Disclaimer : YGO dan karakter-karakter yang ada di cerita ini adalah milik Kazuki Takahashi. Saya menculik dan menyeret mereka ke dalam dimensi anehku.

Rating : 18+

Genre : Romance

Warning : AU, agak OOC, bahasa yang rada kasar

A/N : Sorry dumori, up date-nya kelamaan ya? Banyak hal terjadi, akhir-akhir ini saya memang agak depresi. Gomen. Maaf juga, rate-nya diturunin. Jadi, ke depannya bakal lebih mendorama dan adegan yaoi-nya mulai ditiadakan. Mulai waras ni saya, ceritanya..Lagian lagi seneng bunuh-bunuhan daripada adegan ranjang. Kekekekeke...semoga masih pada mau baca..

Oh iya, karena di sini Jou dipasangin sama Shizuka, maka ga ada Puppyshipping. Tapi klo ada yang merasakan hints sih, sok wae lah. Atau merasa ada hints shipping-shipping lain?

Tastes Like Chocolate, Episode 3

04 February

"Irrashaimase..." sapa Yuugi ramah saat mendengar lonceng-lonceng kecil yang dipasang di pintu masuk bergemerincing, pertanda seseorang masuk ke Suiito.

"Ah, Jonouchi!" pekiknya senang melihat siapa yang datang.

Gubrakk!

Tiba-tiba saja Jounouchi terjatuh, hanya beberapa langkah jaraknya dari pintu.

"Daijoubu?" tanya Yuugi sambil tersenyum, menyembunyikan tawanya yang nyaris meledak. Tapi melihat wajah Jou yang terlihat agak pucat, Yuugi jadi khawatir.

"Ah, hai." Jou berusaha bangkit dengan susah payah. Kepalanya agak pening, dan tubuhnya jadi terasa lebih berat dari biasanya. Bagi Jou yang mantan seorang preman sekolah, adalah hal yang memalukan jika dia sampai merasa kesakitan cuma karena terjatuh seperti itu saja.

"Yuugi, Kau tidak pergi kuliah?" tanya Jou heran. Yuugi segera menjelaskan kalau hari ini jadwalnya kosong. Salah satu temannya baru saja menelepon, memberitahunya kalau sang dosen tiba-tiba tidak bisa mengajar. Jounouchi hanya mengangguk pelan, lalu pergi ke pantry untuk berganti pakaian. Dia juga hanya menjawab singkat setiap pertanyaan Yuugi.

"Jou, benar Kau tidak apa-apa?"

"Ya," jawabnya sambil membersihkan meja.

"Apa kau sakit?"

"Tidak." Jou tetap tidak mengalihkan pandangannya dari meja yang sebenarnya sudah bersih.

Tiba-tiba lonceng di pintu depan berbunyi, pintu terbuka dan seseorang masuk.

"Irrashaima..." Jou tidak menyelesaikan kalimatnya begitu menyadari siapa yang baru saja datang. Musuh bebuyutannya, Kaiba. Pria berambut coklat itu juga menunjukkan sikap tidak ramah pada Jou. Pemilik Kaiba Corporation yang ternama itu berjalan begitu saja melewati Jou dan Yuugi, mengambil tempat di pojok ruangan, kemudian membuka laptopnya.

"Makhluk menyebalkan itu datang lagi. Akhir-akhir ini dia jadi sering datang kemari!" cerocos Jou sebal.

"Ya, dia datang hanya untuk duduk tanpa memesan apapun. Biasanya aniki langsung menyodorinya secangkir coklat panas, lalu mereka mengobrol panjang lebar. Kadang-kadang diselingi aksi saling memaki, atau saling menatap sinis satu sama lain. Tapi sayang, hari ini aniki mendadak harus pergi ke kampus."

Merasa diperhatikan, Kaiba mendelik curiga ke arah Jounouchi.

"Hah, benar-benar seperti anjing yang sedang menunggu diberi makan tuannya," ujar kaiba sambil tersenum sinis. Tentu saja Jou tidak terima dikatai begitu. Dengan kesal Jou langsung menghampiri Kaiba dan melemparkan lap kotor ke wajahnya.

