Haaah, halo semua ^^ maaf telat update, ada banyak masalah yang kupikirkan. Tadinya sempet males buat fic entah karena apa, tapi sesuai janjiku aku harus tetap melanjutkan fic sampai selesai...

Baik, selamat membacaaa..!!

Disclaimer : Always Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Friendship

Pairing : SasoSaku, SasuSaku

MY BUTLER IS SUCK !!

CHAPTER 5 : SEPERTI DULU

Laki-laki berambut merah dan berwajah baby face bernama Sasori itu kini tengah melentangkan dirinya di atas kasur. Pikirannya sudah ke mana-mana. Berkali-kali dia bergumam 'Bodoh bodoh' tanpa mau berhenti. Tangannya terus mencengkram rambut merahnya sampai terus dan terus berantakan. Lalu dia juga terlihat memukulkan tangannya pada kasur di bawahnya.

"Aaagh, kenapa aku tidak bisa menahan diriku? Bodoh banget..!!" geram Sasori sambil menggertakan giginya.

"Sakura... membenciku tidak ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Lalu dia menghela nafas panjang dan berdiri dari tempat tidurnya, dan dia membuka pintu kamarnya. Betapa kagetnya dia melihat seorang gadis berambut pink berdiri dan mengangkat tangannya, seolah dia baru saja mau mengetuk pintu itu.

"Eh? Sa.. Sakura?" tanya Sasori kaget dan melihat Sakura dari bawah ke atas.

"Apa yang kau lihat? Dasar mesum," ketus Sakura sambil menyilangkan tangannya. Sasori mengernyitkan dahinya, mesum katanya?

"Mesum? Apa maksudmu? Aku kan gak pernah megang-megang tubuhmu..!!" jawab Sasori kesal. Sakura mendelik.

"Ya jelaslah gak pernah..!! Kalau sampai megang, kau bisa kuhajar..!!" balas Sakura sama kesalnya sambil menatap mata merah Sasori. "Kau kubilang mesum, karena..." Sakura terlihat menelan ludah. Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Karena..?" tanya Sasori dengan penekanan. Saat itu juga Sasori melihat wajah Sakura yang memerah dan segera sadar.

"Eh? Oh, ngg anu..."

"Sudahlah, jangan banyak omong. Aku laper, siapin makan dong," pinta Sakura dan dia segera berlalu. Sasori terdiam, degup jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Laki-laki rambut merah itu bernafas lega dan menyandar pada tembok di sebelahnya.

"Tadi... hampir saja,"

-

-

-

Meja makan...

"Nih makannya nonaaa..." gumam Sasori sambil memberikan sepiring ramen spesial. Sakura mengangguk.

"Hmm, terima kasih," jawab Sakura dan mulai mengambil sapu tangan miliknya. Sasori mendengus.

"Selesai makan, cepat ke kamarku dan pijit kakiku," perintah Sasori. Sakura tersentak dan langsung mendelik.

"Apa!? Memangnya siapa kau hah!?" ketus Sakura. Tapi saat dia berbalik, dia harus menarik semua kata-katanya sebelum Sasori menekan tanda hijau di Hpnya.

"A.. A.. I.. Iya deh iya," jawab Sakura gagap. Sasori tersenyum licik, lalu dia memasukkan Hp ke dalam sakunya dan berbalik sambil bersiul. Sedangkan Sakura di belakangnya baru saja mematahkan sumpit dengan satu tangannya.

Sasori kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum lega, sangat lega. Semua masih seperti dulu, dan kelihatannya Sakura juga tidak berniat untuk mengungkit-ungkitnya. Sasori mengambil nafas lega, tidak tahu harus berkata apa. Hanya senyum yang bisa dia keluarkan. Beberapa saat kemudian, pintu kamar Sasori ada yang mengetuk. Dan begitu terbuka, gadis yang ada di sana mendengus kesal menatap laki-laki berambut merah di depannya.

"Eh sudah datang? Wah silahkan masuk," sambut Sasori. Lalu dia mengangkat kakinya ke depan wajah Sakura.

"Silahkan pijit kakiku, Sakura-sama.." gumam Sasori dengan senyum menyeringainya. Sakura mendengus kesal dan segera menyambar kaki Sasori.

Sakura mulai memegang kaki Sasori dan memijatnya perlahan. Dan entah kenapa suasana jadi terasa sunyi. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Sasori mulai merasa risih persis seperti yang dulu sempat dia rasakan, entah dengan Sakura. Apalagi Sasori sedikit geli dengan tangan mungil Sakura yang memijat kakinya. Bukan apa-apa, rasa pijitan itu seperti mengundang sesuatu...

