Halo minna! Hehe maaf updatenya lama ya. Sebelumnya makasih banyak untuk yang mau nungguin fic ini hehe. Dan lagi aku bru sadar kalau selama ini judulnya ngaco, jadi aja kuganti hehe. Yeah, terima kasih untuk 'adik'ku di sekolah dan juga yang lain tentunya XD Doumo arigato~ m(_,_)m
Oke, happy reading all~! :D
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, typo?
Genre : Romance/Friendship
Pairing : SasoSaku, ItaSaku, SasuSaku
Flames NOT ALLOWED and that won't work with me
.
.
MY BUTLER SUCKS!
CHAPTER 8 : I DON'T WANNA FIGHT YOU
Laki-laki berambut merah itu kini berdiri di tengah ruangan. Meski layar Hp didekatkan pada telinganya, dia tetap tidak bisa fokus akan pembicaraan dari lawan telponnya. Pasalnya, dia belum—bukan! Dia tidak ingin rencana yang dulu sudah dibuat matang-matang dengan temannya tersebut benar-benar dilaksanakan. Perlahan suaranya yang biasanya kasar dan tegas mulai melemah, "Pein," bisiknya. "Kau yakin?" tanyanya kemudian.
Lawan bicaranya itu terdengar menghela nafas, "Tentu saja. Tidak ada jalan lain selain itu," orang bernama Pein itu sedikit menggantungkan kata-katanya hingga, "kau tidak akan mengkhianati kami kan, Sasori?" tanyanya dengan nada tajam. Membuat sang laki-laki berambut merah itu tersentak.
Sasori—si pemuda itu sedikit berteriak, "Ja.. JANGAN BERCANDA! Tentu itu tidak mungkin!" geramnya. Ya, dia bukannya tidak bisa berkhianat, melainkan TIDAK MAU. Kalau ditanya kenapa, mungkin karena balas budinya dua bulan yang lalu.
.
Flashback
"PENCURI! ADA PENCURI!" teriak seseorang yang tak lain adalah penjual makanan ringan. Terlihat dia menunjuk-nunjuk anak berambut merah yang kini tengah terengah-engah karena berlari jauh ke depan.
Akasuna no Sasori, nama anak remaja itu. Kondisi tubuhnya benar-benar berantakan saat ini. Rambutnya berantakan, baju yang hampir compang-camping dan kotor, bahkan wajah baby face yang harusnya tampan itu terlihat sangat kumal. Sasori semakin panik saat didengarnya yang mengejarnya semakin banyak. Padahal kakinya mulai terasa kram, dan dalam hitungan waktu dia pasti akan terjatuh karena kelelahan.
Dan waktu itu datang. Sasori merasa pandangan di depangnya seperti berkunang-kunang. Sial, padahal dia belum menemukan tempat yang pas untuk bersembunyi dan memakan makanan tersebut dengan tenang. Tubuhnya akan menyentuh tanah, seandainya tidak ada yang menarik tubuhnya dengan paksa dari tengah jalan.
Brak
Sasori merasa dirinya menabrak sesuatu yang empuk, yang setelahnya dia yakin adalah tubuh seseorang, "Ugh," erang Sasori saat tubuhnya mendarat. Dan sedetik kemudian, dia merasa mulutnya dibekap seseorang.
"Sssh! Diam!" perintah orang yang wajahnya tak terlihat jelas itu. Wajar saja, Sasori kelelahan gitu kok. Yang pasti dia berkata, "tenang saja, jangan panik," katanya yang seperti menghibur (?). Yang jelas kata-kata itu terdengar hangat di telinganya.
Sasori berusaha mempertahankan kesadarannya, sementara orang yang seperti memeluknya itu terlihat mengawasi orang-orang di luar yang kebingungan mencari anak berambut merah tersebut. Berkali-kali laki-laki—yang bisa dipastikan dengan dadanya yang rata—itu berucap 'tenanglah' atau 'sebentar lagi mereka pergi'. Sasori pun akhirnya hanya bisa pasrah, dan dalam hitungan detik, laki-laki yang kelelahan itu tertidur.
Cukup lama Sasori kehilangan kesadarannya. Perlahan dia mendapatkan kembali kesadaran tersebut dan mulai membuka mata, memperlihatkan dua bola matanya yang coklat itu. Menyadari posisinya, Sasori langsung bangkit dan melihat sekitar. Sepertinya dia berada di rumah yang terbuat dari kayu. Rumah yang mendekati gubuk. Alis matanya mengernyit, saat seseorang membuka pintu kamar tempatnya tadi tertidur hingga menghasilkan suara berdecit yang berisik. Dari sana muncul seorang pemuda berambut pirang panjang yang diikat kuncir kuda dan poni yang menutupi mata kirinya. Dia tersenyum lebar sementara Sasori mengangkat sebelah alisnya.
"Un! Kau sudah sadar!" ujar orang itu setengah teriak melihat Sasori yang tengah terduduk kaku. Pemuda yang bisa dibilang cantik itu berlari kecil mendekati Sasori. Dan akhirnya dia berjongkok di depan laki-laki berambut merah itu.
