Halo halo, saya kembaliii..!! X3 *berisik -dihajar* hehe, ngerjain request rate M ditunda dulu, lagi pingin ngelanjutin fic kesayanganku yang satu ini hohohoo.. :D

Ok, tanpa basa-basi, selamat membacaaa..!! XD



Disclaimer : Always Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Friendship

Pairing : SasoSaku

MY BUTLER IS SUCK !!



CHAPTER 4 : JANGAN

"Apa itu? Nggak bener, salah salah..!! Masih kotor tuh, gak becus nih..!!" ketus seorang laki-laki remaja berambut merah. Walaupun wajah baby facenya yang bisa dibilang lucu dan tampan, tapi sifatnya TIDAK ADA unsur 'baby' sama sekali..!! Jadi jangan tertipu. Ya, dialah Sasori yang sedang duduk di atas sofa mewah sedangkan kedua kakinya di angkat di atas meja. Dia tampak memerintah seorang gadis berambut pink di bawahnya.

"Kau... MEMANGNYA AKU SIAPA, HAH..!!?" teriak gadis berambut pink itu. Sepertinya dia sudah habis kesabarannya. Dia tampak melempar kain pel yang tadi digunakannya untuk.. mengepel? Ya, dialah Sakura Haruno. Tapi kenapa mengepel? Bukankah dia tuan rumah di rumah mewah ini? Dan kenapa Sasori malah duduk dengan santainya? Bukankah dia butler di sini?

"Siapa? Jelas-jelas kau babuku, kok nanya," jawab Sasori dengan ketus sambil memalingkan wajah. Sakura tampak menggertakan giginya dengan penuh amarah menggebu-gebu, bahkan terlihat tangannya yang mengepal jadi memerah.

"Enak saja kau bicara..!! Sadar posisi dong..!! Kau itu yang harusnya jadi babu, bukan aku..! Aku tuan rumah di sini, jadi kau yang harusnya kuperintah..!!" teriak Sakura. Sasori memutar bola matanya, lalu dia mengambil telepon yang ada di sebelahnya dan menekan beberapa nomor dan memasangkannya di telinga.

"Halo, Mila-sama? Saya-"

"JANGAAAAAN..!! Iya iya, aku akan mengepel dengan baik..!!" teriak Sakura sambil menyambar telepon yang dipegang Sasori dan mematikannya. Sasori menyeringai licik, sedangkan Sakura harus menahan amarahnya dalam-dalam.

"Oh ya, saya pingin mendengar nama saya disebut olehmu, babu," gumam Sasori sambil tersenyum licik. Sakura mengangkat sebelah alisnya.

"Panggil aku, Sasori-sama," gumam Sasori dengan gayanya yang sudah seperti raja di rumah ini. Sakura terbelalak.

"A.. Apa!? Aku tidak sudi..!!" elak Sakura.

"Hm? Apa?" tanya Sasori sambil mengangkat kedua alisnya dan mengeluarkan Hpnya. Layar Hp itu sudah menunjukkan nomor Hp ibu Sakura, dan sudah siap untuk ditekan tombol hijau. Sakura gelagapan.

"I.. Iyaa.. S.. Sa.. Sasori.. sa.. sama..." gumam Sakura seperti tertahan. Ingin sekali tangannya menonjok wajah butler yang menyeringai di depannya itu. Mendengar Sakura sudah mengatakannya, Sasori tertawa sumringah.

"Hahahahaha, bagus bagus. Sekarang, lanjutkan pekerjaanmu," gumam Sasori dengan senyum lebarnya. Lalu dia melewati Sakura yang sedang bersiap-siap muntah setelah mengucapkan kata itu.

Sasori memasuki kamarnya. Yah, walaupun sekarang dia sudah bagaikan raja di rumah ini. Tapi tetap saja, dia tidak mau menempati kamar yang lain selain kamar khusus untuk dirinya. Di rumah ini hanya ada dua kamar, kamar Mila dan Sakura. Sasori yang sudah terlanjur hormat, tidak bisa menempati kamar Mila seenaknya. Sedangkan kamar Sakura? Yah, laki-laki memang tidak boleh menempati kamar perempuan kan? Itu tidak sopan. Sasori merebahkan dirinya di atas kasurnya, lalu dia melihat layar Hpnya.

