CRIMSON DROPLETS
Chapter 2 : Closed Eyes
Rate : M (seseorang memberitahuku bahwa ratingnya harus dinaikkan. :P)
Genre : Mistery, Tragedy
Disclaimer : Yu Gi Oh! ©Kazuki Takahashi
Vampire concepts are based on Supernatural ©Eric Kripke and Warner Bros.
Warning : OOC maybe, no slash (hints bertebaran di sana sini)
"Kaiba, ada vampir yang berkeliaran di kota Domino," ujar Yami, menghentikan dugaan-dugaan aneh yang mulai berseliweran di kepala Kaiba. Penguasa dunia game di seantero Jepang itu mendengus dan memperlihatkan senyum mengejek.
"Jangan konyol!" timpalnya. Ditatapnya kedua bola mata semerah darah itu, dan sejurus kemudian dia tertawa. "Kalaupun benar ada vampir di Domino, kaulah orangnya!" Setelah berkata begitu, pria dengan tinggi menjulang itu beranjak pergi, melangkah dengan angkuh ke arah pintu. Tidak lama kemudian, tepat di ambang pintu masuk, Kaiba menghentikan langkahnya lalu berbalik dan berkata, "Aku mau pulang." Lalu dia keluar.
Bahu Yami terlihat sedikit naik dan kemudian turun kembali bersamaan dengan napas yang dihelanya. Kalimat yang dia katakan tadi memang sulit dipercaya. Tidak heran bila Kaiba justru tertawa. Semua ini memang terdengar agak konyol. Tapi… kematian yang disaksikan Yami bukanlah suatu lelucon!
'Yuugi…sepertinya akan terjadi sesuatu di sini. Aku harus bagaimana? Kaiba tidak mau memercayaiku!' batin Yami cemas sekaligus kesal. Membuat Kaiba memercayai sesuatu yang menurutnya tidak ilmiah adalah hal yang sejuta kali lebih sulit daripada membujuk Yuugi minum susu.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk Yami mulai melangkahkan kakinya dan menghampiri Jounouchi. Pemuda berambut keemasan itu tengah merangkul ibu Anzu, mengusap punggungnya agar wanita itu tenang. Ayah Anzu berdiri dekat peti mati dan menyambut kerabatnya yang mulai berdatangan. Sebagian besar dari mereka menunjukkan wajah simpati. Beberapa pengunjung wanita terlihat mulai terisak. Yami tidak tahu mereka benar-benar berempati atau sekedar berakting. Suasana di rumah itu mulai diselimuti suasana suram, membuat Yami benar-benar merasa tidak nyaman.
"Jou," panggilnya. Tapi pemuda itu tidak menjawab, menoleh pun tidak. Matanya menatap kosong ke arah peti mati tempat ia meletakkan jenazah Anzu tadi, sementara tangannya masih terus bergerak naik turun di punggung ibu Anzu, seperti robot.
"Jou, ayo kita pulang!"
Jounouchi tetap bergeming.
"Hei, Jou!" Yami akhirnya terpaksa menarik lengan Jou untuk menarik perhatiannya. Ternyata berhasil. Gerakan tangan kiri Jou terhenti, lalu diapun menoleh dan menatap Yami dengan ekspresi yang tidak bisa Yami artikan. Tapi paling tidak Jou tidak memberikan perlawanan pada Yami. Itu saja sudah cukup membuat Yami sedikit lega.
"Oba-san, aku pulang dulu," pamit Jou. Wanita itu berangsur melepaskan Jounouchi dari pelukannya dan mengangguk lemah.
Tanpa berkata-kata lagi Jounouchi melangkah pergi bersama Yami. Begitu keduanya keluar dari rumah Anzu, sebuah mobil mewah berwarna putih terlihat menunggu mereka.
(-A.K-)
Kaiba duduk di belakang kemudi, Yami duduk di passenger seat di sebelahnya, sedangkan Jounouchi duduk kursi di belakang sambil menatap ke luar. Sepanjang jalan mereka tidak saling berbicara. Berkali-kali Yami menoleh ke belakang, ke arah Jounouchi. Tapi pemuda berambut aneh itu tidak juga bersuara, padahal Yami ingin membicarakan sesuatu dengan sahabatnya itu. Yami ingin sekali Jou tahu pendapatnya soal kematian Anzu. Dan soal vampir itu. Hah, bahkan kata itu terdengar menggelikan di telinga Yami sendiri. Tapi itu adalah sebuah kenyataan. Jou, juga Kaiba, harus tahu tentang ini. Hanya saja… Yami belum tahu cara paling tepat untuk meyakinkan mereka. Otaknya sendiri pun tengah kacau.
