Moshi-moshi (^^) Senang sekali rasanya, ternyata masih banyak yang suka SasoSaku di luar sana hehe X3 *cengar cengir sendiri (?)* Yah, kalau aku sih emang SasuSaku big fans, tapi pairing kedua dan ketiga yang kusuka dengan Sakura sebagai ceweknya adalah SasoSaku dan GaaSaku :)

Hmm, sudah dulu berbacot rianya (?) selamat membacaa..! ^^


Disclaimer : Always Masashi Kishimoto..

Pairing : SasoSaku, SasuSaku, ItaSaku

Warning : OOC, OC, AU

Genre : Romance/Friendship

Don't like? Don't be a fool flamer, just get outta here..!

.

.

MY BUTLER IS SUCK!


CHAPTER 6 : FIRST LOVE

"Itachi..nii.." ucap seorang gadis berambut pink dengan mata hijau emeraldnya yang terbelalak. Rasanya sampai seperti susah untuk berkedip, tidak mau sedetik pun menghilangkan kesempatan untuk menatap mata onyx di depannya lebih dalam. Sedangkan laki-laki berambut panjang hitam dikuncir yang ditatap oleh gadis itu hanya tersenyum.

"Bagaimana kabarmu, Sakura?" tanya laki-laki yang tak lain bernama Itachi Uchiha tersebut. Gadis yang dipanggil Sakura itu gelagapan dibuatnya.

Sambil menelan ludah, Sakura membuka mulutnya, "A.. Aku.. baik-baik saja, Itachi-nii.." jawab Sakura, pelaan sekali. Itachi menatap Sakura sesaat lalu mengangguk.

"Itachi-nii..!" kata seseorang tiba-tiba di belakang Itachi. Laki-laki itu berbalik dan menatap Sasuke Uchiha yang menatapnya dengan kaget, begitu pula laki-laki berambut merah di sampingnya.

"Jadi.. dia yang bernama Itachi," gumam laki-laki berambut merah tersebut. Dialah Sasori, butler khusus Sakura Haruno sang gadis pink tersebut.

"Sasori.. Kau sudah selesai kan?" potong Sakura tiba-tiba, memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka. Sasori yang lagi sibuk mengamati Itachi langsung melirik Sakura dan mengangguk, "Ka.. Kalau begitu, kita segera pulang! Aku lapar!" sergah Sakura sambil menarik lengan Sasori menjauh dari kedua laki-laki lainnya.

Sasuke yang hendak pergi juga, dihentikan dengan ucapan Itachi, "Dingin sekali kau pada kakakmu, Sasuke.." ucap laki-laki berambut panjang itu dengan tenang.

Sasuke dengan kesal mendecih dan mendelik, "Kau bukan kakakku lagi," gumam Sasuke tajam. Diakembali berbalik dan terus berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Sakura dan Sasori, tidak menghiraukan kakaknya yang tengah menatap punggungnya dengan sedih.

.

.

.

Di rumah Sakura..

"Pulang-pulang bukannya istirahat dulu atau apa kek, ini udah langsung disuruh masak. Dasar cewek!" gerutu laki-laki berwajah baby face tersebut dengan kesal.

Dia terus bergerutu seperti itu dari tadi sampai sekarang masakannya jadi dan tinggal diberi hiasan. Setelah itu, dengan malas-malasan dan wajah cemberut Sasori membawa piring berisi beef teriyaki tersebut dan menaruhnya di atas meja makan. Sebenarnya bukan cuma karena Sakura tiba-tiba menyuruhnya masak tanpa memberi waktu istirahat, tapi Sasori juga kesal melihat wajah Sakura yang sedari tadi murung dan berpangku tangan. Mau tak mau, dia ikutan bad mood juga, Sasori mendesah pelan dan duduk di samping Sakura.

"Makannya sudah jadi, dimakan tuh," pinta Sasori sambil menunjuk makanan di depan Sakura. Gadis pink itu mendesah pelan dan mengangguk.

