Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo lho! Yuki dan Greed itu OC saya lho!
Snow Memories 4
(End of the Angel)
(Yuki POV)
"Ukkkhhh…."
Aku terbangun dari tidur lelapku.
Hari nampak hampir terang.
Matahari mulai terbit.
"Greed…?"
Aku mencari sosok iblis yang baru kusembuhkan tadi.
Kemana sih dia?
Baru juga lukanya menutup, dia sudah keluyuran.
Dasar baka!
Kutatap langit yang berwarna kemerahan sembari menyenderkan tubuhku pada pohon flamboyant yang rindang.
Kubelai hamparan rumput tempatnya duduk tadi.
Sudah dingin.
Ia sudah lama pergi.
"Hahhh…"
Aku menghela napas.
Semoga ia tidak pergi ke tempat Shiro.
Bukan.
Dia Hitsugaya taichou.
Aku tak boleh memanggilnya Shiro lagi.
Dia sudah bukan milikku.
Entah sudah berapa lama tak kudengar ia berkata,
"Yuki-nee jelek, Yuki-nee jahat, Yuki-nee baka, Yuki-nee…"
Hahaha….
Benar.
Aku tak pantas lagi dipanggil kakak.
Kakak mana yang tega menggantungkan nyawa adiknya sendiri pada iblis?
Aku mengenggam erat zanpakutouku.
"Toushiro…"
(Normal POV)
"A… apa?" Hitsugaya nampak kaget.
Ia menatap iblis yang tersenyum dihadapannya.
"Perlu kuulang? Kau itu sudah mati. Kakakmu menghidupkanmu kembali dengan bayaran yang setimpal."
"Bayaran yang setimpal?"
"Mata dibayar mata. Untuk menghidupkan 1 orang, diperlukan nyawa lain sebagai penggantinya. Dan ia menawarkan hal yang sangat menarik."
Hitsugaya mulai tenang. Ia menyarungkan kembali zanpakutounya.
"Apa yang ia berikan padamu?"
Iblis itu asyik menatap jam pasir di meja tulis Hitsugaya.
"Apa ya? Dia menawarkan dua hal padaku. Dirinya sendiri atau…."
"atau?"
"Seluruh warga desanya."
Hitsugaya terperanjat.
Inikah arti perkataan Yuki waktu itu?
"Warga desa?
"Kurasa ia sudah mengatakannya padamu kan?"
"Dia hanya berkata, bahwa ia telah membunuh seluruh warga di sebuah desa , Rukongai selatan distrik 6,66 Saitenshi (1). Dia tidak pernah memberitahu alasannya."
Iblis itu menggaruk-garuk kepalanya.
"Repot kalau harus menjelaskannya padamu. Lebih baik kau melihatnya sendiri."
"Bagai…" Belum sempat Hitsugaya bertanya, iblis itu telah mencengkram kepalanya dengan kuat. Membuat kepalanya terasa sedikit pusing.
"Aku akan membawamu kembali kesana. Kau harus melihatnya sendiri. "
Tiba-tiba, tangan iblis itu berpendar merah. Hitsugaya merasakan kepalanya mulai sakit. Sakit sekali.
Sakit.
Sakit .
Sakit….
"AKHHHH…!" Ia pingsan.
Iblis itu menahan tubuh Hitsugaya yang ambruk didepannya.
Ia menatap wajah kapten mungil itu.
Ditepuknya kepala si kapten yang tertutupi rambut sewarna salju.
"Dia tak mengijinkanku untuk menceritakan segalanya padamu. Tapi kau harus tahu, betapa ia harus menderita demi kamu…."
"Nyuut…"
"Ukkhh…"
Yuki mencengkram erat kepalanya. Rasanya sakit, sakit sekali….
"Greed…. Dasar baka…."
Rukongai Selatan, distrik 6,66. Saitenshi.
Gadis itu berlari kecil.
Ia memeluk beberapa tangkai bunga daffodil .
Langkah kecil itu semakin dipercepat.
"Hari ini ibu akan melahirkan."
Sesampainya dirumah, ia segera memasuki kamar ibunya. Dilihatnya sang ibu yang tengah berjuang menahan rasa sakit diperutnya. Disamping sang ibu, nampak seorang bidan tua yang memberi petunjuk pada ibunya.
Yuki kecil hampir menangis melihat wajah sang ibu yang nampak kesakitan. Ia tak tahu kalau melahirkan rasanya akan sesakit itu. Tiba- tiba, seseorang menarik tubuhnya dan membawanya keluar dari ruangan.
"Yuki, kamu tunggu disini ya. Jangan kemana-mana." Kata pria tampan berambut putih dan bermata blue diamond itu padanya.
"Tapi… Yuki mau sama ibu…" Rengeknya manja.
Hitsugaya Kei menatap malaikat kecilnya itu penuh sayang dan memeluknya.
"Iya, tapi nanti ya. Sekarang kita doakan saja supaya ibu dan adik baru Yuki selamat."
Yuki kecil mengangguk senang.