"Orang yang Kau cari sedang tidak ada, jadi silakan tinggalkan tempat ini sekarang juga,!"

Mendengar itu Kaiba lengsung berdiri dan menarik celemek coklat dengan tulisan Suiito berwana kuning di bagian dada yang sedang dipakai Jou.

"Jangan campuri urusanku, ikan teri!"

"Stupid rich jerk!" balas Jou tepat di depan wajah Kaiba.

"Blonde bitch!"

Dengan kesal Kaiba mendorong Jounouchi. Tidak terlalu keras sebenarnya, hanya sebagai gertakan. Kaiba cukup kaget melihat tubuh Jou terhempas seperti itu dan tampak kesulitan berdiri meskipun Yuugi sudah berusaha sekuat tenaga membantunya.

"Lemah!" sinis Kaiba. Setelah itu dia melangkah pergi sambil menelepon seseorang. Tubuh jangkungnya kemudian menghilang di balik pintu. Tanpa diketahui Jou dan Yuugi, sebenarnya Kaiba agak heran melihat kondisi Jou tadi. Tidak biasanya dia terlihat seperti itu. Yah, bukan berarti Kaiba tidak menganggapnya sebagai manusia, hanya saja...aneh melihat Jounouchi si mantan berandalan kini tak berdaya seperti itu. Kaiba lantas membuka pintu mobilnya dan bergegas meninggalkan Suiito.

"Jou, sebaiknya kau pulang saja dan istirahat di rumah," saran Yuugi cemas.

"Aku tidak apa-apa."

"Tapi Kau terlihat tidak sehat!"

Jounouchi langsung berdiri dan melompat-lompat sebentar. "Lihat, kan? Aku baik-baik saja," ujarnya seraya pergi menuju dapur.

Jou langsung mengambil sebuah cangkir besar, mengisinya sampai penuh lalu meminumnya sampai habis seperti orang yang baru saja pulang dari padang pasir. Hari ini tubuhnya agak kurang fit. Tapi Jou tidak mau kalau sampai harus ijin pulang lebih cepat dengan alasan sakit. Tidak, itu memalukan. Lagipula, Jou merasa akan jadi pembohong bila dia berkata kalau dirinya sedang sakit. Tidak, dia tidak sedang sakit. Hanya kurang fit, itu saja.

Pikirannya lantas melayang pada Shizuka, gadis yang akan sangat cemas kalau melihat kejadian tadi. Gadis itu pasti langsung panik dan memaksanya pergi ke dokter, lalu memaksanya minum obat. Dia akan bertingkah layaknya seorang istri yang merawat suaminya yang sedang sakit.

Jou langsung terkekeh membayangkan hal itu. Wajahnya memanas dan dia tidak bisa berhenti tersenyum. Mendadak rasa rindu menyeruak dalam dadanya, rindu ingin segera bertemu dengannya, Shizuka adiknya yang paling dia sayangi. Shizuka adiknya yang manis, dan pasti akan sangat manis kalau dia menjadi istri Jou.

Senyum Jou memudar seketika saat menyadari pikiran itu begitu melambungkan khayalnya dan dia merasa bahagia dengan khayalan itu. Khayalan yang disadari Jou sebagai sesuatu yang salah!

"ARGH...BODOH!" teriak Jou kesal sambil menggebrak meja tanpa ingat kalau tangannya sedang memegang sebuah cangkir. Dan tentu saja, suara 'prang' yang cukup keras menyusul detik berikutnya.

"Jou, cangkirku!"

Tahu-tahu Atem sudah berdiri di pintu dapur dengan wajah terkejut. Jou juga ikut terkejut, apalagi setelah menyadari ada cukup banyak pecahan beling di atas meja. Telapak tangannya mulai terasa perih walau darah yang keluar tidak terlalu banyak.

"Ah, go..gomen! nanti kuganti, tapi jangn potong gajiku ya!"