"Tadi kau sepertinya kelelahan, sekarang apa kau sudah baikan?" tanya Deidara—nama laki-laki pirang itu. Perlahan tapi pasti tangannya bergerak untuk menyentuh wajah laki-laki di depannya. Sasori yang sudah lama tidak pernah disentuh atau sebagainya dengan orang yang tidak dikenal spontan menampik tangan Deidara di depan wajahnya.
"Hah hah," Sasori terengah-engah. Dia langsung menarik kakinya dan memeluknya. Tubuhnya pun gemetaran. Melihat itu, Deidara yang tadinya sempat kesal karena tangannya ditampik tiba-tiba akhirnya merasa iba juga.
Pintu kembali berdecit dan kali ini muncul laki-laki berambut orange dan berpiercing, dia mengangkat sebelah alisnya saat matanya bertemu dengan mata Sasori, "Bagaimana keadaannya?" tanya Pein, yang tak lain nama laki-laki berpiercing itu pada Deidara. Yang ditanya hanya menoleh dan kembali menatap Sasori.
"Entahlah un, dia seperti trauma," jawab Deidara melihat tubuh Sasori yang masih gemetaran. Pein hanya mengangguk saja.
Pein berjalan mendekati Sasori dan ikut berjongkok di samping Deidara, "Apa kau lapar?" tanya Pein akhirnya. Sasori masih tetap bungkam untuk beberapa saat. Namun sebelum sempat menjawab, suara perut Saosri sudah duluan menjawab. Membuat Sasori tanpa sadar mengeluarkan semburat merah di wajahnya.
"Ahaha kalau begitu biar kubuatkan telur ce—"
"JANGAN! Aaaa un, mak—maksudku bos mengawasi dia saja. Biar Deidara ini saja yang membuat makanan ya," cegah Deidara sebelum terlambat. Pastilah Deidara tahu kelemahan bosnya bukan?
Pein mendengus kesal lalu kembali menatap Sasori setelah Deidara keluar kamar, "Ngomong-ngomong tadi kau bodoh sekali," ucap bos itu tiba-tiba membuat Sasori kembali mengernyitkan alisnya, "kau sudah susah payah berlari, tapi nyatanya yang kau curi adalah roti yang sudah kadaluwarsa," gerutu Pein. "Jadi tadi aku langsung membuang rotinya,"
Sasori mengatur nafas, "Begitukah? Berarti... kau yang tadi menyelamatkanku?" tanya Sasori pelan. Pein itu hanya mengangguk.
"Yeah, kalau dipikir-pikir kau sama seperti kami, jadi aku tergoda untuk menolongmu. Begitu," jelas Pein dengan santai tanpa beban. Sasori hanya menunduk.
"Te.. Terima kasih," ucap Sasori dengan nada yang sangat pelan. Wajahnya pun kembali memerah. Pein mulai tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHAHA biasa saja kok, padahal kupikir kau tipe kasar dan pemarah habis terlihat dari wajahmu," Pein meringis dan spontan mengacak-acak rambut merah Sasori, "nyatanya kau ini polos dan lucu sekali," gumam Pein lagi.
Sekitar seminggu kemudian, Pein harus menarik semua kata-katanya tentang Sasori. Karena laki-laki berambut merah itu mulai menunjukkan tabiat aslinya.
End of flashback
.
"Lalu, maumu apa Sasori? Kau tahu, sekarang kita juga sangat membutuhkan uang," geram Pein kesal, membuyarkan lamunan Sasori akan masa lalunya saat bertemu Deidara dan Pein. Sasori terdiam. Bagaimana ini? Apa dia tega mengkhianati kepercayaan ibu Sakura yang diberikan padanya?
"Aku.." Sasori menggigit bibir bawahnya. Dia tersentak saat melihat Sakura turun dari lantai dua, "akan segera kupikirkan," dan Sasori pun langsung memasukkan hpnya ke dalam sakunya.
"Siapa yang kau telpon tadi, butler sialan?" tanya Sakura dengan muka kesalnya. Sasori hanya mendengus lalu menyeringai.
"Apa harus kujawab? Babu sepertimu kerjakan saja apa yang disuruh majikan," seringai Sasori. Sakura menggembungkan pipinya lalu mengambil bantal di sampingnya.
"Yang majikan itu, AKU TAHUUU!" Sakura pun sukses melempar bantal dan dengan mulus bantal tersebut mendarat di wajah Sasori. Dengan gesit Sasori langsung mengambil bantalnya.
"Oh ya? Tapi kau menuruti perintahku, CEWEK BODOOOH!" bantal pun kembali melayang dan kali ini terkena wajah Sakura. Kembali terjadi lempar-lemparan bantal.
Lama mereka melakukan lemparan-lemparan yang tak jelas itu hingga akhirnya Sakura kelelahan, "Time out! Aku mau istirahat dulu," gumam Sakura, dan gadis itu pun segera duduk di sofa yang berada di sampingnya. Sasori terkekeh pelan dan ikut duduk si samping gadis itu.