Keheningan yang menyelimuti ketiga orang dalam mobil itu tidak berkurang bahkan ketika Kaiba telah sampai di depan sebuah game shop yang merupakan rumah Yami. Kaiba lalu menghentikan mobilnya.
"Terima kasih, Kaiba," ucap Yami seraya melepas seatbelt-nya dan membuka pintu.
"Tunggu Yami!" panggil Jounouchi tiba-tiba. "Yuugi…"
"Yuugi… dia masih berlibur di Mesir. A... aku akan memberitahunya saat dia pulang nanti. Aku tidak mau dia sedih," ujar Yami. Pada saat dia berbicara, Kaiba sedikit menangkap raut aneh di wajahnya. Seperti ada yang tengah dia tutupi dari Jounouchi dan Kaiba.
"Kenapa kau tidak berlibur bersamanya?" Tanya Kaiba curiga. Dan tepat seperti dugaannya, Yami lagi-lagi terlihat gugup seperti sedang berbohong.
Setelah berkata, "Aku harus menjaga Jii-chan yang sudah tua," Yami lalu pamit dan pergi.
Begitu mobil Kaiba menghilang di balik tikungan, barulah Yami membalikkan badan dan menatap pintu depan rumah milik kakeknya itu. Meski ragu, meski takut, Yami tetap melangkah masuk.
Ucapan selamat datang yang sedikit parau terdengar begitu pintu depan dibuka. Jii-chan terlihat tengah merapikan beberapa tumpuk kartu duel monster jualannya.
"Oh, Yami. Kau sudah pulang?" sapanya lembut. Sedikit mengherankan melihat orang tua itu tetap bisa terlihat ceria setelah semua yang terjadi pada keluarga ini.
"Hm, tadaima." Yami lalu mulai meniti tangga menuju kamarnya.
"Mau kumasakkan sesuatu?" teriak Jii-chan dari bawah.
"Tidak usah, terima kasih."
Titian itu berujung pada sebuah pintu. Pintu kamarnya dan Yuugi. Yami kini berdiri di depan pintu itu dan menatapnya ragu. Diputarnya knop pintu dan dibukanya perlahan. Kamar itu terlihat gelap meski malam belum benar-benar turun. Yami kemudian masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu.
"Yami, kau sudah pulang?" Tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakangnya. Terkejut, Yami langsung berbalik dan mendapati sesosok pemuda dengan rambut mencuat sedang duduk di atas tempat tidur Yuugi. Wajahnya tidak tampak jelas, tapi Yami tahu pasti siapa pemilik suara itu.
"Yu… Yuugi?"
"Yami, leherku sakit…" Sosok itu mulai turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah Yami yang mulai berkeringat dingin.
"Yuugi? Kaukah itu?" Tanya Yami panik. Tangannya dengan cepat meraba-raba dinding di belakangnya.
"Yami…"
Klik!
Tiba-tiba lampu menyala dan kamar menjadi terang benderang setelah Yami berhasil menemukan saklar lampu dan menekannya. Tidak ada siapa pun di ruangan itu selain Yami sendiri. Tubuh pemuda yang penuh peluh itu pun seketika kehilangan seluruh energinya dan kemudian merosot ke lantai. Napasnya tersengal dan dadanya berdebar-debar kencang seperti mau meledak. Setetes demi setetes air matanya meluncur jatuh melewati pipi dan menitik di lututnya. Yami menangis dalam diam.
(-A.K-)
"Cih, kono yarou!" umpat Kaiba pelan. Posisinya yang tengah mengemudi sementara Jounouchi duduk di kursi belakang membuatnya jadi terlihat seperti seorang sopir pribadi Jou. Hal itu benar-benar membuat Kaiba kesal! Andai dia tidak ingat bocah pirang super bodoh itu baru saja kehilangan sahabatnya, Kaiba pasti sudah menendangnya keluar sejak tadi. Ah, tidak. Seharusnya sejak awal Kaiba tidak membiarkan Yami membawanya masuk ke mobil!
Jounouchi sendiri sebetulnya tahu Kaiba sejak tadi memperhatikannya lewat kaca spion. Tapi dia juga tidak lantas membuka pembicaraan. Seperti biasa, Kaiba pasti enggan campur tangan dalam masalah yang tidak penting baginya. Jou sangat hapal sifatnya yang satu itu. Sejak awal Anzu tidak berarti apa-apa bagi Kaiba, hanya makhluk yang ikut memadati dunia. Seperti juga Jou. Tak apa, toh pada saat itu Jounouchi sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Dia tidak memiliki tenaga untuk itu.