"Apa sih yang sedang kau pikirkan?"

"Eh? Tidak ada. Hehehehe..." Buru-buru Jounouchi membersihkan kekacauan itu. "Eh, bukankah Kau harusnya ada di kuliah?"

"Ada yang tertinggal."

"Apa? Money bag-mu?" Jou nyengir lebar.

Jou berani bersumpah bahwa dia benar-benar melihat rona merah yang samar di wajah Atem.

"Apa maksudmu?" tanya cowok itu gelagapan. Jou sengaja melebarkan cengirannya serta memainkan alisnya untuk menggoda Atem.

"Apa-apan ekspresi itu?" Atem langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Jou dengan wajah memerah karena malu. Tidak lama kemudian terdengar suara Yuugi.

"Aniki, dompetmu tadi kutemukan terselip di bawah sofa."

Tidak ada jawaban. Dan Jou terkekeh karenanya.

XXXXX

Sore itu Jou tengah sibuk dengan adonan fondant berwarna-warni dan sepanci besar adonan coklat. Beberapa sudah berpindah ke telapak tangannya dan kini berubah wujud menyerupai seorang gadis berukuran mini. Dengan hai-hati pemuda itu menyempurnakan rambut sang gadis mungil yang terbuat dari adonan coklat. Sedang serius begitu, Ryou yang biasanya sibuk dengan pekerjaannnya membuat batangan cooking chocolate tiba-tiba saja menarik sebuah kursi dan duduk di samping Jou.

"Kau sedang apa?" tanya pemuda berambut putih berkilau itu.

Jou menjawab dengan memperlihatkan boneka itu dan berkata, "Ini untuk menyambut hari valentine. Kau belum tahu ya?"

Ryou pun menggeleng. "Aku belum tahu soal itu," ujarnya.

"Tunggu saja, sebentar lagi Atem pasti memberikan setumpuk proyek untuk hari valentine padamu."

Ryou mengagguk-angguk mengerti. Diperhatikannya wajah Jou yang kembali serius menambahkan detail-detail pada si gadis mini itu.

"Kau…sepertinya senang sekali!" ujarnya sambil terkikik.

"Heh? Apa maksudmu?" Tanya Jou bingung, namun matanya tetap tidak lepas dari pekerjaannya. Sambil memiringkan kepala, Ryou menunjuk pipi Jou.

"Kau sering tersenyum-senyum sendiri sambil menatap boneka coklat itu. Lihat, wajahmu memerah tuh!" Kali ini Ryou tertawa geli.

"Nanda?" Jou memoleskan adonan coklat di wajah Ryou karena kesal, membuat wajah imut pemuda itu jadi coreng moreng. Ryou memasang wajah cemberut, sementara Jou justru tertawa keras-keras.

"Hm, Jou..."

"Apa lagi?"

"Kau…sedang jatuh cinta ya?"

Pertanyaan itu berhasil membuat Jounouchi terhenyak, dan kedua tangannya berhenti bergerak. "Ano…wakaranai da yo!" jawab pemuda yang dulunya anggota geng berandalan itu dengan suara pelan. Kemudian, dengan senyum tipis yang masih tersisa di bibirnya, Jou melanjutkan pekerjaannya. Dalam hatinya dia sebetulnya masih bertanya-tanya tentang kemungikinan itu. Jatuh cinta? Mungkinkah? Benarkah? Jou tidak mengerti.

"Saa~, ada dua belas cara untuk mengetahui apakah kau sedang jatuh cinta pada seseorang atau tidak. Kau mau tahu?"

Jou tidak merespon, tetap konsentrasi pada "gadis mini" itu. Namun dia sebetulnya memasang telinganya baik-baik. Ryou pun tampak tidak peduli dan terus saja berbicara.

"Hm, nomor dua belas yaitu…"

"Bukannya nomor satu lebih dulu?" protes Jounouchi.

"Pokoknya dengarkan saja dan jangan protes! Nomor dua belas. Kau berbicara dengan gadis itu malam hari dan ketika kau akan tidur kau masih memikirkannya."

