Maafkan Hika yang kembali ingkar janji...T_T *dicekik*

Padahal emang udah ngerencanain bakal update hari Jum'at, tapi karena besok ada latian buat ngeramein J-fest jadi terpaksa deh di update hari ini, Y.Y

Sekali lagi maaf yah..."

~OoO~

I and Their

by

HIKARU FUJIWARA

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Inspiration

By

"You're Beautifull"

Chapter 05

~OoO~

"Apa yang kau lakukan disini?", Sasori bertanya dengan nada sarkastik, "kupikir kau tidak akan pernah lagi menginjakan kaki disini setelah kau puas membuat Sakura menderita!"

Laki-laki yang diketahui bernama Gaara itu hanya menyeringai. "Dimana dia?"

"Aku tidak berkewajiban memberitahukannya padamu".

"Oh, begitukah? Hn, memang seharusnya ia tidak berada disini lagi…", Gaara berbalik, "mana ada seorang penyanyi tinggal dirumah kecil seperti ini?".

Mata Sasori melebar.

"Aku sangat berharap bisa bertemu dengannya ditempat tujuanku berikutnya", ia mulai berjalan lurus menuju mobilnya, "asrama S-boys".

Sasori yang emosi berlari kearah laki-laki bermata emerald itu, "apa yang sebenarnya kau inginkan, Gaara?", teriaknya.

"Yang kuinginkan, hm? Aku hanya ingin membawanya kembali menjadi kekasihku!", jawab Gaara sambil membanting pintu mobil dan segera melaju dengan kecepatan penuh.

"Sial!", umpat Sasori.

~OoO~

"Sasuke-kun, bolehkah aku bertanya satu hal?"

"Hn", Sasuke menjawab dengan nada malas, berusaha mengalihkan seluruh perhatian pada layar laptop didepannya.

"Kau suka makan tomat?", tanya Sakura lagi.

"Hn"

"Oh, kenapa kau menyukainya?"

"Entahlah"

Sakura manyun, ia merasa sangat bosan jika harus berdialog dengan Uchiha yang satu ini, bagaimana tidak? Selain hemat bicara, Sasuke juga seolah tidak menghiraukannya.

'Bagaimana bisa aku akrab dengannya jika selalu saja seperti ini?'

"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bahas, lebih baik kau keluar saja!", ujar Sasuke sambil menunjuk pintu kamarnya.

"Ti-dak! Sai dan Naruto ada keperluan penting di kantor S-boys, aku kesepian jika mereka tidak ada!"

"Dan?"

"Aku ingin tetap disini sampai mereka kembali!", Sakura mengangkat sebuah kursi, kemudian ia letakkan tepat disamping Sasuke.

Sasuke menghembuskan nafas pelan, "terserah".

Sakura tersenyum puas, "terima kasih...", lalu ia ikut menatap layar laptop milik pria disebelahnya, "ngomong-ngomong kau sedang apa, Sasuke-kun?...-Ehm? Itu fotomu? Kau tampan saat memakai tuxedo itu". Ia mengarahkan jari telunjuknya dilayar laptop yang tengah menampilkan koleksi foto-foto dari facebook 'Uchiha Sasuke'.

"Berisik!"

Gadis itu kembali diam.

Setelah beberapa menit...

"Sasuke-kun, aku mau pipis".

"Jangan bilang kau menyuruhku untuk ikut!", laki-laki itu melirik Sakura dengan deathglare andalannya.

"Tapi...aku takut". Sakura mulai memegangi bagian 'bawah'nya.

"Hn~...tidak mau!"

"Ayolah, aku sudah tidak tahan lagi...!", gadis berambut pink itu mempererat genggamannya.

"Kalau begitu gunakan saja toiletku!"

"Eh, bolehkah? Kupikir kau tidak akan mengijinkannya. Ini! Aku titip handphone-ku yaah!". Sakura meletakkan handphone-nya disebelah laptop, dan berlari secepat kilat kearah toilet yang berada didalam kamar Sasuke.

"Hn, menyusahkan saja!", dan ia kembali memainkan mouse mungilnya dengan tenang.

"You must have been sent from heaven to earth to change me…

You're like an angel…"

Handphone Sakura berbunyi, pertanda adanya sebuah panggilan dari seseorang.

