Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo.
Snow Memories
(Love, Blood and Devil)
*Turn Back the Pendulum*
"Dimana aku?"
"Tempat apakah ini?"
"Kenapa tanganku berlumuran darah?"Siapa aku?"
"Taichou, bangun! Ada apa? apakah anda bermimpi buruk?" Matsumoto mengguncang – guncang bahuku. Saat kusadari ternyata aku telah tertidur saat bekerja.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir? Taichou berteriak-teriak seperti kesetanan gitu."
"Aku tidak apa-apa Matsumoto."
Sial, gara-gara bertemu dengan gadis aneh itu otakku jadi pusing.
Kenapa ia mengaku-ngaku sebagai kakakku?
Aku tidak percaya, tapi... biar pun aku tak sudi mengakuinya,
Dia mirip denganku.
Tidak akan ada penjelasan lain selain kenyataan bahwa dia kakakku.
Sialan! Brengsek!
Tanpa sadar aku memegang kepalaku. Dan hal itu dilihat oleh Matsumoto.
"Taichou, apa tidak sebaiknya Taichou beristirahat saja? Taichou bekerja terlalu keras. Itu tak baik untuk kesehatan lho!"
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa kan!"
Dia berjalan mendekatiku, kukira ia akan menempelengku atau sebagainya. Ternyata aku salah! Matsumoto memegang pundakku dan berkata,
"Taichou, saya sadar perkataan saya akan menyakiti Taichou, tapi taichou harus sadar. Taichou masih anak-anak, Taichou tidak boleh bekerja terlalu keras. Kalau Taichou sakit saya akan repot."
Baru kali ini aku lihat dia mengkhawatirkanku.
"Hahhhh... Baiklah, kurasa aku akan mengambil cuti selama 3 hari." Putusku akhirnya.
"Ok, kalau begitu ayo kita pergi ke Gensei!" Katanya bersemangat.
Ternyata dugaanku benar, Matsumoto menyuruhku libur karena ingin jalan-jalan. Dasar. Tapi... yah kurasa liburan tidak jelek juga.
Akhirnya aku pergi berlibur ke kota Karakura. Mau kemana lagi memangnya?
"Hei taichou, lihat deh! Baju ini maniskan?" Matsumoto mengepas-ngepaskan sebuah baju di badannya.
"Hah... terserah kau..."
"Ikh... taichou! Kita kan lagi liburan, seneng dikit napa sih!"
"Iya iya... Aku senang kok."
Uhhhh apa tak ada hollow atau apalah yang bisa membuatku lepas dari Matsumoto?
Baru aku berpikir demikian, tiba-tiba aku merasakan keberadaan hollow.
"Yess.". pikirku.
"Taichou ada hollow!"
"Ya, biar aku saja yang mengurusnya. Kau selesaikan saja belanjamu."
"Eh tapi..."
"Sudahlah. Hollow kecil kok."
Aku segera melepas gigai dan pergi.
Tak lama kemudian aku menemukan hollow itu.
"Huh, terimakasih atas kedatanganmu, hollow jelek."
"Soten ni saze, Hyourinmaru!" Tak lama kemudian hollow itu telah berhasil kukalahkan. Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara.
Nyanyian perempuan.
Hoshi ni yuki ni kioku ni...
Kimi no ashiato sagasu
Douka towa no yasuragi
Koko ha yume no tochuu de...
Suara siapakah itu?
Suara yang indah bagai malaikat
Osanai, tsubasa de...
Sakamichi kaketeku...
Michi kara hagurete,
Kono me wo tojiteku...
Aku mengikuti arah datangnya suara itu.
Dan aku menemukannya, duduk didahan Sakura.
Yume ni ai ni kokoro ni...
Kimi no ashiato sagasu...
Towa no hikari nokoshite
Furugi no nai tsubasa de...
Gadis itu, kakakku...
Aku terpana.
Tak kusangka aku akan bertemu dengan gadis itu secepat ini.
Ia berhenti bernyanyi saat menyadari keberadaanku.
"Hei, Shiro apa kabar?" Tanyanya padaku.
"Cih, aku tak sudi menerima salam darimu."
"Jangan kasar begitu pada kakakmu Shiro."
"Memangnya siapa yang..."
"Jadi untuk apa kau kemari?"
"Aku... aku hanya mengikuti suara nyanyian dan ternyata aku bertemu denganmu. Aku tak pernah bemaksud untuk menemuimu!"