Jou tersenyum. Siapa gadis yang mau berbicara padanya malam hari selain Shizuka? Tidak ada!

"Sebelas. Kau berjalan sangat lambat ketika bersama gadis itu."

Ryou melihat Jounouchi tersenyum untuk kedua kalinya. Lalu tanpa menunggu Jou bicara apapun, Rou kembali melanjutkan ocehannya.

"Sepuluh. Kau merasa tidak nyaman ketika gadis itu berada jauh darimu."

Jou mengengguk-angguk pelan. Yeah, siapa sih yang merasa nyaman saat adiknya entah ada di mana dan sedang apa? Jou ingat betapa dia tersiksa waktu Shizuka dibawa pegi jauh dari sisinya.

"Sembilan. Kau tersenyum ketika mendengar suara gadis itu."

Dahi Jou sedikit berkerut. Tiba-tiba dia ingat saat pertama kali mendengar suara Shizuka lewat ponsel yang baru dibelinya. Waktu itu benar-benar menyenangkan sampai Jou tidak bisa berhenti tersenyum seharian!

"Delapan. Ketika kau melihatnya, kau tidak melihat orang lain di sekitarmu. Kau hanya melihat gadis itu seorang."

Kali ini Jou tertawa. Memang, kadang-kadang dia tidak peduli pada siapapun di sekitarnya kalau sudah ada Shizuka di depan matanya. Bahkan Jou seringkali membuat Honda kesal karena tidak mempedulikan pemuda berambut mirip sirip hiu itu.

"Um, yang ke-enam. Gadis itu adalah segala hal yang ingin kau pikirkan."

Jou terkekeh lagi. Merasa disindir, karena segala yang dia pikirkan pasti menyangkut Shizuka, seakan isi otaknya memang hanya ada nama itu.

"Ke-lima. Kau menyadari bahwa kau selalu tersenyum tiap kali memandang gadis itu."

Ryou memandang Jou, menunggunya bereaksi. Pemuda pirang itu terlihat sedikit gugup. Dalam benaknya terbayang Shizuka remaja yang cantik dan manis.

"Ke-empat. Hmm.. kau akan melakukan apapun untuk melihat dan bertemu gadis itu."

Jou menggigit bibir bawahnya. Saat-saat dia melakukan segala hal untuk mencari keberadaan Shizuka, mencari cara apapun agar bisa bertemu dengannya, adalah sebuah perjuangan yang cukup menyakitkan. Syukurlah Shizuka pindah ke Domino lagi. Apapun alasannya Jou tidak peduli.

"Ke-tiga. Ketika kau mendengarkannku, ada seseorang dalam pikiranmu. She is in your mind all the time…" Ryou mengerjapkan matanya beberapa kali, yakin seratus persen bahwa dia benar. Sedangkan Jou, sedikit terkesiap karena Ryou memang benar!

"Ke-dua, kau terlalu sibuk memikirkan gadis itu sehingga kau tidak menyadari bahwa poin nomor tujuh menghilang!" ujar Ryou dengan sedikit menekankan akhir kalimatnya. Senyumnya mengembang begitu lebar, apalagi saat dilihatnya Jou tersentak kaget dan mulai mengingat-ingat seluruh point yang sudah disebutkan Ryou sambil menghitung dengan jarinya.

"Dan poin pertama yaitu 'Kau mengecek apakah itu benar dan kemudian menertawakan dirimu sendiri'."

Jou kemudian terlihat lebih terkejut lagi karena menyadari kalau lagi-lagi Ryou benar! Lalu diapun tertawa. "Kau mengerjaiku, ya! Sialan!"

"Hahahaha…berarti kau benar-benar sedang jatuh cinta, hmp?"

Jou terdiam, meredakan tawanya lalu menarik napas dan menghelanya pelan. "Entahlah. Umm… Apakah cinta itu berhak kumiliki? Apakah aku boleh mencintainya?" gumamnya.

"Maa…kau mencintai gadis itu, kan?"

"Ano…"

"Jawab saja!"

