TASTES LIKE CHOCOLATE
Episode 4
Rating : 18+
Genre : Romance, hurt/comfort
Warning : AU, agak OOC, bahasa yang rada kasar
Disclaimer : YGO dan karakter-karakter yang ada di cerita ini adalah milik Kazuki Takahashi. Saya menculik dan menyeret mereka ke dalam dimensi anehku.
"Kalian! Benar-benar menjijikan!" teriak seorang wanita tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ka…kaa-san?" pekik Shizuka kaget. Jounouchi juga tidak kalah terkejut melihat sosok wanita yang dirindukannya itu tahu-tahu berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan tak percaya. Perlahan-lahan kemarahan mulai terlihat pada raut wajahnya yang tirus itu.
"Apa…apa yang kalian lakukan, hah? Menjijikan! Kalian sudah gila?" teriak Kawai Sayaka, wanita paruh baya itu.
"Kaa-san…itu…aku…" Jounouchi berusaha menjelaskan, tapi ibunya itu segera memotong kalimatnya.
"Kau!" bentak wanita itu. "Jounouchi Katsuya. Kau sama saja bejatnya dengan ayahmu! Bajingan kecil, bedebah!"
"Kaa-san!"
"Jangan panggil aku 'Kaa-san'!" seru wanita itu. "Satu hal lagi. Jangan dekati Shizuka! Aku tidak akan membiarkan kau menemuinya lagi!" ujarnya setengah berteriak.
"Kenapa aku tidak boleh menemui Shizuka lagi? Aku adalah kakaknya! Shizuka itu adikku!"
PLAKK! Sebuah tamparan keras untuk kedua kalinya mendarat di pipi kirinya.
"Kau… bagaimana kau bisa melakukan hal seperti tadi sementara kau sendiri menyadari kalau gadis ini adalah adikmu. Adikmu! Kau telah melakukan dosa besar!" teriak Sayaka marah, sementara di belakang tubuhnya, Shizuka menunduk dan mulai menitikkan air mata.
"Jangan coba-coba kau mendekati putriku! Aku akan melakukan apapun untuk mencegah kalian bersatu!" tukasnya sambil berlalu.
Jounouchi, meskipun kalimat-kalimat yang didengarnya barusan teramat menyakitkan, meskipun dia ingin sekali berteriak marah, namun akhirnya hanya bisa menatap kepergian dua wanita yang dicintainya itu dengan tangan terkepal dan tenggorokan yang tercekat.
"Kenapa aku tidak boleh memanggilmu 'Kaa-san'?" bisiknya. Seketika badannya langsung lemas, lalu terduduk di aspal.
(-A.K-)
"Kaa-san, hanase!" jerit Shizuka kesakitan. Pergelangan tangannya dicengkram begitu erat oleh ibunya. Wanita itu terus menyeret Shizuka tanpa memedulikan apapun. Kakinya melangkah cepat, tak peduli putrinya tersaruk-saruk di belakangnya.
Begitu mereka sampai di apartemen tempat mereka tinggal, Sayaka langsung menyeret putrinya ke kamar mandi, mendorongnya hingga tubuh gadis itu tersungkur di lantai kamar mandi yang dingin.
"Kaa-san…maafkan aku!" mohon Shizuka sambil terisak di kaki ibunya.
"Ternyata… aku memang salah karena telah menuruti keinginanmu kembali ke kota ini. Aku tidak seharusnya menuruti permohonanmu! Kita tidak seharusnya kembali ke Domino! Ya Tuhan, seharusnya aku bisa mencegah hal ini sejak awal!" ujar Sayaka dengan mata basah. Wajahnya memerah karena amarah. Seperti orang yang di ambang kegilaan, dia berbicara dengan dirinya sendiri. Semua kata-katanya lebih merupakan monolog alih-alih berkomunikasi dengan Shizuka.
"Kaa-san…"
"Hatiku benar-benar hancur! Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kenapa?" jerit Sayaka frustasi. Tidak sedikitpun dia mendengar permintaan maaf putrinya meski gadis itu berkali-kali memohon dan memeluk lututnya.