Bangunan-bangunan di pinggir jalan yang tadinya terlihat berlari-lari mendadak tidak bergerak. Ternyata Kaiba menepikan mobilnya. Di seberang jalan, Jou melihat gedung apartemennya yang kumuh. Tanpa mengucapkan terima kasih, Jou langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar.
Ada sesuatu yang menahan Kaiba untuk tidak segera beranjak dari tempat itu sebelum melihat Jou masuk ke gedung apartemennya. Ada perasaan tak tenang yang muncul entah dari mana dan tak tahu kenapa. Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, tiga orang pria berjaket hitam menghadangnya di depan pintu. Mereka tampak mengatakan sesuatu, sementara Jou tidak merespon. Sebuah pukulan telak mengenai pipi kiri Jou, membuat pemuda itu terhuyung. Dua orang yang lain kemudian memegangi tangan Jou sementara yang satunya menghajar bocah itu habis-habisan.
Kaiba terus memperhatikan keributan itu dari mobilnya. Lama. Tapi Jounouchi tak kunjung melakukan perlawanan. Padahal Kaiba tahu dengan pasti, Jounouchi adalah mantan preman yang sangat gemar berkelahi. Begundal-begundal berbadan besar seperti mereka pun seharusnya bukan masalah baginya. Seingat Kaiba, Jou adalah manusia yang tidak suka dikalahkan oleh siapapun. Tapi Jounouchi yang ada di depan matanya itu seperti bukan Jounouchi yang dia kenal selama ini. Pemuda yang sedang dipukuli itu lebih terlihat seperti pecundang tak berdaya yang pasrah pada keadaan.
"Dasar bodoh! Kalau begitu terus dia bisa mati!" omel Kaiba. Dengan kesal dia turun dari mobilnya dan berlari ke arah mereka. Tanpa banyak bicara, Kaiba menghajar ketiga orang itu dan segera menarik paksa Jounouchi, membawanya lari. Dengan kecepatan tinggi Kaiba membawa kabur Jou dengan mobilnya.
"Aarggh…kenapa aku bisa melakukan hal bodoh seperti ini?" gerutu Kaiba. Sementara yang diomeli masih saja diam termangu, seakan terjebak dalam dunianya sendiri. Tidak ada yang bisa Kaiba lalukan lagi selain terus menggerutu tanpa pelampiasan.
Begitu mereka sampai di rumah Kaiba, sang CEO langsung membawa masuk Jounouchi ke dalam bangunan megah itu. Jounouchi sendiri tidak melakukan penolakan apalagi perlawanan. Dia hanya diam dan mengikuti ke mana pun Kaiba membawanya, serta apapun yang Kaiba lakukan padanya. Termasuk saat Kaiba menyeret tubuhnya seperti sebuah patung dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar di lantai dua.
Kamar itu cukup luas, setidaknya bagi Jounouchi. Sebuah tempat tidur empuk dengan selimut tebal terletak di tengah ruangan sementara sebuah meja kecil berbentuk peti tua terbuat dari kulit terletak di samping jendela besar di belakang tempat tidur, bersisian dengan sebuah pohon sakura setinggi dua meter yang tumbuh di sebuah pot besar.
Berkali-kali Kaiba menghela napas melihat Jounouchi masih diam mematung tak jauh dari pintu. "Benar-benar merepotkan, si bodoh ini!" omelnya. "Dan aku juga bodoh karena melakukan hal bodoh begini!" umpat Kaiba kemudian. Dengan langkah kaki menghentak-hentak dia menghampiri sebuah lemari besar yang menutupi dinding sebelah kiri, membuka salah satunya namun segera menutupnya kembali karena apa yang dia cari tidak ia temukan di sana.
"Isono!" panggilnya dengan suara keras. Tak lama, seorang pria dengan setelan jas lengkap masuk ke dalam ruangan dan membungkuk hormat pada Kaiba.
"Urusi anjing kampung itu!" Perintah Kaiba sambil melengos pergi. Isono, pria necis berkumis itu, lagi-lagi hanya mengangguk patuh. Setelah tuannya pergi, Isono lantas membukakan sebuah pintu yang terdapat di ruangan itu.
"Ini kamar mandinya, Tuan. Saya akan membawakan handuk dan…"
"Pergi!" bentak Jou tiba-tiba.