"Umm…sepertinya begitu."

"Kalau begitu nyatakan saja padanya! Tidak ada alasan kau tidak berhak memiliki cinta. Tidak ada alasan kau tidak boleh mencintainya, Jounouchi! Kau hanya harus mengungkapkan perasaanmu, dan mencintainya sepenuh hati. Itu saja! Selain dari itu, abaikan saja!"

"S..sou ka?"

Ryou mengangguk meyakinkan Jou. Pemuda berambut putih itu menepuk pundak Jou dan memberinya semangat.

"Eh, ano…gadis itu…" Ryou menunjuk boneka dalam genggaman tangan Jou. "Rasanya aku pernah melihat gadis yang mirip dengan boneka itu!" gumam pemuda bishounen itu sambil mengingat-ingat.

"Ah, aku ingat! Aku baru saja bertemu gadis itu di depan, kalau tidak salah. Tadi dia memesan milk chocolate bar ukuran 250 gram."

"Dasar, kenapa tidak bilang dari tadi! Sini, biar aku saja yang memberikan pesanannya!"

Ryou lalu memberikan sebatang coklat yang cukup besar yang terbungkus kertas alumunium foil pada Jou.

"Hei, Ryou!"

"Ya?"

"Trims!"

Ryou membalasnya dengan mengacungkan jempolnya seraya tersenyum lebar. "Ganbatte kudasai~!" teriaknya.

Jou menemukan Shizuka sedang berdiri didekat meja kasir, tengah asyik mengobrol bersama Yuugi. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolahnya, lengkap dengan tas pink besar tersampir di pundaknya. Jou langsung menghampirinya, dan menyodorkan coklat batangan itu tepat di depan hidungnya. Gadis itu langsung menoleh demi melihat siapa orang iseng yang mencoba mengagetkannya itu.

"Nii-chan!" pekiknya riang. Senyum manisnya mengembang dengan indahnya.

"Kenapa kau kemari, hm? Dan kenapa kau tidak langsung pulang ke rumah? Tidak takut dimarahi kaa-san?" berondong Jou. Pelipisnya sedikit berkedut, kesal karena adik semata wayangnya mulai terlihat nakal.

"Sonna... Nii-chan jangan marah begitu! Aku mau Nii-chan menemaniku jalan-jalan!"

"Apa? Aku sedang bekerja."

"Tapi Yuugi mengijinkan, kok!" mohon Shizuka dengan wajah memelas.

Hah, tentu saja Jou tidak tahan melihat wajah Shizuka yang seperti itu. Diliriknya Yuugi, meminta persetujuan. Pemuda bertubuh mungil itu hanya mengangkat bahu sambil memalingkan wajahnya.

"Pergilah, aku bisa menangani Suiito kok! Lagipula sebentar lagi aniki kembali," ucap Yuugi berbohong. Jou mendesah. Dia tidak pernah bisa menolak satu pun permintaan Shizuka.

"Baiklah..anything for you, sunshine!" ucap Jou, mengutip sebuah kalimat dalam film yang pernah ditontonnya.

(-A.K-)

Dengan berjalan kaki, Jou dan Shizuka menyusuri jalan-jalan di kota Domino berdua saja. Toko-toko berjejer di sana, menjual beraneka barang yang kadang membuat Shizuka tiba-tiba menjerit histeris dengan manja. Orang-orang yang melihat mereka tentu mengira kalau Jou dan Shizuka adalah sepasang kekasih. Mereka benar-benar serasi! Selesai membeli neko-mimi dan es krim coklat, Shizuka mengajak Jou ke suatu tempat.

"Nii-chan, lihat itu!"

Shizuka menunjuk sebuah toko di tepi jalan yang mereka lalui. Toko itu tampaknya menjual segala pernak-pernik bernuansa era Victorian. Mata Jounouchi lantas mengikuti arah telunjuk Shizuka. Gadis itu memandangi sebuah gaun lolita berwarna putih dengan renda di sana-sini. Gaun yang cantik itu terpasang rapi pada sebuah manekin tanpa kepala yang berdiri anggun di etalase toko.