"Nomong-ngomong, tentang rencana yang waktu itu, jadi nggak ya? Apa tanya saja ke Pein?" gumam Sasori pada dirinya sendiri. Lalu dia berniat menelpon bosnya itu.

"Halo Pein?" tanya Sasori ketika telponnya sudah diangkat oleh yang di seberang.

"Eh eh? Sasori-kun?" tanya lawan telponnya balik. Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Ng? Suara ini, Deidara ya. Ada apa? Kok kayaknya kaget gitu?" tanya Sasori bingung.

"Ng anu.. sebenarnya..."

"Woi Deidara, jangan ngomong..!!"

"Eh? Tapi kan?"

"Jangaaaan, nanti aku dibunuh Sasori..!!"

"Tapi.."

"Hei, sebenarnya kenapa sih? Terus kenapa Pein teriak-teriak begitu?" tanya Sasori yang bingung, karena sedari tadi dia mendengar suara Deidara dan Pein yang berdebat.

"Sebenarnya... dapur jadi hancur," gumam Deidara takut-takut. Sasori membelalak kaget.

"HAAAAH..!? Kok bisa!?" tanya Sasori syok.

"Kemaren Pein mau masak, tapi gasnya gak nyala-nyala. Alhasil dia ngutak-ngatik, terus pas dia tinggal sebentar, tahunya gasnya meledak. Dapur kita jadi hilang deh, kebakar semua," jelas Deidara yang sepertinya berusaha tenang. Sasori memijat kepalanya sendiri, stress.

"Pein.. sudah kubilang jangan pernah dekati dapur, awas dia nanti," gumam Sasori. "Ya sudah, aku ingin bicara dengan Pein..!!" perintah Sasori. Deidara mengiyakan.

"Ha.. Halo? Sasori-kuun~ gimana kabarnya?" tanya Pein yang sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan.

"Baik, baik sekali! Dan tambah baik, saat mendengar kabar dapur kita sudah kebakar semua, terima kasih, kau ini benar-benar seorang PAINyaa?" gumam Sasori dengan penekanan saat mengucapkan kata Pein yang menjadi Pain, yang memang berarti 'Penderitaan'.

"He.. Hehe, Sasori-kun bisa aja," gumam Sasori sambil tertawa garing. Sasori ikut tertawa.

"Sudahlah, Pein aku mau tanya tentang rencana kita waktu itu," gumam Sasori dengan serius. Di seberang telpon, terdengar Pein sudah berhenti tertawa dan mulai serius.

"Kau sudah dapat kesempatan yang bagus, Sasori?" tanya Pein. Terdengar kewibawaan bosnya mulai muncul. Sasori tampak terdiam.

"Ya, mungkin sekarang saatnya. Sang nyonya besar, sedang pergi dinas selama seminggu," gumam Sasori tenang.

"Begitu? Baguslah, bagaimana rencananya kita lanjutkan besok saja. Sekarang aku mau membereskan dapur dulu ya hehe," gumam Pein. Sasori memutar bola matanya bosan lalu mematikan Hpnya. Dia kembali menidurkan dirinya di atas kasur.

Sasori tampak menerawang ke langit langit kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi kepalanya terasa berat. Perasaan Sasori seperti ragu, entah pada siapa. Semua perasaannya berkecamuk dan bergabung jadi satu. Rasanya di dalam hati kecilnya ada perasaan ingin menentang semua yang akan dia lakukan. Sasori kembali terduduk dan memegang kepalanya.

"Kenapa? Kenapa sekarang aku jadi ragu untuk merampok di rumah ini?" batin Sasori dalam hati. Dan tiba-tiba...

PRAAAANG

"Apa itu..!?" gumam Sasori kaget mendengar suara piring pecah. Dengan cepat dia bangkit dan membuka pintu kamarnya, lalu berlari menuju tempat suara berasal. Di situ tampak Sakura sedang mencoba mengambil bagian-bagian piring yang pecah itu.