Sasori masih terbayang-bayang dengan apa yang akan dia lakukan saat ini. Kalau dia berkhianat, bukan hanya kepercayaan dari ibu Sakura yang hilang. Maka Sakura pun akan sangat membenci dirinya, mengingat karakteristik gadis itu yang sedikit kasar. Sasori memejamkan matanya. Dia bisa melihat, wajah Pein dan Deidara lalu Sakura dan Mila—ibu Sakura—di jalan yang berbeda. Semuanya mempercayai dirinya, namun untuk saat ini. Sasori harus mengkhianati salah satu dari pilihannya.
"Kenapa bengong butler sialan?" ketus Sakura lagi. Sasori tersentak kaget dan menoleh pada sampingnya, Sakura tengah memandangnya setengah kesal dan.. khawatir? "apa sih yang kau pikirkan? Tak biasanya kau murung begini," gerutu Sakura. Sasori hanya tersenyum licik menanggapinya.
"Kenapa? Khawatir ya?" spontan wajah Sakura memerah dan senyum Sasori semakin melebar, "tenang saja, kau tidak perlu memikirkanku," ucap laki-laki berambut merah itu dengan pedenya. Membuat Sakura bergidik ngeri.
"Ukh, kau memang menyebalkan!" Sakura menggembungkan pipinya yang memerah, tak berani menatap mata coklat di depannya, "buatkan makan! Aku lapar," setelah mengucapkan itu, Sakura pun segera berlari kecil ke kamarnya.
Sasori menghela nafas kencang. Sakura sedang ada di kamarnya yang di lantai dua. Sedangkan kamar Mila ada di lantai satu tempatny sekarang berdiri. Sasori mengepal tangannya erat lalu menarik nafas.
"Kalau sedikit, sepertinya tak apa," gumam Sasori entah pada siapa. Lalu dia melangkah menuju kamar Mila. Degup jantungnya berdetak kencang tak beraturan saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu kamar Mila.
Dibukanya perlahan pintu kamar nyonya besar yang kini sedang dinas keluar kota. Sasori melihat kamar tidur berukuran queen size, perabotan yang tak kalah mewah, lalu lemari yang ukurannya cukup besar. Sasori sempat berpikir seandainya lemarinya terkunci, maka dia memilih untuk segera keluar dari kamar ini tanpa mengambil apapun dan berpikir lagi nanti. Tapi rupanya dugaannya salah, karena lemari Mila tidak terkunci sama sekali. Entah karena Mila lupa atau bagaimana, yang penting itu sudah menjadi kesalahan fatal. Sasori pun mulai mengutuki dirinya untuk perbuatannya kali ini.
"Maaf maaf, maafkan aku Mila-sama," keluh Sasori berkali-kali. Dia membuka sebelah matanya saat tangannya mulai menarik laci di depannya. Uh, benar saja di dalam lacinya tersebut banyak kantong kantong kecil yang diyakininya berisi emas dan perhiasan semacamnya. Yeah, dan itu memang benar.
Sasori menelan ludah dan segera mengambil salah satu kantong itu lalu membukanya. Lumayan banyak perhiasan yang ada di sana. Sasori menggelengkan kepalanya dan menutup kantong itu. Dia segera menutup lemari dan berbalik. Alangkah kagetnya dia ketika berbalik, seseorang sudah berdiri di depan pintu kamar Mila. Gadis itu terlihat menatap Sasori dengan tidak percaya, membuat Sasori panik dan langsung menyembunyikan kantong perhiasan yang dia pegang ke belakang punggungnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya juga degup jantung yang berdetak semakin kencang.
"Ah Sa.. Sakura?"
"Apa yang kau lakukan, Sasori?"
To Be Continued
Yeh? Jadinya seperti ini ahaha *dibantai bersama* maaf ya pendek dan kalau bisa Insya Allah fic ini aku tamatin di chapter 10. Doakan ya minna~ XD Dan sadarkah kalian, bahwa aku memasukkan slight PeinSaso dan (sangat) slight SasoDei di sini? WKWKWK *dikeroyok*
Oke, special thanks for :
Chiho Nanoyuki, Haru-chan no kikan, Yuuki SS Amane, akasuna no hataruno teng tong, Mochida Suzu, Sasori Schifferway, Ame chocoSasu, damage per second, Konanlovers Chan, Ditachi Uchiha, Mozza Dio, Arisu Yama-chan, Haruchi Nigiyama, Dhevitry Haruno, kin-chan, Imuri Ridan Chara, Ran Uchiha, Kuroneko Hime-un, aya-na rifa'i, Ryuku S. A .J, Fun-Ny Chan, Ka Hime Shiseiten, Eien no Hana – KuroShiro6yh, Michiru No Akasuna, Haruno Shari Chan, Sila ichigo uchiha, Yuuya Ritsu, moonmu3, widiiw xie kabogoh sasuke, SiGantengDariGoaHantu, Kazekuro Yuko-chan, Vipris, Delasachi luphL, Aihara Yuki
Terima kasih banyak ya hehe. Juga untuk silent reader, terima kasih ^^ dan err maaf kalau ada yang namanya gak ketulis =='a *dibakar*
Oke, boleh minta review? :3
