membuat Honda merasa tidak nyaman. Walau sejauh yang dia tahu Jounouchi sahabatnya dan Shizuka calon pacarnya itu adalah kakak beradik kandung, tapi tetap saja Honda merasa seakan tengah menyaksikan sepasang kekasih bermesraan layaknya adegan dalam dorama.
"Ayo kuantar pulang!" Potong Honda, menghentikan adegan romantis yang membuatnya cemas sekaligus curiga. Ditariknya lengan Shizuka, menjauh dari Jounouchi. "Hei, kau berhutang satu penjelasan padaku!" Ujarnya pada Jou, dengan nada ancaman yang ditekankan dalam nada bicaranya. Setelah itu Honda membawa Shizuka pergi dengan Harley kesayangannya.
"Hati-hati di jalan!" teriak Jou sambil melambaikan tangan. Rasanya benar-benar lega setelah Shizuka mau bicara lagi padanya. Tapi membiarkan Honda membawanya pergi, entah kenapa terasa tidak menyenangkan bagi Jou. Ada sesuatu yang bergerak-gerak dalam dadanya.
"Kalau Shizuka merasa bahagia bersama Honda, bukankah seharusnya aku juga bahagia?" ungkap Jou pada dirinya sendiri, berusaha menghentikan gejolak dalam dadanya yang kian menjadi. Ada nada kesal terselip dalam suaranya tanpa sebab jelas.
"Argh, apa sih yang kupikirkan?!" omelnya sambil meninju dinding kokoh yang memagari area sekolah tempatnya menuntut ilmu beberapa tahun silam.
* * *
Hujan lagi. Entah sejak kapan Jou punya kebiasaan duduk berlama-lama di dekat jendela setiap hujan turun, diam sambil memandang ke arah luar.
"Shizuka pasti senang sekali. Atau jangan-jangan dia malah sedang hujan-hujanan." Dua sudut bibir Jou terangkat begitu dia mengingat gadis itu. Sebagai kakaknya, Jou sendiri tidak tahu kenapa dan sejak kapan Shizuka mulai menyukai hujan. Ingatannya kemudian kembali pada masa kecil mereka dulu, saat keluarga mereka masih utuh, saat Jou mengira kebersamaan mereka tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun juga. Sayang, hidup ternyata tidak seindah seperti apa yang diimpikannya.
Jou menghela napas pelan. Tidak ada gunanya menyesali yang telah terjadi, bukan? Toh semua itu bukan lagi masalah. Shizuka akan selalu bersamanya lagi. Seperti dulu. Dan Jou bertekad dia tidak akan pernah membiarkan perpisahan terjadi lagi di antara mereka, selamanya.
"Shizuka," bisik Jou membayangkan sosok adiknya saat ini. Dia tumbuh dengan baik menjadi seorang gadis yang cantik, juga lembut. Jou ingin sekali memiliki istri seperti Shizuka. Atau sekalian saja Shizuka yang menjadi istrinya!
"Bodoh! Dia kan adik kandungku!" Jou memukul kepalanya sendiri atas pikiran bodoh yang barusan melintas begitu saja di benaknya itu.
Terdengar suara pintu dibuka, kemudian ditutup dengan kasar. Lalu terdengar suara langkah-langkah berat dari luar kamarnya. Jou tahu siapa yang datang. Bergegas dia keluar dari kamar untuk melihatnya. Benar saja, sang ayah pulang sambil mencekik leher botol yang isinya sudah hampir habis. Wajahnya merah dan penampilannya terlihat sangat berantakan.
"Sampai kapan ayah mau begini terus, hah?" hardik Jou marah.
Menyadari keberadaan Jounouchi di situ, pria bertubuh tinggi besar itu lantas menubruk Jou hingga terjatuh ke lantai.
"Layani aku...katsuya!" Desahnya penuh nafsu.
"Hentikan!"
Pria itu tidak peduli. Dirobeknya t-shirt putih Jou.
"Hentikan, aku tidak mau! Aku bosan hidup seperti ini terus!!"
"layani saja aku dan jangan bayak bicara, bocah!"
"Arrggh!! Setiap hari kau hanya berjudi dan pulang dalam keadaan mabuk. Hampir setiap malam kau melakukan ini padaku. AKU LELAH!!"
"Persetan!" Tangan pria itu dengan cekatan membuka celana jeans yang Jou kenakan dan mulai melucuti pakaiannya sendiri dengan napas memburu.
Jou yang kalap langsung menendang selangkangan ayahnya, membuat pria itu terjengkang sambil mengerang kesakitan.