"Ada apa ini..!?" tanya Sasori bingung. Sakura menatap wajah Sasori lalu kembali pada kegiatannya.

"Tadi tanganku licin, jadi piringnya jatuh," jawab Sakura dengan ketus. Lalu Sasori mendesah pelan dan ikut berjongkok.

"Dasar anak mami," gumam Sasori kesal sambil ikut membantu dan mengambilkan bagian piring yang pecah itu. Awalnya Sakura heran, tapi setelah itu dia tidak mempedulikannya dan kembali mengambil bagian piring yang pecah tersebut.

"Aduh," rintih Sasori tiba-tiba. Lalu saat dia mengangkat jarinya, ada goresan yang cukup lebar sehingga mengeluarkan darah.

"Sial, eh cewek cepet ambilin betadine," perintah Sasori. Sakura menggeleng.

"Males ah, habis ada di lantai dua," jawab Sakura santai.

"Lalu? Ini gima-"

Sasori terdiam saat Sakura menarik jarinya dan mengemutnya. Spontan wajah Sasori memerah dan memanas. Tangannya kaku seketika, lalu Sakura melepaskan mulutnya dari jari Sasori kemudian dengan sapu tangan putihnya, dia mengelap jari Sasori itu. Darah sepertinya sudah berhenti mengalir. Sakura kembali meneruskan kegiatannya dan berlaku seolah tidak habis melakukan apa-apa. Sedangkan Sasori masih tertegun mengamati Sakura.

"Apa sih? Udah gak keluar darah lagi kan?" tanya Sakura sambil mengangkat sebelah alisnya. Sasori tersadar dari lamunannya.

"Ah i.. iya," jawab Sasori sambil menunduk. Lalu Sakura sudah selesai mengumpulkan pecahan piringnya. Sakura segera bangkit dan membawa pecahan piring itu ke dapur. Sedangkan Sasori mengamati punggung cewek itu, lalu dia mendesah pelan.

"Tuh kan, aku aja jadi aneh begini," gumam Sasori sambil memegang poninya yang berwana merah dan bersandar di tembok. Setelah itu terlihat Sakura sudah kembali dari dapur.

"Kenapa? Nggak biasanya begini, biasanya kamu teriak-teriak manggil aku babu," tanya Sakura sambil mengangkat kedua alisnya dan berjongkok di depan Sasori.

"Nggak, aku nggak apa-apa, dasar berisik," gumam Sasori sedikit kesal. Sakura ber'oh' ria, lalu dia menempelkan tangannya di dahi Sasori.

"Apa yang-"

"Kau nggak panas, mungkin kamu cuma sedang tidak bersemangat ya?" tanya Sakura dengan polosnya. Sasori tertegun, wajah Sakura dekat sekali dengan wajahnya sampai-sampai Sasori menahan nafas. Tapi akhirnya dia menepis tangan Sakura.

"Jangan sok peduli padaku, babu," ketus Sasori. Sakura terdiam, lalu tanpa kata-kata lagi, dia meninggalkan Sasori dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Sasori masih menundukkan kepalanya.

"Menyebalkan, aku ini menyebalkan..." gumam Sasori entah pada siapa. Lalu dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya, saat itu...

TING TONG

Sasori mengangkat wajahnya. Terlihat Sakura juga keluar dari kamarnya. Lalu Sasori bangkit dan berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka, Sasori mengintip dulu siapa yang datang. Seketika juga Sasori tertegun.

"Dia.. bukannya yang pernah berciuman dengan Sakura ya?" tanya Sasori dalam hati. Lalu dia membuka pintunya, laki-laki yang tak lain adalah Sasuke, mengamati Sasori dari bawah ke atas degan heran.

"Kau.. Kau kan anak baru itu? Kenapa ada di sini?" tanya Sasuke. Baru saja Sasori akan menjawab...

"Dia itu butler khusus untukku," potong Sakura cepat sambil menatap mata onyx Sasuke. "Ada perlu apa Sasuke?" tanya Sakura dingin.