"Ada apa?" tanya Sakura tiba-tiba sambil mengernyitkan alisnya, membuat Sasori tersentak seketika.

"Ng.. Nggak ada apa-apa," jawab Sasori kaku, dia menelan ludah. Sakura mengangkat sebelah alisnya lalu kembali pada kegiatannya. Lama mereka kembali terdiam, hingga Sasori angkat bicara...

"Yang waktu itu, bagaimana rasanya?" tanya Sasori. Sakura tertegun dan menatap wajah Sasori.

"Maksud.. nya?" tanya Sakura, wajahnya sudah mulai memerah. Jujur saja, dia mengerti maksud Sasori, tapi... setidak mungkin lebih baik berbasa-basi kan?

"Kau tahu maksudku," jawab Sasori sambil mengangkat sebelah alisnya setelah beberapa saat dia menatap wajah Sakura. Dia tahu betul dari membaca wajahnya, bahwa Sakura memang pura-pura.

"Oh ngg, nggak tahu," jawab Sakura sambil menunduk, Sasori terdiam, "Kau tahu? Ciuman seperti itu, bukanlah hal yang pertama bagiku. Jadi agak bingung kalau ditanya bagai—"

"Berarti kau tidak menyukaiku?" tanya Sasori. Sakura terdiam lagi, dia bingung harus menjawab apa. Lalu dia menghela nafas panjang.

"Aku belum menemukan jawaban yang tepat, sebab saat kau menciumku hampir sama saat Sasuke menciumku," jawab Sakura. Kali ini Sasori yang terdiam.

"Itu artinya apa? Kau sudah tidak menyukai Sasuke lagi, bukan?" tanya Sasori memastikan, Sakura mengangguk.

"Jadi, kalau kau bilang berciuman denganku itu sama seperti berciuman dengan Sasuke, berarti... kau tidak menyukaiku?" tanya Sasori sambil mengangkat sebelah alisnya. Sakura diam tidak menjawab, mungkinkah perkiraan Sasori benar?

"Sudah kuduga, percuma..." gumam Sasori sambil mengambil kakinya dari tangan Sakura. Lalu dia turun dari kasurnya dan keluar kamar. Sedangkan Sakura hanya mengamati punggung Sasori dalam diam.

"Aku.. belum menemukan jawabannya, Sasori.." jawab Sakura dengan sedih lalu dia tertunduk.

-

-

-

Keesokan harinya, di sekolah...

Pelajaran pertama sudah dimulai. Sasori dan Sakura yang duduk bersebelahan terdiam memperhatikan guru di depan mereka. Tidak biasanya setenang ini. Sejak pernyataan Sakura yang sebenarnya belum jelas kemarin, Sasori tidak mau bicara dengan Sakura. Entah karena ngambek atau apa, tapi dia selalu mengacuhkan apabila Sakura menatapnya. Tentu saja hal ini membuat Sakura bingung. Begitu pula hari ini, Sasori terus-terusan melihat ke luar jendela.

"Sasori.. Sasori?" panggil Sakura pelan. Sasori menoleh sedikit pada Sakura, lalu kembali mengacuhkannya.

"Kau.. anu..." Sakura bingung harus berkata apa. Karena Sasori terus membelakanginya.

Akhirnya Sakura menyerah, dia memilih untuk kembali diam. Dia menyenderkan kepalanya di atas meja dan berkali-kali menghembuskan nafas kesal. Lalu saat tangannya bergerak menuju laci meja, Sakura merasakan sesuatu seperti kertas. Dan begitu Sakura buka, ternyata kertas itu adalah surat yang bertuliskan...

-

-

Aku ingin bertemu denganmu setelah pulang sekolah, temui aku di halaman belakang. Ada yang ingin kubicarakan...

Sasuke

-

-

"Haaah, Sasuke lagi. Sebenarnya apa maunya sih?" gumam Sakura sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. Lalu Sakura kembali membuka bukunya dan mencatat sesuatu.

Tanpa menyadari, Sasori memperhatikan gerak-geriknya dalam diam...

-

-

-

Sepulang sekolah, halaman belakang...