"Tidak. Tidak, maaf saja tidak cukup!" ujarnya lagi. Dilihat bagaimanapun, ciuman yang dia lihat tadi itu bukan tanda kasih kakak pada adiknya! Baginya, sekedar kata maaf saja tidak akan bisa membersihkan putrinya dari dosa. Wanita itu masih terlihat syok. Dengan kasar Sayaka menarik tubuh mungil putrinya itu, menyeretnya masuk ke dalam bathub dan kemudian mulai mengalirkan air dari shower.
"Bersihkan tubuhmu, dan renungkan kesalahanmu!" ujar Sayaka. Wanita berambut coklat pendek itu kemudian pergi, meninggalkan Shizuka yang masih menangis. Tubuhnya yang masih berpakaian lengkap itu basah kuyup dan mulai menggigil kedinginan.
"Nii-chan…" panggil Shizuka dalam sedu sedannya. "Nii-chan…kenapa kau lakukan ini padaku? Nii-chan…"
Shizuka terus menangis di bawah guyuran air shower. Lebih daripada ibunya, gadis berambut coklat panjang itu jauh lebih syok. Dia tidak pernah menyangka kakak yang dia sayangi selama ini menyimpan perasaan lain terhadapnya. Dengan tangan gemetar Shizuka menyentuh bibirnya. Tidak pernah terpikir olehnya Jou akan melakukan hal seperti itu padanya. Shizuka masih ingat dengan jelas wajah kakaknya saat tiba-tiba saja pemuda itu meraih dagunya dan mengecup bibirnya, membuatnya terkesiap dan bahkan lupa untuk bernapas. Ciuman itu. Shizuka masih ingat betapa hangat bibir Jounouchi saat bersentuhan dengan bibirnya. Dan masih terasa hangat hingga sekarang.
"Aarrhh…!" Shizuka menampar wajahnya sendiri dan mulai menjambak rambutnya yang basah.
(-A.K-)
"Jou!" panggil seseorang. Saat itu Jou sedang berjalan kaki menuju apartemennya. Saat dia menoleh ke arah sumber suara, seorang pemuda bertubuh imut melambai ke arahnya. Itu Ryou. Pemuda berambut putih itu mengayuh sepedanya mendekati Jounouchi.
"Eh? Sepedaku!" seru Jou saat Ryou sudah berada dekat dengannya.
"Benar. Yuugi yang memintaku mengantarkannya ke rumahmu. Tidak disangka, kita bertemu di tengah jalan seperti ini," jelas Ryou panjang lebar.
"Aneh, biasanya Yuugi tidak pernah meminta tolong pada orang lain untuk hal seperti ini."
Ryou langsung mengangkat bahu mendengar pertanyaan Jou. "Hari ini Yuugi sepertinya sedang bad mood,"
"Ha? Bad mood? Jangan gunakan istilah aneh begitu! Kau tahu kan, aku alergi Ei-go!"
"Ck, kau tahu lah, seperti… wanita yang sedang datang bulan. Mengerti?"
Kontan Jou tertawa mendengar penuturan Ryou, dan langsung mendapat sebuah tinju di bahunya.
"Eh, bagaimana kencanmu tadi?"
"He? Oh…aku…itu…" Jou menghela napas sebentar. Tiba-tiba dia meraih pundak Ryou dengan kedua tangannya yang kekar dan mencengkramnya. Ditatapnya wajah Ryou dengan ekspresi cemas. "Aku sudah menciumnya! Apa yang harus kulakukan?" tanyanya panik.
"Nan da to? Bukankah itu malah bagus?"
"Aah, mou… Bagaimana kalau dia malah membenciku?" Tanya Jou lagi.
"Kau suka padanya, kan?"
"Tentu saja!"
"Kau mencintainya?"
Jou sedikit terkesiap dengan pertanyaan yang satu itu. Setengan berbisik dia menjawab, "sepertinya aku memang mencintainya."
"Hontou desu ka?"