"Jangan panik begitu. Aku takkan memakanmu kok."
Ia turun dari dahan pohon itu dan menghampiriku.
"Seperti kataku dulu. Lagu inilah yang akan membawamu kembali padaku."
"Ap.."
"Wajar kau tak ingat, kau tak bisa ingat apa-apa."
"Apa maksudmu aku tidak bisa ingat apa-apa?"
"Entahlah..."
"Ukh..."
"Apa kau mau tahu apa hal yang kau lupakan, Shiro?"
"Tidak, aku sama sekali tidak peduli."
"Benarkah? Apa jawabanmu akan tetap seperti itu setelah mengetahui hal yang sebenarnya?"
"Aku tak peduli! Tugasku adalah untuk menangkapmu, aku tak peduli siapapun kau sebenarnya!" Aku melepaskan shikai.
"Soten ni saze, Hyourinmaru!"
Seperti biasa ia berkelit.
"Kau ... benar-benar ingin membunuhku ya?"
"Ya, aku ingin sekali!"
"Hm... begitu?"
Tak kusangka ia akan melepaskan zanpakutounya.
"Aku yakin selama ini, zanpakutou tipe es terkuat adalah milikmu bukan?"
"Ya."
"Tentu saja. Hyourinmaru adalah zanpakutou es yang terkuat. Aku bangga padamu."
"Jangan bertele-tele! Serang aku kalau kau berani!"
"Tenanglah, Shiro-chan. Aku memang akan menyerangmu."
"Shisen ni Ochiru... Yukihime..."
Langit yang cerah berubah gelap.
Bunga-bunga Sakura berguguran, rontok dengan kecepatan yang tidak wajar.
Perlahan salju turun dan menutupi pandanganku. Tapi... ada yang aneh dengan salju ini. Aku bagaikan disedot kedalamnya.
"Apa yang.."
Tiba-tiba sebuah pemandangan hadir dihadapanku. Hari dimana Hallibel memotong lenganku. Rasa sakit dilenganku kembali terasa.
"Akh!"
Pemandangan berganti lagi. Hari dimana Aizen berkhianat, saat ia menebasku dan Hinamori. Kembali rasa sakit menderaku, kini bukan hanya dilengan, tapi juga di pundakku.
"Uakh!"
Lagi-lagi pemandangan berganti, hari dimana aku menghabisi Kusaka. Temanku...
"Selamat tinggal, Toshiro.."
"Tunggu, Kusaka!" aku terjatuh. Tak mampu menahan rasa sakit diseluruh tubuhku.
Pemandangan berganti. Aku melihat tumpukan mayat dengan darah yang menggenang. Pemandangan yang pernah kulihat dalam mimpiku.
"Apa-apaan ini!"
Tiba-tiba semua pemandangan itu lenyap. Yang ada hanya salju yang turun dan gadis itu. Masih berdiri didepanku.
"Bagaimana, Shiro? Sakit?"
"Apa yang kau lakukan...?" Napasku masih terengah-engah.
"Tidak ada. Aku hanya diam disini kok."
"Tidak mungkin, tadi itu ilusi..."
"Bukan ilusi." Ia mendekatiku. Menatap mataku dengan matanya. Jemari lentiknya menyentuh bibirku.
"Rasa sakit yang kau alami itu semua nyata. Tidak melukai tubuhmu, tapi jiwamu. Membuatmu merasakan kembali, semua rasa sakit yang pernah kau alami."
"Bohong! Itu semua hanya ilusi! Aku pernah mengalaminya sewaktu melawan Aizen. Lagipula aku tak pernah melihat pemandangan yang terakhir itu. Itu hanya rekayasamu, kan!"
Ia menggeleng.
"Tidak... kau memang tidak melihatnya,tapi aku melihatnya. Darahku yang juga mengalir didalam tubuhmu inilah yang menjadi saksi. Karena aku pernah melihatnya, kau juga. Hari itu. Hari dimana semuanya hancur, hari dimana semuanya lupa, tentang keberadaanku."
"Ap..."
"Hari dimana aku menghabisi semuanya. Semua orang yang mengenalmu, dan aku."
Aku terkejut.
"Jadi kau..."
"Aku membunuh semua orang di sebuah desa yang terlupakan. Rukongai, distrik 66.6."