"The thing that I feel is stronger than love believe me…"

Sasuke menyerah, ia sudah tidak kuat dengan suara ring tone-nya yang sangat berisik. Dengan suasana hati yang masih 'gak ikhlas' Sasuke menekan tombol 'answer', dan…

"Sakura! Pastikan kau tidak berada di asrama untuk seharian ini", terdengar suara serak seorang laki-laki dari seberang sana. Siapa pun orang itu, bisa didengar dari suaranya ia begitu khawatir dengan Sakura.

Sasuke langsung mengurungkan niatnya untuk berkata: 'Sakura sedang pipis, tunggulah sampai ia keluar dari toiletku!'.

"Hn, aku bukan Sakura! Kau sedang bicara dengan Uchiha Sasuke!"

"Oh, Sasuke-san! Kebetulan sekali, tolonglah...bawa Sakura ketempat mana pun yang kau suka!"

"Ini siapa?"

"Aku Sasori, kakak kandung Sakura. Kudengar darinya, di asrama cuma kau orang yang tahu identitasnya, bukan?"

"Hn"

Sasori bercerita panjang lebar tentang sosok Gaara. Mantan kekasih Sakura yang merupakan seorang playboy kelas kakap dan selalu tak pernah absen dalam pesta ria ditempat hiburan malam. Sasori juga mengatakan bahwa orang itu telah menuju ke asrama S-boys ini, itulah maksudnya supaya Sasuke segera membawa gadis pinky itu pergi secepatnya.

Dengan singkat kata, Sasori mencegah agar Sakura tidak bertemu dengan Gaara.

"Hn, aku mengerti". Sasuke manggut-manggut.

"Terima kasih, Sasuke-san! Aku menitipkan Sakura padamu, tolong jaga dan lindungi dia...!", Sasori merendahkan suaranya, nada khawatir itu sedikit berkurang.

'Menjaganya? Kau pikir aku ini seorang baby sitter-nya apa?' gumam Sasuke dalam hati.

"Hallo? Sasuke-san? Kau masih disana?"

"Hn, ya. Serahkan semuanya padaku!"

~OoO~

"Hmmmm…leganya…!", teriak Sakura kala ia keluar dari toilet.

"Sakura..."

"Hm?"

Sasuke mendekati Sakura yang masih berdiri dipintu masuk toilet.

"Kau kenapa?", gadis itu bingung.

Tiba-tiba Sasuke menarik lengannya dan menyeret hingga sampai keluar asrama.

"Kau mau menculikku?", Sakura berteriak.

"Tidak!", jawab Sasuke datar.

"Lalu?"

"Berhenti bicara dan ikut saja denganku!", ia melempar tubuh Sakura masuk kedalam mobil berwarna biru yang terparkir di halaman depan.

Bbreeeaaammmmm...

Sasuke menyetir mobilnya dengan sangat –amat- cepat.

"Nnggg...hati-hati, Sasuke-kun! Kau hampir saja membunuh penjual ice cream yang menyeberang tadi. Ingatlah, kau itu seorang Leader dari boyband S-boys yang terkenal. Apa jadinya kalau semua orang tahu kau dituntut hanya karena menabrak seorang penjual ice cream? Kau tidak memikirkan hal itu, hm?", komentar Sakura dengan wajah khawatir.

Sasuke sama sekali tidak menghiraukan perkataan Sakura.

Beberapa menit kemudian, laki-laki pemilik bola mata onyx itu menghentikan mobilnya didepan sebuah butik.

'Oh, Tuhan...aku tidak percaya aku masih hidup!' ucap Sakura dalam hati.

"Tetap disini! Jangan kemana-kemana!", perintah Sasuke sambil membuka sabuk pengamannya.

Sakura mengangguk pasrah. Ia masih terlalu lelah untuk membuka mulutnya, maklum saja...diperjalanan yang cukup ekstrim tadi dia sudah beberapa kali berteriak, menjerit, bahkan hampir saja menangis.

Ia berpikir Sasuke lebih pantas bekerja sebagai pembalap daripada sebagai seorang penyanyi.

Dduukkkk!

Terdengar suara mobil yang baru saja dibanting.

~OoO~

Tak lama Sasuke kembali dengan membawa sebuah bingkisan.

"Pakai ini!", perintahnya lagi sambil melempar bingkisan itu kearah Sakura.