"Mochiron!"
"Kau tidak berbohong?"
"Tidak mungkin aku berbohong! Aku benar-benar mencintainya, dan aku ingin berada di sampingnya selamanya. Aku ingin dia jadi milikku!" Seperti orang gila, Jou berteriak-teriak penuh keyakinan. Tingkahnya itu membuat Ryou lagi-lagi tertawa. Jounouchi Katsuya yang baru dia kenal selama satu bulan itu ternyata sangat mudah terjebak. Dengan sedikit pancingan, emosinya langsung meledak dan lalu mengeluarkan seluruh isi hatinya!
"Jaa…beritahu dunia bahwa kau mencintainya!"
"Apa?"
"Berteriaklah, katakan kau mencintai gadis itu. Mudah kan? Siapa tahu seluruh isi dunia akan membantumu memohon pada dewa agar kau bisa mendapatkan gadis itu," ujar Ryou sedikit asal. Pada dasarnya dia hanya ingin Jou berhenti memendam perasaannya itu sendirian. Sesekali melampiaskan perasaan dengan berteriak toh tidak ada ruginya.
Jounouchi terdiam. Dilepaskannya kedua tangannya dari pundak Ryou, lalu berjongkok dan memainkan kerikil-kerikil di hadapannya, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Hm…kalau hal kecil begini saja tidak sanggup kau lakukan, mana mungkin kau bisa memperjuangkan cintamu! Ja, aku pulang ya! Bye!" Bermaksud membiarkan Jou berpikir dan merenung sendirian, Ryou memutuskan untuk pergi.
Tinggal Jou sendirian bersama sepeda kesayangannya. Ditatapnya punggung Ryou yang menghilang dengan cepat dari pandangannya. Lagi, Jou menghela napas berat, menggeleng-geleng dengan lemas. Setelah diam mematung cukup lama, akhirnya pemuda itu mulai mengayuh sepedanya, pulang. Masalah yang dia hadapi tidak semudah yang Ryou bayangkan. Bocah itu tidak tahu kalau yang dicintai Jou adalah adiknya. Adik kandungnya sendiri!
Semakin lama, laju sepeda Jou semakin cepat. Bukan karena malam sudah sangat larut, tapi ingatannya pada Shizuka memacunya untuk mengayuh sepeda tuanya itu dengan cepat. Semakin dia memikirkannya, semakin Jou merasa dadanya hendak meledak. Rasa cinta, rasa berdosa, rasa sakit, semuanya membuat kepalanya pusing sampai rasanya nyaris gila!
Dosa ini… rasanya manis, seperti coklat yang meleleh di mulutku, batinnya. Jauh dalam lubuk hatinya, dia ingin sekali menuruti kata-kata Ryou. Biar seluruh dunia tahu bahwa dia mencintai Shizuka. Dia benar-benar tulus mencintai gadis itu dengan segenap jiwa dan raganya!
"Shizuka…Aku mencintaimu,"gumamnya. "Shizuka…Shizuka! AISHITERU! TOTTEMO AISHITERU YO!" Teriak Jounouchi pada akhirnya. Setelah itu dia mengendarai sepedanya dengan alur zig-zag sambil terus berteriak dan tertawa-tawa seperti orang tidak waras. Tidak diperhatikannya bahwa dari arah berlawanan sebuah mobil mewah meluncur dengan cepat.
CKIIITTT… BRAKK!
Tubuh Jou terpental. Sepedanya berguling-guling dan akhirnya mendarat di atas tubuhnya sendiri. Jou berteriak dan meraung kesakitan. Sekitar sepuluh meter dari tempatnya terkapar, terlihat mobil Nissan GT-R menabrak pagar pembatas jalan. Kap depannya sedikit terbuka dan mengepulkan asap putih tebal. Jounouchi mencoba mengangkat tubuhnya. Kepalanya sakit dan dia tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi dia bisa merasakan wajahnya basah dan tercium bau darah segar di dekatnya. Itu adalah darahnya sendiri, mengucur deras dari luka di kepalanya.