"Jadi kau jugalah yang telah membunuh ayah dan ibu?"
Lama ia terdiam lalu dengan senyumannya yang khas, ia berkata.
"Ya, mahluk tak dibutuhkan, harus dihabisi."
"Keparat!" Aku melupakan semua rasa sakit yang kualami. Menyerangnya dengan membabi buta. Orang ini, orang yang telah membuatku sengsara! Membuatku tak pernah merasakan apa itu kasih sayang orang tua! Mahluk keparat!
"Aku akan membunuhmu!" Ucapku lantang sambil terus menyerangnya. Sebuah seranganku berhasil mengenai perut sebelah kirinya. Darah mengalir dan jatuh diatas permukaan salju yang putih.
"Tidak. Bukan akan. Tapi kau harus membunuhku. Hanya kau yang bisa, Shiro."
Aku tak mengerti apa yang ia ucapkan. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara menghabisinya. Berkali-kali aku menusuk dan menebasnya namun ia masih berdiri dan tak bergeming sedikit pun.
"Kau takkan bisa membunuhku sekarang, Shiro."
Ia mengibaskan lengan kimononya yang sudah berubah warna, dari putih menjadi merah scarlet. Merah darah.
Saat aku hendak menyerangnya lagi, ia balik mengarahkan zanpakutounya padaku, membuat pipiku tergores sedikit.
"Sudah cukup. Aku memang bilang hanya kau yang bisa membunuhku. Namun bukan sekarang saatnya. Saat bulan purnama penuh, ketika kemampuan zanpakutoumu mencapai batas maksimal. Temuilah aku. Oh, atau mungkin aku yang akan menemuimu." Ia mengelap darah di wajahnya. Samar-samar kulihat sebuah tanda di tangan kirinya. Tadi tanda itu tak kelihatan karena tertutup lengan kimononya yang sangat panjang.
Pentagram.
Simbol perjanjian dengan iblis.
"Mana bisa aku membiarkan pembunuh sepertimu pergi begitu saja!"
Ia tersenyum.
"Tenanglah, sampai hari itu tiba. Takkan ada seorang pun yang mati. Aku takkan merepotkanmu."
Sayap hitamnya terbentang lebar. Lalu menutupi seluruh tubuh gadis itu, dan ia pun menghilang.
"Kimi wo, ai wo anata ni..."
Salju menghilang. Semuanya kembali seperti keadaan semula. Yang berbeda hanya gadis itu. Ia telah pergi. Tadi, aku tidak salah lihat bukan? Itu adalah pentagram. Apa yang membuatnya membuat perjanjian dengan iblis? Kenapa ia harus membunuh semua orang? Kenapa, ia harus membunuh ayah dan ibu? Kenapa ia tak membunuhku? Dan kenapa... ia tak bisa mati?
Aku menatap Sakura yang berguguran.
Kenapa tadi aku merasa sedikit enggan ketika menyerangnya? Aku benci dia! Tapi... kenapa? Apakah semua yang ia katakan itu benar? Benarkah itu kenyataannya? Kepalaku dipenuhi oleh pertanyaan.
Mata emerald itu menangis. Tapi siapa yang tahu?
"Memalukan sekali, tingkahmu ini." Sebuah suara menyapanya.
"Diamlah." Ia hanya duduk dan terdiam.
"Kau akan membiarkannya seperti itu?"
"Ya, harus. Maaf bila aku membuatmu kecewa."
"Tidak apa-apa. Kau pada dasarnya memang begitu."
"Maksudmu?"
"Bulan purnama ya? Aku akan sangat menunggu saat itu."
"Ya..."
"Hari dimana kita takkan pernah bertemu lagi."
"Ya..."
"Apa kau takut?"
"Tidak..."
"Kenapa?"
"Karena pada dasarnya, semua mahluk hidup harus mati."
"Huh, hukum Tuhan ya? Aku malas mendengarnya."
"Aku tahu."
Kedua mahluk itu terdiam. Hanya menatap Sakura yang berguguran.
"Maaf, Shiro..."
TBC
Hei hei...
Saya kembali!
Hohoho... belum klimax juga?
Maaf...
Belum-belum...
Ada saat dimana Hitsugaya nanti harus membuat pilihan.
Duh... saya ngomong apa sih?
Hm... judul chapter ini ngambil dari Bleach entah volume berapa saya lupa.
Turn Back the Pendulum
So, Review please?