Ia sangat sayang pada ayahnya.
Ayah selalu memeluknya jika ia sedang sedih. Walaupun jarang dirumah, ayah selalu menyempatkan diri untuk menjenguknya. Ayahnya adalah yang terbaik. Begitulah pikir Yuki kecil selalu.
"Eh ini untuk ibu?" Tanya Kei sembari mengambil setangkai bunga daffodil yang tadi dibawa Yuki.
"Iya, Yuki mau kasih ke ibu!"
"Kenapa bunga ini?" Tanya Kei lagi.
"Soalnya bunga ini ada dibaju ayah. Ibu sayang ayah, jadi ibu pasti suka bunga ayah!" Katanya sambil menunjuk lambang daffodil di lengan ayahnya.
Kei tersenyum. Ia tahu putri sulungnya ini memang sangat pintar.
Yuki naik keatas pangkuan ayahnya. Ia mengamati benda panjang yang tersarung aman dipinggang sang ayah.
"Ayah, ini apa? Tanya Yuki.
"Oh… Ehmm ini namanya zanpakutou, Yuki. Ayah memakai ini kalau sedang bekerja."
"Zanpakutou? Yuki boleh punya?"
"Hehehe… iya, tapi kalau Yuki sudah besar. Nanti kalau Yuki sudah besar, Yuki boleh jadi shinigami seperti ayah baru Yuki boleh punya zanpakutou." Jawab si ayah dengan sabar.
"Yuki mau jadi shinigami yang hebat seperti ayah!"
"He, kalau begitu. Siapa nama ayah Yuki?"
"Ayah Yuki adalah Hitsugaya Kei! Fukutaichou divisi 10 Gotei 13." Katanya bersemangat.
"Pintar. Kamu dapat nilai 10, Yuki."
"Ayah dapat 100!"
"Hahaha…"
Ayah dan anak itu bercengkrama dengan akrab. Sesekali, tangan Kei menepuk kepala putri sulungnya itu.
Tiba-tiba, terdengar suara tangisan dari kamar ibunya. Tangisan bayi.
"Hore! Adik sudah lahir!" Yuki bergegas menuju kamar ibunya. Kei mengikuti dari belakang.
Dikamar ibunya, nampak Hitsugaya Rin tengah mengatur napasnya. Ia nampak kelelahan namun sangat bahagia.
Si bidan membersihkan tubuh bayi mungil tersebut dengan air hangat dan menyerahkannya pada Rin.
"Bayi laki-laki yang sehat." Katanya.
Yuki memandang 'mahluk' kecil dalam buaian ibunya itu. Begitu mungilnya? Ia berpikir apakah ia juga sekecil itu saat lahir?
Rin menyerahkan bayi laki-laki itu pada sang ayah. Bayi itu sudah berhenti menangis. Namun matanya masih terpejam.
Kei menggendong anak keduanya penuh sayang. Setelah 9 bulan(2) menunggu akhirnya anak itu lahir dengan selamat.
Tapi….
Shinigami sehebat Kei pasti tahu.
Anak itu bukan anak biasa.
Entah darimana datangnya, anak itu memancarkan aura yang sangat kuat dan… dingin.
Yuki kecil menatap ayahnya yang nampak termenung.
Kei tersenyum padanya.
"Yuki mau gendong adik?" Tanyanya.
"Ehmm… Iya…" Jawab Yuki malu-malu.
Kei menyerahkan bayi mungil itu pada Yuki.
Ia membuai adik kecil itu perlahan.
Perlahan, mata kecil itu terbuka.
Emerald.
Warna yang sama dengan yang dimiliki Yuki dan ibunya.
"Yuki mau kasih nama untuk adik baru?" Tanya Rin padanya.
"Nama?"
Yuki menatap wajah adiknya sekali lagi.
Adiknya itu memiliki rambut putih. Sama seperti dia dan ayahnya.
"Shiro…" Gumamnya.
"Ya?"
"Toushiro. Nama adik Yuki adalah Toushiro." Katanya riang.
Kei dan Rin saling berpandangan lalu tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang nama adik baru adalah Toushiro." Kata Kei.
Yuki tersenyum. Ditatapnya wajah adiknya penuh sayang.
"Shiro-chaaan…"
TBC~
(1) Anooo… Saitenshi itu singkatan dari Saigo no Tenshi yang artinya Akhir dari Malaikat. ^^
Kenapa saya ngasih nama gitu? Iseng aja. (Ditabok) Oh ya, distrik 6, 66 itu nggak ada lho! Saya bikin nama distrik 6,66 supaya ga ada yang nyamain. (gimana jelasinnya ya? Ya begitulah ^^)
(2) Lama shinigami mengandung itu kaya manusia nggak ya? Yah sama-samain aja. ^^
Wuooo….
Selese juga chap 4.
Maaf nunggunya lama ya ^^
Saya baru pulih dari hiatus.
So review please?
NB : Bagi yg nungguin fic Hitsugaya Merrit, sabar ya. Masih dalam masa pembuatan. ^^