"Kalau aku menikah nanti, aku ingin membuat pesta ala bangsawan eropa di jaman Victorian. Aku ingin sekali memakai gaun seperti itu," gumam Shizuka penuh harap.

"Kau pasti cantik sekali dengan gaun itu!" Timpal Jou. "Suatu saat, impianmu itu pasti terkabul!" tambahnya. Jou lalu menggenggam tangan Shizuka erat, lalu menggandengnya pergi. Dalam hati dia bertekad akan mengabulkan impian itu, sebagai seorang kakak ataupun sebagai...suaminya!

PLAKK! Spontan Jounouchi memukul dahinya sendiri dengan keras.

"Ada apa?" Shizuka memperhatikan wajah Jou dengan heran.

Ditatap seperti itu membuat Jou jadi salah tingkah. Dalam sekejap pipinya merona merah.

"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Jounouchi gugup.

Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Buru-buru Jou mengamit tangan Shizuka, mencari tempat berteduh. Syukurlah ada sebuah toko kecil yang sedang tutup. Halaman depannya cukup nyaman untuk mereka berteduh.

"Haaahhh...dingin sekali! Baju kita jadi basah semua!" gerutu Jou. Shizuka malah tersenyum senang menatap tetesan hujan dari atap toko.

"Heh, awas kalau kau berniat mau main hujan-hujanan lagi! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu!" ancam Jou. Yang diancam malah tertawa senang, membuat Jou gemas dan memukul kepalanya lembut dengan kepalan tangannya.

Shizuka kemudian mengajak Jou duduk di tangga. Agak basah, tapi setidaknya mereka akan terhindar dari varises. Yah, sekedar mengistirahatkan kaki mereka yang mulai pegal setelah seharian berjalan-jalan.

"Nii-chan tahu tidak, kenapa aku suka sekali pad hujan?"

Jou menggeleng cepat. "Kenapa?" tanyanya penasaran.

"Waktu kita kecil dulu, aku pernah sakit karena kehujanan. Nii-chan waktu itu panik sekali. Aku senang sekali Nii-chan begitu mengkhawatirkan aku, merawatku, menjagaku. Aku benar-benar bahagia." Tatapan Shizuka tampak menerawang dengan senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya.

"Kau ini!" Jou memencet hidung adiknya itu dengan gemas. Ada-ada saja, pikirnya.

Matahari sudah tenggelam saat Jou mengantar Shizuka pulang. Mereka berjalan kaki berdua, bersisian dan saling bergandengan tangan. Kedua insan itu larut dalam pikiran mereka masing-masing, tak saling bicara sampai akhirnya mereka berada di depan tangga menuju sebuah jembatan penyebrangan. Di seberang sana adalah sebuah gedung setinggi lima lantai di mana di salah satu flatnya Shizuka dan ibunya tinggal.

"Ah, bagaimana kalau kita adu cepat? Kita menaiki tangga dengan melompat seperti kelinci sampai di atas. Yang sampai lebih dulu, dia yang menang. Siapa yang kalah, harus membuatkan kue coklat!" usul Jou menantang adiknya.

"Haah, kakiku pegal!" protes Shizuka dengan nada malas. Kakinya benar-benar terasa sakit, seperti sedang menyeret sebuah meja berukuran besar! Jangan-jangan besok betisnya akan bengkak sebesar pilar penyangga gedung SMU Domino!

"Ayolah…" bujuk Jou sambil tersenyum nakal. Tanpa menghiraukan sikap protes Shizuka, Jou mulai melompati anak-anak tangga satu demi satu dan bergaya seperti seekor kelinci. "Hei, kalau kau diam terus, nanti kalah lho!" godanya sambil tertawa.

"Nii-chan jahat!" omel Shizuka sambil cemberut. Bibirnya mengerucut, membuat Jou tertawa makin keras melihatnya. Pemuda itu terus melompat-lompat.

"Yeiy, aku pasti menang!" teriaknya.