Sakura terlihat berjalan sendirian di halaman belakang yang luas ini. Walau terbilang luas, halaman belakang ini terlihat sempit karena banyaknya pohon yang besr dan rimbun. Sakura mencari-cari, kepalanya menoleh kesana kemari. Mencari seseorang yang mengirim surat itu kepadanya.

"Sasuke mana sih?" keluh Sakura sambil melihat jam tangannya sesekali. Dan tiba-tiba seseorang menutup mulutnya dari belakang.

"HMMPH!?" gumam Sakura sambil meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangan orang itu.

Tangan itu sangat kuat, dan terlihat sedikit kekar. Sakura tetap meronta, berusaha melepaskan diri. Orang itu entah semakin berani atau apa, dia mencium leher Sakura. Membuat gadis pink itu terbelalak, Sakura tetap berusaha melepaskan diri. Air matanya sudah berlinang, siap jatuh kapan saja, sampai...

DHUAAAAK

Sakura jatuh terduduk dan terengah-engah. Dia berusaha mengambil pasokan udara di sekitarnya. Sedangkan saat Sakura menoleh sedikit, dia melihat kaki seseorang berdiri di depannya. Sakura menyeka air matanya dan melihat ke atas, berusaha mencari tahu siapa orang yang telah menolongnya. Laki-laki berambut merah itu melirik pada Sakura dan menatap mata emerald gadis itu dengan tatapan meremehkan.

"Sa.. Sasori.." gumam Sakura. Sasori mengangkat kedua alisnya lalu dia kembali menatap ke depan.

"Seperti biasa kau selalu mengejutkan ya, Sasuke," ejek Sasori sambil tertawa menatap orang yang sedang berusaha berdiri setelah ditendang olehnya.

Laki-laki yang tak lain adalah Sasuke itu mendelik dengan mata onyxnya. Dia berdiri sambil menatap Sasori di depannya dengan tatapan membunuh. Sasuke mengusap darah di sudut bibirnya, dia menggertakan giginya marah menatap laki-laki dengan baby face tersebut.

"Huh kau juga Sasori," gumam Sasuke sambil mendengus. Sasori tersenyum.

"Kalau kau datang ke sini, berarti sudah siap babak belur ya?" tanya Sasuke pelan tapi penuh penekanan di setiap katanya. Sasori tertawa mengejek.

"Hahaha, berarti kau juga sudah siap masuk ruang ICU heh?" tanya Sasori santai. Sasuke mendelik.

"Tidak usah banyak bicara..!! Cepat serang aku..!!" gumam Sasuke marah.

"Cuh," Sasori meludah tepat di depan Sasuke, "Kapan saja aku selalu siap," gumam Sasori dan langsung berlari ke arah Sasuke.

Sasuke menghindari tendangan Sasori yang pertama. Lalu dia juga ikut menyerang, tetapi kembali bisa dihindari Sasori. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi tanpa ampun. Tapi sama sekali belum ada yang terluka, karena keduanya sama seimbang. Sasori berkali-kali mendecih karena serangannya sama sekali tidak ada yang kena, begitu pula Sasuke. Sedangkan Sakura terdiam menjadi penonton, bingung harus melakukan apa. Hingga akhirnya Sasori dan Sasuke terengah-engah dan saling bertatapan.

"Reflekmu.. bagus juga.." ucap Sasuke sambil mengatur nafasnya. Sasori tersenyum mengejek.

"Hehe, terima kasih.." jawab Sasori, dan dia kembali menyerang Sasuke. Lalu saat Sasuke sudah siap membalas, tiba-tiba Sasori berhenti. Sasori menoleh ke belakang dan menatap Sakura.

"Hei kau, cewek pink..!!" gumam Sasori, Sakura mendelik.

"Ce.. Cewek pink?"

"Sana keluar dari sini, karena di sini akan menjadi pertarungan antar lelaki. Cewek keluar aja sana..!!" perintah Sasori. Sakura mendelik tak suka.

"Apa hakmu ngusir-ngusir aku? Kamu kan bukan-"

TET TOT TET TOT

"Halo, Mila-sama? Wah aku-"

"Iya iya iya..!! Aku akan keluar..!!" gumam Sakura dan langsung berlari ke luar halaman. Sasori mendengus kemudian tertawa dengan nada kemenangan. Sasuke terdiam menatap Sasori yang sedang memasukkan hp ke dalam sakunya.

"Nah, lanjutkan?" tanya Sasori sambil mengepal tangannya. Sasuke terdiam tidak menjawab.