"Terima kasih.." ucapnya. Sasori hanya mengangkat alis saja. Sakura mengambil sumpitnya dan mulai memakan makanannya, Sasori memperhatikannya dalam diam. Meski sambil makanpun, Sakura tetap terlihat murung.

"Kenapa sih daritadi murung terus? Apa karena Itachi itu?" tanya Sasori dengan ketus. Sakura menghentikan makannya dan menatap kesal pada Sasori di sampingnya.

"Bukan urusanmu, dasar but—"

Dan Sasori pun menyiapkan Hpnya..

"Uukh, iya iya akan kuceritakan!" sergah Sakura yang langsung mengambil sapu tangan miliknya dan mengelap bibirnya. Dia mengambil nafas sebelum memutar kursinya hingga dia berhadapan dengan Sasori yang tengah menyeringai di depannya.

"Huh, sebenarnya dari tadi aku kepikiran dengan Itachi-nii dan Sasuke," ujar Sakura memulai pembicaraan, "Dari SMP mereka tidak pernah akur, dan bertambah parah saat masuk SMA," jelas Sakura. Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Lha terus? Apa urusannya denganmu sampai kau begitu memikirkan mereka hingga murung seperti ini?" ketus Sasori. Sakura memutar bola matanya bosan.

"Bisa tolong tidak memotong penjelasanku di tengah-tengah?" balas Sakura sama ketusnya. Sasori mendengus sambil terkekeh kemudian menggerakkan kepalanya, seolah tanda yang berarti 'teruskan-saja-ceritamu'.

"Dasar! Ya sudahlah. Lalu hubungan mereka tambah buruk saat Itachi mengkhianati keluarganya dan pindah membantu perusahaan lain, bukan Uchiha. Sasuke membenci kakaknya itu dan menganggap kakaknya bukanlah lagi bagian dalam keluarganya, baginya Itachi-nii sudah bukan siapa-siapa lagi," jelas Sakura, Sasori mengangguk mengerti.

"Sekarang, ini informasi dari Ino yang kudengar. Sasuke, dia sudah menyukaiku dari dulu sejak pertama kali masuk SMA dan dia selalu mengatakan itu pada cewek yang menyatakan cinta padanya. Tapi aku tidak peduli, aku sudah terlanjur menyukai Itachi-nii sampai akhirnya aku bisa jadian dengannya dan aku senang," jelas Sakura, pipinya mengeluarkan semburat merah yang entah kenapa menimbulkan perasaan gusar di dada Sasori.

"Sasuke yang mengetahui hubungan kami jadi berang. Padahal kalau memang Sasuke menyayangiku, harusnya dia merelakan aku dan Itchi-nii. Tapi, Itachi-nii terlalu baik. Dia bilang, dia tidak mau menyakiti Sasuke lebih dari ini. Akhirnya kami memutuskan hubungan kami dan walau sedikit keberatan aku menerima pernyataan cinta Sasuke padaku," jelas Sakura lagi, kali ini dia mendesah pelan.

"Kalau begitu, selama ini kau pacaran dengan Sasuke tanpa ada perasaan apapun?" tanya Sasori menuntut. Sakura mengangkat bahu.

"Tidak tahu, sebenarnya Sasuke itu baik hanya saja..." Sakura kehabisan kata-kata, dia menundukkan kepalanya.

"Jadi, sebenarnya yang mana? Itachi atau Sasuke?" tanya Sasori yang tiba-tiba marah, dia berdiri dari kursinya dan menatap Sakura yang menunduk. "Dasar orang kaya, memang egois!" ejek Sasori dan dengan marah dia berbalik meninggalkan Sakura di belakangnya.

"Kau.. Kau tidak berhak berkata seperti itu, kau itu butlerku..!" teriak Sakura sambil ikut berdiri. Sasori terdiam lalu berbalik dan menatap mata emerald hijau Sakura dengan tatapan dalam yang seolah berkata 'kalau-begitu-jawab-pertanyaanku!'