Tiba-tiba Jou tidak bisa menggerakkan kakinya! Tubuhnya oleng, lalu terjatuh dan menggelinding ke bawah. Terdengar bunyi "bruk" yang cukup keras saat tubuh tegap pemuda itu menghantam aspal. Seketika dia berteriak kesakitan, namun kemudian disadarinya bahwa dia bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali.

"Nii-chan!" jerit Shizuka panik. Berlari, dihampirinya tubuh kakaknya yang tergeletak di jalanan berlapis aspal yang dingin dan basah. "Nii-chan, daijoubu?" Tanya Shizuka khawatir. Jou tidak bisa menjawab, hanya erangan lemah yang keluar dari mulutnya. Kepalanya pening dan penglihatannya seakan berputar-putar.

"A…aku mau cari bantuan!" Masih dalam keadaan panik, Shizuka hendak melangkah pergi, namun sebuah tangan kekar menarik lengannya.

"Aku tidak apa-apa kok! Tadi itu cuma bercanda! Hehehehehe…" ujar Jounouchi sambil nyengir lebar. Perlahan-lahan pemuda berambut keemasan itu berdiri sambil terus terkekeh.

"Mou…dasar jahaaaaatt!" teriak Shizuka sebal. Ditinjunya dada bidang sang kakak berkali-kali. Dan tanpa disadarinya, dia mulai menangis. "Jahat! Kau membuatku ketakutan, tahu! Aku…benar-benar takut!" tangis Shizuka. Air matanya berjatuhan seperti hujan sore tadi.

"Iya, iya. Aku minta maaf.." ucap Jou tulus dengan suaranya yang lembut. Diangkatnya dagu Shizuka, lalu ditatapnya kedua bola mata coklat itu dalam-dalam. Kemudian tatapannya beralih npada bibir tipis nan ranum milik gadis berambut coklat itu. Tanpa bisa menahan dirinya, Jou langsung mengecup bibir mungil itu dengan lembut, dan lama.

"Kyaaa!" spontan Shizuka mendorong tubuh kakaknya menjauh. Tangannya melayang dan mendarat di pipi Jounouchi dengan keras, menimbulkan bekas berrwarna merah di sana.

"A…apa yang nii-chan lakukan?" jerit Shizuka histeris.

"A…aku…apa yang kulakukan?" Jounouchi malah balik bertanya dengan gugup. Dia sendiri tak menyangka dirinya tiba-tiba melakukan hal itu!

"Kalian! Benar-benar menjijikan!" teriak seorang wanita tak jau dari tempat mereka berdiri.

"Ka…ka-san?"

TBC.

Ocehan si pemalas:

Jeng-jeng… maap, saya cut di sini dulu. Klo ga, ga bisa publish dong! Jadi gimana dengan chap ini? Kekekekekekeke… ga jelas ya kan? Pokoknya saya Cuma ngejalanin challenge. Buat yang ngasih challenge (kayaknya udah ga inget dia!), nih saya persembahkan untuk anda…puas?

Hm, jaga-jaga buat yang ga tau ini saya bikinin mini glossarium. Maaf bagi yang udah tahu.

Irrashaimaseselamat datang! (misalnya di restaurant atau hotel)

Daijoubukau baik-baik saja?

Haiya

Gomenmaaf

Aniki= Nii-chan = kakak cowok

Nanda= apaan sih? (kurang lebih begitulah)

Ano…wakaranai da yo= itu…aku gak ngerti/entahlah

sou ka= gitu ya?

Ganbatte kudasai= semangat ya, selamat berjuang, dsb.

kaa-sanibu

Sonnanggak, nggak gitu, nggak munggkin

neko-mimi= kuping kucing, biasanya berbentuk bando

Kalau kayak "Ma~, Ja~, sa~ Mou", itu lebih kayak "ngg, mmm, errr, umm", dsb.

Nah, sekian dulu. Sampai jumpa di hapter depan.

Mohon reviewnya ya!

Doumo arigatou gozaimasu…

-A.K-