"Maaf?"
"Kubilang pergi! Apa kau tidak dengar, hah? PERGI!"
"Maaf, Tuan…"
"Jangan kasihani aku! Jangan urusi aku! Pergi ke neraka sana!" Dengan amat marah Jounouchi mencengkram krah kemeja Isono, menyeretnya keluar, lalu membanting pintu dan mengurung dirinya di kamar.
"AAARRGGHHH…!" dengan segala sisa kekuatan yang dia punya, Jounouchi berteriak, kemudian menarik selimut serta seprai di atas tempat tidur dan melemparnya ke sudut ruangan. Diangkatnya meja di samping jendela dan membantingnya hingga hancur di beberapa bagian. Lalu dia berhenti, tubuhnya tersungkur di lantai dengan bermandikan peluh. Napasnya tersengal. Bahunya terlihat naik-turun tak beraturan. Sesekali ia terbatuk dan merasakan perih di tenggorokannya.
"Ini tidak benar," bisiknya serak. "Aku tidak seharusnya ada di sini. Aku seharusnya bertemu dengan Yami, bersama dengan Anzu. Ini… benar-benar sesuatu yang salah. Kematian Anzu itu sesuatu yang salah! Aku pasti bermimpi!" Jounouchi terus berguman, berdialog dengan dirinya sendiri. Dia terus memproduksi kata-kata dari mulutnya demi menyangkal apa yang telah terjadi pada Anzu.
Sementara itu, di luar kamar, Kaiba yang baru saja diberitahu apa yang telah terjadi di kamar itu berdiri di depan pintu dengan tegang. Tapi setelah suara berisik dan teriakan dari dalam kamar sudah tidak terdengar, akhirnya Kaiba bisa sedikit bernapas lega.
"Biarkan dia sendirian," kata Kaiba menginstruksi Isono dan beberapa pelayan lain. Orang-orang kepercayaan Kaiba itu pun pergi, kembali mengerjakan tugas rutin mereka.
"Nii-sama, tadaima~!" seru seseorang dengan ceria. Mokuba, adik semata wayang Kaiba muncul di puncak tangga dengan senyum merekah.
"Percuma saja kau pasang wajah manis begitu. Mokkie, kau tetap dihukum karena pulang larut malam!"
"Ah, mou…Nii-sama…"
"Peraturannya sudah jelas, bukan?"
"Aku kan hanya mengerjakan tugas sekolah. Eh, apa Nii-sama tahu tentang kembalinya Jack The Ripper?"
"Huh?"
"Koran-koran di Amerika dan Inggris sedang heboh memberitakan tentang pembunuhan berantai di mana semua korbannya mati dipenggal sampai kepalanya putus!" jelas Mokuba sambil menggerakkan tangannya secara horizontal di depan lehernya.
"Pergi mandi, lalu makan!" perintah Kaiba. Nama Jack The Ripper sama sekali tidak menarik baginya, bahkan terdengar konyol. Sama konyolnya dengan vampir yang siang tadi disebut-sebut Yami.
"Oh iya, bantu Isono mengurus anjing kampung temanmu itu. Aku tidak mau sampai ada orang penyakitan di rumahku!" ujar Kaiba lagi.
"Anjing… kampung? Ah, maksudnya Jounouchi? Dia ada di sini?"
"Benar. Temannya baru saja meninggal, jadi mungkin dia akan sedikit sulit dikendalikan."
"A… apa? Temannya meninggal? Siapa?" Mokuba terlihat kaget. Sebagian besar teman Jounouchi adalah temannya juga. Sedikit tidak percaya, Mokuba menunggu jawaban dari Kakaknya dengan perasaan tidak menentu.
"Mazaki Anzu. Kau kenal dia juga, kan?"
Kalimat singkat sang kakak itu sanggup membungkam mulut Mokuba rapat-rapat. Otaknya mulai berputar lebih cepat untuk mengingat, menduga, dan segala macamnya.
Di dalam kamar, selama berjam-jam Jounouchi duduk diam di atas permadani tebal yang hangat. Jou tidak berminat menyalakan lampu di kamar itu. Bersandar pada tepi tempat tidur, Jou melipat lututnya dan membiarkan lengannya terkulai.