Samar-samar Jou mendengar teriakan minta tolong dari arah mobil yang menabraknya. Dengan susah payah Jou mencoba bangkit. Jalanan benar-benar sepi. Tidak terlihat seorang pun menghampiri lokasi kecelakaan. Terhuyung-huyung, dengan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya, Jou menyeret langkahnya mendekati mobil itu.
"Mo..Mokuba?" seru Jou dengan suara lemah. Di dalam mobil terlihat seorang anak berambut hitam duduk di belakang kemudi dengan bermandikan darah. Dia meraung kesakitan, berteriak minta tolong, dan menangis.
"Mokuba!" seru Jou lagi sambil menggedor-gedor kaca jendela mobil. Mokuba menoleh, lalu menangis.
"Jou…tasukete…"
"Buka pintunya!" perintah Jou.
Kaiba termuda itu malah menangis. "Aku tidak mau mati…" isaknya. Sepertinya Mokuba tidak bisa bergerak. Ditambah lagi, anak itu sedang ketakutan. Jou mencoba membuka pintu mobil itu dari luar, tapi tidak bisa. Pintunya terkunci.
DUARR!
Terdengar bunyi ledakan dari mesin mobil. Dalam beberapa detik Jou merunduk menghindari percikan api yang mulai terlihat menyala-nyala di sana. Tambahan lagi, tercium bau bensin dari bawah mobil. Bila Jou tidak segera mengeluarkan Mokuba sebelum api itu mencapai tangki bensin, bocah itu pasti terpanggang hidup-hidup di dalam mobil mewahnya! Tidak mampu berpikir lebih jauh, Jou menggunakan sikutnya untuk memecahkan kaca. Dengan tiga kali hantaman, akhirnya kaca itu pecah, lalu Jou segera menyingkirkan sisa-sisanya yang masih menempel pada keranngka pintu. Dengan sisa tenaga yang dia punya, dia mencoba menarik tubuh Mokuba, mengeluarkannya melalui jendela mobil.
"Aaakkhhh… sakiittt!" jerit Mokuba saat tubuhnya ditarik. Jou bisa melihat bagian bawah tubuhnya tampak terluka parah.
"Sebagai laki-laki, kau harus menahannya meskipun kakimu harus putus, baka yarou!" teriak Jou. Dalam satu tarikan kuat, akhirnya dia bisa mengeluarkan Mokuba, memapahnya menjauh dari mobil.
Detik berikutnya, sebuah ledakan terjadi, menciptakan bola api besar serta asap tebal. Jou dan Mokuba yang kelelahan sekaligus kesakitan terbaring di aspal dengan napas terengah-engah.
"Oiy, Mokuba!" panggil Jou saat adik dari musuh bebuyutannya itu tahu-tahu sudah menutup mata. Berkali-kali ditepuknya pipi bocah itu, namun Mokuba tidak kunjung sadar. Justru Jou yang kini mulai kehilangan kesadarannya.
"Apakah….aku…akan mati?" tanyanya dalam hati. Semuanya menjadi gelap sesaat setelah dia mendengar suara sirine menjerit-jerit entah dari mana asalnya.
TBC.
A/N : Ahahahahaha…lama tak bikin fanfic. Akhirnya bisa up date juga! Thx buat teman saya yang bersedia membiarkan netbook-nya dijamah nyaris tiap malam. (Neng Ndah, aku padamuuuu!) Kekekekekekeke.
Terima kasih banyak untuk Blackmagicseal dan The Fallen Kuriboh yang udah nge-fave. Makasih juga buat Erune dan Saint Chimaira meng-alert (Tapi kayanya Saint Chimaira sudah tak ingat pada fic ini).
Yang baca "Crimson Droplets" mungkin udah tahu, tapi saya sampaikan di sini bahwa kondisi saya sekarang lagi kurang kondusif buat balas review. Tenang aja, dalam waktu dekat saya balas semua kok. Saya mohon maaf buat semua yang udah review di chapter sebelumnya.
Doumo arigatou gozaimashita…