"Itachi.. ya, Itachi-nii.." jawab Sakura dengan sangat pelan. Sasori terdiam melihatnya.. "Dia cinta pertamaku," lanjut Sakura lagi sambil mengepal tangannya dengan erat.

"Begitu, tapi bukan yang terakhir kan?" tanya Sasori yang berjalan mendekati Sakura lagi.

"Eh?"

"Setidaknya aku masih punya kesempatan, iya kan?" tanya Sasori sambil terkekeh kecil dan memukul sedikit dahi lebar Sakura membuat gadis itu mengaduh.

"Aduh, sakit baka!" rintih Sakura yang kini tengah mengelus-ngelus dahinya yang sedikit memerah. Sakura terdiam menatap wajah baby face Sasori yang kini masih tertawa kecil di depannya. Wajah Sakura memerah dan tersenyum kecil pada laki-laki di depannya.

"Nah, sudah ceria lagi kan?" tanya Sasori sambil melingkarkan tangannya pada leher Sakura yang sedikit lebih pendek darinya, menarik gadis itu hingga mendekat padanya. Dan kini wajah mereka tinggal beberapa centi lagi.

"A.. Apa sih?" Sakura bertanya balik menatap wajah Sasori yang menyeringai dengan tatapannya yang bingung. Namun, itu tidak dipedulikan Sasori yang mendekatkan bibirnya pada telinga Sakura. Suara Sasori seolah seirama dengan degup jantung Sakura.

"Sekarang..."

Deg

"Kau..."

Deg

"Cepat..."

Deg

"Cuci piring sana..!"

Lho!

"Apa! Kok tiba-tiba? Nggak mau, aku mau tidur..!" elak Sakura yang langsung mendorong Sasori menjauh dari telinga dan wajahnya dan segera berbalik.

"Eit! Tidak bisa begitu! Aku kan sudah memerintahkanmu untuk mencuci piring dulu! Sudah menumpuk tuh di dapur!" tegas Sasori yang langsung memegang tangan Sakura hingga gadis itu tidak bisa bergerak.

"Aku nggak mau! Ini rumahku, dan aku bukan babu! Sadar posisi dong, dasar butler payaah!" geram Sakura yang langsung mengangkat kakinya berniat menendang Sasori, tapi laki-laki yang sudah terbiasa itu hanya menghindar dengan santai.

"Walau aku butler, aku juga manusia! Aku nggak mau mencuci piring kotor yang sudah segunung tahu! Itu namanya melanggar hak asasi manusia!" balas Sasori tak mau kalah, kini mereka saling memberikan death glare mereka menuju masing-masing lawan.

"Salahnya sendiri! Butler itu tugasnya mengurus rumah majikannya! Lagian, cuci piring aja malas-malasan, butler macam apa itu!" tuntut Sakura. Sasori mendelik.

"Hhh ya sudah, padahal aku sudah sengaja memberi tahumu baik-baik sebelum aku melaporkan keadaan rumah pada Mila-sama.." gumam Sasori entah pada siapa sambil mengambil Hp di sakunya dan memencet tombol di sana. Sakura terperangah, Mila-sama tadi katanya?

"Co.. Coba saja kalau berani!" geram Sakura. Sasori menatap Sakura lalu menyeringai, dia mulai mendekatkan Hp pada telinganya.

"Halo? Mila-sama ya? Ah iya, keadaan rumah baik-baik saja kok. Ng? Sakura? Dia baik-baik saja kok bahkan sampai kemaren pun dia dengan Sasuke—"

PIP

Setelah mematikan sambungan telepon Sasori, Sakura menatap kesal Sasori yang menyeringai di depannya, "Hah hah hampir saja! KAU..! Uugh, baiklah! Iya, aku akan cuci piring!" geram Sakura, berusaha menahan semua amarahnya yang seakan siap meledak kapan saja. Sasori terkekeh dan setelah itulah Sakura langsung berbalik, berjalan menuju dapur dengan langkah yang ditekankan hingga suara langkahnya terdengar. Terlihat sekali kalau dia sangat mengamuk kali ini.