"Aku ini anakmu! Tapi kau memperlakukanku seperti sampah!" teriak Jou. Dadanya kembang-kempis karena amarah. Dengan cepat dia bangkit dan melangkah pergi.
"Keparat!" makinya, diiringi suara pintu dibanting keras sepesekian detik kemudian.
Seluruh perasaan sakit dan terhina yang pernah dirasakannya saat pertama kali disetubuhi ayahnya sendiri dahulu, kini muncul kembali bahkan berpuluh kali lipat. Selama ini Jou hanya menerima perlakuan itu dan menahan perasaannya dalam diam, berpikir kalau ayahnya memang membutuhkan "tempat" untuk menyalurkan perasaanya semenjak sang ibu tidak lagi bersama mereka. Dan demi kebahagiaan ayahnya, Jou merelakan tubuhnya sendiri untuk menjadi "tempat" itu, sambil berharap suatu saat semua itu akan berakhir walau dia sendiri tidak tahu kapan.
Tapi cukup, cukup sampai di sini. Dia lelah. Juga takut suatu saat rahasia memalukan ini akan diketahui oleh Shizuka. Tidak ada yang lebih buruk daripada dibenci Shizuka.
"Aaarrggghhh...BRENGSEEKKK!!!"
...TBC...
A/N :
HALAAAAHHHH...ending yang aneh. Saya sedang dalam masa WB plus rentetan masalah di kantor yang berderet layaknya kereta. Jadi walaupun sebenarnya fanfic ini sudah kutulis di kertas sampe chapter 3, tetep aja pas ngedit asa blank.
Terima kasih banyak buat yang sudah mereview chapter sebelumnya : Sora Tsubameki, Seithr Kairy, Erune, Reiforizza, Saint Chimaira. Hontouni arigatou gozaimasu…
Baiklah, merangkum komen dan pertanyaan kalian semua, akan daku jelaskan sedikit.
Sekarang sudah jelas siapa pria itu, dan ternyata dia memeang salah orang. Niatnya mau grepe-grepe-in Jou ternyata yang tidur di situ Shizuka. Kekekekeke…
Mrmang benar, chapter 1 belum apa-apa. Niatnya sih mo nyeritain dulu soal kehidupan Jou sehari-hari ketika badai belum datang menerpanya (halah, bahasa saya…lebay pisan). Tapi tampaknya strategi saya agak kurang tepat ya? Harusnya di awal-awal disuguhkan sesuati yang mengguncang, tul?
Ada yang suka adegan Jou-Anzu? *lirik Rei* Thanks, yaw! Aku juga suka! Secara, authornya sendiri gitu! Kekekekeke… Eh, aku ga suka daddy!cest ko! SUER TAKEWER-KEWER deh! Itu Cuma buat bumbu aja di cerita ini. Beneran…
Cerita ini memang tentang valentine, berhubung idenya berawal dari tantangan bloody valentine di awal tahun 2009 lalu. Saint Chimaira, kalianlah awal dari kisah TLC inih! Waktu itu, diriku yang polos ini amat menjunjung tinggi hubungan suci kakak berasik, lalu dikasih tantangan buat bikin fanfic incest Jou-Shizuka. Tapi baru bisa diwujudkan sekarang…fanfic ini bener2 bikin stress, tapi malah jadi keterusan! Huaaaa…
Sekedar konfirmasi, cerita ini tidak ada hubungan langsung dengan fanfic Suiito Tada Hitotsu buatan Supertyrant (Reiforizza). Saya hanya mengambil nama Suiito dan time line di cerita itu untuk cerita ini, itu pun atas seijin yang bersangkutan. Hehehehe..
Gomen ne…ratingnya saya turunin. "T" aja ya! Banyak hal yang saya pikirkan belakangan ini, yang membuat saya memutuskan untuk membuat cerita yang manis-manis aja. Ane udah tua gitu loh, udah merasa gak pantes main begonoan..Lagian, udah banyak fanfic puppy yang ratingnya M, jadi agak bosen liat adegan begitu. Lagi-lagi balik ke umur saya. Sekarang saya udah ga sanggup baca lemon atau yang nyerempet-nyerempet, makanya adegan "itu" di sini …
Selain itu, saya juga sebetulnya berniat menimbulkan suasana dorama di cerita ini, karena itu ke depannya cerita ini akan super gombal dan super lebay. Barang siapa yang anti romance atau anti sama dorama, saya tidak merekomendasikan Anda untuk melanjutkan membaca tulisan ini. Yah, sukur-sukur sih dilanjut *ngarep* Doakan semoga chapter 3 apdet dengan cepat! Ya ha!