"Huph!", Sakura menangkapnya dengan sukses, "apa ini?"

"Aku akan keluar dari mobil, cepat ganti pakaianmu dengan itu! Dan jangan lupa, lepas wig-mu!".

"Ta...tapi, Sas-", belum sempat Sakura menghabiskan kalimatnya, sosok dingin itu sudah menghilang disebelahnya.

10 menit kemudian...

.

.

.

.

.

Sasuke melihat arah jam dari tangannya, "hn".

15 menit kemudian...

.

.

.

.

.

Sasuke kembali melirik jam tangannya, "dia itu sedang ganti baju atau apa?"

30 menit kemudian...

.

.

.

.

.

Sasuke sudah terkantuk-kantuk. Untuk kesekian kalinya ia melirik jam tangannya, namun kali ini dengan mata yang hampir memerah. "Ini tidak bisa dibiarkan!", ia langsung berjalan menuju pintu mobil.

"Lagi-lagi kau membuang waktuku yang berharga, pinky!", bentak Sasuke dari luar jendela mobil.

Sakura membuka pintu mobil, "maafkan aku! Aku hanya...eehhmmm, bisakah kau menarik resleting bajunya yang ada dibelakangku? Aku kesulitan karena ini pertama kalinya aku memakai baju aneh seperti ini". Kata Sakura sambil memperhatikan simple dress yang telah terpasang ditubuhnya.

"Baju aneh katamu? Kalau tak suka lepaskan saja!"

"Baik, itupun jika kau mau menungguku lagi".

Sasuke diam. Yah, ada benarnya juga perkataan gadis itu. Daripada Sakura harus membuang waktunya lagi hanya untuk mengganti baju, lebih baik kali ini ia mengalah.

"Huh, menyusahkan saja!", gerutunya.

Sakura menggantikan posisi duduknya menjadi membelakangi Sasuke. "Bisa, kan?"

"Hn". Sasuke mulai membersihkan punggung Sakura yang dipenuhi rambut pink-nya yang panjang terurai. Dan...wow, terlihatlah punggung indah yang nyaris tak ada lecet sedikit pun disana(?).

Glek! Sasuke hanya mampu meneguk liur.

'Ya, ampun...dia benar-benar seorang perempuan'

"Nngg, Sasuke-kun? Apa yang kau lakukan? Cepat tarik resleting-nya!", Sakura menengok sedikit kearah Sasuke dibelakangnya.

"Hn"

Kkrrreeettt!

"Memangnya kau ingin membawaku kemana? Bagaimana kalau ada wartawan melihatmu sedang bersamaku?", wajah Sakura berubah menjadi cemas.

"Tenanglah! Aku bisa atasi itu". Jawab Sasuke sambil memasang kunci mobilnya. "Kau sudah makan?"

Sakura menggeleng.

"Ok, tujuan pertama kita adalah...restaurant!".

Brreeeemmmm...

~OoO~

Sementara itu...

Tap tap tap!

Gaara dengan gaya cool-nya berjalan menuju pintu utama asrama S-boys. Wajah dinginnya tidak berhenti menampakan senyum kemenangan, padahal ia tidak menyadari sama sekali bahwa objeknya untuk datang ke asrama itu sudah menghilang.

"Satu langkah lagi, aku akan mendapatkanmu kembali, Sakura!", seringai itu kembali nampak.

Tok! Tok! Tok! Gaara mengetuk pintu dengan kasar.

Sekitar lima belas menit berlalu, tidak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Gaara yang mulai merasa dipermainkan langsung menendang-nendang pintu.

"Sakura! Aku tahu kau ada disini! Cepat buka pintunya! Kalau tidak, aku yang akan menyeretmu keluar!"

"Hey, bung! Apa yang lakukan dengan pintu itu?"

Sebuah suara sontak membuat si pria bermata emerald itu membalikkan tubuhnya. Terlihatlah tiga sosok laki-laki dibelakangnya.

"Siapa kau?", salah satu dari tiga laki-laki itu mendekati Gaara, "maling yah?"

"Tidak! Aku datang untuk menemui Sakura!", jawab Gaara tanpa ada rasa gugup sedikit pun.

"Hah? Sakura? Buahahahahahahaha!," sahut pria berambut pirang sambil mengeluarkan lollipop dari mulutnya. "Kau bercanda? Disini tidak ada yang namanya Sakura, yah kecuali yang kau maksud adalah sakura yang disana...", tambahnya lagi dengan mengarahkan jari telunjuk kearah sebuah pohon sakura di halaman depan.