"Aku... hanya ingin bicara," gumam Sasuke, tak kalah dinginnya. Tapi Sakura tidak mempedulikannya, lalu berbalik.

"Aku sudah bilang kan? Aku tidak mau bicara lagi denganmu," jawab Sakura. Tapi tiba-tiba saja Sasuke melangkah masuk.

"Tapi-" Sasuke tertegun, tangan seseorang menahan dirinya untuk tidak masuk lebih dalam lagi. Sasuke mendelik pada pemilik tangan itu.

"Dia sudah bilang, kalau dia tidak mau bicara denganmu kan?" gumam Sasori tajam. Mata merahnya bertatapan langsung dengan mata onyx hitam Sasuke.

"Apa hakmu? Kau itu cuma butler..!!" geram Sasuke.

"Tapi aku juga merangkap sebagai bodyguard Sakura Haruno, kalau dia bilang tidak ya tidak," jawab Sasori lagi. Sasuke menggertakan giginya.

"Sekali lagi kuperingatkan, kalau tidak mau terluka, MINGGIR..!!" gumam Sasuke tegas. Sasori menggeleng.

"Maaf, kalau begitu saya balikkan kata-kata anda, kalau tidak mau terluka, harap minggir..!!" gumam Sasori. Sasuke yang sudah kehabisan kesabaran...

BHUAAAAAG

Sasori jatuh terduduk menerima serangan Sasuke. Sakura yang kaget mendengar suara pukulan, langsung menoleh dan melihat Sasori yang sedang mengelap darah di bibirnya. Dia menatap tajam mata Sasuke.

"Sudah kubilang kan, kalau ti-"

DHAAAAK

Sasuke ikut jatuh terduduk saat Sasori melayangkan kakinya dan menendyang dagunya. Hampir saja Sasuke jatuh ke halaman kalau dia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Sehingga dia hanya jatuh di teras. Sasori berdiri di depannya sambil tersenyum menyeringai dan mengepalkan tangannya di depan dada.

"Kebetulan, aku juga sudah lama tidak memasukkan orang ke dalam ruyang ICU," gumam Sasori dengan nada yang seperti meremehkan.

Sasuke tersentak, lalu dia ikut berdiri sambil menatap Sasori dengan tatapan tajamnya. Aura setan muncul dari mereka berdua. Sakura segera menghampiri mereka yang sudah terbakar amarah masing-masing.

"Hei kalian..!! Rumahku bukan tempat untuk berkelahi..!!" cegah Sakura. Sasori mendelik padanya.

"Salahkan dia, kan dia yang mulai duluan..!!" gumam Sasori kesal.

"Tapi-"

BHUAAAG

Sakura tersentak, Sasori yang sedang bicara dengannya tiba-tiba jatuh tersungkur dengan darah mengalir di sudut bibirnya. Sakura segera menoleh dan mendapati Sasuke yang baru saja memukul Sasori, terengah-engah. Sedangkan Sasori menatap Sasuke dengan tatapan membunuh. Saat Sasuke akan memukul lagi, Sakura menghalanginya.

"Hentikan, Sasuke..!!" gumam Sakura sambil memegang dada Sasuke agar tidak maju lebih dari ini.

"Minggir Sakura, aku ingin sekali memberinya pelajaran..!!" dengus Sasuke.

"Tidak, jangan dekati Sasori..!!" gumam Sakura sedikit teriak. Sasuke menghentikan lyangkahnya dan menatap Sakura, begitu pula Sasori.

"Kalau kau lukai Sasori, lebih dari ini. Aku tidak akan pernah memaaafkanmu Sasuke," gumam Sakura dengan nada getir. Entah dia menangis atau tidak. Sasuke terdiam dan mengurungkan niatnya.

"Baiklah, gomen Sakura," gumam Sasuke. Lalu dia pergi setelah bertatapan dengan Sasori dengan tatapan 'kita-selesaikan-lain-kali'. Sasori mendengus.

"Sa- Bu.. Butler jelek, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura sambil mendekati Sasori. Laki-laki rambut merah itu, hanya mendesah pelan lalu memalingkan wajahnya.