Sasori masih tertawa kecil menatap punggung Sakura yang berjalan menjauhinya menuju dapur. Gerutu-gerutu Sakura masih terdengar dari dapur, dan beberapa di antaranya ada kata-kata yang mengutuk butler di rumahnya tersebut. Lama kelamaan Sasori terdiam, dia menarik kursi di belakangnya dan mendudukinya. Masih dengan posisinya yang menghadap dapur, berniat mengawasi Sakura kalau-kalau dia berniat kabur dari pekerjaannya. Sasori mendesah pelan, walau dia bilang dia masih punya kesempatan dan terlihat lega, tetap saja dia memikirkannya. Karena ibunya dulu pernah berkata padanya, bahwa cinta pertama itu..

Tidak mudah dilupakan..

.

.

.

Lama kelamaan, Sasori bosan juga mengawasi Sakura. Dia pun menuju kamarnya dan langsung merebahkan diri di atas kasur. Hampir saja dia tertidur kalau saja..

TRIIT TRIIT

"Hnnh? Apa sih?" gusar Sasori sambil mengucek-ngucek matanya yang mengantuk berat. Dia melihat layar Hpnya malas-malasan dan terpampanglah nama seseorang yang tak lain adalah bosnya, Pein..

"Ng? Kenapa lagi nih bos yang satu ini?" gerutu Sasori dan mulai mengangkat telepon tersebut dan berkata malas-malasan.

"Halo bos, ada apa?" ucap Sasori yang tengah berusaha bangkit dari tempat tidurnya.

"SASORIII..! BANTU KAMI MEMBANGUN RUMAAH!" teriak Pein histeris dari seberang telepon membuat Sasori tersentak dan langsung menjauhkan telinganya dari Hpnya tersebut.

"Berisik! Apa-apaan sih? Apa maksudnya membangun rumah hah!" tanya Sasori tegas, "Jangan bilang, kemaren sudah dapur yang hancur dan kini markas kita ikutan hancur?" tanya Sasori lagi.

"Err emm anu..setengahnya benar.." jawab Pein agak tersendat-sendat. Sasori mengangkat sebelah alisnya.

"Setengahnya?"

"Ngg sebenarnya kami baru saja selesai membangun dapur. Tapi gak tahunya ternyata jadi nggak seimbang! Pokoknya aku dan Deidara gak ngerti nih! Sasori yang bisa diandalkan, bisa tolong bantu kami sekarang? Pleease.." pinta Pein dengan suara memohon. Sasori mendengus kesal, dan mulai berdiri dari kasurnya.

"Baiklah, aku segera ke sana. AWAS! Jangan sampai dibuat lebih hancur lagi! Dan khusus untukmu Pein, jangan sentuh apapun!" ancam Sasori dengan penekanan di setiap katanya lalu dia mematikan Hpnya. Sasori mulai memakai jaket hitam miliknya dan keluar menemui Sakura yang kini tengah.. mengepel?

"Hoi cewek, aku pergi dulu," kata Sasori dengan santai dan melenggang di depan Sakura yang menatapnya kesal.

"Butler sialan! Kau suruh majikanmu kerja, sedangkan kau enak-enakan di luar sana! Mau kemana kau?" tanya Sakura sambil berkali-kali menghentakkan kain pelnya. Sasori menyeringai menatap wajah cemberut Sakura.

"Sudahlah, lima hari lagi juga kau akan bertemu dengan kaasan kesayanganmu dan kau akan bebas kan?" elak Sasori dengan santai sambil melipat lengan jaketnya yang panjang, "Jadi sebelum itu terjadi, biarkan aku yang merasakan kebebasanku, oke? Daah!" Sasori pun berlari dengan santai menuju pintu rumah dan menutupnya, mengacuhkan teriakan-teriakan Sakura yang mengutukinya.

.

.

.

Di bagian Itachi..