"Hei," panggil Sasuke, Sasori menoleh, "Kau ini.. kenapa selalu menyelamatkan Sakura sih?" tanya Sasuke akhirnya. Sasori mendesah pelan.

"Huff, aku sudah bilang kan kemarin kalau aku ini butler sekaligus bodyguard Sakura? Untuk mendapatkan bayaran, ya mau nggak mau aku harus melindungi cewek itu apapun yang terjadi," jelas Sasori. Sasuke hanya menatap Sasori dengan tatapan tidak percaya.

"Benarkah?" tanya Sasuke meyakinkan.

"Ya iyalah, kau pikir aku bohong?" tanya Sasori. Sasuke mengangguk.

"Yah, terlihat jelas di wajahmu," gumam Sasuke, "Kau menyukai Sakura kan?" tanya Sasuke lagi, yang entah kenapa sangat menusuk bagi Sasori.

"Ten.. Tentu saja tidak, mana mungkin kan? Hahaha," jawab Sasori sambil berusaha tertawa-tawa tidak jelas. Sasuke menatapnya tajam. Ditatap seperti itu oleh Sasuke, lama-lama membuat Sasori luluh juga. Laki-laki rambut merah baby face itu, tertunduk.

"Me.. Memang kalau iya kenapa?" tanya Sasori dengan wajah memerah sambil menendang-nendang batu. Sasuke mendengus.

"Tidak kenapa-kenapa, paling aku sedikit kesal karena lagi-lagi saingan beratku bertambah," gumam Sasuke. Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Lagi-lagi?" tanya Sasori. Sasuke mengangguk.

"Aku juga punya saingan berat selain dirimu, dan dia juga mantan pacar Sakura. Hanya saja berbeda denganku yang susah payah, dia mempunyai kemungkinan besar untuk bisa mendapatkan Sakura kembali, karena Sakura sendiri pernah mengaku kalau satu-satunya orang yang bisa mengertinya hanyalah dia," jelas Sasuke. Sasori menatapnya penasaran.

"Siapa.. orang itu?" tanya Sasori, menanti jawaban yang memuaskan. Sasuke mendesah pelan.

"Orang itu...."

-

-

Di bagian Sakura..

"Uuuh, lama banget sih butler sialan itu? Mana aku laper banget lagi," gumam Sakura kesal sambil sesekali melihat jam tangannya. Lalu dia berkali-kali menghentakkan kakinya.

"Aah, kalau begini sih, mending aku susul aja deh..!!" gerutu Sakuera dan mulai melangkah, lalu langkahnya kembali terhenti.

"Err sebentar, kalau si butler itu nelpon kaasan gimana? Uuugh," ucap Sakura sambil meremas rambut pinknya. Sampai tiba-tiba seseorang menepuk pundak gadis itu dengan lembut.

"Sakura, lihat Sasuke tidak?" tanya orang itu.

Sakura tersentak kaget, sepertinya dia mengenal suara lembut itu. Suara yang sudah sekitar beberapa bulan lamanya tidak dia dengar, sejak berpacaran dengan Sasuke. Sakura menelan ludah dan memberanikan diri menoleh ke belakang. Benar saja, Sakura langsung meluluh dan mukanya memerah begitu melihat sepasang mata onyx milik laki-laki itu. Rambut hitam panjangnya yang diikat, dan tatapan juga senyumnya yang lembut, sama sekali tidak berubah sedikitpun. Ingin rasanya Sakura memeluk orang itu, satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya melebihi siapapun bahkan mungkin kaasannya sendiri. Bibir Sakura bergetar ketika menyebutkan nama laki-laki itu...

"Kak.. Itachi..."

To Be Continued

Huwoooo, saya tidak tahu harus berkata apaa..!! Aaaaa..!! DX *menggila –disiram air panas* oh ya, fic ini sudah resmi rate T lhoo~ jadi jangan minta kenaikan (?) rate yaa wkwkwk *plaaaak*

Oke, special thanks for :

Intan SasuSaku, Nakamura Miharu-chan, Kuroneko Hime-un, Ka Hime Shiseiten, Tsuichi Yukiko, Haruchi Nigiyama, Naru-mania, Faatin-hime, KuroShiro6yh, Nakamura Kumiko-chan, Uzumaki Liska, Ryuku S. A .J, Sakura-chaNoRuffie-chan, Miamau Kakashi, Ame-chocchoSasu, YUNI, Tsukimori Raisa

Terima kasih banyak yaa ^^ Oke, boleh minta review?? X3