"Anzu…" bisiknya. Jou masih bisa merasakan dinginnya tubuh Anzu saat dia menggendongnya siang tadi. Dia masih bisa merasakan keringnya kulit gadis itu, seperti kehabisan darah dalam jumlah yang ekstrim. Namun wajahnya yang pucat terlihat tenang. Saat Jou dan ibu Anzu menemukannya terbaring di atas ranjangnya sendiri pagi tadi, Anzu benar-benar terlihat seperti sedang tidur. Tiba-tiba rasa sesak di dada Jounouchi yang seharian ini dia tahan, tiba-tiba saja meledak. Bahunya mulai berguncang bersamaan jatuhnya tetesan air matanya. Jou menangis. Sendirian.
Sebetulnya Jounouchi bukanlah orang yang tak pernah merasa kehilangan. Rasa sedih akibat ditinggalkan Ibu kandungnya, dan pedih yang dirasakannya karena harus hidup terpisah dari adik tercintanya, sudah cukup menjadi pelajaran mengenai betapa sakitnya kehilangan seseorang. Tapi, toh pada akhirnya Jou tetap bertahan, karena dia yakin suatu saat keluarganya bisa bersatu lagi. Atau paling tidak, kemungkinan untuk bersama dengan Shizuka, adiknya, masih ada. Namun, ternyata rasa sakit karena ditinggal mati itu berkali-kali lipat lebih pedih. Karena Anzu pergi untuk selamanya. Dan Jounouchi tidak tahu selama apa "selamanya" itu. Dan karena "selamanya" dalam hal ini berarti tak akan pernah bertemu lagi. Selain itu, yang lebih menyakitkan, Jounouchi merasa memiliki andil dalam penyebab kematian sahabatnya itu.
"Aku akan menemukannya… aku akan menyelesaikannya, Anzu!" gumam Jou penuh tekad. Duduk sambil memeluk lutut, Jou kian tenggelam dalam pedih peri dan kemarahan.
"Dia. Pasti Dia! Bakura keparat! Kau harus membalas kematian Anzu! Bedebah kau, Bakura!" Seperti mesin rusak, Jounouchi menangis, memaki, menangis lagi, memaki lagi, begitu terus tanpa henti.
Di balik pintu kamar itu, Kaiba berdiri diam, menempelkan dahinya pada daun pintu sambil memegang handle. Dia mendengar tangisan Jou. Tapi merasa lebih baik membiarkannya begitu.
"Ah, lagipula kenapa aku jadi peduli, sih?" Tanya Kaiba pada dirinya sendiri. Sadar akan kebodohannya, ditumbukkannya kepalanya ke pintu. Kaiba benar-benar merasa tidak suka melihat Jounouchi seperti itu. Rasanya aneh. Dan membuatnya tak nyaman.
(-A.K-)
"Haah…lagi-lagi mesin penjawab telepon!" gumam seorang pemuda, mendumal. Dia baru saja keluar dari stasiun Domino. Tangan kirinya menyeret travel bag, sementara tangan kanannya sibuk menempelkan ponsel ke telinganya.
"Aku sudah sampai di kota Domino yang kau ceritakan itu. Well, seperti yang kau bilang di telepon, kota ini terlihat menyenangkan! Nah, di mana aku bisa mendapatkan makan malamku, a sexy and yummy food, brother?"
Pemuda itu terus mengoceh meski tahu ucapannya tidak akan direspon. Musim dingin sebentar lagi datang. Anginnya yang dingin memainkan rambut putih si pemuda itu dengan nakal.
"Ah, aku menemukan makan malamku!" pekiknya setengah berbisik. Setelah menutup telepon, dia kemudian berjalan mendekati seorang gadis cantik berpakaian seksi dan menyapanya dengan ramah.
TBC.
Ah, yatta ne…akhirnya bisa di up date juga! Haaahh…padahal konsepnya udah dibikin dari tahun lalu, bahkan udah nyampe ending. Tapi apa daya, rintangan selalu datang menghadang silih berganti.. *lebaydotcom*
Nah, di sini mulai dimunculkan nama yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Jadi ga terlalu penasaran kaaan? Semoga nantinya saya masih bisa membuat kejutan.
Saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah mereview chapter 1, dan Un-sane Bloody Eater yang memasukan fanfic abal ini ke dalam list favorite-nya. Doumo arigatou gozaimashita ne...
Terus, terima kasih buat yang sudah komen di chapter sebelumnya. Sekarang ini saya sedang dalam kondisi yang nggak memungkinkan buat balas review, tapi jangan kuatir! Saya usahakan untuk membalas semuanya dalam waktu dekat ini.
Nah, untuk chapter 2 ini, mohon reviewnya ya, minna-san! Onegaishimasu...