"Kau pikir aku selemah apa?" tanya Sasori dingin. Sakura terdiam lalu mengambil sapu tangan miliknya dan mengusapkannya pada sudut bibir Sasori yang mengeluarkan darah.

Sasori tertegun sekali lagi melihat perlakuan Sakura padanya. Entah hanya karena perasaan atau apa, hari ini Sakura terlihat lebih peduli dari biasanya. Sasori pun terdiam tidak tahu harus berkata apa, begitu pula Sakura. Apalagi dengan suasana tidak biasa, membuat keduanya risih juga. Sasori spontan memegang tangan Sakura yang sedang mengusap darah di bibirnya itu...

"Sasori?" tanya Sakura saat tangan mungilnya dipegang tangan Sasori yang besar.

"Sakura, kau... ciuman itu seperti apa rasanya?" tanya Sasori tiba-tiba tanpa menatap Sakura. Gadis pink tertegun kaget.

"Hah? Kenapa nanya itu?" tanya Sakura. Sasori terdiam lalu dia mengangkat wajahnya.

"Bagaimana?" tanya Sasori lagi. Sakura mendesah pelan.

"Entahlah, itu tergantung. Kalau ciuman dengan orang yang tidak kita sukai, tentu tidak ada rasanya malah seperti hambar. Tapi kalau ciuman dengan orang yang kita suka, aku tidak tahu, tapi yang pasti degup jantung jadi lebih keras dari biasanya," jawab Sakura.

"Lalu? Waktu kau ciuman dengan Sasuke, rasanya seperti apa?" tanya Sasori. Sakura menggeleng.

"Aku tidak tahu, memang degup jantungku jadi tidak keras tapi aku jadi sedikit tegyang," jawab Sakura terlihat berpikir.

Sasori memegang wajah Sakura, kemudian mendekatkan wajah itu pada wajahnya. Sampai bibir mereka bersentuhan. Sasori merasakan degup jantungnya lebih keras dari biasanya. Tapi dia tidak mendengar detak jantung Sakura yang harusnya lebih keras juga, entah tidak terdengar atau memang detak jantung Sakura tidak mengeras seperti apa yang dikatakan Sakura. Sasori melepaskan ciuman sesaatnya. Lalu dia menunduk, tidak berani memperlihatkan wajah blushingnya pada Sakura.

"Kalau ciuman denganku, bagaimana?" tanya Sasori pelan. Sakura tersentak, wajahnya juga sudah memerah.

Tanpa menjawab, dan mungkin karena kaget, Sakura segera berlari ke kamarnya dan menutup pintunya. Sedangkan Sasori masih duduk di pintu depan. Dia tidak bergeming dari tempatnya duduk itu sama sekali. Lalu Sasori menggertakan giginya dan memukul lantai di bawahnya. Dia kembali meremas rambut merahnya sampai lebih berantakan dari sebelumnya.

"Aku memang bodoh,"

To Be Continued



UAAAAAGH..!! (O////O) Duuh, kenapa ya pas bikin adegan Sasori dan Sakura ciuman, malah aku yang blushing sih? Apa karena aku ngebayangin kalau aku yang dicium Sasori..?? *dimasukin karung + dihajar sekampung* hehehehe, bercanda kok, yah walaupun pingin sih.. *ditendyang sampai masuk samudra Atlantik*

Okey, special thanks for :

Haruchi Nigiyama, Miamau Kakashi, Odium of Thanatos, Intan SasuSaku, Pikachu-chan, Ka Hime Shiseiten, Naru-mania, Hyourinmaru Uzumaki, Tsuichi Yukiko, Misa UchiHatake, Ryuku S. A. J, Sora Chand, Kuroneko Hime-un, Sasori Schifferway, Syllie Charm, Nakamura Miharu-chan

Oh ya, chapter lalu aku sempet salah publish ya? Maafkan dakuuu..!! T^T Habis aku gak teliti sih, aaargh nyebeliin..!! DX *mukul tembok –jerit gara-gara kesakitan*

Ok, review pleaaase..?? X3