TUT TUT TUT

"...Tidak diangkat-angkat," keluh seorang laki-laki berambut panjang yang kini tengah duduk di kursi. Saat ini dia sedang ada di ruang kerjanya. Laki-laki yang bernama Itachi tersebut mengambil kopi di sampingnya lalu meminumnya. Dia kembali menatap layar Hpnya yang terdapat nama adiknya di sana..

"Hhh, sudah kuduga Sasuke memang masih marah padaku," gumam Itachi sambil memainkan bollpoint di mejanya. Memutar-mutarnya, seperti otaknya yang kini tengah berputar-putar mencari cara agar dia bisa berbicara dengan adiknya tersebut. Mata onyxnya melirik laci di bawahnya kemudian membukanya, memperlihatkan foto seorang gadis berambut pink yang sedang tersenyum. Itachi ikut tersenyum dan mengambil foto itu...

Lama Itachi terdiam menatap foto gadis di depannya tersebut, sampai akhirnya dia menarik nafas dan bergumam, "Memang cuma Sakura yang bisa membantuku berbaikan dengan Sasuke," lalu Itachi berdiri dari kursi tempatnya duduk dan mengambil jasnya. Saat Itachi akan membuka pintu kerjanya, salah satu pegawainya berpapasan dengannya.

"I.. Itachi-sama hendak ke mana? Tiga jam lagi akan ada meeting kan?" tanya pegawai Itachi itu dengan gugup. Laki-laki berambut panjang itu hanya tersenyum..

"Tak akan lama, aku akan ke rumah Sakura dulu,"

To Be Continued


Yosh selesaai juga ==' nekat banget ya bikin fic ini padahal harusnya belajar untuk ujian kenaikan kelas. Uaaargh! DX *teriak di ujung tebing (?)*

Pokoknya special thanks for :

Kuroneko Hime-un, Ka Hime Shiseiten, Tsukimori raisa, Naru-mania, Haruchi Nigiyama, Intan SasuSaku, Kaze-chan, Ryuku S. A. J, Azalea Yukiko, Utsukushi I – KuroShiro6yh, Sasori Schifferway, NAND225, -MariaVivine-UchiMasu-, Faatin-hime, Sakura-chaNoRuffie-chan, icha beside door, So-Chand 'Luph pLend', Ame-chocoSasu, Nakamura Miharu-chan, Imuri Ridan Chara, Revhita Haruno, red goblin, azusa nakano, Farha Milati, widiiw xie kabogoh sasuke, Uchiha Akasuna Sakura, Uchiha Yuki-chan, kin chan usagi, Pandacchi, Fun-Ny Chan

Pandacchi : Iya, maaf deskripsinya kurang ya? ==' Oke, saya akan mencoba belajar lebih baik. Soalnya kata teman-temanku juga, kelemahanku dalam membuat fic memang di bagian deskripsinya (TT_TT) terima kasih atas peringatannya, juga reviewnya yaa X3

Terima kasih untuk kalian dan juga lainnya yang baca walau gak sempet review karena sudah mau menunggu update fic dari seorang author lemot ini ==' Semua pertanyaan kalian pasti terjawab, jadi baca terus yaa wkwk XD *ditendang*

Karena banyak yang nanya saya milih siapa kalau didempet tiga cowok cakep seperti Sakura sih, saya jelas milih SASORI lhaaa~! XD Kenapa? Soalnya kalau Sasuke sudah punya Sakura, sedangkan Itachi sudah terlanjur sayang sama adiknya (?) Tapi mungkin kalau ada Kabuto, saya akan berpikir ulang :3 *dihajar massa* Tenang saja, ending fic ini tetap SasoSaku doong. Karena saya juga lagi cinta SasoSaku hohoho *nendang Sasuke -dichidori*

Yup, boleh minta review? X)

P.S = Untuk para flamer, mau ngeflame anonym? Percuma saja sih bilang apapun karena saya sudah kebal. Lagipula, nanti juga flame kalian pasti kuhapus. Saya tidak mau membuat perang di dunia maya yang tidak berguna, apalagi lawannya CUMA seorang pengecut. Lebih keren perang di dunia nyata LOL XD