"Tentu saja kalian tidak mengenal Sakura. Karena kalian lebih mengenalnya dengan nama 'Ichikawa Sakito', iya kan?", kata Gaara enteng.

Tiga laki-laki yang ternyata adalah Sai, Naruto dan Itachi itu seketika melebarkan matanya.

"Apa katamu?", tanya Naruto tak percaya, permen lollipop yang ia pegang pun terlepas dari genggamannya.

Itachi merasa ini adalah bagiannya, "nngggg, jangan percaya dengannya! Dia orang gila!", bisik Itachi pada anak buahnya.

"Sebaiknya kau pergi, orang gila!", bentak Naruto.

Itachi dan Sai menatap tajam pada Gaara.

"Cih, beraninya kau menyebutku seperti itu!"

"Karena kau memang orang gila! Iya kan, Itachi-san?"

Itachi mulai merasa tidak enak.

Sai berjalan santai mendekat kearah Gaara, lalu...,"pergilah! Akan sangat merepotkan jika kau bermasalah dengan kami".

Gaara tak berkutik. Sepertinya ia mulai mengalah.

"Lain kali, aku pasti akan mendapatkannya! Pasti!", ucap Gaara sebelum ia melangkah menuju mobilnya.

"Kau mengenal orang itu, Itachi-san?", tanya Sai.

"Tidak! Mungkin dia memang benar-benar orang gila". Itachi mencoba membuka pintu, "ngomong-ngomong...dimana Sasuke dan Sakito? Pintunya terkunci".

"Apa?"

~OoO~

"Aku akui kau memang orang yang membosankan, tapi kau cukup pintar dalam mencari restaurant yang enak, Sasuke-kun", puji Sakura sambil mengangkat dua jempolnya. "Waaahhh, sushi-nya enak sekali...".

"Kau menyukainya? Hn, baguslah".

Sakura tersenyum manis, "Sasuke-kun...sebenarnya apa maksudmu membawaku kesini dan juga...pakaian ini...aku-.."

"Aku hanya ingin melihatmu sebagai seorang perempuan. Dan apa salahnya aku ingin melihat wujud aslimu?", jawab Sasuke datar, kemudian meneguk jus tomat yang dipesannya.

"Oh, jadi...apa pendapatmu tentang wujudku sebagai 'Haruno Sakura' ini?"

"Kau...cantik juga". Sasuke menatap wajah gadis didepannya.

Sakura blushing. "Benarkah?"

"Hn, walaupun anting itu tidak cocok untukmu". Sasuke tersenyum jahil.

Gadis itu memegang kedua anting yang tergantung ditelinganya, "baik, akan kulepas!"

"Jangan! Aku hanya bercanda, bodoh!", Sasuke berusaha menggapai tangan Sakura yang hampir mencopot anting yang barusaja dibelinya untuk gadis itu.

"Hahaha, ya sudah!"

"Cepat habiskan sushi-mu! Kita akan menuju tempat berikutnya!"

"Hah? Tapi ini sudah malam, Sasuke-kun! Kau tidak lihat jam tanganmu yang sudah menunjukan pukul delapan itu?", ujar Sakura dengan sushi yang masih berada dimulutnya.

"Justru itulah. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu".

"Sesuatu? Apa?"

-tbc-

Moshi-moshi, minna^^

Balik lagi nih dengan fic kesayanganku. Hohoho, entah kenapa saat nulis chapter ini Hika begitu bersemangat dari sebelumnya. Yah, mungkin karena pas lagi ngetik Hika sambil nonton DVD film The Last Airbender^^ kyaaaaa film-nya keren./

Yaudah, pada penasaran kan si Saskey mau ngajakin Sakura kemana lagi? Tunggu yah di chapter selanjutnya^^

Oh,ya...ada pemberitahuan! Jangan lupa pas baca chapter selanjutnya, anggap aja suasananya masih dibulan Agustus. Okeh? Okeh? Harus! *maksa –ditendang-*

Ada yang nanya kenapa? Ummmm, ada deh^^ buahahahahai *dilempar sendal jepit*

Bersediakah anda-anda me-review fic ini?

(-^,^-)b